Genre : Family/Romance

Pairing : KaiRuki, IchiRuki

AU

OOC


Bleach © Tite Kubo

An Orange Child

By : Ni-chan d`Sorayuki

Chapter 6


Kedua orang itu duduk di sebuah bangku kecil yang berada di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Tidak ada satu suara pun yang keluar dari mulut mereka. Keduanya terdiam cukup lama, terhanyut dalam pikiran mereka masing-masing.

"Hap…"

Sebuah Takoyaki hangat masuk ke dalam mulut salah satu di antara kedua orang itu, seorang cowok berambut merah dan bertato yang sering disapa dengan nama Renji atau mungkin Baboon?

Keduanya masih membisu walaupun suasana di sekitar mereka sangat ramai oleh orang-orang yang datang dalam acara tahunan Hanabi Matsuri di pusat kota Karakura saat ini.

Hanabi Matsuri adalah sebuah perayaan tahunan untuk menyambut musim dingin dengan cara melihat kembang api bersama-sama. Biasanya, penduduk Karakura menikmati perayaan itu dengan mengenakan yukata atau kimono dan melihat hanabi bersama dengan orang-orang yang mereka sayangi.

Sama seperti penduduk Karakura yang lain, kedua orang itu juga mengenakan kimono dan hendak melihat kembang api bersama, tapi karena acara utama--peluncuran kembang api belum mulai, mereka memilih untuk menepi dari keramaian orang-orang dan duduk santai di bawah pohon.

"Hoi!! Bisa dingin kalau tidak segera dimakan jeruk!!" Renji mencoba mencairkan suasana seraya menunjuk-nunjuk takoyaki yang dipegang Ichigo.

Ichigo cuma diam, menatap kosong pada takoyaki yang dibawanya, kemudian menyodorkan takoyaki itu kepada Renji, "untukmu saja," kata Ichigo datar tanpa menatap lawan bicaranya.

"Haaahh...," Renji menghela nafasnya, kemudian diterimanya takoyaki itu dari tangan Ichigo.

"Hei jeruk busuk!!" teriak Renji, mencoba memanasi Ichigo agar membalas ejekannya atau setidaknya memberikan respon atas panggilannya itu.

"Hn? Ada apa?" tanya Ichigo malas, membuat Renji menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Sebenarnya ada apa sih, strawberry!?" tanya Renji dengan nada tinggi, agak sebal dengan sikap aneh Ichigo yang tidak seperti biasanya itu.

"Tak apa," jawab Ichigo sambil membuang muka.

Renji mendengus kesal. Muak dengan sikap Ichigo yang aneh dan menurutnya menyebalkan itu. Renji terdiam cukup lama, memikirkan kata-kata atau perbuatan apa yang mungkin akan membuat Ichigo kesal atau menarik perhatiannya, sampai suatu bohlam kecil muncul di atas kepalanya.

"Aha! Aku tahu, kata-kata itu, pasti berhasil," batin Renji sambil mengeluarkan seringaiannya.

"Dasar anak kecil!!" Renji berteriak sambil mengacak-acak rambut orange Ichigo tanpa perasaan, membuat Ichigo sedikit mengaduh dan memberontak. Tetapi Renji tidak memperdulikan hal tersebut, yang ada dipikirannya sekarang hanya bagaimana cara menarik perhatian si jeruk keras kepala itu.

"Hei, hentikan Baboon!! Hentikan...aduh...," Ichigo berontak, mencoba melepaskan tangan Renji dari kepalanya. Tapi percuma saja, tangan kecilnya sama sekali tidak mampu melawan tangan besar Renji.

"Tidak akan kuhentikan sebelum kau mau cerita anak kecil," Renji menggelengkan kepalanya, masih dengan aktivitasnya tadi--menyiksa kepala oranye anak kelas 5 SD tanpa perasaan.

"Aku bukan anak kecil!!" teriak Ichigo kesal, sudah muncul beberapa urat kecil di dahinya.

Renji cuma terus tertawa penuh kemenangan tanpa sadar anak kecil di depannya itu sudah hampir kehilangan kesabarannya. Dan puncak dari semua itu adalah, ketika Ichigo mengayunkan kaki kanannya tepat di tengah, mengenai bagian sensitif punya Renji (A/N : tolong pikirkan sendiri saudara-saudara) dengan cukup keras.

"Wadaw, emak~ SAKIIT...!!" teriak Renji sambil menangis dan meringis kesakitan.

"Rasakan!! Salah siapa kau mengataiku anak kecil!!" teriak Ichigo kesal. Anak itu memalingkan wajahnya, malas melihat tampang nista sang Baboon.

"Sa-sakit~!! Tidak harus sampai sebegitunya kan? Hiks...," Renji masih menampakan tampang kesakitan seraya duduk perlahan di sebelah Ichigo.

