The Thrill of Chase
Cast :
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Kim Ryeowook
Kim Jongwoon (Yesung)
Lee Hyukjae (Eunhyuk)
Lee Donghae
Rate : M
Disclaimer : Original story by Lynda Chance - Remake dari novel dengan judul yang sama dengan sedikit perubahan agar sesuai dengan karakter. Saya cuma pinjam cerita dan nama cast(s)^^
Summary : Sungmin, Ryeowook dan Eunhyuk adalah teman sekamar dan sahabat baik. Mereka masing-masing bertemu dengan seorang pria yang sangat menyukai mereka dan mati-matian mengejar mereka. Setiap bagian menceritakan secara detail masing-masing karakter dan bagaimana usaha sang Alpha male untuk mendapatkan mereka.
Warning : Genderswitch || Mature Content || Sex Activity || Typo(s)
Don't Like Don't Read
Enjoys^^
.
.
.
Donghae & Eunhyuk
Donghae bersandar pada tempat tidur hotel dan mentransfer foto-foto Eunhyuk dari ponsel kelaptopnya. Saat itu selesai, Donghae mengamati empat foto itu dengan cepat lalu mengamati lagi dengan pelan.
Gairahnya meningkat dengan kebutuhan yang hebat.
Tidak diragukan Eunhyuk itu cantik. Donghae selalu tahu itu. Eunhyuk tinggi dan langsing dan ia memiliki wajah yang menawan dengan warna yang dramatis.
Eunhyuk seharusnya sudah menjadi miliknya sejak lama.
Saat Donghae memandang foto-foto itu, ia mengamati setiap inchi tubuh Eunhyuk. Setiap inchi yang diizinkan oleh Eunhyuk. Pandangan Donghae bergerak kearah kaki mulus Eunhyuk, keatas pahanya dan turun lagi ke kaki mulusnya. Pandangan Donghae terfokus pada ketidaksempurnaan dipaha kanan Eunhyuk dan Donghae mengamati dengan bertanya-tanya sampai kenangan dari masa lalu menghancurkan hatinya.
Eunhyuk baru saja berumur lima belas tahun. Ayahnya bekerja dalam shift disebuah pabrik kimia dan biasanya ayahnya tidur sepanjang hari. Ibunya bekerja sebagai perawat disebuah rumah sakit lokal. Eunhyuk adalah anak satu-satunya dan menghabiskan banyak waktunya dirumah Donghae dengan Sungmin. Suatu hari, ayah Donghae sedang bekerja dan ibunya baru saja pergi ke toko bahan makanan.
Eunhyuk dan Sungmin menghabiskan berjam-jam liburan musim panas dengan bersepeda, berenang di kolam renang tetangga dan menjelajahi lingkungan pinggiran kota di mana keluarga mereka berdua tinggal.
Kenangan Donghae menjadi semakin tajam pada kejadian itu.
Sungmin berlari kedalam rumah berteriak mencari ibu mereka. Donghae sudah pulang dari pekerjaan musim panasnya dan dia mencoba untuk menenangkan adiknya. Sungmin mulai menarik tangan Donghae dan mengatakan bahwa Eunhyuk terluka.
Donghae masih bisa mengingat cengkeraman ketakutan Sungmin.
Donghae berlari kejalan bersama Sungmin, mungkin enam atau tujuh rumah dan menemukan Eunhyuk tergeletak dirumput hijau, darah mengalir dengan cepat kebawah kakinya.
Jantung Donghae hampir saja berhenti berdetak.
Saat itu tengah hari dan orang-orang disekitar lingkungan mereka sedang sunyi. Kebanyakan orang dewasa sedang bekerja dan anak-anak sedang berada dipenitipan.
Donghae berlutut disebelah Eunhyuk dan mata Eunhyuk terangkat memandangnya. Donghae bisa melihat rasa sakit yang tergambar dimata Eunhyuk, juga rasa percaya, kepada Donghae, percaya bahwa Donghae tahu apa yang harus dia lakukan. Bahwa Donghae bisa mengatasi situasi.
Suara Eunhyuk gemetar. "Aku pikir ini b-buruk. Sakit. Aku t-takut untuk melihat."
Donghae menarik nafas dalam dan menyapukan tangannya kepipi Eunhyuk, mengangkat dagunya dan memandang jauh kedalam mata Eunhyuk. "Ini akan baik-baik saja, Hyuk. Kau tak perlu melihat.
Aku akan melihatnya. Pandang aku saja, OK?"
Dengan anggukan Eunhyuk, matanya memandang dengan seksama kewajah Donghae, Donghae menurunkan tangannya kekaki Eunhyuk dan dengan hati-hati menggeser jemari Eunhyuk yang menutupi lukanya.
Donghae berharap dia melihat luka lecet yang parah, tapi ini bahkan lebih dari itu. Eunhyuk terluka sangat parah. Tidak hanya luka tertusuk, bahkan dalam dan bergerigi. Dan panjang. Darah mengalir deras dari lukanya, tapi lukanya tidak dekat dengan pembuluh darah, jadi lukanya tidak mengancam nyawa. Tapi darah yang mengalir harus dihentikan dan Donghae bisa mengatakan lukanya perlu dijahit.
