Chapter 6 : Father
.
.
.
"Eh?! Boleh ya?!"
"Ya tentu.. hubungan intim dengan suami saat hamil tidak akan membahayakan bagi janin, asal jangan melakukan anal dan oral, bisa menyebabkan infeksi.. lalu jika kandungan anda normal, seks dalam posisi apapun tidak membahayakan.."
Arthuria menghembuskan nafas lega setelah konsultasi ke dokter esoknya. Setidaknya ia tidak akan membuat suaminya berpuasa selama 9 bulan lagi. Mungkin ia harus menyampaikannya secepatnya, rasanya ia sangat bersalah saat melarangnya untuk melakukannya kemarin, tapi mengingat senyum licik Gilgamesh yang seperti ingin memperkosanya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"Ada apa?! Apa anda telah membuat suami anda tertekan karena anda bilang tidak bisa berhubungan lagi?!" Tebak sang dokter.
"Huff.. begitulah.. aku bermaksud merahasiakannya sampai besok, tapi dia memaksa karena tidak mengerti.. akhirnya itu tidak jadi kejutan lagi.."
"Hahaha, itu wajar.. soalnya laki-laki itu melihat sesuatu yang berbeda saja sudah nafsuan, apalagi melihat perubahan fisik anda yang lebih berisi dari biasanya.. siapa saja laki-laki yang melihatnya pasti juga tidak tahan.."
Arthuria menghela nafas lagi, sejak kemarin malam ia tidak lagi bertemu Gilgamesh. Kemarin dia tidur di ruang yang lain, paginya ia tidak melihatnya saat sarapan, lalu di kantor pun ia sedang mengadakan pertemuan dengan para pemegang saham. Seperti ia sedang menghindar saja.
~~OOO~~
Setelah konsultasi dengan dokternya, Arthuria kembali ke kantor. Ia mencari-cari Gilgamesh ke ruangannya tapi ia tidak menemukan siapa-siapa. Arthuria makin cemas ia tidak menemukan Gilgamesh dimana-mana, ia sudah menghubungi beberapa pihak tapi jawaban mereka tidak tahu kemana ia pergi.
"Eh? Pak Direktur sedang keluar.." jawab Sakura yang sedang berjaga di pusat informasi.
"Kemana?"
"Pak Direktur tidak memberi tahu kemana, dia hanya bilang jika ada tamu atau kepentingan lain, hari ini tidak ada.."
Arthuria memijit pelipisnya yang mulai sakit.
"Apa dia tidak punya pesan untuk ku?"
"Hmm.. kalau tidak salah tidak.."
"Begitu.."
'Ini aneh.. biasanya dia pasti menitipkan pesan untuknya jika ia pergi mendadak.. jelas-jelas ia menghindari ku.. apa yang kau pikirkan.. Gil..'
Arthuria teringat dengan panti asuhan yang berada di ujung kota, mereka belum sempat berkunjung lagi kesana sejak menikah karena terlalu sibuk. Arthuria harus mencarinya kesana walau kemungkinannya kecil, setaunya Gilgamesh tidak memiliki tempat lain saat dia ingin sendiri selain di panti itu.
Arthuria melaju kencang dengan mobilnya ke panti itu, mencari Gilgamesh dimana pun ia berada. Sesampainya disana ia hanya melihat anak-anak yatim piatu sedang bermain bersama dengan riang dan canda gurau, pemandangan yang tak pernah berubah sejak pertama kali ia menemukan tempat ini.
"Ah! Itu kakak! Kakak!" Seru mereka sangat senang saat Arthuria datang. Arthuria tersenyum kecil lalu mengusap kepala mereka satu persatu.
"Bagaimana kabar kalian, apa kalian sangat senang disini?!"
"Senang sekali kak! Kami bermain dan belajar!"
"Iya kak! Kakak sering-sering dong kesini! Bermain dengan kami juga!" Mereka menyambut Arthuria dengan hangat. Tak ada yang lebih membahagiakan di sambut oleh anak-anak malang ini daripada di layani dengan pelayanan terbaik di rumahnya. Seorang wanita tua pun menghampiri Arthuria, dia adalah ibu panti yang merawat mereka dengan tulus dan ikhlas.
