Aaa, gomen, Anri hiatus lama banget. Sebenerny udah lama nulis chap ini, cuma stuck di bagian deskripsi Vongola HQ. Anri ga ngerti harus nulisnya gimana, soalny authorny sendiri belum pernah lihat Vongola HQ jelas dari depan. Jadi yaaah, gitu. Hheheh.
~Thanks for Follow, Fav and Review~ #bow
Balasan Review yg ga login~
Tsuna27 : Arigatou :D ini update Tsuna27 :D
May : masih kok, may-chan. Walau lama si, eheheh :D iyaaah, anri juga suka bagian yang itu xD
NuruHime-Chan19 : yapp, ini udah update NuruHime-Chan19 :D lanjuuut ^^
saegusa aruhi : yaaay! Sankyuu Aruhi-chan :D udah update nih ;)
Font = Bahasa Jepang
Font = Bahasa Inggris
Font = Bahasa Italy
.
.
.
•° Italy °•
Begitu Naomi membuka matanya, hal pertama yang gadis itu lihat adalah hijaunya pepohonan. Matahari belum menampakkan sinarnya pagi itu. Namun, langit sudah tidak lagi berwarna sebiru malam. Naomi sadar akan perbedaan waktu di antara waktunya dan waktu dimana sekarang ia berada. Matanya kini meneliti hal-hal disekelilingnya. Tubuh transparannya terduduk dibawah sebuah pohon. Ia kemudia berdiri dan alis matanya berkerut heran. Dalam hatinya ia bertanya-tanya kenapa ia berada di tempat ini. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya benda-benda yang disentuhnya berhubungan dengan sang pemilik, entah itu ingatan akan pemilik benda tersebut ataupun dalam kasus ini berarti pertukaran antara tubuh di masa mendatang maupun di masa lampau. Dan hal-hal seperti itu selalu berkaitan dengan manusia.
Pertanyaannya. Kenapa Naomi berada di tempat yang jarang didatangi oleh manusia ?
Apakah…
Gadis itu kemudian tersenyum begitu ia menyadari sesuatu,
'Benar. Mereka lebih memilih tempat-tempat seperti ini pastinya.'
Naomi mendongak menatap langit—masih dengan senyum dibibirnya—kemudian menutup matanya dan melepaskan gravitasi disekitarnya untuk berbaur dengan angin. Tubuh transparannya perlahan melayang di udara menuju titik tertinggi pepohonan. Setelah ia terlepas dari pemandangan serba hijau yang menghalangi pandangan matanya akan arah yang dituju, mata Naomi menyipit. Ia melihat sebuah kota dikejauhan yang terkait beberapa puluh meter dari tempatnya berada.
Tanpa menunggu lagi, Naomi langsung mengarahkan tubuhnya ke arah kota tersebut.
.
.
.
•° Vongola Mansion °•
"Juudaime !"
Mata sewarna madu itu terbuka. Tsuna perlahan duduk dan tangan kanannya mencengkram serat-serat kain baju tidurnya seakan-akan tangan kecil mungil itu bisa membantunya menstabilkan detak jantung yang berdetak bagai selesai bermaraton itu. Tsuna tidak ingat dengan apa yang dimimpikannya saat ia terlelap tadi, tapi yang jelas ada satu hal yang diingatnya.
Suara.
Suara familiar itu terus di ulang-ulang dalam pikirannya bagai kaset yang rusak. Entah kenapa walaupun Tsuna tidak ingat akan mimpinya, jantungnya berkata lain. Begitu juga dengan intuisinya. Intuisinya mengatakan bahwa suara itu adalah milik orang yang sangat penting baginya.
Seseorang.
Seseorang yang wajah bahkan namanya tidak bisa ia ingat.
.
.
.
Out of Nowhere
Katekyo Hitman Reborn © Akira Amano
Runriran
Chapter VI
Warnings : OOC, OC, Typos, Gajeness, Time Traveling
.
