NARUTO © Masashi Kishimoto

Pairing : Naruto Uzumaki and Sasuke Uchiha

Rate : T

Warning: FEM!SASUKE, OOC, Typo, mungkin ide pasaran, dan kekurangan lainnya.

.

.

Don't Like, Don't Read!

.

Pertama-tama dekati Naruto – lalu perlihatkan kedekatannya dengan Naruto kepada Utakata dan buat Utakata cemburu – buat Naruto dan Utakata jatuh cinta padanya – tinggalkan Naruto – jadian dengan Utakata.

Sempurna!

Itu adalah urutan rencana yang akan Sasuke lakukan pada bulan ini dan dia tidak boleh gagal atau dia akan menjadi pecundang dan Utakata tidak akan pernah menjadi miliknya.

Rencananya harus berjalan dengan lancar tanpa ada satupun hambatan.

Oh, Sasuke. Kau tidak akan pernah tahu hal apa yang akan merubah semua rencanamu itu di masa mendatang nanti.

–dan untuk melaksanakan rencananya itu, di sinilah Sasuke berada, bersama dengan Hinata yang menemaninya –Sakura dan Ino hanya tertawa saat Sasuke meminta untuk ditemani –untuk meminta lembar jadwal Naruto Namikaze yang ternyata sangat susah untuk didapatkan.

Tidak akan menjadi sesulit ini jika saja Hidan-sensei –guru yang bertanggung jawab atas ruang Tata Usaha tidak menghambat mereka.

Guru itu benar-benar genit. Om-om mesum. Otak cabul.

Itulah yang dipikirkan oleh Hinata dan Sasuke ketika mereka saling melirik.

" –tapi Hidan-sensei, bukankah kami sudah memberitahukannya pada Anda," Hinata berkata dengan senyum manis yang sangat dipaksakan.

Sasuke menyahut dengan menahan kesabaran. "Kami tidak akan mungkin memperlihatkannya pada Anda–"

" –dan dengan segala hormat Hidan-sensei," Hinata menyambung perkataan sahabatnya dengan ujung bibir yang berkedut saat melihat guru itu tersenyum aneh. "Bisakah Anda berikan saja jadwalnya pada kami."

"Kalau hal itu tidak boleh, bagaimana kalau nomor ponsel kalian atau…berikan aku satu kecupan," guru itu mengerling, menepuk pipinya dengan jari-jari.

Demi dewa kesuburan, Sasuke sangat ingin memuntahkan segala yang telah dimakannya pagi tadi. Guru ini benar-benar membuatnya bergidik dengan perkataan mesum dan tampang cabulnya.

Apakah guru ini sangat ingin membuat mereka menjadi penjahat? Dengan segala keinginan kedua sahabat itu untuk memenggal kepala beruban gurunya.

"Hidan-sensei," Hinata memulai dengan senyum yang dimanis-maniskan. " –apa Anda tidak tahu siapa Hyuuga?" Hinata melirik ke arah Sasuke.

Ini pilihan terakhir.

Sasuke dan Hinata mengangguk setelah saling bertatapan cukup lama. Mereka bukanlah anak manja yang suka membawa-bawa nama keluarga hanya untuk menyelesaikan suatu masalah yang mereka timbulkan –terlebih untuk hal sepele seperti ini –tetapi ini terpaksa mereka lakukan agar guru mesum itu tidak terus menggoda dan menahan mereka di ruangan ini.

" –dan juga Uchiha?"

Sasuke benar-benar merasa idiot saat ini. Pasalnya, untuk mendekati seorang Naruto Namikaze –yang bila dibandingkan dengan Utakata tidaklah akan bisa sebanding –Sasuke harus berbuat seperti ini dan juga terpaksa menggunakan nama keluarganya hanya untuk pemuda pirang itu.

Pokoknya Sasuke harus mendapatkan timbal-balik yang setimpal atas semua pengorbanan yang telah –akan dia lakukan!

"…ba-baiklah Uchiha-san, Hyuuga-san tunggu sebentar."

