Chapter 6 : Ketika keadaan mengingatkan masa lalu.

.

.

.

"Aku tak pernah berharap diingat oleh siapapun… namun, entah mengapa.. aku merasa… aku merasa takut dilupakan oleh kalian sekarang…"

Kita sudah menjalani pelatihan bersama, penderitaan bersama, bahagia bersama, dan duka bersama. Hingga aku merasa nyaman bersama-sama dengan kalian. Paras yang sama, senyuman hangat, senyuman santai, dan kedua warna iris yang indah itu, aku tak ingin melupakannya. Aku.. aku sungguh tak ingin melupakannya! Aku tak tau perasaan apa ini, apakah ini yang disebut kalian-kalian itu?

"Sahabat…?"

Iya. Kita sahabat…

Namun… aku berharap terlalu jauh rupanya.

Meskipun begitu, tetap saja kalian lebih unggul dariku. Kalian lebih hebat dan layak menjadi seorang anggota polisi yang baik. Aku hanya bisa terdiam dibelakang punggung kalian yang kokoh. Menyembunyikan bakatku yang payah tak berguna. Menangis dibalik senyuman kalian dan orang-orang. Membenamkan diri dalam sebuah kurungan gelap tak bercahaya.

Aku terjatuh.

Aku tak dapat mengejar kalian lagi, maukah kalian mengulurkan tangan untuk membantuku bangkit?

Jawabannya tidak. Kalian tak peduli padaku, dan terus berlari menjauhiku hingga aku tertinggal jauh dibelakang.

"Yang benar saja kau?! Kau tak lihat siapa dia?! Kenapa kau menyerang temanmu sendiri, hah?!"

"Ta-tapi.. dia tak sengaja.. "

"Ck. Dasar bedebah. Kau itu tau apa?! Menembak saja tak benar.. gaya-gaya mengajari orang! Lihat?! Apa tanggung jawabmu padanya? Kau dipecat!"

Aku berdiri ditepi jurang yang dalam. Kalian dibelakang nampak bersiap mendorongku jatuh,

"Kami membencimu,"

"Sangat, amat, membencimu. Enyahlah kau dari padangan kami."

Sampai akhirnya, aku pun benar-benar dijatuhkan kalian menuju jurang tak berdasar yang gelap dan penuh amarah kebencian.

Kalian membenciku. Apa gunanya aku tertawa dengan kalian? Bukankah aku hanyalah seonggok sampah busuk yang harus dibuang daripada dipelihara? Yang nantinya akan mengotori baju dan pangkat kalian yang tinggi?

Terciptalah sebuah balas dendam dalam hatiku.

Dengan tekad ini, aku bersumpah akan memerangi kebaikan dan menyebarkan kejahatan. Hahaha... Hahaha.. AHAHAHA! Berawal dari satu-dua orang, aku membentuk sebuah Organisasi gelap yang kini menjadi Organisasi yang patut ditakuti. The Antaghost. Itulah kami. Orang-orang yang dibuang oleh mereka yang merasa lebih baik untuk tampil di muka bumi. Tenang saja, kalian tak sendiri… ikutlah dengan kami dan tunjukkan jika kalian juga pantas lebih baik dari mereka.

Hm. Dengan begini, aku akan mudah membalas dendamku pada mereka. Lihat saja, kalian.. cepat lambat, siapa yang tau..?

.

.

.

Sosok pria bersurai raven tengah meneguk habis anggur miliknya dari gelas sampannye.

Sambil duduk santai dengan kaki terangkat diatas sofa merah marun miliknya yang didesain sedemikian rupa hingga terlihat sangat mewah, Fang Calesveri menatap layar tv nya serius yang kini sedang meliput sebuah berita. Sambil menghembuskan asap rokoknya perlahan, ia terus memerhatikan berita tersebut seolah akan tertinggal sesuatu yang penting baginya.

"Apakah boss ingin minum lagi?" tanya seorang gadis cantik disebelahnya. Tengah berdiri sambil memegangi botol anggur ala maid dan tersenyum anggun dengan lipstik merah merona yang tipis.

"Ya." Dia mengangkat gelasnya yang kini kosong. "Tolong diisi."

