-Prev Chapter-

"Baekhyun-ah.." sang eomma memanggil dari luar kamar, membuat Baekhyun yang sedang tenggelam di dalam novelnya menolehkan kepalanya.

"Ya eomma?" ditatapnya sang eomma yang berdiri di ambang pintu.

"Ada telepon untukmu, di ruang makan."

Baekhyun mengernyit. Siapa yang meneleponnya ke telepon rumah? Teman-temannya biasanya akan menelepon langsung ke ponselnya. Dengan ingin tahu dia beranjak dari ranjang, dan melangkah ke ruang makan.

Diangkatnya gagang telepon yang terbuka di meja itu, "Yoboseyo?"

Suara perempuan setengah baya yang lembut terdengar di sana.

"Baekhyun?" Perempuan itu bertanya, lalu bergumam hati-hati, "Baekhyun, maafkan saya. Saya eomma Chanyeol, bisakah kita bertemu? Saya mohon bantuan Baekhyun untuk meluluhkan hati Chanyeol."

"Meluluhkan hati Chanyeol?" Baekhyun mengernyit bingung. Telepon dari eomma Chanyeol ini sungguh tidak disangkanya.

"Iya Baek, bolehkah kita atur waktu untuk bertemu, tapi saya mohon jangan sampai Chanyeol tahu, saya akan menjelaskan semuanya.

Baekhyun berdehem, bingung, "Kalau boleh saya tahu... ini tentang apa ya?"

Suara di sana agak ragu, tetapi lalu berkata. "Tunangan Chanyeol sedang sakit keras. Dan Chanyeol tidak mau pulang untuk menjenguknya. Saya pikir... ini semua disebabkan oleh kau, Baekhyun."

Dunia Baekhyun langsung bergetar keras di bawah kakinya. Membuat napasnya terasa sesak dan menyakitkan.

REMAKE NOVEL

Menghitung Hujan

By: Santhy Agatha

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Wu Yifan, Xi Luhan, and others.

WARN!

Gender Switch. Typo(s) everywhere

If you don't like

.

.

.

Don't read!

.

.

.

Check this out


Apakah cinta sejati hanya bisa diartikan dengan debaran pasti?
Apakah cinta sejati bahkan pernah ada?
Jika hati terpaut melintas masa
Dan kata-kata takkan pernah cukup
untuk melepas ragu berpadu rindu
Hadirmu dalam genggam hangat jemari
Sesederhana itu aku mencinta
pun sesulit itu kau menjadi nyata

Ketika Ponselnya berbunyi, Chanyeol mendesah melihat nama yang tertera di layar, dia mendesah. Tiba-tiba merasa lelah. Eommanya pasti akan membujuknya untuk pulang menengok Luhan.

Dengan enggan, Chanyeol diangkatnya ponsel itu, "Ne, Eomma?"

"Eomma sudah menelepon Baekhyun"

Suara di seberang telepon itu membuat Chanyeol tertegun, "Mwo?"

"Eomma sudah menelepon Baekhyun. Eomma bilang ingin bertemu perihal Luhan dan kau."

Jemari Chanyeol yang memegang ponsel bergetar, "Eomma tega melakukan itu padaku?"

Sang eomma mendesah penuh penyesalan di seberang sana. "Maafkan eomma, Chan. Eomma harus melakukannya. Kalau tidak hatimu yang keras itu tak akan runtuh. Eomma hanya ingin kau melembutkan hatimu, menengok Luhan, kasihan dia."

"Apakah eomma tidak kasihan kepadaku? melakukan kekejaman ini kepadaku? Kepada Baekhyun? dia tidak tahu apa-apa!" Chanyeol menggeram, mulai marah.

"Maafkan eomma Chan... eomma putus asa." sang eomma menghela napas lagi, " Eomma hanya ingin kau menemui Luhan."

"Baiklah." Chanyeol bergumam tajam. "Aku akan menemui Luhan. Selamat, eomma dan Luhan mendapatkan apa yang kalian mau. Tapi aku minta eomma tidak menemui Baekhyun. Jangan pernah menemui Baekhyun dan menyakitinya." Chanyeol memutuskan sambil memejamkan matanya dengan sedih.

Hening..

Lalu sang eomma bergumam dengan hati-hati, "Hanya karena Baekhyun kau berubah seperti ini, Chan...kau marah kepada eomma, kau meninggalkan Luhan, semuanya kau lakukan hanya karena Baekhyun?"

"Bukan 'hanya'..." Chanyeol menyela. "Eomma harus tahu, Baekhyun adalah segalanya untukku. Dan dengan melakukan apa yang eomma lakukan itu, eomma telah menghancurkan hatiku, anakmu sendiri."

Dan Chanyeol pun menutup telepon dengan hati kalut.

