SECOND LOVE

Disclaimer : Karakter milik mereka sendiri, dan Toradora milik Yuyuko Takemiya-san, saya mengambil beberapa adegan dan inti cerita, tapi tidak semua mirip sama Toradora kok :)

Pair : SuLay, KrAy, SuDo

Warning : BL, Bahasa campur aduk, Typo(s), OOC (untuk kebutuhan cerita)

.

.

Sebuah cermin yang tergantung di sebuah kamar merefleksikan bayangan seorang pemuda berseragam sekolah menengah atas. Penampilanya sudah rapi, ia juga sudah memakai minyak wangi, tetapi ia masih memperhatikan pantulan dirinya di cermin itu dengan seksama.

Ah memperhatikan kedua matanya, lebih tepatnya. Ia takut masih ada bekas tangisannya semalam meskipun ia sudah mengompresnya dengan es batu.

"Sip" Ujarnya setelah memastikan bahwa matanya sudah tidak bengkak dan wajahnya sudah tidak sembab. Lalu ia turun untuk memenuhi kewajibannya sebagai pelajar. Pergi ke sekolah.

Seperti biasa, sebelum ia berangkat, ia pasti berkunjung ke rumah yang berada tepat di sebelah apartemennya. Meskipun agak enggan karena mungkin sekarang Junmyeon sudah punya kekasih, ia membuka pintu rumah itu tanpa permisi, karena sudah biasa.

Ia menautkan alisnya heran ketika ia sampai di ruang makan ia tidak mendapati ibu yang biasanya sudah stand by menunggu Junmyeon yang masih berkutat dengan baju seragamnya sambil sesekali menghirup uap yang mengepul dari segelas teh.

Yixing melangkahkan kakinya ke dapur setelah ia melihat kepulan asap keluar dari ruangan itu. "Loh kok ibu yang masak?" Tanyanya heran karena setelah sampai di dapur ia mendapati ibu Junmyeon yang sedang mengaduk sup karena biasanya itu tugas Junmyeon untuk membuat sarapan.

Ibu menghentikan gerakan tangannya untuk menoleh "Eh Nak Yixing, Junmyeon sakit, jadi ibu yang masak" Jawabnya lembut.

"Junmyeon sakit?" Yixing menatap tidak percaya, karena orang bilang penyakit itu tidak menyerang orang bodoh. Oh iya, Junmyeon kan suka dapat peringkat kelas.

"Iya, demam, sekarang dia ada di kamar"

"Aku lihat Junmyeon dulu ya" Setelah mendapat anggukan dari Ibu, Yixing melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan

Ia melihat Junmyeon yang sedang berbaring dengan plester penurun panas di dahinya setelah ia membuka pintu ruangan itu. Lalu ia duduk di sebelah kasur yang sedang ditiduri Junmyeon.

Yixing memegang dahi dan pipi Junmyeon, seketika rasa panas menjalari kulit telapak tangannya. Tanpa memakai thermometer pun Yixing tahu suhu badan Junmyeon lebih tinggi dari suhu normal.

Yixing mengangkat tangannya dari pipi Junmyeon ketika si empunya pipi mengerang pelan dan perlahan membuka matanya "Xing" Ujarnya setelah ia melihat Yixing yang sedang ada di sebelahnya.

"Kamu kok bisa sakit Jun?" Tanya Yixing khawatir.

Junmyeon tersenyum kecil "Aku gak bisa tidur semalem"

"Kenapa?"

Junmyeon terlihat berpikir dan itu membuat Yixing menunggu jawaban Junmyeon dengan hati yang was-was. Ia berasumsi bahwa ini ada hubungannya dengan rencana mereka kemarin malam. Jawabannya dua, antara ditolak dan diterima, dan dari kedua jawaban itu sama-sama membuatnya… galau?

"Kyungsoo—" Ucapan Junmyeon setelah beberapa saat berpikir membuat Yixing segera memperhatikannya "—Dia bilang belum mau melihat hantu"

Jawaban Junmyeon membuat kedua alis Yixing bertaut. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Junmyeon malah membahas tentang hantu.

Junmyeon dengan terpaksa melanjutkan setelah menghela nafas "Dia menganalogikan hantu sebagai perasaan cinta atau semacam itu lah, itu sih yang aku tangkep" Junmyeon mengubah posisinya. Ia jadi galau mengingat kejadian semalam yang membuatnya jadi tidak bisa tidur.

Yixing yang sedang memandang Junmyeon yang sedikit murung menunduk. Jadi karena ini Junmyeon jadi sakit. Sampai segitunya kah?

"Jangan murung gitu dong" Yixing mengubah raut wajahnya jadi seceria mentari pagi yang sudah mengintip dari sela-sela gorden kamar Junmyeon. Junmyeon menoleh "Dia bilang kan belum mau, jadi kamu masih ada kesempatan kan?"

Junmyeon tersenyum dan mengangguk. Yixing ikut tersenyum menahan rasa sesak bahkan ketika ia mengucapkan kalimat barusan.

.

.

.

