Author's Note: Sepertinya mulai sekarang aku harus menambahkan warning di setiap fic-fic ku. (harusnya dari dulu, baka!)

NARUTO©MASASHI KISHIMOTO

Karena Aku Ingin Memilikimu

~Tori Piya~

Chapter 6

Warning:

OOC, Litte Typo(s), AU, SasuFemNaru, Gaje(s), ,dll, dsb, dkk

DON'T LIKE DON'T READ


Wanita berambut merah itu sedang mengibas-kibaskan sebuah kipas kertas berwarna putih ke arah suami tercintanya. Tubuh pria paruh baya bermata laksana langit di musim panas itu terlihat lemas dan ekspresi syok masih melekat di wajah tampannya. Nafasnya terengah-engah bagai diburu, dan bibir tipisnya tak henti-hentinya menyebut…

"Astaga! Astaga! Astaga!"

Apakah yang sebenarnya terjadi pada kepala keluarga Namikaze itu? Kenapa keadaanya memburuk? Mari kita intip keadaan yang sebenarnya.

FLASHBACK

Seorang pria dewasa berambut pirang jabrik terheran melihat seorang pemuda tampan yang berjalan melalui pintu. Badan atletisnya tak tertutupi oleh baju, hanya celana panjang yang melekat di kaki jenjangnya. Diikutinya dengan mengendap-endap, tak ingin merusak rencananya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

"Siapa pemuda itu?" Tanyanya pada diri sendiri.

Diamatinya pemuda itu, pemuda tanpa baju atasan itu masuk ke dalam kamar Naruto. Kamar anaknya. Kamar anak gadis satu-satunya. Dan dia seorang pria tanpa pakaian atasan. Dia masih memproses kejadian barusan dengan otak lambatnya.

"Naru?"

"Naru!"

"NARUTOO~~" jeritnya histeris.

FLASHBACK OFF

Ohh, jadi seperti itu kronologisnya.

"Jelaskan apa yang telah kau lakukan, Nona muda!" selidik Kushina pada putri semata wayangnya. Jika dia sudah menggunakan sebutan 'Nona muda' pada putrinya, itu tandanya dia benar-benar marah besar.

Nampak sepasang muda-mudi sedang duduk bersebelahan. Si gadis pirang itu menunduk pasrah, menandakan betapa gentingnya keadaan saat ini, sedangkan pemuda Uchiha yang duduk di sampingnya hanya memasang ekspresi datar andalannya. Tetapi guratan kegelisahan tak mampu dihilangkan dari wajah sempurna itu. Keringat dingin sedikit mengucur dari pori-pori di pelipisnya. Kecerobohan mereka telah membawa bencana yang teramat sangat besar.

Kembali pada sang gadis. Tubuhnya sedikit gemetar, tanda ia gelisah. Air mata mulai menggenag di pelupuk mata safirnya. Takut, gelisah, khawatir, kacau. Semuanya menjadi satu. Bagaiman dia tidak dalam kondisi seperti itu? Dirinya terang-terangan ketahuan telah bercinta dengan seorang pria. Apa lagi yang memergoki adalah sang ayah yang terlampau menyayangi putrinya.

"Astaga! Astaga! Astaga, putriku." Namikaze senior itu tak henti-hentinya berkomat-kamit.

"Cepat jelaskan semua ini, Naruto!" desak sang ibu yang masih tetap mengipasi sang ayah.

"Aku…aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahi Naruto." Ucap si Uchiha muda begitu mantap.

Naruto tercengang dan refleks menutup mulutnya. Minato juga tercengang. Kushina pun tak luput dari tercengang. Bahkan cicak yang menempel di langit-langit atap pun terjatuh karena ikut tercengang sambil menutupi mulut. Oke kita coret bagian akhirnya. Mereka tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Sasuke.

"Menikahi putriku? Sekolah saja kalian belum tamat." Ejek Minato yang (sepertinya) sudah selesai dari acara tercengannya.

Telak. Kata-kata barusan membuat Sasuke tak mampu berkata-kata lagi. Dirinya memang belum siap membangun mahligai pernikahan. Tapi rasa cintanya pada Naruto tak dapat diragukan lagi. Belum pernah dia dihadapkan pada posisi seperti ini. Harusnya dia bisa menahan 'hasratnya' saat itu, sehingga tak berbuntut seperti ini.

