My Sassy Girl
.
.
.
Warning : OC, OOC full, Typo
.
Genre : Drama, Romance, Hurt, little Humor
.
Pairing : Sasuke x Hinata
Other Main Artist : Sakura, Gaara
.
I'm just borrow the all character from Mr. Masashi Kishimoto for My Fanfiction.
.
Fanfic ini untuk hiburan semata, jika ada kemiripan cerita mohon di maafkan..
.
.
.
"Okaasan.. Otousan.. Bagaimana kabar kalian? Aku kemari bersama Sasuke.." Hinata meletakkan dua bucket bunga di depan batu nisan 'Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Hikari'.
Sasuke juga ikut meletakkan dua bucket bunga di depan batu nisan ke dua orang tua Hinata dan memanjatkan doa.
Hinata melihat Sasuke yang begitu serius memanjatkan doa, menjadi tertegun.
Tiba-tiba wajah Hinata memerah dengan sendirinya. Hinata segera mengalihkan pandangannya dan ikut memanjatkan doa.
'Okaasan, Otousan.. Semoga kalian tenang di sana. Di sebelahku adalah Sasuke, calon tunanganku. Aku mencintainya, meskipun kali ini aku masih bertepuk sebelah tangan. Ku mohon doakan aku agar semua dapat berjalan dengan baik.'
Kira-kira seperti itulah doa Hinata. Untuk Sasuke sendiri doanya hanya meminta perlindungan untuk terus melindungi Hinata.
.
.
.
"Nee Sasukee.. Ayo kita pergi ke taman bermain.." Hinata berseru riang di dalam mobil Sasuke.
"Hm.." Sasuke hanya tersenyum melihat tingkah Hinata yang begitu gembira terlihat tanpa beban.
Drrt.. Drtt..
"Hm.. Moshi-moshi.."
"Sasuke-Kun, kamu dimana?" Suara Sakura terdengar lirih dan seperti menahan sakit.
"Ada apa denganmu?" Sasuke tahu ada yang tidak beres dengan Sakura.
Hinata merasa raut wajah Sasuke tiba-tiba berubah seperti cemas.
'Siapa yang menelepon?' Pikir Hinata.
"Aku terpeleset di dalam kamar mandi dan aku sendiri di apartement.. Bisakah kamu menolongku.. Hikss.." Sakura mulai menangis.
"Aku akan segera ke sana, kamu tunggu aku.." Sasuke segera memutuskan telepon itu dengan wajah panik.
"Siapa yang menelepon?" Tanya Hinata penasaran.
"Maaf aku tidak bisa ikut denganmu ke taman bermain.. Mungkin lain kali.. Ada hal yang harus aku urus.. Kamu bisa kan pergi sendiri?" Sasuke terlihat sangat buru-buru membuat Hinata juga mengiyakan permintaan Sasuke.
Sasuke menurunkan Hinata di depan taman bermain.
"Jika kamu ingin pulang, telepon aku.. Aku akan menjemputmu.."
Hinata hanya menganggukan kepalanya, Sasuke menutup kaca mobilnya dan memacu kembali mobilnya.
"Jaa.." Ucap Hinata pelan.
"Hahhh.. Menyebalkan, dasar Sasuke menyebalkan.." Rutuk Hinata kesal.
Hinata kini berdiri di depan taman bermain. Tatapannya kesal dengan kepergian Sasuke.
'Bagaimana mungkin aku bermain sendiri. Aku jamin tidak akan menyenangkan.. Dasar Sasuke bodoh.. Kemana lagi dia pergi..' Pikir Hinata kembali melihat ke arah jalan.
Kemudian Hinata teringat seseorang dan meneleponnya.
Hinata menunggu telepon itu di angkat.
"Moshi-moshi Gaara-San.."
"Moshi-moshi.. Hinata?" Tanya Gaara ragu.
Gaara tidak menyimpan nomor Hinata karena dia lupa bertanya, namun Hinata memang menyimpan nomor Gaara, saat Gaara memberikan kartu namanya di restaurant tempo hari.
"Apakah kamu sibuk?" Tanya Hinata ragu.
"Tidak.. Memang kenapa?"
"Maukah kamu menemaniku ke taman bermain?"
"Tentu saja.. Kamu sekarang ada di mana? Aku akan menjemputmu.."