-CB-

Baekhyun datang ke restoran yang dimaksud sore itu dengan jantung berdegup kencang. Oh betapa inginnya dia menelepon Chanyeol dan menanyakan semuanya, tetapi hatinya melawan... dia ingin mendengar penjelasan dari sisi orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah Eomma Chanyeol.

Benarkah Chanyeol meninggalkan tunangannya yang sedang sakit di kota tempat tinggalnya? Dan kenapa eomma Chanyeol menganggap bahwa ini semua ada hubungannya dengannya?

Apakah...apakah Chanyeol meninggalkan tunangannya karena Baekhyun? Chanyeol mengatakan bahwa dia mencintai Baekhyun...

Perasaan bersalah langsung menggayuti hatinya, membuatnya berat. Seberat mendung hitam yang tampak tertatih-tatih membawa muatan uap air yang semakin menggelayut di langit.

Sebentar lagi hujan. Baekhyun menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan menghirup udara dengan nikmat. Hembusan udara sebelum hujan turun terasa menyenangkan, menyejukkan dan menguatkan. Baekhyun butuh merasa kuat untuk menghadapi apa yang akan didengarnya nanti, penjelasan dari Eomma Chanyeol.

Dia berdiri di ambang pintu restoran itu dan memutar mata. Tidak ada yang dikenalinya di sana. Eomma Chanyeol ditelepon mengatakan bahwa dia akan menunggu Baekhyun di restoran itu jam empat sore. Dan bodohnya Baekhyun lupa menanyakan nomor Eomma Chanyeol yang bisa dia hubungi. Sekarang dia beridiri bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

"Kursi untuk berapa orang?" Seorang pelayan menyapanya sopan, membuat Baekhyun sedikit kaget, dihentakkan dari lamunannya.

"Eh.. untuk dua orang."

"Mari ikuti saya."

Dengan pasrah Baekhyun mengikuti pelayan itu, diantarkan ke kursi di sudut untuk dua orang. Untunglah posisinya cukup bagus, sehingga Baekhyun bisa mengamati siapa yang masuk dan keluar dengan leluasa. Dia menajamkan pandangannya, mengamati setiap orang.

Tetapi tampaknya tidak ada yang menunggunya atau mengenalinya di sini. Baekhyun duduk dengan bingung. Memesan secangkir minuman hangat untuk menemaninya, dan kemudian dia menunggu.

Dan menunggu

Dan terus menunggu ..

Hampir dua jam berlalu, dan tidak ada yang datang menghampirinya ataupun menghubunginya. Baekhyun menghela napas, menatap hujan yang makin deras di luar.

Sepertinya orang yang mengaku Eomma Chanyeol tidak akan datang. Baekhyun sudah menyerah untuk menunggu, mungkin itu hanya orang iseng? ataukah mungkin Eomma Chanyeol mengurungkan niatnya?

Baekhyun meraih dompetnya, membayar dan kemudian melangkah pergi dari restoran itu.

-CB-

"Dia ada di sana." Sang eomma menunjuk ke kamar rumah sakit yang ada di lorong. Chanyeol hanya menatap eommanya datar. Tidak menjawab, dia masih merasa kesal atas pemaksaan yang dilakukan eommanya untuk membawanya ke sini. Yah... setidaknya eommanya menepati janjinya untuk tidak mencoba menemui ataupun mengganggu Baekhyun lagi.

Chanyeol lalu berlalu hendak menuju kamar Luhan. Tiba-tiba sang eomma memanggil namanya pelan, membuat Chanyeol menghentikan langkahnya dan menoleh,

"Ada apa eomma?"

Wajah eommanya tampak pedih, menghadapi sikap marah anaknya. "Eomma minta maaf melakukan ini semua, memaksamu datang demi Luhan... ini semua demi yang terbaik untukmu chagi, Eomma yakin Luhan yang terbaik untukmu begitu juga sebaliknya... bukan perempuan entah darimana yang tiba-tiba muncul dan membuat keadaan kacau balau."

"Eomma tidak berhak menyalahkan Baekhyun. Kalau ada yang ingin eomma salahkan, itu Aku." Chanyeol menatap eommanya dengan pedih, "Dan eomma tidak tahu apa yang membuatku bahagia." Chanyeol bergumam pelan, dan membalikkan tubuhnya, meninggalkan sang eomma yang tertegun.

-CB-

Chanyeol membuka pintu kamar perawatan Luhan dengan hati-hati. Kamar itu sepi, Appa dan Eomma Luhan rupanya memilih menunggu di Café. Mereka terlalu marah kepada Chanyeol sekarang untuk bertemu dan menyapa Chanyeol, tetapi demi Luhan mereka mengalah dan memberi kesempatan Luhan untuk bertemu dengan Chanyeol.

Luhan sedang tidur. Dan hati Chanyeol mencelos ketika menyadari betapa kurusnya Luhan. Tubuhnya tampak ringkih dan lemah, dan bahkan pergelangan tangannya yang terhubung dengan jarum infus tampak begitu rapuh.

