When One Wind Wound You

Disclaimer: Naruto belongs to Mashashi Kishimoto-sensei forever

Pairing: Sabaku no Gaara x Hyuuga Hinata

Warning: OOC, gaje (terlepas dari dunia ninja), crack pairing, miss typo (s) maybe, sedikit angst, dan warning lainnya

Fiction rated : T semi M (for kiss scene)

Summary: Hanyalah gadis biasa dengan kehidupan yang berliku. Namun ada hal yang membuat gadis ini begitu menarik di mata beberapa orang pemuda. Hanya sebagai 'silent fans' dikarenakan mereka merasa gengsi apabila ada orang yang mengetahui perasaan mereka pada gadis yang notabenenya sering di bully itu. Dia, si sulung Hyuuga. Hyuuga Hinata. Dirinya yang apa adanya hanya memiliki mimpi kecil di hari depannya kelak, bersama seseorang yang ia kagumi diam-diam selama ini. Tapi hanya angan saja karena tiba-tiba mimpi sederhananya pun harus hangus tersapu tangan sang iblis.

Read and enjoy! ^_^

Chap 6

...

Ciuman itu terlalu lembut. Terlalu lembut. Terlalu memikat. Hingga sadar atau tidak, si empunya merasa hangat dan nyaman. Terbang ke awang-awang. Sentuhan itu, dekapan itu. Semua terasa pas. Tak ada paksaan ataupun kekasaran. Hanya dekap posesif yang seolah melindungi tubuh mungil itu dari apapun yang ada dan apapun yang terjadi.

Rengkuhan hangat itu mulai menarik diri. Memberi kesempatan kedua insan yang megap-megap butuh pasokan udara. Saling berbagi oksigen di antara mereka. Semburat merah yang menghias pipi bulat Hinata makin cantik di mata seorang Sasuke. Amethyst jernih yang menatap sayu onix hitamnya. Hembusan napas hangat yang menguarkan aroma memabukkan. Sungguh, tiada yang lebih indah dari itu semua. Bagi Sasuke, Hinata adalah yang terindah.

...

Bagi Hinata, sosok di depannya itu entah mengapa seolah memancarkan kehangatan. Meski mata kelam yang dingin biasa ia perlihatkan. Sikapnya yang lembut. Tangannya yang hangat. Dan dekapan melindungi itu mau tak mau buatnya terlena. Mengarungi rupa tampan yang menatapnya penuh damba. Bisikan hati menyuruh si gadis cukup mengikuti permainan pemuda di hadapannya. Seolah percaya bahwa apa yang dilakukan pemuda itu tidak akan menyakitinya.

Sasuke berdecak. Melihat area leher yang menggoda. Ia dekatkan wajahnya pada lekukan seputih susu beraroma lavender itu, hendak mencecap kulit sutra tersebut untuk menancapkan tanda kepemilikannya, jika tidak ada seseorang yang menginterupsi. Menginterupsi 'kegiatannya' dengan Hinata. Dengan suara dobrakan pintu atap yang sontak buat gadis dalam pelukannya terlonjak kaget. Ketakutan, saat pearl beningnya menangkap sosok mengerikan yang selalu membuatnya was-was saat berada di sekolah. Sosok menakutkan seolah ia adalah monster yang siap menancapkan taringnya kapan dan dimana saja. Sosok pemilik tato 'Ai' yang menggeram marah melihat 'gadisnya' berada dalam dekapan erat musuh bebuyutan. Uchiha Sasuke.

"Brengsek! Lepaskan tanganmu darinya!"

Hinata bergetar hebat. Ia sungguh ketakutan.

"Tidak akan. Dia milikku, Gaara,"

Sasuke semakin mengeratkan pelukannya. Ia coba tenangkan Hinata melalui sikap protektifnya.

"Uchiha, kau tahu kedudukanmu dimana?"

"Kedudukan apa maksudmu? Seingatku, aku tak pernah sekalipun membahas masalah kedudukan dengan berandal sepertimu,"

"Kau menyentuh milikku, brengsek..."

Suara rendah itu.

"Jauhkan tangan kotormu darinya,"

Membuat Hinata teringat kejadian di atap lalu. Gaara dan Sasuke yang berkelahi habis-habisan. Naruto yang menjadi korban. Sakura yang menangis. Dan dirinya yang terpuruk semalaman.

"Dia bukan milikmu, Gaara. Sedari awal ia ada karena aku ada. Dia adalah milikku."

Rahang Sasuke mengeras. Ia tekan setiap perkataannya, terutama sebaris kalimat terakhir tadi.

