Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 6

"Jadi, kamu..."

"Iya, aku mengajar anak-anak sekolah dasar. Soalnya, anak sekolah dasar lebih nggak bawel, pelajarannya juga lebih mudah," kata Naruto.

Sakura tersenyum kecil, masuk kedalam ruangan berukuran 5x5 meter itu. Enam orang anak yang menjadi murid Naruto menyambut Naruto dengan begitu riang, membuat Sakura yakin bahwa Naruto amat dikagumi oleh murid-muridnya.

"Sensei!"

"Naruto sensei, hari ini kita belajar matematika, kan?"

"Naruto sensei, siapa yang kau bawa itu? Pacar sensei?"

Wajah Sakura memerah, merasa agak kikuk dengan ucapan anak-anak kecil yang kira-kira masih duduk di kelas enam.

"Kalian, tenang semua dan duduk. Hari ini, Naruto sensei membawa Sakura sensei untuk menemani kalian semua belajar."

"Oohh..."

Pelajaran mulai berlangsung. Anak-anak itu tampak serius mendengarkan Naruto yang mengajar matematika, padahal Sakura sudah mengantuk setengah mati. Tapi harus ia akui, kalau ia salut dengan kerajinan murid-murid di les tersebut.

-X-

Sementara itu...

"Saya meminta tiga orang chef pro untuk menjadi juri dalam kompotensi memasak yang akan diadakan seminggu lagi." kata Gaara melalui telepon. "Mohon bantuannya."

"Tenang saja, permintaan Tuan Gaara pasti akan dilaksanakan."

"Baguslah kalau begitu." tukas Gaara. Dia segera memutuskan hubungan telepon, lalu melangkah keluar rumahnya yang megah itu.

Seorang pelayan menundukkan kepala didepan Gaara, mengulas senyum ramah. "Tuan, mau menggunakan mobil?"

"Tidak perlu." ucap Gaara cepat. "Aku hanya ingin menikmati cuaca hari ini, dengan berjalan kaki."

Gaara berjalan berkeliling kompleks, lalu menekan-nekan ponselnya untuk menelepon Sakura. Ia berharap kecil kalau nomor ponsel gadis itu masih sama dengan yang dulu. Cukup lama ia menunggu Sakura menjawabnya, namun pada akhirnya dia menjawab panggilan itu juga.

"Moshimoshi, Sakura?"

Gaara mendengar Sakura enggan menjawabnya, lalu dia langsung bicara to the point. "Aku hanya ingin bertanya, kau ingin menu apa untuk kompetisi? Main course, dessert, atau apa?"

"Kenapa tidak bebas saja?" ia mendengar Sakura mendengus kesal diujung sana.

Gaara menghela napas, mencoba untuk sabar. "Agar pertarungannya adil. Begini saja, satu makanan bebas dan satu dessert. Aku belum pernah mengajarkan apapun soal dessert padamu, agar adil bagiku dan untukmu."

Setelah Sakura mengiyakan, terdengar suara klik yang menandakan bahwa Sakura memutuskan hubungan telepon. Gaara berdecak pelan, sadar Sakura sudah benar-benar kesal padanya.

Tiba-tiba... duak!

Seseorang menghantam Gaara dari belakang, membuat Gaara mendengus kesal. Untungnya ia tidak sampai terjatuh, tapi gadis yang menabraknya itu justru terjatuh. Dan gadis itu menaiki... sepatu roda?

Gaara masih menatap gadis itu, tidak mengulurkan tangan untuk membantu, juga tidak memanggil namanya. Umpatannya tertahan dilidahnya, sepertinya tubuhnya terpaku. Gadis itu memiliki rambut panjang dan mata lavender.

"Uh..." gadis itu mendongak. "Sumimasen."

"Harusnya kau lebih berhati-hati." tegas Gaara.

"Maafkan aku. Aku sedang latihan sepatu roda, belum terbiasa." tukas gadis itu.

Akhirnya Gaara mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Gadis itu sedikit terhuyung, tapi akhirnya bisa juga berdiri dengan seimbang. "Ah, arigatou."