Tidak diragukan.
Donghae tidak perlu mengatakan hal itu dulu kepada Eunhyuk. Jelas Eunhyuk tidak bisa berjalan, sepedanya masih berada dijalan disebelah trotoar dimana kecelakaan itu terjadi. Sungmin sudah memakai sepedanya sendiri untuk pulang dan mencari pertolongan.
"Semua akan baik-baik saja, Hyukkie. Tapi aku yakin ibumu ingin melihat ini. Apakah dia masih berada di rumah sakit hari ini?" Donghae menjaga suaranya untuk tetap tenang.
Mata Eunhyuk masih menempel pada Donghae dan dengan anggukan Eunhyuk, Donghae menoleh kepada Sungmin yang sedang berdiri mengamati.
Donghae merogoh saku celananya untuk mencari kunci, lalu menyerahkan kuncinya kepada Sungmin. Kedua gadis ini telah belajar untuk mendapatkan izin mengemudi, tapi bukan izin mengemudi yang sebenarnya. "Bawa sepeda Eunhyuk kembali kerumah dan bawa Mustang kemari. Ok?"
Bola Mata Sungmin membesar. Donghae tidak pernah membiarkan Sungmin meyentuh mobilnya. Tidak pernah. Dan Donghae bisa mengatakan bahwa Sungmin bisa paham apa maksud semua ini. Betapa buruk hal yang terjadi. Sungmin menelan ludah dengan gugup dan melihat kembali ke luka dikaki Eunhyuk yang sekarang ditekan oleh Donghae.
"Ok Min? Aku ingin kau fokus. Bawa sepeda Eunhyuk pulang dan bawa mobilku kemari. Mobilku seperti mobil punya ibu. Mobilku otomatis. Tidak ada bedanya. Putar kuncinya, bawa ke jalan dan bawa kemari. Kau bisa melakukannya. Jangan khawatir, pergi dan ambil mobilnya." suara Donghae keras tapi tegas.
Sungmin mengangguk, wajahnya benar-benar pucat tapi kemudian dia berbalik dan melakukan apa yang diperintahkan oleh kakaknya.
Donghae tetap memberikan tekanan kepada luka Eunhyuk dan mencoba untuk mengalihkan pikiran Eunhyuk dari rasa sakit. " Apa yang terjadi?"
"Tadi ada k-kucing putih gila."
"Kuncing bermata merah dan buntut tebal?"
"Ya. Dia berlari tepat di bawah roda sepedaku. Aku t-tidak tahu bagaimana aku bisa melewatkannya."
"Apa yang membuat kau terluka?" Donghae berpikir mungkin Eunhyuk perlu mendapatkan suntik tetanus.
"Aku tidak tahu."
Sungmin mendekat dengan membawa mobil hanya dengan kecepatan sepuluh mil per jam.
Sungmin memarkirkan mobil dan melompat keluar mobil. Donghae bicara kepada adik perempuannya. "Gadis pintar. Aku akan membawa Eunhyuk kepada ibunya dirumah sakit. Jika kau ingin ikut, naik kekursi belakang."
Sungmin melompat kekursi belakang dan Donghae menggendong Eunhyuk.
Donghae melihat Eunhyuk menggretakkan giginya saat Donghae tidak sengaja menggoncangkan tubuhnya. "Maaf." Donghae meminta maaf.
Eunhyuk masih memandang Donghae. Mereka tidak pernah melepaskan pandangan dan Donghae merasa bahwa dia adalah pusat dari kehidupan Eunhyuk. Ini perasaan yang membahagiakan.
Kenangan perjalanan kerumah sakit kabur dipikirannya. Donghae hampir tidak bisa mengingatnya. Hanya kenangan bahwa mereka terburu-buru agar rasa sakit Eunhyuk segera hilang.
Ibu Eunhyuk sedang membantu operasi saat mereka sampai disana. Rumah sakit tempat ibu Eunhyuk bekerja hanya sebuah rumah sakit dengan fasilitas menengah dan ibu Eunhyuk sudah lama bekerja disana. Mereka menunggu dengan segera setelah Donghae memberikan kepada resepsionis nama Eunhyuk dan mengatakan kepada mereka siapa ibu Eunhyuk.
Mereka ditempatkan disebuah ruangan dan menunggu hanya beberapa menit sebelum dokter datang. Dokter yang datang seorang profesional, memanggil Eunhyuk dengan nama "Nona Lee," dan memberi tahu dengan tenang bahwa ibu Eunhyuk sudah memberikan izin kepadanya untuk melakukan prosedur yang harus dilakukan, tapi tidak ada yang bisa menggantikan ibunya dan ibunya sedang berada di tengah-tengah operasi. Ibu Eunhyuk tidak bisa datang.
Donghae mengamati wajah Eunhyuk saat dokter menjelaskan semua itu kepada Eunhyuk. Saat Eunhyuk menyadari bahwa ibunya tidak bisa datang, matanya melayang kepada Donghae dengan panik dan tidak melepaskannya.
Donghae tidak akan pernah melupakan sampai dia mati apa yang dia rasakan saat pandangan Eunhyuk jatuh padanya dan memandangnya dengan kebutuhan. Untuk dukungan. untuk arahan. untuk pertolongan.
