Light On My Darkness
Chapter 6
.
.
Author : Clou3elf
Main Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung and others
Pairing : KookV slight!YoonV, NamV
Genre : Drama, Hurt & Comfort
Rate : T-M (sesuai kebutuhan)
Warning : BxB, Seme!Kook, typo, membosankan, dll
A/N : Sesuai kesepakatan *ceileh* saya publish yang cerita satu. Maapkeun saya karena buat bang JK disini jadi gila #ditabok. Maafkan juga kalau ini bener-bener ancur. Saya bukan anak psikologi, kedokteran atau apapun itu. Jadi semua isi cerita ini bener-bener ngarang tingkat dewa kecuali nama penyakitnya xD
.
.
Hope U Like
.
.
Happy Reading
.
.
~Previous Chapter~~
.
.
"Kenapa harus ke Busan kalau kau bisa disini?"
Taehyung membulatkan matanya saat mendengar Yoongi menyebut nama Busan. Belum sempat Taehyung bertanya, Yoongi sudah membuka matanya dan menatapnya langsung. Taehyung kenal tatapan itu. Itu pandangan saat Yoongi pertama kali kemari.
"Da-darimana kau tau?"
Yoongi menyeringai, "Pergilah" Yoongi melepas pegangannya pada pergelangan tangan Taehyung.
"Ka-kau.."
"Pergilah sebelum aku melakukan sesuatu yang membuatmu tertahan disini"
Tanpa diminta lagi, Taehyung bergegas keluar ruangan. Tak lupa mengunci pintu teralis besi ruangan Yoongi dengan rantai. Taehyung pergi tanpa menoleh lagi.
Itu membuat Taehyung melewatkan tatapan gelap Yoongi dan seringainya yang semakin terlihat menyeramkan.
"Lakukan pekerjaanmu selagi aku memberi kesempatan Kim Taehyung"
.
.
~Chapter Six~
.
.
Taehyung berbaring di atas tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Kepalanya terasa sangat pusing. Kalau boleh jujur, Taehyung tak tau harus memprioritaskan siapa diantara Jungkook dan Yoongi. Kedua makhluk itu benar-benar menguras pikirannya.
"Tae" suara sang ibu mengetuk pintu kamarnya. Sontak Taehyung terbangun dan meloncat ke pintu kamarnya.
Begitu pintu dibuka, Taehyung melihat sang ibu tersenyum sambil membawakan segelas susu berwarna coklat. Taehyung tersenyum lebar kemudian dengan cepat mengambil susu coklat itu dari tangan sang ibu.
"Ibu..mau masuk?" Taehyung sedikit menyingkir dari depan pintu. Bermaksud memberi jalan pada sang ibu.
Sang ibu langsung melenggang masuk dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang Taehyung. Taehyung sebenarnya bingung dengan tingkah ibunya tapi dia hanya duduk di samping wanita 45 tahunan itu sembari meminum susunya dengan khidmat.
"Tae, ibu boleh bertanya?"
Taehyung mengerutkan keningnya. Ada yang aneh dengan ibunya. Tidak biasanya.
"Kenapa harus meminta ijin dulu?" tanya Taehyung balik.
Sang ibu tersenyum, "Apa kau memang senang dengan pekerjaanmu?"
Taehyung tak menyangka ibunya akan bertanya seperti itu. Memang selama ini Taehyung selalu menceritakan semua pengalamannya pada sang ibu tanpa terkecuali. Termasuk dia yang harus merawat dua orang yang terbilang cukup berbahaya.
"Ne eomma. Aku menyukai pekerjaanku" Taehyung hanya mampu menjawab seperti itu.
"Kau berhadapan dengan seorang psikopat yang kapan saja bisa berbalik mencelakakanmu dan juga pengidap Skizofrenia yang tak tertebak. Apa kau tidak ingin mundur dari pekerjaanmu itu? Atau setidaknya berhenti merawat kedua orang itu. Eomma hanya takut terjadi sesuatu padamu"
Taehyung mulai mengerti maksud ibunya. "Eomma tenang saja. Aku bisa menangani mereka. Sampai saat ini aku masih bisa menjinakkan mereka" kelakarnya berusaha membuat suasana mencair.
Nyonya Kim menghela nafas. "Berjanjilah kau selalu memberi kabar pada eomma. Jangan ada sesuatu yang kau tutup-tutupi atau eomma dan appa akan menjemputmu di Busan dan melarangmu menjadi perawat rumah sakit jiwa"
"Call!" ucap Taehyung langsung. "Lagipula apa aku pernah berbohong pada eomma selama ini? Aku selalu menceritakan hal yang sebenarnya pada eomma, tau"
"Arraseo~ eomma hanya khawatir"
Taehyung tersenyum kemudian memeluk sang ibu dengan erat. Secara tidak langsung meminta kekuatan pada orang yang telah melahirkannya. Taehyung memang selalu menceritakan apapun yang dialaminya. Tapi tidak yang satu ini.
Taehyung tak mampu menceritakan ketakutannya pada sang ibu.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Taehyung kembali menjalani aktivitasnya di Busan. Dengan setengah hati dia berpisah dengan kasur tercintanya. Taehyung masih ingin tidur tapi dia tak ingin membuat perawat lain kerepotan menangani Jungkook.
Ah, Jungkook. Namja itu benar-benar merepotkan perawat yang lain selama Taehyung di Daegu. Dia kembali menutup diri. Bahkan menurut informasi yang Taehyung terima dari salah seorang perawat, Jungkook tidak tidur sama sekali.
Mengingat namja itu, Taehyung mempercepat geraknya. Setelah mandi, sarapan, dan bersiap, namja itu segera melesat ke rumah sakit. Langkahnya sedikit terburu. Dia hanya khawatir dengan keadaan namja kelinci itu. Tidak tidur selama 2 hari adalah hal buruk. Apalagi dengan kondisi Jungkook yang tidak stabil.
Dan benar saja. Begitu Taehyung menginjakkan kakinya di halaman rumah sakit, dia melihat Jungkook duduk memeluk lututnya. Pandangan matanya tak lepas dari gerbang. Dan Taehyung melihatnya.
Jungkook bereaksi begitu melihatnya. Matanya melebar dan tubuhnya menegang. Taehyung sontak berlari menuju ruangan Jungkook saat melihat namja tampan itu merangsek ke jendela. Mencengkeram teralis besi yang terpasang disana.