Tetapi Gaara tidak melepaskan genggaman tangannya. "Um. Biar kuajari. Kubantu, agar tidak ada orang yang mengalami hal yang sama denganmu."

Gadis itu meringis pelan. "Omong-omong, namaku Hinata."

"Gaara."

-X-

Sakura mendengus pelan. Kalau begitu, ia harus berlatih membuat pempek yang disarankan Naruto. Kemudian membuat dessert. Ah, dia memang tidak pernah sedikitpun untuk membuat dessert.

Ah, apa yang harus dilakukannya sekarang?

Naruto memang mendukungnya, tapi cowok itu kan sama sekali nggak bisa memasak. Sekarang, kalau ia kembali kedalam kelas sepertinya menganggu anak-anak yang sedang belajar dengan sungguh-sungguh itu. Jadi, Sakura memutuskan untuk menunggu diluar sampai Naruto selesai mengajar.

Sakura duduk diruang tunggu tempat les tersebut. Cuaca yang sejuk, capek karena perjalanan jauh, membuat Sakura terlelap perlahan-lahan. Matanya terpejam, namun bibirnya membentuk sebuah senyum.

Karena dalam mimpinya, ia memikirkan Naruto.

-X-

Akhirnya kelasnya berakhir juga. Saking terlalu asyik mengajar, ia lupa bahwa ia datang bersama Sakura. Ia tersenyum kala melihat Sakura masih berada diruang tunggu. Matanya yang terpejam membuat Naruto tersenyum. Sepertinya ia jatuh cinta pada gadis ini.

Ia menepuk-nepuk puncak kepala Sakura, memaksanya untuk terbangun. Sakura mengusap matanya, terperanjat akan adanya Naruto didepan matanya.

"Apa aku ketiduran?"

"Iya." jawab Naruto. "Tadi, siapa yang menelepon?"

"Gaara." jawaban Sakura membuat otot-otot Naruto menegang.

Sakura tersenyum kecil. "Tenang saja, dia hanya bilang soal kompetensi memasak itu. Aku harus membuat masakan bebas dan sebuah dessert. Karena kau meyakini pempek itu akan menang, jadi yah... akan kucoba untuk membuatnya. Tapi kalau hasilnya tidak memuaskan, mungkin aku tidak akan mengikutsertakan masakan itu."

"Baiklah, baiklah..." ucap Naruto mengalah. "Sekarang, mari kita pulang."

"Pulang?"

"Iya, tentu saja. Apa kau mau disini terus?" kata Naruto sambil tertawa. "Ini cukup jauh dari rumah loh, kalau nggak sekarang bisa terlalu malam."

Sakura mengangguk pelan. "Kukira aku lupa kalau kita lagi berada jauh dari kota."

"Jadi, apa rencanamu?" tanya Naruto. Kini mereka berjalan bersisian, matahari sedang hangat-hangatnya karena mulai sore.

"Rencana menghadapi Gaara maksudmu?" tanya Sakura. Melihat Naruto yang menganggukan kepala, Sakura mendesah pelan. "Belum ada."

Naruto tersenyum kecil. "Begini..."

Sakura menoleh, menatap Naruto. "Kalau kamu emang nggak punya biaya untuk belajar memasak, dan tidak ada tempat untuk memasak, kamu bisa memintanya dariku."

Sakura menyerngit. "Begitu?"

"Iya. Dapurku kan cukup lengkap, karena dulu ada teman satu apartemenku yang pintar memasak." kata Naruto sambil tersenyum kecil. "Sekalian, mungkin kau ingin latihan juga, kan."

"Boleh saja," jawab Sakura, "Tapi, apa tidak merepotkanmu?"

"Tentu saja tidak. Kalau masakanmu jadi, aku bisa menikmatinya, kan." kata Naruto sambil terkekeh.

Sakura mengangguk-angguk paham. "Dasar. Kalau begitu sepulang dari sini kita harus membeli bahan-bahan."

"Lagi?"

"Yang kemarin sudah menjadi sisa, Naruto."

"Ehh?"

Sakura tertawa. "Begitulah. Ayo, Naruto."

"Baiklah, Sakura-chan!"

-X-

"Tidak." Naruto mendengus, "Rasanya masih kurang."

