Chapter 6
Pagi ini seperti biasa lima polisi muda berkumpul di kantin dormitory kepolisian Seoul sambil menyesap susu hangat mereka dan sedikit bercanda.
Sesekali seorang namja cantik melayangkan senyum manisnya kepada seorang namja bermata musang. Namja bermata musangpun menjadi kikuk setelah menerima senyuman dari namja cantik tersebut.
Terkadang namja bermata musang itu berpikir, namja cantik itu mirip dengan kekasihnya yang sudah meninggal dulu.
Matanya yang doe, rambutnya yang halus, kulitnya yang putih dan lembut, terlebih lagi sifatnya yang polos, kekanak-kanakan, tapi bisa menjadi nenek sihir dalam waktu sekejab. Semuanya ada di namja cantik itu.
Apakah dia masih terbayang dengan cinta masa lalunya? Ya, dia masih terus memikirkan hal itu karena dia sendiri juga tidak tahu dengan perasaannya. Dia tidak bisa menentukan perasannya saat ini. Hanya yang dia tahu, dia merasakan debaran halus pada jantungnya apabila berdekatan dengan namja cantik yang sudah menolongnya beberapa waktu yang lalu.
"Hey hyung, kenapa melamun?" tanya Changmin sambil menikmati sarapan paginya, Pizza. Maknae ini sebenarnya memiliki sifat yang cuek, hanya saja sebagai yang paling muda, dia sangat menyayangi hyungnya dan diam-diam memperhatikan mereka walaupun Changmin tampak cuek.
"Tidak ada apa-apa," ucap namja bermata musang bernama Yunho sambil tersenyum kikuk. Dia terlihat gugup sekarang karena tertangkap sedang melamun.
Namja cantik yang masih duduk di kursi roda itupun hanya tersipu menatap namja yang selalu ada saat dia di kursi roda 3 hari ini. Dia merasakan ada kedekatan di antara mereka.
"Jaejoong hyung, mukamu merah," ucap Yoochun yang duduk di sebelah namja cantik itu.
"Uh?" Jaejoong yang kaget refleks memegang pipinya yang sudah merona saat ini.
"Hey, apa kalian ada sesuatu?" tanya Junsu yang menyenggol bahu Yunho dengan bahunya.
"Tidak ada," jawa Yunho sedatar mungkin.
Changmin hanya terus memakan potongan Pizza yang ada di depannya sambil sesekali memperhatikan para hyungnya. Menurutnya saat ini adalah mengisi perutnya.
.
Siang menjelang, tidak ada aktifitas kepolisian yang mereka lakukan saat ini. Kasus-kasus yang mereka tanganni sudah diserahkan ke proses hukum.
Saat ini YunJaeYooSuMin sedang berada di dormitory barat kepolisian Seoul bersama anak-anak panti asuhan yang dahulu ada di Chungnam. YunJaeYooSuMin sendiri ada di dormitory bagian timur.
"Oppa, apa ini sakit?" tanya Ahri sambil menepuk pelan kaki Jaejoong. Tentu tepukan anak manis dengan rambut warna hazelnut itu tidak akan membuat Jaejoong kesakitan.
"Ne sakit Ahri," ucap Jaejoong sambil dibuat-buat sakit.
"Uh oppa jangan bandel makanya," ucap Ahri mempoutkan bibirnya dan kemudian memeluk Jaejoong.
Jaejoong sibuk bercanda dengan Ahri sementara yang lain bermain dengan anak lainnya.
Tiba-tiba ada telpon dari markas pusat untuk Jaejoong.
"Hallo," ucap Jaejoong sambil meninggalkan Ahri dan yang lainnya sambil menerima telepon di teras.
Seketika mata Jaejoong terbelalak dengan ucapan di telepon itu.
"Hyung, aku ikut!" ucap Jaejoong tegas.
"Tidak Jae. ini sangat berbahaya. Tunggulah aku pulang. Aku pasti kembali," ucap suara diseberang sana.
"Berapa hari hyung?" tanya Jaejoong dengan suara lirih. Dia ingin sekali ikut.
"Kira-kira satu minggu," ucap Minho.
"Arra.. cepatlah kembali dalam keadaan selamat. Dan bawa bedebah busuk itu ke penjara.." ucapnya dengan suara gemetar.
"Ne, hyung janji," ucap Minho di seberang sana sambil memakai baju anti pelurunya. Tampaknya dia akan memulai misi yang bahaya.
"Jae tunggu di sini," ucap Jaejoong berusaha kuat melepas kepergian hyung yang selama iniselalu di sisinya.
"Ne, hyung akan kembali secepatnya. Hyung pergi dulu," ucap Minhosambil siap masuk ke dalam mobil polisi yang anti peluru.
