Genre : Family/Drama

Rate : T

Disclaimer : I don't own. Please do not sue.

Warning : nation names, possibly OOC, shounen-ai, bad languages and mention of male pregnancy. If you have a problem with it, feel free to leave.

Summary of previous chapter : Indonesia mulai khawatir setelah mengetahui ternyata Belgium yang memberitahu Spain tentang masalah keluarganya. Dia tidak ingin jika adik iparnya itu memberitahu Netherlands tentang hubungannya dengan Spain. Lalu, apakah yang akan dilakukan Netherlands dalam usahanya mencari tahu tentang siapa ayah kandung Bhineka?

Please enjoy…

Chapter 6

. . .

. .

.

Netherlands mengawasi bayangannya di dalam cermin dengan wajah masam. Matanya bergerak naik-turun, mengecek dirinya sendiri yang sedang mengenakan setelan jas berwarna abu-abu tua, dengan kemeja sutra biru muda dan dasi biru tua bergaris putih miring kecil-kecil. Tangannya bergerak naik, menyisir rambutnya yang malam itu—sesuai instruksi ibunya— bebas dari jel, sehingga membingkai wajahnya dengan rapi. Bibir Netherlands mengerucut makin dalam. Dia paling tidak suka dengan penampilan yang terlalu rapi seperti itu.

"Netherlands~"

Suara ibunya terdengar memanggil dari luar, membuat Netherlands menghentikan kegiatannya mematut diri di depan cermin. Melirik bayangannya sekilas untuk yang terakhir kali, pemuda jangkung itu akhirnya berjalan ke arah pintu dan membukanya.

"Ya, Ma?" tanyanya malas.

"Ayahmu berkata bahwa mobil sudah si—mijn God!(1)" pekik Mrs. Holland gembira melihat penampilan putranya. "Kau tampan sekali, Nak!" serunya seraya mencubit pipi pemuda itu dengan gemas.

"Kenapa Mamma harus heran?" gerutu Netherlands seraya mengusap-usap pipinya. "Apa biasanya aku terlihat jelek?"

"Oh, biasanya kau tampan. Tapi hari ini kau luar biasa tampan sekali," ujar ibunya seraya tertawa kecil. "Kau sepertinya bersemangat untuk membuat kesan pertama yang baik terhadap calon pasanganmu."

Netherlands memutar mata mendengarnya. Dia sendiri belum pernah bertemu dengan pemuda yang dijodohkan dengannya itu, buat apa dia harus repot-repot? Dan lagi, orangtuanya benar-benar konyol. Menjodohkannya dengan sesama lelaki? Bukannya Netherlands bermasalah dengan itu—baginya perasaan tidak bisa dibatasi hanya dengan perbedaan, atau dalam hal ini persamaan, jenis kelamin—hanya saja hal itu membuatnya sangat penasaran. Apa sudah tidak ada lagi perempuan yang dianggap cocok untuk menjadi pendampingnya?

"Yeah, terserah," ujar Netherlands akhirnya. Dia melangkah keluar kamar kemudian menutup pintu di belakangnya. "Mamma bilang tadi Papa sudah siap?"

"Oh, benar! Papa sudah menunggu dalam mobil di halaman depan. Ayo cepat kita kesana!" seru Mrs. Holland bersemangat, kemudian menggandeng lengan Netherlands untuk mengikutinya berjalan ke halaman.

"Kau terlihat sangat berkharisma, Nethere," komentar Mr. Holland ketika istri dan putranya telah masuk ke dalam Lamborghini hitam mereka. "Mirip dengan Papa waktu masih muda dulu."

Mrs. Holland mengeluarkan pekik senang tanda setuju, sementara Netherlands hanya mendengus.

Orang tua…

Selama perjalanan, Netherlands tak banyak bicara. Perhatiannya tercurah untuk mengawasi pemandangan di luar, hanya bergumam beberapa kali tiap ibu atau ayahnya mengajukan pertanyaan. Pikirannya melayang kepada bayangan akan seseorang yang belum pernah dilihatnya sama sekali, seseorang yang diharapkan akan menemaninya menghabiskan sisa waktu hidupnya. Seperti apa rupanya? Bagaimana sikapnya? Atau yang paling penting, siapa namanya?

Netherlands merasa seluruh acara perjodohan ini makin konyol ketika ingat bahwa dia tidak mengetahui siapa nama calon pasangannya. Orangtuanya menganggap hal itu akan menjadi kejutan yang menyenangkan baginya jika hari untuk saling bertemu telah tiba. Netherlands sama sekali tidak mengerti kenapa orangtuanya bisa berpikir seperti itu, namun dia merasa seperti tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Ketika penolakannya tentang perjodohan itu sudah tak didengar, dia yakin bahwa protes sekecil apapun juga akan terlewat begitu saja.

Setelah sekitar satu jam perjalanan, Netherlands merasakan bahwa mobil mereka perlahan melambat sebelum akhirnya berhenti sama sekali. Netherlands memicingkan matanya, mencoba memperjelas siluet sebuah bangunan dalam penglihatannya, ketika ayahnya berkata penuh semangat.

"Kita sudah sampai! Ayo, Netherlands. Cepat turun."

Pemuda itu membuka pintu belakang mobil, kemudian menjejak tanah berumput di bawah kakinya. Setelah keluar dari mobil, Netherlands akhirnya bisa melihat dengan jelas bentuk bangunan yang ada di hadapannya itu. Rumah itu besar dan sangat luas, dindingnya terbuat dari material kayu yang kokoh serta berisi beberapa ukiran di sebagian tempat. Modelnya cukup kuno, namun entah kenapa bagi Netherlands rumah itu terlihat cukup menyenangkan.

Dia berjalan mengikuti kedua orangtuanya yang menyusuri jalan setapak di halaman, menuju teras luas di bagian depan rumah. Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda besar, kayunya dipelitur mengkilap dan penuh dengan ukiran-ukiran eksotik. Mr. Holland mengangkat tangannya, kemudian mengetuk dengan pengetuk kuningan yang terpasang di bagian tengah pintunya.

"Tunggu sebentar!" seru sebuah suara laki-laki dengan aksen berat. Mereka mendengar bunyi langkah yang mendekat, sampai akhirnya pintu terbuka dan memperlihatkan sang pemilik rumah.

Pria yang berdiri di hadapan mereka itu seperti sudah memasuki usianya yang ke lima puluh, namun penampilannya masih terlihat kuat dan penuh semangat. Postur tubuhnya tegap, dan tampak sangat berwibawa dalam balutan sebuah kemeja lengan panjang bermotif batik dan celana sutra hitam. Wajahnya yang berwarna kecokelatan dihiasi sebuah senyum lebar, dan mau tak mau Netherlands menyadari kumisnya yang sangat lebat.

"Selamat datang!" seru pria itu dengan gembira. Dia menjabat tangan Mr. Holland kemudian setengah menariknya masuk ke dalam ruangan. "Silakan masuk! Kami sudah menunggu kedatangan kalian semua sejak tadi!"

"Terima kasih untuk sambutan yang sangat menyenangkan, Tuan Nusantara," ujar Mrs. Holland tersenyum hangat ketika mereka semua sudah berdiri di ruang tamu. "Mungkin Anda sudah tahu, tapi ijinkan saya untuk memperkenalkan sekali lagi." Mrs. Holland meletakkan tangannya di punggung Netherlands, mendorongnya sedikit. "Putra sulung saya, Netherlands."

"Oho! Senang bertemu denganmu lagi, Nak!" ujar Tuan Nusantara dengan suaranya yang agak menggelegar, meraih tangan Netherlands dalam sebuah jabatan tangan yang kuat kemudian menepuk pundaknya. "Kau terlihat luar biasa tampan sekarang!"

"Uhm... Terima kasih," ujar Netherlands tersenyum. Dia menyadari bahwa laki-laki itu menggunakan kalimat yang mereferensi bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya, namun Netherlands sama sekali tidak ingat kapan itu terjadi.

Tuan Nusantara sepertinya bisa membaca pikirannya, ketika kemudian dia berkata. "Terakhir kali kita bertemu adalah pada waktu kau masih berumur lima tahun, Nak," ujar pria itu. "Aku akan sangat heran kalau kau masih ingat. Aku saja sudah mulai lupa apa-apa saja yang terjadi saat aku masih berumur di bawah dua puluh tahun."

"Betul. Kita pindah ke luar negeri waktu Tuan Nusantara masih menunggu kelahiran anaknya yang pertama," ucap Mr. Holland seraya memandang berkeliling. "Aku penasaran seperti apa putramu sekarang."

"Ohohoho... Kalau begitu kita ke ruang makan saja. Istri dan anakku pasti sudah selesai menyiapkan makan malam," ujar Tuan Nusantara.

Mereka berempat akhirnya berjalan menuju ruang makan yang terletak di sebelah kiri belakang ruang tamu. Mereka masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas, berisikan sebuah meja panjang oval yang cukup untuk menampung selusin orang, dikelilingi kursi-kursi kayu berukir yang bersandaran tinggi. Di sudut nampak ada sebuah pintu lain, dan mereka melihat seorang wanita mengenakan kebaya berjalan keluar seraya membawa mangkuk besar berisi makanan yang masih panas beruap.

"Dam! Tulpen!" seru wanita itu cerah melihat kedatangan kawan-kawan lamanya tersebut. "Bagaimana kabar kalian?"

"Luar biasa, Pertiwi. Sangat luar biasa," ujar Mrs. Holland tersenyum. Begitu Nyonya Pertiwi meletakkan makanannya di atas meja, dia segera menariknya dalam sebuah pelukan hangat. "Kau sendiri terlihat sangat sehat. Apa yang membuatmu sangat gembira begini?"

"Oh, seolah kau tidak mengetahuinya saja," ujar Nyonya Pertiwi sambil tertawa ringan. Dia menoleh ke samping dan dilihatnya seorang pemuda jangkung berdiri di belakang Tuan Nusantara dan Mr. Holland.

"Dan ini pasti Netherlands!" seru Nyonya Pertiwi sambil berjalan menghampiri mereka. "Gusti... Coba lihat betapa tampannya pemuda ini... Bagaimana kabarmu, Nak?"

"Baik, terima kasih," ujar Netherlands agak kikuk ketika Nyonya Pertiwi mengecup kedua pipinya dengan antusias. "Saya mengharapkan hal yang sama untuk Anda sekeluarga."

"Oh, manis sekali!" ujar Nyonya Pertiwi tanpa dapat menahan diri untuk mencubit pipi Netherlands seperti ibunya tadi dengan gemas. "Ayo, duduklah. Semuanya, silakan duduk."

"Mana putramu?" tanya Mr. Holland seraya memandang berkeliling. Netherlands diam-diam mengusap pipinya yang kena cubit dua kali itu, dan mendapat pandangan tajam dari ibunya. Netherlands langsung menjatuhkan tangannya kembali.

"Aaaaahh, benar! Maaf, ya. Aduh, sampai kelupaan begini," ujar Nyonya Pertiwi sambil tertawa minta maaf. "Dia menyiapkan minuman di dapur, tapi kurasa pasti sudah selesai. Biar kupanggil dulu."

Nyonya Pertiwi berjalan ke pintu di sudut, kemudian mencondongkan badannya sedikit ke ruangan di depannya. "Indonesia? Kau sudah selesai?"

"Ya, Ibu." Sebuah suara yang dalam dan ringan menyahut.

"Kalau begitu, ayo kesini. Tidak baik membuat tamu terlalu lama menunggu," ujar Nyonya Pertiwi. Selama beberapa saat dia hanya berdiri diam disana, namun kemudian dia melangkah mundur ketika seorang pemuda berjalan masuk ke dalam ruangan.

Netherlands tidak tahu kenapa seluruh saraf di tubuhnya menegang ketika menangkap bayangan pemuda di hadapannya itu. Dia masih sangat muda, mungkin usianya sekitar empat atau lima tahun lebih muda darinya. Tak seperti ayahnya yang berpostur gagah, pemuda itu bertubuh ramping dengan kulit langsat muda seperti ibunya, dibalut setelan jas berwarna hitam dan kemeja satin merah tua. Dia membawa dirinya dengan baik, berjalan dengan anggun kendati pun kedua tangannya menyangga baki berisi setengah lusin gelas minuman. Dia meletakkan baki minumannya di atas meja, kemudian melangkah mundur untuk berdiri di samping ibunya.

"Ini dia tokoh utamanya," ujar Nyonya Pertiwi tersenyum, seraya meletakkan tangannya di punggung pemuda itu. "Dam, Tulpen, ini Indonesia."

"Salam," kata Indonesia menunduk sopan.

"Ah, Nak! Tidak perlu terlalu formal begitu," ujar Mr. Holland yang diikuti anggukan setuju dari istrinya. "Nah, Netherlands. Sudah waktunya kau memperkenalkan diri juga."

Netherlands menghembuskan napas yang tanpa sadar ditahannya sejak tadi. Pemuda itu—Indonesia—mengangkat wajahnya untuk memandang ke arahnya. Netherlands mendapati dirinya tak tahu harus bicara apa, sesaat otaknya serasa kosong melihat bola mata hitam itu, yang balas menatapnya dengan penuh ekspektasi. Setelah beberapa momen yang melibatkan penarikan seluruh pengendalian dirinya untuk berfungsi normal kembali, Netherlands akhirnya berhasil mengeluarkan kata dengan sedikit terputus.

"Ah... halo...," gumamnya pelan.

