Empat

.

.

Sejauh ini, keseluruhan kelas pagi berjalan lancar.

Dia berhasil menjawab satu pertanyaan mengenai molekul di kelas kimia. Mencatat rapi penyebab perang dunia pertama di kelas sejarah. Dan terlepas dari keengganannya bersosialisasi, Taehyung justru membuat kenalan baru.

Ini bermula pada akhir kelas matematika. Siswa dari meja belakang menendang kecil kaki bangkunya. Dua kali. Hal pertama yang terpikirkan adalah tetap diam. Berpura-pura mengabaikan mungkin akan menghentikan siswa itu. Sebaliknya, dia justru menerima tendangan-tendangan lain. Jauh lebih bertenaga. Sepuluh detik penuh.

"Oi nerdy,"

Kedua bahu Taehyung menegang. Yeah! Akhirnya kau bertemu penganggu pertamamu! Selamat!

Setelah melewati sedikit perdebatan internal, dia menoleh ke belakang. Hanya untuk disambut cemberut gelap siswa berambut panjang...—tunggu, itu benar-benar panjang. Seperti, melewati kerah dan menutupi sebagian name-tag.

Taehyung mendapati dirinya diam-diam mengeja.

...Jeonghan.

"Apa yang kau lihat?!"

Taehyung menelan seluruh kalimat, lalu memuntahkan, "T—tidak ada," yang terdengar meragukan.

Sorot tajam siswa itu menvalidasi, "Anggap saja aku percaya," dia mencondongkan tubuh. Ujung brunettenya bergerak dalam proses. Mengambil sebagian atensi begitupula sebagian nafas Taehyung, "Dengar, aku hanya akan mengatakan ini sekali,"

"Uh—baik," Taehyung mengubah posisi duduk agar dapat lebih mudah menatap Jeonghan. Meskipun siswa itu tidak mengintimidasi seperti bayangannya, Taehyung tetap curiga. Tidak semua orang memiliki hati malaikat.

"Kim Taehyung..." ada jeda tipis, "...aku ingin kau menjadi mitraku di kelas musik,"

Butuh tiga detik memahami ucapan Jeonghan. Ketika realisasi menghantam, Taehyung kebingungan, "A—apa? Kenapa? Maksudku..." suaranya menghilang begitu melihat gerakan isyarat. Telunjuk mengetuk bibir berulang kali. Ujung brunette siswa itu bergerak. Lagi.

"Jawab saja. Kau mau tidak?!" tuntut Jeonghan galak. Perubahan mood yang tidak diantisipasi.

Kelas musik pertama Taehyung dimulai seusai jam makam siang. Oleh karena itu dia tidak memiliki ide apapun mengenai mitra atau sebagainya. Lagipula, keinginan siswa itu tidak menyentuh logika, "Kenapa kau ingin aku menjadi mitramu?"

Jeonghan menghela nafas lelah. Dia menarik tubuh untuk menyandar pada badan kursi sebelum menjawab, "Karena semua orang ingin melompat ke arahku. Dan kulihat kau cukup waras untuk terpengaruh tingkah gila mereka," ucapnya tak acuh.

Taehyung mengangguk internal.

Dia memperhatikan fitur wajah siswa itu; dahi yang tidak begitu menonjol, hidung mancung, bibir pink tipis, serta dagu runcing. Secara keseluruhan, fiturnya tidak setajam Jimin apalagi Jungkook. Dengan rambut panjangnya, Jeonghan cenderung terlihat lembut. Hampir seperti yeoja. Jika mereka berada di kerumunan, dia ragu mampu membedakan gendernya.

Sudut-sudut bibir Taehyung berkedut. Tak heran jika banyak orang yang ingin mengetukmu.

Mendorong kebingungan mengenai kelas musik jauh ke belakang kepala, Taehyung mulai bersimpati. Dia tahu bagaimana menyebalkannya hal itu.

"Ba...baiklah. Aku setuju menjadi mitramu,"

Satu alis Jeonghan menukik turun, "Benarkah?" Taehyung mengangguk kecil. Disambut langsung oleh senyum lebar, "Bagus! Sudah kuduga kau akan setuju! Ngomong-ngomong aku Yoon Jeonghan,"

Dia meraih uluran tangan itu, "Kim Taehyung,"

.

.

Taehyung telah menolak secara halus. Memberikan alasan masuk akal semacam; 'aku benar-benar tidak lapar' serta 'dompetku tertinggal di apartemen'. Tetapi Jimin lihai sekali mematahkan alasan dan merangkai kalimat persuasif. Memadamkan kemampuan Taehyung dalam mendebat.

Jadi disinilah dia berakhir. Menatap lesu lantai koridor sepanjang perjalanan menuju cafetaria. Mendengarkan tanpa minat ocehan Jimin tentang rasa ilahi gimbap Nona Seo. Sesekali respon singkat diberikan. Tidak lebih dari bentuk kesopanan.

Sejak awal Taehyung tidak berminat makan siang. Atau lebih tepat di katakan 'tidak ingin meninggalkan kelas'. Potensi bertemu Jungkook sangat besar. Oleh karena itu ada baiknya tetap duduk manis di bangku. Menunggu kelas selanjutnya dengan damai. Dia menyelipkan komik One Piece terbaru di dalam tas. Itu akan membantu membunuh waktu.

Namun terimakasih Jimin dan seluruh kebaikan yang salah sasaran.

"...mereka menyediakan berbagai macam topping lezat—Hei!"

Seseorang dari arah berlawanan menabrak—atau ditabrak—oleh Jimin. Bukan kejadian dramatis. Mereka tidak terjatuh atau menjatuhkan barang. Hanya mundur satu langkah. Taehyung berhenti pada detik berikutnya. Hendak menoleh untuk memastikan keadaan Jimin jika tidak diinterupsi suara yang familiar.

"Gunakan matamu, midget,"

Seketika tubuh Taehyung kaku. Tanpa perlu mendongak dia dapat menebak siapa yang berdiri menjulang di hadapan mereka. Suara, aura, dan aroma mengkonfirmasi dengan jelas. Itu Jeon fucking Jungkook.

Taehyung bertanya-tanya, kenapa takdir gemar sekali mempermainkannya.

.

.

TBC

.

An: makasih yang udah follow dan favorite cerita ini. Dan virgiawan738, makasih banyak buat komentarnya. Saya jd punya semangat buat update lagi di ffn 3