Sungmin Sahabat Eunhyuk dan duduk tepat disebelah Donghae, tapi mata Eunhyuk jatuh kepada Donghae. Hanya Donghae. Didalam perlawanan rasa sakit, takut dan butuh.
Donghae tak akan pernah lupa apa rasanya. Tapi Donghae tak bisa menggambarkannya. Donghae ingat rasa sakit saat merasakan kesakitan yang Eunhyuk alami. Donghae ingat dia ingin melakukan sesuatu, apapun untuk menghilangkan rasa takut Eunhyuk. Donghae ingat merasa spesial, seperti tergantung padanya untuk membuat hal ini lebih baik bagi Eunhyuk.
Donghae tidak ragu, hanya berdiri dan berjalan kearah dimana Eunhyuk duduk diatas meja, kakinya terangkat. Donghae berjalan kesebelah Eunhyuk, mengangkat tangan Eunhyuk keatas tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
Donghae bicara kepada dokter.
"Aku Lee Donghae, uisanim. Teman baik Euhyuk. aku 18 tahun dan aku akan mendampinginya."
Donghae memandang lurus kepada pria yang lebih tua itu tapi dia merasa Eunhyuk menghembuskan nafas dalam dan sedikit rileks.
Dokter memandang Donghae sebentar dan mengangguk. Lalu dokter itu memandang Sungmin yang masih pucat seperti hantu. "Itu tidak apa- apa, tapi kupikir wanita muda ini harus membuat dirinya nyaman diruang tunggu."
Sungmin berdiri dan memandang Eunhyuk dengan pertanyaan dimatanya.
"Tidak apa-apa Min. Aku a-akan baik-baik saja." Donghae merasa Eunhyuk menggenggam tangannya lebih erat saat Eunhyuk menjawab pertanyaan Sungmin yang tidak terucap.
Sungmin mengangguk dan meninggalkan ruangan.
Setelah itu, kenangan dalam pikirannya kembali kabur. Donghae ingat seorang suster masuk, bicara dengan nada yang menenangkan tapi tangan Eunhyuk tidak pernah melepaskannya. Donghae ingat suster itu bergerak mengelilinginya beberapa kali saat suster itu menyiapkan segala sesuatu.
Eunhyuk mendapat sepuluh jahitan, tapi yang paling buruk adalah suntikan sebelum tindakan pengobatan yang sebenarnya. Dokternya bertindak lembut dan mengatakan kepada Eunhyuk bahwa dia akan merasa seperti dicubit. Pandangan Eunhyuk jatuh kepada Donghae lagi dengan kegelisahan dan Donghae bersandar kedepan kearah Eunhyuk dan berbisik ditelinganya. "Semua akan baik-baik saja, sayang. Aku di sini, Hyukie. Berpegangan padaku."
Dokter baru saja selesai saat ibu Eunhyuk datang dengan keprihatinan lalu kelegaan mengalir kedalam wajahnya.
Donghae ingat pergolakan rasa sakit yang tiba-tiba muncul dan sesal saat dia harus menjauh dari Eunhyuk untuk memberikan ruang kepada ibunya yang segera memeluk Eunhyuk.
Donghae tersadar dari lamunannya saat dia melanjutkan memandang foto kaki mulus Eunhyuk. Lukanya sudah sembuh dengan baik. Jika seseorang tidak tahu bahwa ada bekas luka disana, mereka tidak akan mampu untuk mengenalinya.
Rasa posesif yang tajam melandanya. Donghae tahu rasa itu ada pada dirinya.
.
.
.
Selasa malam ponsel Eunhyuk berbunyi. Lee Sungmin muncul dilayar. Realisasi melanda Eunhyuk dengan senyum lembut. Eunhyuk harus merubah itu. Apakah dia akan terbiasa untuk berpikir tentang sahabatnya berganti nama menjadi Cho Sungmin sekarang?
Eunhyuk mengangkat ponselnya. "Kau seharusnya sedang berbulan madu!"
Sungmin menjawab dengan tertawa "Aku sedang berbulan madu dan ini menyenangkan!"
"Apakah kau bahagia?" Eunhyuk bertanya, walau dia sudah tahu jawabannya.
"Tentu saja. Dia pria yang aku inginkan. " Suara Sungmin tegas dan yakin.
"Aku tahu dia yang kau inginkan, Min," Eunhyuk berkata.
"Kau pernah tidak menyukainya," Sungmin mengingatkan Eunhyuk.
"Ya. Aku juga tak tahu bahwa pria itu tergila-gila padamu. Aku hanya menjagamu." Belum lama Eunhyuk tahu apa yang sebenarnya Kyuhyun inginkan dari sahabatnya.
"Aku tahu. Tidak apa-apa. bagaimana denganmu?" Sungmin bertanya kepada Eunhyuk.
"Bagaimana dengan aku?" Suara Eunhyuk ragu.
"Yang benar Hyuk? kau berhubungan dekat dengan kakakku di resepsi pernikahanku dan kita akan memainkan permainan ini?" Suara Sungmin bernuansa rasa tidak percaya.