"Nah, kalian bisa mengenal lebih dekat nanti," kata Tuan Nusantara dengan nada tawa dalam suaranya. "Ayo, Pertiwi, Indonesia. Sebaiknya kita semua duduk untuk menikmati makan malam sebelum semuanya menjadi dingin."

Nyonya Pertiwi duduk di sebelah suaminya yang menempati posisi di kepala meja, sementara Indonesia duduk di sebelah ibunya, sehingga tepat menghadap Netherlands. Pemuda Belanda itu tidak tahu kenapa dia tiba-tiba merasa gugup hingga dia memegang sendok dan garpu dengan posisi terbalik. Cepat-cepat ditukarnya kembali sebelum ada yang menyadari.

Makan malam itu dihiasi dengan banyak obrolan antar orang tua. Tuan Nusantara dan Nyonya Pertiwi banyak menanyai Netherlands, sementara Mr. dan Mrs. Holland banyak menanyai Indonesia. Netherlands merasa sedikit kesal ketika menyadari bahwa Indonesia terlihat sangat santai dan tenang, sementara dirinya sendiri agak kesusahan menjawab tanpa terbata-bata. Kenapa pemuda itu tidak merasa gugup sama sekali?

Namun terlepas dari hal tersebut, Netherlands mengetahui beberapa informasi dari jawaban-jawaban yang diberikan Indonesia. Bahwa dia baru saja lulus kuliah. Bahwa dia sesungguhnya bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Bahwa dia punya kebiasaan untuk menutupi mulut dengan tangan jika sedang tertawa...

Tunggu! Itu tidak ada hubungannya sama sekali, 'kan?

Jauh dari apa yang telah diprediksikannya, Netherlands merasa saat itu dirinya agak kacau. Dan dia bukan orang bodoh untuk tidak menyadari bahwa penyebab hal itu adalah pemuda yang sekarang duduk di hadapannya, menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan orangtuanya—mulai dari yang sederhana sampai yang paling absurd—dengan senyum ramah yang sepertinya tak butuh waktu lama untuk bisa menggoyahkan seluruh pertahanan Netherlands.

Sesungguhnya, Netherlands bukanlah tipe orang yang mudah percaya dengan hal-hal romantis, seperti jatuh cinta pada pandangan pertama dan sebagainya. Namun dia akan sangat heran, jika seluruh sensasi asing menyenangkan yang dirasakannya saat itu bukanlah tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta. Netherlands merasa dirinya sedang kembali menjadi seorang remaja kelebihan hormon, ketika mengawasi Indonesia yang tertawa atas lelucon dari ayahnya, kemudian beradu pandang dengan dirinya sebelum mengubah tawanya menjadi senyum dan menurunkan pandangannya.

Oh... Bersikap sangat manis seperti itu, jika dilakukan oleh laki-laki, seharusnya bisa dianggap sebagai tindak kejahatan.

Netherlands mendapati bahwa dirinya tak begitu mengusik makan malamnya ketika orang-orang di meja mulai membereskan piring mereka. Indonesia bangkit berdiri, tangannya sudah hendak mengangkat panci porselen besar yang berisi sisa kuah soto, ketika Nyonya Pertiwi segera menahannya.

"Biar Ibu saja yang mengerjakan," kata Nyonya Pertiwi dengan lembut, seraya melirik Netherlands yang masih agak bengong di kursinya. "Sebaiknya kau ajak Netherlands jalan-jalan berkeliling di taman depan rumah, mungkin sambil sedikit mengobrol."

"Ah, baik," ujar Indonesia yang tampaknya mengerti akan apa yang coba dilakukan ibunya. Dia berganti menoleh Netherlands, kemudian mengangguk kecil. "Ayo," ajaknya perlahan.

Netherlands bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mengikuti Indonesia keluar ruangan. Dia berjalan melewati ibunya yang tersenyum aneh sambil mengedip-ngedip tak jelas, namun Netherlands tak begitu mengacuhkannya. Indonesia telah sampai di teras depan dan Netherlands bergegas menyusulnya.

"Sebelah sini," ujar Indonesia ketika Netherlands telah sampai di dekatnya. Mereka berjalan bersisian, menuruni undakan di samping teras, kemudian menyusuri jalan setapak yang membelah halaman menuju bedeng-bedeng bunga yang tumbuh di pinggiran halaman.

"Kebun ini, Ayah sendiri yang mengerjakan," ucap Indonesia ketika mereka berjalan menyusuri jalan kecil yang memisahkan antara bedeng bunga dengan halaman berumput. "Menghabiskan waktunya untuk merawat tanaman-tanaman ini sejak pensiun."

"Sepertinya ayahmu adalah orang yang sangat menyenangkan dan penuh semangat masa muda," komentar Netherlands melihat deret-deret bunga seruni, mawar, melati dan bougenville yang tampak rapi dan manis. "Ayahku hampir tak punya waktu untuk sekedar melihat apakah rumput di halaman sudah dipangkas atau belum."

"Mungkin beliau hanya benar-benar sibuk," ujar Indonesia tersenyum penuh pengertian. "Ah. Sebaiknya kita mengobrol disini saja."

Indonesia mengajaknya duduk di sebuah bangku kayu di sudut halaman, yang menghadap ke arah sepetak tanah berisikan rumpun-rumpun bunga sepatu. Ada sebuah lampu taman yang menyala redup dengan sinar kebiruan, dan ketika Netherlands mendongak, dia dapat melihat teras depan rumah dengan jelas. Indonesia mendahului duduk di salah satu sisi bangku kayu tersebut, membuat Netherlands bingung apakah dia harus duduk di dekatnya atau tidak. Dia akhirnya mengambil langkah aman, duduk dalam jarak setengah meter agar tak terlalu menginvasi area personal.

"Jadi..." Tanpa diduga, Indonesia yang lebih dulu bicara untuk memecah keheningan di antara mereka. "...kita akan menikah, eh?"

"Yah, kira-kira seperti itu," gumam Netherlands kemudian menoleh Indonesia. "Kau tidak terlihat antusias dengan seluruh urusan ini."

Indonesia menaikkan sebelah alisnya. "Kurasa aku akan mengatakan bahwa dalam hal ini kita sama," ujarnya dengan nada mengutarakan fakta yang sudah tak perlu ditanyakan lagi. "Kau juga menganggap ini semua konyol, 'kan?"

Netherlands mendengus. "Harus kuakui, semua ini sama sekali tak seperti apa yang selama ini kubayangkan," ujarnya.

"Oh... Aku mengerti bahwa aku mungkin tak sesuai dengan yang kau harapkan," ujar Indonesia kembali tersenyum memaklumi. "Maaf jika menurutmu aku mengecewakan."

"Eh? Tidak! Bukan begitu!" seru Netherlands cepat ketika menyadari ucapannya telah disalahartikan. "Memang tak seperti yang kubayangkan, tapi bukan dalam artian negatif."

"Jadi... kau mau menikah denganku?"

"Kenapa tidak?"

Netherlands menggigit bibirnya menyadari implikasi dari kalimatnya, bahwa dia lebih dari bersedia untuk menikahi Indonesia. Menyadari bahwa sudah sangat terlambat untuk mengoreksi kata-katanya, Netherlands akhirnya berkata pelan,

"Yah, maksudku... awalnya aku memang menolak," gumamnya lirih, dan entah kenapa, memandangi sepatunya kini jadi menarik sekali. "Tapi kurasa, sekarang aku berubah pikiran."

Gara-gara kau, tambah Netherlands dalam hati, yang tentu saja tidak disuarakannya. Namun tampaknya Indonesia mengerti akan hal itu karena dia menunduk, dan cahaya suram lampu taman tak sanggup menutupi sepenuhnya rona merah jambu di pipi yang polos itu.

"Ah... Jadi awalnya kau menolak?" ujar Indonesia. Dia akhirnya kembali mendongak untuk menatap Netherlands. "Kenapa?"

"Seperti katamu, mulanya bagiku ini semua terdengar sangat konyol," ujar Netherlands menghembuskan napas berat. "Kita berdua dijodohkan, padahal sama sekali tidak mengenal satu sama lain—aku bahkan tidak tahu namamu sampai sore tadi. Bagaimana mereka bisa kepikiran sampai kesana, coba?"

"Kata Ibu, orang tua kita sudah membuat janji untuk menjodohkan putra sulung masing-masing sejak kita masih kecil," kata Indonesia yang disambut dengus jengkel sang pemuda Belanda.

"Benar-benar sinting," ujar Netherlands, kemudian buru-buru ditambahkannya, "Maksudku, orangtuaku yang sinting. Orangtuamu... yah..."

"Hahaha... Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak tersinggung," kata Indonesia nyengir. "Kurasa aku sepaham denganmu untuk urusan itu."

Netherlands menggaruk kepalanya. "Bagaimanapun juga, itu keputusan sepihak yang tidak dipikirkan matang-matang tentang dampak jangka panjangnya sama sekali," ujar Netherlands sambil menerawang. "Untung saja aku tidak punya pacar. Bayangkan saja kalau aku mencintai orang lain, kemudian dipaksa untuk menikah dengan orang yang sama sekali asing bagiku. Mungkin aku akan kabur dan kawin lari dengan pasanganku saja."

Jika seandainya pandangan Netherlands tidak tertuju ke arah bintang-bintang di langit, dia pasti akan melihat ekspresi Indonesia berubah kosong dan pandangan matanya terlihat hampa. Namun pemuda itu mengubahnya dengan cepat, sehingga ketika Netherlands kembali menoleh ke arahnya, wajah Indonesia sudah kembali terlihat ceria.

"Kau benar," ujar Indonesia perlahan. Suaranya memberi kesan seolah datang dari tempat yang sangat jauh. "Kau sangat beruntung bahwa kau tidak punya pacar sebelum terlibat dengan urusan ini."

Netherlands sudah membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, ketika terdengar suara seseorang memanggilnya dari kejauhan.

"Netherlands~"

Kedua pemuda itu menoleh dan melihat bahwa kedua orangtua mereka telah berkumpul di teras depan. Kelihatannya Mr. dan Mrs. Holland memutuskan untuk mengakhiri kunjungan mereka.

"Oh, well... Kurasa sudah waktunya aku pulang," ujar Netherlands seraya bangkit berdiri. Dia menoleh dan melihat bahwa Indonesia juga telah berdiri di sebelahnya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu, sehingga dia hanya berkata kikuk, "Ah... Yah, sampai jumpa..."

Netherlands sudah berbalik. Namun sebelum dia sempat melangkah pergi, Indonesia telah memegang lengannya, kemudian menariknya untuk saling berhadapan lagi. Sebelum Netherlands bisa berkata apapun, Indonesia sudah berjingkat kemudian mengecup bibirnya sekilas.

"Selamat malam," kata Indonesia sambil tersenyum lembut, suaranya tak lebih dari sekedar bisikan. Netherlands mendapati dirinya tak bisa berkata apa-apa selain mengangguk kemudian berucap lirih,

"Yeah, selamat malam...," gumamnya kemudian kali ini benar-benar berbalik dan berjalan pergi. Pikirannya serasa kosong, bahkan dia tidak merespon ketika Tuan Nusantara dan Nyonya pertiwi mengucapkan selamat jalan. Masih setengah linglung, Netherlands masuk ke mobil, disambut oleh ibunya yang segera memutar tubuh untuk menatapnya dari jok depan dan bertanya antusias,

"Bagaimana?"

Dan saat itu Netherlands berpikir, bahwa perjodohan itu bukanlah hal yang konyol sama sekali.

. .

.

~ Shattered Bond ~

.

. .

Sinar matahari terasa menyengat, menerobos penglihatannya melalui kelopak matanya yang tertutup. Masih dengan terpejam, Netherlands bangkit duduk kemudian mengucek-ucek mata dengan tangan yang terkepal. Memandang berkeliling dengan mata disipitkan, pria itu menyadari bahwa di ruangan itu dia hanya seorang diri.

Netherlands merengut samar ketika teringat akan mimpinya, tentang sebuah kejadian dimana awal perjodohannya dengan Indonesia dimulai. Sampai sekarang, dia masih belum sepenuhnya mengerti bagaimana dia bisa secepat dan semudah itu jatuh cinta pada Indonesia. Pesonanya seperti sihir, membuatnya terjerat tanpa bisa melakukan apa-apa untuk melepaskannya.

Netherlands menghela napas. Mau tak mau, hal itu mengingatkannya lagi akan masalah yang sedang terjadi dalam keluarganya saat itu. Terngiang kembali akan kata-kata Indonesia beberapa waktu lalu, bahwa sesungguhnya pemuda itu memiliki seorang kekasih pada saat dijodohkan dengannya. Netherlands mendengus. Betapa dia adalah seorang pemuda brengsek yang tidak peka saat mengucapkan pengandaiannya di malam pertemuan pertama mereka dulu. Indonesia pasti merasa sangat tertohok.

Tapi sekarang dia yang sakit hati, batin Netherlands getir, memikirkan betapa tidak menyenangkannya efek sebuah karma. Dia duduk termenung menatap ke luar jendela, tersenyum ironis mengingat ketidakadilan hidup. Saat dia telah menyerahkan hatinya untuk Indonesia, dia sama sekali tidak menyadari bahwa cinta pemuda itu masih sepenuhnya milik orang lain.

Siapa?

