Naruto by Masashi Kishimoto.

I just borrow some characters and don't take any profit from this story.


Dalam Hatimu

Bagian Enam


Bagi Sakura semuanya berputar terlalu cepat. Bahkan kemesraan dan ciuman hangat yang baru saja dirasakannya seolah-olah sudah terjadi puluhan tahun lamanya, terendam oleh sosok asing yang baru saja memeluk Kakashi, pria yang memberinya ucapan ... selamat malam.

.

.

Tubuh Kakashi terdiam di tempat bak patung. Tidak sedikit pun dia menyangka akan dihadapkan pada situasi seperti ini. Kedatangan Hanare, salah satu gadis yang pernah memasuki relung hatinya itu, terlalu mendadak. Pelukan hangat Hanare tak diresponsnya. Meski lebih karena keterkejutannya. Hanare dapat merasakan ketegangan yang sepertinya dibuatnya. Dia merasa tak enak hati. Maka segera dilepaskan pelukannya.

"Maaf, aku." Hanare menghentikan perkataannya. Dia melirik ke arah Sakura. Entah kenapa Hanare merasa bahwa wanita menawan yang tadi keluar dari mobil Kakashi memiliki ikatan khusus dengan Kakashi. Sedikit banyak itu membuat hatinya sebagai sesama wanita ikut tercubit, antara rasa bersalah atas pelukannya dengan rasa sedih karena dirinya bukan lagi berarti apa-apa bagi Kakashi. "Aku hanya terbawa suasana. Aku, aku ... teman lama Kakashi."

Sakura tersenyum kecil, meski hatinya merasa sangat tercubit, dia merasa bukan pada tempatnya dia merasakan perasaan itu. "Tidak, tidak apa-apa," kata Sakura. Sakura berpura-pura menyibukkan dirinya dengan gembok pagar pondoknya.

Kakashi sendiri masih diam seribu bahasa. Dia tidak tahu angin apa yang membawa Hanare, wanita yang dulu pernah menjalin hubungan dengannya tiba-tiba muncul kembali di hadapannya, bahkan tepat di depan pondok Sakura. Perkataan dari Sakura-lah yang berhasil menariknya kembali pada situasi yang terjadi saat ini.

"Nah, kalau tidak keberatan, aku masuk dulu."

Belum sempat Kakashi mencegahnya, Sakura kembali berkata, "jangan khawatir, aku hanya tetangga Hatake-san." Perkataan itu diucapkan dengan senyuman yang berusaha ditampilkan sebaik mungkin oleh Sakura.

"Ah, baiklah." Hanare merasa bersalah, apa lagi setelah melihat ke arah Kakashi yang nampaknya masih belum menyadari keberadaannya.

Hatake-san? Kakashi terdiam. Perkataan Sakura menjelaskan semuanya. Bahwa perasaan wanita itu terluka. Ingin rasanya Kakashi mengejar Sakura, menahan Sakura agar mendengar terlebih dahulu penjelasan darinya. Kakashi sadar dia bersalah. Dia memiliki hutang penjelasan pada Sakura. Namun Kakashi tahu, Sakura akan lebih terluka jika dia memaksakan kehendaknya agar Sakura mendengarkan penjelasannya malam ini juga.

Kakashi menghela napas panjang. Dia berbalik menghadap Hanare.

"Apa aku sudah merusak harimu?" tanya Hanare hati-hati. Rasa sesak mulai menjalari hatinya ketika melihat tatapan mata Kakashi bukan lagi tatapan hangat yang dulu selalu didapatnya dari kedua bola mata yang berlainan itu.

Kakashi menggeleng pelan. Tidak adil rasanya jika dia harus menyalahkan Hanare. Gadis itu tidak tahu apa-apa. Kakashi tahu, dialah yang salah. Dia tidak pernah mengatakan apa-apa pada Sakura tentang masa lalunya. Dirinya terlalu menggebu menginginkan Sakura menjadi miliknya, mencari tahu segala sesuatu tentang wanita itu, tapi melupakan satu hal penting: hak Sakura untuk mengetahui masa lalu Kakashi, termasuk Hanare.

"Kau menginap di mana?"

Hanare terkejut mendengar pertanyaan Kakashi. Kakashi yang dulu dikenalnya tidak akan menanyakan hal itu padanya. Tanpa menanyakan hal itu, Kakashi pasti akan dengan rela membiarkan Hanare menginap di apartemen sewaannya. Namun sekarang Hanare tahu, Kakashi-nya telah berubah.