"Aduh..." Sakura mengaduh lagi. Ini sudah kedua kalinya dia mencoba untuk membuat pempek sesuai keinginan Naruto, tapi hasilnya tetap saja gagal.

"Aku pulang!"

Naroku melangkah masuk, memandang Sakura dan Naruto satu per satu. "Ada apa?"

"Dia terus menerus mengeluh soal rasa pempekku." kata Sakura, menunjuk Naruto dengan jari telunjuknya. "Coba ini Naroku, bagaimana menurutmu?"

Naroku mencoba sepotong, mengunyahnya dan menelannya. "Um, rasanya masih kurang garam, lalu tepungnya terlalu banyak. Harusnya diperbanyak rasa ikannya, onnechan."

Baik Sakura dan Naruto ternganga. Tadi... barusan Naroku yang menyebutkan kekurangan-kekurangan masakan Sakura.

"Nani?" Naroku menyengit bingung.

"Ba... bagaimana kau bisa mengomentarinya seperti itu, Naroku?" tanya Naruto cepat-cepat saking penasarannya.

"Eh? Um... kakak sepupuku tidak hanya kau, jadi... aku pernah diajari salah satunya yang jago memasak..." tukas Naroku sambil tersenyum kecil.

"Kau beruntung ya, Naroku." kata Sakura sambil terkekeh.

Naroku meringis. "Tapi aku hanya bisa mengomentarinya, bukan membuatnya."

Jleb! Hilang sudah niat Sakura untuk meminta ajari Naroku. Melihat ekspresi Sakura, Naruto tertawa. "Berjuanglah, Sakura."

"Hm!" Naroku tersenyum. "Ya! Aku menunggu masakanmu!"

"Baiklah! Yosh!"

Naroku mendekat kearah Naruto dan berbisik pelan kearahnya. "Kenapa onnechan jadi terlihat kekanakan begitu, sih?"

"Dia memang seperti itu kalau sudah memasak, Naroku." balas Naruto. Dia tersenyum kecil mengingat Sakura yang histeris saat ia mengganti pakaian atasnya beberapa hari lalu.

-X-

"Gaara-kun! Aku bisa melakukannya!" seru Hinata. Dia mulai meluncur diatas sepatu roda.

Gaara tersenyum. Sudah lama ia tidak tersenyum tulus. Ia memandangi punggung Hinata yang meluncur cepat, rambutnya berterbangan kian kemari. Lalu, Hinata kembali mendekati Gaara, dan dia nyaris saja terjatuh. Syukurlah Gaara sudah menahannya.

"Arigatou."

"Doita shimashite, Hinata."

Hinata memandang manik mata Gaara, lalu mengulas senyum tipis. "Um, mulai hari ini kita teman, kan? Gaara-kun?"

"Uhm, ya... oke..."

"Rumahku tidak jauh dari sini," tukas Hinata. "Jadi kemungkinan kita akan bertemu lagi kapan-kapan. Jaa, Gaara-kun."

"Ha'i..."

-X-

Hola! Ketemu lagi dengan Himawari Natalia! Minna, gomen! Sepertinya aku lamaaa... sekali baru sempat melanjutkan fanfict ini *peace* sebenarnya aku nggak berniat seperti itu, tapi saat writer blockitis(Saat dimana penulis bingung ngelanjutin cerita)menyerangku, jadinya aku malah nonton anime K-On dan SAO... *dilempar*

Karena terlalu lama nggak ngelanjutin, sempet lupa loh cerita 'Cooking for You' ini seperti apa. Jadi, aku membacanya ulang dan melanjutkannya seperti ini, hehehe xD Aku memilih menu pempek karena emang kangen makan pempek (?) jadi mohon dimaklumin ya... terus, terima kasih untuk Guest yang nyaranin pasangan Gaara adalah Hinata. Kebetulan aku memang suka dengan chara Hinata (: nah, kali ini Hinata menjadi penarik Gaara agar menjauh dari hubungan NaruSaku *cielah*

Oke! Sekian aja... kayaknya banyak banget curhatnya? *peace again* Terima kasih yang telah membaca fanfict ini sampai chapter 6! Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya!