Untuk yang nanya 'apa ff ini remake dari Kyumin?' Jawabnya SAMA SEKALI BUKAN! Gue gak pernah ngeship bahkan tertarik sama ff kyumin. Ini ff murni gue dapet dari cerita aslinya, jadi please don't open this ff if you just wanna judge me!
Kalo ada yang tertarik sama cerita aslinya, bisa PM gue langsung.
-5th Day-
Manajer Lu adalah anugrah untuk kantor ini, Setidaknya semenjak dia menggantikan Manajer Lu, DArE menjadi tidak membosankan."
"Yep, Aku jadi semangat setiap kali mau berangkat ke kantor. Tidak sia-sia punya Bos setampan dia! Ngomong-ngomong dia masih lajang atau sudah beristri?"
"Kurasa masih Lajang, dia tidak pernah menyinggung soal keluarga, Manajer Lu juga tidak pernah mengatakannya sebelumnya. Dia masih muda dan tampan, menikah di saat sekarang adalah pilihan bodoh untuknya."
"Ku rasa begitu. Kalau begitu dengan senang hati aku akan menggodanya, seandainya aku yang di angkat menjadi sekretarisnya."
"Benar. Tapi Manajer Lu lebih memilih Yixing."
"Terserah kalau Manager Lu memilih Yixing, toh mereka tidak di ruangan yang sama. Yixing tetap bersama gadis berwajah mungil itu di ruangan Administrasi. Singkatnya, ada atau tidak sekeretaris tidak membawa pengaruh besar bagi Manajer Lu."
Minseok mendengus mendengar percakapan tentang Luhan di kamar mandi. Tadinya Minseok merasa kesal karena Yixing memasukkan banyak saus dalam pasta pesanannya. Tapi sekarang ia bersyukur karena Yixing melakukan itu. Pasta pedas itu membuatnya punya alasan ke toilet dan mendengarkan gossip bodoh tentang Luhan.
Ternyata sangat banyak yang menggemarinya, ternyata Minseok adalah orang beruntung yang terpilih menjadi istri seorang Luhan dan mengalahkan semua perempuan di kantor yang tidak begitu menanggapi keberadaannya selama ini dan hanya mengenalnya dengan panggilan „Gadis berwajah mungil itu‟. Sekurang-kurangnya ada tiga atau empat orang gadis yang berbicara dengan antusias tanpa menyadari kalau Minseok berada dalam salah satu dari ke empat bilik yang tertutup. Mereka terus memuji Luhan yang sepertinya menjadi topik pembicaraan hangat dan baru keluar mendekati jam makan siang.
Setelah toilet benar-benar sepi Minseok keluar dan merapikan pakaiannya lalu kembali ke ruangan kerjanya. Lagi-lagi yang di lihatnya adalah gadis China yang bernama Yixing tengah memperhatikan katalog-katalognya sambil memakan pasta pedas yang tadinya mereka makan bersama. Minsek mengelus perutnya sambil duduk di bangku kerjanya, masih terasa panas.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Yixing, matanya masih tidak berpaling dari katalog-nya.
"Aku terjebak para penggosip di kamar mandi. Mereka membicarakan suamiku dengan santainya, mengatakan akan menggodanya tanpa rasa bersalah…"
"Kau kesal? Cemburu?" Yixing memotong. "Ini bukan pertama kalinya. Mereka selalu melakukan itu semenjak Luhan memimpin DArE, menggantikan Manajer Park. Suamimu sangat di gemari para wanita lajang di kantor ini. Jadi kau harusnya merasa beruntung. Dan berhentilah merahasiakan pernikahan kalian."
"Ya, harusnya begitu. Aku yang terpilih."
"Benar. Seperti film laga yang sering ku tonton, Kau lah yang terpilih untuk memelihara mutiara kehidupan yang akan membantu nyawa banyak orang!"
Minseok tertawa mendengar kata-kata Yixing tentang film laga. Sejenak Minseok teringat keberadaan Luhan, dia belum kembali ke kantor juga. Padahal Yixing ada disini. Yixing sekertarisnya, Kan? Minseok bahkan tidak bisa mengingat tentang Yixing yang ternyata adalah sekretaris suaminya.
Jika tidak berada di kamar mandi, Minseok tidak akan mengetahuinya, ini juga berkat pasta pedas itu. Tanpa sang pasta, Minseok tidak akan menginjak kamar mandi hari ini. Minseok menarik piring pasta dan merampas garpunya dari Yixing kemudian memakan semuanya dengan lahap. Minseok sukses membuat Yixing terperangah.
"Hei Minseok, Bukankah kau sedang diet sehat? Kau ingin segera punya anak kan? Kenapa makan terlalu banyak makanan berbahaya seperti ini?" Yixing kembali merampas garpunya.