"Ta-Taehyung"
Begitu Taehyung masuk ruangan, Jungkook langsung berlari memeluknya dengan erat. Taehyung sempat berpikir pelukan Jungkook ini bisa membunuhnya. Entah itu karena sesak nafas atau tulangnya remuk. Demi apapun, Jungkook memeluknya sangat erat.
Jungkook memeluk Taehyung dengan raut wajah yang datar. Matanya menyorot tajam tapi memancarkan kelegaan luar biasa. Jungkook lega Taehyung kembali. Jungkook lega Taehyung ada di pelukannya. Dan Jungkook lega Taehyung tidak meninggalkannya.
Taehyung merasa berat badan Jungkook seolah menimpanya. Tubuh kekar itu pun semakin lemas di pelukannya. Taehyung sedikit terhuyung sebelum akhirnya mampu menguasai diri. Dengan sekuat tenaga Taehyung membawa Jungkook menuju ranjangnya. Membaringkan tubuh lemah itu dengan posisi yang nyaman.
Jungkook terkapar. Sepertinya karena dia begadang dua hari tanpa makan dan hanya sedikit minum. Wajahnya terlihat pucat dengan bibir kering. Taehyung menatap Jungkook dengan nafas terengah. Walau berhasil membaringkan Jungkook, Taehyung perlu mengerahkan seluruh tenaganya mengingat tubuh Jungkook yang lebih besar darinya itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Jeon Jungkook?" gumam Taehyung.
.
.
.
Taehyung sedang membereskan kamar Jungkook saat namja tampan itu bergerak gelisah dalam tidurnya. Keningnya berkerut dengan alis menukik tajam. Jungkook terlihat marah dalam tidurnya.
"Menjauh sialan" desis Jungkook berbahaya.
Taehyung memutuskan untuk membangunkan namja itu sebelum terjadi sesuatu. Taehyung menepuk pundak Jungkook dengan lembut. Tak ada tanda-tanda Jungkook akan terbangun. Dan selanjutnya Taehyung mencoba memanggil namjaa tampan itu.
"Jungkook-ah. Jeon Jungkook. Jungkookie" suaranya sedikit naik dan…berhasil.
Jungkook akhirnya membuka matanya. Dia mengerjapkan matanya kemudian menoleh ke arah Taehyung. Jungkook tiba-tiba bangkit dari posisi tidurnya. Membuat Taehyung secara reflek melangkah mundur.
Sret!
Grep!
Taehyung tak sempat bereaksi saat tiba-tiba Jungkook menarik tangannya. Membuatnya jatuh dengan sempurna ke dalam pelukan lengan kekar itu. Taehyung hanya diam saat merasakan tubuh Jungkook bergetar.
"Mereka melakukannya lagi Taehyung. Mereka melakukannya lagi"
"Melakukan apa?"
"Mereka mengejekku. Menyebutku gila. Menyebutku terkena kutukan. Meneriakiku dan memandangku sinis" ucap Jungkook bergetar.
"Mereka siapa Jungkook?"
"Mereka. Orang-orang yang ada di sekolahku dan appa"
"Mereka teman-temanmu?"
"Tidak. Tidak. Aku tidak punya teman seperti mereka. Mereka selalu mengejekku dan melakukan hal-hal buruk padaku"
Taehyung hanya diam. Dia berpikir mungkin Jungkook kembali merasakan halusinasi dimana orang-orang mengejeknya.
"Taehyung. Perawat-perawat itu juga menghinaku. Mereka menyebutku gila. Mereka berencana merebutmu dariku" Jungkook mengeratkan pelukannya pada Taehyung. "Tidak. Aku takkan membiarkan mereka"
"Jungkookie, tak ada yang menghinamu dan tidak ada yang ingin merebutku darimu. Kau tanggung jawabku" ucap Taehyung setelah berhasil menemukan suaranya.
"Taehyung takkan pergi?"
"Aniya. Aku hanya pergi jika aku ke ruangan perawat"
Jungkook memandang Taehyung dalam. Kepalanya terasa penuh karena berbagai macam komentar orang-orang yang menyebutnya gila. Jungkook benar-benar membenci semua itu. Dia ingin hidup tenang tanpa ada cibiran dan cacian yang selalu menemaninya selama ini.
"Jungkookie..aku punya sesuatu untukmu" Taehyung mengeluarkan mp3 player dari tas miliknya.
"Mp3?" tanya Jungkook seraya menerima pemberian Taehyung.
"Kau harus belajar mengatasi suara-suara yang selalu mengganggumu. Dan ini salah satunya. Saat suara-suara itu mulai terdengar, kau harus cepat-cepat memakai ini. Dengarkan lagu yang bisa membuatmu senang" Taehyung menjelaskan dengan lembut dan disertai senyuman yang sangat manis.
"Apa kau yakin? Bagaimana jika mereka semakin menggangguku?" suara Jungkook terdengar bergetar.
Taehyung memegang kedua pundak kokoh namja Jeon itu. Mata cokelatnya menatap manik hitam Jungkook yang kelam. Taehyung tau ada banyak kesakitan yang tersembunyi dari sorot mata hitam itu. Dan Taehyung sangat ingin membuat sorot mata itu menjadi lebih 'manusiawi'.
"Jungkookie percaya padaku kan?" tanya Taehyung lembut.
Jungkook memandangnya lekat. Seperti seorang anak kecil yang mengharapkan sesuatu. Taehyung rasanya ingin menangis.
"Aku percaya Taehyungie" ucapan Jungkook membuat Taehyung tersenyum.
"Nah, ingat pesanku. Jika mereka mulai mengganggumu, kau cukup pasang earphone ini di telinga dan putar musiknya" Taehyung menjelaskan dengan hati-hati. Memastikan Jeon Jungkook mendengar dan mengerti apa yang dia instruksikan.
Jungkook segera memasang earphone berwarna putih itu ke kedua telinganya. Mengikuti instruksi Taehyung tadi. Sang perawat tersenyum dengan manis begitu melihat Jungkook cepat belajar. Taehyung berjalan mundur perlahan.
"Kau mau kemana?" tanya Jungkook begitu melihat pergerakan Taehyung yang semakin menjauh darinya. "Kau mau pergi lagi?"