Gadis itu mengganguk kecil dan menuangkan anggur pada gelas Fang hingga setengah penuh. Ia pun mengangkat botol tersebut dan tersenyum seraya mengantakan, "Sudah."

Gadis tersebut adalah salah satu pengikut setia Fang sebagai Anggota "The Antaghost" di Malaysia. Gadis tersebut bernama Kurohime Mikumi. Umurnya baru 16 tahun. Dengan ciri-ciri rambut dikuncir dua panjang berwarna tosca berkilau. Manik indahnya mengikuti warna biru samudera. Berkulit putih dengan tinggi 155 cm. Biasanya memakai dress bermerk terkenal. Dressnya berwarna hitam sepanjang lutut rimple. Berkelap-kelip dibagian dada hingga perut, serta tali spaggeti hitam mengait dileher jenjang miliknya. Terdapat kalung berlian dilehernya yang tentu saja, dengan harga fantastis. Dialah anak buah Fang yang paling muda. Paling periang, dan ceria. Meski begitu, ketika dia dihadapkan oleh sebuah pertempuran, jangan harap bisa melihat sisi imut nan lucunya. Dia akan menjadi sosok yang sungguh menyeramkan. Dingin, kejam, tak berbelas kasih. Berbeda dengan sifatnya jika sedang santai.

Fang Calesveri adalah Boss The Antaghost. Dia pemilik organisasi gelap ini. Mencuri, meretas sistem, membobol bank, dan kelakuan jahatnya yang lain sudah mendunia. Memiliki 8 anak buah kesayangannya yang ia lindungi dan ia anggap keluarga kecilnya di Antaghost. Dia juga berdagang barang haram dan kini, sudah memiliki banyak cabang didalam maupun luar negeri. Bersurai raven yang mencuat keatas. Biasanya, kalo santai jarang pakai kacamata berframe senada rambutnya.

Fang tengah santai dan terus menatap layar tv. Sesekali ia meneguk anggurnya. Miku juga sudah duduk disebelahnya sambil membersihkan gelas sampanye yang lain dengan tisu. Berita tersebut sedang meliput para Trio Polisi Ganteng. Ketiga pria itu sedang direkam dengan kamera dan blitz pun mulai menyerang mereka.

"Kali ini, Trio Cooller atau Trio Polisi Ganteng telah berhasil menguak kasus bunuh diri Nona Vermion di Millenium Café. Langsung saja, kita bertanya pada Inspektur Gempa yang merupakan kepala dari Trio Cooller… Selamat malam, Inspektur Gempa!"

"Selamat malam juga semua yang ada di FireBlazt City!"

Manik hazel Fang berkilat ketika melihat Gempa yang tengah terkekeh ringan. Dia melihat Gempa yang memberikan senyuman ramah miliknya yang menawan. Mata emasnya menghadap kamera lurus seolah menatap Fang dari balik kaca layar.

"Bagaimana anda dan rekan-rekan anda bisa menguak kasus tersebut dalam waktu dua hari? Apakah anda mendapat kata kunci, atau memang mudah ditebak?"

Gempa nampak berpikir sebentar. Lalu tersenyum lagi,

"Hmm… kami menyelidikinya. Memang benar jika Nona Vermion bunuh diri. Banyak sekali barang bukti serta logika yang butuh kita pakai. Awalnya, kita sempat bingung dengan cara pembunuhannya. Antara bunuh diri dan dibunuh. Itu saja pilihannya. Masih banyak misteri dari pembunuhan kali ini. Tapi, nanti akan kami selidiki lebih lanjut," Pria itu menjelaskannya semuannya dengan singkat dan disusul tersenyum lucu. Wartawan wanita itu tertawa dan kembali menanyakan sesuatu. HIngga membuat ketiga polisi kembar itu terdiam membeku sebentar.

"Oh ya, Inspektur… apakah anda senang menjadi anggota polisi? Apalagi, ada gosip bilang jika Inspektur itu adiknya Jendral Blaze. Apa itu benar..?"

Terlihat Gempa merona tipis. Lalu tertawa dan menggaruk belakang kepalanya sambil kembali terkekeh canggung.