"Aku.. Sudah berada di taman bermain Tokyo Disneyland." Hinata melihat papan besar bertuliskan Tokyo Disneyland di depan pintu masuk.
"Aku akan segera ke sana.. Kamu jangan kemana-mana. Tunggu aku."
Gaara segera memutuskan sambungan telepon dan mengambil kunci mobilnya menghampiri Hinata.
Gaara tidak memiliki jadwal kerja pada hari sabtu dan minggu, jadi begitu Hinata meminta menemaninya tentu saja Gaara sangat senang.
.
.
.
"Apa kamu menunggu lama?" Gaara terlihat sedikit tersengal karena berlari dari parkiran mobil menghampiri Hinata.
Hinata menggelengkan kepalanya.
"Kenapa terburu-buru? Kamu haus?" Hinata lebih peduli menanyakan keadaan Gaara.
"Tidak.. Tapi kenapa kamu bisa sendiri disini?" Tanya Gaara heran.
"Sasuke.. Dia pergi begitu saja setelah mendapat telepon yang sepertinya sangat penting." Hinata menggembungkan pipinya sebal mengingat Sasuke.
Mimik wajah Gaara menjadi berubah begitu Hinata menyebut nama Sasuke.
'Jadi tadi mereka akan berkencan.' Pikir Gaara kecewa.
"Oh.." Gaara kembali berusaha tersenyum menutupi rasa kecewanya.
"Hmm.. Apakah ada tempat yang ingin Gaara-San kunjungi?" Tanya Hinata malu-malu.
Hinata sepertinya sudah kehilangan mood untuk bermain.
"Hmmm.." Gaara nampak berpikir sejenak.
"Ada.." Tanpa aba-aba Gaara segera menarik tangan Hinata.
Hinata dan Gaara kini berjalan santai. Gaara ingin mengajak Hinata mengunjungi sebuah pameran lukisan dan pameran kerajinan tangan dari tanah liat.
"Tidak apa-apa kan kita kemari?" Tanya Gaara ragu, begitu mereka sampai di depan sebuah gedung tempat pameran berlangsung.
Hinata hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Ayo.." Kali ini Hinata yang terlihat bersemangat dan Gaara kembali menampilkan senyumannya.
Begitu banyak yang Hinata dan Gaara lihat, seperti lukisan-lukisan abstrak yang ternyata kandungan nilai seninya sangat tinggi, pahatan kayu yang begitu indah, perabotan yang terbuat dari tanah liat dan lainnya.
Hinata sendiri begitu terpukau akan semua ini.
Ini juga pengalaman pertama Hinata mengunjungi pameran seperti ini. Hinata yang memang memiliki jiwa seni yang tinggi tentu saja tidak akan merasa bosan dengan pameran ini.
Gaara memandang Hinata sebagai gadis yang berbeda.
Untuk pameran ini, tidak ada barang yang akan di jual, semua hanya untuk pameran dan memperkenalkan siapa pembuat semuanya, jika tidak salah namanya Deidara.
Hinata ingin sekali bertemu dengan Deidara, namun sayang karena ada urusan mendadak para pengunjung tidak bisa bertemu dengan Deidara, jadi hanya semua hasil seninya saja.
.
.
.
"Sakuraa.."
Sasuke memasuki apartment Sakura yang sepertinya tidak di kunci.
Sasuke mengedarkan pandangannya ke setiap ruangan.
"Aku disini Sasuke-Kun.. Aw.."
Sasuke mendengar Sakura dari dalam sebuah ruangan.
Sasuke kaget begitu melihat Sakura dalam posisi duduk, kaki Sakura terlihat biru dan bengkak.
"Bisa berdiri?" Tanya Sasuke mencoba meraih tangan Sakura dan merangkulkannya di leher Sasuke.
"Sakit.." Rengek Sakura.
Sakura dapat mencium aroma tubuh Sasuke. Ternyata cara ini berhasil membuat Sasuke datang menemuinya, meskipun dia harus menggunakan cara licik dan melukai dirinya sendiri.
Sakura tersenyum penuh kemenangan dalam hati.
"Kita harus ke dokter.. Kamu bisa berjalan?" Tanya Sasuke sedikit ragu..
