"Hinata's Diary"
All Character is belonged to Masashi Kishimoto-sensei
.
.
.
Sakura menatap layar ponselnya lekat-lekat . Benar sih , tidak ada yang ada yang salah dengan ponselnya itu . Tatapan matanya yang seolah tak percaya itu , hanya menatap layarnya yang berisi sebuah pesan . Pesan ancaman , lebih spesifiknya lagi .
'Bocah tengik , larilah semaumu kalau kau bisa . Tapi aku akan segera mencekikmu sampai kau mati .'
Sekali lagi ia dibuat tercengang oleh pesan teror yang pengirimnya sama persis dengan teroris sepekan yang lalu . Ia semakin takut , apalagi ia sekarang sendirian . Tapi , ekspresinya tetap datar , ia tidak ingin mundur begitu saja karena beberapa kalimat berisi kata-kata kasar yang biasa ia gunakan sebelum berjanji akan merubah sikap .
"Hah... mati... jangan-jangan dia akan merenggut nyawaku sama seperti Hinata... hah... bagaimana bisa ? Apa aku harus bersembunyi ?" desah Sakura geliah . "Bagaimana bisa mantan preman sepertiku diteror orang yang aku tidak tau asal-usul dan identitasnya ? Jangan-jangan mereka ini teroris . Lebih baik aku menelponnya untuk mengetahui suaranya . Kalau perlu , sekalian aku merekamnya ..." ujarnya pelan .
Sakura mengaktifkan ponselnya lagi . Ia mencari pesan yang baru ia dapat tadi dan mengeja nomor telepon itu . Ia menulisnya di dalam kertas , tepatnya di dalam buku diary hinata pada halaman saat Hinata mendapat pesan teror yang sama .
"Hitung-hitung , aku mengupas misteri kematian Hinata . Aku juga penasaran... Hmmm... bagaimana kalau aku memberitahu Naruto ? Boleh juga..." gumam Sakura sambil mengetik nomor yang sudah dicatatnya tadi .
'Tut...tut...tut...' bunyi yang dikeluarkan ponselnya ini semakin membuatnya kesal . Karena ini artinya si penulis kejam itu belum mengangkat teleponnya . Dia benar-benar pengecut rupanya . Berani dalam tulisan tapi takut kalau orang sampai mengenali suaranya . Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja . Ia harus mengetahuinya secepatnya . Ini demi...
'Nomor yang anda panggil tidak dapat dihubungi . Silahkan tinggalkan pesan...'
Demi Hinata . Tapi nyatanya , jalan menuju itu semua sudah terputus . Tapi , ia tidak boleh menyerah begitu saja . Bagaimanapun juga , ia harus berjuang walaupun dulu ia sangat membenci Hinata . Tapi , iitu dulu . Sekarang , ia harus membayar perbuatannya dulu dengan kerja keras . Ya , kerja keras .
"Oke ! Aku harus berjuang ! Tenang , masih ada jalan lain ."
-oo0oo-
Naruto tertidur di ranjangnya . Bukan , ia bukannya sedang berpetualang ke alam mimpi . Ia hanya tidur-tiduran santai , melepas penat setelah pulang sekolah . Di telinganya masih terpasang earphone . Ia sedang mendengarkan musik . Tak henti-hentinya ia bersenandung ria sambil membaca komik . Rasanya rilex sekali .
Tapi , suasana damai nan santai yang biasanya dinikmati secara full oleh Naruto—kecuali kalau dia mempunyai banyak tugas yang harus ia kerjakan tepat waktu , kini terganggu oleh datangnya tamu tak diundang yang membuka pintu kamarnya tanpa permisi . Sikap tidak sopan macam apa ini ? Sudah mengganggu waktu santai orang , datang berkunjung tanpa ketuk pintu pula .
Ia sendiri mengerti kalau di rumah ini sepi , tidak ada seorangpun di rumah ini kecuali dia . Karena keluarganya sedang pergi ke Suna . Tapi , bukan seperti ini cara bertamu yang baik .