Semakin dipikirkan, Netherlands menjadi semakin penasaran akan identitas mantan kekasih Indonesia. Meskipun tidak seratus persen yakin, tapi setidaknya orang itu punya kemungkinan yang cukup besar untuk dijadikan partner berhubungan Indonesia. Netherlands menggigit bibirnya. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana Netherlands sanggup mempertahankan batas kesabarannya menghadapi penghianatan Indonesia.

Netherlands bangkit dari tempat tidur, bergerak menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh muka. Setelah selesai, dia segera turun ke dapur dan mendapati bahwa di sana juga tak ada orang. Netherlands mengerutkan alisnya, sampai dia menemukan secarik kertas berisikan catatan yang ditujukan kepadanya, ditempelkan dengan selotip di pintu lemari es.

(Maaf tidak membangunkanmu. Aku tahu kau pasti lelah sekali, jadi kubiarkan kau tidur sedikit lebih lama. Aku pergi berbelanja sendirian, karena aku tak ingin mengganggu istirahatmu. Sarapan ada di bawah tudung saji, mungkin kau perlu memanaskannya lagi. Semoga harimu menyenangkan.

Kasih,

Indonesia)

Netherlands tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Indonesia benar-benar seorang pasangan yang penuh pengertian, perhatian, serta kasih sayang. Netherlands percaya bahwa cinta yang ditunjukkan padanya semenjak kelahiran Bhineka adalah perasaan yang tulus. Dan dia menyayangkan, sangat menyayangkan bahwa harus ada tragedi yang menyedihkan terjadi pada keluarganya. Dia tahu Indonesia merasa sangat bersalah, penyesalannya terlihat sungguh-sungguh. Hal itu membuat Netherlands semakin ingin mengetahui identitas ayah Bhineka, apa yang telah dilakukannya sehingga berhasil membuat Indonesia menghianati kesetiaannya.

Netherlands membuka tudung saji dan menemukan beberapa potong sandwich telur dan ham, serta sosis goreng. Netherlands duduk kemudian memakan sarapannya yang sudah agak dingin tersebut, sementara otaknya merenungkan hal-hal yang harus segera dia lakukan.

Kalau dipikir-pikir, Netherlands hampir tidak tahu banyak soal kehidupan masa lalu Indonesia sebelum menikah dengannya. Dia hanya tahu bahwa pria itu dulu pernah kuliah di Mediteran Institute, mengambil jurusan ilmu keguruan dan lulus dalam waktu tiga setengah tahun. Sebuah prestasi yang cukup mengagumkan, tapi selain itu, Netherlands tidak tahu apa-apa lagi. Dia mulai menyesal tidak pernah menggunakan waktu mengobrol mereka untuk bertanya lebih banyak soal kenangan-kenangan lama Indonesia.

Netherlands sudah setengah jalan hendak menghabiskan sandwich-nya ketika sebuah pemikiran mendadak terlintas dalam benaknya. Romano. Ya, Romano juga kuliah di Mediteran Institute meskipun berbeda tahun dengan Indonesia. Dia pasti tahu sesuatu tentang siapa-siapa saja yang pernah memiliki hubungan spesial dengan kakak iparnya itu.

Dengan semangat bahwa dia akan mendapatkan informasi yang berguna dari Romano, Netherlands segera menghabiskan sisa sandwich-nya dalam sekali suapan. Buru-buru dibereskannya piring bekas sarapannya sebelum berlari naik untuk segera ke kamar mandi. Tiga puluh menit kemudian, Netherlands sudah berada dalam Bentley-nya, bersiap menuju kediaman Romano sebelum teringat bahwa dia dan Belgium akan mengunjungi Bhineka di rumah sakit. Netherlands menghela napas. Hal terakhir yang diinginkannya adalah putrinya memergoki dirinya berusaha mengorek informasi tentang ibunya, kemudian gadis itu akan mengetahui permasalahan yang sedang terjadi dalam keluarganya.

Namun tampaknya keberuntungan masih berpihak pada sang pria Belanda. Ketika dia membuka pintu kamar Bhineka, tak tampak adanya tanda-tanda keberadaan gadis itu. Dia hanya menemukan Romano sedang duduk termenung di sofa, sementara di sampingnya Belgium tampak merajut sesuatu menggunakan benang wol berwarna jingga. Wanita itu mendongak dan tersenyum menyambut kedatangan kakaknya.

"Pagi, Nethere."

Ucapan tersebut tampaknya menyadarkan Romano dari lamunannya ketika akhirnya dia menoleh.

"Eh, pagi," ujar Romano seraya memperbaiki posisi duduknya. "Kau tidak pergi ke kantor?"

"Sebentar lagi," gumam Netherlands kemudian mengambil tempat duduk di sisi lain sofa. "Dimana Bhineka?"

"Tidak tahu. Tadi bilangnya mau jalan-jalan dengan suster cantik yang biasa berjaga di meja resepsionis," jawab Romano. "Namanya Liechtenstein kalau tidak salah."

Belgium memberinya pandangan tajam dan Romano mengangkat sebelah alis. "Kenapa?" tanyanya bingung.

"Darimana kau tahu namanya?"

"Ada di label nama seragamnya. Dan tadi dia juga memperkenalkan diri sebelum mengajak Bhineka pergi."

"Untuk apa kau mengingatnya?"

"Entah. Siapa tahu kita ingin mencari Bhineka, 'kan? Para staff pasti tahu siapa ada dimana jika kita bisa menyebutkan namanya."

"Kau tidak berusaha mengingatnya untuk mencari tahu nomor teleponnya, 'kan? Kemudian mengajaknya makan malam di suatu tempat, begitu?"

"Astaga, Belgie..." keluh Romano seraya menghela napas panjang. "Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu? Apa kau tidak bisa menggunakan logika sedikit saja?"

"Siapa yang tahu, 'kan?" kata Belgium mencibir, kemudian menambahkan dengan sedikit lebih pelan. "Aku mulai jadi sensitif dengan soal perselingkuhan sekarang."

Netherlands berdehem agak keras, sebagian untuk mengingatkan pasangan tersebut bahwa dia masih di sana, sebagian lagi karena dia tidak ingin mendengar topik pembicaraan yang menyangkut perselingkuhan lagi. Kata itu sekarang seperti sebuah tabu baginya. Tiap kali mendengarnya, dia akan dikuasai perasaan sesak dan tak nyaman. Dia tidak ingin mood-nya turun setelah tadinya bersemangat untuk menyelidiki identitas mantan kekasih Indonesia.

Romano tampaknya menyadari hal itu juga ketika dia segera menoleh Netherlands. "Maaf," gumamnya kemudian melanjutkan dengan lebih keras, "Kau kemari untuk menjenguk Bhineka?"

"Yah, bisa dikatakan seperti itu. Tapi itu bukan tujuan utamanya," ujar Netherlands. Dia menoleh Belgium sebentar sebelum kembali menatap Romano. "Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."

"Soal apa?" tanya Romano.