"Ti-tidak. Aku hanya ingin ke ruangan perawat sebentar. Hanya sebentar, aku janji"
Jungkook memandang Taehyung ragu. Dia takut Taehyung akan pergi. Orang-orang itu mengatakan dia akan membawa Taehyung pergi darinya. Dan Jungkook tak ingin itu terjadi.
"Hanya sebentar?"
Taehyung mengangguk mantap, "Hanya sebentar. Pintunya tidak akan kukunci. Jadi kau bisa menyusulku jika aku terlalu lama" ucap perawat manis itu.
"Cepatlah kembali" ucap Jungkook.
Taehyung mengangguk kemudian berjalan keluar ruangan. Begitu Taehyung di luar, Jungkook mendengar suara-suara para perawat itu mengejek Taehyung. Mereka menghina Taehyung-nya karena terus berada di dekatnya.
Jungkook geram. Kenapa orang-orang itu selalu mengusiknya. Sejak dulu orang-orang selalu membuatnya tertekan. Dia tak bisa bergaul juga karena orang-orang itu. Jungkook benci dengan ejekan dan hinaan yang mereka lontarkan.
'Tinggalkan saja pemuda gila itu'
'Kenapa kau masih mau mengurusnya?'
'Apa kau perlu bantuan untuk bicara pada kepala rumah sakit agar memindahkanmu kembali ke Daegu?'
Jungkook marah. Dia mencengkeram mp3 pemberian Taehyung dengan erat. Semenit kemudian dia baru mengingat ucapan Taehyung. Dengan cepat Jungkook memasang earphone itu di masing-masing telinganya. Kemudian menyalakan music dengan volume yang cukup tinggi. Setidaknya suara-suara itu teredam.
Dan detik selanjutnya, Jungkook tenggelam dalam alunan music yang didengarnya.
Please don't see just a boy caught up in dreams and fantasies
Janganlah kau hanya melihat seorang anak terperangkap dalam mimpi dan fantasi
Please see me reaching out for someone I can't see
Kumohon lihatlah aku yang menggapai seseorang yang tak bisa kulihat
Take my hand let's see where we wake up tomorrow
Raihlah tanganku, mari kita lihat dimana kita terbangun esok hari
Jungkook tersenyum saat melihat Taehyung berada dalam jarak pandangnya. Perawat manis itu datang dengan membawa obat-obatannya. Taehyung baru saja meletakkan obat-obatan milik Jungkook saat pemuda Jeon itu menggapai tangannya.
Taehyung duduk di tepi ranjang. Dan Jungkook langsung memosisikan diri tidur dengan menggunakan paha Taehyung sebagai bantal. Tangannya menggenggam erat tangan Taehyung di dada. Tanpa sengaja, tangan halus Taehyung menyentuh dagu Jungkook yang mulai ditumbuhi rambut halus.
Perawat Kim itu memandang Jungkook lekat-lekat. Dia baru menyadari jika Jungkook sudah memiliki kumis tipis. Beruntung Taehyung sudah menyiapkan semuanya di kamar Jungkook. Termasuk krim untuk bercukur.
"Tunggu sebentar"
Jungkook melepas satu earphone-nya saat Taehyung mengangkat kepalanya, "Kau mau kemana?"
"Kamar mandi. Mengambil keperluan untuk bercukur. Kau harus segera dicukur"
Jungkook diam saja saat Taehyung menghilang di balik pintu kamar mandi kemudian kembali sambil membawa krim, pencukur, dan handuk basah. Perawat itu kembali memposisikan dirinya di tepi ranjang Jungkook dan Jungkook kembali pada posisi nyamannya tadi.
"Tutup matamu dan dengarkan saja musiknya. Jangan perdulikan aku" ucap Taehyung sebelum menutup kedua mata Jungkook dengan tangannya.
"Kau tidak akan pergi, kan?"
"Tidak akan" Taehyung menghela nafas.
"Janji?"
"Astaga iyaa Jungkookie. Aku tidak akan pergi. Apa aku perlu mengajakmu kemanapun aku pergi?" cerocos Taehyung gemas.
Jungkook meraih tangan kurus Taehyung yang menutupi matanya. Menggenggamnya erat. Mata hitamnya memaku sosok Taehyung yang terlihat menggemaskan.
"Ide bagus. Aku akan ikut kemanapun kau pergi"
Taehyung hanya mampu membuka mulutnya tanpa sanggup mengatakan apapun lagi. Jungkook itu, terlalu mengejutkan.
"Baiklah terserah. Yang jelas sekarang kau harus menutup matamu dan dengarkan saja musiknya sementara aku mencukurmu"
Jungkook tersenyum kemudian menutup matanya, mengikuti ucapan Taehyung. Sayangnya Jungkook jadi tidak melihat saat Taehyung juga tersenyum sangat manis. Taehyung mengoleskan krim pencukur ke sekitar dagu dan bawah hidung Jungkook. Kemudian dengan lembut mulai mencukur kumis tipis di wajah Jungkook.
Saking asyiknya dengan kegiatannya, mereka berdua tidak tau sepasang mata tengah memperhatikan kegiatan keduanya. Mata itu tampak tua dan lelah. Mata yang menyimpan penderitaan dan rasa kesepian selama 2 tahun.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Taehyung baru saja akan pulang ke asrama saat seorang wanita paruh baya yang sekilas mirip Jungkook mendatanginya. Wanita itu tampak lebih tua dari usia yang sebenarnya, setidaknya menurut Taehyung. Wanita itu tampak meremas kedua tangannya dengan gugup.
"Cho-chogiyo….perawat Kim"
Taehyung sedikit terkejut saat wanita itu mengenalnya, "Ne? Ada yang bisa saya bantu, ahjumma?" tanyanya lembut.
Wanita itu berjalan mendekati Taehyung dengan langkah yang ragu-ragu. Taehyung mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk. Dan dapat.
"Ahjumma, kajja kita duduk disana" dengan lembut Taehyung membawa wanita itu ke sebuah bangku yang terletak tak jauh dari situ.
Taehyung menunggu sampai wanita itu membuka suaranya. Dia tak mau membuat wanita yang seumuran ibunya ini semakin tertekan. Tangannya menggenggam tangan ibu itu dengan erat namun lembut. Menyalurkan semangat yang Taehyung sendiri tak tau untuk apa.