"Terimakasih banyak nona Arthuria.. berkat bantuan anda dan suami anda.. kami jadi sangat terbantu.."
"Ah tidak, itu belum seberapa.."
"Terimakasih banyak.. bantuan anda lebih dari cukup.."
Arthuria pun terdiam, ia masih memikirkan suaminya, kemana perginya, sedang apa, ia tidak tahu.
"Kalian benar-benar pasangan yang unik, datang kemari sendiri-sendiri seolah kalian tidak ada hubungannya.. aku sampai kaget loh saat mendengar kalian ternyata akan menikah dan mengadakannya di tempat kecil ini.. dan sekarang datang sendiri-sendiri lagi.. anak-anak sampai bingung loh, kalian ini beneran suami-istri atau bukan.. hahaha"
Arthuria masih terdiam, yang dikatakan ibu ini benar. Setelah menikah pun ia datang sendirian lagi, padahal ia pernah berharap akan datang lagi bersama-sama, Arthuria tak kuasa menahan sakit di dadanya.
"Tuan Gilgamesh ada di halaman belakang sedang bermain dengan anak-anak.. Anda tidak mau menengoknya?!" Ujar ibu panti. Sontak Arthuria kaget dan langsung berlari ke halaman belakang yang di maksud ibu itu. Ibu panti cukup bingung dengan mereka berdua.
"Dari awal dia tidak tahu suaminya di sana? Benar-benar pasangan yang unik.."
Arthuria melirik Gilgamesh yang tengah asik bermain bola bersama anak-anak yang lain, ia seperti melihat sosok lain dari Gilgamesh yang dikenalnya angkuh, sombong, pemaksa, suka memecat karyawan tanpa sebab jelas. Sekilas Arthuria sadar kenapa ia bisa mencintai sosoknya yang seperti. Walaupun ia memiliki sifat yang buruk, tapi ia menunjukkan sisi kasih sayangnya kepada anak-anak yang tidak berdosa dengan kasih sayang terbaiknya. Gilgameh dan Arthuria, mereka sama-sama hidup sebatang kara di dunia ini, tidak memiliki keluarga dan kerabat hingga membuat mereka harus berusaha sendiri untuk sukses seperti sekarang. Arthuria lah yang paling mengerti perasaan itu saat ini.
Gilgamesh menolehkan kepalanya ke arah Arthuria yang sudah berkaca-kaca menatapnya, ia hanya diam memandanginya seperti itu. Ia tak mau mendekatinya lagi, ia takut akan menyakiti istri dan anaknya lagi jika ia tidak bisa mengendalikan diri padanya lalu membuat Arthuria menangis lagi. Ia tidak tahan lagi mengingat sikap egoisnya telah menyakiti orang yang paling penting dalam hidupnya. Kali ini Arthuria yang mendekatinya, ia tidak bisa menunggu lagi.
"Gil.. untuk yang kemarin aku minta maaf.. seharusnya aku tidak merahasiakan hal ini darimu.."
"Aku juga minta maaf Arthuria.. aku telah memaksamu saat kau harus melindunginya.. padahal kau ingin membuatku terkesan saat aku ulang tahun besok.. tapi aku benar-benar bodoh telah memaksamu mengatakannya.." Gilgamesh menatap manik emeraldnya dengan tatapan teduh. Arthuria meraih wajahnya, menyentuh pipinya dengan lembut.
"Maaf telah menamparmu.."
Gilgamesh pun mengendus kecil dengan senyum lebar. Ia pun memeluk Arthuria erat di depan anak-anak, suasana makin riuh saat mereka menyoraki Pasutri ini dengan semangat. Arthuria bersyukur telah menikahi lalaki sepertinya, ia belum pernah bertemu sosok istimewa sepertinya yang mana pertemuan mereka seperti takdir.
"Gilgamesh.. aku sangat mencintaimu.."
"Arthuria.. aku juga sangat mencintaimu.."
~~OOO~~
"Eh?! Boleh ya?!"
"Ya.. aku sudah konsultasi dengan dokternya.. asalkan jangan melakukan oral dan anal yang akan membahayakan, dan lagi.. jangan perlakukan aku dengan kasar!" Arthuria menatap Gilgamesh sambil melotot, menekankan akan perlakuannya kemarin. Gilgamesh pun tertawa kecil.