"Dia mendapatkan panggilan sebelum hal apapun dapat terjadi. Dia sekarang berada di Daegu untuk memadamkan kebakaran hebat."
Sejenak Sungmin terdiam sebelum menjawab. "Sial. Aku tidak tahu tentang itu. Apakah dia menciummu?"
"Ya." Eunhyuk tidak keberatan Sungmin tahu. bahkan itu sebuah kelegaan.
"Oh Tuhan. Kau dan kakakku. Sahabatku dan kakakku. Aku kaget."
"Bagaimana kau bisa kaget? Apakah kau serius mengatakan padaku bahwa kau tak pernah tahu aku tertarik padanya?" Eunhyuk sudah bertanya-tanya soal ini sejak lama. Apakah Sungmin tahu perasaan Eunhyuk kepada kakaknya?
"Aku tidak pernah tahu." Kata Sungmin tulus.
"Hmmm, kurasa aku menyembunyikannya dengan baik kalau begitu," ucap Eunhyuk.
"Kurasa begitu." Sungmin menyetujuinya dengan lembut.
"Apa kau tidak keberatan?" Eunhyuk bertanya.
"Serius? Aku menyayangimu! kau adalah sahabat baikku. Sekarang kau akan menjadi kakak perempuanku. Aku-"
Eunhyuk memotong kata-kata Sungmin. "Whoa. Pelan-pelan. Jangan meletakkan kesialan disana."
"Jadi, itu yang kau inginkan?" Sungmin bertanya kepada sahabatnya.
"Dengan seluruh hatiku." Suara Eunhyuk lembut.
Kesunyian melanda kedua sahabat ini sampai Sungmib bicara, "Aku berharap hubungan kalian berdua berjalan dengan baik. Aku berharap demi diriku hubungan kalian akan berjalan dengan baik. Tolong, tolong, katakan kepadaku bahwa kau dan aku akan baik-baik saja tidak perduli apa yang akan terjadi pada kalian berdua."
"Jangan pernah berpikir begitu. Kita baik-baik saja. Aku tidak bisa kehilanganmu Min. Kau dan Wookie adalah sahabatku. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua."
Rasa ragu dan takut melanda Eunhyuk jauh kedalam dirinya. Banyak hal yang Eunhyuk bisa dapatkan dari hubungannya dengan Donghae. Tapi banyak hal juga yang akan hilang darinya jika hubungan mereka berubah menjadi buruk.
"Kupikir Wookie tahu, kan?" Eunhyuk bertanya.
"Ya. Dia yang bilang padaku. Yesung oppa yang menemui kalian berdua, ingat?"
"Ya. Aku ingat. Apakah Wookie tidak keberatan? maksudku dengan aku dan Donghae?"
"Tentu. Dia sayang padamu sebesar aku menyayangimu. Ini akan sempurna. Kita semua akan menjadi keluarga besar yang bahagia."
"Aku takut, Min, " Eunhyuk mengakuinya dengan suara pelan.
"Aku tahu itu. Tapi kau sendiri yang bilang, Kakakku seorang pria yang baik. Kau pantas mendapatkannya. Dia pantas mendapatkanmu. Ini akan baik-baik saja. Jangan takut untuk mengejar apa yang akan membuatmu bahagia."
"Terima kasih Min. terima kasih untuk pengertiannya." Eunhyuk menjawab.
"Tidak masalah. Aku harus pergi sekarang. Kyuhyun bilang Yesung oppa sudah mendahuluinya mahir menaruh bayi kedalam rahim. Itu kata-katanya. Kami harus menyusul mereka." Suara Sungmin berubah menjadi bersemangat.
"Apakah kau serius? Kalian sedang berusaha untuk program hamil?" Eunhyuk tidak bisa menyembunyikan sedikit rasa kaget dalam suaranya.
"Tidak begitu berusaha. Hanya berlatih dan tidak melakukan apapun untuk mencegahnya."
Eungyuk tertawa geli. "Semoga berhasil dengan itu semua, sayang."
"Terima kasih. Aku akan menelponmu lagi nanti. Good luck dengan kakakku. Bye."
"Bye." Eunhyuk melemparkan ponselnya dan bertanya-tanya bagaimana dia bisa bertahan sampai Jum'at.
.
.
.
Sisa minggu merangkak seperti siput. Eunhyuk tidak lagi menerima SMS dari Donghae, tapi ia tidak berpikir ada hal yang perlu dikhawatirkan dengan itu. Ia tahu Donghae masih akan tetap pulang Jumat malam. Ia tahu Donghae masih serius untuk datang menemuinya. Ia yakin soal itu. Suara tegas Donghae, kata-katanya kukuh bahwa Eunhyuk sesuai dengan apa yang Donghae inginkan. Perasaan seperti itu tidak akan hilang hanya dalam waktu satu malam.
Eunhyuk juga tahu Donghae sehat. Donghae pasti sehat karena jika tidak dia pasti telah mendapat kabar. Adik perempuan Donghae pasti akan mengetahui jika sesuatu terjadi padanya dan Sungmin pasti telah memberitahunya. Eunhyuk juga menonton berita. Kebakaran hebat di Daegu, walau hebat, tapi dapat diatasi dan tidak ada kematian atau kecelakaan buruk lainnya.