"Tidak bisa menjawab, eh?" Tanya Minato sinis. Entah mengapa melihat putrinya dijamah pria lain membuatnya tidak rela.

"Tapi ayah…" ucap Sasuke terputus.

"Ayah? Kau memanggilku 'Ayah'? Aku bukan ayahmu, bocah!"

"Ayah, Ibu, sudahlah~" Sela Naruto.

"Diam kau, Nona muda! Kau juga bersalah!"

Gertakan sang ayah membuatnya kembali menunduk. Memandang mata indah ayahnya –yang diwariskan padanya– yang sedang berkilat mura, sama saja melihat hari dimana kau akan dimakamkan. Hanya orang bernyali besar yang mampu menatap mata safir kemarahan itu. Dan orang bernyali besar itu adalah Uchiha Sasuke. Seorang pemuda berparas tampan yang berhasil merebut seorang gadis manis berambut pirang panjang, dari sang ayah. Sedari tadi mata hitamnya yang jauh lebih kelam dari langit malam itu, tak beralih memandang mata biru dari ayah gadisnya.

"Aku tak akan…"

"Sudahlah! Bukankah dulu kalian tak jauh beda dengan mereka Minato, Kushina?" ujar seorang pria paruh baya tiba-tiba, memotong pembicaraan Minato.

Naruto tercengang lagi dengan kedatangan pria itu. Keadaan Minato dan Kushina pun tak jauh beda dari putri mereka. Sasuke yang tidak tahu siapa pria tua itu hanya menunjukkan wajah datar. Dan cicak yang baru saja kembali ke langit-langit rumah kembali terjatuh karena ada nyamuk yang begitu menggoda. Oke kita coret lagi bagian itu. Sepertinya hari ini adalah Hari Tercengang-?-

"Ayah? Sejak kapan?"

"Kakek!" Pekik Naruto dengan suaranya yang sedikit melengking.

"Hai, cucuku yang manis~~"

Pria tua itu menatap tajam ke arah Sasuke. Yang dipandangi buru-buru berdiri dan membungkuk member salam. Entah apa yang akan dialaminya saat bertemu dua pria overprotective ini. Berdoalah semoga nasibmu kali ini baik, Uchiha!

"Selamat pagi." Sapa Sasuke pada si kakek tua.

"Pulanglah, Nak! Biar aku yang urus mereka berdua!" Ucap si kakek berambut putih panjang itu sembari menunjuk ke arah putra dan menantunya. Rupanya tuhan telah mengabulkan doamu Uchiha.

"Tapi, Kek…"

"Pulanglah, nasib baik tak akan datang dua kali padamu. Antar pacarmu, Naru!"

"Ba-baik, Kek." Jawab Naruto.


Dua sejoli itu kini telah berdiri di depan pintu gerbang kediaman Namikaze. Mengantarkan kepulangan pemuda yang telah 'bermalam' di rumah itu.

"Hati-hati di jalan, Teme! Dan…" Gadis pirang itu tak melanjutkan kata-katanya.

"Dan?" Tanya Sasuke sambil menaikkan sebelah alis hitamnya.

"Dan…dan segera selesaikan masalahmu dengan Gaara!" ucapnya.

Sasuke hanya menganggukkan kepalanya.

"Hn, akan ku usahakan. Aku pulang dulu." Akhirnya si pria berpamitan. Dan sebelum beranjak untuk pulang, dikecupnya bibir kemerahan Naruto. Sebuah kecupan singkat saat mereka hendak berpisah.

"Kau juga hati-hati di rumah, Dobe!"

"Hehehe, iya." Jawabnya sambil tersenyum. Senyuman yang sangat manis sekali. Senyum yang membuat Sasuke tak tahan untuk tidak mencium bibir ranum itu sekali lagi.

"Sudah Teme, nanti ayah melihat kita!"

"Kau terlalu manis, Dobe."

Sukses. Kata-kata gombal Sasuke, sukses membuat wajah manis dan lugu sang gadis merah merona. Wajah tersipunya selalu mampu membuat sang Uchiha muda terpesona. Dapat memimpikannya tujuh hari tujuh malam dan melambung sampai ke langit ketujuh. Diurungkannya niat untuk kembali mengecup bibir kemerahan gadisnya. Bila sang ayah melihat, bisa-bisa ada sebuah sabit menancap di kepalanya.

