Disclaimer : Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J. K. Rowlings
Warning : Au, Slash, OOC, Powerful!Twin!Draco, typo, creature! Fic, etc
Pairing : DMHP
Genre : Romance, drama, adventure, etc.
AN : Bagi orang-orang yang belum tahu identitas Draco sebenarnya, mereka akan menganggapnya sebagai Christopher. Namun dalam Draco Pov, ia menyebut dirinya sebagai Draco. jadi jangan bingung ya? n_n
CHASING LIBERTY
by
Sky
Sudah sebulan lamanya semenjak murid baru yang misterius itu pindah ke Hogwarts, dari sana Harry menemukan kalau nama dari murid baru tersebut adalah Christopher Hammond, Chris untuk lebih singkatnya. Harry tidak mengerti dengan apa yang terjadi ketika murid-murid Slytherin mendengar nama murid baru itu, namun yang jelas sebagian besar dari mereka kelihatan terkejut dan langsung menyambut Chris dengan antusias, apalagi ketika topi penyeleksi menempatkan pemuda itu pada asrama Slytherin. Apakah Chris itu orang yang sangat penting? Dan karena penasaran ia menanyakannya kepada Hermione.
Betapa terkejutnya Harry ketika Hermione menjawab pertanyaan dari Harry, rupanya keluarga Chris adalah keluarga yang sangat legendaris dan masyarakat penyihir percaya kalau garis keturunan keluarga Hammond telah lenyap berabad-abad yang lalu sampai Chris muncul.
"Dia adalah mate-ku." jawab Harry ketika Hermione bertanya padanya tentang mengapa Harry begitu tertarik pada murid baru yang bernama Christopher.
Keduanya tengah duduk di tepi danau sore ini, menikmati udara hangat di tengah musim gugur sambil melihat atraksi squid raksasa yang muncul dan berenang kembali ke dalam danau. Mereka duduk di atas kain piknik berwarna biru kotak-kotak, mereka terlihat begitu santai sampai-sampai mereka merasa tidak keberatan kalau Ron tidak bersama mereka.
"Bagaimana kau tahu kalau Chris adalah mate-mu, Harry?" tanya Hermione sedikit penasaram. "Apa kau bisa membuktikannya?"
"Entahlah, aku juga tidak terlalu mengerti secara mendetail. Bau Chris terasa tidak begitu asing dan sihirnya menarik sihirku untuk datang padanya, tidak hanya itu saja karena dua minggu sebelum aku bertemu dengannya di Diagon Alley aku bermimpi tentang Chris dan diriku." jawab Harry optimis, "Dan dari buku yang kau pinjamkan padaku, 'Mione. Aku menemukan kalau Seraphine itu memiliki mate dan dari apa yang kutemukan maka aku dapat menyimpulkan kalau Chris adalah mate-ku."
"Tapi apa kau yakin kalau mate-mu adalah, Chris? Sebab bisa saja itu orang lain." sahut Hermione memastikan.
Harry mengangguk perlahan, "Aku sangat yakin. Dari semua orang yang ada di Hogwarts, hanya dia yang memberikan sensasi padaku. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya..."
"Hangat dan serasa ada kupu-kupu yang bermain Quidditch di perutmu setiap berpapasan dengannya?" goda Hermione dengan senyum kecil.
"Kira-kira seperti itu. Rasanya seperti Natal dan musim semi tiba secara bersamaan. Oh, 'Mione... aku harap Chris mau menerimaku."
Hermione menyentuh bahu teman baiknya itu dan memintanya untuk berhadapan dengannya. Hermione menatap mata emerald milik Harry, mata itu terlihat begitu indah dan di sana terdapat keluguan yang tidak tersentu oleh apapun. Gadis itu memberikan senyum kecil pada temannya, Harry memang begitu imut sampai-sampai dalam hati Hermione pernah merasakan cemburu pada temannya ini. Tidak ada yang bisa menolak pesona Harry, ditambah lagi aura Seraphine itu sangat kuat dan kecantikannya lebih melebihi dari kecantikan seorang Veela. Tidak heran kalau Harry memiliki banyak penggemar yang ingin memilikinya.
"Chris adalah orang bodoh bila ia tidak mau menerimamu. Kau manis, kuat, dan sangat baik hati. Orang mana yang mampu menolak dirimu sebagai mate mereka, Harry?" ujar Hermione sedikit keras.
"Entahlah, 'Mione. Aku tidak begitu yakin dengan diriku sendiri, dan kau salah...karena aku tidak terlalu menarik untuk dilihat." ujar Harry dengan nada sedikit kecewa, ia selalu menganggap dirinya jelek dan tidak mempunyai kecantikan atau ketampanan di wajahnya. Sayangnya apa yang dipikirkan oleh Harry adalah kebalikan dari kenyataan, ia sangat manis dan menarik seperti yang Hermione katakan.
Hermione ingin memukul Harry dan berteriak di telinganya kalau Harry itu tidak jelek, terkadang perasaan pesimis yang Harry miliki tentang dirinya sendiri itu membuat Hermione frustasi. Apa Harry tidak bisa melihat kalau banyak orang yang selalu ngiler bila melihat Harry dan hampir lepas kendali untuk mengklaim Harry sebagai milik mereka? Harry itu sangat menarik dan semua orang mengakuinya, tentu saja semua tahu kecuali Harry sendiri. Hermione rasa Harry butuh kacamata yang berlensa lebih tebal, mungkin saja kacamata bundar netral yang dikenakan oleh Harry adalah kesalahan yang sangat besar.
"Terkadang kau membuatku sangat frustasi." komentar Hermione.