"Kau menguras kesabaranku, anak haram,"

Kalimat itu. Julukan itu.

Selalu membuat darah Sasuke mendidih. Hingga tak sadar ia mencengkeram pundak mungil Hinata. Membuat Hinata menggigit bibirnya untuk meredam sakit. Si gadis merasa sangat khawatir. Khawatir jika mereka mengulang kekerasan yang sama seperti saat itu. Belum lagi Gaara mulai merangsek mendekat ke arah mereka dengan wajah mengeras dan tinju mengepal. Bara api terpancar membara, berkobar dalam jade yang terlingkari cincin hitam di sekitar mata. Dengus nafasnya menandakan bahwa pemuda itu sedang tidak berada pada masa 'tenang'nya.

Jelas sekali, dua idola KHS itu sedang menunjukkan gelagat ingin menghancurkan subjek yang buat darah mereka terbakar. Amarah dan benci, kelam menyelimuti tubuh beraura dingin itu. Atmosfer berubah bagai lumpur hidup. Menyerap oksigen di udara hingga buat Hinata sesak. Menghisap jiwanya. Menarik turun seluruh otot dan syarafnya melawan lajur sirkulasi yang seharusnya. Membuat aliran darahnya berjalan berlawan arah. Membuat otaknya beku. Buat ia searsa mati rasa.

Bayangan Gaara dan Sasuke yang sedang adu pukul membuatnya pusing, ingin muntah. Ia tidak akan mampu menghentikan mereka, jika saja Naruto tidak datang tepat waktu saat itu. Dan tak bisa ia bayangkan apa jadinya kedua pemuda bringas itu kalau tidak ada yang menghentikan. Ditilik dari kebrutalan dan kekuatan mereka yang membuat kaki Hinata seketika lemas. Darah memompa cepat setelah jantungnya tiba-tiba bergerak ekstra. Pusing mulai menggelayut. Tangan dan wajahnya mendingin, saat keringat dingin mengucur deras dari pori kulit. Paru-parunya sesak. Melihat Gaara semakin mendekat membuat Hinata ingin menangis. Sungguh, ia tak ingin mereka bertengkar lagi hanya karena dirinya.

Si gadis yang terlampau takut, hingga tak menyadari rembesan kental berwarna merah turun bebas, meluncur dari kedua lubang Hidungnya.

Gaara terhenyak. Membelalakkan matanya. Ia dorong dada Sasuke secara spontan yang membuat pemuda raven itu menyerangnya balas. Tapi urung ketika melihat tatapan horor Gaara yang terarah pada gadis yang masih setengah ada dalam jangkaunya.

Darah!

"H-hinata..."

Si gadis menyentuh ujung bibirnya. Aba bau besi yang menyengat. Begitu sadar jika tangannya basah oleh likuit kental bernama darah, serta merta tubuhnya melemas. Merosot jatuh dan pandangan buram yang menyelimuti, kini raib terganti gelap ketika kesadarannya telah menghilang.

Gaara sigap menangkap tubuh ringkih itu. Perasaannya tak enak. Ada suasana asing yang melingkupi hatinya. Ia tak pernah merasakan rasa itu. Rasa panik yang mengubah kekerasan hatinya menjadi suatu ketakutan yang kentara. Melihat Hinata tak sadarkan diri. Dengan tubuh lemas dan hidung berdarah.

Seharusnya ia tak peduli, dan biarkan saja gadis itu pingsan dengan keadaan jatuh ke lantai. Seharusnya ia bersikap datar. Tak perlu panik atau menatap sosok itu dengan mata tak tenang. Tak peduli karena baginya, gadis itu hanya mainan yang menjadi miliknya seorang. Bukan seorang gadis yang menjadi orang berharga hingga buatnya bersimpuh hanya untuk buat tubuh ringkih itu nyaman dalam rengkuhan lengan kekarnya.

Ia dorong sepenuhnya tubuh Sasuke agar menjauh. Beberapa saat lalu kedua pemuda itu terpaku melihat keanehan Hinata. Hingga desakan Gaara membuat si Uchiha sadar, dan serta merta mengikuti langkah cepat pemuda crimson yang membopong Hinata menuju ruang kesehatan.

Sungguh, Gaara sangat berbeda dengan ia yang biasanya.

))))))))00000^^00000((((((((

Apa dirinya sangat lemah?

Apa dirinya mudah kalah oleh ketakutan?

Kenapa ia sangat lemah?

Kenapa ia mudah kalah?

Sebegitu tak bergunanyakah ia?

Apakah ia sampah?

"Woi, Hyuuga! Ambil bolanya!"

"H-hai'!"