"Ne. Hati-hati," ucap Jaejoong dengan bahu gemetar, ntah kenapa saat ini ada rasa takut menderanya.
Jaejoong menatap matahari sore yang bersiap kembali ke barat.
Dia menyilangkan kesepuluh jarinya dan menaruhnya di depan dada.
'Tuhan, semoga hyungku selamat,' doanya dalam hati.
Di belakang Jaejoong, berdirilah Changmin dan Yunho secara reflek melihat Jaejoong yang sedang berdoa dengan bahu sedikit gemetar.
.
Sudah 3 hari Minho pergi, sudah 3 hari itu juga Changmin dan Yunho sangat memperhatikannya, membuat YooSu dan Jaejoong sendiri sedikit merasa aneh.
Jaejoong sudah kembali berjalan seperti biasa sejak kemarin walaupun masih sedikit tertatih dan Yunho masih terus mengekornya.
Jaejoong masih merasa khawatir mengenai Minho. Terkadang dia melamun saat teman-temannya bersenda gurau dan teman-temannya merasakan itu.
"Hyung, mau aku suapi?" tanya Changmin sambil menyodorkan potongan hamburger ke mulut Jaejoong.
Jaejoong yang tersadar dari lamunannya cukup tersentak saat Changmin menyodorkan potongan hamburger itu ke depan mulutnya.
"A..ah tidak usah Min..," ucap Jaejoong lirih dan kikuk. Kemudian dia menunduk merutuki kenapa dia bisa melamun saat bersama dengan teman-temannya.
"Ada apa hyung selama 3 hari ini? Kenapa selalu melamun?" tanya Changmin yang menatap Jaejoong lekat.
"Ti—tidak ada apa-apa," ucap Jaejoong yang gugup saat Changmin melihatnya dengan lekat.
Yunho sendiri merasa sedikit iritasi saat melihat Changmin dekat-dekat dengan Jaejoong.
Yunho juga ikut menatap Jaejoong begitu lekat, membuat Jaejoong menjadi gugup.
"A—aku pergi dulu," ucap Jaejoong gugup dan kemudian pergi meninggalkan HoMinYooSu yang kebingungan.
Tak lama Changmin mengekorinya dari belakang.
"Hyung," panggil Changmin dan membuat langkah Jaejoong terhenti untuk menunggu maknaenya itu.
"Hyung.. ada apa denganmu?" tanya Changmin dengan wajah yang bisa dibilang cukup khawatir.
"Ti-tidak ada apa-apa," ucap Jaejoong gugup saat Changmin melihat Jaejoong dengan lekat, lagi.
"Hyung, apa hyung menyukai Yunho hyung?" tanya Changmin dan pertanyaan itu membuat Jaejoong tersentak dan mengangkat wajahnya, saat itu jugalah matanya tertangkap tatapan Changmin.
"Jawab aku," ucap Changmin.
"Hmm itu..." ucap Jaejoong gugup. Jujur dia belum tau itu namanya apa, tapi dia merasa nyaman dengan Yunho yang menjadi partnernya walaupun Yunho sedikit dingin padanya.
Jaejoong terus berkutat dengan pikirannya dan membuat Changmin menjadi sedikit geram.
"Jawab aku hyung," ucap Changmin sambil mendorong tubuh Jaejoong ke dinding dan menghimpitnya dengan kedua tangannya.
"Jawab aku," bisik Changmin seduktif di telinga Jaejoong yang membuat Jaejoong sedikit menggeliat.
"Uh..," Jaejoong merasa tidak nyaman dengan himpitan tubuh Changmin kemudian berusaha mendorong tubuh Changmin.
"Minggir Min, hyung mau lewat," ucap Jaejoong tegas dengan sedikit terselip ketakutan di sana karena Changmin terus menghimpitnya.
Changmin malah mencium leher Jaejoong walaupun hanya satu kecupan tetapi itu membuat Jaejoong menjadi sangat ketakutan.
Jaejoong terus meronta dalam himpitan Changmin, berusaha melepaskan tubuh Changmin yang semakin menempel padanya.
"Jawab aku. Kamu tau hyung, kalau aku sebenarnya..." ucapan Changmin berhenti ketika melihat Jaejoong mulai gemetar dan juga mulai semakin mendorongnya.
Changmin malah mengembangkan smirknya dan kembali mendekatkan wajahnya kepada wajah Jaejoong, hendak menciumnya.
"Yun.. Yunho.. Yunho!" ucap Jaejoong sambil setengah berteriak namun kemudian Changmin langsung menjauh.
Yunho yang bisa mendengar namanya dipanggil langsung berlari ke asal suara tersebut dan hanya menemukan Changmin yang sedang mengelus lembut kepala Jaejoong yang gemetar. Dan jangan lupakan sedikit smirk yang terkembang dari bibirnya.