Hinata dan Sasuke menyeringai saat meihat wajah gurunya yang memucat. Siapa orang yang tidak mengenal dua nama keluarga yang sangat berpengaruh itu.

.

Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, sekarang di sinilah mereka; berjalan di koridor dengan mata yang menatap lembar jadwal yang ada di tangan Hinata, mereka tidak memperhatikan jalan.

"Sekarang hari kamis! Lihat lihat lihat Sasu-chan!" Hinata berseru bersemangat sembari menunjuk lembar jadwal.

"Aku lihat! jangan berteriak seperti itu!" Sasuke menghentikan langkahnya hanya untuk mendelikan bola mata.

"Kau juga berteriak!" seru Hinata tidak mau kalah.

"Cih, baiklah. Sekarang apa?"

"Lihat! Jam kedua dia ada Penjaskes, sama sepertimu Sasu."

Sasuke dan Hinata saling menatap, mereka menyeringai lebar.

Hinata sedikit tahu apa yang akan direncanakan Sasuke untuk mendekati Naruto dan mendapatkan perhatian Utakata.

"Seandainya aku ada di sana, aku pasti akan membantumu."

"Hinata," Sasuke menggenggam kedua tangan Hinata, matanya berkaca-kaca. "Kau memang yang terbaik."

Hampir saja mereka akan berpelukan, jika mereka tidak sadar sedang berada di koridor dengan banyak siswa yang berlalu-lalang dan menjadikan mereka tontonan di pagi hari.

"Ayo," Sasuke menarik lengan Hinata agar mereka berjalan lebih cepat untuk meninggalkan tempat itu.

"Lihat itu Sasu-chan!" Hinata berseru kembali, menahan langkahnya dan mendorong punggung Sasuke berkali-kali.

"Berhenti mendorongku bodoh! Aku juga lihat!"

"Cepat! Dia baru saja berbelok. Cepat!"

"Iya. Aku tahu, lepaskan lenganku Hinata."

Hinata hanya tersenyum saat melihat wajah sebal Sasuke, temannya itu pasti memiliki niat untuk melemparnya karena tingkahnya yang seperti ini.

Hinata melambai saat Sasuke meminta untuk didoakan sebelum berlari meninggalkan gadis Hyuuga itu di koridor.

"Berjuanglah!" Hinata berseru dengan senyum lebar dan tangan yang masih melambai.

'Tunggu dulu' Hinata menurunkan tangannya perlahan, dia memutar kepala, tersenyum canggung saat menyadari dirinya diperhatikan karena telah membuat keributan di koridor dan mengganggu ketenangan siswa lain.

"Maafkan aku," gumamnya sambil –sedikit –membungkukan badan dan meninggalkan tempat itu secepatnya.

.

Sasuke berlari dengan sekuat tenaga dan hampir saja dia terpeleset di saat dirinya salah menapakan kaki di anak tangga jika saja dia tidak memiliki refleks yang bagus untuk menjaga keseimbangan diri.

"Syukurlah," Sasuke bergumam mengusap dadanya lega. "Semua demi cinta," lanjutnya.

Sasuke memperlambat langkahnya saat sudah hampir mendekati pemuda yang dikejarnya. Merapikan rambut dan juga seragamnya yang sedikit berantakan saat berlari tadi, Sasuke berdehem untuk mempersiapkan diri.

"Pagi Utakata-kun," sapanya dengan senyum yang sangat manis.

"Sasu-chan?" Utakata menoleh saat mendengar suara yang berasal dari belakangnya. "Pagi juga," balasnya, tersenyum."

'Tampan'

Sasuke berjalan cepat, mensejajarkan diri di samping pemuda itu. "Kita berada di kelas yang sama pagi ini."

"Begitulah," ujar Utakata sambil menyentuh pergelangan Sasuke, menggenggamnya, membimbing Sasuke berbelok di anak tangga terakhir, dia tidak melepaskannya.

'Oh Tuhan. Terimakasih Tuhan. Terimakasih'

"Hari ini kita Sejarah Jepang 'kan?"