Seolah-olah Chanyeol akan mematahkannya kalau dia bertindak sedikit kasar kepadanya.

Hati Chanyeol terasa tersayat-sayat menatap Luhan, dia duduk di kursi di sebelah Luhan yang terbaring tidur, mendesah dalam hati. Kenapa kau begitu mencintaiku Lu? kenapa kau tidak dengan mudah melepaskanku? melupakanku dan meraih kebahagiaanmu? Toh aku sudah begitu kejam kepadamu...kenapa kau tidak membenciku dan berpaling saja?

Seakan merasakan kehadiran Chanyeol, pelan-pelan mata Luhan terbuka, bulu mata yang tebal memayungi matanya ketika dia berusaha memfokuskan pandangannya.

"Chanyeol..?" Luhan bergumam pelan, tampak terkejut, rupanya orangtuanya tidak memberitahukan kepadanya tentang kedatangan Luhan.

"Hai." Chanyeol tersenyum, "Aku dengar kau sakit."

Luhan memalingkan mukanya, tampak malu. "Aku tidak apa-apa kok."

Chanyeol menghela napas panjang, meraih jemari rapuh Luhan dan menggenggamnya, "Maafkan aku Lu."

Wajah Luhan tanpak menyimpan kepedihan yang amat sangat, "Kau selalu meminta maaf kepadaku dan aku akan selalu menolaknya Chan..." ada air mata yang mengalir di situ, membuat mata Luhan mengerjap, "Tidak ada gunanya permintaan maaf itu, pada akhirnya kau tetap dengan tegas melukaiku dan meninggalkanku."

"Aku tidak pernah dengan sengaja ingin menyakitimu, Lu." Chanyeol menghela napas panjang, "Tetapi karena jantung ini... aku harap kau mengerti..."

Luhan mengusap air mata yang berjatuhan di pipinya. "Karena jantung itu..." perempuan itu tersenyum pahit, "Aku sudah mencoba memahami, Chan... aku mencoba. Setiap malam aku berbaring di kegelapan, menelaah alasan yang kau paparkan kepadaku... tetapi aku tetap tidak bisa menerima. Bagaimana mungkin sebuah jantung bisa mengubah perasaanmu sedemikian cepat?" Wajah Luhan tampak kesakitan, "Perasaan yang sudah kita bangun sekian lama, yang kita pupuk dari kecil sampai sekarang... tahukah kau..." Suara Luhan tertelan oleh isak tangisnya, "Sejak dulu aku hidup dengan kesadaran bahwa aku akan menjadi isterimu... dan kau... kau menghancurkannya begitu saja."

Chanyeol tertegun menatap Luhan yang menangis terisak-isak. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Semua orang tidak ada yang bisa menerima penjelasannya. Mungkin tidak masuk akal jika ditelaah secara logika... tetapi Chanyeol yang paling tahu, Chanyeol yang merasakannya. Dan perasaan itu nyata... saat ini dia tidak bisa mengucapkan maaf kepada Luhan, karena perempuan itu tidak akan menerimanya.

"Lalu kau ingin aku berbuat apa, Luhan?" gumam Chanyeol putus asa, lelah atas penghakiman yang terus menerus ditimpakan kepadanya..

Luhan menatap Chanyeol lurus-lurus. "Aku tidak pernah berlaku egois sebelumnya, Chan. Kau tahu selama ini aku selalu mencoba mengutamakan kebahagiaanmu lebih dulu, bahkan pada saat aku memutuskan pertunangan itu dengan kejam, aku melepaskanmu." Air mata Luhan mengalir makin deras, tetapi perempuan itu tetap menatap Chanyeol dengan tajam, "Aku ingin bersikap egois sekarang. Sekali saja dalam hidupku aku ingin memenangkan kebahagiaanku sendiri."

Luhan menghela napas, dan Chanyeol menunggu,

"Jangan kembali kepada perempuan itu. Aku mohon." Luhan tampak begitu sedih, "Aku buang harga diriku untuk memohon padamu. Tinggalah di sini, kita lanjutkan hidup kita yang sudah tertata hingga masa depan. Aku...aku akan membuatmu mencintaiku kembali, aku tahu rasa cinta itu masih ada..." Suara Luhan terendam oleh isak tangisnya. "Aku sudah mencoba Chan, tetapi aku tidak bisa tanpaku... kalau kau meninggalkanku lagi... kali ini aku... aku akan mati."

Chanyeol membeku mendengar perkataan Luhan itu.

-CB-

Chanyeol tidak datang lagi. Baekhyun duduk dengan gelisah di kursi itu, kursi biasanya dia duduk berdua dengan Chanyeol. Sudah hampir seminggu Baekhyun duduk di café itu setiap sore, tetapi Chanyeol tidak ada. Dia mencoba menghubungi nomor ponsel Chanyeol, tetapi selalu tidak aktif.