"Pagi Yixing" Sapaan dari Chanyeol langsung diterima indra pendengarnya ketika ia baru saja melewati pintu kelas. "Loh gak sama Junmyeon? Tumben" Lanjut Chanyeol sebelum ia sempat membalas sapaannya tadi.

"Demam" Jawabnya singkat. Ia lalu berjalan menuju bangkunya dan menghiraukan Chanyeol yang masih berceloteh "Kenapa Junmyeon bisa sakit?"

Ia membuka tasnya dan mengorek apa saja yang ada di dalamnya sebagai pengalih perhatian, karena setelah mendengar ucapan Chanyeol ia jadi menyadari sesuatu. Ia memang selalu menempel dengan Junmyeon.

Jongin yang tadinya membaca majalah malah jadi memperhatikan mereka. Kemudian ide jahil melintas di otaknya. Ia menghampiri Yixing yang masih mengorek-ngorek tasnya entah untuk mencari apa. Ia duduk di kursi depan bangku Yixing sambil menghadap kearah Yixing.

"Yixing" Ujarnya karena Yixing malah menghiraukan keberadaannya.

Yixing mendongak, ia menghentikan sejenak aktivitasnya "Iya?"

Jongin memperlihatkan majalah yang tadi ia baca "Coba baca ini" perintahnya sambil menunjuk tulisan yang ada di halaman majalah itu "Dengan keras"

Meskipun dengan tampang heran, Yixing menurut, ia membaca dua kata yang ditunjuk Jongin di majalahnya "Kiss me?"

Dengan gerakan secepat kilat, Jongin menempelkan bibirnya ke pipi kanan Yixing dan membuat si empunya pipi tersentak dan matanya membulat lebar.

"Kamu yang minta" Ujar Jongin dengan senyum jahil yang terukir dari bibirnya. Kemudian ia langsung memutar badan dan ambil langkah seribu untuk menghindari amukan Yixing yang sudah mengambil ancang-ancang untuk melemparnya dengan buku.

"KIM JONGIN RESEEEE!" Teriakan Yixing menggema dan membuatnya menjadi pusat perhatian. Ia lalu berlari mengejar Jongin yang sudah kabur ke luar kelas menghiraukan tatapan heran dari teman-temannya karena ia gemas sendiri ingin mencubit wajah model Jongin, kalau perlu nyubitnya pakai gunting.

Jongin merasa dewi fortuna sedang berpihak padanya ketika ia melihat Kyungsoo yang baru datang sedang berjalan kearah kelas. Langsung saja ia menyembunyikan badannya dibalik punggung Kyungsoo dan menjadikannya tameng.

"Jongin sini" Ujar Yixing setelah sampai di hadapan Kyungsoo. Ia berusaha meraih Jongin yang sedang memutar-mutar badan Kyungsoo untuk menjadikannya tameng dari serangan-serangan Yixing.

Jongin memeletkan lidahnya meledek "Nggak mau"

"Ayo sini ganteng" Yixing membujuk Jongin dengan senyum yang ia usahakan semanis mungkin, padahal aura hitam sudah menguar dari balik punggung pemuda berdimple itu.

"Gak mau"

"Kalau gak kesini nanti gantengnya hilang"

"Ih, apa hubungannya"

"STOP" Ucapan Kyungsoo yang tidak bisa dibilang pelan itu membuat acara serang-menghindar Yixing dan Jongin terhenti. Kyungsoo sudah pusing dibalik kekiri dan kekanan oleh Jongin.

Kemudian Kyungsoo terkekeh geli "Kalian, pagi-pagi udah main-main gitu. Semangat banget"

Yixing memajukan bibirnya beberapa mili "Jongin sih rese" rajuknya dan membuat Jongin kembali memeletkan lidahnya.

Dan akhirnya mereka malah tertawa-tawa sendiri seolah kejadian kemarin tidak pernah mereka alami. Seakan sudah sepakat untuk melupakan kejadian kemarin, dari mereka tidak ada yang membahas itu sama sekali.

.

.

.

Suara pintu di buka dan diiringi oleh datangnya seorang pria paruh baya yang dikenal sebagai wali kelas membuat forum-forum kecil yang diciptakan oleh murid-murid untuk berbagi gossip terbaru atau sekedar membahas game bubar seketika.

Pria itu berjalan gontai kearah meja. Setelah sampai, ia menghela nafas "Semuanya terbakar!"

"Eh?"

Pria itu mendongak dan menatap murid-murid yang ada di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tapi acaranya tidak akan dibatalkan kok tenang saja, jadi semuanya akan berjalan sesuai rencana. Oke?"

Yifan mengacungkan tangannya "Maaf pak, saya tidak mengerti maksud bapak apa?" Ujarnya mewakili pikiran-pikiran orang-orang di kelas itu.

"Eh? Saya belum menjelaskan apa-apa?" Tanyanya bingung sendiri yang dibalas gelengan para siswa. Ia jadi meringis "Maaf maaf. Jadi, tadinya sekolah akan mengadakan karyawisata, tapi ternyata hotel yang sudah akan kita booking malah kebakaran. Jadi, sebagai gantinya kita akan mengadakan camping, hebat kan?"