"Na-namaku…Jeon Sunye. A-aku..ibunya Jungkook"
Taehyung nyaris tersedak liurnya sendiri. Ibunya Jungkook? Menemuinya?
"Ah ne. A-ahjumma….ada perlu denganku?"
Grep!
Tiba-tiba tangannya digenggam erat oleh ibu Jungkook. Air mata wanita itu mengalir begitu saja. Matanya begitu menyedihkan. Bahkan Taehyung rasanya bisa melihat betapa menderitanya wanita ini.
Taehyung baru menyadari betapa kurusnya wanita yang mengaku sebagai ibunya Jungkook ini. Taehyung nyaris saja menangis melihatnya. Tubuhnya begitu ringkih. Tangannya bergetar.
"Ahjumma, ada apa?"
"Bantu aku bertemu Jungkook. Aku…aku merindukan putraku" wanita itu akhirnya menangis. "Aku…aku sangat ingin bertemu dengan putraku. Tapi aku takut. Aku takut melihatnya. Setiap melihatnya, aku selalu teringat sosoknya beberapa tahun lalu"
Taehyung masih terdiam. Menunggu wanita itu melanjutkan apapun yang ingin dia ucapkan. Tapi sepertinya diamnya Taehyung membuat Nyonya Jeon ini salah paham.
Sret~
"Omo!"
Dalam sepersekian detik kemudian, wanita itu sudah berlutut di kakinya. Taehyung tentu saja langsung bertindak untuk membawa nyonya Jeon ini kembali duduk di atas kursi, di sampingnya.
"Aku sudah menemui kepala rumah sakit. Dan dia memintaku bicara langsung pada perawat Kim karena hanya perawat Kim yang bisa mengendalikan Jungkookie-ku"
"Taehyung. Ahjumma cukup memanggilku Taehyung. Dan, yah. Besok aku akan membawa Jungkookie untuk bertemu ahjumma di rumah sakit"
Wanita bernama Jeon Sunye itu menangis kemudian memeluk Taehyung. Raut kelegaan jelas terpancar dari wajah yang tampak lebih tua dari usianya itu.
.
.
Dan keesokan harinya Taehyung tak bisa tidak terkejut saat melihat Nyonya Jeon sudah menunggunya di gerbang rumah sakit. Sepertinya memang wanita itu sangat ingin bertemu dengan Jungkook.
"Kenapa menunggu disini ahjumma? Di luar sangat dingin"
Wanita itu tersenyum, "Tidak apa-apa. Aku hanya terlalu gugup"
"Kajja kita masuk"
Dan Taehyung kembali terkejut saat melihat Jungkook menatapnya kosong. Tapi Taehyung juga bisa melihat bias kerinduan dari mata hitam Jungkook saat melihat siapa yang berjalan bersamanya. Taehyung melirik Nyonya Jeon yang berada di sampingnya. Wanita itu tersenyum lembut sambil memandang Jungkook.
"Ahjumma mau menemaniku ke kamar Jungkook atau…."
"Di taman belakang rumah sakit saja Taehyung-ah"
Taehyung mengangguk mengerti, "Baiklah aku akan membawa Jungkook kesana"
.
.
"Siapa wanita tadi? Kenapa dia bisa bersamamu? Apa yang kalian bicarakan?" baru saja Taehyung memasuki kamar Jungkook, namja itu sudah mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Wo-wow…tahan Jungkookie. Dia ingin bertemu denganmu. Jadi cepat mandi dan temui ahjumma itu"
"Siapa dia? Kenapa dia ingin bertemu denganku?" Jungkook menarik tangan Taehyung.
"Nanti kau akan tau. Yang jelas dia sudah menunggumu di taman belakang rumah sakit jadi cepatlah mandi"
Dengan penuh susah payah Taehyung akhirnya mampu membawa Jungkook ke taman belakang. Namja tampan bergigi kelinci itu awalnya menolak. Tapi bukan Kim Taehyung namanya jika dia tidak mampu membuat Jungkook menurut padanya.
"Ta-Tae..dia"
"Dia ibumu Jungkook. Dia wanita yang sangat ingin bertemu denganmu"
"Jungkookie"
Nyonya Jeon berjalan mendekati putranya. Sedangkan Jungkook sendiri menggenggam tangan Taehyung erat-erat. Melihat reaksi Jungkook, Taehyung jadi was-was.
"Dia..ibuku?"
"Ne. Dia ibumu Jeon Jungkook. Kau tidak merindukannya?"
Jungkook tidak menolak juga tidak menerima saat Nyonya Jeon memeluknya erat. Dia hanya terdiam dengan tangan menggenggam tangan Taehyung. Matanya melirik Taehyung dengan gelisah. Taehyung balas menggenggam Jungkook.
Selanjutnya sebelah tangan Jungkook yang bebas balas memeluk ibunya. Air mata pemuda itu meluncur begitu saja. Jungkook bahkan menangis terisak. Dia sangat merindukan ibunya. Jauh di lubuk hatinya, dia sangat ingin bertemu dengan ibunya.
Taehyung mengusap air mata yang tanpa sadar menetes itu. Pemuda manis itu merasa lega melihat adegan pertemuan antara ibu dan anak itu. Dari kejauhan, Taehyung melihat kepala rumah sakit mengacungkan kedua jempol padanya.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Jungkook sedang tertidur. Sang ibu masih menunggunya di samping ranjang. Tangannya mengusap helaian rambut Jungkook dengan penuh rasa sayang. Taehyung baru saja memberikan obat Diazepam 5mg agar Jungkook bisa tertidur dengan nyenyak.
Namja itu tampaknya sangat kelelahan setelah seharian ini bersama sang ibu. Taehyung pun akhirnya mengetahui banyak hal tentang Jungkook dari wanita itu. Taehyung jadi tahu bagaimana kehidupan namja tampan itu sebelum berada di rumah sakit jiwa ini.
Jungkook sejak dulu memang sangat pintar. Dia juga pandai bergaul, setidaknya sampai dia berusia 13 tahun. Setelah usia 13 tahun, Jungkook mulai bertingkah aneh. Dia sering menyendiri dan menolak bermain bersama teman-temannya. Bahkan Nyonya Jeon juga sering memergoki Jungkook tengah tertawa sendiri seolah bercanda bersama temannya.