Jadi Eunhyuk tahu segala sesuatunya baik-baik saja dan apa yang harus dia lakukan adalah hidup sampai Jumat malam. Hal itu terbukti menjadi bagian yang sulit.
Eunhyuk menelpon Ryeowook pada hari Kamis dan mereka bertemu dikota untuk makan siang disebuah restoran dekat dengan tempat kerja mereka berdua.
Dengan terburu-buru Ryeowook menghampiri Eunhyuk dan memeluknya dan bicara to the point. "Yesung oppa bilang Donghae oppa menciummu.
Apakah dia menciummu? Kapan kau akan bertemu dengannya lagi?"
Eunhyuk mengarahkan Ryeowook kemeja mereka dan kedua wanita ini duduk sebelum dia menjawab. "Bagaimana bisa kau mempunyai energi yang begitu besar? Bukankah kau seharusnya mengalami morning sickness atau sejenisnya?"
"Aku baik-baik saja memasuki trisemester kedua kehamilan. Kau tahu itu. Aku baik-baik saja. Berhenti mencoba untuk mengalihkan perhatianku. Kita bisa membicarakan urusan bayi selama makan makanan penutup nanti."
"Makanan penutup?"
"Kau pikir aku tidak akan makan makanan penutup?"
"Kupikir kau adalah wanita hamil paling cantik yang pernah kulihat. Apakah Yesung oppa masih menyimpanmu dengan gembok dan anak kunci?"
"Dia sudah lumayan tenang sedikit karena aku sekarang cukup bulat hingga mulai susah berjalan. Aku punya firasat dia akan mencoba untuk menjaga tubuhku tetap seperti ini."
"Well, kau terlihat cantik. Dan ya, Hae oppa menciumku."
"Ok, sekarang kita mengarah ke suatu tempat. Apakah itu asyik?"
"Pernahkah kau melihat Hae oppa?" Eunhyuk menggoda.
"Ya dan dia bukan keluarga yang cukup dekat denganku untuk tidak bisa mengatakan padamu betapa menawannya dia. Tindakan yang bagus eonni."
"Aku belum melakukan apapun." Suara Eunhyuk mengandung kegelisahan.
"Jangan mencoba untuk membodohiku. Yesung oppa mengatakan padaku apa yang dia lihat. Maksudku dia bilang padaku setiap detail yang kecil. Dan dia bilang padaku dengan cara seorang pria bicara. Kau tahu, cara seorang pria bicara dengan pria lainnya." Ryeowook tertawa. "Aku belajar itu darinya sekarang karena kami sudah menikah. Dia mengatakan semuanya. Dan ini pendapatnya bahwa Donghae oppa tertarik padamu."
"Benarkah? Yesung oppa bilang begitu?"
"Ya. Dia mengatakannya dan dia mempercayainya. Dia menggambarkan padaku dengan perkataan ada sesuatu di mata Donghae oppa."
"Jadi , bagaimana menurutmu?" Eunhyuk bertanya padanya.
"Kupikir kau harus berpikir kapan kau melangsungkan pernikahan dibulan apa. Aku akan menjadi pendamping wanita lagi, kan? Entah itu akan menjadi sangat cepat, atau kau harus memberikan aku waktu beberapa bulan untuk mengurangi berat badanku. Tidak berarti aku berencana untuk menambah banyak berat badan."
"Ok. Aku akan bicara denganmu seperti aku bicara dengan Minnie. Jangan mendatangkan kesialan!"
"Aku tidak boleh bicara tentang pernikahan?"
"Tidak. Jangan dulu. Jika Hae oppa mendengar bahwa kau dan adik perempuannya sudah merencakan pernikahannya, Dia akan lari. Kau tahu bagaimana laki-laki."
"Ok. Aku setuju. Aku akan mengikuti instruksimu." Ryeowook bicara dengan tersenyum.
"Jadi bagaimana kabar baby Kim?" Eunhyuk bertanya.
"Dia baik-baik saja. Kami sebenarnya berpikir untuk memberinya nama Kim Yoogeun."
"Well, itu terdengar indah untukku. Dan ide yang bagus. Kupikir sangat baik jika kalian berdua memikirkan hal itu."
"Terima kasih."
"Kau tahu kan Minnie mungkin akan segera hamil juga?"
"Apa kau serius?"
"Tentu, jika takdirnya begitu, kurasa. Mereka tidak melakukan apapun untuk mencegah kehamilan. Aku berharap itu bukan rahasia. Dia tidak bilang padaku agar jangan memberitahumu soal ini."
Ryeowook tertawa. "Wow."
"Ya, aku tahu. Kyuhyun mendesak Minnie eonni tentang bagaimana Yesung oppa sudah mendahuluinya."
"Oh tuhan! Laki-laki. Mereka gila. Tapi akan sangat asyik jika itu terjadi. Pikirkan. Anak-anak Yesung oppa dan Kyuhyun akan menjadi sepupu. Lalu kalian semua akan memiliki anak-anak, mereka semua akan menjadi sepupu!"