.
.
Kaki tidak beralas Naomi menyentuh tanah. Ia berjalan seperti biasa layaknya manusia, walaupun tidak ada manusia yang bisa melihatnya di sini. Surai blondy panjangnya tergerai angin. Ia melihat ada banyak bangunan yang rusak. Bukan hanya rusak, tapi tempat yang digunakan masyarakat kota untuk berjual-beli ini bisa dikatakan porak poranda seakan-akan telah terjadi penyerangan beberapa waktu lalu. Stand buah-buahan yang hancur tak bersisa, toko pakaian yang kaca dan pintuya hancur beserta isinya yang berantakan, toko peralatan, perkakas dan lainnya.
Tidak diragukan lagi kalau kota ini telah menjadi medan pertempuran ketika Naomi melihat beberapa kubangan darah yang hampir mengering. Beberapa kaum pria dewasa—yang diasumsi Naomi adalah pemilik toko dan stand—memperbaiki beberapa bangunan-bangunan, sedangkan wanita dewasa yang lainnya membersihkan area yang bisa dan mampu mereka jangkau. Dari beberapa banyak orang yang ada di area itu, Naomi menemukan seseorang yang menarik perhatiannya.
Pria jangkung berkulit tan berstelkan jas berwarna hitam.
'Tipikal Mafia' batinnya.
Mendapatkan sebuah clue, Naomi berjalan ke arah pria itu.
Pria bersurai blondy bermata hijau itu bernama Gerrardo—atau begitulah para penduduk memanggilnya—pria itu sepertinya adalah pria yang bertanggung jawab atas kota ini, terlihat jelas dari bagaimana para penduduk memperlakukannya.
Naomi berdiri tepat disebelah Gerrardo. Mata birunya meneliti pria itu dengan seksama sebelum sebuah suara mengalihkan perhatiannya
"Paman Gerry !"
Naomi menoleh dan mendapati seorang anak perempuan berumur 7 tahunan dengan rambut berwarna abu-abu berlari ke arah Gerrardo. Pria itu kemudian berjongkok sebelum membuka tangannya lebar dan memeluk gadis kecil itu. Di belakangnya, seorang wanita paruh baya—yang diasumsi Naomi adalah ibu dari anak itu—mengikuti. Gerrardo melepaskan pelukannya pada gadis kecil itu, ia berdiri sebelum mengangguk pada wanita di depannya.
"Levica, ada apa ?" tanyanya.
"Paman Gerry," perhatian Gerrardo kembali pada anak perempuan di depannya.
"Ya, Lyra. Ada apa ?"
"Paman Gerry mau mengantar Lyra ke mansion Primo-sama ? Lyra ingin bertemu Tsu-kun !"
Naomi menaikkan alisnya mendengar kata Tsu-kun dari mulut Lyra.
'Tsu-kun ? Setahuku di masa ini transportasi belum begitu memadai, apa lagi untuk menyebrangi pulau.' Batin Naomi, 'Bagaimana bisa orang jepang…'
"Aku tau kau sibuk Gerrardo, tapi bisakah kau mengantar Lyra untuk bertemu Tsunayoshi ?"
'Tsunayoshi… Tsuna… Tsu-kun !'
Naomi menatap wanita bernama Levica itu sebelum matanya beralih pada pria di sebelahnya. Kini Naomi berhasil mendapatkan petunjuk perihal keberadaan Tsuna, namun yang membuatnya heran adalah bagaimana bisa Tsuna berada di mansion Primo dan tinggal bersamanya.
Dan lagi, perasaan aneh apa yang memenuhi hati Naomi ini.
'Untuk apa Primo membawa Tsuna untuk tinggal bersamanya ? Underworld bukanlah dunia yang penuh cahaya, apalagi generasi pertama Vongola ini terkenal dengan kekuatannya dan mereka seharusnya menjadi orang yang sangat berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang asing, bukan malah membawa mereka untuk tinggal bersama.' Naomi melipat tangannya, berfikir.