"Kamu terlihat sangat cantik, seperti biasanya Sasu-chan," Utakata terkekeh melihat pipi Sasuke yang memerah, dia megabaikan pertanyaan Sasuke.

"Te-terimakasih."

"Hm."

Sasuke mendesah kecewa saat Utakata melepaskan genggamannya dan mendahuluinya berjalan memasuki ruang kelas tanpa mengatakan apapun, padahal Sasuke sudah berharap lebih saat Utakata menggenggam pergelangannya dan memujinya tadi.

Mungkin Utakata tidak ingin melihat dirinya –Sasuke –dijadikan bahan pembicaraan dan menjadi bahan pelototan oleh para penggemar pemuda itu, Sasuke mengangguk, tersenyum dengan pemikirannya. Ah, Utakata memang yang terbaik.

Uh, Sasuke dengan segala pikiran positifnya.

"Sasu-chan," Ino dan Sakura melambai dari arah tempat duduknya berada yang terletak di bagian tengah ruangan, saat ini –mereka berempat memang satu kelas di Sejarah Jepang. "Mana Hinata-chan," Ino bertanya pada Sasuke saat wanita itu sudah mendudukan diri pada bangku di depannya.

"Entah," Sasuke mengangkat bahu tak acuh, masih kesal dengan kedua sahabatnya.

"Hei hei hei," Sakura mencolek lengan Sasuke berulang kali. "Kau masih marah dengan kejadian tadi?"

"Tentu saja Sasu-chan marah," Hinata menimpali –mengejutkan tiga sahabatnya –entah sejak kapan dia sudah berada di sana –berdiri di samping Sasuke. "Kalian harusnya lihat bagaimana sensei mesum itu menggoda kami…."

Dan Hinata terus melanjutkan ceritanya –tentang bagaimana kelakuan Hidan-sensei yang sangat menyebalkan, memancing gelak tawa dari kedua sehabatnya, Sasuke sesekali mendengus, dan protes saat dijadikan bahan ejekan.

Begitulah keempat wanita itu jika sedang bersama, memancing decak kagum bagi yang menyukai dan menimbulkan perasaan iri bagi yang membenci.

.

.

.

Seharusnya Sasuke bisa menjalankan rencananya saat pergantian jam –dari Sejarah Jepang ke Penjaskes– tetapi saat Kakashi-sensei mengabarkan jika guru olahraga mereka sedang mengambil cuti karena kelahiran anak pertamanya yang artinya jam di pelajaran penjaskes mereka kosong, maka guru yang suka menggunakan masker itu memerintahkan seluruh murid yang berjumlah 36 kepala itu, harus berada di perpustakaan tanpa terkecuali, tetapi tidak semua siswa mendengarkan, ada separuh dari mereka yang lebih memilih ke kafetaria atau duduk santai di taman belakang sekolah.

Sasuke bukan bagian dari orang-orang itu, karena setelah mengganti pakaian olahraga dengan seragam musim panasnya, dia bergegas ke perpustakaan untuk menjalankan perintah gurunya dibanding berpergian ke tempat lain –sebenarnya Sasuke hanya ingin mendinginkan suhu tubuhnya karena cuaca siang hari ini lumayan panas.

Ino? Jangan tanyakan wanita cantik itu. Dia baru saja digeret pakasa oleh mantan kekasih pucatnya untuk meninggalkan Sasuke seorang diri. Bukannya Ino tidak melawan, dia sudah memberontak dan menyumpahi pemuda itu, tetapi hanya dibalas dengan senyuman dan pujian saja.

Sasuke tidak membantu sahabatnya karena dia sangat senang melihat wajah menderita Ino.

Sasuke tidak jahat, dia hanya ingin balas dendam.

Sasuke berjalan di sepanjang rak yang diberi label 'Ekonomi' tangannya menjelajah deretan buku –berharap menemukan buku yang menarik untuk dibacanya. Setelah cukup lama memilih, akhirnya Sasuke menemukan buku yang tidak ada sangkut-pautnya dengan label yang tertera di atas rak.