"Aku tidak tahu." Hanare memilih jujur. Karena sejujurnya dia memang tidak tahu harus menginap di mana. Dia mengira Kakashi akan memberikan tumpangan tempat tinggal padanya seperti biasa.

Kakashi menghela napas berat. Didekatinya Hanare, perlahan tangan kekar Kakashi mengusap pelan pucuk kepala Hanare. "Kau sama sekali tidak berubah."

Ya, tapi kau yang berubah, pikir Hanare.

Kakashi tidak tahu bahwa ada seorang wanita yang menahan tangis melihat itu semua di balik tirai ruang tamunya. Sakura mengepalkan tangannya yang bebas, rasa nyeri di telapak tangannya akibat singgungan kuku-kuku jarinya tidak terasa dibandingkan rasa sesak yang menggumpal di dadanya. Bukan hanya padaku Kakashi mencurahkan keintimannya, pikir Sakura pahit.


Dua cangkir cokelat hangat sudah tersaji di atas meja ruang duduk pondok Kakashi. Hanare sedang meniup-niup cokelat hangat miliknya. Uap-uap hangat mengepul dari atas cokelat hangatnya.

"Nah, aku tidak akan menyembunyikan keterkejutanku atas kedatanganmu ke sini. Jujur saja, setelah hampir dua tahun tidak menghubungi atau mengabariku, tiba-tiba saja kau datang di muka pondokku. Itu lebih dari cukup untuk mengejutkanku." Kakashi mengambil tempat di sebelah Hanare.

Hanare tersenyum, meski ada siratan sungkan yang keluar dari senyuman itu. "Aku..."

"Bertengkar lagi dengan ayahmu?"

Hanare menganggukkan kepalanya dengan sedikit rasa malu. Kakashi ternyata masih ingat dengan kelakuan yang sering kali dilakukan olehnya. Ketika bertengkar dengan ayahnya, Hanare pasti akan langsung menyambangi kediaman Kakashi dan menumpahkan keluh kesahnya pada pria itu. Pribadi Kakashi yang hangat dan terbuka tentu saja menjadi teman pelipur gundah yang tepat dan nyaman bagi Hanare.

Menjadi anak tunggal yang terlalu dikekang ayahnya membuat Hanare muda sering kali terlibat ketidaksepahaman dengan pemikiran sang ayah. Ayahnya terlalu mengekangnya, meski Hanare sadar itu semua bentuk dari kekhawatiran ayahnya. Dia adalah anak tunggal. Semenjak ibunya meninggal dunia, praktis ayahnya menjadi orang tua tunggal yang merawat Hanare sendiri. Usaha ayahnya terbilang cukup sukses. Perusahaan jasa pengiriman barang yang dirintis oleh ayahnya sejak muda telah menunjukkan hasil yang memuaskan. Tidak percuma setiap tetes keringat yang dikeluarkan ayahnya kala memulai usaha itu dari nol.

Hanare sangat mengasihi ayahnya. Namun di usianya yang dulu belum begitu matang dalam menyikapi segala sesuatu, dia merasa perlu bernapas dari segala rutinitas yang dianggapnya mengekangnya. Kakashi yang tumbuh dewasa jauh sebelum waktunya memahami perasaan Hanare. Kakashi bukan jenis pria yang mudah terpikat oleh wanita. Tapi Hanare bukanlah gadis biasa. Kesantunan dan otak cerdas yang dimiliki gadis itu adalah nilai tambah baginya, ketidaksepahamannya dengan sang ayah lebih disebabkan oleh masa pencarian jati dirinya ditambah dengan kekhawatiran ayahnya yang berpikiran bahwa Hanare terlalu polos untuk dunia luar. Belum lagi dengan parasnya yang menawan, tentu mudah membuat lawan jenis tertarik padanya. Itu pun yang dilihat dan dikhawatirkan oleh ayahnya.