Hati Baekhyun gelisah. Apakah ini ada hubungannya dengan telepon yang mengaku sebagai Eomma Chanyeol waktu itu? Apakah... jika informasi waktu itu benar... Chanyeol pulang menemui tunangannya dan tak kembali?

Tiba-tiba jantung Baekhyun terasa berdenyut. Ketika Chanyeol tidak ada, dia baru menyadari bahwa dia merindukan kehadiran laki-laki itu di hari-harinya, merindukan tawanya, merindukan kedekatan mereka bersama, saling berbagi cerita,

Tanpa sadar, Baekhyun mungkin sudah jatuh cinta kepada Chanyeol...

TBC. BAHAHA BOONG DENG Xd

LANGSUNG AJA YA LANJUT KE CHAPTER 6~~~

CHECK THIS OUT~~~


Aku dan kamu...

Memaafkan keraguan,
berdansa dengan kepercayaan.
Mengertikan kemelut hati yang tersesat,
tuk mencari tahu jalan pulang.
Memilih hidup yang hanya satu
Hanya satu, dan selalu begitu
Tak ada ragu
Selalu kembali kepadamu...

Chanyeol menyuapi Luhan dengan bubur dari rumah sakit. Luhan memang belum boleh menyantap makanan yang keras karena perutnya masih belum bisa mencernanya, tetapi dia sudah bisa makan bubur sehingga tidak tergantung lagi pada infusnya.

Mereka tidak pernah membahas lagi tentang perpisahan. Chanyeol menahan dirinya, mencoba bertahan untuk berada di samping Luhan dan merawatnya ketika perempuan itu sakit.

Semua orang benar, Chanyeol menyimpan hutang budi yang luar biasa kepada Luhan, dia baru menyadarinya sekarang, bahwa merawat orang sakit ternyata melelahkan. Dan Luhan telah melakukan bertahun-tahun untuknya, merawatnya ketika dia lemah tak berdaya.

Mungkin jauh di dasar hatinya Chanyeol berharap apa yang dilakukannya ini bisa menebus hutang budinya kepada Luhan. Meskipun ia yakin bahwa itu tidak mungkin. Hutang budinya terlalu besar, dan hanya bisa dibayar kalau dia melanjutkan pertunangannya dengan Luhan menuju jenjang pernikahan.

Tetapi bisakah sebuah pernikahan dijalankan atas dasar hutang budi? Dasar itu terlalu lemah untuk menjadi fondasi mereka. Luhan bilang kalau dia akan berusaha dan dia pasti bisa membuat Chanyeol kembali mencintainya. Tetapi Chanyeol meragu. Jantungnya tidak berdebar bersama Luhan. Cintanya sudah pasti bukan lagi untuk Luhan. Kalau Chanyeol melanjutkan pertunangan ini kembali, itu sama saja dia sudah mati.

Raganya hidup tapi jiwanya mati….

-CB-

"Chanyeol?" bisikan Luhan lirih, membangunkan Chanyeol dari lamunannya. Lelaki itu tergeragap dan mengalihkan matanya ke arah Luhan.

"Apa Lu?"

Luhan mengamatinya dalam-dalam, lalu menatap ke arah mangkuk yang dibawa Chanyeol, "Buburnya sudah habis."

Chanyeol menunduk dan mengamati mangkuk di tangannya. Mangkuk itu sudah habis isinya, dia bahkan tidak ingat sudah menyuapi Luhan sampai habis. Ditatapnya Luhan dengan malu, "Maaf."

Luhan tersenyum lembut, "Tidak apa-apa Chan."

Chanyeol kemudian berdiri dan meletakkan mangkuk itu ke nampan piring kotor, setelah itu dia menoleh ke arah Luhan, "Bagaimana keadaanmu?"

Luhan meringis, "Masih sakit."

Hal itu membuat Chanyeol menghela napas, kondisi Luhan sudah membaik, itu pasti. Rona mukanya sudah cerah, bahkan dokterpun mengatakan bahwa Luhan sudah boleh pulang asal beristirahat di rumah dengan intens. Tetapi Luhan selalu mengatakan bahwa dia masih sakit dan tidak mau meninggalkan rumah sakit, dia selalu mengeluh perutnya sakit dan kepalanya pusing. Semula Chanyeol bingung, tetapi kemudian Chanyeol menyadari, bahwa Luhan selalu mengatakan bahwa dirinya sakit karena ketakutan, dia takut ditinggalkan Chanyeol lagi kalau ternyata dia sudah sehat.

Apa yang dilakukan Luhan itu membuat Chanyeol sedih. Oh ya ampun, kenapa perempuan ini begitu mencintainya? Kenapa dia tidak bisa melepaskan Chanyeol dengan mudah? Kenapa dia begitu menginginkan Chanyeol bersamanya?