"Ahahaha… i-itu bukan gosip, sih.. hehe… Saya diadopsi oleh Jendral Blaze dan diangkat sebagai adiknya. Saya adik angkatnya sekarang…"

Bibir Fang mulai bergerak mengucapkan sesuatu setelah dia dia diam beberapa saat.

"…Miku,"

"Ya, Boss?" Miku yang sedang serius menonton televisi pun terkejut dan segera mengalihkan padangannya pada Fang yang kini rebahan diatas sofa panjang. Sambil memegang handphone besar dengan casing emas berlian. Dia pun memberikannya pada Miku.

"Pesankan makanan." Katanya sambil memandang langit-langit dengan tatapan kosong. Miku segera mengganguk semangat dan berkutat dengan handphone milik Fang untuk memesan makanan dari luar.

"Saya adik angkatnya sekarang…"

'Adik angkatnya, huh?' ucap Fang dalam hati seraya tersenyum miring. Sekelebat bayangan masa lalu mulai meracuni pikirannya. Kepalanya pun menjadi pening. Ia memejamkan mata berusaha kembali pada kenyataan. Meski sedikit sakit, menurutnya, lebih sakit jika mengingat apa yang telah sahabatnya lakukan. Mengkhianati dan menusuk, bahkan membuangnya ke jurang yang dalam.

"Sshhh…" desahnya kesakitan. Miku yang sudah menyelesaikan urusannya pun menatap Fang dengan khawatir. "Boss? Ada apa? Apakah ada masalah? Apa boss sakit? Tumben juga mau beli makanan diluar."

Pria itu menggeleng pelan dan berusaha bangkit untuk duduk. Berhasil duduk, dia segera memegangi kepalanya yang pusing. Miku memegangi pundak lebar Fang dan terus menatap boss-nya itu khawatir. "Boss, makanannya segera datang, kok.. sabar, ya? Maagnya boss kambuh mungkin? Biar Miku ambilkan obat sakit kepala.."

Fang menggeleng lagi dan mengangkat kepalanya sedikit. Lalu menatap Miku yang balik menatapnya dengan pandangan khawatir. "Tak usah menatapku seperti itu. aku tak apa-apa." Jelasnya kemudian dengan pandangan mata menyakinkan. Awalnya, gadis tosca itu tak percaya, tapi ketika melihat Fang yang menurunkan tangannya dari pundak lebar milik Fang, Ia pun menyerah.

"Miku, tolong panggil Nine kemari." Perintah Fang meminta ponselnya pada Miku yang langsung bangkit dan memberikan ponselnya. "Sip, boss! Ada apa ini? Apakah misi baru?" tanya Miku semangat menahan jerit. Fang tertawa pelan mendengar semangat anak buahnya sambil mengganguk. Biasanya, jika Sang Boss sudah memanggil gadis muda hacker itu, berarti misi baru akan dimulai.

"Aku penasaran dengan Trio Cooller itu, mari kita selidiki dia dan kita jatuhkan mereka… Tak ada yang lebih pantas selain kita untuk memenuhi acara televisi." Ujar Fang sambil berdiri dan menyisir rambut ravennya. Ia berjalan mendekati balkon rumahnya tanpa peduli sorak ramai Miku yang kegirangan dan berjalan girang keluar ruangan.

Pria berumur 26 tahun itu memandangi pemandangan langit malam yang diberi backsound kesibukkan kota pada malam hari. Suasana ini memang sungguh menenangkan. Tapi, bagi Fang, hal-hal sepi seperti ini justru membuatnya cepat mengingat kembali masa lalu.

Ketika melihat bawah, entah kenapa ia merasa kesal sendiri. ingin bunuh diri rasanya dengan melompat dari sini. Hanya saja, akal sehatnya masih ia gunakan. Ia masih sayang anak buahnya, sayang dengan nyawanya, dan sayang dengan balas dendamnya. Terlalu sayang hingga membutakan matanya.

