Rewrite The Stars
Erehisu Fanfiction | By Prominensa
Suatu hari, kau akan bertemu dengan seseorang yang berpengaruh besar dalam kisahmu. Seperti sebuah bintang dan supernova; saat waktunya tiba, ia akan meledak dan sangat menawan. Berkesan. Tragedi. Tak bisa hilang dari memori.
Disclaimer: Karakter pada animanga Attack on Titan adalah milik Hajime Isayama | Penulis tidak mengambil keuntungan dalam membuat fanfiksi ini
Warning: Sifat pada karakter di dalam fanfiksi ini disesuaikan dengan imajinasi penulis. Pun plot dan settingnya. Merupakan alternate universe dan berpotensi out of character.
P.s: Eren berusia 27 tahun dan Historia berasal dari 8 tahun ke depan.
[]
Selamat Membaca
((Chapter 6))
[]
Penampilanku cukup rapi, Historia terlihat kagum melihatnya, dan seperti biasa ia terus mengoceh banyak hal. Seperti: bagaimana caranya menjadi calon karyawan yang baik, bagaimana caranya agar orang tertarik, dan masih banyak lainnya. Aku memang mendengarkan semua yang dia ucapkan, tapi tak ada satu pun yang masuk ke otakku. Ini bukan karena aku mabuk. Namun, karena aku sulit tidur saat Historia berada di ranjangku dan kami berada di bawah selimut yang sama. Tubuhku rasanya seperti tersambar petir ratusan kali saat kulit mulusnya tanpa sengaja menyentuhku.
"Eren, kau mendengarku?" Suara Historia membuatku fokus ke arahnya. Ia menarik ikatan dasiku cukup kencang hingga aku tercekik. "Warna merah adalah simbol keberuntungan."
Aku melihat dasi merah yang digantung di leherku. Warnanya norak karena terlihat lebih mencolok daripada jas abu-abuku. Sekarang aku semakin mirip pengangguran malang yang tak kunjung dapat kerja, batinku. Selera yang aneh, tambahku. Mungkin aku harus bertanya kepada Mikasa dan Armin sebelum datang ke tempat wawancara.
"Saatnya pergi," kataku sambil menyambar tas kulit warna hitam milik Zeke yang sudah terlihat buluk. Benar-benar mirip gelandangan yang mengemis mencari pekerjaan. Dan tas jelek ini, aku tidak tahu kenapa bisa Zeke tinggalkan begitu saja di sini. Aku membencinya. Juga dasi merah dan jas usang ini. Satu-satunya yang bisa aku terima dengan ikhlas adalah sepasang sepatu warna hitam. Karena ukurannya pas dan disemir hingga mengkilap.
"Baiklah. Ayo, kita bergegas!" Historia tampak semangat. Gaun musim panas dengan motif bunga aster itu terlihat sangat cocok. Ia semakin cantik. Dadaku kembali bergemuruh. Aku senang melihatnya. Menambah gairahku untuk beraktivitas hari ini.
Tapi, tunggu sebentar. Dia bilang 'kita'?
"Kita?" Mataku menyipit ke arahnya. "Kau ikut denganku?"
Ia mengangguk. "Aku akan menunggu di restoran bawah gedung."
"Aku bukan anak kecil. Kau pikir aku akan kabur?" Aku menggeleng tak percaya. Historia terlalu protektif.
"Memastikan. Karena ini berpengaruh besar untukmu di masa depan."
Aku berdecak. Menggeleng sekali lagi. Kuperhatikan ujung sepatu sebelum berkata sesuatu, "Ok. Demi masa depan."
Matanya mengerjap lucu dan aku gemas. Hanya saja ekspresinya seolah mengatakan, kau di masa depan akan mati, Eren. Aku menggaruk belakang leherku dan mulai berpikir. Mungkin Historia bahagia aku mati di masa depan. Ia terbebas dan hidup dengan warisan yang aku tinggalkan. Kemudian, aku hampir tertawa saat ingat sesuatu, aku miskin dan tak punya harta warisan.
Kudengar Historia berdeham dan menggandeng lenganku. Kubiarkan saja ia melakukan apa saja sesuka hatinya. Toh, tengah malam nanti dia akan pergi. Dan membiarkan cerita ini terus menggantung dan menjadi misteri. Hingga kami tiba di persimpangan eight-nine avenue. Aku berencana berbelok ke arah kiri untuk mampir ke tempat Mikasa dan Armin bekerja, tapi Historia menarik lenganku untuk lurus ke arah terminal. Aku sedikit memberontak. Ia terlihat tak peduli dan terus tersenyum. Di dalam hati, aku terus bertanya, kenapa kita harus naik bus. Namun, langkah Historia berhenti di sebuah tempat arena bola boling dengan bau disinfektan yang menusuk hidung. Kulihat papan nama yang menggantung di tempat tersebut. Happy Bowling.
"Arena boling? Di dalam terminal?" tanyaku heran.
Ia mengangguk dan menampilkan wajah riang. "Ini tempat kencan favorit kita. Kau membawaku ke sini."
"Tapi aku tidak tahu ada arena boling di sini." Historia masih setia dengan lenganku. Langkahnya di percepat menuju halte.
"Aku tidak tinggal di daerah sini. Jadi, kau jelas yang mengajakku duluan ke tempat ini." Wajahnya benar-benar ceria. Sepertinya ada kenangan indah di tempat ini. "Saat menyewa bola, kita memakai nama Avril dan Chester."
"Siapa Avril dan Chester?"
"Avril itu aku. Diambil dari nama penyanyi punk rock 'n roll. Avril Lavigne. Dan Chester itu kau. Chester Bennington. Dia vocalis band Linkin Park. Kau tahu 'kan?"
"Ya, tentu saja. Ayahku suka Avril dan Chester sudah meninggal."
"Ya, begitulah. Aku sedih saat mendengar kabar itu."
Aku dan Chester sepertinya senasib.
To be continue
Author Note:
Hai, mungkin chapter selanjutnya bakal lama update. Saya harus menyelesaikan beberapa commission dan fanfiksi untuk fanzine erehisu.