"Sakura-chan , apa kau tidak tau cara bertamu yang benar ? Kau belum pernah mengunjungi rumah seorang pria sebelunya , ya?" tanya Naruto kepada tamunya . Siapa lagi kalau bukan Haruno Sakura .
"Oh . Gomen , ne~! Sekarang aku mau bicarakan soal ini !" ujar Sakura sambil memasuki ruangan kamar itu . Lagi , tanpa permisi .
"Kalau mau mengurus soal ulangan besok , jangan tanyakan kepadaku...! Lebih baik kau pulang . Karena kujamin kau tidak akan puas kalau aku yang menjelaskan ." kata Naruto .
"Bukan... bukan itu yang maksudku . Maksud tujuanku kesini adalah untuk membahas masalah Hinata . Apa kau setuju kalau aku memberitahu kepadamu ?" tanya Sakura , meminta pendapat Naruto .
"Ya , aku setuju . Lagipula , darimana kau dapatkan info tentang Hinata ?" tanya Naruto balik .
"Aku... aku menemukan diarynya..." ucap Sakura jujur . Padahal ini adalah rahasia yang selama ini ia sembunyikan . Fakta bahwa dia sendiri yang menemukan diary itu . Naruto yang mendengarnya terkejut bukan main . "Jadi kau... berhasil menemukannya ? Bo-bolehkah aku ... membacanya ?" tanya Naruto harap-harap cemas menunggu jawaban Sakura .
"Aku tidak tau . Tapi ini kan rahasia orang . Kau tidak boleh membukanya begitu saja ."
"Aku tau . Tapi dia kan pacarku . Tentu saja aku harus mencari penyebab kematiannya walaupun ini sedikit menyakitkan . Tapi terus terang , aku juga penasaran , siapa pelakunya , ya ?"
"Katamu Hinata pernah diteror orang , kan ?" tanya Sakura mencoba memastikan .
"Iya , lalu ?"
"Aku juga mendapat pesan teror yang sama . Dan..."
"Aku juga sudah tau itu . Lalu ?"
"Apakah sebelum mati Hinata semakin sering diteror ..?"
"Ah, rasanya mungkin..."
"Kenapa mungkin ? Kau benar-benar kekasih yang tidak perhatian , ya ? Pantas saja kekasihmu yang tersayang itu meninggalkanmu begitu saja . Apap mungkin dia bunuh diri , ya ?"
"Tidak , bukan begitu . Aku hanya melihat kegelisahan di sorot matanya saja . Saat aku bertanya , 'Kau kenapa ?' dia hanya tersenyum palsu dan berkata , 'aku baik-baik saja , Naruto-kun' . Begitulah ..." jelas Naruto .
"Jadi... seperti itu rupanya ... Lalu , apa dia punya keluarga ? Apa keluarganya tau tentang kematian Hinata ?"
"Orang tuanya , keduanya meninggal karena kecelakaan . Dia seharusnya juga mempunyai seorang adik perempuan , tapi ia hilang saat masih kecil . Dia punya sepupu , namanya Hyuuga Neji dan pamannya Hyuuga Hizashi . Tapi aku tidak tau mereka sudah menerima kabar buru ini atau belum ." terang Naruto panjang lebar .
"Kalau begitu , kenapa kau tidak menghubungi mereka ?"
"Aku tidak tau nomor teleponnya ."
"Kenapa kau tidak mengunjungi rumah Hinata ? Mungkin disana ada ponselnya atau barang bukti lain ."
"Oh iya . Kenapa tidak ? Ternyata otakmu encer juga , Sakura-chan ."
"..."
"Hei , jangan diam saja ! Usahakan kalau dipuji orang , kau harus berterimakasih . Apa kau tidak pernah diajari oleh orang tuamu ?" tanya Naruto .
"Mereka... tidak pernah memperdulikanku . Mereka juga sudah menghilang . Sama seperti orang tua Hinata ..."
"A..aku tidak bisa berkata apapun sekarang . Ternyata kau seorang yatim piatu . Pasti kau menderita , ya ? Yah , sama seperti Hinata . Pasti hatimu luka berat . Aku tau itu ."