Pemikiran itu membuat Chanyeol merasa frustrasi, tetapi dia menahannya. Luhan pernah berakhir dalam kondisi buruk ketika Chanyeol bersikap tegas dan menolaknya. Chanyeol tidak mau Luhan berakhir di rumah sakit lagi atau menanggung resiko fatal kalau dia meninggalkannya lagi kali ini. Kalau dia meninggalkan Luhan, dia ingin perempuan itu sudah melepasnya dengan besar hati, tidak meratapinya lagi.

Chanyeol duduk di kursi di tepi ranjang dan menatap Luhan lurus-lurus,

"Aku harus kembali kuliah. Aku sudah bolos hampir dua minggu."

Wajah Luhan langsung berubah sedih dan tersiksa, "Kau akan meninggalkanku?" tiba-tiba bening mengalir di pipinya, "Kau akan kembali kepada perempuan itu?"

Chanyeol menghela napas pahit, "Bagaimanapun juga aku harus kembali ke sana Lu, kuliahku sudah terbengkalai, padahal aku baru memulainya."

"Kau bisa memulai kuliahmu kapanpun." Luhan menatap keras kepala, "Dulu ketika sakit kau menunda kuliah magistermu dan kau baik-baik saja. Kenapa sekarang kau tidak bisa melakukan hal yang sama?"

"Luhan-ah.." Chanyeol bergumam frustrasi, "Tidak semudah itu, aku tidak bisa berhenti begitu saja, aku harus mengajukan cuti, mengikuti prosedur dan lainnya. Kalau tidak kuliahku selama ini akan hangus sia-sia."

"Biarkan saja." Luhan tersenyum pahit, "Toh kau mengambil kuliah itu bukan murni untuk kuliah, itu hanya salah satu alasanmu supaya bisa ke Seoul dan menemui perempuan itu."

"Luhan." suara Chanyeol agak keras, mengingatkan. Membuat Luhan terdiam dan mengusap air matanya yang meleleh semakin deras.

"Aku tidak bisa lama di sini, aku harus kembali."

"Demi perempuan itu? Kau tega melakukannya kepadaku, Chan?"

"Ini bukan masalah tega atau tidak.." Chanyeol mengerang, seperti kesakitan, "Aku harus kembali, Luhan."

Luhan membeku, dengan air mata masih mengalir, ketika dia menatap Chanyeol kemudian, tatapannya penuh dengan kesakitan dan kepedihan.

"Aku membenci perempuan itu." Akunya dengan getir, "Aku tidak pernah bertemu perempuan itu, tetapi aku sudah membencinya. Dia merenggutmu dari sisiku, hanya karena jantung kekasihnya ada di dadamu. Padahal seharusnya kisah cintanya sudah berakhir, kekasihnya sudah mati. Dia seharusnya tidaj punya kisah cinta lagi. Tapi... perempuan itu ternyata memilih merebut kisah cintaku, merebut kau."

"Baekhyun tidak pernah merebutku Luhan, ingat. Dia bahkan tidak mengetahui tentang transplatasi jantung ini. Aku yang mengejarnya."

Luhan seolah tidak mendengarkan perkataan Chanyeol, matanya menerawang menatap langit biru di jendela luar, "Seorang perempuan yang berbahagia padahal dia telah merenggut kebahagiaan perempuan lainnya, adalah perempuan paling hina di dunia."

Chanyeol bagaikan tertampar mendengar perkataan Luhan. Perempuan itu seolah menutup diri, mencoba menipu diri bahwa bukan Chanyeol yang meninggalkannya melainkan Baekhyun yang merebut Chanyeol. Luhan seolah membangun tembok kokoh yang dia percaya, menolak untuk menerima bahwa Chanyeol tidak mencintainya lagi.

Apa yang harus kulakukan? Chanyeol berbisik putus asa ke dalam jiwanya. Suaranya bergaung tak tentu arah, tak menemukan jawabannya.

-CB-

"Kalian sudah begitu cocok bersama." Eomma Chanyeol menatap sedih ketika Chanyeol mengepak pakaiannya di kamar. "Sebegitu tegakah kau menyakiti Luhan lagi?"

"Aku harus kembali, eomma."

"Jangan." Eommanya bergumam sedih, "Jangan Chanyeol, eomma mohon. Seandarinya kau tahu betapa kalutnya perasaan eomma. Eomma malu dengan orang tua Luhan, mereka telah menerimamu dengan baik waktu itu, tahu bahwa kau sakit, tahu bahwa puterinya menghabiskan waktunya merawatmu meskipun tidak jelas apakah kau akan bertahan hidup atau tidak. Mereka tetap menerimamu dengan lapang dada dan menganggap kau sebagai anak kandung mereka. Begitupun eomma, menganggap Luhan sudah seperti anak eomma sendiri..." Mata eommanya mulai berkaca-kaca, "Perasaan mereka, eomma tahu persis. Merasakan anak mereka dicampakkan begitu saja karena alasan yang tidak logis... eomma juga merasakan sakit karena sudah menganggap Luhan anak eomma sendiri, dan eomma tambah sakit karena anak kandung eomma lah yang bersikap kejam seperti ini."