"Ada apa ini?" tanya Yunho sambil menatap Changmin dan Jaejoong.
"Tidak ada apa-apa, hanya tadi Jae hyung melihat kecoa, tapi kecoanya sudah pergi," ucap Changmin santai seolah tidak ada apa-apa.
Jaejoong hanya gemetar dan sedikit terisak dalam diam, demi Tuhan, dia membatu sekarang, tidak bisa bergerak karena kaget dengan apa yang Changmin lakukan, dia mengira Changmin akan memakannya saat itu juga. Changmin begitu kuat dan Jaejoong pasti kalah apabila melawannya.
"Biar aku antar Jae hyung ke ruangannya," ucap Changmin sambil memeluk bahu Jaejoong dan membawanya ke kamarnya.
Yunho yang melihat itu hanya terdiam dan menyaksikan kedua orang itu berlalu, bingung dengan apa yang terjadi.
.
Setibanya di kamar Jaejoong, Changmin langsung menyuruh Jaejoong istirahat.
"Maaf hyung," hanya kata itu yang diucapkan oleh Changmin sedangkan Jaejoong mengeluarkan isakannya dan menjauh dari Changmin, le bih ke arah pojok ranjang.
Changmin yang melihat hyungnya seperti itu hanya keluar dari kamar dan meninggalkan Jaejoong.
'maaf hyung,' batin Changmin. Jujur, hatinya merasa tidak enak.
Jaejoong terus menangis karena takut Changmin akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan tadi.
Dia terus mengusap air matanya yang menetes terus menerus tanpa mengizinkan Jaejoong berhenti mengusap kedua mata indahnya.
"Hyung.. Minho hyung..," ucap Jaejoong lirih.
.
Saat ini seseorang sedang berlari di lorong sebuah rumah sakit, tepatnya pada bagian UGD. Mata doenya terus mencari kamar dimana tempat hyung kesayangannya berada. napasnya terengah karena dia berlari dari kantor polisi sampai rumah sakit 15 menit lamanya setelah mendengar kabar hyungnya tertembak dan mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Langkahnya terhenti saat melihat Kapten Lee yang juga terluka di bagian lengan menunggu di depan salah satu pintu UGD.
"Kapten..," ucap Jaejoong terengah-engah saat berhenti memandang Kapten Lee yang mengusap kasar wajahnya.
"Jaejoong, kemarilah," ucap Kapten Lee sambil menyuruh Jaejoong duduk di bangku kosong sebelahnya.
"Bagaimana keadaan hyung?" tanya Jaejoong sambil memandang Kapten Lee dengan lekat, terselip harapan hyungnya baik-baik saja.
"Aku belum tahu, tapi yang pasti peluru menembus dada kirinya dan mengeluarkan banyak darah, semoga dia tidak apa-apa," ucap Kapten Lee sambil mengelus punggung Jaejoong yang gemetar.
Jaejoong menangis dalam diam, air mata yang dia tahan sendari tadi akhirnya keluar mengalir membasahi pipi seputih susu miliknya.
Tak lama HoMinYooSu datang menuju ke arah mereka.
"Kapten Lee, bagaimana keadaan Minho hyung?" tanya Junsu sambil melihat ke arah pintu UGD yang berwarna putih dan ada lampu berwarna merah di atasnya yang menandakan kegiatan medis di dalam belum selesai.
Kapten Lee hanya menggelengkan kepalanya, tanda diapun belum mendapatkan kabar dari para dokter yang ada di dalam setelah 2 jam Minho dimasukan ke dalam UGD. Yang dia tahu banyak suster yang keluar untuk mengambil pasokan darah dan tambahan dokter untuk masuk ke dalam ruang operasi. Kapten Lee percaya semuanya akan berjalan lancar dan Minho akan selamat.
Bahu Jaejoong gemetar, dia menggigit bbir bawahnya, tanda dia bertahan untuk tidak terisak.
Changmin yang melihat itu kemudian menyentuh bahu Jaejoong untuk menenangkannya malah membuat Jaejoong tersentak kaget, refleks dia menolak sentuhan tangan dari dongsaengnya.
Yunho bertanya-tanya setelah melihat hal itu, bingung mengapa Jaejoong menolak untuk Changmin sentuh.
Yunho mengenggam tangan Jaejoong dan mengajaknya pergi dari sana, untuk menenangkannya. Jaejoong tidak menolak dan akhirnya ikut dengan Yunho.
Selama perjalanan mereka hanya diam sampai mereka berada di kantin rumah sakit.
Yunho memesan coklat hangat untuk Jaejoong sedangkan dirinya memesan salad buah strawberry.