"EHHH?" Teriakan para siswa yang kecewa menggema seketika. Kemudian seisi kelas jadi ricuh oleh keluhan-keluhan para siswa yang tidak mau camping karena menurut mereka camping di gunung itu ribet, harus buat tenda, harus mencari kayu, ah pokoknya ribet.

"Apaan gak asik banget"

"Masa harus camping? Kenapa kebakar sih?"

"Bapak gak bakar hotel itu kok, sumpah"

"Objection, itu gak nyambung banget pak. Hotel kebakaran kok malah jadi camping?"

"Ahhh, males ah"

Teriakan-teriakan siswa yang mengeluh membuat pria itu jadi kehilangan kesabaranannya. Kemudian ia menggebrak meja sehingga menimbulkan suara 'BRAKK' yang keras dan membuat para siswa menutup mulutnya bersamaan.

"Hey kalian bocah manja" Ujarnya setelah memastikan murid-muridnya melihat kearahnya. Ia kemudian mengambil spidol dan menuliskan

'Not everything goes smoothly in life'

Oh dia guru bahasa inggris.

Kemudian ia tersenyum kembali. Ia memamerkan tumpukan amplop yang sedari tadi ia pegang "Jadi ini angket yang harus kalian isi—ah Zhang Yixing, karena kamu tetangga Kim Junmyeon, jadi kamu yang kasih ini ya"

.

.

.

Yixing sedang menyeruput milkshakenya ketika Jongin berkata "Junmyeon ditolak Kyungsoo ya?" dan membuat sedikit air yang diminum Yixing masuk ke tenggorokannya.

Mereka sedang ada di sebuah café setelah tadi Jongin mengajak Yixing pulang bersama dan ia juga mengajak Yixing untuk mampir dulu ke tempat itu.

"Uhuk—Uhkk" Yixing yang masih berusaha menenangkan batuknya membuka suara "Kamu tahu dari mana?"

"Aku sahabatnya Junmyeon kalau kamu lupa"

Jawaban Jongin sedikit membuat Yixing meringis. Dengan senyum kikuk Yixing menjawab "Oh iya"

"Awalnya aku juga kaget, karena orang yang deket sama Junmyeon itu kamu kan?"

Yixing memamerkan kedua telapak tangannya "A-aku justru bantuin Junmyeon buat deketin Kyungsoo"

Jongin menumpukan dagunya di tangan dan menggumam. "Cupid, eh?"

Yixing mengangguk kaku lagi. Entah kenapa Yixing merasa auranya canggung padahal biasanya ia santai-santai saja di hadapan Jongin. Mungkin apa yang dibahas Jongin yang membuat suasana jadi seperti ini.

Kemudian hening. Yixing memperhatikan Jongin yang sedang mengubah posisinya menjadi menyender pada sandaran kursi yang didudukinya dengan tangan yang menyilang di depan dada.

"Tapi hubungan kalian itu kelihatannya bukan kayak mak comblang dan kliennya. Aku pikir lebih baik kamu berhenti bermain peran jadi cupid kalau kamu gak mau ada kesalah pahaman lagi"

Yixing menunduk, perkataan Jongin membuat hatinya mencelos, ia bukan orang polos yang tidak mengerti maksud perkataan Jongin barusan. Ia tahu persis arah pembicaraan Jongin dan ia hanya bisa diam, tidak tahu harus merespon apa.

"Kenapa kamu gak bangun sebelum kamu terluka lebih dalam? Kamu seharusnya menyudahi ini dan mulai lagi semuanya dari awal" Yixing masih menunduk sehingga ia tidak bisa melihat wajah Jongin ketika mengucapkan kalimat itu. "Dengan begitu—" Jongin kemudian memelankan suaranya "—Kamu bisa ngasih aku kesempatan"

Meskipun suara Jongin kelewat pelan sehingga seperti gumaman, Yixing tetap bisa mendengar itu dengan jelas dan itu membuatnya melebarkan matanya.

Ketika ia mendongak, ia mendapati Jongin yang sedang tersenyum "Becanda" Ujarnya. Meskipun begitu, ia tetap tidak merasa lega dengan ucapan Jongin barusan.

.

.

.

Dengan kepala yang masih agak berat, Junmyeon melangkahkan kakinya menuju balkon setelah Yixing menelponnya barusan. Ia bilang ada sesuatu yang ingin Yixing berikan padanya, dan Yixing juga segera menutup telpon tadi sebelum Junmyeon sempat mengatakan sepatah kata apapun.

Ketika ia sudah sampai di balkon, disana sudah ada Yixing yang berdiri di depan jendela kamarnya. Yixing langsung melemparkan sebuah buku kepada Junmyeon yang langsung refleks ditangkap oleh Junmyeon meskipun ia tidak mengerti kenapa Yixing melemparnya dengan buku.

"Apa ini?" Junmyeon mengacungkan buku itu.

"Di baliknya ada angket buat acara camping" Jawab Yixing singkat. Junmyeon langsung membalikan buku itu dan memang ada amplop yang Yixing tempel di sana. Yixing sengaja menempelkannya dengan buku supaya ketika dilempar, amplop itu tidak terbang.

"Kenapa gak langsung kasih aja—"Yixing langsung menutup lagi jendela dan gorden kamarnya ketika Junmyeon masih mencoba melepaskan amplop itu dari buku "—Hey, kok malah langsung ditutup? Hey Yixing!"

"Apa sih? Berisik" Yixing menatap ketus kearah Junmyeon setelah ia membuka kembali jendela dan gorden kamarnya. "Aku mau makan dulu, nanti mi-nya keburu dingin" Yixing meniup-niup sebuah cup mi instan yang masih mengepulkan uap di tangannya.

"Kamu makan makanan instan lagi?"

Yixing mendengus "Karena kamu berisik, aku makan di depan kamu aja" Yixing menyumpit dan memasukannya ke dalam mulut dan membuat Junmyeon menatapnya kesal.

"Aku kan suka masakin kamu. Kenapa gak makan disini aja sih?" Ujarnya dengan suara agak kencang yang mengalahkan suara seruputan mie yang berasal dari Yixing

Yixing mendelik kearah Junmyeon setelah mie yang ada di mulutnya tertelan semua "Jangan marah sama aku karena Kyungsoo nolak kamu dong"

Ucapan Yixing membuat Junmyeon kembali mengingat hal itu dan membuatnya menunduk "Aku gak marah. Aku cuman agak sedikit frustasi aja. Dan itu bukan berarti aku mau dikasihani ya. Dan kamu harusnya bersikap seperti biasa aja"

"Aku ngelakuin ini demi kamu sama Kyungsoo"

"Eh?"

Yixing menurunkan sumpit yang baru saja akan masuk ke mulutnya dan membiarkan sumpit itu menggantung dengan cup sebagai tumpuan "Kenapa aku bodoh banget ya" Pandangan Yixing masih mengarah pada sumpit yang sudah digantungi mie yang tidak jadi ia makan "Aku bilang aku akan mendukung Kyungsoo dan kamu, tapi aku malah terus bergantung sama kamu. Terus datang ke rumah kamu. Jadi wajar aja kalau Kyungsoo jadi salah paham kan, ya?"

"Jadi kamu pikir, itu alasan dia nolak aku?"

"Iya"

"Tapi aku pikir, itu emang karena dia gak punya perasaan yang sama sama aku—"

"Umm" Gelengan kepala Yixing mengiringi gumamannya "Aku pikir Kyungsoo juga suka sama kamu, hanya saja mungkin dia pikir aku butuh kamu. Terus kamu sendiri gimana? Apa kamu bener-bener mikir kalau Kyungsoo gak suka sama kamu?"

"Y-ya kalau itu—" perkataan Yixing membuat Junmyeon mengingat dulu Kyungsoo yang juga suka terlihat gugup ketika dipuji Junmyeon, wajah Kyungsoo juga sering memerah jika berada dekat dengan Junmyeon dan jujur saja itu membuat harapan Junmyeon naik "—Aku pikir dia juga ada rasa tertarik sama aku, yaa… sedikit, sih"

"Makanya jangan nyerah" Junmyeon yang barusan menduduk langsung menoleh kearah Yixing yang sekarang sedang menatapnya juga "Aku gak akan datang lagi ke rumah kamu. Aku juga gak perlu masakan kamu. Kamu gak perlu lagi bangunin aku kalau aku telat. Aku akan berusaha mandiri. Mulai besok, kita cuman teman sekelas yang kebetulan tetanggaan"

Junmyeon hanya mendengar dengan mulut terbuka.

"Kalau kamu masih ada perasaan sama Kyungsoo, aku yakin Kyungsoo bakal berubah pikiran. Jadi—" Yixing menatap tajam Junmyeon dengan jari telunjuk yang langsung menunjuk wajah Junmyeon "—Kamu juga harus ngelakuin apa yang harus kamu lakuin. Jangan lari dari Kyungsoo. Kamu harus memastikan perasaan Kyungsoo yang sebenarnya"

"Ta—tapi"

"Rumah kamu… nyaman Jun, tapi ini keputusan aku"

"Aku ngerti" Jawab Junmyeon. Yixing kembali menurunkan tangannya. Ia tersenyum mendengar jawaban dari Junmyeon "Tapi, jangan sampai bakar rumah yah"

"Oke. Aku janji gak akan ngegunain kompor. Aku dengan ini menyatakan bahwa Zhang Yixing hanya akan memakan makanan instan!"

Junmyeon terkekeh dan membuat Yixing sedikit menoleh "Seriusan. Sampai kapan kamu bakal bertahan?"

Ucapan Junmyeon membuat Yixing agak tersentak, dengan suara pelan ia menjawab "Aku akan bertahan sampai kapanpun" Junmyeon mendongak menatap Yixing "Udah yah, bye" Yixing kembali menutup jendela dan gordennya meninggalkan Junmyeon yang masih tertegun mendengar suara Yixing yang sedikit… berbeda?

Setelah menutup jendela, Yixing membalikan badan dan menatap cup yang masih ada di genggamannya tanpa berniat untuk kembali memakan mie yang sudah agak dingin itu.