"Um... Soal..." Netherlands sendiri bingung bagaimana cara mengungkapkan keingintahuannya. Setelah berpikir sesaat, pria itu akhirnya memutuskan untuk mencari jalan memutar.

"Er... Dulu kau sempat satu kampus dengan Indonesia, 'kan?"

"Ya. Tapi Indonesia termasuk angkatan yang dua tahun di atasku."

"Apakah kau akrab dengannya?"

"Tidak terlalu. Kami biasa mengobrol kalau ketemu di kafetaria, atau jika sedang ada kegiatan klub," ujar Romano. Dia menajamkan matanya ketika memandang Netherlands dengan heran. "Kenapa?"

"Ah, tidak. Aku hanya... hanya..." Netherlands menelan ludah dengan samar, lalu melanjutkan dengan suara yang agak mengambang, "aku hanya penasaran apakah kau bisa memberitahuku jika kau mengenal siapa saja yang pernah terlibat hubungan percintaan dengan Indonesia semasa kuliah dulu."

Perlu waktu beberapa lama sampai kalimat Netherlands berhasil diolah otak Romano.

"Oh," ujarnya ketika telah memahami apa yang dimaksud oleh kakak iparnya. "Oh, yah... Soal itu... aku kurang tahu. Maaf..."

Tentu saja Romano berbohong. Dia tahu pasti siapa saja yang pernah menjadi pacar Indonesia, atau bahkan orang yang pernah mengejar-ngejarnya semasa kuliah dulu. Dia mengerti bahwa Netherlands bermaksud untuk menyelidiki siapa saja yang berkemungkinan menjadi ayah kandung Bhineka. Namun entah kenapa, Romano merasa bahwa sebaiknya Netherlands tidak perlu mengetahuinya. Terlebih lagi jika itu menyangkut satu orang tertentu yang sebisa mungkin harus dihindari.

"Jadi kau tidak tahu?" tanya Netherlands yang tidak bisa menyembunyikan nada kecewa dalam suaranya. "Tapi kupikir kau satu kampus dengannya."

"Memang, tapi pergaulan kami berbeda," ujar Romano. "Lagipula, Indonesia itu bukan mahasiswa populer. Kalaupun dia punya pacar, tidak mungkin seisi kampus bisa tahu, 'kan?"

"Benar juga," ujar Netherlands agak lesu. Tadinya dia sudah sangat yakin akan dapat suatu informasi, tapi ternyata tidak ada hasilnya sama sekali. "Lalu, kau juga tidak kenal dengan orang-orang yang berteman baik dengan Indonesia?" tanyanya penuh harap.

"Tidak, aku—"

"Romano, kau ini bicara apa?" ujar Belgium memotong kalimat suaminya. "Kau 'kan kenal Espagna. Dia pasti tahu sesuatu tentang Indonesia. Mereka satu angkatan, 'kan?"

Nadanya terdengar ringan dan datar, namun Romano yakin sekali ada sesuatu yang disembunyikan di balik wajah polos Belgium.

"Spain?" ulang Netherlands. Dahinya mengerenyit penuh ketidaksukaan mendengar sebutan akan namanya. "Dia mantan pacar Indonesia?"

"Belgium tidak bilang begitu," kata Romano cepat-cepat, khawatir wanita itu akan memotongnya lagi. "Dia cuma bilang bahwa mungkin mereka pernah berteman. Hanya itu."

"Hmpphh," Netherlands mendengus tak senang. Dia tak menyangka bahwa dirinya harus berhubungan dengan Spain untuk bertanya sesuatu tentang Indonesia. Tapi melihat keadaannya, sepertinya dia tidak punya pilihan lain.

"Baiklah. Kurasa sudah waktunya aku pergi ke kantor," ujar Netherlands seraya bangkit berdiri. "Sampaikan salamku untuk Bhineka kalau dia sudah kembali."

"Oke," ujar Romano.

"Hati-hati di jalan," Belgium menambahkan.

Netherlands mengangguk, kemudian berjalan keluar ruangan. Tak sampai dua menit, pintu kembali terbuka dan dua orang gadis berjalan masuk.

"Terima kasih sudah menemani saya berjalan-jalan, Suster," kata Bhineka sambil tersenyum cerah.

"Sama-sama," ujar perawat muda itu kemudian menoleh Romano. "Saya akan kembali ke resepsionis. Kalau sekiranya Nona Bhineka membutuhkan sesuatu, Anda bisa menghubungi saya, Mr... umm..."

"Belgium," ujar wanita itu segera, bahkan sebelum Romano sempat membuka mulut. "Itu nama saya. Anda tidak keberatan jika bukan suami saya yang menghubungi Anda, 'kan?"

"Eh... Oh... Tidak," ujar perawat itu dengan agak gugup dan bingung, "Tidak sama sekali."

"Bagus," ujar Belgium. "Nah, Anda bisa pergi sekarang, 'kan?"

"Ah, iya... Kalau begitu... umm... permisi."

Gadis berambut pirang pendek itu cepat-cepat menyingkir dari ruangan tersebut. Begitu pintu sudah tertutup di belakangnya, Bhineka langsung meledak tertawa.

"Bibi Belgium cemburu!" serunya geli.

Belgium hanya tersenyum menanggapi, sementara Romano mengerang dengan tangan menekap wajahnya.

"Dasar perempuan..."

Sementara itu, Netherlands telah mengemudikan mobilnya dengan selamat sampai ke VO Company. Dia memarkirkan mobilnya, kemudian bergegas masuk ke dalam gedung. Dia berpapasan dengan para pegawainya yang hanya tersenyum atau membungkuk mengucap sapa, tanpa ada satu pun yang berkomentar mengenai keterlambatannya. Begitulah istimewanya menjadi seorang pemilik perusahaan. Bisa datang atau pulang semau-mau, dan tak seorang pun akan berani protes jika mereka masih sayang gaji. Atau nyawa.

Netherlands keluar dari elevator, kemudian berjalan menuju ruangannya yang terletak di sayap timur gedung. Artinya dia harus berjalan melintasi separuh bagian gedung, melewati koridor yang penuh dengan para pegawainya yang sedang berlalu-lalang. Netherlands masih setengah melamun memikirkan mimpi serta percakapannya dengan Romano tadi pagi, sehingga kurang begitu memperhatikan jalan dan menabrak seseorang di belokan koridor.

"Ah. Maafk'n s'ya," ujar pria berambut pirang dan luar biasa tinggi yang ditabraknya itu, melihat Netherlands sedikit terhuyung ke belakang.

"Tidak masalah, Sweden. Aku memang tidak memperhatikan jalan," gumam Netherlands seraya merapikan kembali setelan jasnya. Dia melihat setumpuk berkas di tangan pria itu kemudian mendongak. "Apa itu?"

Pria yang dipanggil Sweden itu menunduk ke arah yang ditunjuk atasannya dan melihat beberapa folder berbeda warna yang disangga tangannya.