Eunhyuj memberikan tatapan menjengkelkan kepada sahabatnya. "Jangan bicarakan hal itu." Suaranya pelan. "Hanya pastikan bahwa kau memikirkan aku jika kau melihat bintang jatuh."
.
.
.
Eunhyuk sudah siap dan menunggu Jumat malam saat bel pintunya berbunyi.
Donghae tidak pernah menelpon. Dia juga tidak pernah menulis SMS. Dia hanya muncul. Walau bagaimanapun Eunhyuk sudah siap.
Eunhyuk membuka pintu dan berdiri mundur, memberikan ruang bagi Donghae untuk masuk.
Donghae masuk, menyapukan pandangannya kepada Eunhyuk, menutup pintu, berbalik dan bersandar pada pintu.
Eunhyuk berdiri dengan kaki yang gemetar saat Donghae bersandar pada pintu dan memandangnya. "Hai," Eunhyuk bicara.
"Hey." Mata Donghae menyapukan pandangannya keatas dan kebawah tubuh Eunhyuk.
Eunhyuk mengigit bibirnya dan menarik nafas dalam. "Apakah kau lapar?"
"Tidak, kau?" Suaranya terdengar santai, tapi Eunhyuk tahu Donghae tidak santai.
"Tidak," Eunhyuk menjawab dengan lembut. Sunyi.
Eunhyuk mencoba lagi. "Apakah kau ingin sesuatu untuk di minum?"
"Tidak." Jawaban Donghae pendek, final.
"Ok."
Donghae mengangkat satu alis, "Hanya itu? Semua basa-basi sudah ditanyakan, sayang?"
Eunhyuk gemetar. "Ya."
Donghae mendorong pintu dengan sepatunya dan berjalan menuju Eunhyuk. Donghae mengayunkan tubuh Eunhyuk dan menggendongnya, satu lengan gagah dibawah punggung Eunhyuk dan satu lagi dibawah kakinya.
Donghae berjalan melewati ruang keluarga menuju lorong yang menuju kebeberapa kamar tidur. "Yang mana?"
Eunhyuk mengarahkan Donghae dengan tangannya,terlalu terpukau untuk bicara.
Donghae menurunkan Eunhyuk diatas tempat tidur dan Donghae duduk ditepi tempat tidur dan membuka sepatunya. Sepatunya jatuh kelantai satu persatu dengan suara keras.
Donghae menarik kaosnya lewat bahunya dan melemparkannya kelantai. Donghae duduk sebentar dengan ketampanannya, punggung telanjangnya menghadap Eunhyuk dan Eunhyuk tidak dapat menahan godaan ini.
Eunhyuk berlutut dibelakang Donghae dan memeluknya, tubuh bagian depan Eunhyuk menempel pada punggung Donghae. Tangannya meraih bahu Donghae lalu Donghae meraih tangan Eunhyuk dan menempatkannya diatas tangannya dan memandang Eunhyuk lewat bahunya.
Eunhyuk meraih bibir tipis Donghae diatas bibirnya.
Donghae membiarkan Eunhyuk mendapatkan ciumannya lalu Donghae berdiri dan mengangkat tubuhnya. Donghae menelanjangi Eunhyuk, berawal dengan kaos dan branya lalu diikuti celana jeans dan celana dalamnya.
Tangan Eunhyuk meraih restleting celana Donghae dan Donghae menolongnya dengan membuka kancing celananya sendiri. Mereka mendorong celana jeans Donghae kebawah pinggulnya juga bersamaan dengan celana dalamnya.
Akhirnya telanjang, akhirnya bersama, mereka kembali keatas tempat tidur.
Mereka saling memandang saat Donghae memegang wajah Eunhyuk dengan telapak tangannya. "Kau seperti deman yang tidak pernah bisa pergi."
Eunhyuk menarik nafas "Apakah kau ingin demam itu menghilang?"
Mata Donghae memancar dengan liar. "Bagaimana menurutmu?"
Donghae mendorong Eunhyuk. Kakinya berada diantara paha Eunhyuk dan Donghae mendorong lutut Eunhyuk jauh kesamping sampai Donghae berada tepat dimana yang selama ini dia inginkan.
Tubuh Eunhyuk sedikit gemetar dan Donghae sadar tubuhnya juga demikian.
Donghae menunduk dan mencium Eunhyuk dengan semua rangsangan dan gairah yang lama terkekang dan melanda tubuhnya. Eunhyuk akhirnya berada dipelukanya, akhirnya berada dimana dia seharusnya berada. Sudah berapa tahun dia menginginkan Eunhyuk? Sudah berapa kali Donghae melihat kaki enam-belas-tahun Eunhyuk yang mengintip dibawah kaos yang dia kenakan saat dia bermalam dengan Sungmin? Berapa kali Donghae sudah mandi air dingin hanya untuk meredakan apa yang dia rasakan lalu mengganti airnya menjadi panas saat dia menempatkan tangannya kebawah dan melakukan masturbasi sebagai pelepasan sementara dirinya membayangkan Eunhyuk? Terlalu banyak untuk bisa dihitung.
Donghae mencium Eunhyuk cukup lama, selama yang mampu Donghae lakukan, selama dia memeluk Eunhyuk, siap untuk menusuk seperti yang sudah dia inginkan sepanjang dia hidup.