"Ja-jangan membuatku teringat kejadian itu lagi ! Aku mohon , jangan ingatkan aku tentang hal itu .. Ah , aku tidak tahan lagi ... Na-naruto ma-maksudku Namikaze ... Jangan membuatku menangis !" seru Sakura . Walaupun ia sudah susah payah menahan air matanya itu , tetap saja mereka mengalir begitu saja . Ia mengusapnya dengan keras , berusaha agar menajdi lebih kuat . Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri agar tidak runtuh karena masa lalu .
Naruto mengusap kepala Sakura . Sakura terkejut , karena baru kali ini seorang pria mengusap kepalanya dengan perasaan yang tulus . Hatinya yang kaku seakan mencair begitu saja saat Naruto mengusap kepalanya .
Kemudian Naruto menarik tubuh wanita di depannya ini dengan perlahan . Ia berusaha menjatuhkan Sakura ke dalam pelukannya . Sakura hanya pasrah dengan perlakuan Naruto . Selama ini ia memang membutuhkan sandaran , selama berpura-pura menjadi sebatang besi , selama berpura-pura kuat . Ia justru merasa nyaman saat Naruto mendekapnya erat .
"Arigatou , Naruto..." ucap Sakura . Mendengar itu , Naruto tersenyum lembut . "Sama-sama ." balasnya .
-oo0oo-
Rumah ini kecil dan sederhana . Temboknya dicat warna ungu lavender dan jendelanya berwarna violet . Pintunya terbuat dari kayu dan warnanya masih berupa kayu , hanya divernis agar terlihat mengkilap . Di sekellilingnya banyak ditumbuhi tanaman liar . Tapi , disana juga ada sebuah pohon sakura tumbuh tinggi .
"Hinata tinggal disini ?" tanya Sakura .
"Iya . Ini alamat rumahnya . Apa aku salah ? Aku ini pacarnya . Sementara kau ? Kau siapa ? Kau hanya penemu diarynya ..." eyel Naruto sambil menunjukkan secarik kertas dengan alamat rumah Hinata di dalamnya .
"Iya , iya aku tau ! Tapi ... kau itu mantan pacarnya ! Bukan pacar lagi namanya kalau dia saja sudah mati ."
"Kami kan cinta sehidup semati ." eyel Naruto lagi .
"Huh !" geram Sakura sambil menyentuh bibirnya yang berwarna pink itu dengan telunjuk kanannya . Naruto pun paham dengan apa yang diisyaratkan oleh Sakura .
"Oh , cium . Jangan-jangan kau mau lagi . Ada apa denganmu , Sakura ? Apa kau benar-benar jatuh cinta padaku , seperti yang Shion bilang ? Jawab aku , sayang ." goda Naruto sambil memamerkan senyum mesumnya .
"Apa kau bilang !" Sakura marah-marah . Dan itu membuat Naruto bergidik ngeri . Ia kira ia akan mati . Tapi , karena Sakura bukan preman lagi—itu berarti dia tidak membawa benda tajam atau apapun , dia memberanikan dirinya karena dia adalah seorang pria .
Dengan sigap , Naruto menarik tangan Sakura—secara mendadak . Dan itu membuat Sakura terkejut setengah mati . Sakura menatap Naruto yang tersenyum penuh kemenangan . Naruto pun melepaskan tangan Sakura—lagi-lagi secara tiba-tiba . Mungkin itu sebabnya Hinata sering pingsan dibuatnya .
Dan—tiba-tiba lagi , Naruto mendorong Sakura di dinding pagar rumah orang dengan cepat . Ia terus mendekat , mendekat dan mendekat . Sakura pun menjadi takut .
"Naru- waaa maksudku Namikaze-san ! Jangan lakukan ini di tempat umum . Nanti ada orang yang melihat ." ujar Sakura . Ia menelan ludahnya saat jarak diantara wajah mereka hanya tinggal beberapa centimeter saja . Sakura menutup matanya takut-takut .