Harry hanya memberikan senyuman kecil untuk menghibur temannya. Tiba-tiba ekspresinya menjadi sedikit serius lagi, ia melihat permukaan air danau hitam yang kelihatan begitu jernih sore ini sebelum menemukan Hermione tengah menatapnya dengan penuh simpati di wajahnya.
"Apa yang harus kulakukan, 'Mione? Bagaimana kalau setelah kuberitahu dia adalah mate-ku lalu Chris malah menolakku?" tanya Harry dengan suara lirih. "Dari buku yang kubaca, seorang Seraphine akan mati karena kesepian bila mate mereka menolaknya."
"Kau tidak boleh berpikiran negatif seperti itu, Harry! Kau ini menarik dan aku yakin Chris pasti akan menerimamu dengan senang hati." jawab Hermione dengan nada yakin walaupun dalam hati ia tidak 100% yakin. Chris itu adalah orang yang dingin dan Hermione pernah berpikir kalau ia adalah seorang aseksual.
"Aku senang dengan kata-katamu tapi kau tidak perlu untuk menghiburku. Chris itu tampan dan memiliki banyak penggemar, buat apa ia menerimaku kalau ia bisa mendapatkan siapa saja yang jauh lebih menarik dariku untuk jatuh kepelukannya?"
"Kalaupun Chris menolakmu, aku akan menghajarnya sampai babak belur. Tidak ada yang boleh macam-macam pada temanku!" Seru Hermione berapi-api.
Harry tersenyum sedih, selama hidupnya dia selalu mengalah pada semua orang. Dalam perbedaan argumen ia selalu mengalah pada Ron, ia membiarkan Dumbledore untuk memanipulasi hidupnya selama ini, bahkan ia menerima perlakuan keluarga Dursley yang bisa dibilang tidak berperikemanusiaan itu dengan lapang dada. Jadi apabila Chris tidak menerimanya, bukankah itu adalah hal yang biasa? Harry akan menerimanya dengan lapang dada seperti biasanya sebelum takdir yang sangat pedih menghantuinya.
Ia sedikit terlonjak saat Hermione memegang dagunnya dan memberikan senyuman kecil pada Harry, "Kau adalah orang paling baik hati yang pernah aku temui, Harry. Apapun keputusan Chris nanti, aku tetap menganggap ia adalah orang yang paling beruntung karena dapat memilikimu."
Kata-kata dari temannya itu membuat rona merah di wajah Harry muncul. Mereka berbicara terus dengan nada halus tanpa mengetahui kalau sedari tadi sepasang mata berwarna silver kebiruan mengamati mereka sejak tadi dan sebuah senyum lembut muncul di wajah orang misterius itu saat ia mengamati Harry dari tadi.
"Maxima." kata Draco pelan sambil melambaikan tongkat sihirnya, membuat tubuh Blaise menghantam dinding tembok dengan sangat keras.
Blaise duduk bersandar pada dinding setelah merasakan lemparan yang begitu keras, ia bernafas cukup berat dan menghiraukan darah yang keluar dari luka di pelipisnya. Pemuda itu menaruh kedua tangannya di atas kedua lutut sebelum sebuah seringai muncul di wajah tampannya, ia mencoba untuk mengatur nafasnya yang berat sambil menatap sosok figur Draco yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Draco berdiri dengan sangat rileks, di tangan kanannya ia memegang tongkat sihirnya sementara di tangan kirinya ia memegang sebuah pedang yang sangat indah dan terlihat luar biasa tajam. Pedang itu seperti pedang Roman, terbuat dari logam titanium murni berwarna putih kesilveran. Di sana terdapat ukiran yang aneh dan tidak Blaise pahami serta pegangannya terdapat tatahan Sapphire yang sangat indah. Blaise tidak tahu dari mana Draco mendapatkannya, namun pedang itu membuatnya jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Tidak buruk juga. Tapi kau tidak perlu melemparku sampai ke sini." komentar Blaise, ia berdiri dari posisi awalnya dan membersihkan debu-debu yang tidak tampak pada jubahnya.
Ia melihat Draco mengangkat bahunya, tanda kalau ia tidak peduli. "Kau sendiri yang minta." jawabnya pelan. "Membangunkanku di waktu sepagi ini."
"Tapi tidak perlu sekeras itu." protes Blaise, ia mengusap lukanya dengan lengan bajunya, "Ini sakit sekali."
Blaise menyandarkan tubuhnya pada dinding yang ada di belakangnya dan memasukkan kedua tangannya pada saku celananya, sikapnya itu membuat penampilannya menjadi cool (dalam kamus Blaise sendiri).
"Dari mana kau mendapatkan benda itu, Dray?" tanya Blaise, tidak ada salahnya kalau ia merasa penasaran. "Apakah pedang itu pengganti dari pedangmu yang telah rusak beberapa tahun lalu?"
"Aku mendapatkannya dari brankas keluarga Hammond, Tristan memberikannya padaku secara tidak sengaja. Kurasa apa yang kau katakan memang benar, benda ini adalah pengganti dari yang lama. Aku lebih menyukainya dari yang lama."
"Apa ada yang berbeda selain bentuknya yang lebih bagus?"
Draco memberikan senyuman tipis pada Blaise, hampir tidak tampak kalau tidak dilihat secara jeli. Pemuda itu melihat teman sekaligus tangan kanannya tersebut tampak tertarik meneliti pedangnya, ia memegangnya dengan sangat erat sambil menghiraukan sihir yang berputar-putar di sekeliling benda itu.
Mungkin Draco harus menyimpannya sebelum Blaise memberikan komentar yang macam-macam, ia melepaskan pedang itu ke lantai. Secara ajaib lantai yang ada di bawah pijakannya menelan pedang Hammond dengan perlahan sebelum hilang dari pandangan. Cara menyimpan yang praktis, begitu pikir Draco sebelum menatap Blaise yang kelihatan ingin mengajukan pertanyaan lagi.