Seorang gadis kecil berlari ke arah sebuah pohon rindang yang terdapat bola terdampar pada sela akarnya. Tangan mungilnya bergerak menggapai bola itu dan akan berbalik, ketika ada benda bulat tiba-tiba melesat cepat ke arahnya. Mengarah tepat pada wajah mematung yang tak sempat menghindar. Tak dielakkan lagi, bola itu mengenai wajahnya. Kejadian berikutnya tak terlalu ia ingat karena kepalanya serasa diputar ratusan kali.

"Ahahaha...!"

Gelak tawa anak-anak lain yang melihat si Hyuuga tak berdaya.

"Hyuuga itu begitu lemah!"

"Bodoh sekali dia! Hei teman-teman! Lihat, sebentar lagi kebodohannya itu akan muncul!"

Hinata kecil berdiri dengan susah payah. Ia pegangi kepalanya yang terasa pening. Jalannya sempoyongan. Meski begitu, ia berusaha berjalan ke arah gerombolan anak yang menertawainya habis-habisan. Ia letakkan bola itu di bawah –di dekat kaki mereka-.

"Pfft! Sudah tahu dijahili, ia seperti tidak kapok saja!"

Gadis malang itu akan beranjak pergi, ketika tak sadar -karena matanya yang berkunang karena pening- ada sebuah kaki yang menjegalnya hingga terjatuh cukup keras.

BUKK!

"Bwahahhaha...!"

"Hahahaha!"

Tawa itu makin menjadi.

Hinata menangis. Ia menangis lirih. Air mata deras membasahi. Kepalanya pusing. Lututnya perih. Sikunya perih. Bagian tubuhnya lecet. Ia menangis karena sakit.

"Lihat, dia bodoh sekali!"

"Oi, Hyuuga! Ambilkan air disana!"

Walau penuh luka, gadis itu tetap beranjak dari tempatnya jatuh. Berjalan tertatih seperti apa yang mereka minta. Melakukan apa yang mereka suruh. Meminta maaf jika mereka marah. Kembali menangis ketika terjatuh. Semua selalu berulang pada hal yang sama. Ia yang dibully. Ia yang disiksa. Ia yang dipermalukan. Semua sudah menjadi santapannya sehari-hari.

Lalu, kenapa ia tak melawan?

"Ne, okaa-san!"

Hinata kecil meraih baju ibunya, minta perhatian dari wanita berparas cantik yang tengah menyiapkan makan siang.

"Nani?"

Si ibu merendahkan tubuhnya. Mensejajarkan wajahnya dengan mata bulat anaknya yang memiliki pipi gembil itu.

"Oba-san bilang, Hinata harus bersikap seperti Zashiki Warashi. Ne, oka-san, siapa Zashiki Warashi itu?"

Si ibu tersenyum lembut menanggapi pertanyaan anaknya.

"Zashiki Warashi itu adalah anak yang baik. Suka menolong, membantu orang lain, dan ramah pada setiap orang. Hinata-chan juga harus sepertinya, ya. Baik, murah senyum, sopan... ne, Hinata-chan bisa melakukannya?"

"Um!"

Gadis kecil itu mengangguk penuh semangat.

"Anak pintar,"

Ibu itu mengelus puncak kepala anak gadisnya dengan sayang. Lalu beranjak dan mulai meneruskan masakannya.

Sejak saat itu, telah tertancap kuat pada diri Hinata kecil bahwa ia harus bersifat baik seperti Zashiki-san. Berbuat baik dimana dan kapan pun. Mengumbar senyum, tak pernah mengeluh. Hinata berjanji akan selalu berbuat baik.

Apa itu yang buatnya lemah?

Apa itu yang buatnya tak mau melawan?

Hingga ketidakmauan itu berubah menjadi ketidakmampuan?

Ketidakmampuan itu berubah menjadi kelemahan?

Kelemahan itu yang buatnya selalu terinjak?

Jadi bahan olokan?

Jadi bahan hinaan?

Bahkan jadi orang buangan?

.

.

.

Dunia terasa gelap. Ia bisa merasakannya. Badannya sakit semua. Kepalanya terasa berat. Pening yang melanda, perlahan mengantarkannya pada sebuah kesadaran. Ia buka sedikit kelopak matanya. Perlahan, berkedip beberapa kali. Terlihat plafon berwarna putih dengan siluet gorden pembatas di bawah. Ah... ini ruang kesehatan.