Kemudian semakin parah saat Jungkook berusia 16 tahun. Dia melihat pertengkaran kedua orang tuanya untuk kali pertama. Jungkook jadi semakin menarik diri. Bahkan beberapa kali Nyonya Jeon sering memergoki Jungkook tengah bermain-main dengan pisau secara tidak wajar. Bahkan teman-temannya juga sering melihat Jungkook menggoreskan silet di tangannya.
Jungkook pernah bilang pada kedua orang tuanya jika teman-temannya menghinanya, mengejeknya bahkan menyakitinya. Tapi yang dia dapat justru amarah sang ayah dan pukulan yang diterimanya. Sejak saat itu Jungkook jadi semakin memburuk.
Beberapa kali Jungkook hampir menyakiti sang ayah. Dan saat itu terjadi, Nyonya Jeon selalu melihat jika binary mata anaknya terasa kosong. Seolah itu bukan Jungkook yang melakukan.
Puncaknya adalah saat Jungkook berusia 17 tahun. Dia membunuh ayahnya dengan pecahan kaca kemudian melukai ibunya sampai membuat wanita itu koma dan trauma. Setelah dirawat oleh seorang psikiater, ibu Jungkook bisa mengatasi rasa traumanya.
Taehyung menduga hal-hal dari masa lalunya lah yang membuatnya sangat paranoid. Dia selalu berpikir semua orang disini menghinanya bahkan menyakitinya. Padahal sama sekali tidak. Taehyung ingin sekali melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap namja itu. Dia harus memastikan jenis Skizofrenia yang diidap Jungkook.
"Taehyung-ah"
"Ne ahjumma?"
"Bisakah….bisakah kau membawa Jungkook keluar dari tempat ini dan tinggal bersamamu? Putraku tidak gila Taehyung-ah"
"Eh?!"
.
.
Taehyung terdiam di depan wastafel toilet di ruang perawat. Dia masih terkejut dengan permintaan ibu Jungkook barusan. Jungkook memang tidak gila, sungguh. Taehyung mengakui hal itu. Hanya saja, kondisinya tidak bisa dikatakan stabil untuk bisa berbaur.
Drrttt…drrttt…
Ponsel Taehyung bergetar. Keningnya berkerut saat melihat nomor yang tidak dikenalnya tertera di layar ponselnya. Dengan sedikit penasaran dan was-was, Taehyung menggeser ikon hijau di layar ponselnya.
"Yobo-"
"Kim Taehyung"
Deg!
Taehyung hampir saja melempar ponselnya karena terkejut saat mendengar suara orang yang sangat ingin dia hindari. Suara dari namja paling berbahaya, menurutnya. Juga suara dari namja yang membuatnya sangat lelah.
"Min Yoongi-sshi"
"Ouw, kau mengingat suaraku dengan baik Taehyungie"
Taehyung memijat kepalanya yang terasa berdenyut menyakitkan itu. Sepertinya justru Taehyung yang membutuhkan obat antidepresan milik Jungkook. Dia bisa gila jika berhadapan dengan Min Yoongi.
"Jadi, ada apa lagi?" sebisa mungkin Taehyung membuat suaranya tidak terdengar putus asa.
"Kau tidak suka aku menelepon?"
"Kau menelepon saat aku sedang bekerja Yoongi-sshi" ujar Taehyung berusaha sabar.
"Bekerja? Mengurus bocah ingusan pengidap Skizo-apalah itu"
Tubuh Taehyung menegang. Matanya membulat sempurna. Seketika bulu kuduknya berdiri. Namja itu…bagaimana dia bisa tau?
"Kau. Sejauh mana kau mengetahui pekerjaanku di Busan?"
"Well, tak banyak sebenarnya. Yang kutau kau pindah tugas ke Busan demi merawat seorang pemuda berusia 19 tahun yang mengidap penyakit Skizo-apapun itu. Dan pemuda itu dengan kurang ajarnya membuatku harus jauh darimu" desis Yoongi di akhir kalimat.
"Kau…kau tau darimana?" Taehyung tak bisa mengendalikan suaranya lagi.
Min Yoongi yang mengetahui detil pekerjaannya di Busan itu menakutkan. Tidak ada seorang pun yang tau apa yang akan dilakukan namja Min itu. Apalagi untuk menjamin keselamatan Jungkook. Hell. Jadi sebisa mungkin Taehyung harus bersikap kooperatif dengan namja berkulit pucat ini.
"Itu rahasia sayangku. Ah, apa yang harus kulakukan padanya agar Taehyungie-ku kembali padaku?"
"Ja-jangan! Jangan lakukan apapun, kumohon. Jangan lakukan apapun"
Taehyung bisa mendengar suara tawa Yoongi dari seberang sana. Tawa ringan yang mengandung banyak racun mematikan. Racun yang membuat Kim Taehyung kepayahan.
"Wow, Taehyung-ku memohon demi namja itu, eh?"
"Bu-bukan! Dia…dia tidak ada hubungannya denganmu"
"Tentu saja ada sayang. Dia membuatmu jauh dariku" suara Yoongi semakin menggelap.
Taehyung mengusap sebelah wajahnya dengan frustrasi. Dia ingin marah tapi tak tau apa yang membuatnya marah dan bagaimana cara melampiaskannya. Dia lelah diteror seperti ini.
"Apa maumu sebenarnya?" Taehyung menyerah. Suaranya terdengar sangat putus asa.
"Kau. Dari awal aku hanya menginginkanmu"
.
.
Light On My Darkness
.
.
Taehyung ijin pulang lebih awal. Dia sudah menitipkan Jungkook dan ibunya pada beberapa perawat disini. Kepalanya sangat pusing. Dia benar-benar butuh istirahat untuk menjernihkan pikirannya. Pembicaraan dengan Min Yoongi sangat menguras emosi-nya.
"Taehyung?"
"Oh? Namjoon-sshi. Lama tak berjumpa" Taehyung membungkukkan tubuhnya begitu melihat Namjoon.
Namja dengan tinggi lebih dari 180 cm itu mengamati Taehyung dari atas sampai bawah. Dia merasakan sesuatu yang tak biasa menimpa Taehyung. Taehyung juga terlihat sangat tertekan walau tetap saja terlihat manis.