"Haha aku kan sudah minta maaf untuk yang kemarin kan? Tenang saja, aku akan melakukanya dengan lembut.." Gilgamesh pun mencium bibirnya dengan lembut dan menggairahkan, suara kecil yang keluar dari Arthuria pun terdengar sangat imut baginya. Lidah Gilgamesh berpindah ke lehernya, mencumbunya hingga meninggalkan jejak merah. Arthuria masih mendesah kecil menikmati permainannya, ia membiarkan suaminya berbuat sesukanya tanpa perlawanan sedikitpun. Walau bercinta saat pasangannya memberontak adalah sesuatu yang bergairah, tapi tak ada yang lebih menggairahkan lagi selain bercinta dengan lembut dan gemulai.
Gilgamesh menyentuh seluruh tubuhnya hingga ia mulai memasukkan penisnya ke vagina wanita itu, ia melakukannya dengan baik hingga Arthuria nyaman dengan sensasi nikmat yang diterimanya.
"Gil.. penismu sangat panas.. dan rasanya sangat enak.. ahhhhhnn"
"Vaginamu yang basah juga sudah menghisapku kedalam.. aku tidak tahan lagi..."
"Aku mencintaimu Gilgamesh.."
"Aku juga mencintaimu.. ayo keluar sama-sama.."
Cairan sperma dan pelumas vagina keluar bersamaan lalu teraduk saat Gilgamesh masih mngocokkan penisnya ke dalamnya. Arthuria hanya mendesah lalu memeluk Gilgamesh erat, rasa cinta ini tak tertahankan hingga pupilnya benar-benar berbentuk hati. Gilgamesh mendudukkannya lalu memeluknya dari belakang, mengusap perutnya dengan lembut.
"Aku sungguh senang saat aku akan mempunyai anak darimu.. sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah.. rasa senang ini tidak bisa ku ukir dengan kata-kata.. Arthuria.. aku sudah tak sabar untuk melihatnya lahir ke dunia ini.."
"Ya.. aku juga sangat senang dan tidak sabar menjadi ibu.."
Setelah itu keduanya terlelap oleh khayalan mereka yang membayangkan masa depan, menunggu waktu yang berjalan dengan tergesa-gesa ini.
~~OOO~~
Setelah 4 bulan berlalu, mereka berdua hidup dengan harmonis di rumah bak istana itu. Arthuria sedang menggandung anaknya dengan keadaan sehat, setiap bulan ia rutin memeriksakan kehamilannya ke dokter yang khusus untuknya, dan tak lupa menuruti sarannya agar sang bayi tetap sehat. Ia belum mengambil cuti kerja di kantor, karena ia merasa masih sanggup menjalani kehidupan wanita karirnya dengan baik. Setelan kantor yang dulunya mengenakan jas dengan rok span pendeknya kini berganti dengan gaun selutut dengan jaket rajut yang tipis telah memberi kesan baru padanya, terutama pada perutnya yang kini mulai membesar. Melihatnya saja sudah membuat karyawan-karyawan lain merasa sejuk akan sosoknya itu. Tak terkecuali Gilgamesh yang setiap hari tak pernah bosan akan kecantikannya, apalagi melihat tubunya yang mulai terlihat seksi, payudara yang membesar, pinggulnya melebar, rambutnya mulai panjang hingga menyentuh pinggul, bibirnya yang memiliki warna yang indah. Ia sangat beruntung telah menikahi perempuan tercantik yang pernah ia lihat.
Hingga suatu malam dimana mereka sudah larut dalam tidurnya, tiba-tiba Arthuria tersentak bangun dan meraba perutnya, rasanya sangat gelisah dan ia segera membangunkan Gilgamesh.
"Gil! Gil! Bangun!" Ujarnya sambil mencolek pipinya. Gilgamesh menggeliat lalu membuka matanya dan mendapati istrinya tengah panik memandangnya, ia masih setengah sadar.
"Apa? Hari ini tidak usah ya, penisku juga lagi tidur.." ujarnya mengigau dikira istrinya pengen disentuh lalu menutup kepalanya dengan selimut. Arthuria pun kesal saat ia tak paham situasi, wanita itu pun menindih Gilgamesh, memberatkan badannya hingga membuat Gilgamesh sesak.