Kakashi adalah orang asing bagi ayah Hanare. Sekali pun mereka belum pernah bertegur sapa secara resmi. Maka ketika ayahnya mencium kedekatan anak semata wayangnya dengan Kakashi, ayahnya mulai bergerak cepat. Hanare dikirimnya ke Kiri untuk melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Ilmu Seni Kiri. Hanare merasa tertekan. Dia tahu ayahnya berusaha menjauhkannya dari Kakashi. Ayahnya tahu sejak lama Hanare menginginkan mengambil studi khusus di bidang seni. Namun selalu mendapat hambatan dari sang ayah. Kini demi menjauhkannya dari pria yang dianggap ayahnya mencuri hati sang putri, ayahnya rela mengabulkan keinginannya. Dia tahu Hanare tidak bisa menolak tawaran yang diajukannya.

Hanare menumpahkan segala keluhannya pada Kakashi. Kakashi merasa bimbang, di satu sisi dia ingin mempertahankan hubungan mereka. Di sisi yang lain, dia tidak ingin menjadi batu sandungan bagi cita-cita Hanare. Dia tahu apa yang dicita-citakan gadis itu sejak lama. Maka meski mengasihi Hanare begitu dalam, Kakashi melepaskan gadis itu.

"Tapi bukan hal yang terlalu merisaukan. Mungkin besok pagi aku sudah kembali pada ayahku."

Kakashi menatap Hanare dalam-dalam. Melihat sikap dan gerak tubuhnya, Kakashi tahu Hanare bukan lagi gadis dengan perasaaan dan pola pikir meletup-letup khas remaja. Gadis itu telah bertransformasi menjadi pribadi yang mampu mengendalikan emosinya dengan baik.

"Ada apa?" Kakashi menatap kedua mata Hanare dengan lembut. "Aku tahu kau tidak akan mencariku jika tidak benar-benar membutuhkanku."

"Aku— "

"Tidak perlu risau, Hanare. Aku sama sekali tidak tersinggung. Aku mengerti keadaanmu. Bagaimana pun juga dia adalah ayahmu."

Hanare tersenyum tipis. Dia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Kakashi. Namun mengingat wanita yang tinggal di sebelah pondok Kakashi, dia merasa wajib menenggang perasaan wanita itu jika benar wanita itu memiliki hubungan khusus dengan Kakashi.

"Kau benar," kata Hanare. "Tapi sebelum aku menceritakan apa yang membawaku ke sini, maukah kau berbagi mengenai wanita yang tadi pergi denganmu?"

Kakashi diam. Perasaannya mulai gundah. Bukan berarti cintanya pada Sakura hanya seujung kuku dan menjadi bercabang setelah kedatangan Hanare. Namun tegakah dia menyakiti hati Hanare? Kakashi bukan pria remaja yang tidak peka dengan keadaan di sekitarnya. Meski Hanare tidak menampilkan perasaan yang menggebu-gebu ketika bertemu dengannya, tapi Kakashi tahu gadis itu masih memiliki perasaan hangat padanya.

Hanare nampaknya mengetahui kegelisahan Kakashi. Maka diusapnya dengan lembut punggung tangan pria itu. "Tak apa. Katakanlah dengan jujur. Aku bukan gadis remaja lagi, lho." Hanare mengatakan kalimat itu dengan senyuman kecil di bibirnya.

Kakashi sungguh berterima kasih atas pengertian Hanare. "Namanya Sakura. Seperti yang kau lihat, dia adalah tetanggaku. Dan tebakanmu benar jika kau berpikir aku memiliki hubungan khusus dengannya. Namun sayangnya kami bukan sepasang kekasih seperti yang kau pikirkan."

Hanare menautkan kedua alisnya. Pikirnya, Kakashi dan Sakura sudah menjalani hubungan khusus seperti apa yang bisa diharapkan dari seorang pria dan wanita yang sama-sama memiliki rasa. Meski tidak pernah berbicara dari hati ke hati dengan Sakura, sebagai sesama wanita, Hanare bisa merasakan perasaan Sakura pada Kakashi yang terpancar dari kedua mata wanita itu ketika memandangnya yang sedang memeluk Kakashi.

"Dia masih belum bisa menerimaku sepenuhnya," desah Kakashi pasrah. Maka mengalirlah untaian-untaian kata dari mulut Kakashi perihal hubungannya dengan Sakura yang bagaikan air laut. Pasang surutnya hubungan mereka diungkapkannya pada Hanare. Meski baru bertemu kembali dengan Hanare, gadis itu bukanlah orang asing bagi Kakashi. Bagaimanapun, Hanare pernah menjadi orang yang paling dekat dengannya. Kini Kakashi sudah menganggap Hanare sebagai adiknya.