Sebelum itu terjadi, Draco berkata padanya dalam bahasa Italia, "Questa cosa avviene la magia della vita, Blaise. Solo questo puo spiegare a voi 1." jawab Draco.
"Dai, Draco! Fatemi sapere! 2" bujuk Blaise.
Draco menggeleng, dan saat Blaise bertanya mengapa ia hanya menjawab. "A causa di questo segreto 3." jawab Draco dengan senyum misterius di wajah tampannya.
Blaise mengangguk singkat, mengerti kalau Draco tidak ingin dirinya bertanya lebih jauh lagi. Ia menguap pelan, baru sadar kalau sekarang ini masih pukul 4 pagi. Setelah mereka berdua berbincang pelan akhirnya mereka keluar dari Room of Requirement untuk menuju ke arah asrama Slytherin.
"Kau duluan saja, ada hal yang ingin kuurus dulu." kata Draco dengan lembut, ia tetap berdiri dari tempatnya setelah melihat Blaise berjalan menjauh dari tempatnya.
Draco mengamati koridor tempatnya berdiri saat ini, begitu sepi dan tidak ada yang berada di sana kecuali dirinya, bahkan hantu-hantu Hogwarts tidak ada yang lewat satupun sementara lukisan-lukisan yang tergantung di sana tengah tertidur. Draco berterima kasih mengenai itu karena ia tidak ingin ada orang yang melihatnya kelayapan di pagi-pagi buta seperti ini, kalau saja Blaise tidak mengajaknya berduel pada jam-jam seperti ini pasti ia sudah pergi dari tempat ini sejak lama. Rupanya mencari diadem Ravenclaw yang diperintahkan oleh ayahnya itu tidaklah mudah seperti yang ia pikirkan, ia tahu kalau benda itu berada di Room of Requirement dan bisa diambil kapan saja, tetapi yang paling merepotkan adalah waktu yang tepat untuk mengambilnya. Tristan melarangnya untuk menyelesaikan misi ini sebelum ujian akhir berakhir yang tentu saja 11 bulan kemudian, Tristan melakukan ini agar Draco dapat mengawasi kakak 'tersayang'-nya dan Snape. Dan yang paling menyebalkan adalah ayahnya mendukung pendapat Tristan dengan gamblang, Draco sedikit heran dengan mereka berdua karena baru pertama kali inilah ia melihat ayah angkat dengan ayah baptisnya mempunyai pendapat yang sama, sebab selama ini dari yang Draco tahu mereka berdua tidak pernah akur. Pekerjaan menjadi pengasuh bayi itu sebenarnya bukan pilihan pertama, namun bila mengasuh bayi seperti Alexander dan Snape yang tentu saja membuatnya untuk tinggal lebih lama di Hogwarts di mana Harry Potter bersekolah, maka Draco tidak akan mengeluh. Sebulan belakangan ini Harry Potter selalu menjadi objek obsesinya yang tidak pernah meninggalkan pikirannya sejaka pertama kali mereka bertemu, tepatnya ketika mereka berada di Diagon Alley.
Draco menghela nafas panjang, ia mencoba untuk menjernihkan pikirannya untuk saat ini. Draco menolak untuk memikirkan apapun selain misinya untuk saat ini, ia tidak boleh mempunyai perasaan atau semacamnya kepada Harry karena baginya mempunyai emosi sedikitpun akan membuatnya lemah dan Draco menolak untuk itu. Pemuda itu memberikan glare pada tembok yang ada di hadapannya, Harry Potter benar-benar membuatnya gila.
Untuk menjernihkan suasana hatinya Draco memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kastil, berjalan secara diam dan menyelinap dari pantauan Filch, hantu Hogwarts, atau lukisan yang terbangun. Sudah sebulan lamanya ia berada di sini, sangat membosankan karena selama itu pula ia terpaksa harus mengikuti aktivitas-aktivitas 'normal' seperti murid pada umumnya, artinya tidak ada duel secara serius, menggunakan sihir gelap, ataupun membunuh. Misinya kali ini membuat Draco jengah saja. Di tempat ini Draco menggunakan identitas palsu, mungkin ini sangat ironi karena ia menggunakan nama keluarga ayah baptisnya sebagai nama keluarganya. Christopher Frederick Hammond adalah nama barunya sebagai siswa baru di Hogwarts pindahan dari Santuario, tentu saja Draco tidak buta ketika beberapa anak yang berasal dari keluarga berdarah murni merasa terkejut ketika mendengar nama keluarganya di panggil saat penyeleksian, bagaimanapun juga keluarga Hammond adalah salah satu dari keluarga penyihir yang menjadi legenda berabad-abad yang lalu.
Draco menghirup udara bebas saat ia sudah berada di luar kastil, menatap ke arah hutan terlarang membuatnya semakin tertarik untuk menjelajahinya. Tempat itu kelihatan misterius dengan suasana gelap di sana, seperti belum terjamah dan jarang dimasuki oleh orang. Draco yakin kalau di hutan terlarang banyak tinggal makhluk sihir seperti unicorn, Centaurus, Thestral, dan lain sebagainya. Oleh karena itu Draco memutuskan untuk pergi ke hutan terlarang.
