Mendengar dia bilang begitu, aku tidak mau memaksanya lagi. Aku tidak tega melihat dia tertekan seperti ini. Dr. Inui pun mengajakku keluar ruangan dan membiarkan dia sendirian sebentar. Aku memperhatikannya dari balik jendela kamar. Aku bisa melihat titik-titik air mata keluar membasahi wajahnya. Seumur hidup, selama kami bersama, aku belum pernah melihat dia sesedih ini. Menangis pun tidak pernah. Dia bukan orang yang gampang terbawa emosi. Hatiku sakit melihatnya.
"Bagaimana ini, Dok?"
"Anda sudah bicara dengan orangtuanya khan?"
"Ya, dan mereka setuju untuk mengangkat rahimnya."
"Keputusan saya pun juga sama. Mengangkat rahimnya, itu sudah jalan terbaik. Meski ke depannya, dia tidak akan bisa hamil lagi."
"Apa yang harus saya lakukan, Dok?"
"Kuatkan dia, bagaimana pun caranya."
Tanpa menunggu waktu lama, aku masuk kembali ke kamar dan menghampiri Kunimitsu. Dia masih tertunduk. Di ujung hidungnya, aku melihat tetesan air matanya yang kemudian jatuh ke tangannya.
"Mit-chan…"
"Kippei…aku tidak mau mereka mengangkat rahimku."
"Jika tidak diangkat, apa kau setuju dengan pilihan pertama tadi?"
"…" *geleng2*
"Dengar. Aku juga sudah membicarakan kepada orangtuamu. Mereka juga dengan berat hati setuju dengan pilihan kedua."
"Orangtuaku setuju dengan pengangkatan rahimku?"
"Ya, karena mereka tidak ingin terjadi hal-hal yang lebih mengerikan dari ini. Jika ke depannya pengobatan itu tidak berujung kesembuhanmu, akan sangat membahayakan keselamatanmu."
"…"
"Maka itu…kita sama-sama harus menguatkan diri dengan pilihan kedua."
"Aku…tidak akan bisa hamil lagi..."
"Iya, Mit-chan. Aku tahu…"
"Aku tidak bisa memberikan keturunan padamu, Kippei. Lalu bagaimana caranya supaya aku bisa berguna untukmu?" *gelisah*
"Mitchan. Coba dengarkan aku sekarang."
Aku meraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat. Aku duduk di pinggiran tempat tidur supaya bisa lebih dekat dengannya.
"Kita sudah kehilangan sesuatu yang berharga. Jika kau tetap hidup dengan tumor ganas dalam rahimmu, itu sama saja dengan aku membiarkanmu mati pelan-pelan, Mit-chan."
"…"
"Demi Tuhan, aku tidak mau kehilangan lagi. Kau begitu berharga untukku. Maka jangan biarkan aku mengalami kejadian kehilangan ini untuk kedua kalinya."
"Tapi…tapi…bagaimana dengan rencana kita sejak awal…"
"Mit-chan. Sekali lagi aku katakan padamu. Tuhan paling berhak menentukan apa yang direncanakan manusia. Jika memang ini sudah menjadi keputusan-Nya, kita harus kuat menerimanya. Tapi tidak berarti kita harus pasrah dan tidak berbuat apa-apa setelahnya."
"Kippei…"
"Jika rencana kita gagal, maka kita harus merencanakan lebih baik lagi. Semua akan dimulai dari nol. Ini berat, dan aku yakin kita mampu."
"…"
"Aku janji, segalanya akan lebih baik. Dan aku membutuhkanmu untuk bisa memulainya. Maka itu, jangan putus asa, sayang."
"Kau…tidak membenciku, Kippei?"
"Untuk apa aku membencimu?"
"Karena aku sudah mengecewakanmu. Aku menggagalkan segalanya…"
"Sampai kapan pun, aku akan selalu mencintaimu."
(huaaaaa….so sweet! X3 unyu unyu…*digorok Tachibana*)
Aku menghapus air matanya. Aku memeluknya dan menguatkannya. Rasa sakit hatiku bertambah saat mendengar dia mengisak dalam pelukkanku. Demi Tuhan, aku tidak akan membuat dia menangis lagi.
"Jadi, kau siap untuk operasi pengangkatan rahim, Mit-chan?"
"Aku ingin kau selalu mendampingiku sampai operasinya selesai."
"Tentu saja, aku akan menuggumu selalu."
Aku tahu dia keberatan, aku tahu dia menyetujuinya setengah hati. Tetapi akhirnya dia sadar akan posisinya yang semakin terancam. Keputusan ini sudah sangat bijak. Seperti yang aku bilang padanya tadi, aku tidak mau kehilangan apapun yang berharga dalam hidup ini.
Manusia merencanakan, belum tentu pula mereka bisa menentukan hasil akhirnya. Maka itu, aku harus bisa meyakinkan dirinya bahwa segalanya akan kami mulai dari awal dan harus bisa lebih baik dari yang sebelumnya…
Owari~
Hm…sebenernya mau bikin sad ending. Tapi terus terang, saya gak tega nulisnya. Saya suka banget pairing ini. Sampe kapan pun, bikin cerita tentang mereka harus happy ending!
Tezuka : *geleng2* capek jadi cewek, malah pake nangis segala. Apa pula dengan ngangkat rahim itu? *logat Batak*
Tachibana : woy, tanggung jawab nih! Kasian Tezuka tau! *siap dengan stik golf*
kRieZt : tapi aku sukses bikin kalian tambah lengket khan?
Tezuka : bisa keluar dari sini? *death glare ke author*
kRieZt : siapa yang keluar? keluar dari mana? *cengo'*
Tachibana : ELO, yang keluar dari FF INI! *ditendang keluar pake stik golf*
kRieZt : *mendarat dengan tidak sukses di planet Pluto*
monggo, yang mau comment/review…^^;