'Tanda-tanda Seorang Pria Jatuh Cinta Pada Seorang Wanita'

Demi sensei bermaskernya, siapa orang yang tidak bertanggung jawab yang telah seenaknya meletakan buku ini tidak pada tempatnya.

Sasuke berjalan menuju deret bangku yang berda di paling ujung tembok dekat jendela, mencari tempat yang lebih tenang dan sunyi, buku itu masih di tangannya, Sasuke sedikit tertarik dengan isi buku itu.

Dia berjalan dengan mata yang tidak lepas dari lembar buku yang berisi banyak tulisan.

Cemburu jika kita berdekatan dengan laki-laki lain

"Apa Utakata-kun pernah cemburu jika aku diganggu lelaki lain?"

Sasuke mengernyitkan kening –sepertinya belum pernah. Dia menyukai Utakata sejak pertama kali melihatnya berjalan bersama Gaara dan juga teman-teman yang lainnya, sejak saat itu Sasuke selalu mengagumi dan memikirkan pemuda itu, tapi jika dipikir-pikir Utakata memang belum pernah menunjukan rasa cemburunya pada Sasuke.

Sasuke menggigit bibir bawahnya. Tidak mungkin 'kan Utakata tidak tertarik pada dirinya? Mengingat pujian dan perhatian yang selalu Utakata berikan kepadanya.

Selalu menghormati wanita yang dicintainya

Seorang pria yang tulus mencintai wanita akan selalu menghormati wanita itu, selalu peduli dengan kehidupan, kegiatan, perkataan, dan hal apapun yang wanita itu lakukan.

Bahkan ketika wanita yang dicintainya melakukan kesalahan, dia akan selalu mengingatkan. Itu adalah bentuk rasa hormatnya kepada sang wanita.

Kalau dipikir-pikir belum pernah ada lelaki yang benar-benar pernah menghormati Sasuke seperti ini, mereka menghormati Sasuke dalam bentuk dan hal lainnya. Bahkan Utakata…

"AW," Sasuke memekik saat pahanya menabrak bangku yang tidak dimasukan pada kolong meja. "Siapa orang yang berani-berani…Naruto?"

Pemuda itu sedang berbaring pada tiga kursi yang disejajarkan, setengah wajahnya yang ditutupi buku menghadap Sasuke, sedangkan kakinya yang tidak bisa ditampung pada deretan kursi dinaikan pada dinding dan disilangkan –di sana memang sudah tidak ada jalan lagi.

Apa-apaan gaya tidurnya itu!

Naruto yang merasakan guncangan dan mendengar pekikan itu merasa terganggu, dia menurunkan buku yang menutupi wajahnya, mentap tajam seseorang yang berdiri di atasnya. "Uchiha," desisnya.

Sasuke mudur selangkah saat melihat tatapan yang diberikan Naruto padanya, sungguh pemuda itu terlihat menyeramkan.

"Ma –ma-maf," katanya cepat namun tergagap.

Naruto mendudukan diri dan tersenyum menenangkan saat melihat wajah ketakutan gadis Uchiha itu. Ibunya tidak pernah mengajarkannya untuk menakuti wanita. "Kau mau duduk," Naruto menawarkan, menepuk kursi kosong di sebelahnya, dia merasa bersalah.

Sasuke berdehem, mengangkat dagunya, tadi itu dia hanya khilaf. Seorang Uchiha tidak pernah merasa takut ataupun terintimedasi oleh orang lain.

"Baiklah kalau kamu memaksa," Sasuke mengibaskan roknya sebelum duduk di kursi kosong dengan anggun.

Naruto memutar bola mata melihat kelakuan gadis Uchiha itu.

"Kamu tidur di cuaca sepanas ini dengan menggunakan jaket yang lumayan tebal?" Sasuke membuka pertanyaan. Sudah sejak tadi dia ingin bertanya ketika melihat pemuda itu tertidur dengan jaket abu yang membalut tubuhnya.

Naruto melipat sebelah lengannya di meja dan sebelahnya lagi digunakan untuk menumpu dagunya, dia menatap wanita itu dengan alis terangkat. " –dan Kau berkeliaran di sekolah dengan rok sependek itu dan kemeja yang trasnparan? Lihat, bahkan aku tahu warna bra-mu."