Dari kecil, Fang memang anak yang kurang perhatian orang tua. Kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkannya sendiri dari umur 4 tahun. Fang juga Jarang tersenyum dan jarang berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya. Bahkan tak pernah. Senangnya mengurung diri dikamar. Belajar, dan berusaha menjadi nomor satu. Itu saja. Menurutnya, berteman adalah hal yang paling menyusahkan didunia.

Hingga ia beranjak dewasa, dan memilih bekerja sebagai seorang anggota polisi. Saat memasuki pelatihan kepolisian di Circle of Fighter dikotanya, dia pun menemukan dua orang pemuda yang memiliki paras sama, tinggi sama, dan kelebihan yang nyaris sama. Mereka bernama-

"Boss…"

Fang tersentak kaget dari lamunannya dan menoleh kebelakang. Ia mendapati Miku dan seorang wanita yang 3 tahun lebih tua dari gadis itu. Rambutnya hitam kemerahan panjang sepunggung dan lebat, dijepit oleh pita merah besar dibelakang rambutnya. Memakai kacamata berframe belang kuning dan hitam tanpa kaca(?), memakai tanktop tipis berwarna merah hati, kalung bertuliskan "909" dan celana jeans pendek serta kaus kaki hitam berbentuk kucing yang sepanjang paha. Ia tak memakai alas kaki. Hanya kaus kaki saja.

Manik oranye cerah milik wanita itu menatap manik hazel Fang datar. "Ada apa boss? Tumben manggil Nine. Apakah harus Nine bobol lagi password bank negara?" Tanya wanita bernama Nine itu menawarkan diri. Fang pun sumringah dan segera merangkul Nine hangat. Disusul merangkul Miku sambil mengusap kedua kepala perempuan itu lembut.

"Begini, Nine… aku mau memintamu untuk mencari info tentang Trio Cooller, atau Trio Polisi Ganteng. Kau cari tau sedetailnya siapa itu Inspektur Gempa dan yang lainnya. Jika sudah, tolong beritau aku, ya?" Tanya Fang lembut seraya menatap Nine yang sibuk men-scroll ponsel pintarnya. Nine pun memberikan ponselnya pada Fang.

"Nah," desahnya malas. "Ini Trio Polisi Ganteng. Di anggotai oleh Ipda Gempa, Serda Halilintar, dan Serda Taufan. Mereka bertiga dijadikan Detektif 4 tahun yang lalu. Kemampuan analisis mereka sungguh hebat dan luar biasa. Tak heran jika fansgirl mereka banyak. Toh, paras mereka yang sama-sama menawan, membuat banyak wanita yang jatuh cinta pada mereka. Meski mereka bilang, tak ingin memiliki hubungan asmara dan fokus bertugas, tetap saja diam-diam para kaum hawa berusaha menggodanya." Nine terdiam sebentar, "Baru-baru ini nitizen tau akan hubungan kakak-beradik antara Jendral dan Ipda. Awalnya tak menyangka, tapi memang benar ada buktinya. Ipda Gempa mengakui jika beliau adalah adik angkat Jendral Blaze."

"Ah, itu dia." Gumam Fang terus memerhatikan layar ponsel milik Nine. Nine sedari tadi tak memegang ponselnya. Dia sudah terlalu hafal dengan berita-berita terbaru yang ada diluar. Meski pekerjaanya aman didalam ruangan, dia tak pernah sekalipun ketinggalan berita. Hey, dia itu Hacker andalan The Antaghost tau.

Fang mengembalikan ponsel Nine. "Dari kapan kau membaca berita ini?"

Nine menerima ponselnya lagi. Dia menatap Fang lagi dan mematikan layar ponselnya yang masih menyala. "Sudah lama boss. Nine tak pernah ketinggalan berita ini sama sekali. Setiap kali aku membuka internet, blog ini terus yang keluar. Aku sebal." Jawabnya mengendikkan bahu tak peduli. Fang menepuk-nepuk kepala Nine gemas. "Pintar! Anak buahku memang pintar semua… heh," pujinya. Nine menatap Fang datar tanpa peduli tepukan gemas dari Fang.

"Tumben boss, nyari berita. Kenapa?"