Ia sama sekali tidak memperhitungkan hal ini sebelumnya, ada seseorang yang berada di sini selain dirinya. Draco mengambil tas kain yang tergeletak tidak jauh dari sisi pohon besar yang ada di sana, ia juga menemukan pemandangan yang cukup menarik yaitu sekumpulan Thestral tengah memakan apel yang disediakan oleh seseorang di sana. Draco melihat seekor bayi Thestral berjalan pelan menghampirinya, bayi Thestral itu terlihat begitu rapuh dan tidak berdaya, mungkin ia baru lahi pada malam ini atau apa. Kelihatannya bayi itu lapar dan mengendus sesuatu yang lezat berada di dalam tas itu, merasa sedikit mengerti akhirnya Draco membuka resleting tas kain yang ia temukan tadi dan mengeluarkan sebuah apel merah yang ia temukan di dalamnya. Draco meletakkan apel yang ranum itu di hadapan sang bayi Thestral, ia memperhatikan ketika bayi Thestral itu mengendus apel yang ia berikan tadi sebelum menggigitnya untuk dimakan.
Draco merasakan bibirnya berkedut ingin tersenyum melihat pemandangan yang sangat jarang terjadi itu. Pemuda itu berbalik ke belakang ketika ia menemukan kehadiran seseorang, ia bisa merasakan sihir orang itu dengan sangat kuat.
"Oh, hi..." sebuah suara yang melodius milik orang itu.
Draco hanya melihatnya secara sekilas dan harus ia akui kalau gadis yang berdiri di hadapannya ini tergolong sangat manis, dalam artian eksentrik namun tetap manis. Gadis ini memiliki rambut panjang berwarna pirang, kulit alabaster dan sepasang mata biru yang sangat memukau. Draco bisa menilai kalau gadis yang ada di hadapannya ini sedikit berbeda dari gadis-gadis lainnya, ia mempunyai aura yang sangat unik: sendu, damai, tenang, dan ceria yang menjadi satu. Apalagi gadis ini hanya mengenakan piama tanpa mengenakan alas kaki, kalung liontin yang sedikit aneh, dan penampilan yang begitu ekstrem. Gadis ini benar-benar terbilang sangat aneh, tapi sangat manis dalam benak Draco.
"Halo, Christopher, senang bisa bertemu denganmu pada pagi ini." sapa gadis 'aneh' ini dengan begitu ceria, namun senyumannya begitu sayu sementara kadua matanya bersinar memukau, hampir sama dengan mata emerald milik Harry. Hanya saja gadis ini tidak memiliki mata emerald seperti Harry, namun sepasang sapphire yang sangat indah.
Untuk sesaat Draco hanya menatap gadis yang ada di hadapannya ini sebelum mengangguk perlahan, gadis berambut pirang panjang itu berjalan menghampiri Draco dan berhenti di hadapannya. Dengan senyum sayu ia mengulurkan tangan kanannya untuk Draco, serasa mengerti apa maksudnya maka Draco menjabat tangan gadis itu dengan pelan.
"Hallo, namaku adalah Luna Lovegood. Beberapa minggu ini para Nargles sering membicarakanmu, dan aku sangat senang bisa bertemu denganmu akhirnya." ujar Luna dengan ceria, pandangannya menerawang seperti tengah bermimpi atau apa.
Draco menarik tangannya dan mengangguk pelan, tidak tahu harus berbicara apa. Jadi dia membiarkan Luna menguasai pembicaraan mereka.
"Christopher Hammond, namamu mempunyai arti yang sangat menarik. Kau tahu, Daddy pernah mengatakan kalau nama Chris berarti cahaya. Hmm.. kelihatannya Burble dan Nargles sangat menyukaimu, mereka selalu mendengungkan suara-suara menyenangkan bila mereka berada di dekatmu." ujar Luna. Ia berjongkok di hadapan bayi Thestral yang tengah asyik memakan buah apel yang Draco berikan tadi.
"Kurasa kau memegang tas milikku, Chris.. ah, bolehkan kalau aku memanggilmu Chris?" tanya Luna.
"Tentu." jawab Draco singkat, ia memberikan tas yang ia pegang tadi kepada gadis itu. Draco berdiri di belakang Luna dan mengamatinya bersama sang bayi Thestral dengan perlahan.
Gadis itu sangat aneh, Draco sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Luna katakan. Apa itu Burble dan apa itu Nargles ia memang tidak mengerti, bahkan Draco tidak pernah tahu kalau makhluk semacam itu pernah ada, namun sepertinya Luna sangat mempercayainya. Gadis yang aneh dan suka bermimpi kelihatannya jauh lebih baik daripada kebanyakan gadis yang ia temui di Hogwarts, mereka tidak pernah mau meninggalkannya sendirian. Luna jauh lebih baik dari mereka.
"Apa yang kau lakukan di tempat ini pada pagi buta seperti sekarang?" tanya Draco lirih.
Luna menengok ke arah Draco, "Hmm... mereka kelihatan lapar, jadi aku membawakan makanan untuk Thestral-Thestral yang manis ini. Mereka sangat menyukai apel."
"Kau bisa melihat mereka?"
"Tentu saja, aku bisa melihat mereka sejak berusia 7 tahun ketika Mummy meninggal. Ah... meskipun harus kehilangan Mummy, aku tidak pernah menyesal untuk bisa melihat mereka. Bagaimana denganmu?" tanya Luna dengan suara sedih sebelum berubah ceria.
Draco menatap salah satu Thestral dewasa yang mendekat padanya, ia mengusap kepala Thestral itu dan membuatnya semakin dekat dengan Draco. Pemuda itu tidak ingin menjawab pertanyaan Luna, gadis itu bisa melihat Thestral saat usia 7 tahun setelah melihat kematian ibunya? Dia pasti masih sangat muda dan dalam kebimbangan mengapa bisa melihat seekor makhluk yang sangat unik seperti Thestral.