"Aku pulang."

"Hati-hati."


Kembali muda-mudi itu duduk berdua di atap sekolah. Hanya di sana satu-satunya tempat yang paling nyaman dan tentram di sekolah. Mereka duduk bersandar di pagar pembatas yang kokoh, dengan kepala pirang bersandar di bahu kokoh pemuda Uchiha. Kembali merasakan belaian sepoi-sepoi angin yang selalu menyapa dan menemani mereka tatkala berada di tempat nyaman tersebut. Tempat dimana Naruto pernah menangis, tertawa, bercanda, merasakan harga diri yang terinjak, marah, terluka, bercumbu dan segala kenangan yang pernah dialaminya.

"Jadi apa kau baik-baik saja di rumah?" Tanya Sasuke memecah kesunyian di antara mereka.

"Kau tenang saja, selama ada Kakek di rumah, aku akan aman." Ucap Naruto santai. "Tapi…"

"Hn?"

"Tapi Ayah dan Ibu menyebalkan. Mereka juga pernah kepergok kakek, tapi mereka malah marah-marah seperti itu. Keterlaluan!" gerutu si kepala pirang sambil sedikit mengerucutkan bibir mungilnya, yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Membuat Sasuke tidak tahan untuk tidak mengacak-acak rambut indah yang sudah terikat rapi. Menimbulkan protes dari si empunya rambut harum tersebut.

"Itu 'kan wajar, bodoh!"

"Apa-apaan sih, Teme!"

"Tapi, perkataanku waktu itu tidak main-main, Sayang." Seulas senyum tipis masih bertengger manis di bibir tipisnya. Tangan putih pucat yang tadi digunakan untuk mengacak-acak rambut pirang gadisnya, kini bergerak menjadi belaian lembut di kepala. Menimbulkan sensasi nikmat satu sama lain.

"Perkataan yang mana?" Tanya Naruto dengan nada yang begitu polos.

"Aku suatu saat pasti akan menikahimu. Sekarang aku memang belum siap untuk membangun rumah tangga, tapi suatu saat aku pasti akan datang melamarmu." Ujarnya begitu mantab. Mata onyx nya menatap dalam pada mata safir yang teramat indah.

Uchiha Sasuke belum pernah merasa seserius ini. Tekadnya sudah benar-benar bulat. Bukan hanya ucapaan sesaat oleh anak laki-laki berusia delapan belas tahun yang baru mengenal apa itu cinta. Di balik wajah tampannya yang datar, tergores keseriusan yang mendalam. Keseriusan untuk memiliki Naruto seutuhnya. Memiliki raganya, jiwanya, cintanya, kelembutannya, kebahagiaanya, senyumnya, tawanya, tangisnya, dan semua hal yang menjadi bagian hidup dari gadisnya.

Perlahan dan perlahan, wajah manis kecoklatan itu berubah menjadi merah. Jantungnya berpacu cepat, nafasnya seolah berhenti begitu saja. Reflek dia menutupi wajah manisnya dengan kedua belah tangan mungilnya. Mencoba menutupi rasa malu yang menghinggapinya.

"Kau kenapa, Dobe?" Tanya Sasuke yang bingung dengan tingkah kekasihnya dan mencoba melepaskan tangan mungil Naruto dari wajah manis favoritnya.

"Tidak, Aku hanya…aku…malu." Gumamnya yang tetap keukeuh tak mau melepas tanganya dari wajah.

"Kalau kau tak melepas tanganmu dari wajahmu, aku tak bisa melihat wajah manismu yang tersipu." Goda Sasuke yang semakin gemas denga tingkah orang terkasihnya.

"Huaaa, kau membuatku semakin malu, Teme!"

"Hahahahaha…" Lagi. Sasuke bisa tertawa lepas berkat Naruto. Segera dia memeluk kekasihnya yang mungil untuk menyalurkan rasa bahagia yang sudah tak terbendung. Seolah dekapan erat itu mampu membawa mereka menuju kebahagiaan cinta yang abadi.

Bagaimana dengan Naruto? Jika dia mampu menggambarkan, menyanyikan ataupun mensyairkan apa yang ada di benaknya saat ini, maka hal tersebut yang akan dialakukannya pertama kali, saat ini juga. Rasa nyaman, aman dan bahagia saat bersama Sasuke membuatnya seolah merasakan jutaan awan putih yang membawanya terbang ke angkasa. Hanya Sasuke yang mampu membuat perasaanya senang seperti saat ini. Bahkan jika harus mati saat ini juga dalam dekapan prianya, dia pun akan rela.