"Sepertinya akan susah Sasuke-Kun." Sakura sendiri tidak yakin, karena memang hasil perbuatannya itu membuat kakinya sangat sakit.
Tanpa aba-aba Sasuke segera mengangkat Sakura dengan bridal style.
Sakura terkejut, tetapi senang bukan main. Wajahnya memerah dan dia benamkan di dada bidang Sasuke, tangannya merangkul leher Sasuke.
Sasuke segera membawa Sakura ke rumah sakit.
.
.
.
"Untung hanya terkilir dan tidak patah atau retak." Ucap seorang dokter yang kini memeriksakan keadaan kaki Sakura.
"Aw.." Teriak Sakura kesakitan, begitu dokter itu mulai memijit kaki Sakura.
"Tahanlah sebentar.. Ini akan membantu proses penyembuhan.." Kata dokter itu.
"Pelan-pelan dok.."
"Iyaa.. Kamu ini bawel sekali.."
Sakura hanya mengkerucutkan bibirnya di marahi oleh dokter.
"Selesai.." Dokter itu segera menuju mejanya.
Sasuke menyusul dokter itu. Sakura sendiri tetap di biarkan duduk di atas ranjang.
"Sebaiknya kamu perhatikan gadismu.. Dia butuh bantuan seseorang untuk sementara waktu.. Akan sulit sembuh jika dia terus menggerakkan kakinya."
Sakura yang mendengar ucapan dokter hanya bersemu merah.
'Gadismu..'
Tentu saja dokter itu berpikir Sakura adalah pacar Sasuke, karena Sasuke membawa Sakura ke dalam ruangan dokter dengan bridal bride.
Bahkan semua pengunjung dokter itu berbisik, betapa mesra mereka.
"Hm.." Gumam Sasuke.
"Ini obat salepnya.. Gunakan 3 kali sehari dan pijat pelan-pelan. Jangan di urut..!" Ucap dokter tegas.
"Hm.."
"Sekarang kalian boleh pergi."
Sasuke membayar biaya dokter dan obat kemudian membantu Sakura yang sepertinya sudah lebih baik dan bisa berjalan, meskipun dengan terpincang-pincang.
.
.
.
'Hinata sedang apa ya? Kenapa dia tidak menghubungiku? Apa dia terlalu asik bermain? Mungkin sebaiknya aku susul dia begitu selesai mengantar Sakura.' Pikir Sasuke.
"Sasuke-Kun aku lapar.." Rengek Sakura yang memang belum sarapan.
"Hm.."
Mau tidak mau Sasuke harus membanting setirnya menuju sebuah restaurant. Mengingat kondisi Sakura yang juga tidak bisa di tinggal sendiri untuk memasak.
"Setelah makan aku akan mengantarkanmu pulang dan aku akan meminta pembantu suruhan membantu semua keperluanmu selama kamu masih menjalani perawatan." Ucap Sasuke.
Sakura sebenarnya ingin Sasuke yang merawatnya, bukan pembantu atau siapa pun itu, namun mengingat Sasuke yang juga memiliki pekerjaan, pasti akan sulit.
Tapi Sakura tidak merasa kecewa karena Sasuke sudah memperhatikannya. Sakura senang akan hal itu.
"Hm.. Arigatou.." Sakura menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
.
.
.
Mobil Sasuke berhenti di depan sebuah restaurant. Sasuke turun duluan untuk membantu Sakura yang sedikit susah untuk turun sendiri.
Sakura kembali merangkul leher Sasuke, membantunya menyeimbangkan tubuhnya.
Mereka berjalan sedikit pelan takut kembali melukai kaki Sakura. Di mata orang-orang mereka terlihat begitu mesra.
.
.
.
"Sasuke..." Panggil Hinata tidak percaya.
Gaara juga melihat adegan itu.
Sakura segera merangkul lengan Sasuke mesra.
Hinata ingin menangis saat ini juga. Hatinya terasa perih.
"Hinata? Gaara?" Sakura merasa menang jika melihat ekspresi Hinata kali ini.
Sasuke kaget melihat Hinata dan Gaara.
Sasuke bersumpah melihat ekspresi wajah Hinata yang kaget dan tidak percaya.
"Jadi.. Kalian sedang berkencan?" Tanya Sakura.