Hinata mencoba mendudukkan diri. Memegangi pelipisnya yang terasa berdenyut. Sebuah hembusan pelan menerpa kulitnya. Lalu belaian lembut kelambu jendela dari arah samping. Ia menatap skeneri lapangan olahraga yang lenggang terbakar matahari. Suara serangga dan kesunyian khas tengah hari. Panas terik yang membakar, hingga membuat hembusan kecil angin bagai penyejuk yang menyegarkan.

Ternyata sudah siang. Jam menunjukkan angka 1 dan 2. Pelajaran pasti sudah dimulai semenjak tadi. Menyisakan si Hyuuga yang lagi-lagi harus bolos dari kegiatan sekolah. Mengingat bolos, gadis itu bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi hingga ia berakhir di ruang kesehatan sekolah? Apa ia terjatuh lalu kepalanya terantuk sangat keras dan ia pingsan?

Argh... bayangan itu. bayangan dua orang pemuda yang saling adu gertak gigi itu melintas cepat pada memorinya. Ia tak ingat persis kejadian apa yang menimpanya hingga buat ia pingsan saat kedua seniornya tadi menunjukkan raut tak bersahabat. Mengingat dirinya yang begitu lemah sampai-sampai melupakan hal yang baru saja terjadi.

Dan mengingat kata lemah, si Hyuuga satu ini ingat akan mimpinya.

Ya, mimpi... atau lebih tepat disebut sebagai renungan bawah sadarnya. Ia merenung ketika pingsan. Mengingat kembali flashback bertahun lalu yang menjadi titik nol terbentuknya karakternya saat ini. Saat ia masih sangat belia. Ada seorang teman akrab ibunya yang berkunjung. Bermain bersamanya dan ia selalu memuji-muji bahkan mengharapkannya tetap seperti itu hingga dewasa nanti, seperti Zashiki-san. Ia yang hanya manggut-manggut tak mengerti berlari ke arah sang ibu yang sedang memasak di dapur. Menanyakan siapa itu Zashiki Warashi dan jawaban dari sang ibu, telah merubah kehidupan Hinata kecil yang selalu patuh pada kedua orang tuanya.

Hinata merenung. Terduduk dengan tangan memeluk kedua lutut.

"Aku memang lemah..."

Menjadi baik memang hal yang baik. ibunya benar. Oba-san itu juga benar. Tapi menjadi baik yang tak bisa melawan hingga menyakiti diri sendiri, itu tidak bisa disebut baik. Ia hanya lemah. Ia tidak baik. ia bukan anak yang baik. Ia hanya lemah.

Mengingat penindasan yang sering dilakukan oleh anak lain di sekolahnya. Cuma karena Hinata yang baik, Hinata yang pintar, Hinata yang selalu dipuji, dan Hinata yang aneh. Ia dianggap aneh. Aneh yang bodoh. Aneh yang mau melakukan apapun yang semua orang suruhkan padanya. Bodoh karena ia tetap melakukannya meski jelas-jelas orang itu telah menindasnya. Hinata yang malang, Hinata yang terbuang, Hinata yang lemah. Tetap mengalami semua itu hingga ia beranjak di sekolah menengah atas.

"Bisakah aku menjadi kuat?"

Tentu saja bisa!

Tapi, mengingat ia yang selalu dilindungi oleh sang sepupu. Mengingat ia yang selalu dibentak sang adik karena tak pernah melawan. Mengingat ia yang selalu dinomorduakan sang ayah karena bersikap mengalah walau hati mengatakan tak rela.

Bisakah ia menjadi kuat?

Teng tong teng ting...

Teng ting teng tong...

Itu adalah bel pulang.

Selama itukah ia merenungkan kelemahannya hingga tak sadar bahwa jam sekolah telah usai?

Hinata menggigit bibir bawahnya. Berharap beban hidup yang berhubungan dengan sekolah bisa segera terangkat dari pundaknya. Ia menuruni ranjang dan hendak pergi ke kelas mengambil tasnya, ketika pintu terbuka memperlihatkan sosok dua gadis yang tengah menatap khawatir ke arahnya. Dua orang yang menjadi pelipur lara dan temannya yang berharga.

"Sakura-chan... Ino-chan..."

"Hinata, kau tak apa-apa?"

"Hinata, kau sakit apa hingga berada di ruang kesehatan?"

Dan bla bla bla...

Sungguh, sesungguhnya kau bisa menjadi kuat, Hinata...

Dengan senyummu yang langsung terkembang mendapati hartamu paling berharga di sekolah. Kau bisa menjadi seorang yang kuat, bila kedua orang itu ada dan selalu mendukung, mengkhawatirkan, dan menyayangimu. Kau bisa kuat dengan hanya menampilkan sebuah senyum manis untuk mereka.

.

.

.