'Tunggu… ada kemungkinan Tsuna dicurigai. Karena itu, mereka membawanya ke Vongola HQ agar Tsuna tidak lepas dari pengawsan.' Naomi mengagguk setuju dengan pemikirannya, 'Kalau tidak salah, Tsuna memiliki wajah yang mirip dengan Vongola Primo. Selain itu juga…'
Flashback
"Frère, Noé memang sudah setuju untuk membantu, tapi Frère belum menjelaskan status Vongola Tenth saat ia menghilang." Naomi duduk di depan kakak pertamanya, Kievan, sambil menyesap Russian Earl Grey Tea yang baru saja diseduhkan oleh salah satu butler pribadi Naomi.
"Hmm, begitu…" Kievan meletakkan cangkir porselen dengan motif bunga sakuranya, "Vongola Tenth, Sawada Tsunayoshi, menghilang pada tanggal xx bulan xx tahun xxxx tepat pada pukul 09:10 PM. Informasi yang ada mengatakan bahwa Vongola ring juga ikut menghilang… bersama pemiliknya."
"Aa, berarti kita bisa berasumsi bahwa Vongola ring aman… berada pada pemilikinya."
"Indeed, my lil' sœur… Indeed."
Flashback end.
Wajah Naomi seketika berubah pucat, walaupun tidak ada seorang pun yang bisa melihatnya sekarang.
'Gawat… Kalau Vongola ring ada bersama Tsuna… Kalau generasi pertama melihatnya…'
Naomi menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran negatif yang ada di dalamnya, 'Yang terpenting sekarang adalah menemukan Tsuna. Yang lain bisa dipikir belakangan.' Batin Naomi sebelum terbang mengikuti Gerrardo dan Lyra, meninggalkan Levica yang melambaikan tangannya ke arah kereta kuda yang menuju hutan dimana Vongola HQ berada.
•°
•°Out of Nowhere°•
•°
"Tsuna-chan~ selamat pagi." sapa Elisabeth riang. Sebelumnya Tsuna memberitahu Elisabeth tentang honorifik Jepang dan kemudian wanita itu memutuskan untuk memanggil Tsuna dengan embel-embel chan yang menurutnya sangatlah imut.
"Selamat pagi, Elisabeth-san." balas Tsuna tersenyum.
"Bagaimana tidurmu semalam, Tsuna-chan ? Nyenyak ?" Tsuna mengangguk sebelum turun dari tempat tidur.
Elisabeth kemudian berjongkok di depan Tsuna dan membuka kancing piyamanya satu per satu sebelum membawanya ke kamar mandi. Tsuna yang bersikeras untuk membersihkan diri sendiri berjalan ke kamar mandi sedangkan Elisabeth membersihkan kasur Tsuna. Setelah Tsuna membersihkan dirinya, Elisabeth membatunya memakaikan pakaian yang sebelumnya sudah diberikan oleh Levica.
"Tsuna-chan, ayo kita ke ruang makan, Primo dan yang lain pasti sudah menunggu." Tsuna mengangguk sebelum Elisabeth menggenggam tangannya lalu berjalan ke ruang makan.
•°
•°Out of Nowhere°•
•°
'Jadi, ini mansion Primo… Vongola HQ…'
Naomi berdiri menatap bangunan megah di depannya. Vongola HQ. Walaupun Naomi selama ini belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di tempat itu, ia sudah banyak mendengar cerita dari kedua kakak kembarnya yang selama ini menjadi penghubung antara keluarga mereka dengan Vongola. Naomi yang hanyalah remaja yang bila dihitung sangat minim berinteraksi dengan mafia dari luar, walau itu aliansi ataupun bukan. Selama ini kedua kakak kembarnya selalu melindungi Naomi dari kejamnya dunia mafia, tapi bukan berarti hal itu membuat Naomi menjadi anak manja yang tidak tahu apa-apa ataupun seperti Damsel in Distress. Tidak. Jauh dari itu.