"Hm.." Gaara segera menggenggam tangan Hinata yang terasa dingin.
Hinata sendiri kaget dengan sikap Gaara yang tiba-tiba.
Hinata menatap ke arah Gaara, namun Gaara tetap memandang Sasuke dan Sakura.
Sasuke menahan rahangnya kuat-kuat, menahan emosi.
"Bagaimana jika makan siang bersama?" Tawar Sakura masih merangkul mesra Sasuke.
Sasuke melirik tajam ke Sakura, dia tidak bisa berbuat banyak mengingat kaki Sakura masih sakit.
"Ti-Tidak.. Aku tidak lapar, aku ingin pulang." Sebisa mungkin Hinata tersenyum dan menahan air matanya untuk keluar.
Hinata pun membalas menggenggam tangan Gaara. Saat ini Hinata membutuhkan tumpuan. Hatinya hancur melihat Sasuke dan Sakura.
Ternyata ini alasan Sasuke meninggalkan dirinya. Padahal mereka sudah membuat janji bersama, namun Sasuke batalkan hanya untuk bersama dengan Sakura. Miris memang.
Hinata sedih, marah dan kecewa. Sepertinya akan sulit Hinata meraih cinta Sasuke.
"Ayo kita pulang."
Di sertai anggukan Hinata.
Mereka pun pamit dan kembali menuju tempat mobil Gaara di parkir.
Entah kenapa Sasuke ingin sekali mengejar Hinata dan menjelaskan semuanya.
Sakura tersenyum penuh kemenangan dan Sasuke sendiri merasa sakit melihat Hinata bersama Gaara, terlebih ketika Hinata menampilkan ekspresi seperti kecewa dan tidak percaya.
Namun Sasuke harus bertahan.. Dia akan menjelaskannya ketika di rumah.
"Sasuke-Kun.. Ayo kita makan,, sayang sekali mereka tidak bisa ikut.. Padahal pasti akan menyenangkan.."
"Hm.."
.
.
.
"Menangislah jika kamu ingin menangis.."
Gaara dan Hinata sudah berada di dalam mobil, namun Gaara masih enggan menjalankan mobilnya.
Gaara bisa melihat Hinata kecewa, sangat kecewa lebih tepatnya dan Hinata menahan dirinya untuk tidak menangis.
Tess.. Tess..
Air mata itu pun turun.. Hinata sebenarnya masih ingin menahan sebentar lagi untuk tidak menangis, setidaknya dia akan menangis sendiri di kamarnya. Namun Hinata sudah tidak dapat menahannya.
"Hikss.. Aku.. Hiksss.. Huaaa..." Isakan Hinata semakin kencang.
Gaara segera memeluk Hinata dan membenamkan wajah Hinata di dadanya.
Hinata menangis meraung dalam pelukan Gaara.
Gaara mengelus kepala Hinata pelan-pelan berulang kali..
"Cup.. Cup.. Menangislah sampai kamu lega.." Ucap Gaara pelan..
"Hikss.. Sasuke bodoh.. Dia sialan.. Bodoh, pantat ayam, pemberi harapan palsu.. Hikss.." Hinata mengeluarkan semua makiannya untuk Sasuke.
Dia tidak bisa menahannya lagi.
"Cup..Cup.."
Gaara terus masih setia mengelus kepala Hinata.
"Menangislah sampai hatimu lega, setelah itu tersenyumlah kembali.."
"Hikss.. Maaf Gaara-San.. Huaaa.. Hiksss.." Tangisan Hinata menangis begitu memilukan di telinga Gaara.
.
.
.
"Astaga Hinataa sayang.. Kamu kenapa? Mana Sasuke?"
Tanya Mikoto bertubi-tubi begitu melihat Hinata yang terlihat begitu berantakan, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.
Hinata hanya memandang sendu Mikoto. Cahaya matanya meredup.
Gaara segera mengantarkan Hinata pulang begitu Hinata sudah berhenti menangis. Mereka pulang dengan penuh kebisuan. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Hinata hanyut dalam pikirannya sendiri.
Gaara hanya mengantarkan Hinata sampai depan gerbang kediaman Uchiha, kemudian pamit pulang.
"Hinata.." Panggil Mikoto lagi merasa tidak ada jawaban dari Hinata.