.

.

.

"Myeonie, ini ketinggalan"

Junmyeon menghentikan langkahnya ketika ia mendengar suara ibunya, ia menoleh dan melihat ibunya memegang selembar kertas "Padahal udah ibu tandatangan"

"Oh iya aku lupa" Ujar Junmyeon sambil mengambil alih kertas itu dari tangan ibunya.

"Jadi kamu bener-bener mau camping ya? Wah, seru ya, ibu jadi ingat masa ibu SMA dulu, ah ibu jadi mau camping juga"

"Meskipun ini bukan waktunya buat mikirin camping sih, ya"

"Hah?"

"Ah, nggak, aku berangkat bu"

Kemudian Junmyeon kembali melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan tatapan bingung ibunya.

Junmyeon berjalan sendiri. Yixing benar-benar serius dengan ucapannya, pagi tadipun ia tidak datang ke rumah Junmyeon. Dan itu membuat ibunya bertanya-tanya apakah mereka bertengkar dan dijawab gelengan Junmyeon, karena mereka memang tidak sedang bertengkar, kan?

"Kalau aku ketemu Kyungsoo, hal pertama yang harus aku lakuin adalah ngucapin selamat pagi" Ujar Junmyeon bermonolog sendiri. Yixing melakukan ini demi dirinya dan Kyungsoo, jadi ia seharusnya tidak membuat pengorbanan Yixing jadi sia-sia, kan?

"Kim Junmyeon"

Junmyeon menoleh kearah suara. Seorang siswa menuju kearahnya sambil berlari-lari kecil dengan tas karton menggantung di tangannya. "Ini" Ujarnya sambil menyerahkan tas karton itu.

"Ini apa?" Junmyeon menerima tas itu setelah sebelumnya hanya memandang dan membiarkan tas itu tetang menggantung di tangan siswa asing itu.

"Sebenarnya aku mau ngembaliin itu sesegera mungkin soalnya itu kelihatan mahal, tapi kemarin kamu gak masuk jadi maaf baru dikembaliin hari ini"

"Oh, kamu orang yang pakai unicorn itu ya?"

"Iya"

"Ah maaf aku lupa"

"Gak apa-apa kok, oh iya omong-omong—" Siswa berambut cepak itu merogoh saku celananya dan menyerahkan kotak kado yang tidak jadi diberikan kepada Kyungsoo "—Ini ada di saku suit itu, pasti mau dipakai malam itu kan?"

"Oh itu, gak apa-apa kok—" Junmyeon mengambil alih kado itu "—Lagipula aku gak jadi ngebutuhin ini malam itu"

.

.

.

Junmyeon menatap gelang berwarna cokelat yang ada di tangannya. Ia tersenyum kecut, akhirnya gelang itu tidak sampai pada orang yang ingin ia lihat memakai gelang ini. Ia berniat menyimpan gelang itu di lokernya ketika suara ceria seseorang menginterupsi

"Selamat pagi, Junmyeon" Junmyeon menoleh dan mendapati Chanyeol yang sedang memamerkan giginya "—Ah apa itu?" Tanyanya langsung ketika ia melihat gelang yang ada di tangan Junmyeon.

"Ah ini?" Junmyeon mengangkat gelang itu "Ah… umm ini apa ya? Barang yang udah gak dibutuhin lagi?"

"Ah kalau gitu buat aku aja" Chanyeol langsung mengambil gelang itu dari tangan Junmyeon dan saat itu juga memasukan gelang itu ke tangannya.

"Hehe lucu ya—eh Yixing, selamat pagi"

Tanpa menjawab sapaan Chanyeol, Yixing yang melihat gelang Junmyeon ada di pergelangan tangan Chanyeol langsung menarik tangan itu dan berniat melepaskan gelang yang sedang melingkar pada tangan tersebut. "Kembaliin" Ujarnya

"Eh? Apa?" Chanyeol malah jadi bingung kenapa tiba-tiba Yixing menarik tangannya.

"Gelang ini punya Junmyeon"

"Iya iya aku lepas aku lepas"

"Pagi-pagi udah pada semangat ya" Ketiga orang yang sedang sibuk sendiri itu langsung menoleh kearah suara yang menginterupsi kegiatan mereka, dan mereka menemukan Kyungsoo yang sedang tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ia melanjutkan "Selamat pagi, semua"

"Pagi" Jawab Chanyeol

Yixing melepaskan tangan Chanyeol lalu membalas kelewat semangat "Selamat pagi Kyungie"

"Se—"

Kyungsoo memiringkan kepala dengan senyum yang masih terukir di bibirnya menunggu Junmyeon menyelesaikan ucapannya.

"Se-Sepertinya aku harus membeli sesuatu" Saking gugupnya, ia jadi salah tingkah dan akhirnya ia malah pergi dengan langkah cepat.

"Eh? Ini udah mau masuk loh" Teriak Kyungsoo pada Junmyeon yang malah semakin mengencangkan laju larinya.

Yixing mengeratkan pegangannya pada gelang yang sudah ada ditangannya setelah melihat itu "Junmyeon bodoh" gumamnya.