Lidah Donghae mengeras dimulut Eunhyuk saat ia mencoba untuk menarik oksigen dan mencoba untuk tidak melepaskan Eunhyuk dari pelukannya. Kebutuhan dalam diri Donghae memohon untuk tidak melepaskan mulut Eunhyuk. Donghae sudah lama menginginkan hal ini. Donghae mencium Eunhyuk dengan kemarahan yang melanda kedalam aliran darahnya dari bertahun-tahun penantian terhadap Eunhyuk.
Donghae tak akan pernah ingin melepaskan Eunhyuk lagi.
Eunhyuk tenggelam kedalam gairah. Gairah akan Donghae. Donghae menciumnya dengan kebutuhan yang buas dan Eunhyuk secara fisik harus melepaskan mulut Donghae untuk menarik oksigen.
Bibir Donghae bergerak ketelinga Eunhyuk dan tangannya erat dipayudara Eunhyuk. Nafas panas Donghae membasuh telinga Eunhyuk. "Ya Tuhan, aku sudah lama menginginkanmu, sampai rasanya sakit untuk memikirkannya."
"Aku juga." Eunhyuk berbisik.
"Aku tidak ingin menunggu lagi."
"Jangan menunggu." Eunhyuk mendesak Donghae.
Donghae menggerakkan tangannya kewajah Eunhyuk dan memandang matanya.
Eunhyuk memandang Donghae saat Donghae mulai mendorong kearahnya.
Perasaan yang tidak bisa digambarkan. Eunhyuk tidak pernah merasakan hal seperti ini, semua ini seperti apa yang dia impikan.
Donghae menusuk kedalam Eunhyuk sedikit demi sedikit dan panas, Emosi yang manis melandanya dengan cengkeramannya sampai Donghae berada didalam diri Eunhyuk sejauh yang dia bisa lakukan.
Donghae menutup matanya dan mendorong lebih keras lalu lebih keras.
Donghae membuka matanya untuk melihat Eunhyuk yang memandangnya, melihat kedalam jiwanya.
"Kau sudah tahu, kan?" Suara Donghae serak.
Eunhyuk memejamkan matanya perlahan saat suara Donghae membasuh panca inderanya.
Donghar menarik keluar dengan lembut dan menusuk kembali. Eunhyuk mendesah dan membuka matanya.
Donghae menusuk kembali. Eunhyuk mulai bergerak bersama Donghae, dengan gerakan yang singkron yang membuat mereka berdua mendesah mencari udara.
Donghae menunduk dan mencium Eunhyuk dengan lembut lalu menggerakkan mulutnya ketelinga Eunhyuk. "kau sudah tahu kan, Hyukie?" Donghae menarik keluar dan mendorong kedalam. "Kau tahu aku mencintaimu, kan? Kau tahu aku mencintaimu dan selalu mencintaimu?"
Dengan kalimat pengakuan lembut itu, Eunhyuk bergelimang orgasme dalam pelukan Donghae dalam aliran gairah dan kenikmatan. Eunhyuk memeluk Donghae dengan erat dan orgasme Eunhyuk pelan-pelan mereda sementara Donghae terus memompa kedalam Eunhyuk dengan pandangan nafsu posesif diwajahnya. Donghae begitu tampan. Donghae persis seperti apa yang Eunhyuk inginkan.
Eunhyuk menyapukan tangannya keatas dan kebawah bisep Donghae saat pinggul Donghae terus menusuk kedalam dirinya berkali-kali. Donghar membuka matanya dan Eunhyuk memandang kedalam jiwa Donghae.
"Aku juga mencintaimu." Eunhyuk mengangkat tangannya kewajah Donghae. "Dan aku akan selalu mencintaimu."
Donghae menggeram, getaran dalam muncul dari dalam dadanya dan melayang melewati batas, aman dilengan Eunhyuk.
.
.
.
EPILOG
Lee Hyukjae membawa keranjang buah kehalaman belakang dan meletakkannya diatas meja piknik. Eunhyuk memandang kesekeliling halaman dengan kebahagiaan. Semua sudah siap untuk second Saturday (*hari Sabtu kedua setiap bulannya, hari libur dimana orang tidak perlu bekerja yang biasa digunakan untuk berpesta.)
Ia, Sungmin dan Ryeowook mulai merayakan second Saturday enam tahun lalu, satu bulan setelah Eunhyuk dan Donghae pulang dari bulan madu mereka.
Awalnya hanya enam dari mereka yang hadir, tapi hal itu hanya berlangsung beberapa bulan saja sebelum Ryeowook melahirkan bayi perempuannya. Anak perempuan yang mengagetkan semua orang, tapi tidak diragukan membuat Ryeowook bahagia dan membuat Yesung merasa luar biasa. Ryeowook pergi berkerja pada hari Senin setelah second saturday dan bulan depannya, mereka sudah membawa bayi perempuan bersama mereka. Kim Yoogeun merupakan pecapaian besar dan dicintai oleh semua bibi dan pamannya.