"Ukhhh kenapa sih.. lagi enakan tidur ah!" gerutunya. Arthuria pun mencubit pentilnya sampai ia terjerit dan sadar, Gilgamesh meraba dadanya yang sakit akan kesadisan sang istri membangunkannya.
"Ada apa sih?!" Ujarnya marah. Arthuria pun memasang tampang cemberut.
"Aku mau makan cumi goreng sekarang, kalau tidak makan itu aku tidak tenang.." mendengar itu Gilgamesh mengerut dahi, apa mungkin saat ini Arthuria sedang ngidam? Ia pun tersenyum lebar mengerti.
"Ya baiklah.. aku akan membuatkannya untukmu.. jadi tunggulah sebentar.." Gilgamesh pun memakai piamanya dengan benar lalu keluar kamar. Arthuria bersenandung kecil sambil menunggu Gilgamesh kembali.
.
.
Lalu masalah terbesarnya adalah skill memasak pria itu. Semua bahan sudah ia dapat tapi ia tidak pandai mengolahnya, ia gugup saat menyentuh cumi segar yang berada di kulkas dapurnya lalu sontak kaget saat menyentuh betapa licinnya cumi itu.
"Hiii.. seharusnya aku tidak sok-sokan akan membautkan makanan untuk anakku.." gumamnya sambil menggaruk kepala. Ia mencoba berpikir bagaimana caranya untuk memasak ini, apa ia harus menelpon koki rumahnya pada jam segini? Ah itu tidak mungkin, kokinya akan berlalai-lalai untuk datang padanya jika malam ini. Lalu siapa kiranya yang mau membantunya memasak kapan saja? Tiba-tiba ia teringat dengan sosok pria bersurai merah dan berwajah lembut tengah tertawa kecil, Gilgamesh menjentikkan jarinya. Ia yakin pria ini mau membantunya jika ia bilang ini untuk Arthuria. Walau ia sendiri ogah namun mau gimana lagi, tidak ada orang sebaik dia yang mau bangun tengah malam untuk membantunya.
.
.
Di suatu rumah sederhana yang di tinggali oleh keluarga bahagia Emiya, sekitar pukul 3 malam dimana sang kembar sudah tertidur lelap dikamar mereka lalu orangtuanya tengah menjalani ritual malam mereka dengan hikmat.
"Ahh Shirou.. ahh ahh nnn" desah Rin yang di gejot oleh suaminya Emiya Shirou. Sang suami juga berusaha memuaskan istrinya sampai bulir keringat mengalir deras keseluruh tubuhnya. Suasan kamar yang penuh dengan cinta mereka itu tiba-tiba terganggu oleh dering HP yang keras, sontak keduanya kaget lalu Rin meraih ponsel suaminya cepat yang telah mengganggu acara mereka.
"Hei goblok! Malam-malam begini ada apa perlu apa huh?! mengganggu saja tau! Apa kau pernah coba mati?!" Ujar Rin kesal sekali. Yang di seberang HP pun ikut marah.
"Heh gadis bodoh! Kepada siapa kau bicara huh?! Mau mati ya?! Dimana suami bodohmu itu?!" Rin sontak kaget lalu melirik nama kontak yang tertera di layar dan betapa kagetnya ia ketika tahu itu adalah atasannya sendiri. Rin pun melempar ponsel tersebut kepada Shirou lalu menutup wajahnya yang malu berat, sang suami hanya tertawa kecil lalu meletakkan ponsel tersebut ke telinga.
"Ya, selamat malam Direktur.."
"Hoh, awas kalian besok pagi.. beraninya berkata kasar padaku.."
"Haha maaf pak, maklum istri saya sangat sensitif.. jadi.. apa maksud bapak menelpon malam-malam begini?!" Tukasnya sangat sopan. Namun ia masih menggoyangkan pinggulnya menghantam Rin tanpa peduli telepon tersebut, Rin hanya menahan desahannya dengan membungkam mulutnya sendiri.
"Hmp, baiklah.. kudengar kau lumayan bisa memasak ya?! Datanglah kerumahku sekarang! Ajari aku memasak untuk istriku.." ujar Gilgamesh dengan nada menjengkelkan. Rin yang ikut mendengar itu pun marah besar.