Pemuda tampan keturunan keluarga Uchiha itu berdiri sendiri. Menatap ke arah pintu tua yang memisahkan atap dengan suatu ruangan di baliknya. Rambut hitam kebiruan yang membingkai indah wajah tampannya bergoyang lembut terarak angin, menambah nilai kesempurnaan pada parasnya. Lalu, dimana gadis berambut pirang yang biasa bersamanya di tempat berangin itu? Tidak, dia sedang tidak bersama gadisnya maupun sedang menunggu kekasihnya tersebut. Yang ditunggunya adalah salah seorang kawannya.

Seorang kawan yang tak kalah tampan darinya.

Lama dia menunggu. Seseorang yang ditunggu tak kunjung datang. Membuat si pemuda tampan berambut kebiruan mulai bosan dan memutsukan kembali ke kelas.

Seorang kawan berambut merah bata dan bemata biru kehijauan yang tak kalah indah dari mata onyx-nya.

Belum sempat dia menggerakkan kaki jenjangnya barang sesenti pun, kenop pintu yang sedari tadi di pandanginya mulai bergerak. Hanya tinggal menunggu pintu itu terbuka.

Seorang kawan yang juga mencintai kekasihnya.

Pintu tua itu terbuka lebar. Menunjukkan sosok yang dengan sabarnya ia tunggu kedatangannya. Dan mendekatlah sosok tersebut ke arahnya. Melangkahkan kaki-kaki jenjangnya secara elegan.

Seorang kawan yang selama ini ia panggil…

"Gaara." Ucap Sasuke datar.

"Mau apa kau memanggilku kemari, Sasuke?" Tanya si pria berambut merah bata dingin. Mata kehijauaanya menatap tajam ke arah mata Uchiha muda tersebut.

"Menyelesaikan masalah kita."

"Masalah apa?" Tanya Sabaku muda itu pura-pura tidak paham.

"Tentu saja masalah Naruto, bodoh!" ujar Sasuke kesal.

BUAGH!

Sebuah pukulan telak mendarat di wajah tampan itu. Membuat pemuda yang di pukul tadi menjadi limbung. Dari sudut bibir tipisnya mengalir setitik darah segar. Diusapnya bagian yang berdarah tadi menggunakan punggung tangan putihnya.

"Apa-apaan kau, Gaara?" bentak pemuda yang terkena pukulan tadi.

"Menyelesaikan masalah." Jawab Gaara enteng.

BUAGH!

BUAGH!

Berkali-kali tinju beradu dengan wajah. Berkali-kali terdengar suara-suara mengerikan dari perkelahian itu. Berkali-kali pula dua wajah tampan itu mengeluarkan bulir-bulir darah segar dari setiap pukulannya. Saling meluncurkan pukulan dan cengkeraman. Membuat masing-masing dari mereka merasakan sakit secara fisik.


"Apa kau melihat Sasuke?" Tanya seorang gadis berwajah manis dengan tiga pasang garis tipis di masing-masing pipi ranumnya pada seorang gadis lain berambut merah.

"Sepertinya tadi dia berjalan ke arah atap." Jawab si rambut merah sambil menunjukkan jarinya ke arah atas.

"Oh, baiklah. Terima kasih."

"Sama-sama."

Santai dia berjalan menyusuri lorong menuju tempat yang telah disebutkan tadi. Senyum mengembang dari bibir mungilnya. Mulutnya juga bersenandung kecil, menandakan dia begitu senang bila bertemu kekasihnya nanti. Hingga tak terasa kakinya telah membawanya ke depan pintu atap yang separuh terbuka. Terbuka? Tak biasanya Sasuke–dan juga dirinya–membiarkan pintu atap terbuka ketika mereka sedang berada di luar. Sehingga dibukalah perlahan pintu itu olehnya.

Matanya membelalak lebar saat melihat dua orang pemuda sedang berbaring di lantai dengan wajah penuh lebam. Salah seorang pemuda itu adalah kekasih si pirang. Belum sempat mulutnya mengeluarkan pekikakan dan berlari ke arah mereka, mata safir sang gadis tak sengaja melihat ke wajah dua pemuda tadi. Mereka berdua tersenyum. Dan tertawa pelan.