Hanare mendengarkan curahan hati Kakashi dengan penuh perhatian. Baru kali ini dia merasa Kakashi begitu mencintai seorang wanita. Ada sekelumit rasa sesak di dadanya mendapati kenyataan itu. Namun berusaha ditepisnya sejauh mungkin. Kakashi berhak mencintai wanita yang dicintainya tanpa tekanan atau beban rasa bersalah apa pun atas perasaannya.

Hanare berusaha membesarkan hati Kakashi. "Kau tahu, aku bisa merasakan bahwa Sakura juga memiliki hati padamu. Aku yakin suatu saat dia pasti menghargai usahamu."

Kakashi tertawa kecil. "Kau benar. Kurasa Sakura juga mencintaiku."

Hanare memutar kedua bola matanya. Kepercayaan diri Kakashi yang tinggi tidak berubah meski mereka sudah tidak bertemu selama dua tahun.

"Hei, jangan memasang wajah seperti itu," gurau Kakashi. "Aku tahu kau pasti berpikir aku kelewat percaya diri. Tapi sungguh, aku bisa merasakannya, Sakura memiliki perasaan yang sama dengan perasaanku padanya. Hanya saja aku perlu berusaha lebih keras untuk meyakinkannya."

Hanare tersenyum.

"Aku sangat berterima kasih kau sudah mau mendengarkan curahan perjaka tua ini dengan sangat baik," gurau Kakashi. "Nah, sekarang ceritakan padaku, apa yang menyebabkan kau bertengkar dengan ayahmu? Melihat sikapmu sekarang, aku yakin masalah yang kau hadapi bukan lagi karena sikap mengekang ayahmu."

Hanare terdiam. Haruskah dia mengatakan bahwa yang menyebabkan pertengkarannya dengan sang ayah adalah karena dirinya menginginkan kembali menjalani kasih dengan Kakashi. Apalagi Kakashi baru saja mencurahkan perasaannya yang terdalam terhadap Sakura.

"Ada sedikit ketidaksepahaman, di usia hampir kepala tiga begini, aku masih belum memiliki pasangan hidup." Hanare berusaha tertawa santai.

"Biar kutebak, ayahmu ingin menjodohkanmu dengan pria pilihannya?"

Hanare menganggukkan kepalanya. Dipikirnya, biar saja Kakashi mengira seperti itu. Karena sudah tidak mungkin baginya untuk berkata bahwa alasannya datang menemui pria itu adalah karena ingin kembali menjalin kasih dengannya yang ditentang oleh ayahnya.

"Hanare, kau adalah gadis yang sangat cantik dan menarik. Aku yakin, kau akan segera menemukan pria yang pantas untuk kau cintai sepenuh hati."

Sayangnya pria itu tidak mencintaiku, pikir Hanare getir.


Sakura merasakan efek dari kedatangan wanita cantik yang tadi memeluk Kakashi dengan hangat di depan pondoknya. Hatinya merasa tercubit-cubit. Apalagi ketika dia melihat Kakashi sepertinya merespons perlakuan wanita itu dengan membelai rambut panjang si wanita yang terurai dengan indah. Dalam pembaringannya, Sakura gelisah. Terlebih lagi jika memikirkan hubungan apa yang dimiliki Kakashi dengan wanita itu? Seberapa dekat hubungan mereka?

Sakura bangkit, berjalan menuju jendela kamarnya yang menghadap ke arah pondok Kakashi. Bukan main gelisahnya hatinya ketika melihat lampu-lampu di pondok Kakashi telah padam. Sakura melihat dengan kepalanya sendiri ketika Kakashi mempersilakan wanita itu masuk ke dalam pondoknya. Kini lampu-lampu di pondok itu telah padam. Sakura merasakan perasaan sakit di hatinya ketika memikirkan apa yang mungkin dilakukan oleh seorang pria dan wanita di dalam sebuah pondok dengan lampu-lampu yang dipadamkan.

Sakura mencoba mengendalikan perasaan tak nyaman di dadanya dengan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Namun percuma. Apa pun yang dilakukannya, dia tidak bisa mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang menyesakkan hatinya.