Fang yang ditanya seperti itu terdiam sebelum meletakkan jari telunjuknya dibibir dan mendesis. "Shh… aku penasaran dengan Trio Cooller ini. Aku ingin menyelidikinya. Bukankah tak ada yang pantas menjadi bahan berita selain kita The Antaghost?" Tanya Fang minta persetujuan. Baru, Nine pun tersenyum miring dan menatap Fang dengan mata berkilat penuh rasa penasaran yang tajam.

"Kapan mau menyelidikinya boss?" tanya Nine penasaran. "Nine tak sabar, nih… akhirnya bisa melihat mereka dari dekat. Dan bisa menghancurkan mereka semua."

"Uaaah… sabar dulu, dong Nine!" Seru Miku menepuk pundak Nine lembut seraya berseru. Nine hanya melirik malas Miku dan mencibir. "Ya Tuhan, padahal seru kalau cepat-cepat menjatuhkan mereka semua. Aku ingin membalas dendamku pada Ninis juga." Ujarnya lagi dengan mata berkilat penuh dendam. Miku hanya mengendikkan bahu, lalu dia mengangkat tangannya keatas menatap Fang semangat.

"Boss! Panggil yang lainnya, ya?! Biar mereka semua siap-siap!"

"Tidak usah, nanti saja. Lebih baik kita terror dulu mereka semua. Oh ya, Nine, sekarang… bisa kau meretas sistem kantor polisi mereka? Aku minta tolong. Kalau sudah, beritau aku. Telfon saja. Aku akan kebawah sebentar untuk menemui tikus itu saja." Kata Fang seraya membenarkan pakaiannya yang sedari tadi ia biarkan terbuka hingga memperlihatkan tubuh atletisnya. Miku daen Nine mengganguk. Membiarkan Sang Boss pergi.

.

.

.

Greek-

"Hey, kau. Keluarlah."

Seorang anak laki-laki. Berumur sekitar 8-9 tahun, menggunakan topi merah yang diangkat keatas itu mendekati Fang yang masuk keruangannya. Ruangan anak kecil itu tak lain adalah gudang. Pakaiannya lusuh dan dia sungguh kotor. Selain kotor, dia juga kurus. Tatapan matanya memang telrihat seperti api yang menyala-nyala. Tapi sekarang, api dimatanya itu kian memadam. Fang berjongkok didepannya. Sementara anak kecil itu meringis takut.

"Hey, Api. Mau kuberi pekerjaan?" tanya Fang yang membuat laki-laki bernama Api itu mengangkat kepalanya. "B-benar, kah? Anda ingin memberi saya pekerjaan?" Wajahnya terlihat sangat melas. Memang kasihan dimata Fang. Tapi tidak ada kata kasihan dalam kamusnya.

"Benar. Aku punya pekerjaan yang pantas untuk pencuri kecil sepertimu. Mudah kok." Fang berniat menepuk kepala Api pelan. Tapi, anak itu sudah menjauh duluan karena takut. Alhasil, tangan besar pria itu hanya mengambang diudara. Fang kembali menarik tangannya sambil mendengus. Api menunduk sambil menggengam kedua tangannya erat ketakutan. Salahkan Fang yang selalu menyiksanya. Anak kecil itu jadi traum bahkan ketakutan. Bagaimana ini? Pria itu bertanya dalam hati, kebingungan akan respon sedikit dari Api.

Tangan Fang tergerak untuk membuka opi merah milik Api dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya menjambak poni pria mungil tersebut hingga membuatnya menangis pelan dan berusaha melepaskan jambakan rambut Fang.

"Hey, dengar. Kau kuperintahkan untuk mencuri dompet salah satu polisi di BlazzingRims. Tak tau kau mau mencuri yang mana dan bagaimana, hanya saja kau harus mengambil dompet tersebut dan memberikannya padaku. Paham? Waktumu hanya sehari ini. Aku tak ingin dengar bantahan darimu."

Api mengganguk pelan masih menangis dalam diam. Fang akhirnya melepaskan tangannya dari rambut Api dan memakaikan topinya lagi. Bersamaan dengan ponselnya yang berdering, ia membuka ponsel pintar miliknya dan melihat ada telfon masuk dari Nine. Segera dia berdiri dari posisi jongkoknya dan menjawab telfon Nine.