"Hei ! Kalian berdua ! Jangan berbuat seperti itu di tempat umum . Apalagi itu adalah pagar rumahku . Anak muda zaman sekarang !" seru seseorang mengomeli kedua anak remaja yang sedang menempel itu .
"Eh , Tsunade-baachan ! Apa kabar ? A-aku hanya menggodanya saja . Iya kan Sakura ? Aku ini tidak serius , kan ?" kata Naruto sambil merangkul Sakura .
"Kalian sedang apa disini ?" tanya Tsunade .
"Kami sedang berkunjung ke rumah Hinata-chan ." jawab Naruto ceria . Sakura hanya mengangguk setuju—walaupun Naruto melakukan hal yang memalukan terhadapnya tadi .
"Bukankah dia sudah pindah sebulan yang lalu ?" tanya Tsunade memastikan . Mendengar jawaban itu , mereka berdua saling tatap . "Lho , kenapa ? Kalian tidak tau ?"
"Bukannya kami tidak tau . Tapi , di sekolah kami , Hinata diumumkan sudah meninggal ." kata Sakura . Ia mencoba menjelaskan bahwa Hinata itu pergi ke alam lain , bukan pindah ke daerah lain di bumi ini . Tapi , mungkinkah ?
Dalam tatapan wanita berambut pirang itu , ada rasa terkejut yang amat sangat . Sisanya hanya bingung . Tapi dia tetap berusaha tersenyum , mencoba menyangkal bahwa hal yang dikatakan dua orang remaja di depannya hanya bualan semata .
Sekali lagi , Sakura dan Naruto saling tatap . Padahal mereka mengharapkan jawaban yang logis . Tapi yang mereka dapatkan justru jawaban yang membingungkan dan tidak masuk akal . Mereka sama-sama berpikir tentang hal itu .
'Kalau di sekolah Hinata dinyatakan mati , kenapa tetangganya malah tidak tau . Ini aneh...' pikir Sakura .
'Aku ini bermimpi atau Tsunade-baachan yang sedang tidak sehat hari ini , ya ? Katanya Hinata pindah rumah . Tidak mungkin...'
"Wah , ternyata kalian tidak tau , ya ? Ya , begini ceritanya . . ." Tsunade pun menceritakan kisah tentang Hinata . Sakura dan Naruto menyimaknya dengan baik . Informasi tentang Hinata sangat penting bagi mereka . Mereka butuh saksi yang kuat . Mungkin saja Hinata mati terbunuh .
*Flashback*-on
Dengan kegelisahan yang mendalam gadis yang mengenakan jaket putih dan celana jeans itu mengunci pintu rumahnya . Ia sampai kesusahan memasukkan kunci berwarna perak itu ke dalam lubang kunci karena tangannya gemetaran . Ia benar-benar dilanda kecemasan .
'Klek !' akhirnya ia berhasil memasukkan kunci itu . Ia memutarnya perlahan sampai pintunya benar-benar terkunci . 'Jglek ! Jglek !' ia memutarnya dua kali . Kemudian ia mencabutnya . Tapi sesaat kemudian ada perasaan tidak nyaman bergelayut di hatinya .
'Trang !' kuncinya terjatuh .
'Inikah pertanda...? Kami-sama , berilah aku keajaiban .' batinnya masih cemas . Ia pun memungut kuncinya yang terjatuh karena kecerobohannya itu .
Tapi rasanya ia tidak bisa berdiri . Ia malah terduduk di lantai—ia lemas . Tatapannya pun menjadi kosong , seolah-olah dia tidak melihat apapun di depannya , namun terjun ke awang-awang pikirannya yang sudah kian semrawut .
"Hinata , kau mau kemana ?" tiba-tiba sebuah suara menggema di telinganya . "Apa kau mau pergi ?"
Wanita berambut indigo yang dipanggil Hinata itu hanya mengangguk pelan . Ia berusaha berdiri . Ya , ia berjuang keras . Ia tidak ingin terlihat selemah itu di hadapan orang lain . Ia menyunggingkan senyum palsunya dan berkata ,
"Aku a-akan pergi , baa-san . Mu-mungkin akan lama . Tapi , bolehkah aku menitipkan kunci ini kepadamu ?" tanya Hinata .