Yunho mengusap lembut punggung tangan Jaejoong, membuat Jaejoong menatapnya dan dia membalas menatap Jaejoong dengan lembut.
Tangan Yunho terjulur untuk mengapus air mata yang mengalir di pipi Jaejoong dan di kedua mata doe itu.
Jaejoong hanya diam dan masih menatap Yunho, seperti memikirkan sesuatu.
"Yun.." ucap Jaejoong akhirnya berbicara walaupun dengan suaranya yang parau.
"Iya.." ucap Yunho lembut dan masih mengusap punggung tangan Jaejoong.
"Apakah Minho hyung akan baik-baik saja?" ucap Jaejoong.
"Dia akan baik-baik saja.. tenanglah. Dokter akan memberikan bantuan yang terbaik untuknya. Rumah sakit ini terkenal dengan dokternya yang ahli dan peralatan medis yang canggih, jadi kamu jangan khawatir," ucap Yunho sambil mengelus rambut Jaejoong.
"Yun... aku takut," ucap Jaejoong gemetar.
"Lebih baik kamu berdoa.."
Jaejoong terdiam dan merapatkan kedua tangannya untuk berdoa. Yunho yang melihat hal itu juga berdoa untuk kelancaran operasi dan kesembuhan hyung mereka.
"Yun.. aku ingin bertanya sesuatu," ucap Jaejoong setelah berdoa dan tatapan matanya berubah menjadi serius.
"Apa itu?"
"hmm.."
"Apakah.. apakah kamu..."
"Aku kenapa Jae?"
"Apakah kamu menyukaiku?"
Deg
Inilah yang Yunho pikirkan belakangan ini. Dia menjadi lembut kepada Jaejoong, dia nyaman berada di samping Jaejoong, tapi dia tidak tahu itu apa. Sementara dia sadar kalau dia laki-laki dan Jaejoong laki-laki dan ini tidak bisa dianggap sesuatu yang lumrah.
"Apa kamu menyukaiku Jae?"
"Aku... aku juga tidak tahu.."
Yunho terdiam mendengar perkataan itu.
"Kalaupun kita sama-sama suka, itu tidak normal Jae," ucap Yunho dingin.
Deg
Hati Jaejoong sakit mendengar hal itu, sebuah penolakan halus dari Yunho yang membuat dada Jaejoong sakit.
"Tapi... tapi aku menyebut namamu saat aku diserang Changmin," ucap Jaejoong lirih.
"Diserang Changmin? Apa maksudmu Jae?" ucap Yunho bingung.
"Changmin menyerangku Yun..."
"Menyerang apa?"
"Dia mencium leherku...," Jaejoong kembali menumpahkan air matanya. Banyak hal yang ada di dalam pikirannya sekarang ini.
Mata Yunho terbelalak saat Jaejoong mengatakan hal itu. Dia tidak percaya Changmin akan menciumi leher seputih susu milik Jaejoong.
Yunho masih terdiam. 'Changmin benar-benar keterlaluan,' batin Yunho.
"Habiskan coklat hangatmu, kita akan kembali ke Minho hyung," ucap Yunho datar dan menyuapkan 2 potongan strawberry langsung ke dalam mulutnya.
Jaejoong hanya menurut dan menghabiskan coklat hangatnya walaupun airmata masih menetes dari pipinya. Hatinya betul-betul dilanda kepahitan.
Sekembalinya ke ruangan ICU, dokter belum juga keluar dari ruang UGD.
Jaejoong hanya terus menundukan kepalanya, bahkan saat Junsu dan Kapten Lee bertanya pun dia hanya menjawabnya sambil menunduk dan menggelengkan kepalanya.
.
Setelah 7 jam menunggu, dokter keluar dan mendapatkan rentetan pertanyaan seputar Minho, sementara Jaejoong tertidur sambil menyeder pada bahu Kapten Lee karena kecapaian.
Dokter mengatakan bahwa keadaan Minho baik-baik saja dan dia hanya membutuhkan istirahat untuk sementara waktu. Peluru pada dadanya tidak menembus jantung nya, hanya mengenai tulang yang melindungi organ tubuhnya. Untuk sementara Minho dibiarkan dulu dalam tidurnya sampai dia bangun dengan sendirinya dan dokter tidak tahu kapan pasti Minho akan bangun.
Mereka tidak bisa merasa lega karena Minho belum dipastikan bangun kapan.
.
.
Malam harinya Jaejoong megunjungi orang yang telah menembak Minho di sel tahanan. Matanya memerah karena sendari bangun tidur dia menangis, mengetahui kenyataan bahwa yang membunuh kedua orang tuanya sudah ditangkap dan orang itu pulalah yang telah mencelakakan Minho.