Dalam benaknya terbayang betapa cantik dan anggunnya wanita yang tadi datang memeluk Kakashi dengan tiba-tiba. Sakura tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan dirinya dengan wanita itu. Seketika perasaan rendah diri menerpanya dengan kuat. Dibandingkan dengan wanita itu, jelas Sakura kalah telak.

Dari gerak sikap dan tutur kata wanita itu, Sakura bisa menilai bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita yang tidak baik. Ditambah dugaan bahwa wanita itu sepertinya memiliki hubungan yang khusus dengan Kakashi, walau Sakura tidak tahu pasti apa hubungan itu. Meski wanita cantik itu mengatakan padanya bahwa dia hanya teman lama Kakashi, Sakura tidak bisa memercayainya seratus persen. Sakura bisa merasakan wanita itu mengatakan hal tersebut hanya untuk menenggang perasaannya. Lalu siapa wanita itu bagi kehidupan Kakashi? Mantan kekasih Kakashi? Atau mungkin kekasih Kakashi yang pernah dicampakan pria itu?

Sakura benar-benar merasa tidak nyaman dengan semua yang dipikirkannya mengenai hubungan Kakashi dengan wanita itu. Kalaupun Kakashi mencintainya jika benar pria itu mencintainya seperti apa yang sering dikatakan pria itu padanya, apa bisa Kakashi menolak pesona wanita itu jika dalam keadaan berdua saja dalam satu pondok? Tubuh Sakura gemetar, bukan hanya karena rasa cemburu dan kekecewaan yang menderanya, tapi juga karena dirinya mulai sadar, bahwa perasaan cintanya pada Kakashi sudah terlalu dalam. Memikirkan itu semua membuat tidur Sakura sama sekali tidak nyenyak malam ini.


Sakura sendiri yang membukakan pintu pondoknya ketika melihat Kakashi sudah berdiri tegak di depan pintu pondok dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Kakashi mengenakan celana training abu-abu dengan kaus putih tanpa lengan yang mampu memperlihatkan otot-otot lengan pria itu.

"Sakura."

"Ya?"

Kakashi tahu pasti bukan hal mudah untuk menjelaskan semuanya pada Sakura. Dia mencoba berbasa-basi. "Bagaimana tidurmu malam ini?"

Sakura menyipitkan kedua matanya. Tega-teganya Kakashi menanyakan hal itu, padahal semalam pria itu membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Apakah maksud pertanyaan Kakashi hanya untuk mengejeknya dan menunjukkan padanya bahwa pria itu semalam juga 'tidak tidur dengan nyenyak'. Keterlaluan, pikir Sakura. "Tentu saja," desis Sakura.

Kakashi menyadari kesalahannya. Dia memang tidak pandai berbasa-basi dalam situasi seperti ini. "Oh, baiklah, Sakura. Aku tahu pertanyaanku mungkin salah. Tapi percayalah, jika kau memikirkan aku bermaksud mengecewakanmu, aku berani bersumpah, aku tidak punya maksud seperti itu."

Sakura memilih diam.

"Aku tahu aku berutang penjelasan padamu, tapi kumohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan itu semua."

Sakura tidak merespons permintaan Kakashi.

"Please..."

Sakura tidak berkata apa-apa. Dia menatap Kakashi lama, sebelum mempersilakan Kakashi masuk ke dalam pondoknya.

Kakashi langsung masuk dan duduk di atas sofa di ruang duduk. Sakura berdiri, bersandar pada dinding di belakangnya. Posisi tubuh Sakura menghadap Kakashi.

"Sakura, please, dengarkan aku."

"Bicaralah, aku mendengarkanmu." Sakura masih bersikap acuh tak acuh. Sakura berusaha mencari objek penglihatan selain wajah Kakashi.

"Bagaimana kau akan mendengarkanku, jika menatapku saja kau tidak mau?" Kakashi bangkit. Dia menghampiri Sakura, menggenggam kedua tangan Sakura dengan kedua tangannya. Dibawanya genggaman itu ke dalam dadanya. Kakashi mengunci Sakura dengan tatapannya. "Kumohon, beri aku kesempatan untuk meluruskan semua prasangka yang kau pikirkan."

Sakura merasakan hatinya berdesir ketika pandangannya bersirobok dengan tatapan hangat dan tulus dari Kakashi. Melihat dirinya sudah mendapatkan perhatian penuh dari Sakura, Kakashi mulai bercerita segala hal mengenai hubungannya dengan Hanare, termasuk jalinan kasih yang pernah dirajutnya bersama dengan gadis itu.