Minseok mengusap bibirnya yang berminyak dan termenung sekali lagi. Dia sedang diet sehat? Dia memang sedang Diet untuk pernikahannya, tapi apakah masih perlu? Bukankah dia sudah menikah?
Dia sudah menjadi istri seorang laki-laki bernama Luhan, laki-laki itu bahkan memerintahkannya untuk membeli gaun tidur. Minseok mendesah, ia akan bolos kerja hari ini untuk membeli gaun tidur.
.
.
-6th Day-
KALI ini Minseok bangun lebih dulu di bandingkan dengan Luhan dan masih mengenakan gaun tidur yang di belinya dengan kartu kredit suaminya. Ia tidak bangun dalam keadaan tanpa busana seperti biasa.
Mulai sekarang Minseok harus belajar untuk menghabiskan uang suaminya dan itu berhasil membuatnya tersenyum geli, Minseok sudah memulainya dengan membeli banyak gaun tidur. Semalam sebenarnya Minseok sudah menunggu Luhan untuk pulang. Ingin memulai kehidupan barunya dengan memperlihatkan beberapa gaun tidur yang di belinya di depan Luhan. Sayangnya ucapan Luhan tentang „sampai jumpa besok pagi' itu benar-benar terjadi. Luhan bahkan tidak pulang sampai tengah malam hingga akhirnya Minseok lelah menunggu dan tidur lebih dulu.
Entah jam berapa Luhan pulang semalam, yang jelas hari ini dia tidak akan kesiangan ke kantor karena ini adalah hari sabtu. DArE benar-benar tidak di buka saat Weekend kecuali percetakannya. Minseok memandangi Luhan yang menggeliat, ia sudah antusias bila Luhan segera terbangun, tapi nyatanya tidak. Luhan hanya berpindah posisi dan kembali terlelap dengan tenang. Sepertinya harus di bangunkan, Minseok mencari ide bagaimana ia bisa membangunkan Luhan dengan cara yang sopan.
Bagaimana bila menciumnya dan mengatakan „Selamat pagi sayang‟? Tidak, Minseok tidak akan melakukan hal konyol seperti itu. Tapi mengguncang tubuh Luhan dan memintanya bangun juga bukan hal yang berani di lakukannya. Pada akhirnya Minseok hanya memilih untuk mengamati Luhan dengan seksama sambil menunggunya terbangun.
Luhan adalah seorang pria yang berkulit terang dan halus. Minseok tidak menemukan noda apapun di wajahnya, laki-laki itu memiliki alis yang berwarna lebih gelap di bandingkan dengan rambutnya. Bibirnya mungil dan hidungnya mancung. Pipinya juga kemerahan, Luhan memakai sebuah anting di telinga kanan yang membuatnya tampak sangat berjiwa muda dan penuh semangat.
Lehernya jenjang seperti seekor rusa, bahu lebar dan dada bidang, lalu perutnya datar, Minseok bisa melihat itu karena Luhan tidur dengan bertelanjang dada, sebagian tubuhnya ada di balik selimut.
Apa yang ada disana? Bagaimanaaa… Minseok menggelengan kepalanya. Apa yang sedang di fikirkannya? Mengapa ia memikirkan hal itu? Minseok sedang berfikir apakah Luhan tidur tanpa pakaian sama sekali seperti sebelum-sebelumnya? Perlahan ia mengangkat selimut dan mengintip kedalam. Luhan mengenakan sebuah celana pendek dari Nylon Spandex yang fit di tubuhnya. Dia tidak telanjang, tidak seperti yang Minseok fikirkan.
"Apa yang sedang kau fikirkan?"
Minseok mengerjap. Ia segera menoleh kesumber suara dan melihat Luhan yang sedang memandangnya. Dengan cepat Minseok menarik selimut yang di angkatnya dan berkamuflase seolah-olah ingin menyelimuti Luhan dengan benda itu. "Ku fikir kau kedinginan. Makanya aku ingin menyelimutimu. Kau sudah bangun?"
Luhan bangkit dan duduk dan meminta Minseok untuk bersandar si sebelahnya. Minseok melakukan apa yang di inginkannya, membuat Luhan mendapatkan kebahagiaan pernikahan yang di inginkannya. Sebelah tangannya mendekap bahu Minseok dengan santai, "Aku lembur semalam, menyiapkan bahan untuk di cetak weekend ini. Apakah kau menungguku semalam?"
Minseok mengangguk. Ia sedang mencari perhatian, ingin menunjukkan betapa dirinya adalah seorang istri yang baik meskipun tidak mencintai suaminya. "Aku ingin memperlihatkan gaun tidur yang ku beli kemarin."
"Aku sudah melihatnya satu." Luhan lalu memandangi pakaian Minseok dengan senyum. Minseok sedang menggunakan gaun tidur yang terbuat dari sutra dan berwarna merah muda dengan bintik-bintik putih.