Angin malam berhembus dari arah hutan terlarang, Draco menatap langit yang terlihat sedikit buram dan gelap karena hari masih jauh dari pagi karena saat ini masih pukul 4 pagi atau lebih. Draco membiarkan angin dingin membelai wajah dan tubuhnya, konsentrasinya fokus kepada mata hitam milik makhluk yang seperti kuda itu. Ia membelai sayap tengkoraknya dan sebuah senyuman kecil muncul di wajah tampannya, Luna bisa melihat mereka saat berusia 7 tahun namun Draco bisa melihat mereka sejak usia 4 tahun karena suatu alasan yang masih menjadi rahasia bagi orang lain, bahkan Tom dan Tristan saja tidak tahu bagaimana Draco bisa melihat para Thestral yang merupakan binatang mistis tanda kematian pada usia semuda itu. Dan Draco sendiri tidak mempunyai niat untuk memberitahukannya, jadi ia menyimpan alasan itu untuk dirinya sendiri.
Draco melihat Luna tengah asyik mengamati bayi Thestral yang ada di hadapannya sampai ia tidak menyadari kalau Draco tidak menjawab pertanyaannya.
"Lebih baik kau segera kembali ke kastil sebelum Filch tahu kalau kau tidak ada di asrama." kata Draco, membuat Luna melihatnya.
"Ah, benar juga." Luna menjawabnya sambil berdiri dari posisinya semula, ia melihat Draco dengan seksama. "Chris, apa kau ingin tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain?" tanyanya dengan misterius.
"Apa itu?"
Luna mendekatkan tubuh kecilnya pada Draco dan berbisik padanya, "Para Nargles memberitahuku sesuatu yang menarik mengenai dirimu, hm... kau menyembunyikan sesuatu yang menarik dari orang lain dan tidak ingin mereka untuk mengetahuinya." jawab Luna dengan senyum sayu di wajahnya,
Draco merasakan kedua matanya membulat dan melihat Luna dengan takjub, berbagai pertanyaan muncul di benaknya namun ia menolak untuk membiarkan apa yang otaknya pikirkan tampak di wajahnya. Gadis itu menjauh dari Draco dan mulai beranjak dari sana, menuju ke arah kastil. Namun sebelum itu ia melihat sekali lagi pada Draco dan berseru, "Kau juga harus segera kembali, Chris. Kalau tidak, sang beauty angel akan khawatir pada keesokan harinya dan The Hangman akan membunuhmu untuk itu."
Setelah mengatakan itu Luna meninggalkan Draco sendirian di tempat itu, bingung akan kalimat terakhir yang Luna katakan. The Beauty Angel and The Hangman? Apa itu semacam kode atau inisial yang ingin Luna katakan padanya? Tapi, bagaimana Luna bisa tahu kalau mereka saja baru bertemu tidak lama ini?
Tiba-tiba kedua mata Draco terbuka lebar saat menyadari sebuah petunjuk, jangan-jangan Luna adalah salah satu dari 'mereka'? Kalau memang dugaan Draco benar, maka tidak heran lagi kalau Luna bisa mengetahui apa yang terjadi dan mengatakannya pada Draco dalam kode bahasa yang berbeda. Sebuah senyum kecil muncul di bibirnya, siapa sangka kalau di tempat ini ia bisa menemukan sesuatu yang sangat menarik selain Harry, namun tentu saja Harry tetaplah yang paling menarik baginya. Dengan pikiran itu Draco kembali menuju kastil.
Pelajaran ramuan adalah pelajaran yang menjadi favorit Harry semenjak Slughorn mengajar mata mepalajarn ini setelah Snape terpilih menjadi professor pada pertahanan terhadap ilmu sihir. Slughorn tidak membeda-bedakan para muridnya, malahan ia sedikit tidak menyukai para Slytherin meskipun ia adalah kepala asrama Slytherin pada tahun ini.
Harry dan Hermione berjalan memasuki kelas ramuan dan keduanya merasa lega saat Slughorn belum masuk ke dalam kelas. Meskipun begitu tempat duduk yang kosong hanya ada tiga, Hermione segera mengambil tempat di samping Padma Patil, saudari kembar Parvati yang berada di Ravenclaw. Dan tentu saja hal ini menyisakan dua tempat kosong, yang satunya berada di samping Ron dan satunya berada di samping Chris. Harry bingung untuk memilih ingin duduk di mana, ia tidak mungkin duduk di samping Ron karena keduanya saling membenci satu sama lain dan ia juga tidak ingin duduk di samping Chris karena pemuda itu selalu membuat kupu-kupu yang ada di perut Harry bergejolak tidak menentu.
Ron yang melihat kedatangan Harry langsung memberikan tatapan marah sebelum menghiraukannya, akhirnya Harry mengambil tempat duduk di samping Chris. Pemuda itu mengalihkan pandangannya dari pemandangan luar jendela untuk melihat Harry. Keduanya saling bertatapan dalam waktu yang cukup lama sebelum Harry menunduk untuk menyembunyikan rona merah wajahnya dari pandangan Chris. Mata silver kebiruan itu adalah warna mata sama yang Harry lihat di dalam mimpinya akhir-akhir ini.
"Errr... apa aku bisa duduk di sini?" tanya Harry sedikit ragu-ragu.
Untuk sesaat Chris tidak menjawab, ia hanya menatap Harry sebelum pada akhirnya ia mengangguk, "Tentu, kau bisa duduk di manapun yang kau suka." jawabnya.
Dengan sedikit rona merah di wajahnya Harry mengambil tempat duduk di samping Chris, keduanya diam tanpa mengucapkan satu patah katapun untuk satu sama lain, mereka juga menghiraukan keadaan kelas yang sedikit gaduh karena professor Slughorn belum datang. Dari sudut matanya Harry melirik Chris, sedari tadi pemuda itu hanya menatap ke arah luar jendela seolah dia menemukan sesuatu yang sangat menarik di luar daripada di dalam ruang kelas. Apalagi aura yang menyelimuti tubuh Chris mengatakan kalau ia tidak ingin di sini, jadi wajah kalau Chris terus menatap ke arah luar.