"Ada sesuatu yang terjadi?"
"Yeah, banyak. Sampai rasanya aku tak tau apa yang harus kulakukan" ucap Taehyung tanpa sadar.
Namjoon mengacak rambut lembut Taehyung sebelum akhirnya menarik tangan kurus pemuda itu, "Ayo ikut aku. Kita minum kopi sebentar"
Taehyung diam. Menimbang baik buruknya. Dia lelah dan ingin istirahat. Tapi tawaran Namjoon terdengar menggiurkan. Mungkin hal-hal kecil semacam itu bisa membuatnya rileks.
"Baiklah aku ikut" ucapnya ceria.
Dan Kim Namjoon tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak jatuh dalam pesona Kim Taehyung yang kini mencekiknya tanpa ampun. Taehyung terlalu sulit untuk diabaikan.
Lalu disinilah mereka. Di kafe yang terletak tak jauh dari rumah sakit. Suasananya nyaman dengan interior yang terkesan klasik dan pemilihan warna soft yang menenangkan. Well, itu yang Taehyung rasakan.
Aroma kopi yang menyambutnya begitu memasuki kafe yang kata Namjoon sangat terkenal itu. Taehyung langsung mengerti mengapa kafe ini sangat terkenal. First impression yang diberikan pemilik kafe sangat manis.
"Kau suka?"
"Tentu saja. Tempat ini menyenangkan hyung" pekik Taehyung senang.
Ah, Namjoon memintanya memanggil dengan sebutan hyung saja saat mereka berjalan berdampingan menuju kafe ini. Namja berlesung pipi itu merasa canggung saat mendengar Taehyung terus menerus memanggilnya 'Namjoon-sshi'. Dan Taehyung hanya tertawa saat mendengar alasan Namjoon.
"Aku penasaran"
"Tentang?"
"Kelanjutan hubunganmu dengan Jeon Jungkook"
"Eh? Hubungan apa maksudmu?" tanya Taehyung sambil menyeruput cappuccino yang dipesannya.
"Kau dan Jeon Jungkook terlihat seperti sepasang kekasih" jawab Namjoon lugas.
Taehyung seketika tertawa renyah mendengar ucapan Namjoon, "Astaga yang benar saja. Kau mengira aku dan Jungkook ada hubungan…semacam kekasih begitu?"
"Hey, bukan hanya aku. Hampir seluruh perawat mengira begitu" elak Namjoon.
Tawa Taehyung semakin ribut. Rasanya lucu sekali saat ada yang mengira mereka adalah sepasang kekasih. Padahal kenyataannya mereka hanya sebatas pasien dan perawat. Atau mungkin sudah berubah menjadi teman?
Apapun itu, yang jelas Taehyung dan Jungkook tidak dalam hubungan semacam itu.
"Kalian semua lucu sekali" hanya itu komentar Taehyung sebelum tenggelam dalam cangkir cappuccino-nya dan sepiring pancake.
Namjoon hanya memandangi bagaimana semangatnya namja manis di depannya ini menikmati kudapan yang dipesannya. Wajah menggemaskan Taehyung saat melahap pancake. Ekspresi puasnya saat semua makanannya tandas. Dan semuanya.
Namjoon menyukainya.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Jungkook terbangun saat waktu menunjukkan pukul 11 malam. Tidak biasanya dia terbangun dari tidurnya jika meminum Diazepam.
Matanya mengedar ke seluruh langit-langit kamar. Rasanya seluruh tubuhnya meremang. Dia masih mendengar suara perawat-perawat itu membicarakan pasien-pasien mereka dengan tidak sopannya. Mengeluh betapa merepotkannya mengurus orang yang bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri.
Juga mengeluh bagaimana Kim Taehyung bisa bertahan merawat Jeon Jungkook dengan sabar.
-lagi.
Jungkook mendengus mendengar semua keluhan dari perawat-perawat itu. Dia tak tau dimana mereka. Yang jelas suaranya terdengar nyaring dan membuat Jungkook muak.
Begitu menolehkan kepalanya, dia melihat sang ibu tertidur di samping tempat tidurnya. Tertidur dengan kepala di tepi ranjang dan hanya berbantalkan kedua lengannya. Pasti melelahkan tidur dengan posisi seperti itu.
Jungkook memandangi ibunya tanpa berkedip. Sekelebat memori masa kecilnya kembali. Memori dimana sang ayah mulai berani memukul ibunya. Saat dimana teman-temannya menghinanya. Saat dimana sang ayah memaki dan memukulnya sedangkan sang ibu hanya mampu menonton, tak berdaya melakukan apapun.
Dan selama dua tahun ini Jungkook selalu merasa kesepian. Dia bahkan merasa dia dibuang. Dia merasa tak ada yang akan menangisinya jika dia pergi. Jungkook pernah berpikir untuk bunuh diri. Suara orang itu juga pernah beberapa kali menyarankannya melakukan itu.
Tapi itu sebelum Kim Taehyung datang.
Awalnya Jungkook juga mendengar serentetan keraguan yang diucapkan Taehyung. Entah itu benar-benar diucapkan oleh Taehyung atau tidak. Jungkook sering mendengar Taehyung menyemangati dirinya sendiri.
Rasanya sejak saat itu dunia Jungkook jadi dipenuhi dan terfokus pada Kim Taehyung.
Omong-omong…kemana Taehyung?
Jungkook secara perlahan menuruni ranjangnya. Berusaha sehalus mungkin agar tidak mengganggu tidur ibunya. Dengan bertelanjang kaki dan hanya mengenakan pakaian rumah sakit, Jungkook keluar dari kamarnya.
Taehyung sengaja membiarkan pintunya tidak terkunci, pikirnya.
Dengan perlahan Jungkook berjalan menuju pintu utama. Sedikit mengendap saat melewati ruang jaga dan meja resepsionis. Dan sangat berhati-hati saat membuka pintu rumah sakit. Jungkook berjalan mundur demi memastikan perawat-perawat itu tidak melihatnya.
Begitu Jungkook berada di halaman rumah sakit, dia berlari menuju gerbang utama. Secepatnya menghentikan gerakannya saat melihat dua orang satpam sedang berjaga disana. Jungkook tanpa sadar mengumpat. Merutuki kedua satpam yang mengganggu perjalanannya menemui Taehyung.