"Eomma." Chanyeol mengernyit, "Jangan berkata seperti itu."

"Apakah hatimu tidak terketuk sedikitpun melihat kondisi Luhan seperti itu? dia sampai jatuh sakit karena meratapimu." Sang eomma mulai terisak, "Jantung itu benar-benar mengubahmu menjadi orang yang berbeda,"

"Semua orang menyalahkan jantung ini." Chanyeol menggertakkan giginya, "Mungkin kalian semua berharap bahwa lebih baik aku mati saja dengan jantung yang rusak daripada hidup dengan jantung ini lalu mengikuti debarannya sesuai kata hatiku."

"Chanyeol! bukan begitu maksud eomma."

"Ya! Maksud eomma begitu." Chanyeol mendesis, mencoba menahan emosinya, "Eomma tidak bisa menerima kondisi Chanyeol yang sekarang, eomma menginginkan Chanyeol yang dulu dengan jantungnya yang rusak. Itu sama saja eomma menginginkan Aku lebih baik mati saja daripada mendapatkan jantung ini."

"Bukan begitu, Chanyeol." sang eomma berurai air mata, kehabisan kata-kata.

"Aku sudah merasa bersalah, dan dengan kejamnya eomma membebani aku dengan rasa bersalah lagi, lagi dan lagi seolah tak pernah puas. Apa yang eomma inginkan? Agar aku mengorbankan hati dan kebahagiaan aku demi persahabatan eomma, demi moral, demi semua norma sosial dan perihal balas budi? Kalau eomma melakukannya, sama saja eomma sudah membunuhku." Mata Chanyeol menyala, "Aku tidak mencintai Luhan, kalau eomma memaksaku menerima Luhan dan menikah dengannya, sama saja eomma sudah membunuhku dengan tangan eomma sendiri!"

Sang Eomma tertegun kaget menerima kemarahan anaknya. Dia tidak menyangka Chanyeol begitu serius seperti ini. Dia berpikir bahwa mungkin Chanyeol cuma terbawa perasaan setelah operasi sehingga mengejar perempuan bernama Baekhyun itu. Tetapi sepertinya Chanyeol sungguh-sungguh dengan perasaannya, walaupun tidak dapat dikelaskan dengan logika, Chanyeol benar-benar sungguh-sungguh.

Dia masih membeku ketika Chanyeol melewatinya sambil membawa tas berisi pakaian yang sudah di packingnya, sambil mengucapkan selamat tinggal dengan kaku.

-CB-

Sebelum pergi, Chanyeol menemui Luhan, bertekad untuk memberikan ketegasan kepada perempuan itu. Dia sudah mencoba membalas budi, dia sudah mencoba melembutkan hati ketika merawat Luhan dua minggu lamanya, tetapi perasaannya tidak berubah. Hatinya tetap memanggil-manggil dan merindukan Baekhyun.

Debaran jantungnya hanya untuk Baekhyun... begitupun cintanya yang sekarang bertumbuh makin dalam kepada perempuan itu.

Ketika dia memasuki kamar Luhan, perempuan itu sedang duduk dan melamun, kesedihan langsung muncul di matanya ketika Chanyeol masuk dan membawa tas pakaiannya.

"Kau tetap pergi?" Luhan tampak seperti hampir menangis, tetapi Chanyeol menguatkan hati.

"Kau setega itu?" Luhan menatapnya tak percaya, tampak rapuh lagi dengan baju rumah sakit dan infus yang ada di tangannya.

Chanyeol menghela napas panjang, "Kau tahu aku tidak bisa di sini terus."

"Kau bisa... kenapa kau tidak mencoba?" Luhan mulai menangis lagi.

Chanyeol memalingkan mukanya, "Kau tahu aku sudah mencoba."

"Waktunya terlalu singkat... mungkin kita bisa mencoba lebih lama, mengunjungi tempat-tempat kenangan kita, mencoba menelusuri masa lalu kita yang indah..."

Chanyeol menggeleng, wajahnya mengeras, berusaha menegarkan hati menghadapi kesedihan Luhan,

"Selamat tinggal Luhan."

"Tidak! Chanyeol! Chanyeol! Jangan pergi Chanyeol...Chanyeol!"

Luhan berteriak berusaha mencegah Chanyeol. Tetapi keputusan Chanyeol sudah bulat, dia membalikkan badannya, meninggalkan kamar itu, menulikan telinganya dari teriakan-teriakan Luhan yang memilukan, memanggil-manggil namanya dengan putus asa.