Kini, gadis Namikaze yang tengah berdiri di depan pintu tengah tersenyum lembut. Dan tahu apa yang telah terjadi pada dua sahabat itu. Dan dia memakluminya. Tangan mungil kecoklatannya menutup pelan pintu tua perlahan agar tak mengganggu acara mereka berdua. Dan segera beranjak dari tempat itu.

"Mereka telah menyelesaikannya." Ucapnya sambil terus berjalan ke kelas.


"Haah, kau bodoh Gaara! Sial, pukulanmu keras sekali!" protes Sasuke sambil sedikit terkekeh dan menahan nyeri yang melanda wajah pucatnya yang kini dipenuhi lebam di bagian tertentu.

"Kau apalagi, brengsek!" balas Gaara yang juga terkekeh pelan dan merasakan hal yang sama seperti yang Sasuke rasakan.

Sejenak mereka terdiam. Merasakan hembusan angin yang sesekali menerpa tubuh dan wajah pemuda dingin tadi. Rasa nyaman meskipun sesekali terasa nyeri di bagian wajah. Sudah beberapa kali mereka selalu menyelesaikan masalah dengan berkelahi. Tapi baru kali ini mereka berkelahi karena sorang gadis.

"Kau tidak boleh melakukan hal seperti waktu itu pada Naruto, dia benar-benar ketakutan."

"Berkacalah Uchiha!" ucap Gaara dengan nada malas-malasan.

"Hn?" gumam Sasuke sembari menautkan kedua alisnya.

"Kau mencintai Namikaze itu, aku pun juga." Akunya sembari menatap ke arah langit berawan. "Melihatmu menggunakan cara licik padanya, membuatku ingin melakukan hal yang sama."

"Kau tetap harus minta maaf padanya." Ujar Sasuke yang juga memandang langit berawan.

"Sayang aku tak seberuntung dirimu."

"Hn? Apa maksudmu?" Tanya Sasuke bingung dan refleks menolehkan kepalanya menatap Gaara. "Aku sudah meminta maaf padanya, dan dia memaafkan ku. Aku yakin kalau dia pasti juga akan memaafkanmu."

"Aku tahu itu, bodoh! Meskipun dia memaafkanku, aku tidak seberuntung kau yang telah mendapatkan hatinya." Ucap Gaara sambil tersenyum miris.

"Itu karena pada dasarnya, aku memang dicintai banyak gadis." Kata-kata tersebut meluncur dari mulut Uchiha bungsu dengan sedikit…ehm narsisnya.

"Kau merusak suasana, idiot!" semprot Gaara sedikit terkekeh dan meninju pelan lengan sohibnya.


Namikaze Naruto hendak pulang bersama sohibnya. Sakura. Ketika mereka berjalan beriringan, dilihatnya dua pria dengan wajah penuh lebam dan beberapa plaster di sana-sini. Mereka berdua juga berjalan beriringan. Dua pria itu tampak mendekat.

"Sasuke, Ga…Gaara." Sapa Naruto yang agak canggung karena kejadian tempo hari di ruang kesehatan.

Sabaku no Gaara maju selangkah. Berdiri tepat di hadapan gadis yang telah mencuri hatinya. Membungkukkan badan kokohnya sebentar ke arah Naruto.

"Aku minta maaf, Namikaze. Atas perbuatanku yang kurang ajar tempo hari." Kata Gaara dengan lancarnya.

"Naruto. Panggil aku Naruto. Dan aku sudah memaafkanmu, kok." Jawab Naruto.

"Aku mencintaimu." Ucap Gaara begitu mantab. Membuat tiga orang lainnya yang berada di situ terkejut, tak terkecuali Sasuke.

"Aku mencintaimu, tapi tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Sasuke, kecuali kalau kalian sudah putus." Ucap Gaara, lalu segera berlari kecil dari tempat ia berdiri sebelumnya.

"Kurang ajar kau, Gaara. Sini kau, biar ku pukul lagi!" Sasuke mengejar Gaara yang berlari pelan kemudian bercanda lagi. Dan dua gadis tadi menyusulnya.