"Kau yakin , kau akan pergi dengan keadaan seperti itu ? Apa kau sakit ? Sebaikanya kau istirahat ." saran Tsunade .
"Aku... tidak apa-apa . Aku sangat berterima kasih karena selama ini kau selalu me-membantuku... Aku juga minta maaf karena aku juga sering merepotkanmu..." ujar Hinata .
Flashback-off
"Begitulah..." kata Tsunade .
"Apa benar , dia menjatuhkan kuncinya ?" tanya Sakura .
"Iya . Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri . Dia terlihat sangat ketakutan sampai-sampai ia jatuh terduduk ." ujar Tsunade , bersikap seolah-olah ia sedang diwawancarai oleh wartawan .
"Kalau begitu , bolehkah kami meminta kuncinya ?" tanya Naruto .
"Tidak ." tegas Tsunade .
"Pinjam ?" tawar Naruto saking inginnya dia memasuki rumah yang sudah lama tidak ia kunjungi itu . Mau bagaimana lagi ? Pemiliknya saja sudah pergi tanpa permisi .
"Hmm... bagaimana , ya ? Apakah kau mau bertaruh denganku ?" tanya Tsunade .
"Apa ? Bertaruh ?" Naruto terkejut bukan main .
"Kalau itu , biar aku saja ." seru Sakura . "Baik !" Naruto setuju .
"Baiklah , gadis muda . Nah , taruhannya sederhana saja , kok . Kau cuma harus menebak dadu ini . Kau ..."
"Aku pilih genap !" belum selesai Tsunade menjelaskan , Sakura sudah menjawabnya dengan yakin , seyakin-yakinnya .
"Kau yakin ? Aku baru melihat ada seorang gadis yang tau tata cara berjudi . Jangan-jangan kau sering berjudi ." ucap Tsunade .
"Memang . Tapi sekarang tidak lagi . Cepat kocok dadunya , agar kami cepat tau apa hasilnya ." seru Sakura tidak sabar .
"Sa-sakura... kau..." Naruto mulai rewel .
"Do'akan aku beruntung ."
Tsunade pun mulai mengocok dadu itu dengan lihainya . Ia menggoyangnya ke kiri , ke kanan , ke atas , ke bawah . Dan ia masih menahan dua buah dadu itu selama beberapa detik lamanya .
Tiba-tiba ia berjongkok sambil meletakkan gelas kocoknya terbalik supaya isi di dalamnya keluar . Begitu dirasa kedua dadunya sudah keluar , kini saatnya ia membuka gelasnya .
"Kau yakin kau genap ?" tanya Tsunade sekali lagi memastikan . Naruto dan Sakura pun ikut berjongkok .
"Menurutmu , aku ini tidak yakin ?" tanya Sakura .
"Psst , Sakura , jangan sombong dulu . Salah-salah tebakanmu malah kurang beruntung ." cegah Naruto .
"Aku buka sekarang..."
Perlahan Tsunade membukanya . Sedikit demi sedikit . Bagian yang terbuka Sakura dan Naruto yang melihatnya . Mereka tercengang .
'Gawat... kenapa angka tujuh ?' rutuk Sakura dalam hatinya . Kali ini tebakannya salah .
Namun waktu serasa diputar lambat saat ini . Selembar daun tiba-tiba jatuh perlahan di atas hidung Naruto . Naruto yang merasa kegelian pun bersin tanpa basa-basi lagi .
'Haaaaaaaatsu !'
Dadunya berputar , saking kerasnya angin yang dikeluarkan Naruto saat bersin . Dan angkanya pun berubah . Yang tadinya menegang keadaannya , sekarang mencair seketika . Sakura tersenyum bangga . Lagi-lagi ia bisa menebak angka dadu dengan tepat—walaupun dengan bantuan Naruto .
"Angkanya delapan , baa-chan ! Sekarang , janji adalah janji !" seru Sakura penuh semangat . Naruto yang lega karena baru saja bersin pun ikut tersenyum penuh kemenangan . Mau tak mau , Tsunade membiarkan dua anak itu mengambil kunci itu dari tangannya .