Motif tutul yang lembut dari perpaduan warna yang juga lembut, baby pink dan putih membuatnya tampak manis."Ada kimononya?"
Minseok menggeleng. "Ini saja cukupkan? Untuk apa pakai lapisan luar lagi? Disamping harganya yang mahal, juga tidak berguna. Aku cukup nyaman memakai yang seperti ini, meskipun bagiku celana lebih baik. Tapi kau bilang aku harus membeli gaun tidur."
"Semuanya seperti ini?"
"Sedikit banyak ya…semuanya 85 cm, Aku memilih warna yang berbeda-beda dan…"
"Tidak usah di ceritakan." Potong Luhan. "Biar jadi kejutan saja nanti."
"Kau ingin melihatnya?"
"Aku akan melihatnya setiap kali kita akan tidur, dan ku harap setiap malam aku dapat suasana yang berbeda karena itu. Kau beli berapa banyak?"
"Tujuh, aku akan menggantinya setiap malam dan akan meminta uang kepadamu untuk beli yang baru setiap tiga atau empat bulan sekali agar dirimu tidak bosan. Aku juga mau mengganti pakaian dalam dengan yang lebih seksi untuk ku pakai saat tidur!"
Luhan tertawa. "Baju tidur sangat mempengaruhi gairahmu rupanya. Kau tau? Seharusnya kau tidak memakai apa-apa jika sudah mengenakan gaun tidur. Kalau ingin menggunakan pakaian dalam yang seksi juga pecuma. Tanpa itu istriku juga sudah cukup menggoda."
"Begitu ya? Aku tidak tau yang satu itu. Selama ini aku mengenakan pakaian dalam saat tidur," Minseok melirik ke dalam gaun tidurnya.
Sukses hal itu membuat Luhan tertawa lagi, Minseok sedang menggodanya dengan cara yang sangat manis. Dia tidak tau bagaimana cara menggoda laki-laki sesungguhnya. Tapi seperti yang Luhan bilang, Minseok sudah cukup menggoda tanpa harus melakukan apa-apa. Tentu saja begitu, karena selama ini Luhan hanya bisa memandangi tubuhnya dan menyentuh, membelai, tanpa melakukan hal yang lebih. Luhan hampir gila karena tidak bisa melakukan apa-apa kepada Minseok.
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Luhan sambil menyenggol bahu Minseok dengan lengannya.
"Aku hanya mencoba untuk menjadi istri yang baik."
"Benarkah, bagaimana caranya? Dengan menggodaku? Membicarakan tentang pakaian dalam yang seksi?"
"Katakan padaku, Apa yang kau inginkan untuk aku lakukan hari ini? apapun itu aku akan melakukannya."
Luhan menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah? Termasuk seks?"
Minseok menatap Luhan dalam. Ia tau Luhan akan mengatakan itu, dan ia sudah menyiapkan kata „tentu saja‟ sebagai jawaban. Tapi semangatnya kendor lagi, Minseok tidak yakin dia sanggup melakukan itu sekarang.
"Termasuk seks?" Luhan mengulangi pertanyaannya.
Tidak ada salahnya mencoba. Minseok membatin. Ia mengangguk dan berusaha tersenyum penuh semangat. "Tentu saja. Kalau kau menginginkan itu sekarang…" Ia berusaha membuka gaun tidurnya dan setelah benda itu lepas, Minseok segera melemparnya jauh-jauh.
Sebelah tangannya berbelok kebelakang punggung mencari besi-besi mungil yang mengaitkan bra yang sedang di kenakannya. Minseok lupa kalau pengait itu berada di depan. Dengan susah payah ia berusaha membukanya. Benda itu tersangkut dan tidak mau terbuka secepat biasa. Gerakan Minseok berhenti saat Luhan menggenggam tangannya dan mencium pipinya mesra.
"Hentikan, Kau terlihat sangat gugup" Desis Luhan. "Aku tidak suka melakukan hal seperti itu pagi-pagi dan kalaupun itu terjadi, aku tidak akan membiarkanmu membuka pakaian sendiri."
Minseok mengangguk mengerti. "Baiklah. Lalu apa yang kau inginkan hari ini?"
"Besok waktunya Halmeoni belanja bulanan, kan? Kita saja yang pergi belanja dan biarkan Halmeoni beristirahat dirumah."
"Belanja bulanan?" Minseok sejenak memperlihatkan wajah heran, tapi lagi-lagi ia mengangguk. Sebenarnya Minseok masih malu karena merasa di tolak. Luhan sudah menolaknya meskipun dengan cara yang sangat halus. "Baiklah, Aku juga mau belanja beberapa barang lagi."
To Be Continue