Harry berada di dalam dilema, ia sudah berjanji pada Hermione untuk mengatakan pada Chris kalau dia adalah mate Harry. Di dalam otaknya Harry sudah mengatur berbagai rencana bagaimana untuk memberitahukannya, namun setelah sampai di kelas rencana yang awalnya ada di dalam otak Harry kini terlempar jauh-jauh ke luar jendela. Harry bingung, ia menoleh ke arah Hermione duduk. Temannya itu menatapnya dengan khawatir, Harry melihat Hermione menuliskan sesuatu di secari perkamen sebelum melipatnya dan melemparkannya kepada Harry. Dengan refleks seorang seeker, Harry menangkapnya dengan cekatan sebelum membuka apa yang ditulis oleh Hermione tadi.
Ayo, Harry. Kau harus memberitahunya!
Harry tersenyum membacanya, ia mengambil pena bulunya dan menulis jawaban untuk Hermione. Ia melemparkannya lagi pada temannya yang membaca jawaban dari Harry, ia melihat Hermione memberikan senyuman mendukung padanya. Keduanya sama sekali tidak tahu kalau sedari tadi Ron Weasley memperhatikan mereka dengan kilatan penuh cemburu di mata birunya.
Ron memang tidak menyukai Harry, bahkan terkesan sangat membencinya. Namun Ron tidak pernah membenci Hermione, ia sangat menyukai gadis itu dan mempunyai niat untuk menjadikan Hermione sebagai kekasihnya, tetapi karena perseteruan ini Hermione jadi memilih Harry ketimbang dirinya sehingga membuat Ron semakin benci kepada Potter. Menurutnya Potter adalah orang yang ingin cari perhatian pada orang lain, semua perhatian yang seharusnya untuk Ron malah menjadi milik Harry. Ia berteman dengan Potter selama lima tahun sama sekali tidak ada gunanya karena ia tetap tidak mendapatkan perhatian dari semua orang dan tidak membuatnya terkenal, apalagi perhatian dari gadis yang ia sukai tidak tertuju padanya melainkan pada Potter. Ron menyipitkan kedua matanya, ia memberikan glare penuh dendam pada belakang kepala Potter. Andai saja tatapan bisa membunuh seseorang, pasti Potter sudah tewas sejak dulu. Sebuah senyuman licik muncul di bibir Ron, ia mempunyai sebuah rencana untuk menyingkirkan Potter dan mendapatkan Hermione.
Kegaduhan murid-murid berhenti saat pintu besar kelas ramuan terbuka, seorang laki-laki yang cukup tua masuk ke dalamnya. Laki-laki itu tidak lain adalah Slughorn sendiri, ia berjalan ke depan kelas dan mengayunkan tongkat sihirnya untuk membersihkan papan tulis, ia memberikan senyuman lebar kepada murid-muridnya.
"Maaf atas keterlambatanku datang ke sini, professor Dumbledore mengadakan rapat secara mendadak jadi aku harus mengikutinya terlebih dahulu. Ah, kulihat kalian telah duduk membentuk kelompok, ini sangat menguntungkan karena aku akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas dua orang dalam satu kelompok. Dan orang yang duduk di sebelah kalian adalah partner kalian selama dua bulan dalam pelajaranku. Apa ada pertanyaan?" tanya Slughorn.
Seperti biasanya Hermione mengangkat tangannya ke atas.
"Iya, Ms. Granger?"
"Apa yang akan kita pelajari kali ini sehingga kita harus mengerjakannya dalam kelompok, profesor?" tanya Hermione dengan penuh percaya diri.
"Pertanyaan yang sangat bagus seperti biasanya dari Ms. Granger. Kali ini kita akan membuat ramuan Maltos Felicis, siapa diantara kalian yang mengetahui definisi dari ramuan yang akan kita buat ini?" tanya Slughorn, ia menyapu pandangan ke penjuru kelas untuk melihat siapa saja dapat menjawab pertanyaannya.
Suara Slughorn yang menggema menyadarkan Harry dari rasa keterkejutannya, orang yang duduk di sampingnya akan menjadi partnernya selama dua bulan, ini berarti Harry akan bekerja sama dengan Chris selama dua bulan untuk menyelesaikan ramuan Maltos Felicis ini. Wow, kelihatannya Lady Luck benar-benar berada di pihak Harry, dengan begini kesempatan Harry untuk membuat Chris suka padanya akan semakin besar. Pikiran Slytherinnya (Harry mempunyai itu, karena otak Slytherin itulah ia hampir diseleksi masuk asrama Slytherin) kini menyusun rencana yang bagus untuk membuat Chris tertarik padanya, dan langkah pertama adalah membuatnya terkesan.
Harry pernah mendengar nama ramuan yang dijelaskan oleh Slughorn, ia mengambil buku ramuan milik Prince yang ia temukan beberapa minggu yang lalu dan membuka halaman yang tepat. Dari sudut matanya ia melihat Hermione mengacungkan tangannya, Harry menemukan halaman yang ia maksud dan dengan segera ia mengangkat tangan kanannya. Harry harap Chris terkesan padanya.
Draco sedikit terkejut saat remaja imut yang duduk di sampingnya mengangkat tangan kanannya, tidak hanya dirinya saja yang terkejut namun juga lainnya.
"Ya, Harry my boy?" ujar Slughorn dengan senyuman bangga di wajahnya.
Dari sudut matanya Draco bisa melihat gadis yang menjadi teman Harry kelihatan kecewa sementara si rambut merah Weasley wajahnya kelihatan merah padam karena menahan emosi.