"Ap –a," Sasuke melindungi bagian depan tubunya saat menyadari pakaian dalamnya memang terlihat walau tidak begitu jelas. Sasuke merasa sangat malu, wajahnya menghangat. "…mereka," Sasuke mendesis marah, entah ditunjukan pada siapa.

"Tidak. Teman-temanmu tidak bersalah," Naruto berkata tanpa melihat Sasuke, pandangannya dialihkan ke luar jendela –menatap langit. "Pagi tadi memang tidak terlihat. Apa Kau tidak menyadari kalau pendingin di ruangan ini tidak menyala? Pakaianmu basah karena keringat."

"Huh?" –pagi tadi?

Apa sejak tadi kemejanya sudah basah karena keringat dan menjadi tembus pandang? Oh, pantas saja sejak tadi ada lebih bayak laki-laki yang melihatnya dengan lebih intens.

Sasuke tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa marah, tetapi tidak tahu harus marah kepada siapa.

Sasuke melipat kedua lengannya di meja, menyembunyikan wajahnya 'Mereka sudah melihat pakaian dalamku'

Sasuke mengangkat kepala begitu merasakan sesuatu di punggungnya. "Apa?"

"Pakai itu, mungkin sedikit berbau keringat, tapi bisa menutupi pakaianmu."

"Kamu menyuruhku memakai ini?" Sasuke berkata dengan senyum meremehkan.

"Kau lebih memilih berkeliaran dengan tubuh setengah telanjang? Menjijikan."

Apa pemuda ini akan menjadi berkali-kali lipat lebih menyebalkan ketika baru bangun dari tidurnya?

"Hei?!"

"Kalau tidak mau kembalikan."

"…"

Sasuke menggunakan jaket itu dengan cepat dalam diam, dia lebih memilih memakai jaket Naruto dibanding harus berkeliaran di sekolah dengan tubuh setengah telanjang –seperti yang pemuda itu katakan.

"Naru-,"

" –jangan ganggu, aku mau tidur," Naruto membuktikan perkataannya dengan melipat kedua tangannya di atas meja dan menyamankan kepalanya dilipatan itu. Dia benar-benar masih mengantuk.

Sasuke menggembungkan kedua pipinya dengan sikap tak acuh pemuda itu.

Sekarang Sasuke jadi ingat; tadi pemuda itu mengatainya menjijikan dan juga dia selalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela sebelum Sasuke menggunakan jaket pemberiannya.

"Apa dia tidak tertarik melihat pakaian dalamku?" Sasuke berbisik pada dirinya. "Oh, bukan berarti aku ingin dia melihat pakaian dalamku," Sasuke menghela napas ketika menyadari perkataannya. Dia terdengar seperti wanita jalang.

Setelah cukup lama terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa, Sasuke mengikuti apa yang pemuda di sampingnya itu lakukan –melipat lengannya di atas meja dan menyamankan diri di sana –sebenarnya dia merasa gerah dan panas, tapi dia terlalu malas untuk melepas jaketnya. Dia juga tidak ingin dikatai menjijikan lagi, perkataan Naruto membuat hatinya berdenyut sakit, tetapi Sasuke tidak bisa marah karena dia juga membenarkan perkataan itu.

Ini pertama kali ada seseorang yang mengataiannya menjijikan dan sungguh Sasuke tidak merasa marah sedikitpun.

Sasuke mengernyit begitu aroma jaket Naruto tercium –citrus dan mints, apa ini wangi rumput? –Sasuke terus bertanya-tanya sampai dia tertidur lelap.


Sasuke terlonjak begitu mendengar suara petir yang menggelegar, dia sungguh sangat terkejut.

Sasuke menengok ke belakang –melihat langit yang diselimuti awan gelap dan sesekali kilat yang menyambar, dia memijat pangkal hidungnya yang berdenyut sakit akibat terbangun dari tidur –yang menurutnya –sangat tidak manusiawi.