Tiga wanita ini sudah lama memutuskan bahwa semua orang dewasa akan menjadi bibi dan paman, walaupun secara teknis hanya anak Sungmin dan Eunhyuk yang merupakan sepupu. Cukup membingungkan untuk sepupu kedua, atau sebutan sepupu pertama sudah dihilangkan atau apapun nama hubungan diantara mereka, untuk mengetahui siapa bibi atau paman atau siapa sepupu tertua.
Dan sejak hari itu Ryeowook dan Yesung sudah memperkenalkan Baby Yoogeun ke keluarga tambahannya, keluarga tambahan yang telah berkembang.
Sungmin hamil dalam bulan madunya dan Kyuhyun merasa sangat bahagia untuk kembali menjadi pemenang saat Sungmin melahirkan bayi kembar Sembilan bulan kemudian.
Yesung tidak kalah untuk waktu cukup lama. Dia dengan segera bicara dengan Ryeowook untuk kembali mencoba dan tidak lama kemudian, mereka mendapat bayi laki-laki yang mereka pikir akan mereka dapatkan pada kehamilan pertama Ryeowook.
Sejak itu, kedua pasangan ini sudah memiliki tiga bayi. Jadi Eunhyuk dan Donghar sekarang adalah bibi dan paman dari enam anak. Enam anak yang mereka kagumi tanpa perbedaan.
Eunhyuk mengalihkan pandangannya dari atas meja saat mendengar pintu belakang terbuka. Donghar berjalan keluar dengan keranjang daging yang siap untuk dipanggang disatu tangan dan seorang anak perempuan balita menggantung dipinggulnya. "Sayang, bisakah kau ambil gumpalan ini? tangannya lengket."
Eunhyuk tersenyum dan menjulurkan tangannya. Anak perempuan balita itu mengelurkan suara dan meraihnya. Eunhyuk mencium dahi anak perempuan itu dan memandang ke suaminya. "Apakah seseorang sudah datang?"
"Belum, hanya kau dan aku dan putri kecil ini." Donghae tersenyum kepada istrinya, menempatkan keranjang keatas meja dan memeluk Eunhyuk serta anak perempuan mereka bersama. "Kau pikir kita membuat keputusan yang tepat?"
Eunhyuk bersandar kepada Donghae. "Tentang menunggu beberapa tahun lagi untuk menambah bayi?"
"Ya."
"Tentu, kurasa kita membuat keputusan yang tepat."
Donghae memandang Eunhyuk seperti dia tidak sepenuhnya yakin. Eunhyuk menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Apa?" tanya Donghae.
"Kita mungkin sudah membuat keputusan yang tepat, tapi itu tidak berarti kita butuh memiliki pilihan dalam urusan ini." Wajah Eunhyuk bersinar.
Pandangan mereka bertemu dan Eunhyuk bisa mengetahui Donghae berusaha untuk memikirkan arti dari perkataannya. Donghae terlihat sedikit bingung.
Mereka saling memandang saat pintu belakang rumah terbuka dan enam anak kecil liar meluncur keluar dari pintu berteriak "Taeminnie~", yang merupakan panggilan mereka untuk sepupu mereka yang berumur satu tahun.
Ryeowook, Yesung, Kyuhyun dan Sungmin tidak jauh dibelakang mereka, membawa pendingin dan mainan.
Dalam tiga puluh detik halaman belakang akan menjadi berantakan.
Eunhyuk memandang kepada Donghae dan memutuskan untuk sedikit berbelas kasihan padanya. "Ya sayang, kita akan mendapat bayi lagi."
Mata Donghae berubah menjadi senyuman, bibirnya mendarat diatas bibir Eunhyuk dan pesta pun dimulai.
.
.
.
*** THE END ***
.
.
.
yeahh akhirnya bisa update jg..
Maafkan saya tadinya chap ini udh mau saya update dari January tp gabisa.. pas ultah kyuhyun jg terkendala.. akhirnya molor sampe jauh gini T.T
Mohon maaf yang sebesar-besarnya buat yang nunggu kelanjutan ff ini maupun ff saya yg lain *emang ada?#plakk
Bener deh bukan maksud menelantarkan cuman banyak bgt cobaannnya buat bisa update T.T
Mianhae #bow
Untuk ff saya yg HE'S MY BROTHER sama It's You akan saya lanjutkan kalau masih ada yg berminat xD kalau tidak ada yowesslaa maklum ff abal hahahahah
Last saya ucapkan terima kasih banyak buat yg sudah mengikuti ff ini dari awal jeongmal gomawoyo untuk Read Review Fav Follow juga Siders sekalian #bow
BIG THANKS TO :
Baby niz 137 Michiko Haru Ryeota Hasu raya137 ratu kyuhae TiffiTiffanyLee . SuniaSunKyu137 imhwax
ovallea Wiprasetyalee seira minkyu PumpkinEvil137 orange girls nanaxzz qmin PabboGirl cholovelee Cywelf nuralrasyid hyunhee1104 dewi. aniclouds Nami JonginDO abilhikmah choidebwookyung1214 Misslah wdesfita elfjoy Lusiwonest svtmeanie Tsuioku Lee lee kyurah araaaa diahsshii
Guests
Mohon maaf apabila ada salah penulisan pen name atau ada yg kelewat heheh
Jeongmal Kamshahamnida