"...tapi percayalah, aku benar-benar mencintaimu. Aku sudah menganggap Hanare seperti adikku sendiri," kata Kakashi mengakhiri ceritanya.

Sakura masih diam. Rasa kecewa masih bermegah-megahan di hatinya.

"Sakura..."

"Apa Hanare masih ada di pondokmu? Maksudku setelah semalam, apa dia masih ada di pondokmu?"

Kakashi tersenyum kecil. Meski nada bicara Sakura masih menyiratkan kekecewaannya, tapi dia senang wanita itu mau merespons.

"Aku tahu maksud dari pertanyaanmu yang berbelit-belit. Kau tenang saja, aku berani bersumpah, kami tidak melakukan apa-apa seperti apa yang kaucurigai. Dan tadi pagi-pagi setelah sarapan, Hanare sudah pulang ke rumahnya."

"Kau tidak mengantarnya?"

Kakashi bisa menangkap nada cemburu terdengar dalam setiap kata yang ditanyakan Sakura, dan entah kenapa itu membuatnya sedikit merasakan angin segar di kepalanya.

"Kau cemburu jika aku mengantarnya?"

Sakura tertawa kecil. "Memangnya kenapa aku harus cemburu?"

Kakashi menyeringai. Dia merapatkan tubuhnya pada tubuh Sakura yang sedang bersandar di dinding. "Jadi, Nyonya Besar yang satu ini tidak cemburu pada pria tampan yang sedang berdiri di hadapannya?" goda Kakashi.

Sakura tertawa geli. "Kenapa aku cemburu?"

Kakashi semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Sakura. Tangan kanannya diletakkan di dinding di sisi kiri Sakura, mengunci gerakan wanita itu. "Yakin kau sama sekali tidak merasakan cemburu?"

Sakura tersenyum manis. "Sangat yakin," katanya setengah bergurau.

"Kau mengecewakanku, Saki," desah Kakashi dengan nada yang dibuat-buat.

Kedua mata Kakashi menatap Sakura dengan tatapan hangat dan tulus. Tatapan itu meluluhkan hati Sakura. Bahkan ketika tubuh Kakashi semakin merapat ke arahnya, Sakura tidak menolak. Sakura merasakannya. Dia merasakan cinta yang besar yang tersorot dari kedua mata Kakashi. Sakura sadar betapa dia pun menyimpan rasa cinta yang besar pada pria itu.

Kakashi bisa merasakan singgungan antara dada bidangnya yang masih terbalut kaus dengan bagian depan tubuh Sakura yang masih tertutupi pakaian sepenuhnya. Singgungan itu menjalarkan sensasi liar ke sekejur tubuhnya. Irama napas Sakura yang sedikit tak beraturan karena keintiman mereka membangunkan gairah sensual Kakashi di pagi hari.

Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi udara sejuk yang seharusnya masih dirasakan keduanya tergantikan oleh panas menggelora yang menggelegak dari dasar tubuh keduanya.

Pelan tapi pasti, Kakashi mengecup bibir ranum Sakura. Sakura masih bersikap pasif, namun tak lama kemudian, dia membiarkan nalurinya untuk membalas kecupan dan pagutan mesra dari Kakashi. Kedua tangannya yang awalnya tergantung bebas di samping tubuhnya, kini mengalung di leher Kakashi.

Kakashi memperdalam ciumannya. Kini ciuman itu bukan hanya mendarat di bibir Sakura, tapi perlahan turun ke dagu, sampai ke leher Sakura. Tangan kirinya yang bebas mulai menyelinap ke balik kaus rumahan yang dipakai Sakura, mengelus punggung Sakura dengan lembut dan mesra.

Sakura merasakan dirinya bagai tersengat listrik. Gairah sensual Kakashi menjalari seluruh tubuh Sakura, mengirimkan sinyal-sinyal yang menggetarkan hasrat terdalamnya. Entah bagaimana caranya, Kakashi sudah menuntun Sakura hingga posisi Sakura kini tengah berbaring di atas sofa dengan Kakashi di atas yang menatapnya dengan penuh damba.

"Kringgg..."

Suara dering pesawat telepon menyadarkan Sakura atas apa yang hampir terjadi di antara mereka. Lekas-lekas Sakura mendorong dada Kakashi. Meski dengan tenaga yang lemah, Kakashi segera menjauh. Pria itu menghargai sikap Sakura.