' –tunggu dulu'

Sasuke mengedarkan pandangannya –ternyata dia masih di perpustakaan.

"Aku tertidur di meja perpustakaan," gumamnya.

"Ya, Kau tertidur di meja perpustakaan seperti mayat."

Bahu Sasuke menegang, dia menolehkan kepala ke samping kiri –ke asal suara –Sasuke memang belum melihat perpustakaan secara keseluruhan, tentu dia merasa terkejut saat mendengar suara yang menimpali gumamannya.

"Naruto?"

"Aku."

"Bukan itu –apa yang kamu lakukan di sini?"

Naruto menurunkan buku yang menutupi wajahnya. "Membaca."

"Bukan itu maksudku –kamu tahu 'kan maksudku?" Sasuke bertanya dengan memasang tampang sebal.

Naruto mengangguk. "Ya, aku tahu."

Ingin rasanya Sasuke melempar pemuda yang sedang duduk bersandar pada dinding dengan kaki yang diselonjorkan pada deretan kursi itu dengan tumpukan buku.

'Cowok pirang ini benar-benar menyebalkan'

"Sekarang jam 2 siang," Naruto berkata tidak nyambung.

"Mak –APA?!" Sasuke menutup mulutnya dengan tangan begitu menyadari dirinya sedang berteriak di dalam perpustakaan. "Kenapa tidak membangunkanku?"

"Sudah."

"Benarkah?" Sasuke bertanya sanksi. Benarkah Naruto sudah membangunkannya? Sasuke tidak menyadarinya.

"Berkali-kali."

"Bisakah Kau menjawab pertanyaanku dengan lebih panjang?" hampir saja Sasuke berteriak saat menyuarakan protesnya. Pemuda ini benar-benar membuatnya jengkel.

"Leb –ehem –Aku sudah membangunkanmu berkali-kali, tapi Kau menepis tanganku. Sensei yang menjaga perpustakaan membiarkanmu tidur saat aku mengatakan jika Kau sakit."

"Ap –a?" Sasuke menghela napas berat, percuma dia protes, semua sudah terlanjur terjadi. "Jadi sekarang aku membolos?"

"Aku juga bolos."

"Kamu menemaniku membolos?" Sasuke bertanya dengan senyum, menatap pemuda di sampingnya.

"Tidak."

Senyum Sasuke lenyap seketika. "Benarkah?"

Naruto mengangguk. "Aku mau pulang sebelum turun badai."

"Hei," Sasuke menahan lengan Naruto ketika pemuda itu berjalan melewatinya. Hangat. " –sekolah berakhir dua jam lagi."

"Aku tahu."

"Kamu benar-benar mau pulang?" Sasuke melihat Naruto mengangguk sebagai jawaban. "Aku ikut."

Naruto menolehkan kepala cepat, melihat Sasuke dengan kening yang mengkerut, menatap bingung.

"Aku ikut. Tidak ada penolakan. Kalau kamu menolak, aku akan tetap mengekor. Titik."

"Terserah."

"Bagaiman cara keluar dari sekolah ini?"

"…"

Sasuke menghela napas, dia tidak bertanya lagi. Mereka berjalan di sepanjang koridor dalam diam.

Tidak masalah 'kan Sasuke membolos sesekali. Toh itu tidak akan mempengaruhi nilai akademisnya. Ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mendekati dan mengenal si pirang dengan lebih dalam.

Sasuke bisa meminjam ponsel Naruto untuk mengabari sahabatnya –untuk mengamankan tasnya, juga membawa mobil Sasuke pulang, dia bisa mengambil semua barangnya nanti ataupun besok.

Tidak masalah 'kan?

.

.

.

.

"Maaf aku menarikmu kemari."

"Apa?! Aku tidak dengar!"

Sasuke berteriak saat melihat bibir Naruto bergerak, tentu dia tidak mendengarkan karena memang sekarang hujan turun dengan derasnya disertai dengan petir dan kilatan cahaya di langit yang sangat gelap.