Dia menyuruh sipir membuka sel tahanan orang tersebut, seorang mafia yang sudah membuatdirinya diliputi kesedihan sejak ditinggal appa dan ummanya.
Luka itu kembali menyeruak saat mengetahui wajah yang tidak pernah dia kenal kini sudah pasti dikatakan sebagai tersangka karena semua bukti yang menyangkut paut kematian polisi di Seoul beberapa tahun silam adalah ulahnya.
Dia membunuh semua polisi yang menghalangi jalan bisnis gelapnya, bisnis narkoba, termasuk appa dan umma Jaejoong.
Jaejoong mendengar semuanya dari Kapten Lee saat dia terbangun dari tidurnya. Dia harus mengetahui hal itu, mengetahui mengapa kedua oorang tuanya dibunuh dan juga mengapa Minho bisa tertembak.
"Ternyata kau," desis Jaejoong saat melihat orang yang sudah diborgol kedua tangannya dan kakinya sudah dikunci oleh bola seberat 50 kilogram. Orang itu tidak menengok ke Jaejoong, dia hanya diam sambil menunduk.
Jaejoong langsung meninju orang itu dengan seluruh tenaganya.
Dia menangis dalam diam, air matanya menetes dan terus menetes, mengingat kenangan saat bersama appa dan ummanya dulu, kenangan indah yang begitu dengan mudah dirampas oleh orang yang sedang dia tendang tubuhnya sekarang.
Dia menyerang orang itu membabi buta. Menendangnya,menonjoknya, membenturkan kepala orang itu ke dinding, sampai melemparkan kursi pada orang itu.
Dia benar-benar sudah gelap mata.
Yoochun dan Junsu langsung datang menyusul Jaejoong setelah Kapten Lee menduga Jaejoong akan mengamuk malam itu juga karena dia tidak ada di kamar Minho. Sementara itu Yunho dan Changmin tidak bisa dihubungi.
Yoochun dan Junsu langsung menghentikan pergerakan Jaejoong dengan cara menjauhkannya dari tersangka, tapi itu tidak bisa.
Jaejoong berteriak, bahkan sikutnya hampir mengenai perut Yoochun, dan dia hampir menonjok pipi Junsu. Dia benar-benar lepas kendali.
Rasa benci, marah, kecewa, sedih, semuanya sudah melebur di dalam hatinya, hatinya benar-benar sakit.
Sampai tersangka itupun sudah tidak bergerak, Jaejoong masih ingin menendangnya.
"Biarkan aku melakukannya...," lirih Jaejoong saat dia sudah agak kecapaian karena terus mengamuk selama 20 menit.
Tangannya terasa sakit karena terus meninju orang itu dan juga meninju tembok untuk meluapkan rasa amarahnya.
Junsu langsung memeluk orang yang sudah dia anggap seperti hyungnya, membiarkan Jaejoong menumpahkan tangisnya.
Jaejoong menangis keras malam itu, membuat semua polisi iba dengan tangisannya. Lagi, terdengar begitu pilu.
.
Jajeoong akhirnya tertidur di pelukan Junsu. Mata Junsu dan Yoochun memerah karena begitu banyak menangis, merasakan sakit yang menyeruak di dalam dada mereka begitu mendengar tangisan Jaejoong.
Bagaimana tidak, kedua orang tuamu dibunuh dengan cara yang sadis saat kamu masih kecil dan akhirnya kamu sebatang kara.
Junsu membopong Jaejoong menuju kamar Jaejoong untuk menidurkannya.
Junsu membelai rambut Jaejoong yang basah karena keringat dan air mata sementara Yoochun menyelimuti Jaejoong.
Mereka benar-benar menemukan sisi lain Jaejoong malam ini. Sisi yang benar-benar rapuh.
"Lebih baik kita keluar," bisik Yoochun keapada Junsu dan Junsu membalasnya dengan anggukan.
"Mimpi indah hyung," bisik Junsu ke telinga Jaejoong membuat Jaejoong menggeliat dan sedikit membuka matanya.
Terlihat gerakan bibir Jaejoong yang melafalkan kata 'gomawo' walaupun suaranya tidak terdengar.
Junsu dan Yoochun hanya mengangguk dan kemudian meninggalkan Jaejoong dalam keadaan tidur.
Yoochun dan Junsu mendesah pelan saat menutup pintu kamar Jaejoong.
"Kita istirahat," ucap Junsu sambil berjalan ke kamarnya sedangkan Yoochun hanya mengangguk.
.
.
Sudah 4 hari Minho belum terbangun dari tidurnya dan sudah 4 hari juga Jaejoong terus berada di samping Minho. Dia jarang makan selama 4 hari itu dan sekaligus menangis dalam diam saat malam.