"Ini audit l'poran keuang'n yang d'kerjakan Danmark, Sir," jawab Sweden. "Fin b'rkata b'hwa Mr. England m'minta s'ya 'tuk memer'ksanya."

Mendengar Sweden menyebut sekretarisnya yang cekatan itu, Netherlands tiba-tiba teringat sesuatu.

"Sweden?"

"Y', Sir?"

Netherlands tidak tahu apa yang telah merasukinya. Namun sebelum dia sempat berpikir dua kali tentang apa yang ingin ditanyakannya, kalimat itu telah meluncur keluar begitu saja.

"Bagaimana seandainya kau menemukan bahwa Finland telah berselingkuh?"

Jika Sweden berpikir dirinya sudah gila, maka dia tidak mengatakannya. Sebaliknya, dia bereaksi dimana hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar jika tiba-tiba atasannya bertanya tentang kemungkinan bahwa istrinya berselingkuh. Sweden memastikan pendengarannya tidak sedang memerlukan perbaikan.

"Maaf?" ujarnya sopan.

Namun tampaknya Netherlands tidak menganggapnya sebagai suatu pertanyaan yang aneh ketika dia mengulanginya dengan lebih jelas. "Bagaimana seandainya kau tiba-tiba mengetahui bahwa Finland berselingkuh? Maksudku, apa yang akan kaulakukan?"

Netherlands tidak tahu apa yang mungkin sedang dipikirkan Sweden, melihat pria itu hanya berdiri diam, memandangnya dengan muka kosong tanpa ekspresi. Dia tidak menyadari bahwa alis kiri pria Skandinavia itu mulai berkedut samar.

"S'ya tak tahu," ujar Sweden pada akhirnya. "Fin b'kan tipe orang s'perti 'tu."

"Ah, kau akan sangat heran melihat bahwa seseorang yang tampaknya begitu polos, namun ternyata mereka menyembunyikan banyak rahasia di belakang punggungnya," ujar Netherlands. Dia teringat pada Indonesia dan semakin yakin bahwa perkataannya itu benar. Mawar cantik yang berduri! "Kau tidak akan pernah tahu apa yang sanggup mereka lakukan..."

"S'ya masih tak m'ngerti apa m'ksud Anda d'ngan p'rtanyaan-p'rtanyaan ini," ujar Sweden yang semakin lama, kedutan di alisnya semakin terlihat.

"Percayalah padaku, aku tidak mempunyai maksud apa-apa," ujar Netherlands kemudian menghela napas. "Aku hanya ingin tahu pendapatmu tentang apa yang mungkin kaulakukan, jika kau berada di situasi semacam itu."

"S'ya..." Sweden tampak kehilangan kata-kata. Wajahnya masih tak menunjukkan emosi apapun, tapi iris aquamarine miliknya memancarkan rasa bingung, frustasi, bahkan sedikit rasa takut. Akhirnya dia berkata pelan, "S'ya tak tahu. B'nar-b'nar tak tahu..."

"Yah, baiklah. Jika memang demikian, aku tak bisa memaksamu untuk mengatakan sesuatu, 'kan?" ujar Netherlands mengangkat bahu, terlihat tak acuh meskipun sedikit nada kecewanya tak bisa disamarkan. "Maaf sudah menyita waktumu, Sweden. Silakan kembali bekerja."

Kemudian Netherlands pergi begitu saja, menuju ruangannya dan meninggalkan Sweden yang masih berdiri termangu di belakangnya. Kedua alis pria Swedia itu menyatu, berusaha memikirkan maksud dari pertanyaan aneh Netherlands. Dan ketika sebuah pemahaman masuk ke otaknya, bisa dikatakan bahwa Denmark dan laporan keuangan langsung menguap dari kepalanya.

Netherlands sendiri—tanpa memikirkan efek kata-katanya pada si pria Swedia yang malang—duduk di belakang meja kerjanya sambil kembali memikirkan mimpinya. Mau tak mau, hal itu membuatnya berpikir juga tentang orang lain yang disebut-sebut memiliki hubungan dengan Indonesia.

Spain.

Benarkah mereka dulunya saling kenal? Benarkah hubungan mereka hanya sekedar teman? Atau justru sesuatu yang lebih dari itu? Memikirkannya saja membuat Netherlands merasa muak. Dia sangat membenci Spain—untuk suatu hal yang sesungguhnya berbeda dengan masalahnya yang sekarang—dan membayangkan akan menanyainya soal hubungannya dengan Indonesia benar-benar merupakan uji mental yang sangat berat bagi Netherlands.

Apakah tidak ada orang lain yang bisa dia tanyai, pikir Netherlands muram. Sebisa mungkin, dia benar-benar tidak ingin berhubungan dengan Spain di luar urusan kantor. Kalau saja ada orang lain yang dekat dengannya...

Dan Netherlands tersentak seperti disengat listrik ketika teringat akan seseorang yang kemungkinan besar bisa membantunya mendapatkan informasi tanpa perlu berhubungan dengan Spain secara langsung. Setengah merutuki kelambatan cara berpikirnya, Netherlands segera meraih gagang telepon kemudian memencet nomor yang telah dihapalnya di luar kepala. Dia menunggu, dan setelah bunyi dering yang ketiga, seseorang mengangkat panggilannya.

"Iberia Company, selamat siang. Dengan Monaco, ada yang bisa dibantu?"

Netherlands mengenali namanya sebagai sekretaris berkacamata yang selalu hadir dalam setiap pertemuan dengan perusahaannya, dan tanpa membuang waktu segera menyampaikan tujuannya menelepon.

"Tolong sambungkan dengan Mr. Portugal."

"Mohon maaf. Dengan siapa saya berbicara?"

"Netherlands dari VO Company."

"Ah, Mr. Netherlands," suara wanita itu terdengar lebih ramah ketika mengenali siapa lawan bicaranya. "Mohon ditunggu sebentar. Akan segera saya sambungkan ke ruangan Mr. Portugal."

Netherlands mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas permukaan mejanya yang dipelitur mengkilap, bergumam sendiri sementara dia mendengar nada tunggu. Sebelum telepon itu tersambung, dia harus memikirkan baik-baik apa yang ingin dia katakan.

Di tempat lain, saat itu Portugal sedang asyik melamun di meja kerjanya, dan sama sekali tidak memikirkan kemungkinan bahwa seseorang akan menghubunginya. Hidupnya—yang menurut pendapat pribadinya agak membosankan—sudah sedemikian teratur dan monoton, sehingga sebuah dering telepon yang tidak pada waktunya itu cukup mengagetkannya. Selama beberapa saat, Portugal hanya memandangi pesawat telepon itu berbunyi sementara otaknya memikirkan kemungkinan-kemungkinan orang yang ingin menghubunginya.