Duagh

"Ya Nine? Sudah kau temukan? Oke, oke. Aku segera keruanganmu. Tunggu disana, ya?" Fang menatap sinis Api yang jatuh tersengkur karena ditendang olehnya. Dia mematikan layar ponselnya dan kemabli memasukkannya kedalam celana jeans yang ia pakai. "Besok pagi kau harus bersiap seperti itu."

Anak laki-laki itu meringkuk kecil sambil terisak. Sampai Fang menutup kembali gudang dan menguncinya.

"Api… kau tak apa-apa…?" Tanya sebuah suara serak dari seseorang dibalik lemari. Api mengganguk pelan meski percuma karena takkan terlihat.

"Aku baik-baik.. saja kok… besok kita harus bekerja…"

"Iya.."

.

.

.

"Meh, gila. Panas banget!"

"Kenapa kita harus keluar semua, sih?"

"Husshh. Kita kan mau belanja keperluan sehari-hari juga, Hali. Biasanya kamu yang paling semangat kalo disuruh belanja gini."

Halilintar mendengus kasar. Kedua tangannya ia masukkan ke saku jaket. Gempa tertawa. Sementara Taufan selalu merengek minta es krim yang ada ditoko sebelah. Akhirnya, mereka pun mampir kesana dulu. Membungkam semua rengekan Taufan.

Sembari menjilati es krimnya, Halilintar melirik Gempa yang terus berbincang dengan Taufan mengenai beberapa cemilan baru yang akan dibeli mereka berdua. Sambil terkekeh dan bertoss ria, mereka terus asyik berbicara. Akhirnya Halilintar mengambil perhatian Gempa dengan sebuah lontaran pertanyaan.

"Kenapa gak bawa mobil aja? Kenapa pula kita harus dandan sedemikian rupa? Bukannya tambah merepotkan?" Protes pria serba merah itu. Gempa menggelengkan kepalanya. Menatap Halilintar serius.

"Nanti kita ketahuan kalau bawa mobil dinas. Lebih baik jalan dan hemat bensin. Selain itu, kita juga bisa merasakan jadi penyamar~" Halilintar memasang datface ketika melihat Gempa yang mulai mengeluarkan aura blink-blink disekitarnya. Taufan ikutan pula.

"Penyamar apanya-" cibir pria itu seraya memutar bola matanya sebelum menabrak sesuatu.

"Ah!"

"Hei!"

Dilihatnya seorang anak kecil bertopi biru laut tengah memegangi kepalanya kesakitan. Halilintar menggeram kasar. Dia tak bisa melihat wajah anak tersebut dikarenakan tinggi anak itu hanya sebatas pinggangnya saja. Lagi, lidah topinya yang ditarik turun kebawah. Pria merah itu mendesis tajam. "Hei! Siapa kau?! Berani sekali menabrakku!" bentakkan dari Halilintar membuat bocah itu gemetar ketakutan. Gempa segera mencegah Halilintar untuk bertanya lebih lanjut.

"Maafkan kakak ini ya dik, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Gempa lembut seraya membungkukkan sedikit tubuhnya. Anak itu mendangak. Memperlihatkan manik biru laut bulatnya yang bersinar dibalik gelapnya bayangan topi. Anak itu mengganguk lemah. Gempa tersenyum ramah. "Nama kamu, siapa dik?"

Pertanyaan Gempa membuat anak kecil itulangsung menghamburkan pelukannya pada Gempa. Gempa awalnya kaget dan shock. tapi dia membalas peluk anak itu.

"Air.. kak, nama saya Air..." ujar anak itu sedih. Gempa menepuk kepalanya pelan dan terkekeh ringan. dan dengan sigap memegangi tangan Air yang kini sudah merongoh saku jeans bagian belakang miliknya. dimana dia menyimpan dompetnya disana. Sontak Air mendangak. menatap wajah Gempa yang masih menunjukkan senyum manisnya. "Eits... aktingmu terlalu bagus, dik. Namamu Air, ya?" tanya Gempa balik. Air gemetar ketakutan, dia segera melepaskan tangannya dari cengkraman Gempa. Pria itu melepaskan. Hanya saja, dia terkepung oleh ketiga polisi tampan itu.