"Maltos felicis adalah sejenis ramuan yang hampir sama dengan Felix Felicis, hanya saja ramuan ini dibuat terlebih dahulu dan diartikan sebagai bahan mentah untuk membuat Felix Felicis dan ramuan semacamnya. Ramuan ini diberi label A karena kelangkaan dan tingkat kesukaran dalam pembuatan serta bahannya yang sangat sulit untuk dicari. Bahan utama dari ramuan ini adalah akar pohon Felicis, air mata naga hitam, serta bunga Hydra yang hanya tumbuh lima tahun sekali di pegunungan Alaska." jawab Harry dengan mulus meskipun sesekali ia melihat ke arah buku yang ada di atas pangkuannya.
Suasana kelas diam untuk sementara waktu, mereka belum pernah tahu kalau seorang Harry bisa sebegitu brilliantnya di kelas ramuan seperti ini, bahkan Hermione saja dibuat takjub.
"Bagus sekali, Harry. 10 point untuk Gryffindor karena Harry bisa menjawab pertanyaan dengan sangat sempurna." puji Slughorn, "Seperti yang dikatakan oleh Harry barusan kalau Maltos felicis adalah semacam ramuan keburuntungan yang merupakan bahan dasar dari beberapa ramuan penting, kalian bisa membuka buku ramuan pada halaman 109 tentang ramuan keberuntungan. Aku akan menuliskan cara-cara yang membantu untuk membuat ramuan ini. Kalian bisa menyiapkan bahan-bahan di ruang penyimpanan." ujar Slughorn.
Draco melihat Slughorn untuk sesaat sebelum beranjak dari tempat duduknya untuk mengoleksi beberapa bahan ramuan yang akan mereka perlukan, ia berjalan menuju ruang penyimpanan bahan-bahan ramuan yang ada di kelas itu dan mengoleksi bahan yang dibutuhkan. Menganalisis bahan yang akan digunakan tidaklah susah yang dibayangkan oleh orang lain, apalagi kalau mereka telah terbiasa membuat ramuan di waktu luang maka membuat ramuan semacam Maltos felicis tidak akan menjadi tantangan yang menegangkan. Pemuda itu mengambil toples berwarna merah yang ada di sampingnya, di dalamnya tersimpan beberapa bunga berwarna ungu dengan kepala sari berwarna putih.
Bunga Hydra adalah jenis bunga yang sangat langka dalam dunia sihir, bunga ini hanya tumbuh lima tahun sekali dan bahkan tidak akan tumbuh sama sekali bila sihir yang ada di sekitarnya tidak murni. Dengan hati-hati Draco mengambil bunga hydra dari dalam toples dan membawanya menuju di mana Harry tengah menyiapkan kuali yang akan mereka gunakan untuk membuat ramuan. Saat ia mendekati Harry, Draco menangkap bayangan sebuah buku yang cukup tebal dan tua. Buku itu adalah buku ramuan, Draco mengambil buku itu dan membuka sampul pertamanya. Di sana terdapat tulisan yang mengatakan "Half-Blood Prince", Draco melihat bentuk tulisan itu untuk sekali lagi karena ia merasa pernah melihat bentuk tulisan yang sama.
'Prince? Apa maksudnya adalah keluarga Prince yang hilang itu?' tanya Draco dalam hati. Draco melirik Harry yang balik menatapnya dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.
"Dari mana kau dapatkan buku ini?" tanya Draco singkat.
Harry menghindari tatapan yang diberikan oleh Draco secara langsung, merasa bersalah karena ia pikir ia ketahuan mencontek saat menjawab pertanyaan yang Slughorn berikan tadi padanya.
"Hmm... di lemari penyimpanan. Aku mengambil buku ini karena aku tidak memiliki buku ramuan jilid keenam." jawab Harry sedikit ragu-ragu, ia mengambil buku tersebut dari tangan Draco dan menggenggamnya dengan erat.
Draco memberikan tatapan yang tidak bisa dibaca oleh Harry sebelum menghela nafas panjang, "Apa yang akan kau lakukan dengan buku milik Prince?"
"Prince?" tanya Harry keheranan.
"Kau tidak tahu siapa pemilik yang sebenarnya?" tanya Draco, ia memutar kedua bola matanya saat melihat Harry menggelengkan kepalanya tanda kalau ia tidak tahu. "Prince, salah satu keluarga penyihir berdarah murni yang pernah mengukir sejarah dalam bidang ilmu ramuan pada tahun 1789. Keturunannya adalah orang-orang yang memiliki bakat alami dalam bidang ini, namun keluarga itu menghilang ketika perang dunia sihir yang pertama dimulai. Salah satu dari anggota keluarga Prince yang tersisa telah mati membusuk di Azkaban, jadi aku penasaran ketika kau memiliki buku itu."
Harry menatap buku yang ada di tangannya dengan seksama, beberapa minggu ini ia menggunakan waktunya untuk mencari siapa pemilik buku ramuan yang telah membantunya dalam pelajaran ramuan. Meskipun ia sayang untuk menyerahkannya pada pemilik yang sebenarnya, ia tidak bisa membantu untuk tidak merasa penasaran. Harry benar-benar penasaran tentang orang jenius yang mampu memberikan catatan yang begitu mendetail mengenai beberapa ramuan yang ada, meskipun sedikit rumit tapi Harry bisa mengerti apa maksud yang ada di dalam buku tersebut.
Draco melihat remaja yang ada di hadapannya itu tengah memikirkan sesuatu, ia menatap jam pasir yang ada di dalam kelas sebelum ia mengambil pisau dan memotong akar Lyuchist sepanjang setengah inchi sebelum membuat ramuan yang diperintahkan oleh Slughorn. Kalau Harry memilih untuk melamun seperti itu, maka Draco yang akan membuat ramuan ini sebelum waktunya habis. Draco tidak tahu mengapa ia mau melakukannya, tapi yang jelas ada sesuatu yang membuatnya untuk melakukan hal ini.