Pukul sebelas sampai pukul dua belas adalah jam-jam umum dia menerima telepon, untuk membuat janji pertemuan atau sekedar mengajak makan siang bersama. Dia tidak akan menerima telepon untuk tagihan-tagihan, karena hal-hal tersebut langsung ditangani Turkey sebagai Manajer Administrasi. Spain biasa membuat jebakan telepon, tapi dia baru bangun setelah jam makan siang. Siapapun yang dikenalnya, tidak akan menelepon sebelum pukul setengah sebelas. Saat itu baru pukul sepuluh lewat dua puluh menit.

Memutuskan bahwa itu pastilah panggilan salah sambung, Portugal mengangkat gagang teleponnya.

"Ya?"

"Mr. Netherlands sedang menunggu di line2, Sir."

Alis Portugal kini benar-benar berkerut dalam. "Netherlands?" ulangnya agak tidak percaya. "Ada perlu apa dia menelepon?"

"Saya tidak tahu, Sir," ujar sekretarisnya. "Beliau hanya minta untuk berbicara dengan Anda."

Tidak mungkin urusan pertemuan antar perusahaan, pikir Portugal yakin. Baru kemarin mereka mengadakan rapat gabungan, dan mustahil jika mengatur pertemuan untuk dua hari berturut-turut. Dia berhubungan dengan Netherlands hanya untuk urusan bisnis, boleh dikata mereka tidak saling mengenal secara personal. Portugal tidak bisa membayangkan apa yang sekiranya ingin dibicarakan oleh pria itu di luar urusan kantor.

"Baiklah," ujar Portugal setelah lelah berspekulasi. "Tolong sambungkan dengan Mr. Netherlands."

"Mohon ditunggu, Sir," ujar Monaco.

Tak sampai dua detik kemudian, terdengar suara berat seorang pria di ujung sambungan telepon Portugal.

"Halo?" ujarnya hati-hati.

"Ya, ini Portugal sedang berbicara," jawab pria Mediterania itu. "Boleh kutahu apa gerangan yang membuatmu ingin meneleponku, Netherlands?"

"Ah," suara Netherlands menghilang sesaat, namun dia segera bicara lagi. "Aku tidak bisa mengatakannya di telepon. Bisakah kita bertemu di suatu tempat pada waktu makan siang nanti?"

Nah, kini Portugal benar-benar penasaran.

"Untuk urusan apa kalau aku boleh tahu?"

"Nanti, Portugal. Kuceritakan jika kita sudah bertemu. Jadi? Kau ada waktu?"

Portugal menghela napas. Sesungguhnya, dia ada janji makan siang dengan bos perusahaan elektronik-seorang pria muda dari Asia-tapi urusan dengan Netherlands ini benar-benar membangkitkan rasa ingin tahunya. Setelah menimbang-nimbang, dia akhirnya memutuskan untuk mengatur ulang janji makan siangnya dengan si pria Asia.

"Baiklah, Netherlands," ujar Portugal. "Kita bertemu di Restoran Perancis yang baru dibuka minggu lalu, jaraknya sekitar lima blok sebelah barat daya dari kantormu. Pemiliknya adalah sahabat adikku, jadi kurasa kita bisa mendapat pelayanan istimewa darinya. Pukul satu tiga puluh?"

"Itu akan sangat menyenangkan," ujar Netherlands tanpa bisa menyembunyikan senyum dalam nada suaranya. "Aku akan menemuimu di sana pukul satu tiga puluh. Terima kasih, Portugal. Sampai jumpa."

"Sampai jumpa."

Terdengar bunyi dial, dan Portugal mengembalikan gagang telepon ke tempatnya semula. Pria itu bersandar di punggung kursinya yang nyaman, kembali tenggelam oleh lamunannya. Kira-kira, apa yang ingin dibicarakan Netherlands hingga dia tak bisa menyebutnya di telepon? Bila sampai demikian, tentulah hal tersebut bersifat sangat pribadi. Dan Portugal tidak bisa memikirkan sesuatu pun yang menghubungkan dirinya secara pribadi dengan Netherlands. Kecuali...

Indonesia.

. .

.

~ to be continued ~

(1) Mijn God! : My God! [Dutch]

A/N : Heyaaaaaaa! Saya kembali lagi membawa update! Gara-gara sibuk memikirkan challenge, saya sampai lupa kalau masih punya MC yang harus di-update! Wahahahahahaha! *tampar dia*

Yosh! Review reply dulu ya...

Uchiha Ry-chan : ah... Kalau bocoran soal bapaknya Bhineka, jangan lah. Itu 'kan poin utamanya fanfic ini. Kalau buru-buru saya kasih tahu, nanti dirimu gak berminat baca lagi dong... Lagian, 'kan udah banyak hints yang menjurus kesana... Ehehehehe...

Twingwing RuRaKe : Iya! Ini update-nya! XD

Crescent Crystal : Hoho, iya. Spain emang mau saya buat yandere. Biar dia gak ditindas terus. #diseplet Yah, biasalah kalau wanita itu gampang emosian. Ntar lama-lama juga Belgie pasti balik lagi kayak biasanya... :) Semoga dirimu masih berminat, ini update-nya... :)

Al-chan Fernandez : ah, kasihan Indo kalau makin disiksa. :P Kalau saya sempat, saya pasti main ke rumahmu. Untuk sementara, semoga berkenan dengan update ceritanya... :)

Megumi Yoora : Makasih... Makasih... Haha, kok banyak yang gak suka sama Spain disini yah? Dia itu 'kan cuma memainkan peranannya sebagai seseorang yang udah cinta mati sama Indonesia, biarpun si Indo udah bersuami. #dilemparkapak Jangan bosan-bosan baca ya... :)

Kagamiyo Neko : Wahahahaha! Kalau adegan begituan, kayaknya gak bakal ada deh. Lagian ini rate-T, jadi gak enak banget kalau harus diselipkan adegan begitu. Maaf ya... Ehehehehe... Semoga dirimu gak kelamaan nunggu lanjutan ceritanya... :)

Arisa ClaRain : Iya. Ini update-nya... :)

Orenji raiita : Ah, USUK-nya masih gak tahu ada apa gak. Soalnya, abang Angleterre mau saya simpen buat peran lain. Paling brotherly USUK aja. Gak papa ya? Gak papa 'kan? #puppyeyes Ahahaha, ya sudah. Daripada dirimu makin sebel sama Spain, mending baca update ini aja ya. Semoga berkenan...

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih yang teramat sangat buat yang masih bersedia mengikuti ceritanya sampai sini. Akan saya usahakan update gak lama-lama. Usaha. Gak janji loh ya... #dibazoka Ya, sudah! Daripada saya berbasa-basi lama-lama, saya tunggu review saja. Yang sudah baca sampai sini, tega kalian kalau enggak review. Review ya? Review please? #mukamelas

See you on the next chapter! \^o^/