4 Januari 20XX
Tidak semua dewa itu immortal.
Apel emas, itulah yang harus mereka peroleh untuk mendapatkan keabadian.
Meski harus membunuh dewi Idunn yang menghalau tujuannya, meski harus bertumpu pada tumpukan mayat untuk bisa meraih apel teranum dari pohonnya;
Mail Jeevas akan mendapatkan apelnya.
chapter 6
The White Knight: sacrifice
Death Note belongs to Tsugumi Ohba & Takeshi Obata
Note: chapter ini sama sekali nggak punya 'kemajuan waktu' dari chapter sebelumnya, jadi... kumpulan flash back nanggung, mungkin? disarankan untuk membaca ulang chapter 1 untuk bisa lebih memahami chapter ini :)
That Knight, the unique one
.
That knight, the brilliant one
.
That Knight
.
The first victim
16 Maret 20XX
Gelar detektif nomor satu dunia bukan L dapat dengan percuma; dan dari pengalaman mestinya ia tahu benar kasus terorisme yang mengancam sebuah negara monarki kecil di Eropa Timur, atau dugaan percobaan genosida terhadap suatu negara di salah satu kepulauan Asia tenggara merupakan kasus yang seharusnya ia beri curahan perhatian lebih saat ini.
Seharusnya.
"Kau masih menelisik kasus mutilasi ini?" suara berat yang menyapanya dengan lembut membuat L menoleh pada pria tua yang sudah sangat familiar baginya, membawa tray penuh penganan manis seperti biasa.
L menggumam pelan, mengonfirmasi setelah sebelumnya mengambil salah satu cookies yang tersedia.
"Maafkan saya, Watari," L mendesah pelan, tahu benar ia tak perlu repot-repot menjelaskan pada asistennya yang satu itu tentang konsep pembicaraannya.
Yang bersangkutan mengangguk kecil penuh pengertian.
"Seberapa lama pun kau menyandang gelarmu, L, jangan lupa bahwa kau tetap manusia. Dan sama sekali bukan hal yang patut dipertanyakan jika seorang manusia mengkhawatirkan temannya."
Si rambut raven terhenyak sesaat. Pria tua di hadapannya adalah salah satu orang yang mampu menciptakan momen langka yang mampu membuatnya terkejut.
"Saya… bukannya khawatir atau apa mengenai Light-kun," balas L keras kepala, meski ia tahu Watari mengenalnya jauh lebih baik daripada siapapun, termasuk dirinya sendiri. "Lagipula, belum tentu kasus ini benar-benar berhubungan dengannya, meskipun saya meragukan fakta bahwa ketiga korban yang ternyata kenalan Light kun hanya kebetulan semata."
Kembali ke kasus.
Marry Hasegawa.
Kiyomi Takada.
Keluarga Yagami.
Misa Amane… sosok tunangan sang komandan kepolisian segera menyeruak dari pikirannnya sebagai hasil deduksi. Model cantik itu menghilang tak lama setelah Light 'berlibur' ke Inggris, praktis membuatnya tidak memiliki alibi.
Dan munculnya dugaan ini membuat pertanyaan lainnya terlintas dalam benak L.
Menghilang, yeah… dan Light Yagami tidak ambil pusing… ralat; tidak menyadari masalah yang menyangkut tunangannya tersebut?
22 Maret 20XX
Mello mengamati sosok yang menatapnya dari balik cermin.
Rambut pirangnya yang biasanya tertata rapi dengan gradasi keemasan kini memanjang dan tak terurus; begitu juga dengan tubuhnya yang terlihat jauh lebih kurus.
Namun perubahan yang paling mengerikan adalah luka jahitan di sekujur tubuhnya, membuat Jaket merah berbulunya menjadi pakaian wajib yang selalu ia kenakan tiap melangkah keluar apartemen bobroknya.
Pagi kemarin sang ketua mafia terbangun di ranjang apartemennya; meski ia yakin sedatif terakhir yang ia konsumsi adalah untuk operasi otak yang akan ia jalani. Pendek kata, seharusnya ia terbangun dalam ruangan monoton serba putih di rumah sakit, atau mungkin tidak terbangun sama sekali.
Hal pertama yang dilakukannya adalah mengecek ponsel, terkejut begitu mengetahui seminggu sudah terlewati dari hari dimana seharusnya ia melakukan operasi pengangkatan tumor dengan keberhasilan rendah yang sudah ia setujui.
Entah insting atau apa, Mello tahu sahabatnya yang tidak pernah lagi menemuinya beberapa minggu terakhir bertanggung jawab untuk ini.
Ia pun mencoba merekapitulasi dialog-dialog terakhir di antara mereka, sejauh yang ia bisa.
.
.
'Jepang, huh?'
16 Maret 20XX
Lima belas menit sebelum pergantian hari, L masih berkutat dengan pemikirannya. Ia sudah menyelidiki beberapa pihak yang juga memiliki posibilitas atas tanggung jawab kasus mutilasi itu, tapi Misa Amane-lah yang memiliki persentase kemungkinan tertinggi, termasuk dari segi motif.
Sebenarnya ia bukannya tak punya asumsi apapun mengenai pembunuhan keluarga Yagami waktu itu, tapi sang detektif tahu mental Light sudah cukup terguncang dengan kematian keluarganya hingga kerasionalitasan otaknya tereduksi; entah bagaimana reaksinya kalau L mengumumkan buah pikirnya mengenai dugaan tersangka terhadap tunangannya sendiri dikemukakan.
Rentetan praduga L terputus manakala suara ganjil tertangkap telinga L. Dari lorong luar; dan ia tahu betul itu bukan suara langkah tegap sepatu pantofel Watari.
Sayangnya, orang yang datang dini hari tanpa konfirmasi biasanya bukan tamu yang yang diundang kan?
28 Februari 20XX
Mail mempererat pelukannya pada seonggok tubuh yang tetap tak bergeming.
Wajah pemuda pirang yang sudah ia kenal lebih dari setengah hidupnya tampak layaknya orang yang sedang tidur biasa, kalau saja tidak ada lumuran darah yang membungkus hampir seluruh tubuhnya.
Dan tentu saja, itu bukan darahnya; apalagi jika kita mengamati pisau bedah dalam genggaman Mello yang Mail tahu betul hilang dari labnya.
Ia gagal, gagal, gagal.
Apa menantang dewa kematian untuk menyelamatkan teman itu suatu kesalahan? Suatu aib? Suatu dosa?
Kedua iris sewarna biru lautnya berpaling ke arah hasil koyakan tubuh manusia dengan organ terburai yang sudah tak berbentuk.
Dan itu, tak lain adalah hasil perbuatan 'ciptaan'nya.
~oOo~
"-Heh, aku tidak menyangka kau punya ketertarikan pada kriptologi... -Tidak, aku tidak menyangka kau punya ketertarikan pada buku konyol macam ini."
Sepasang iris berwarna ruby melirik sang aprentis yang sibuk berkutat di tengah tumpukan buku yang tak muat lagi dimasukkan ke satu-satunya rak kayu yang ia miliki dalam bangunan itu.
"Itu bukan buku kriptologi, Matty, itu adalah manual alkimia untuk mengubah zombie menjadi manusia."
16 Maret 20XX
L memusatkan perhatiannya pada pintu yang menjadi pemisah antara koridor luar dengan ruangannya saat ini; sambil mengingat kembali segelintir orang yang bisa menembus pertahanan markasnya tanpa membuat alarm menjerit, diantaranya…
"Matt?"
Pintu pun terbuka dengan mudah, menampilkan sosok pemuda berambut kehijauan yang tampak sedikit lebih dewasa daripada sosok yang ada dalam ingatan L.
"…Maaf, senior."
Dan sosok yang dikenal sang detektif sebagai model yang dinyatakan menghilang dengan pisau bedah di tangannya adalah salah satu dari hal terakhir yang dilihat L.
to be Continued
White Knight itu L... (iya, menurut saya juga dia pantes dapet sesuatu yg lebih penting dari itu, tapi fic ini gak direncanain segitu matengnya jadi... #dilemparpisaubedah) dan tadi dibilang dia 'first victim' maksudnya bukan korban mutilasi pertama, tapi bidak yang dimakan pertama, gitu... #gak jelas
maap pendek plus updatenya lama banget... jangankan readers, author aja udah lupa ama alurnya... #dilemparlagi
karena itu saya sangat berterima kasih ama yg keukeuh(?) baca fic ini sampa detik ini ;_; #lebeh
Janji deh updet selanjutnya gak lama-lama... (banget) udah diketik soalnya =w=v tapi karena ini dan itu, rasanya nggak pas kalo digabung plotnya ama chapter ini...
lupakan cerocosan author, jangan lupa laporkan segala typo, Review pwizz? #bagi2pisaubedah