Saat mereka sedang berjalan di trotoar –setelah menuruni bus yang mengantarkan mereka ke halte distrik timur –hujan deras dengan tiba-tibanya mengguyur kota.

Tentu mereka berdua terkejut dan sangat panik –Naruto bersyukur karena apartemennya tidak jauh dari tempat mereka berjalan –dengan itu Naruto menarik Sasuke berlari agar mereka bisa berteduh lebih cepat.

Naruto menunduk –mensejajarkan wajahnya pada telinga Sasuke. "Maaf karena menarikmu kemari."

"A –aa –a. Sasuke mendorong pelan tubuh Naruto karena pemuda itu tak kunjung menjauhkan tubuhnya. Dada Naruto terasa jelas di bawah tekanan telapaknnya –paras Sasuke menghangat. "Ti-tidak masalah." –'karena aku juga memang ingin tahu apartemenmu'.

"Masuk."

"Eh?" Sasuke menahan lengan Naruto yang menarik pergelangannya, Naruto berbalik –bertanya. "Itu…"

"Apa?"

"Lupakan –ayo."

Naruto memutar irisnya –tidak mengerti dengan apa yang diinginkan Sasuke, mendorong pintu kaca, Naruto meminta maaf kepada resepsionis dan juga security yang sedang berdiri di balik meja. "Maaf ojisan."

"Tidak masalah Naruto-kun, tapi jangan terlalu lama berdiri di sana. Kasian pacarmu itu kedinginan."

Naruto meringis, menggaruk belakang kepala yang tidak gatal, dia ingin menyanggah tapi malas berucap –apalagi ditambah dengan cengiran dua orang dewasa di sana. Naruto melirik Sasuke yang berdiri di sampingnya –wajah wanita itu datar, tidak ada ekspresi sedikitpun yang tertera di sana.

Apa dia marah?

"Baiklah, kami pergi."

Naruto berjalan cepat –tidak ingin menambah parah lantai yang becek karena tubuhnya yang basah –Sasuke mengekor di belakangnya dengan tenang, menekan tombol lift mereka masuk dengan tidak ada yang berkata sedikitpun.

Hujan di luar sana semakin deras mengguyur kota, Naruto juga bisa mendengar jelas petir yang menyambar di luar sana –mungkin akan ada badai dan hujan tidak akan berhenti sampai besok.

Lalu, bagaimana dengan wanita Uchiha ini?

"Sasuke."

"Hm," Sasuke melirik Naruto dari sudut matanya, mereka berdua bersandar di dinding kaca.

"Sepertinya akan ada badai."

"Lalu?"

Naruto mendengus mendengarkan nada tanya yang kelewat tenang itu, apa wanita ini sudah terbiasa menginap di tempat pria? Naruto menggeleng –itu tidak mungkin 'kan?

"Sepertinya hujan akan lama, mungkin sampai besok pagi."

"Aku rasa juga begitu."

"A –a," Naruto mengatupkan bibirnya, dia tidak jadi mengatakan apapun. Entah kenapa sejak kemarin Naruto sedikit malas untuk berbicara, bahkan Kiba dibuat kesal karena Naruto tidak menanggapi ceritanya.

Naruto bergumam saat mendengar bunyi lift berdenting, dia mengekor Sasuke yang keluar terlebih dahulu –memberitahukan pada Sasuke di mana letak kamar apartemennya.

"Ini?" –'2310'.

"Hm."

"…"

"…"

Sasuke mengernyitkan dahi saat Naruto hanya diam –berdiri di belakangnya. Pemuda itu tidak kunjung menekan kode untuk membuka pintu, bahkan Sasuke bisa merasakan napas hangat Naruto yang menerpa tengkuknya. Sasuke akan berbalik jika saja tidak ada dua lengan yang melingkar di leher dan perutnya –Naruto mendekapnya. Tubuh Sasuke menegang.

Ya Tuhan. Apa yang dipikirkan pemuda ini sehingga dia berani memeluk Sasuke seperti ini.

"Yak! –OH GOD! Tubuhmu sangat panas Naruto!" Sasuke menjerit, mengurungkan niatnya untuk membentak dan menyingkirkan lengan Naruto saat dirasa kulit pemuda itu terasa sangat panas di bawah telapaknya.