Kakashi berdiri, bersandar di dinding. Sedangkan Sakura sedang merapikan kausnya. Sakura bergegas ke arah pesawat telepon. Kakashi samar-samar dapat mendengar desah kecewa Sakura.

"Ada apa? Kelihatannya kau kecewa setelah mendapat telepon."

Sakura tersenyum tipis. "Itachi-nii bilang, kemungkinan baru besok dia mengantarkan Kei ke sini. Ibu membawa Kei menginap di rumah Paman Madara—adik dari Ibu." Sakura memang terbiasa memanggil ibu mertuanya dengan panggilan Ibu.

Kakashi dapat memahami kesedihan Sakura. Bagi seorang ibu, berpisah dengan anaknya dalam waktu meski hanya dua hari pastilah tidak menyenangkan. Walaupun Kakashi belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu secara utuh, dia bisa memahami perasaan Sakura.

"Nah, ayo mandi!—"

Sakura membelalakkan kedua matanya mendengar perkataan Kakashi.

Kakashi menyeringai, menyadari Sakura salah mengartikan perkataannya. "—maksudku, kau yang mandi. Aku menunggumu di sini," kata Kakashi menjelaskan maksud perkataannya. "Atau ... kau mau aku ikut juga menemanimu mandi?" goda Kakashi lebih lanjut.

"Jangan macam-macam, Kashi!" ancam Sakura. "Lagi pula, aku sudah mandi."

Kakashi tertawa lepas. "Aku hanya ingin satu macam kok, menikah denganmu."

Sakura terdiam. Kakashi yang segera menyadari suasana hati Sakura, segera mengalihkan pembicaraan mereka. Belum saatnya, pikir Kakashi.

"Nah, kalau memang sudah mandi. Ayo bersiap-siaplah! Kita pergi jalan-jalan."

Sakura menghargai usaha Kakashi. Bukan usaha yang mengajaknya pergi jalan-jalan. Namun usaha pria itu yang mengalihkan pembicaraan mereka demi menenggang perasaan Sakura yang masih bimbang. Sakura merasa bersalah pada Kakashi.

Kakashi lalu menatap Sakura dari ujung rambut wanita itu sampai dengan ujung kakinya yang telanjang tanpa sandal rumah. "Gantilah kaus itu, aku tidak ingin pria lain menikmati keindahan tubuhmu."

Sakura nampak hendak mengiterupsi perkataan Kakashi. Maka Kakashi segera meneruskan perkataannya. "Jangan menyanggahku. Aku tahu kau pasti ingin berkata, 'oh Kakashi, memangnya ada yang salah dengan pakaianku saat ini? Aku hanya memakai kaus polos yang tidak akan mengundang apa-apa.' Ya, mungkin kau memang hanya memakai kaus polos, tapi itu tidak bisa menutupi pesonamu."

Sakura tersipu mendengar pujian terselubung dari perkataan Kakashi.

"Nah, ayo ganti bajumu," kata Kakashi. "Kalau perlu pakai jaket yang tebal."

Sakura tidak bisa tidak tertawa. "Ini masih siang," kata Sakura. "Lagi pula, kenapa kita harus pergi lagi? Bukankah kemarin kita baru saja pergi?"

"Ayolah, aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu denganmu."

Sakura tertawa sambil bangkit dari duduknya. "As your wish, Prince!"

Kakashi tertawa. "Sudah pandai menggoda rupanya."

Kakashi tidak pernah tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang menentukan bagi hubungan mereka selanjutnya. Apakah Sakura akan menerimanya sepenuh hati atau malah meninggalkannya karena kesalahan yang dibuatnya?

.

.

.

Bersambung

.

A/n:

Terima kasih untuk semua yang mau baca dan menyempatkan diri untuk review fic ini.

Maap kalau saya belum sempat membalas beberapa review yang masuk di kotak review. Tapi saya sangat berterima kasih dan membaca setiap review yang masuk, baik saran, kesan, maupun kritik. Terima kasih ya.

Adakah yang menyadari bahwa klimaks cerita ini akan semakin dekat? XD

Mungkin beberapa chapter lagi fanfiksi ini akan selesai alias tamat. Doakan ya~

Terima kasih

Ay