"Hyung.. bangunlah... aku sendirian.. aku mohon," ujar Jaejoong dengan air mata masih setia menetes dari doe eyes miliknya.
Wajah putih susu Jaejoong semakin memucat karena dia tidak makan dan kurang istirahat.
Pikirannya berkecamuk. Perasaannya yang belum jelas kepada Yunho, Yunho menolaknya untuk lebih dekat dengannya (menurutnya), Minho yang belum sadar, dan insiden Changmin yang membuatnya terus dihantui rasa ketakutan yang teramat sangat.
Jaejoong terus terisak malam itu.
"Hyung eottokae... bantu Jae.. Jae mohon..," ucap Jaejoong terisak.
Sebenarnya Junsu dan Yoochun ada di sana hanya terdiam saat melihat hyungnya menangis terus menerus.
"Chun, apa yang harus kita lakukan?" tanya Junsu takut melihat hyung yang dianggap saudaranya terus menangis, dia takut hyungnya itu jatuh sakit.
"Tidak tahu Su. Aku sudah membujuknya untuk makan, tetapi dia tidak mau," ucap Yoochun menyerah.
Mereka hanya terdiam sampai akhirnya Jaejoong tertidur dengan bekas jejak air mata dan seseorang diam-diam memperhatikan dirinya.
.
Besoknya Jaejoong bangun cukup pagi. Seperti hari-hari sebelumnya, dia masih kurang tidur. Kepalanya makin terasa pusing dan sakit pada perutnya semakin menjadi karena dia tidak makan belakangan ini.
"Hyung.." lirihnya sambil mengusap tangan hangat hyungnya.
"Hyung.. selamat pagi.." ucap Jaejoong sambil mengusap lembut rambut hyungnya.
"Pagi Jae.." ucap suara serak yang cukup membuatnya terkejut.
"Pagi hyung.."
"..."
"..."
"Hua! Hyung!" Jaejoong langsung memeluk Minho dan membuat Minho meringis kesakitan karena luka operasinya terkena pelukan Jaejoong.
Sakit yang Jaejoong rasakan langsung hilang begitu melihat hyungnya sudah sadar.
"Aigoo sakit," ucap Minho sambil mengelus dadanya.
"Aku senang, aku senang," ucap Jaejoong sambil berteriak.
Jaejoong sangat senang saat melihat Minho siuman.
"Jae, kenapa kamu makin kurus hah? Kamu menangis?" ucap Minho sambil mengelus kantung mata Jaejoong yang cukup besar.
"Tidak hyung, hanya perasaan hyung saja," ucap Jaejoong dengan senyumnya.
Ternyata Minho terbangun tengah malam saat Jaejoong terlelap dan memutuskan untuk kembali tertidur sampai pagi menjemput.
Jaejoong terus memeluk Minho karena dia gembira sampai..
"Hyung, Yunho hyung dan Changmin hyung bertengkar di basement rumah sakit!" seru Junsu saat dia berlari ke ruangan rawat Minho.
"Mwo!?" seru Jaejoong dan Minho serempak.
"Minho hyung!" suaranya yang melengking karena senang cukup membuat Jaejoong kaget.
"Ya Junsu! Cepat katakan dimana tempatnya!" ucap Jaejoong sambil berlari ke arah Junsu dan bersiap bertemu dengan Yunho dan Changmin.
"Ke sana hyung!" ucap Junsu sambil menarik Jaejoong ke arah Yunho dan Changmin.
.
Sementara itu...
"Apa maksudmu menyerang Jaejoong!?" ucap mata musang itu sambil menatap nyalang mata almond di depannya.
"Aku hanya melakukannya sesukaku, bukan urusanmu hyung," ucap Changmin datar sambil menatap mata musang Yunho.
"Kurang ajar!" ucap Yunho sambil menonjok rahang Changmin.
Changmin kemudian membalas pukulan Yunho dengan bogem mentahnya sampai Yunho menabrak dinding putih yang ada di belakangnya.
"Aku melakukannya karena ingin menyadarkan Jaejoong hyunh kalau memang dia menyukaimu," ucap Changmin, "dan dia benar-benar menyukaimu karena dia menyebutkan namamu saat dia terdesak," jelas Changmin sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
"Tapi bukan seperti caranya," ucap Yunho.
"Itulah caraku. Kalian berdua adalah orang-orang yang bebal, keras kepala. Kalau sudah terdesak, baru sadar apa yang kalian rasakan dan kalian lakukan."
Yunho terdiam. Memang dia dan Jaejoong cukup bebal, tapi bisa dibilang, dia lebih bebal dari Jaejoong.