Jungkook memutar arah. Dia mencari celah untuk bisa keluar dari rumah sakit. Tanpa memperdulikan kakinya yang mulai kebas karena tidak mengenakan alas kaki. Hell, ini sudah hampir memasuki musim dingin. Dan hanya orang segila Jungkook yang nekat keluar tanpa mengenakan alas kaki dan hanya mengenakan pakaian ala kadarnya.
Jalan satu-satunya adalah dengan memanjat pagar tembok rumah sakit yang tidak terlalu tinggi –menurutnya- itu. Dan hal itu bukan perkara sulit untuknya. Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak kepadanya. Dengan sekali mencoba, Jungkook sudah bisa melewati pagar tembok itu dengan mudah.
Selanjutnya yang dilakukan namja bergigi kelinci ini adalah berlari kecil menyusuri jalan demi mencari Taehyung. Jungkook tidak tau dia harus kemana. Yang jelas dalam pikirannya hanya mencari Taehyung.
Dia butuh bertemu namja itu.
.
.
Sementara Jungkook mencarinya, Taehyung sedang berada di perjalanan menuju asramanya bersama Namjoon. Mereka berbincang seru sampai lupa waktu. Mereka berada di kafe sejak pukul 8 malam sampai 11 malam. Menghabiskan nyaris lima cangkir minuman.
"Aku sampai lupa waktu" gerutu Taehyung sambil tertawa.
"Kau terlalu menikmati berbincang denganku, eh" goda Namjoon.
"Eiy, bukankah itu kau hyung? Kau bahkan menahanku saat aku berencana akan pulang" ucap Taehyung tak mau kalah.
"Tapi kemudian kau bahkan menolak ku ajak pulang. Apa itu bukan pertanda kau menikmati waktu denganku?" Namjoon masih betah menggoda Taehyung walaupun mereka sudah sampai di gerbang asrama yang Taehyung tempati.
Taehyung merengut sebal. Dia tak bisa membalas kata-kata Namjoon karena memang dia yang merengek mati-matian kepada Namjoon untuk terus berada di kafe itu.
Namjoon tertawa melihat ekspresi menggemaskan Taehyung. Jika saja Taehyung adalah kekasihnya, bisa dipastikan Namjoon akan menciuminya sampai puas. Sayangnya Namjoon harus bersabar untuk dapat merebut hati Kim Taehyung.
"Masuklah. Udara mulai dingin disini" Namjoon mengacak-acak rambut halus Taehyung. Hal yang menjadi favoritnya sejak dua jam lalu.
"Yak! Hyung! Aish. Kau sekarang suka sekali mengacak-acak rambutku" omel Taehyung dengan bibir mencebik lucu.
'Tahan Namjoon'. Kata-kata it uterus dirapalkan Namjoon dalam hati. Dia takut kelepasan mencium Taehyung.
"Baiklah aku masuk dulu. Terima kasih untuk hari ini" Taehyung tersenyum tulus. Sekali lagi membuat Namjoon bertekuk lutut.
"Aku akan pergi begitu kau masuk ke dalam" ucap Namjoon.
Taehyung hanya mengangguk kemudian melangkah masuk. Begitu Taehyung menghilang dari jarak pandangnya, barulah Namjoon berjalan menjauhi gedung asrama Taehyung. Kembali ke rumah saudaranya dengan senyum yang terpatri dengan tampannya.
Baru saja Taehyung membaringkan tubuhnya di atas ranjang saat ponselnya bordering mengejutkan. Sedikit khawatir jika itu adalah Min Yoongi. Raut khawatirnya berubah menjadi raut penasaran saat nomor telepon rumah sakit yang tertera di layar ponselnya.
"Ne?"
"Taehyung! Jungkook….Ju-Jungkook.."
"Kenapa dengan Jungkook?" tanya Taehyung bingung.
"Dia kabur"
"Mwo?! Ba-bagaimana bisa?"
"Sepertinya kau lupa mengunci pintu kamarnya. Aku…aku tak tau kapan dia pergi tapi ibunya mendatangi ruangan perawat sepuluh menit yang lalu dan berkata jika Jungkook tidak ada di kamarnya. Kami sudah mencarinya ke seluruh rumah sakit tapi dia tidak ada. Bahkan satpam yang berjaga di luar pun berkata tidak ada tanda-tanda Jungkook keluar. Bagaimana ini?"
Taehyung memijat pelipisnya. Baru saja dia merasa ringan dan sekarang dia harus kembali berpikir. Taehyung merutuki kecerobohannya lupa mengunci pintu kamar Jungkook seperti biasa.
"Baiklah aku akan mencarinya di luar" putus Taehyung.
"Baiklah. Sebagian dari kami juga akan mencari Jungkook di luar"
"Ne" setelah memutus sambungan teleponnya, Taehyung meraih mantel tebal miliknya. Hanya untuk berjaga-jaga jika dia bertemu dengan Jungkook.
Tanpa memperdulikan apapun lagi, Taehyung segera keluar dan mulai mencari Jungkook. Dia harus menemukan Jungkook.
.
.
Light On My Darkness
.
.
Saat semua orang sedang sibuk mencarinya, Jungkook duduk diam di bangku taman. Taman tempatnya jalan-jalan dengan Taehyung tempo hari. Wajahnya sudah pucat dengan bibir sedikit membiru. Jungkook kedinginan tapi dia mengabaikan itu.
Pikirannya terus tertuju pada Taehyung. Mengabaikan cibiran orang-orang yang tadi sempat ditemuinya. Dia lelah berjalan. Dan orang-orang berjubah hitam itu kembali menghampirinya. Jungkook menyesal tidak membawa mp3 pemberian Taehyung.
Namja itu kemudian bangkit dan berniat kembali meneruskan langkahnya mencari Taehyung. Tapi niat itu sejenak terlupakan begitu melihat sesosok namja yang berdiri sekitar sepuluh meter darinya. Jungkook tak mengenalnya tapi dia yakin sekali namja itu memandangnya.
Dan Jungkook memiliki firasat yang buruk untuk ini. Melihat tatapan sangat dingin yang tertuju padanya disertai seringai membahayakan itu membuat Jungkook tanpa sadar melangkah satu langkah ke belakang. Mereka hanya saling berpandangan.