"Aku bisa membantu." ujar Harry lirih.
"Tentu, kau bisa menambahkan bubuk pixie ke dalam kuali dan camnpurkan akar yang sudah aku potong ini. Aduk selama dua menit dengan arah sama, jangan terlalu sering mengaduknya?" jawab Draco, ia menemukan dirinya ikut tersenyum saat Harry memberikan senyuman tipis di wajahnya sebelum melaksanakan apa yang Draco katakan tadi.
Mereka berdua membuat ramuan dalam diam, sekali-sekali mereka berbicara sedikit untuk bertukar pikiran mengenai ramuan tersebut.
"Ramuan yang sempurna seperti biasanya, Harry." puji Slughorn ketika dia lewat di tempat Draco dan Harry.
Ramuan yang mereka berdua buat memang sama seperti yang dituliskan di buku, berwarna kuning emas dengan sedikit kental dan kelihatan padat meskipun sebenarnya tidaklah padat. Slughorn menyendok ramuan yang mereka buat dan ia masukkan ke dalam sebuah botol kecil, ia menatap Harry dan keduanya berbicara untuk sementara waktu.
Slughorn yang terus bicara mengenai klub Slug-nya sama sekali tidak sadar kalau sedari tadi Draco mengatinya. Pemuda itu meneliti professor ramuan ayahnya ketika ia masih berada di Hogwarts, dari apa yang Tom katakan orang ini sedikit berbahaya karena Slughorn berada di pihak Dumbledore. Orang ini adalah satu-satunya orang yang mengerti tentang Horcrux milik Tom karena pada waktu Tom masih bersekolah, ia pernah mengkonsultasikan masalah Horcrux pada Slughorn. Horace Slughorn adalah kepala asrama Slytherin saat ini, namun ia sama sekali tidak bersikap seperti seorang Slytherin, kelihatannya pikiran orang tua ini benar-benar teracuni oleh Dumbledore.
Setelah pelajaran ramuan selesai, Blaise menghampiri Draco yang kelihatannya bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan kelas, namun sebelum itu sepasang tangan kecil mencengketam lengan jubah Draco. Pemuda itu melirik ke belakang dan menemukan Harry Potter yang berwajah merah berada di belakangnya.
"Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Draco pelan, "Kau duluan saja, Blaise."
"Terserah apa katamu." ujar Blaise sebelum meninggalkan keduanya untuk menuju ke kelas selanjutnya, kelas Herbology.
"Apa malam ini kau ada acara?" tanya Harry pelan, wajahnya masih bersemu merah.
Draco menatap Harry untuk sejenak lamanya, ia tidak tahu apa yang ada di dalam kepala Harry karena ia bukanlah ahli pembaca pikiran. Remaja berambut hitam itu sepertinya ingin mengatakan sesuatu, dari mimik wajahnya terlihat kalau ia tengah gugup karena sesuatu. Draco melihat Harry menggumamkan sesuatu yang begitu lirih sehingga tidak bisa didengar sama sekali, apalagi ditambah saat Harry menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan raut wajahnya.
Meskipun apa yang dilakukan Harry sangat imut, Draco tidak mempunyai waktu untuk berbasa-basi seperti ini. Ia meletakkan memegang dagu Harry menggunakan jemari tangan kanannya dan mengangkat dagu itu agar kedua mata mereka bertemu, Draco mendekat padanya dan berbisik pelan di telinganya.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Draco pelan.
"Apa kau mau menemaniku pergi ke klub Slug besok malam?" jawab Harry, melihat wajah blank remaja yang ada di hadapannya membuat Harry meneruskan, "Aku tahu kalau ini sama sekali tidak penting, Slughorn memintaku untuk mengundangmu ke klub Slug. Selain itu aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, ini sangat penting."
Draco menatap mata emerald Harry, "Oh, ya? Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Draco, nadanya begitu menggoda di telinga Harry.
Harry merinding pelan, "Aku tidak bisa mengatakannya sekarang tapi ini sangat penting."
Sebuah senyum atau mungkin itu seringai? Muncul di wajah tampan Draco, "Akan aku usahakan."
Keduanya saling berpandangan untuk beberapa saat lamanya tanpa mengubah posisi mereka, namun apapun yang mereka miliki segera buyar saat seorang pemuda yang begitu familier melemparkan mantra penyengat ke arah mereka berdua. Draco yang refleksnya lebih cepat dari Harry segera menarik tubuh Harry ke dalam pelukannya sebelum menghindar dari serangan itu, kutukan tadi menghandam tembok kelas dengan suara 'bedebum' yang cukup keras. Kalau mereka terkena kutukan itu, maka mereka bisa terluka parah dan beberapa organ vital akan rusak bila tidak segera diobati.
Draco menyipitkan matanya saat ia melihat sekelebat pemuda berambut merah yang baru saja melemparkan kutukan sihir pada Harry sebelum kabur dari sana, Draco menebak kalau orang itu adalah Weasley. Tapi mengapa Weasley menyerang Harry kalau dia adalah teman Harry? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya mengenai hal ini. Sebenarnya apa yang terjadi di antara The Golden Trio?
Kamus bahasa asing:
1. Benda ini memakan sihir hidup, Blaise! Hanya ini yang bisa kujelaskan padamu.
2. Ayolah, Draco! Beri tahu aku!
3. Karena ini adalah rahasia
AN : Sorry kalau banyak typo and gaje banget alias jayus. Thanks udah baca
Author : Sky