"Cih," cuma itu tanggapan Ichigo, saat ini dia benar-benar malas, butuh waktu untuk sendiri, ya...itulah yang sejak tadi diinginkannya.

"Hari ini kau aneh jeruk. Sebenarnya ada apa!? Hei!!" tanya Renji untuk kesekian kalinya. Dia sudah tidak sabar dengan sikap Ichigo sejak tadi, cuma diam dan melamun. Tidak seru!! Begitu pikirnya.

"Kuberitahu kau Baboon, Rukian-nee...," Ichigo mulai mulai menceritakan kejadian yang membuatnya murung sejak tadi.

[Flashback]

Rukia memasuki kamarnya dan berjalan menuju tempat tidur. Dilihatnya Ichigo yang sedang sibuk memencet-mencet tombol PSP yang saat ini dibawanya. Rukia menghela nafas dan menyambar PSP itu dari tangan Ichigo.

"Ahh Rukia-nee!?" teriak Ichigo sambil berusaha merebut kembali PSP-nya itu.

"Tidur!! Ini sudah malam Icchan!!" bentak Rukia kepada Ichigo.

"Memangnya kenapa kalau sudah malam?" Ichigo mengerucutkan bibirnya, kesal dengan perbuatan Rukia barusan.

"Anak kecil tidak boleh tidur malam-malam, bisa sakit," Rukia mendengus kesal.

"Aku bukan anak kecil!! Berapa kali kubilang, aku bukan anak kecil Rukia-nee!!"

"Anak kecil ya anak kecil, ayo tidur!!" Rukia merapikan tempat tidurnya dan duduk di tepi tempat tidur itu.

"Setidaknya aku tidak cukup kecil untuk menyukai seseorang," kata Ichigo dengan suara pelan, tapi masih bisa didengar oleh Rukia yang duduk memunggunginya.

"Apa maksudmu Icchan?" Rukia menoleh dan menatap Ichigo dengan penuh kebingungan.

"Suka...a-aku suka Rukia-nee," ucap Ichigo sambil menunduk. Rukia terdiam cukup lama sebelum menanggapi perkataan Ichigo barusan. Dia mencoba mencerna apa maksud dari perkataan Ichigo tadi.

"Hahaha, Icchan kau ini bicara apa? Suka punya kakak perempuan sepertiku?" Rukia tersenyum sambil menatap ke arah Ichigo yang wajahnya sudah semerah tomat. Ichigo terdiam, kesal dengan tanggapan Rukia atas pernyataan cintanya.

"Rukia-nee, aku serius!!" Ichigo berteriak kesal dan menatap tajam pada mata violet Rukia dengan wajah merah padam. Sedangkan Rukia cuma mengerutkan kedua alisnya.

"Aku juga serius Icchan," kata Rukia dengan wajah tanpa dosa.

Perkataan Rukia barusan membuat Ichigo kesal. Ichigo mengepalkan kedua tangannya, menahan kesal pada sikap Rukia yang terus-terusan mengaggap dia sebagai anak kecil. Dan tiba-tiba Ichigo mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia, mencium lembut pipi sebelah kanan orang yang disayanginya itu.

Rukia terpaku, tidak tahu harus berbuat apa atas sikap Ichigo itu. Rukia menatap Ichigo yang menunduk dan menahan malu atas sikapnya barusan. Kemudian Rukia memegang pipi sebelah kanan yang barusan dicium oleh Ichigo dengan satu tangannya. Wajahnya masih menampakkan kebingungan lalu perlahan-lahan pipinya ikut memerah juga.

"Eh? Icchan?"

Rukia ikut tertunduk malu. Dia sendiri juga tidak mengerti kenapa wajahnya memanas seperti ini, padahal dia tahu yang menciumnya barusan cuma anak kecil yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.

"Sekarang Rukia-nee sudah tahu perasaanku kepada Rukia-nee 'kan?" Ichigo memberanikan diri untuk menatap Rukia.

Rukia terdiam cukup lama, sampai akhirnya dia menghela nafas panjang dan tersenyum ke arah Ichigo.

"Terima kasih Ichigo-kun," ucapnya seraya mengusap-usap kepala Ichigo. Ichigo cuma menatap heran ke arah Rukia. Tidak biasanya Rukia memanggil Ichigo dengan sebutan seperti itu.

"Rukia-nee?" panggil Ichigo pelan.

"Hn?"

"Jadi apa jawabannya?" tanya Ichigo lagi.

"Icchan...aku...menyukai orang lain," Rukia menjawab pertanyaan Ichigo dengan nada yang sangat rendah sambil menunduk, bagaimanapun juga dia tidak mau menyakiti perasaan orang yang mencintainya. Mereka berdua terdiam cukup lama setelah jawaban menyakitkan dari Rukia. Sampai akhirnya Ichigo angkat bicara.