"Dan kamu hyung," lanjut Changmin," aku tahu kalau kamu juga menyukainya. Kalau tidak kenapa kamu ada di sini dan memukulku sekarang."
"..."
"Apa benar aku menyukainya?" gumam Yunho.
"Jawabannya ada di dalam hatimu. Kamu merasa nyaman kan saat bersamanya dan tidak mau dia terluka, bahkan merasa sakit saat melihat dia menangis," ucap Changmin tanpa menyadari dua namja cantik mendengarkan ppercakapan sendari tadi dengan tujuan awal mau melerai mereka.
Jaejoong dan Junsu hanya terdiam, mendengar semua percakapan Yunho dan Changmin.
"Akuilah kalau kamu memang menyukai Jaejoong hyung. Jangan melukainya hyung. Aku memang menyukai Jaejoong hyung," ucap Changmin yang membuat mata Jaejoong dan Yunho terbelalak.
"Aku menyukainya sebagai hyungku," lanjutnya sambil tersenyum, "tenang saja, aku tidak akan mengambilnya darimu ada orang lain yang berani mendekatinya selain dirimu, akan kubuat KO."
Changmin mulai merasakan ada yang memperhatikan mereka setelah menyadari adanya pantulan bayangan dari body mobil sekitar 10 meter diagonal dari tempatnya berdiri sekarang.
"Mengapa...?"
"Karena aku ingin kalian bersama. Hey, aku juga menyayangimu, menyayangi kalian berdua sebagai hyungku. Maaf kalau caraku salahh tapi inilah gayaku. Maafkan aku kalau keterlaluan, Yunho hyung, Jaejoong hyung," ucap Changmin sambil mengembangkan smirknya dan menatap ke arah Jaejoong dan Junsu sembunyi.
Yunho kemudian melihat ke arah pandang Changmin dan menemukan sosok cantik yang dia hindari belakangan ini berjalan ke arah mereka bersama dengan Junsu.
"Maaf aku mendengar semua obrolan kalian," ucap Jaejoong sambil menunduk.
"Tidak apa hyung, kamu harus mengetahuinya. Aku minta maaf atas kelakuanku," ucap Changmin sambil berlutut di depan Jaejoong, membuat Jaejoong kaget.
"Aigoo apa yang kamu lakukan Changmin," ucap Jaejoong sambil menyuruh Changmin berdiri, "aku sudah memaafkanmu."
Changmin menatap mata doe Jaejoong lekat, mata yang hangat itu belakangan ini selalu menumpahkan air matanya.
Jaejoong mengusap luka pada sudut bibir Changmin tanpa melepaskan tatapannya pada dongsaengnya itu.
Changmin tersentak, merasakan amat dingin dari tangan Jaejoong saat Jaejoong mengusap lukanya.
Saat dia ingin berkata, Yunho menginterupsinya.
"Aku juga minta maaf karena menghindarimu karena aku perlu memahami diriku, apakah aku menyukaimu atau tidak," ucap Yunho dengan salah tingkah.
"Tidak apa, pikirkanlah dulu," Jaejoong mengembangkan senyumnya yang sempat hilang selama beberapa hari ini. Dia berjalan mendekat keYunho dan mengusap bekas pukulan yang ada pada wajahnya.
Junsu juga ikut tersenyum saat hyungnya berkata seperti itu. Dia membiarkan ketiga orang itu untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Kalian jangan berkelahi lagi, kalian mau membuat aku semakin sedih hmm?" kekehan terlontar dari bibir pucat Jaejoong.
Yunho yang juga menyadari dinginnya tangan Jaejoong langsung mendekatkan wajahnya ke depan wajah Jaejoong , merasakan panas tinggi pada dahi Jaejoong.
"Kamu harus dirawat," ucap Yunho sambil hendak menggendong Jaejoong ala bridal style.
"Benarkan Jaejoong hyung demam tinggi hyung?" tanya Changmin saat Jaejoong meronta tidak mau digendong.
"Aku tidak apa-apa," ucap Jaejoong lemah dan meronta dari Yunho yang hendak menggendongnya.
"Hyung kamu pucat sekali," ucap Junsu sambil mendekat ke arah mereka, khawatir dnegan kondisi hyungnya itu.
"Junsu-ah, aku.." ucapan Jaejoong terhenti saat dia merasa mual dan memuntahkan cairan merah dari mulut pucatnya, darah.
"Hyung!" teriak Junsu saat kaget melihat hyungnya itu muntah darah.
Wajah Jaejoong semakin pucat dan keringat dingin mengalir dari dahinya.
Dia tidak mampu lagi membuka matanya, kepalanya sangat sakit.
"Hyung bertahanlah," ucap Changmin sangat khawatir karena takut hal sangat buruk akan terjadi pada hyungnya.