Gaara tahu Sasuke yang sekarang bukanlah Sasuke yang dulu lagi. Sasuke yang ini adalah Sasuke yang baru. Sasuke yang telah berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan, yang Gaara yakini berkat gadis manis berambut pirang lembut. Gadis bermata biru indah. Gadis dengan senyumnya yang menawan. Gadis bernama Namikaze Naruto.

"Ayo Dobe, kita pulang!" Ajak Sasuke dan menggandeng pergelangan tangan kekasihnya.

"Tu-tunggu Teme, aku sudah janji pulang bersama Sakura." Tolak Naruto yang tangannya masih di gandeng oleh Sasuke.

"Aku tidak bawa mobil. Masih tidak boleh pulang bersama?"

"Haha. Aku tidak tahu karena tadi pagi diantar Ayah. Ayo kita pulang bersama." Ajak Naruto dengan penuh semangat.

"Hn. Dasar Dobe." Gumam Sasuke.

"Eh, kau juga tak bawa mobil, Gaara?" Tanya seorang gadis berambut merah jambu.

"Aku memang tak pernah membawa mobil."

"Hm, ayo kita pulang sama-sama!" Ajak si pirang sembari tersenyum amat manis.

'Manis sekali.' Batin kedua pemuda yang berada di sana dengan wajah teramat sangat sedikit merona.

"Mhh…ngh…" Desahan halus penuh kenikmatan meluncur dari mulut seorang gadis yang bibir ranumnya disumpal dengan bibir tipis yang dingin.


Ciuman panas yang berlangsung cukup lama. Sepasang lidah yang saling bertaut dan saling melumat. Menandakan betapa nikmatnya dan juga betapa besarnya hasrat yang terpendam. Kedua lengan sang gadis melingkar di leher kokoh kekasih hatinya. Sedangkan sebelah tangan sang pria menekan kepala belakang sang gadis, menekan dan memperdalam sentuhan bibir mereka. Dan tangan yang satunya lagi, menyusup ke dalam kemeja seragam pasangannya. Membelai-belai lembut punggung halus sang gadis yang menambah kesan sensual di antara mereka. Belum mau melepaskan pagutan yang memabukkan jiwa dan raga kedua insane yang tengan kasmaran.

Seturunnya dari bus, Sasuke keukeuh ingin mengantar Naruto-nya sampai rumah. Dan di sinilah mereka sekarang. Memadu kasih di gang sempit dan sepi dekat dengan kediaman Namikaze. Sembunyi-sembunyi dan mencari-cari kesempatan untuk memuaskan hasrat dan kasih sayang mereka. Hanya inilah satu-satunya cara untuk bercumbu tanpa diketahui oleh orang banyak, terutama kedua orang tua sang gadis. Bagai seorang pencuri yang sedang menikmati hasil curiannya di tengah kejaran aparat penegak hukum. Seperti itulah Sasuke saat ini.

Masih setia kedua pasang bibir itu saling berpagutan. Hingga akhirnya kebutuhan akan udara segar mendesak mereka untuk menyudahi kenikmatana sesaat tersebut. Tapi, rupanya pihak pria belum puas jika hanya menjelajahi bibir mungil gadisnya. Hingga kini bibir tipisnya menyapu permukaan kulit wajah sang gadis dan terus turun hingga ke pangkal leher jenjang Naruto. Belum sempat ia mencicipi dan menorehkan tanda-tanda kemerahan favoritnya, si pirang manis mendorong pelan tubuh Uchiha-nya. Membuat yang di dorong sedikit mendesah kecewa.

"Maaf 'Suke, tapi sebaiknya kau tahan dulu. Kita tunggu hingga keadaan benar-benar normal. Ya?" ucap Naruto dan mengusap-usap lembut pipi putih kekasihnya. Dan dijawab dengan anggukan samar dari Sasuke.

"Terima kasih, 'Suke." Sambil mengecup sekilas pipi Sasuke yang terasa hangat.

"Hn. Aku pulang sekarang." Pamit Sasuke.

"Yakin tidak mau ku antar?" tawar Naruto.

"Tidak perlu, lagi pula rumahku hanya dua puluh menit dengan jalan kaki dari sini." Tolaknya.

"Yakin?"

"Hn."

"Baiklah. hati-hati di jalan, Teme!"

"Hn."

Setelah sang kekasih benar-benar tak terlihat lagi, segeralah ia pulang ke rumah yang hanya beberapa meter jaraknya dari tempatnya berpijak sekarang. Bergegas pulang untuk beristirahat di hari yang melelahkan ini.