"Ngh," Naruto meletakan kepalanya pada pundak Sasuke, mengeratkan kedua lengannya pada siapapun yang sedang dipeluknya –mencari kehangatan.

"Naruto?" Sasuke menelangkan kepalanya –melihat keadaan Naruto, kedua kelopak pemuda itu tertutup, napasnya tidak beraturan dan terasa panas saat menerpa wajah Sasuke.

Sasuke menggoyangkan tubuhnya, tangannya menepuk pipi bergaris Naruto pelan –terlihat sangat jelas dari jarak sedekat ini –berharap Naruto tersadar. Tidak mungkin mereka berdiri seperti ini sampai besok.

"Sasuke?" Naruto bergumam saat kelopaknya terbuka perlahan –dia tidak yakin jika orang yang dilihatnya sekarang adalah Sasuke –kepalanya terasa sangat berat, dia sangat ingin berbaring. "0710."

"Ha?" alis Sasuke bertaut, butuh beberapa detik sampai dia mengerti dengan apa yang Naruto maksudkan, dia menekan tombol-tombol itu cepat. Ingin segera membaringkan Naruto karena pemuda itu sungguh berat dan tubuh Sasuke mulai terasa pegal.

"Ngh."

"Uh," tubuh Sasuke merinding saat mendengar lenguhan itu. "Naruto. Bangunlah."

Naruto mendorong tubuh Sasuke, melepas sepatu dengan asal, pemuda itu berjalan dengan terhuyung. Beberapa kali Naruto menepis tangan Sasuke yang mencoba untuk membantunya berjalan. "Aku bisa sendiri," desisnya. Sasuke mengekor di belakang, wajahnya terlihat sebal bercampur khawatir.

"God! Naruto Kau membuat sofamu basah!" Sasuke menjerit saat Naruto menghempaskan tubuhnya di atas sofa berbahan beludru, pemuda itu tertidur dengan napas yang tidak beraturan. Sasuke menyentuh dahi Naruto, suhu tubuhnya terasa sangat panas."Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan!" ujar Sasuke panik.

Sasuke berlari ke arah dapur dan kembali dengan tidak membawa apapun, beberapa kali dia melakukan itu sampai dirinya sadar dengan hal yang tidak berguna yang telah dilakukannya. "Ok. Tarik napas, hembuskan, tarik napas hembuskan –lakukan dengan perlahan," Sasuke menenangkan diri dengan menarik dan menghembuskan napas –hal yang selalu di lakukan jika dalam keadaan panik ataupun terdesak.

Sasuke bergumam dengan apa yang harus dia lakukan sebelum membereskan masalah ini; pertama Naruto harus menganti seragamnya yang basah, Naruto harus berbaring di kamarnya yang nyaman, dan Sasuke akan membuatkan bubur untuk Naruto sebelum pemuda ini meminum obatnya, tetapi bagaimana caranya agar Naruto mengganti pakaiannya sedangkan Naruto tidak kunjung bangun walau Sasuke sudah mengguncang tubuhnya berkali-kali.

"Apa yang harus aku lakukan!" –'Aku tidak mungkin menggantikan pakaiannya 'kan?'

Tbc.


A/N

Karena aku sudah mulai sibuk, jadi updet-nya gak bisa setiap hari senin seperti dulu. Mungkin bisa lama, bisa juga cepet.

.

Terimakasih untuk:

Saikari Ara Nafiel, Arum Junnie, Yoona Ramdanii, Oranyellow-chan, Adityasriwijaya, Syalala Lala, Rizkyuzumaki603, wsa krisna, Uzumaki Prince Dobe-Nii, dianrusdianto39, Jasmine DaisynoYuki, Khioneizys, Tragger, Red devils, lutfisyahrizal, Ns gues, InspiritWoohyunI, Kitsune, Guest, Guest, akarui, kurai shiko deli-chan

.

.

Terimakasi bagi yang sudah membaca.

Saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan.

Ninndya