"Okaasan maaf.." Suara Hinata terdengar serak dan lirih.
Tenggorokan Hinata terasa kering akibat terlalu banyak meraung saat menangis.
"Iya sayang.. Ceritakan apa yang terjadi nak.." Mikoto membelai pelan wajah mulus Hinata.
Mikoto iba melihat keadaan Hinata yang sangat berantakan.
"Aku.. Ingin membatalkan pertunanganku dengan Sasuke." Hinata menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Mikoto tentu saja kaget mendengar penuturan Hinata. Mikoto sangat menyayangi Hinata. Dia mengingin Hinata tetap menjadi calon menantunya kelak.
"Sebaiknya kita masuk dulu dan bicarakan lagi nanti.. Kamu harus bersihkan dirimu dan istirahat.." Mikoto mengajak Hinata masuk dan Hinata hanya menurut.
.
.
.
"Sasuke-Kun..." Panggil Sakura pelan..
"Kamu melamun lagi?" Tanya Sakura.
"Hm?" Sasuke segera tersadar dari lamunannya.
"Kamu tidak mendengarkan ceritaku?" Tanya Sakura kecewa.
"Maaf.." Hanya itu saja yang Sasuke ucapkan.
"Untuk apa?" Sakura menautkan alisnya.
"Aku harus segera pulang. Aku akan meminta Kakashi mengantarmu pulang dan mengurus tentang pengurusmu nanti.. Kamu sebaiknya istirahat sampai kakimu sembuh.." Sasuke kemudian beranjak dari kursinya meninggalkan Sakura sendiri.
Sasuke segera membayar semua makanan yang dipesannya dan beranjak dari restaurant itu.
Sakura mengepalkan tangannya erat-erat menahan air mata nya kembali tumpah.
.
.
.
"Sasukee !" Mikoto terlihat marah melihat putra bungsunya baru pulang.
Sasuke mengandahkan pandangannya ke ruang tamu rumahnya tidak memperdulikan Ibunya.
"Sasuke ...!" Teriak Mikoto membuat Sasuke berhenti dan menatap Ibunya.
"Ada apa antara kamu dan Hinata?"
"Mana Hinata Okaasan?" Tanya Sasuke.
"Dia tidur di kamarnya."
Sasuke menghela nafas lega dan masuk ke dalam rumah.
"Sebenarnya kalian kenapa? Hinata pulang dengan berantakan, matanya bengkak dan.." Mikoto terdiam sejenak.
'Matanya bengkak? Hinata menangis?'
'Sial'
"Dia meminta pertunangan kalian di akhiri."
Ucapan Mikoto kali ini berhasil membelalakan mata Sasuke.
Sasuke segera berlari menuju kamar Hinata yang berada di lantai 2, tidak memperdulikan Mikoto yang mangap karena di tinggal begitu saja oleh Sasuke.
.
.
.
"Hinata.." Sasuke mengetuk pelan pintu kamar Hinata.
Tidak ada jawaban.
Sasuke memberanikan diri untuk membuka sendiri pintu itu.
Hinata tidur membelakangi Sasuke.
Sasuke melangkah pelan ke arah Hinata dan menarik kursi kecil ke samping ranjang Hinata.
Sasuke duduk di kursi kecil itu dan menghela nafas, seolah membantu mengeluarkan unek-unek yang dia tampung sedari tadi.
"Maaf.." Ucap Sasuke pelan.
Hinata yang memang tidak tidur dan menyadari kehadiran Sasuke hanya tetap pada posisinya.
Hinata menutup ke dua matanya. Dia tidak ingin bertemu dan melihat Sasuke. Hinata merasa sakit.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Ucap Sasuke lagi.
'Apanya tidak seperti yang aku pikirkan? Semua sudah jelas.' Rutuk Hinata dalam hati.
"Aku hanya menolong Sakura tadi. Dia jatuh di kamar mandi dan kakinya terkilir."
Deg
Ada perasaan lega di hati Hinata. Jadi itu alasannya..
"Harusnya tadi aku bilang, namun aku terburu-buru dan lupa."
'Alasan.'
"Maaf.."
Hinata masih boleh berharap?