"Hahaha...Rukia-nee pasti suka Kaien-niisan kan?" tanya Ichigo dengan wajah yang dipaksakan untuk tersenyum.

"Eh? Kenapa Icchan tahu?" Rukia menatap Ichigo dengan wajah yang bersemu merah.

"Aku tahu apapun tentang Rukia-nee," ucap Ichigo sambil beranjak pergi dari kamar Rukia.

"Icchan mau kemana?" Rukia menarik tangan Ichigo pelan.

"Ke kamar mandi," tukas Ichigo datar tanpa memandang ke arah Rukia.

"Maaf...maaf Icchan aku...,"

"Suahlah Rukia-nee, tidak apa-apa kok," Ichigo berbalik menatap Rukia sambil tersenyum, terlihat sekali kalau itu adalah senyum yang dipaksakan. Kemudian dia pergi dari kamar Rukia, meninggalkan Rukia yang masih merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan Ichigo.

[End of Flashback]


"Kuchiki, kau terlihat manis dengan yukata itu," ucap Kaien sambil tersenyum ke arah Rukia yang berdiri di sebelahnya.

"Te-terima kasih Kaien-senpai," Rukia menunduk malu.

Sama seperti Ichigo dan Renji, saat ini Rukia bersama Kaien sedang menunggu saat-saat meluncurnya kembang api di tengah keramaian penduduk kota Karakura. Rukia mengenakan yukata ungu muda dengan motif bunga-bunga, tampak manis dengan rambut yang digulung ke atas dan jepit sederhana yang menghiasi rambut hitamnya itu.

Hari ini Kaien memang sengaja mengajak Rukia untuk melihat kembang api berdua saja, ada yang harus Kaien katakan pada Rukia, sebuah pengakuan cinta, ya...itulah alasannya.

"Kuchiki...ada yang mau kukatakan...," Kaien mulai membuka percakapan serius di antara mereka.

"Iya Kaien-senpai?" Rukia menoleh ke arah Kaien yang sudah berwajah merah.

"Rukia-chan...aku su-suka padamu...," Kaien menatap Rukia penuh perasaan dan keyakinan, membuat wajah Rukia benar-benar seperti kepiting rebus sekarang.

"A-aku...," Rukia benar-benar tidak tahu harus berkata apa sekarang, perasaan malu, senang, bahagia dan bingung berkumpul jadi satu.

"Jadi...kau mau jadi pacarku?" Kaien berkata tanpa memandang Rukia, mencoba menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah itu.

Rukia yang bingung harus menjawab apa, dia cuma diam dan mengangguk perlahan, membuat Kaien tersenyum puas dan memeluk gadis itu dengan satu tangan, kemudian menuntunnya menuju keramaian, karena sebentar lagi acara utama Hanabi Matsuri akan segera dimulai.

Acara utama Hanabi Matsuri pun dimulai, letusan-letusan kecil dan luncuran demi luncuran kembang api menghiasi langit malam kali ini. Semua orang tersenyum dan berdecak kagum, terbuai dengan suasana hangat dan bahagia, kontras sekali dengan perasaan Ichigo saat ini.

Inilah cinta pertama Ichigo. Inilah untuk pertama kalinya dia mengungkapkan perasaannya kepada orang yang dicintainya, dan disaat bersamaan, inilah pertama kalinya dia ditolak dan merasakan sakitnya patah hati.

-TBC-


*Pundung*

Untuk para ICHIRUKI FC silakan bunuh saia~!! *pasrah*. Huhuhu...entahlah kenapa ujung-ujungnya jadi KaiRuki , walaupun saia juga pecinta IchiRuki.

Hiks...salahkan otak author yang udah nggak beres ini *pundung*

Tapi memang sejak awal itulah yang saia rencankan, membuat Icchan patah hati!! Yeah!! *ditendang Icchan*

Ahahai~ tak lupa saia ucapkan terima kasih pada semua pembaca dan pereview, yosh tinggal satu chapter lagi dan fic ini akan berkahir!! XDD


-Cuplikan last chapter-

"Eh? Rukia-nee mau menyusul Kaien-niisan ke Tokyo?"

"Rukia-nee...cepat kembali ya, aku menunggumu!!"

"Kau sudah besar ya Icchan."

"Sekarang aku bukan anak kecil lagi kan Rukia-nee, lihat aku sudah tumbuh besar!!"

"Jadi, namamu Ichiru ya? Aku Ichigo, salam kenal ya."

"Salam kenal kak Ichigo."

"Tentu saja aku akan selalu melindungi ibuku."

---

REVIEW~!!