Segera Yunho menggendong Jaejoong menuju ke dalam rumah sakit dan berlari ke arah kamar UGD dengan Changmin dan Junsu yang mengekori mereka.
Yoochun yang baru sampai di rumah sakit dari markas kepolisian karena keperluan introgasi penjahat dibuat kaget ketika melihat Yunho berlari menuju ruang UGD sambil menggendong Jaejoong dengan kepala sepenuhnya bertumpu pada dada Yunho dan mulut yang berlumurah darah.
"Junsu-ah, ada apa?" tanya Yoochun panik sambil menarik Junsu.
"Ya! Jangan tarik aku! Jaejoong hyung baru saja memuntahkan darahnya sendiri, dan dia harus ditangani dokter, kajja!" ucap Junsu sambil menarik Yoochun dan berlari di belakang Changmin.
.
"Jae, kumohon bertahanlah," bisik Yunho sepanjang jalan. Dia benar-benar ketakutan dengan keadaan Jaejoong sekarang.
"Uhuk"
"Jae, bertahanlah."
"Yun... aku tidak apa-apa."
"Kamu muntah darah, masih bilang tidak apa-apa?"
"Uh..," Jaejoong terdiam lalu menggerakan tangan kirinya dengan seluruh tenaga yang tersisa lalu mengusap lembut dada Yunho.
"Tenanglah, aku tidak apa-apa," ucapnya sambil sedikit mengembangkan senyumnya, membuat Yunho menatapnya, "aku.. tidak.. apa-apa."
Yunho merasakan tubuh Jaejoong melemas. Cengkraman tangan kanannya tidak sekuat tadi, bahkan sudah lepas. Kepalanya kembali bertumpu sepenuhnya kepada dada Yunho.
Yunho langsung membaringkan Jaejoong di ranjang UGD dan suster menyuruh Yunho untuk keluar.
Yunho benar-benar khawatir saat ini. Dia terduduk lemas di depan pintu UGD, pintu yang sama saat Minho masuk UGD.
Changmin, Junsu, dan Yoochun terengah-engah saat sampai di depan pintu, melihat Yunho sudah kusut.
Yunho terus mengacak-acak rambutnya, perasannya sangat kacau.
"Bagaimana kalau aku tidak menyukaimu Kim Jaejoong.. Bagaimana kalau aku mencintaimu..."
.
.
TBC
.
Hello hello readers! Hahaha maaf updatenya lama hehehe ^^
Terima kasih sudah membaca chapter ini dan setia membaca ff ini hehehe ^^ Bagaimana di chapter ini? Cukup panjang kan? Ihihihi
Maaf tidak ada kasus di dalam chapter ini ihihi
Beberapa pertanyaan dari kalian sudah terjawab hehehe, untuk sisanya akan dijawab di chapter selanjutnya. Untuk Chapter selanjutnya sedang dalam proses, mohon ditunggu hehe ^^
Saya sangat senang apabila menerima review dari kalian ^^ Feel free untuk meninggalkan komentar atas chapter ini. Saya senang karena pada chapter 5 banyak yang review XD terima kasih semuanya XD
Maaf kalau banyak typo ^^'a atau bahkan kesalahan kata, saya tidak mengeditnya lagi ihihi XD
Terima kasih atas support kalian semua, kita bertemu di chapter selanjutnya ^^ Jangan kapok ya XD
.
Balasan review:
nickeYJcassie : ehehhe XD makasih-makasih, maaf ya kalau di chapter ini adegan YunJaenya kurang XD
meybi : ihihi akan selalu bertambah setiap harinya ihihihi XD
Guest : ihihihi terjawab di chapter ini hehhehe XD
Reakim : ehehehe makasih review dan supportnya ^^ maaf kalau banyak typo karena aku gak edit lagi XD
hi-jj91 : hiahahha awas ditiban gajah XD
zhoeuniquee : ihihihi itu terjawab di chapter berikutnya XD
TitaniumSP : Appa selalu sweet XD
ifa. : hahaha tau tuh Minho XD serem ya nyabutin bulu kaki pake lakban XD
Dennis Park : iya, masa lalu Yunho yang kelam. Apakah Yunho bisa lepas dari masa lalunya? hayoo XD
Hana - Kara : ihihihi semoga semakin manis ya XD doakan lancar-lancar saja *eh XD
YunHolic : sini di waxingin sama Minho XD
hanasukie : oh so pasti XD makasih supportnya ^^
Cho Sungkyu : hiyahahah awas kesamber kilat XD makasih supportnya ^^
babypanda518 : ihihihihhi XD ditunggu ya XD
gwansim84 : ihihi di chapter ini belom XD