Sementara itu, Junmyeon berjongkok sambil memegang kepalanya frustasi "Kenapa aku malah lari sih? Dasar bodoh"

.

.

.

"Sip. Kelompok buat camping nanti sudah dibuat ya" Ujar Chanyeol setelah menuliskan daftar-daftar kelompok di papan tulis.

"Tunggu sebentar" Baekhyun menginterupsi kegiatan itu setelah ia menaruh curiga kalau Chanyeol dengan sengaja membuat Yifan dan Yixing satu kelompok. Ia yang sudah berjanji akan mendukung Junmyeon merasa harus melakukan sesuatu "Bukannya kelompok itu kelihatan aneh, ya?"

"Memangnya aneh sebelah mananya?"

"Ng… itu… anu…" Baekhyun jadi bingung sendiri harus menjawab apa tanpa ada kecurigaan "Itu Yifan sama Yixing—ah bukan, maksud aku—"

"Kalau kamu gak mau sekelompok sama mereka, ya tinggal pindah kelompok saja, tukeran sama aku"

"Diam kamu Jongin!" Suara Baekhyun naik satu oktaf saking paniknya karena bukannya jadi curiga, mereka bisa-bisa malah jadi salah paham. "Itu—Junmyeon gimana?"

Junmyeon yang tiba-tiba ditanya seperti itu jadi kaget sendiri "Eh? Aku? Kalau aku sih gak apa-apa"

"Gak apa-apa?" Diam-diam Baekhyun jadi mengutuk Junmyeon, dia mati-matian supaya Junmyeon satu kelompok dengan Yixing yang di bela hanya menjawab "Aku gak apa-apa". Sialan memang.

.

.

.

"Hey, Jun, udah mau pulang?"

"Yifan?"

Yifan menghampiri Junmyeon sambil menoleh ke kanan dan ke kiri "Loh Yixing mana? Kalian gak bareng?" tanyanya setelah tidak mendapati Yixing dimanapun.

"Ah—Yixing ada urusan, katanya"

"Hoo, tapi kayaknya akhir-akhir ini kalian jarang bareng ya?"

Dalam hati Junmyeon membenarkan perkataan Yifan. Yixing belakangan ini memang jadi agak menjauh, sesuai janjinya untuk bersikap sebagaimana teman sekelas yang kebetulan bertetangga. Yixing juga jadi agak canggung kalau berhadapan dengan Jongin, padahal Yixing tidak perlu sampai menjauh dari Jongin juga.

Lalu bayangan Yixing yang berkata akan berusaha hidup mandiri demi dirinya dan Kyungsoo melintas di otaknya mengalihkan pikirannya tentang hubungan Yixing dan Jongin. Sementara apa yang dia lakukan? Selama beberapa hari ini ia malah semakin jauh dengan Kyungsoo. Ia seolah tidak menghargai usaha Yixing untuk mendekatkan dirinya dengan Kyungsoo yang sebenarnya tidak perlu karena… entahlah Junmyeon hanya merasa itu tidak perlu.

Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya dengan erat sampai buku jarinya memutih. Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang jadi pengecut, padahal Yixing bilang kalau dia tidak boleh jadi pengecut karena Yixing sudah mempercayainya.

Kemudian dengan masih mengepalkan tangan, ia berjalan meninggalkan Yifan yang masih diam di tempat memperhatikan perubahan wajah Junmyeon.

Junmyeon merasa ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ketika ia melihat Kyungsoo yang sedang berjalan menuju luar gerbang. Ia mengencangkan laju kakinya sehingga ia bisa menyusul Kyungsoo yang sudah beberapa meter di depannya.

"Kyungsoo" Panggilnya ketika ia sudah tinggal sekitar dua meter lagi di belakang Kyungsoo.

Merasa terpanggil, Kyungsoo menoleh. Sejenak ia memandang Junmyeon sendu lalu sedetik kemudian ia tersenyum lebar sampai giginya terlihat "Hey Junmyeon"

"Umm… anu, aku—mau minta maaf soal belakangan ini aku jadi agak—umm gimana ya"

"Kamu ngomong apa sih?" Nada suara Kyungsoo yang kelewat ceria membuat Junmyeon yang tadinya agak menunduk jadi mendongak dan mendapati wajah Kyungsoo yang sedang tersenyum jahil, dan perkataan Kyungsoo selanjutnya membuatnya sedikit kaget "Aku sama sekali gak apa-apa kok"

Junmyeon tersenyum "Pulang bareng?" tawarnya dan dibalas anggukan Kyungsoo.

Keheningan mewarnai perjalanan mereka sampai Junmyeon menyadari gelang yang tadinya akan ia berikan kepada Kyungsoo sudah melingkar manis di pergelangan tangan Kyungsoo "Kyungsoo—itu?" Junmyeon menunjuk gelang itu.