Kenapa Sasuke selalu memberikan harapan.. Kenapa? Aku memang mencintai Sasuke, namun jika Sasuke sendiri tidak, akan menyakitkan.
Hinata cemburu? Ya tentu saja.
"Kamu tidak berbohong?" Hinata membalikkan badannya dan duduk menatap Sasuke tajam.
Sasuke tersentak kaget, ternyata Hinata tidak tidur dan Hinata mendengar semua ucapan?
Sasuke bisa melihat mata Hinata yang masih bengkak karena menangis.
Sasuke tersenyum.
Hinata suka senyuman itu. Hangat rasanya.
"Hm."
"Kau ku maafkan.." Hinata pun kembali tersenyum.
"Mengenai pertunangan kita?" Tanya Sasuke lagi.
"Ah.. I-Itu.." Hinata menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hinata ingat ketika berbicara dengan Mikoto akan membatalkan pertunangannya dengan Sasuke.
Karena terlalu emosi, dia akhirnya mengucapkan hal itu.
"Sudah lupakan saja." Ujar Sasuke tidak ingin membahas hal itu lagi.
Kali ini Sasuke sadar, dia menyukai Hinata.. Bukan hanya senyumannya saja, tetapi semua tentang Hinata, kehadiran Hinata yang begitu saja.
Seorang Hinata yang begitu aneh memasuki setiap sisi di hati dan pikiran Sasuke.
Namun Sasuke enggan memberitahukannya. Egonya terlalu tinggi untuk mengatakan 'sepertinya aku mulai menyukaimu Hinata.'
"Janji, kamu harus memberitahukan semua hal jika ingin meninggalkan ku seperti tadi." Hinata menyerahkan jari kelingkingnya di depan Sasuke.
Sasuke mendengus.
'Konyol sekali.'
"Ayo.." Hinata memaksa.
"Hm."
Sasuke menyilangi kelingking Hinata dengan kelingkingnya.
"Janji.." Hinata tersenyum bahagia.
Sasuke sedikit merona melihat senyuman Hinata. Senyuman sangat tipis pun menghiasi wajah tampan Sasuke.
Mikoto yang sedari tadi menguping dan melihat ikut tersenyum bahagia.
Pasalnya Hinata akan tetap menjadi calon menantunya, lalu Sasuke dan Hinata sudah berbaikkan kembali.
Mikoto berniat menceritakan hal ini ke Fugaku jika dia sudah kembali pulang dinas.
Mikoto ingin acara pertunangan Sasuke dan Hinata segera berlangsung. Mikoto juga berniat memberitahu Itachi, mengenai hal bahagia ini agar Itachi juga ikut hadir dalam acara pertunangan Sasuke dan Hinata.
.
.
.
"Sakura-San?" Panggil Kakashi ragu.
Sakura menangis di dalam mobil. Kini dia bersama dengan Kakashi.
Sesuai ucapan Sasuke. Kakashi datang cepat menjemput Sakura dan akan mengantarkannya pulang.
Pembantu yang akan membantu Sakura pun sudah berada dalam apartement Sakura.
"Ma-Maaf.." Sakura menghapus air matanya.
"Kita sudah sampai."
"Hm.. Arigatou." Sakura berusaha tersenyum.
Hati Sakura sangat sakit. Tidak pernah dia merasakan sesakit ini. Penantiannya seolah sia-sia.
Sakura terlalu lama menyakiti hatinya.
Kakashi membantu memapah Sakura keluar dari mobil.
'Sasuke harus menjadi milikku seorang. Bukan Hinata, bukan juga yang lainnya..' Umpat Sakura dalam hati.
.
.
.
'Aku akan merebut Hinata jika memang Sasuke tidak bisa membahagiakan Hinata.. Aku bersumpah..' Rutuk Gaara dalam hati masih mengemudikan mobilnya.
.
.
.
TBC
Maaf Minna baru sempat upload...
Sekarang aku lagi training, waktuku selalu habis...
ini aja aku buat lama banget baru selesai 1 chapter.. astaga..
maafkan atas keterlambatanku..
mungkin next chapter dan other story akan lebih lama lagi.. anggap aja aku hiatus dulu.. Training kali ini cukup menyita seluruh waktuku...
seperti biasa Terima kasih atas semua review kalian dan saran-saran kalian..
muach :*
Mind RnR?