Jungkook memandang namja itu datar. Sedangkan namja itu memandangnya sinis. Entah sadar atau tidak, masing-masing dari mereka mengeluarkan aura yang tidak biasa. Aura kelam yang mencekam.
"Siapa kau?" tanya Jungkook tanpa rasa takut sama sekali.
Namja itu hanya menyeringai kemudian memindai Jungkook dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan yang tajam. Jungkook benci saat orang lain melakukan itu padanya. Namja Jeon itu memandang dengan tajam. Dia marah.
"Sampai jumpa lagi Jeon Jungkook" suara itu begitu dingin dan berbahaya.
Jungkook bisa merasakan aura berbahaya dari namja itu hanya dari tatapan dan suara yang dikeluarkannya. Mata bulatnya menyorot tajam ke arah punggung namja asing yang tidak tahu diri itu. Dan dalam sepersekian detik kemudian Jungkook sudah menempatkan namja yang tidak dikenalnya itu dalam daftar orang yang dibencinya setelah sang ayah.
.
.
Taehyung berkali-kali melihat ponselnya. Demi Tuhan! Sekarang sudah jam 12 malam dan Taehyung sama sekali tidak menemukan keberadaan Jungkook. Tubuh kurusnya bahkan hampir membeku kedinginan.
Matanya menyorot ke semua sisi. Barangkali menemukan Jungkook di suatu sudut tertentu. Dan harapannya terkabul.
Dia melihat Jeon Jungkook sedang berjalan terseok. Dan tanpa mengenakan alas kaki!
Taehyung memilih berlari menyusul Jungkook. Saat jaraknya tinggal satu meter barulah Taehyung memanggil Jungkook.
"Jungkookie astaga" Taehyung segera menghampiri Jungkook dan membungkus tubuh kekar itu dengan mantel yang dibawanya.
Jungkook hanya memandanginya saat Taehyung meniup-niup tangannya dan menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Sedikit berjengit saat kedua telapak tangan Taehyung menangkup kedua pipinya. Jungkook melihat betapa cemasnya wajah perawatnya itu.
"Bagaimana bisa kau keluar dari rumah sakit dengan pakaian seperti ini, tanpa mengenakan alas kaki pula" Taehyung terus mengomel sambil berusaha membuat Jungkook merasa hangat.
Tanpa banyak bicara, Taehyung meraih ponselnya dan menelepon layanan taksi 24 jam. Tempat ini cukup jauh dari asrama dan rumah sakit. Taehyung tak mengerti bagaimana bisa Jungkook berada sejauh ini.
"Bersabarlah sebentar ne. Aku sudah memanggil taksi kemari"
"Taehyung"
"Ya?"
"Dingin"
Tanpa membalas ucapan Jungkook, Taehyung memeluk namja itu dengan erat. Walau rasanya sama saja karena nyatanya justru tubuh kurus Kim Taehyung yang sedikit tenggelam dalam pelukan Jeon Jungkook. Tapi rasanya Jungkook nyaman-nyaman saja. Buktinya namja itu malah menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher jenjang Taehyung.
Sekitar 15 menit kemudian taksi itu akhirnya datang. Taehyung memutuskan membawa Jungkook ke asramanya saja karena namja itu menolak kembali ke rumah sakit. Percayalah, Taehyung sudah membujuknya sebelum taksi itu datang.
Sepanjang perjalanan, Taehyung terus memeluk Jungkook karena Jungkook terus mengeluh kedinginan. Taehyung mati-matian mengabaikan lirikan sopir taksi yang seolah bingung itu. Yang ada di kepalanya sekarang hanya membuat Jungkook merasa hangat agar namja itu tidak sampai terkena hipotermia.
Dengan perlahan Taehyung membawa Jungkook masuk ke kamarnya dan membaringkan namja itu ke atas tempat tidurnya. Beruntung ukuran tempat tidurnya termasuk luas. Setidaknya muat untuk dua orang.
Taehyung menyelimuti tubuh Jungkook yang sedikit menggigil dengan tiga lapis selimut tebal. Tak lupa menyalakan penghangat ruangan. Taehyung juga sempat mengganti baju yang dikenakan Jungkook dengan pakaian yang dibelinya beberapa hari lalu.
"Tae..dingin"
Taehyung mondar mandir seraya memikirkan cara untuk menghangatkan Jungkook. Tapi hanya satu cara yang terpikirkan. Dengan menggigit bibir bawahnya ragu, Taehyung masuk ke dalam selimut. Berbaring di sebelah Jungkook dan memeluk namja itu.
Diluar dugaan, Jungkook malah balik memeluknya posesif. Taehyung berusaha menyamankan dirinya di dalam pelukan Jungkook yang sialnya hangat itu. Tapi dia bersyukur Jungkook berhenti menggigil kedinginan.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Taehyung menyadari jika Jungkook sudah tertidur dengan lelap. Juga tak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyadari jika wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang.
'Astaga aku bisa gila karena Jungkook'
.
.
Dan sekitar lima meter dari gedung asrama Taehyung. Di sudut gelap yang tersembunyi. Seorang namja tampan memperhatikan gedung tempat tinggal Taehyung itu dengan seringai tersungging dan mata yang menyipit tajam.
.
.
.
.
.
TBC
OKEY MAAPKAN SAYA.
Ini udah lamaaaaaaa banget dari chapter sebelumnya. Saya ragu mau post ini karena rasanya chapter ini aneh banget. Iyaa ngga sih?
Saya mabok gara-gara Taehyung. Bisa-bisanya ada makhluk yang makin hari makin cantik dan makin bikin orang hampir khilaf liatnya. Rasanya pengen nyulik Taehyung /digampar jungkook/
Ini hasil kegalauan gara-gara wb dan kepungan tugas, praktikum, kegiatan, .el. Anggap aja pelarian dari semua aktivitas xD
Rasanya sedih banget pas ada yang nanyain kapan chapter selanjutnya u,u
Jadi sebelum ditanyain lagi, saya mau ngasih warning *cielah*
Ini bakalan slow update banget. Doakan aja semoga sebulan sekali bisa di update yekan.
Dan terima kasih kamsha arigatou yang udah baca, komen, fav, follow, dan nungguin ini. Saya terharu /nangis di pelukan Tae/
Semoga kalian ngga bosen dengan cerita yang amburegul dan absurd ini
Big love, clou3elf