-CB-

Kuliah siang sudah selesai, Baekhyun keluar bersama Kyungsoo yang mengamatinya hati-hati. Hujan kembali turun deras di luar, mereka menyusuri lorong kampus sambil menyiapkan payung.

"Beberapa hari ini kau tampak murung Baek, kenapa?"

Baekhyun menghela napas, "Aku sudah cerita tentang telepon aneh yang mengaku sebagai eomma Chanyeol bukan?" Baekhyun menatap Kyungsoo dan melihat Kyungsoo mengangguk, "Dan sampai sekarang Chanyeol menghilang, tidak bisa dihubungi."

"Kau berpikir bahwa informasi di telepon itu benar? bahwa Chanyeol pulang untuk menemui tunangannya yang sakit?"

Jantung Baekhyun terasa diremas, menyakitkan. "Aku.. entahlah... mungkin informasi itu memang benar. Buktinya kebetulan sekali setelah telepon itu dia menghilang."

Kyungsoo mengamati Baekhyun dengan seksama, "Apakah kau pada akhirnya mencintai Chanyeol, Baek?"

Baekhyun merenung lama, lalu menghela napas panjang, "Kurasa... aku memang mencintainya." gumamnya pelan.

"Dan kau tidak menganggapnya sebagai pengganti Yifan? kau tahu dulu kau pernah bercerita bahwa kau nmerasakan Chanyeol mirip seperti Yifan, meskipun bukan secara fisik..."

"Bukan." Baekhyun menggeleng, "Yifan selalu punya tempat di dalam hatiku... jauh tersimpan di dalam sini." Baekhyun menyentuh jantungnya lembut. "Tetapi Chanyeol berbeda, dia tidak berusaha mengusir Yifan dan menggantikan tempatnya, Chanyeol datang dan berusaha menemukan tempatnya sendiri di hatiku...dan ketika aku menyadarinya, dia sudah ada di dalam sana."

Kyungsoo menghela napas panjang. "Kalau begitu Baek, begitu kau bisa menemui Chanyeol, kau harus memastikan tentang informasi itu. Apakah Chanyeol memang sudah bertunangan atau belum... apakah memang eommanya yang meneleponmu waktu itu..." Kyungsoo menatap Baekhyun hati-hati, "Kau tidak mau melangkah di awal yang salah kan?"

Baekhyun mengangguk. "Aku akan menanyakannya kepada Chanyeol."

Itu kalau dia bisa menemui Chanyeol... sekarang dia bahkan tidak tahu di mana Chanyeol berada...

-CB-

Baekhyun sampai di dekat gerbang kampus dan mengembangkan payungnya. Kyungsoo berjalan di sebelahnya dan menawarkan,

"Kau yakin tidak mau ikut aku pulang naik mobilku?"

Baekhyun menggeleng, "Tidak.. aku mau ke kedai Café itu." Dan terus berharap Chanyeol akan datang, seperti ketika dia menunggu dan menunggu di hari-hari sebelumnya sampai cafe tutup, pulang dengan kecewa karena Chanyeol tidak muncul.

Ketika Baekhyun melangkah keluar dari gerbang kampusnya, hujan deras menerpanya, angin kencang langsung menghembusnya sehingga dia harus memegang payungnya erat-erat. Dia baru berjalan selangkah menembus hujan dan terpana.

Chanyeol ada di sana, memarkir mobil orange cerahnya di depan kampus dan berdiri di dekat mobilnya. Lelaki itu berteduh di bawah pohon besar yang membuatnya sedikit terlindungi, meskipun percikan air yang kencang masih membasahi rambut dan pakaiannya. Senyumnya langsung mengembang ketika melihat Baekhyun,

Kyungsoo yang berada di samping Baekhyun langsung tersenyum penuh arti, "Well sepertinya itu tandanya aku harus pergi. Ingat kata-kataku Baekhyun, tanyakan dulu kepadanya sebelum kau memutuskan melangkah maju."

Baekhyun menganggukkan kepalanya, melambai ke arah Kyungsoo yang bergegas pergi ke arah parkiran mobil di luar gerbang kampus.

Kemudian Baekhyun menatap Chanyeol lagi. Senyum Chanyeol mengembang lebar dan lelaki itu membuka kedua tangannya.

Di dorong oleh perasaannya, Baekhyun menghambur ke dalam pelukan Chanyeol yang langsung menangkapnya. Payungnya jatuh mengembang berguling di tanah, tetapi dia tidak peduli.

Chanyeol memeluknya kuat-kuat setengah mengangkatnya, menenggelamkan tubuh Baekhyun dekat kepadanya, menghirup aroma wangi yang sangat dirindukannya, meresapi kenikmatan ketika jantungnya berdebar penuh cinta karena bisa memeluk perempuan yang dikasihinya.