"Kau terlalu berani mencuri seorang polisi." Ujar Halilintar dingin.

"Ihh...! adik lucu ya? berani banget mencuri orang dewasa! Kakak aja gakl berani, itu kan tindakan kriminal!" Ujar Taufan ceria mencoba mengingatkan Air dengan nada bicaranya yang riang dan lucu.

Air gemetar hebat. matanya berkaca-kaca. Namun Gempa mengalihkan perhatiananya sesaat.

"Dik... lihat kakak... jangan takut... jangan takut, sini..." Gempa berjongkok pelan sambil memegangi kedua pipi Air lembut. Dia tersenyum. manik emasnya memandang manik biru milik Air.

"Pejamkan matamu, dan lupakan ini..."

To be continued...

.

.

.

NYAHAHAHA~~~ UPDATEE! UPDATE LAGI!

1...2...3...! Hallo teman-temanku sekalian! akhirnya Vachii back lhoo~~ meski telat banget up nya dan sedikit pendek chapter ini~ yang penting update dewh. serius, Vachii itu kebentrok banget sama urusan sekolah. apalagi liburan ini bener-bener libur dan berusaha untuk bebeas tak memikirkan apapun. jadinya mager sekali untuk ngetik. tapi ya, sudahlah... Vachii sudah susah-susah menulis ini dan.. semoga kali terhibur! terima kasih banyak sudah memberi review yang membangun dan sangat menyentuh hati ;)) Vachii terhura dan serasa memiliki dorongan untuk kembali menulis. hehehe... heem... maaf bagi readers yang bertanya-tanya sesuatu tentang fic ini, Vachii tak bisa menjawabnya disini. Vachii bingung mau naruh dimana. udah capek, jadi kemungkinan... kapan-kapan saja ya? terima kasih juga bagi pembaca dari Malaysia~! yang sudah mau baca cerita Vachii yang berantakan ini. sampai ada yang translate ke Bahasa Inggris lagi. Hahahaha XD Maafkan bile tak reti bahasa Indonesia! (salah gak tuh?) saya cuman bisa nulis Indonesia Language. Sekali lagi maafkan! hahahaha... X'D

tak ingin basa-basi, langsung saja ke kunci jawaban Case Solver di chapter yang lalu ya~~ perhatikan baik-baik!

Jawabannya adalah : No.4

Kenapa no.4? banyak alasan logis untuk menjawab yang satu ini. suara "kletak kletok" itu hanya terdengar oleh sepatu higheels seorang wanita cantik itu. nah, tak mungkin ada suara seperti itu pada sepatu kets, sendal, atau yang lainnya.

wuuih! omedeteou deh! Buat yang jawab no.4! YEEEYYY! kalian benar! alasan kalian juga banyak yang logis dan masuk akal. bahkan mirip dengan kunci jawaban, hehehe... tapi kali ini... sorry, gak bisa open request. tau sendirikan Vachii sibuk parah? Lusted Apple aja terlantar varah disana... DX dan gak tau kapan dapat idenya. Hountou ni Gommen!

eits~ Sebelumnya, Vachii mau promote nih! kebetulan Vachii punnya kakak. sama, seorang penulis juga. namanya Aegis Blizzard. tapi, dia penulis di Wattpad dan masih sedikit pembaca disana yang menyemati. jadiii... maukah kalian berkenan mampir ke Wattpadnya Kak Egis? Dia butuh comment dan vote dari kalian untuk melanjutkan semua ceritanya tuh XD. dan Vallor juga berniat akan collab dengan Kak Aegis membuat Alternative Universe HPoBR disana lhooo! Kalian disana, boleh req bebas kek Kak Egis dah! bilang saja kalau menang quiz! pasti dituruti. orangnya enak dan baik lho... silahkan jika berkenan! jika tidak, ya jangan. seperti biasa, TIDAK MENERIMA FLAME COMMENT, itu membuat Vachii mogok nulis lagi tauk.

okelah, terima kasih atas semuannya dan sampai jumpa di chap selanjutnya!

MIND TO REVIEW?