"Hei kau! Kau tidak liat hari sudah mau pagi?! Seenaknya saja menyuruh sekretarismu yang macam-macam! Masak sendiri goblok! Khhh" hardik Rin bahkan tak sengaja sedikit mendesah. Gilgamesh mengerut alis, ia seketika peka akan apa yang dua sekretasinya ini lakukan, namum ia memilih untuk pura-pura tidak tahu.
"Hei gadis bodoh! Aku tidak minta pendapatmu! Kau mau aku pecat huh?! Jaga mulutmu kalau bicara dengan Direkturmu!"
Rin menggeram kesal, Shiro pun menyumpal mulut Rin dengan tangannya agar tidak bicara lagi.
"Begitu ya.. jadi Arthuria sedang mengidam.. baiklah, aku akan segera kesana.."
"Hmp, jawaban yang bagus.. kau memang sekretaris andalanku.." nada panggilan putus pun terdengar dan Shirou menutup kembali ponselnya.
"Shirou.. kau akan pergi?!" Ujar Rin sambil cemberut. Shirou pun tersenyum kecil.
"Yaa.. mau gimana lagi, Arthuria tengah ngidam dan Direktur juga kesulitan karena belum pernah memasak.. tidak apa-apa kan kalau aku bantu kan?!.." bujuknya lembut. Rin masih mengembungkan pipi.
"Kalau begitu selesaikan permainan kita tadi.." ujarnya sambil menghamburkan tubuhnya lalu mencium bibirnya dengan tubuh yang masih menyatu. Shirou hanya pasrah karena ia juga sudah janji akan melakukan ini sampai pagi kepada istrinya.
.
.
1 jam berlalu dan akhirnya Shirou menampakkan batang hidungnnya dengan menaiki mobil Mercedes pribadinya. Gilgamesh sepertinya sangat mengharapkan kehadirannya sampai menunggu didepan rumahnya.
"Telat! Kau kira aku ini bisa menunggu selama itu?!" Hardiknya bengis.
"Maaf pak, tadi anak saya menangis dan saya harus menenangkannya.." tukas Shirou berusaha membela diri. Gilgamesh terdiam, ia seharusnya tidak menghardiknya karena ialah yang telah membuat ribut keluarganya. Shirou masih ingat saat ia dan Rin berciuman tiba-tiba saja Fujimaru dan Ritsuka merengek bersamaan karena Rin heboh mulu, ia pun tertawa kecil.
Gilgamesh membawa pria itu kedapurnya, menunjukkan hasil cumi yang telah ia masak.
"Aku sudah membuatnya sendiri sebelum kau datang, cobalah" ujarnya sambil menyodorkannya pada Shirou. Lelaki itu pun mencobanya tanpa pikir panjang dan... Hampir saja ia muntah di depan atasannya. Cumi yang cuma di goreng dengan minyak yang tidak bersuhu pas dan tanpa bumbu sedikit pun, rasa amis menyebar ke mulutnya. Shirou serasa mau mati saat menelannya, apakah pria ini berniat membunuh istrinya dengan masakannya ini?
"Apakah cumi goreng yang kau buat cuma cumi yang di goreng?"
"Ya tentu saja, namanya juga cumi goreng"
"Lalu minyaknya, jangan bilang kau masukkan saat minyaknya masih dingin.."
"Aku terlalu malas menunggunya panas.."
Shirou pun menepuk pundak pria yang didepannya.
"Baiklah.. mungkin akan ku ajari kau sampai pagi.." ucapnya dengan wajah masam. Gilgamesh pun hanya mengerinyit alisnya tidak yakin akan ucapannya.
.
.
Arthuria yang sudah lama menunggu di kasur sambil membaca buku pun sadar kalau Gilgamesh terlalu lama kembali, rasa gelisah pun bertambah 2x lipat.
"Apa jangan-jangan dia benar-benar memasaknya? Ahh aku lupa kalau dia tidak pernah memasak jadi tidak mungkin dia bisa memasaknya.. ukhh aku bodoh seharunya suruh dia carikan di luar saja.." keluhnya. Lalu ucapannya terhenti saat mencium aroma wangi yang lezat, air liurnya seketika bertetesan dan tak sadar sudah beranjak dari kasur dan mengikuti asal aroma sampai kedapur. Dan. Betapa kagetnya ia saat melihat suaminya tengah berusaha menggoreng cumi tepung dengan tutup panci ditangannya, tutup panci tersebut ia gunakan demi melindungi tubuhnya dari cipratan minyak panas. Lalu ia kaget lagi saat melihat Emiya Shirou di dapurnya sambil melipat dada memperhatikan Gilgamesh memasak.