"Ah ini?" Kyungsoo mengangkat tangannya supaya gelang itu terlihat lebih jelas "Yixing yang kasih ini. Dia bilang ini barang yang sangat berharga jadi aku akan menjaganya dengan baik. lucu kan?—"

Lagi-lagi Yixing melakukan ini

"—Ah aku ngomongin gelang ini ya yang lucu"

Dan Junmyeon hanya menjawab dengan senyum dan sedikit gumaman. "Oh iya, rambut kamu kelihatan beda, ya" Lanjut Junmyeon untuk mencairkan suasana canggung yang sebenarnya hanya dirasakan oleh dirinya sendiri.

"Oh ini?" Kyungsoo memain-mainkan poninya "Aku memotong poniku sedikit. Tadinya aku mau potong semua sampai botak kalau perlu, tapi nggak ah nanti kasian kalau mataharinya jadi dua nanti bumi makin panas—"

Eh? Kyungsoo berusaha melawak?

"—Tapi aku gak nyangka juga ada yang sadar kalau aku potong poni"

"Ya, itu karena aku selalu memperhatikan Kyungsoo" Sedetik kemudian ia baru sadar akan ucapannya sendiri. Sial. Keceplosan.

Karena sibuk dengan pikirannya sendiri, Junmyeon jadi tidak sadar baru saja Kyungsoo merubah ekspresi wajahnya jadi sendu. Namun itu tidak bertahan lama karena beberapa detik kemudian Kyungsoo malah terkekeh "Wow, pengakuan yang sangat mengejutkan, ya"

"Iya" Jawabnya. Setelah ia mengutuki mulutnya, kemudian ia jadi mensyukuri itu karena ia pikir ia memang harus maju. "Oh iya, adik Kyungsoo udah mau masuk SMP ya—"

.

.

.

"Myeonie, seriusan, sebenarnya Yixing kenapa sih? Kenapa dia gak kesini terus akhir-akhir ini?"

Pertanyaan ibu yang tiba-tiba membuatnya seketika lupa caranya untuk menelan. Ia menatap ibunya yang sedang memutar-mutar gelas teh untuk mencari kehangatan dari gelas yang ia pegang.

"Yi-yixing bilang dia mau mandiri bu, jadi dia mau berusaha buat—hidup mandiri" Jawab Junmyeon setelah urusannya dengan masalah menelannya beres. Tidak sepenuhnya bohong, karena memang Yixing bilang begitu.

"Terus makannya gimana?" Suara ibu jadi berubah khawatir "Dia bisa masak sendiri?"

"Dia mau belajar"

Setelah mengucapkan itu, Junmyeon tersenyum sendiri, ia jadi ingat Yixing yang kerepotan waktu ia belajar masak, padahal hanya membuat telur ceplok. Lalu kenangan-kenangannya bersama Yixing jadi melintas di otaknya dan membuat senyumnya perlahan memudar.

Entah kenapa ia merindukan moment-moment itu. Ia merindukan senyum Yixing, tawanya, ledekannya, bahkan ketika Yixing menyebutnya bodoh, ia tetap merasa merindukan itu. dan memikirkan itu membuat hatinya jadi terasa—kosong.

"Bu aku mau ngembaliin buku Yixing dulu" Ujarnya. Hanya alasan sebenarnya, karena ia hanya ingin bertemu Yixing. Meskipun ia paham itu keputusan Yixing untuk menjauh, tapi ia hanya ingin bilang bahwa Yixing tidak perlu melakukan itu.

Ia ingin hubungan mereka kembali seperti dulu. Saling menyokong satu sama lain. Berbagi tawa dan kesedihan masing-masing.

.

Dan disinilah Junmyeon sekarang. Di depan pintu apartemen Yixing. Ia akhirnya mengetuk pintu itu setelah sebelumnya hanya berdiri mematung di depan benda persegi panjang itu karena entah kenapa ia merasa gugup.

Setelah beberapa ketukan tetap tidak mendapat jawaban, Junmyeon mencoba membuka apartemen itu yang—untungnya—tidak terkunci.

Yixing lupa mengunci pintunya lagi pikirnya karena setelah ia masuk ia tidak mendapati Yixing dimanapun. Dan ia malah menemukan hal yang membuat hatinya mencelos. Ia melihat tumpukan cup-cup bekas mi instan di tempat sampahnya.

Yixing bahkan rela hanya makan makanan instan demi dirinya. Ia mengepalkan tangannya kesal. Kesal kepada dirinya sendiri kenapa ia malah membiarkan Yixing melakukan ini padahal ia pernah berjanji bahwa ia akan selalu ada untuk Yixing.

Ia memainkan ponselnya untuk mengalihkan rasa bosannya. Sudah lebih dari tiga jam ia menunggu Yixing tapi Yixing tidak kunjung pulang. Ia jadi bertanya sendiri, kemana perginya Yixing?

Ia sudah berusaha menghubungi hp Yixing yang malah mendapat ucapan dari operator bahwa nomor Yixing tidak aktif. Ia khawatir Yixing kenapa-kenapa. Tapi ia tepis pikiran-pikiran itu karena ia yakin Yixing baik-baik saja. Feelingnya berkata demikian.

Akhirnya setelah tengah malam, ia akhirnya menyerah dan memutuskan untuk bicara pada Yixing besok saja karena tidak ada tanda-tanda Yixing akan pulang malam ini.