.

.

.

"Jadi, kau mengincarnya juga?"

"Dia bukan mangsa, Sabaku. Aku tak mengincarnya. Aku ingin memilikinya, bodoh,"

"Sama saja, brengsek. Kau tak mau mengincar, tapi ingin memiliki. Dan aku, walau aku tidak mengincar, tapi aku sudah memiliknya."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, gadis itu sudah ada di genggamanku, Uchiha. Kau tak bisa lagi berharap akan memilikinya."

Tangan itu kembali mengerat. Rahangnya mulai gemeretak. Dadanya naik turun cepat seiring nafas yang menahan amarah.

"Cukup! Aku sudah muak dengan semua ini! Berhentilah mengganggunya, Sabaku, kau sudah menyakitinya!"

"Memangnya apa yang sudah kulakukan? Apa seburuk yang kau lakukan hingga ia pingsan dengan hidung berdarah?!"

Gaara juga mulai naik pitam.

BRAAK!

Kursi yang tertata apik itu kini terlempar karena tendangan keras pemuda Uchiha. Matanya nyalang. Menatap si Sabaku seakan ingin mencekik lehernya hingga tewas.

"Justru karena kau yang mengganggu, Hinata jadi ketakutan! Tak sadar kau jika ia begitu pucat ketika melihatmu?!"

PRAANG!

Vas bunga yang malang. Pecah begitu saja karena amukan pemuda Sabaku.

"Jaga ucapanmu, anak haram-"

Belum sempat ucapan Gaara selesai, Sasuke menarik kerah pemuda yang setahun lebih tua darinya itu cukup keras.

"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu."

Smirk Gaara terbentuk. Ia tatap mata hitam yang menusuknya begitu tajam.

"Memangnya kenapa? Bukankah itu fakta?"

"Bisakah kau berhenti menggangguku, dan urus kehidupanmu sendiri?!"

"Hahahahaha...!"

Gaara tertawa sangat keras.

"Justru kau yang menggangguku, brengsek!"

Tawa itu dengan cepat berubah menjadi raut marah yang begitu mengerikan.

"Kau mengambil kehidupanku. Kau mengambil wanita yang seharusnya ada hanya untukku. Dan kau telah membunuhnya karena sebuah keegoisan. Dan sekarang kau..."

Nada suara Gaara merendah.

"...Mengataiku telah mengganggu kehidupanmu? Keh! Berhentilah kau! Yang menggangguku hidupku, dan jangan sentuh gadis milikku!"

Sebuah tinju melayang tepat ke arah wajahnya. Secepat kilat Gaara menghindar dan menyerang balik. Adu tinju, adu pukul, adu tendang. Mereka bergelut layaknya gangster yang berebut wilayah kekuasaan. Menolak untuk lelah dan terus menyerang. Menyelesaikan pertikaian yang sempat tertunda.. Meski darah dan lebam telah memenuhi raga.

Hingga matahari raib dari pandangan dan hari berubah menjadi malam. Sungguh, keturunan Sabaku dan Uchiha ini tak pernah akur. Mereka saling menyalak, saling mencakar, saling menggigit, dan saling membunuh. Berakhir dengan hempasan tubuh babak belur yang ambruk karena kelelahan. Lalu saling mengumpat hingga mereka 'pulang' ke tempat yang tidak bisa mereka sebut dengan rumah. Kecuali neraka.

TBC

Owari... for chap 6! Yay!

Akhirnya, moment SasuHina muncul juga. Walau bukan pair terrrrrfavorit Shiro, Shiro tetep suka pair ini daripada NaruHina

#dilempar sepatu sama fans NaruHina

*author: gomenasai, gomenasai, gomenasai... T_T –kabur ampe celana melorot :p-

Udah lama fict ini gak kesentuh, dan author lagi kehilangan ide untuk meneruskan

#digapok pohon kelapa

Pengennya sih discontinued, tapi keburu sayang banget sama para reader dan gak mau mengecewakan, walau fict ini gak dibaca sekalipun...

#ealah...

Yaudah deh, Shiro pertahanin aja tiap fict Shiro, dan usahain tetep lanjut walau badai buat masuk PTN favorit masih menggoyang-goyang biduk kehidupan Shiro

#jyaaahh... pake kata kiasan lagi

Hehehe... gomen reader, kalo masih banyak kurangnya. Dan makasih banyak buat para reviewer maupun reader-sama yang setia dengan fict serba kekurangan ini. Mohon dukungannya selalu ya... dan doakan Shiro bisa masuk PTN idaman Shiro T_T

#yaelah baper

Yosh, see you in the next chap...^^