"Arigatou gozaimasu , baa-chan !" teriak Naruto dan Sakura kompak .
Setelah mendapatkan kunci rumah Hinata , mereka berdua langsung pergi ke rumah Hinata dengan bersuka ria . Melihat tingkah kedua anak itu , Tsunade hanya tersenyum .
"Dia hebat sekali , bisa mengalahkanku ."
.
.
.
"Hah... aku merindukan rumah ini . Sakura kau sedang apa ?" tanya Naruto kepada Sakura yang sedang menatap kunci itu penuh dengan curiga . "Kenapa dengan kunci itu ?" tanyanya lagi .
"Ini..." ucap Sakura sambil menyerahkan kunci itu kepada Naruto . "Awalnya kupikir tulisan di kunci itu hanya hiasan . Tapi ternyata ..."
"Hmm... 'Help' ." eja Naruto . "Artinya , tolong . Jangan-jangan Hinata yang menulisnya ."
"Yah , mungkin... bagaimanapun , semua ini masih sebuah misteri ." kata Sakura .
*^_^ -_- ^_^*TBC*^_^ -_- ^_^*
Rose kembali dengan chapter yang sedikit membingungkan . Kalau bingung dan gundah gulana atau antara dilema dan galau , silahkan PM Rose atau comment aja di review box , okay ?
Buat yang udah review kemarin , makasih banyak . Rose hanya bisa terus melanjutkan fic abal ini . Buat yang udah mem-follow and mem-fave karya Rose , juga makasih sebanyak-banyaknya .
Yang minta apdet kilat , Rose belum telat 'kan kalau apdet sekarang ? Yah , mumpung liburan sekolah . Banyak waktu luang .
Dan ini jawaban untuk yang review kemarin ,
Di Balik Layar !
Hinata : Wah benar ! Ternyata aku dimunculin . Yang benar yang mana sih , sebenarnya ? Aku ini mati , atau cuma pindah tempat ?
Rose : Itu akan terjawab suatu saat nanti .
Sakura : Rose , apa arti 'Help' di kunci rumah Hinata-chan ?
Naruto : Mungkin itu artinya mohon bantuannya , buat Tsunade-baachan , iya kan ?
Rose : Itu juga akan terjawab suatu saat nanti .
Sakura : Yah , jangan begitu donk , Rose . Kalau infonya bocor dikiiiiit aja kan nggak masalah .
Rose : Oke . Hinata itu aku ceritain disitu , dia sangat ketakutan menjelang kematiannya . Nah , sebelum dia meninggalkan rumahnya dia coret tuh disitu kata 'Help' . Mungkin Tsunade juga nggak menyadari . Karena mungkin Tsunade nggak bisa baca tulisan inggris . Tapi mungkin pesan itu bukan untuk Tsunade juga . Kalaupun itu untuk Tsunade , pasti Hinata udah pake bahasa jepang . Mungkin kalau untuk Tsunade Hinata akan menulis 'Mohon bantuannya' , kaya yang Naruto bilang . Ini mungkin semacam kode untuk orang yang bisa bahasa Inggris , termasuk Sakura dan Naruto . Mungkin sasarannya adalah Naruto , karena Hinata tau kalau Naruto mempunyai keberuntungan yang tinggi . Kalaupun orang yang datang bukan Naruto , Tsunade nggak akan percaya . Arti tulisan 'Help' , ya... mungkin meminta agar Naruto atau siapapun yang menemukan kunci itu agar cepat membongkar misteri kematiannya . Karena dibalik kematiannya mungkin ada kejahatan yang lain . Sudah puas ?
All character : ZzZzZz
Rose : Semuanya udah pada tidur , nih . Ini 'kan udah malam . Rose ngetik chapter ini sampai jam 22.30 . Nggak terlalu malam , sih . Tapi , lampu udah dimatiin . Untuk para readers , please review OK ? Untuk silence readers , makasih udah mau susah-susah baca walaupun tidak review . Huwaaaaahh Oyasuminassai !
-by Rose-