.

.

.

Setelah guru mata pelajaran terakhir hari ini sudah undur diri dan keluar dari kelas, Junmyeon menengok kearah Yixing. Junmyeon dengan cepat mengemasi barangnya dan bergegas keluar untuk mengejar Yixing yang sudah keluar duluan.

"Yixing tunggu" Suara Junmyeon yang agak kencang itu membuat kaki Yixing seketika berhenti dan menengok kearah Junmyeon. Melihat gelagat Yixing yang akan menghindarinya lagi seperti tadi membuat Junmyeon langsung berkata "Ibu—dia nanyain kamu"

Yixing membuat lengkungan oleh bibirnya "Aku titip salam sama ibu"

"Kenapa kamu gak datang aja langsung ke rumah?" Ujarnya langsung ketika ia melihat Yixing yang hendak beranjak.

"Iya, kapan-kapan"

Jawaban Yixing ternyata tidak sesuai ekspektasinya. Tadinya ia berharap Yixing akan menerima tawaran itu dan hubungan mereka akan mulai seperti dulu lagi, tapi ternyata harapannya terlalu tinggi.

"Anu Xing—" Yixing menunggu Junmyeon menyelesaikan kalimat yang ia gantungkan dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya "—Aku gak pernah berpikir kalau kamu akan ngelakuin sampai sejauh ini buat aku. Padahal kamu gak perlu ngelakuin itu, karena Kyungsoo juga udah jelas nolak aku kan?"

"Bodoh" Ujar Yixing sambil menyentil kening Junmyeon "Kamu sama Kyungsoo itu mencintai satu sama lain, jadi cuman masalah waktu, nanti Kyungsoo pasti jujur sama perasaannya"

"Dari mana kamu dapat kepercayaan itu?"

"Kamu mau tahu?" Tanya Yixing dan dijawab anggukan Junmyeon "Aku punya alasan untuk percaya itu. maksudnya aku percaya sama kamu"

"Eh?"

"Kyungsoo itu sahabat aku. Dan aku percaya kalau kamu orang yang layak untuk mendampingi sahabat aku"

"Yaudah aku duluan ya" Lanjut Yixing sambil berlalu menghiraukan Junmyeon yang masih tertegun di tempat dengan mulut yang sedikit terbuka. Tersirat sekali kalau ia masih mencerna kalimat dari Yixing.

Hati Junmyeon ingin mencegah Yixing pergi dan kembali membujuknya kalau perlu memaksanya untuk kembali bersikap seperti dulu. Tapi otak dan badannya tidak sinkron dengan hatinya dan ia hanya membiarkan punggung Yixing menjauh dan perlahan hilang ditelan belokan koridor.

.

.

.

Yixing mengelus-elus lututnya yang baru saja berbenturan dengan lantai karena tidak sengaja tersandung kakinya sendiri. Setelah ia berdiri, ia menghela nafas dan tersenyum miris. Dulu, ketika Yixing akan jatuh, selalu ada Junmyeon yang menahannya. Dan memikirkan itu membuat dadanya kembali sesak.

Ia mulai melangkahkan kakinya lagi setelah sebelumnya menghela nafas panjang untuk meringankan rasa sesaknya meskipun nyatanya itu percuma.

Baru lima langkah ia berjalan, tarikan dari tangannya membuatnya berhenti seketika dan membuat badannya terhuyung dan jatuh ke pelukan orang yang menarik tangannya barusan.

Orang itu memeluk Yixing erat dan menenggelamkan kepala Yixing di dadanya "Xing, aku udah lama gak liat kamu nangis. Aku tahu kamu berusaha menahan diri, tapi untuk sekarang kalau kamu mau nangis, nangis aja"

Perkataan orang yang sedang memeluknya itu membuat pertahanan diri Yixing rubuh seketika. Air mata yang selama ini ia tahan tumpah membasahi kemeja orang yang sedang memeluknya.

Ia membalas pelukan orang itu sementara orang itu mengelus punggung Yixing yang masih terisak.

"Terimakasih, Yifan"

.

.

.

TBC

.

.

.

a/n :

Hai hehe—Maaf yaa kalau ceritanya alay dan maafkan otak saya yang buat ini jadi berbelit-belit :')) tapi ini bakal berakhir 2 chapter lagi kok tenang aja hehe *ketawa garing.

Oh iya, Sejak kapan Kyungsoo suka Junmyun? Dari waktu Junmyeon bilang dia mau kok sama Kyungsoo, Kyungsoo kan jadi suka blushing2 kalau deket2 Junmyeon…kan? Dan btw, ada yang inget kalau Jongin pernah sebut Yixing itu imut dan Yixing pernah bilang kalau Jongin itu caper? Cuman mau nanya kok hahaha *ditimpuk. Ehem

Mind to give review again?

Big Thanks to :

Yxingbunny, chenma, qwertyxing, akuaXing10, sam, Guest, chloe, kerdus susu, Guest, Shin Eun Young, micopark, MissMoretz, nichi, Regina Pearl Luce, kyuu, xingmyun, sydmoo.