"Ibu, Ayah, aku pulang."

"Naruto!" Minato segera bergegas ke arah Naruto dengan muka pucat. Dilebarkannya kerah seragam putrinya. Mencari 'sesuatu' yang mungkin ditinggalkan oleh si bocah tengil Uchiha itu. "Tidak ada."

"Ada apa, Ayah?"

"Tak apa."


Uchiha Sasuke bersenandung kecil. Senyum simpul melekat di bibirnya. Saat ini mood-nya benar-benar baik pasca perpisahan tadi. Selaini dirinya sudah berbaikan dengan Gaara, disisinya juga selalu ada kekasih hati yang teramat dicintainya. Terlampau senangnya, dia tak menyadari ada seorang pria paruh baya yang mendengar senandung ringannya dan juga melihat senyum simpulnya. Juga wajah lebamnya.

"Sudah pulang, Sasuke?" Tanya pria paruh baya tersebut.

"Ayah? Tak biasanya jam segini ada di rumah."

"Tidak ada lembur. Kenapa dengan wajahmu?"

"Hanya masalah anak lelaki. Aku naik dulu." Pamitnya dengan suara datar, berbeda dengan Sasuke beberapa menit yang lalu.

Sasuke telah meninggalkan sang ayah bersama seorang kepala pelayang. Membuat sang kepala keluarga Uchiha leluasa untuk bertanya pada kepala pelayang yang berdiri di sampingnya.

"Sasuke terlihat beda. Dia terlihat senang, apa yang terjadi?" Tanya Uchiha senior itu tanpa mengalihkan pandangan tegasnya pada koran mingguan yang tengah dibacanya.

"Akhir-akhir ini Tuan Muda sering membawa seorang gadis cantik ke rumah, Tuan." Jawab si kepala pelayan sesopan mungkin.

"Gadis? Siapa namanya?" tanyanya yang tetap tidak mengalihkan pandangannya pada setumpukkan kertas lebar berisikan berita.

"Kalau saya tidak salah, namanya Naruto. Namikaze Naruto." Jawab sang kepala pelayang yang sedikit ragu dengan daya ingatnya.

"Namikaze? Minato, eh?" gumamnya sembari menunjukkan seringaian yang entah tak ada seorang pun yang tahu artinya.

"Kita lihat saja nanti." Gumamnya lagi.

TBC

SRUUUT!*nyruput afternoon tea*

Gimana reader? Nggak lama 'kan apdetnya? Orang cuma lebih dari beberapa bulan doing kok*geplaked*

Maap, selama ini aku disibukkan sama beberapa kegiatan kampus. Bayangkan aja, berangkat jam delapan pulang jam lima. Kampus macam apa itu? Penyiksaan secara perlahan.*curcol*

Karena ultah, anggep aja ini fic traktiran-?- buat kalian semua. Semoga berkenan di hati. Maaf aja kalo ceritanya makin ke sini makin tambah ngaco. Harap dimaklumi ya~

SPECIAL THANKS TO:

Ka Hime Shiseiten

jill

Uzumaki Winda

BintangMerah

Namikaze Zhi-chan

Dara Cinta Sasusaku Shikatema

Philypishinki

Mels

Je Suis Narcissique Fille

AshuraDaiMaOu

Hatake Lerina

Misyel

dunn Haruko Cuuhlhourne

Lavender Hime-chan

CCloveRuki

gieyoungkyu

Namikaze May-chan

NaruZach

Lavender Hime-chan

Gloria HaMaki Sana

Mayyurie Zala

Ame no haru uzumaki

Fujoshi Nyasar

NhiaChayang

lovelylawliet

Uzumaki Panda

UchiRasen

Vii no Kitsune

suke-suke naru

Uchiha Uzumaki Hatake Hotaru

UchiMaki Konoichi

Micon

Chiho Nanoyuki

kyoshiro

BlueHolic4Ever

zaivenee

Spica Denebola

Aoi no Kaze

Aoi Hana Kage

narunarunaru

just ra

Azura Pink Ruezi

Yoona chan

icha22madhen

sizunT hanabi

Naoto Shirogane

Ita

Cleo-Ciel I luv him 4 ever

no name

KyouyaxCloud

naru3

Akira Tsukiyomi

Mind to RnR again?