"Kelihatnnya masakannya sangat enak Gil, Shirou.." ujarnya memasuki dapur. Gilgamesh pun meliriknya lalu berlari kearahnya dengan cemas.
"Kau baik-baik saja kan? Kenapa kau kesini? Ayo kembali ke kamar, sebentar lagi masakannya jadi.." bujuknya khawatir. Shirou hanya tersenyum melihat kemesraan mereka yang tidak biasa.
"Tidak Gil, aku baik-baik saja.. aku ingin melihatmu memasak.. jadi aku akan menonton disini.."
"Kalau begitu pakailah jaket, di sini dingin sekali, lalu duduklah di kursi itu, kau tidak boleh berdiri terus.." Gilgamesh sangat sibuk sampai lupa dengan gorengannya, Shirou tak ingin nibrung dan memilih untuk melanjutkan masakan direktutnya.
"Pak Direktur.. masakanmu sudah matang.." ujar Shirou sambil meniriskan cumi. Gilgamesh pun segera menghampiri Shirou dengan kocar-kacir.
"Mana? Mana?"
"Nah setelah itu tuangkan mayonaise ke pinggir piring dan plating cumi ditengahnya.." titah Shirou, Gilgamesh tidak banyak protes walau ia disuruh-suruh bawahannya dan melakukan apa yang ia suruh, ia sudah bersabar demi sang istri dan anak yang masih berada di kandungan. Gilgamesh memberikan piring itu pada Arthuria, menusuk cuminya dengan garpu dan menyuapinya dengan pelan. Shirou makin canggung dengan suasana romantis itu, apa dia akan mengganggu mereka.
"K-kalau begitu Nona dan Tuan besar.. saya pamit dulu.." ucapnya undur diri. Gilgamesh pun menoleh kearahnya.
"Hei! Aku belum mengizinkanmu pulang kan? Tetaplah disini! mongrel.." serunya. Shirou hanya menyeringai kecil, tak disangka Direktur yang sangat bengis ini akan berkata seperti itu padanya.
"Maaf Direktur, tapi 4 jam lagi kita aku akan ke kantor jadi.."
"Huh.. kau membosankan sekali.. aku akan membiarkanmu dan Istri bodohmu itu libur hari ini, anggap saja imbalan karena sudah membantuku.. aku tidak mau berhutang budi pada mongrel.."
Sebuah senyum lebar mengembang dipipi tirus pria itu, walau cuma disuruh libur dan bukannya naik gaji, tapi ia sungguh senang terlebih ia bisa menghabiskan waktu bersama keluarganya.
"Terima kasih banyak Direktur.. aku akan mengingat kebaikanmu selalu.." ucap Shirou sambil membungkukkan badannya. Arthuria pun tersenyum lembut, ia sudah melihat perubahan pada suaminya yang suka semena-mena memperlakukan karyawannya.
.
.
.
Esok paginya, dimana sebuah mobil Porsche berhenti di depan pintu masuk persahaan, lalu dari mobil itu keluar seorang wanita yang cantik dan seksi. Wanita itu adalah Direktur utama perusahaan xx yang telah menggoda Gilgamesh beberapa bulan lalu, kali ini ia menekatkan keputusannya untuk membalas perbuatan Gilgamesh yang telah melukai harga dirinya.
"Nona Medea, silahkan lewat sini.." ujar seorang pelayannya yang sangat setia mendampingi majikannya.
"Bawa aku kepada istri yang di agung-agungkan oleh pria kurang ajar itu!"
TBC
Balasan Review
ZenoZen
isi di chapter ini drabble tok tapi bagus kok soalnya ada lucunya yaitu bagian tidur di luar.
Sy udah nyerah author sama fate go insyaf saya.
"Its time for move on, main game lain aja kayak Mobalog(ups). Dan makasih ya selalu hadir buat review :'33"
Oke maaf telat posting dan terimakasih telah membaca ff ini :'33