Lama mereka berpelukan di bawah hujan, dan hampir basah kuyup namun mereka tidak peduli,

Chanyeol tersenyum, senang dengan sikap impulsif Baekhyun yang menghambur ke pelukannya, Baekhyun selalu menahan diri di dekatnya, inilah saat ketika dia tampak lepas di depan Chanyeol. Mungkin perpisahan selama dua minggu itu ada manfaatnya juga.

"Sepertinya kau sangat merindukanku." Chanyeol tersenyum menggoda, menatap Baekhyun dengan sayang.

Pipi Baekhyun merona, tetapi dia tidak mundur, "Aku sangat merindukanmu, Chanyeol-ah." Perasaannya meluap-luap, penantiannya selama dua minggu ini tanpa kepastian membuatnya menyadari berapa dia membutuhkan Chanyeol ada di sampingnya. Dan sekarang dia ada di dalam pelukan Chanyeol, semuanya jadi terlupakan. Segala kesakitannya, keraguannya, kebingungannya, semuanya musnah. Yang ada di benaknya kini hanya Chanyeol.. Chanyeol dan Chanyeol...

Chanyeol mengusap air yang membasahi rambut Baekhyun ke mukanya,"Kita basah kuyup, sebaiknya kita segera masuk ke mobil sebelum masuk angin." Lelaki itu tertawa, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

-CB-

Luhan merapikan pakaiannya. Dia sudah boleh pulang dari rumah sakit hari ini dan bergegas merapikan baju-bajunya.

"Kau yakin Lu?" eommanya duduk di pinggiran ranjang, menatapnya dengan hati-hati.

"Yakin eomma."

"Tetapi kau belum sembuh benar, dan eomma mencemaskanmu di sana."

Luhan tersenyum lembut, "Eomma, aku kan tinggal di rumah halmeoni di sana, halmeoni pasti akan mengurusku. Eomma jangan cemas ya, aku bisa menjaga diri."

Sang eomma terdiam, masih menatap anaknya dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikannya, tetapi tidak punya daya upaya untuk mencegah niat bulat Luhan.

Sementara itu Luhan sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia akan menyusul ke Seoul, dia akan berkenalan dengan Baekhyun, tentu saja tanpa sepengetahuan Chanyeol, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dilihat Chanyeol dari Baekhyun yang tidak dia miliki.

Baekhyun... Luhan menghapal nama itu dalam hati. Well, Baekhyun harus tahu, kalau Luhan tidak akan menyerahkan Chanyeol semudah itu. Dia akan memperjuangkan cintanya sekuat tenaga...

TBC

Yang ini tbc beneran kawand/? BAHAHA xD gimana ni gimana buat chapter ini? Luhan kasian hng BabyBaek juga kasian atuhlah gatau apa-apa jadi di cap jelek/? Chanyeol cinta banget gitu sama Baek:3 di chapter depan cast rahasia yang pernah aku bilang bakal muncul yay! Chanbaek moment ada di chapter ini walaupun lebih mendominasi ChanLu/?:33

Review dari kalian sungguh bikin aku ketawa/? Banyak jadi yang minta chanlu wkwkwk. Tenang aja luhan gabakal menderita terus kok/? Nanti ada seseorang yang bikin Luhannie move on yay~~~

Balesan Review:

Park FaRo: ne, gomawo^^ thanks for review^^

dianahyorie1: luhanie juga kasian/?): thanks for review^^

ladywufan: chanyeol mah emang ngeselin /ga. Semangat juga untuk dirimu~~xD thanks for review^^

kidsojs: TERIMAKASIIIIII~~~xD okee kita liat nanti sj yaa:33 thanks for review^^

jengkyeol: HIDUP CHANLU! /g. hore kita sama yay/? Semangat semangat!^^ thanks for review^^

niasw3ty: Chanyeol memang jaht u,u /g. Luhanie kasian/? Baekhyunie juga kasian/? Ne ne kita liat sj nanti ya:33 thanks for review^^

sunrise blossom: disini gak ada yang jahat/? Wkwk. Mereka semua ingin mendapatkan kebahagiaannya masing-masing /apasih xD gomawo! xD thanks for review^^

neli amelia: hayo.. deg degan nya terjawab kan?xD thanks for review^^

kiko: ne^^ thanks for review^^

Re-Panda68: annyeong chingu!:3 ya begitulah/? xD kita Tanya baek nya sendiri aja gimana? Hahaha thanks for review^^

Kachimato: udah ni^^ thanks for review^^

TERIMAKASIH SEKALI LAGI BUAT YANG NGEREVIEW YANG MASIH SIDER JUGA MAKASIH CEPET SADAR/?:3 SEMOGA KALIAN PUAS DENGAN DOUBLE CHAPTER INI^^

SO, MIND TO REVIEW?

SEE YOU NEXT CHAPTER~^^

KAMSAHAMNIDA /bow/