Mengikuti Gerrardo dan Lyra, Naomi melangkahkan kakinya masuk dan disambut oleh seorang maid bersurai coklat panjang.
"Dia teman bermain Tsunayoshi di kota, Elisabeth."
Elisabeth berjongkok menyetarakan tingginya dengan Lyra, "Buon Pomeriggio (Good Afternoon) Lyra Westler, piacere di conoscerti (Pleased to meet you)."
"Senang bertemu denganmu juga Lyra, panggil saja Elisabeth." Lyra tersenyum, Elisabeth berdiri dan memegang tangan Lyra, "Ayo. Tsunayoshi ada di taman belakang."
"Maaf merepotkan, Elis."
Elisabeth menggeleng pelan, "Jangan sungkan, Gerrado. Giotto ada diruanganya kalau kau ingin bertemu." Gerrardo mengangguk.
Naomi menoleh pada Gerrardo. Ia sangat inggin bertemu dengan pendiri Vongola yang sangat terkenal itu, tapi untuk saat ini Tsuna adalah prioritas utamnya. Lagipula dia yakin untuk waktu kedepannya pasti akan sering berkunjung ke masa ini, karena masalah Tsuna tidak akan begitu mudahnya tersesaikan. Yah, bukan berarti dia mengharapkan hal tidak menguntungkan seperti ini terus-menerus menimpa Tsuna namun, selama ada kesempatan boleh kan gadis sepertinya memanfaatkan hal itu.
'Toh, hanya itu yang bisa kulakukan.'
Tersenyum, Naomi mengikuti Elisabeth dan Lyra.
•°
•°Out of Nowhere°•
•°
Lambo duduk di pangkuan Chrome di depan Naomi yang sedang memejamkan matanya, sedangkan Yamamoto berada di ruangan lain bersama Ryohei untuk berlatih *ahem* mengalihkan perhatian *ahem* Ryohei *ahem* karena Ryohei+Gokudera = disaster. Reborn sendiri duduk mengamati Spanner dan Irie sambil menyesap espressonya.
2 menit kemudian… Lambo melipat kedua tangannya. 3 menit kemudian… Lambo mengerucutkan bibirnya. 4 menit kemudian… Lambo mulai bergerak-gerak gelisah. 5 menit kemudian… Tingkat kesabaran anak berumur 5 tahun itu akhirnya habis dan Lambo melompat turun dari pangkuan Chrome.
"Lambo-kun ?"
Lambo berjalan pelan mengamati Naomi yang sudah tidak bergerak lebih dari lima menit. Alisnya berkerut heran, penasaran. Dia mendekati Naomi dan berbisik pelan. "Naomi…" tidak merespon, Lambo pun beralih dari sisi kanan menuju sisi kiri Naomi. "Naomi-nee…" bisiknya dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Lambo-kun, Naomi-san sedang sibuk…" bujuk Chrome berusaha menjauhkan Lambo dari gadis di sebelahnya.
"Sssst…" Lambo menaruh telunjuk jarinya di depan mulutnya, menyuruh agar Chrome diam yang lantas direspon dengan menutup mulut dengan kedua tangannya sebelum mengangguk.
Perhatian Lambo dan Chrome kini beralih pada Naomi. Lambo bagai mendapat inspirasi mendekat pada Naomi dan menjulurkan tangan kanannya untuk menyentuh gadis itu sebelum tangan lain mencubitnya dengan tidak berkepritanganan.
"Iteeeeee !" Lambo menarik tangannya sambil mendeathglare Reborn dengan berlinang air mata menahan sakit.
"Jangan ganggu Naomi." ucap Reborn dengan nada berbahaya.
"Hiks… DIE REBORN !" Lambo melempar granat pink yang masih nonaktif ke arah Reborn yang ditepisnya kembali ke arah Lambo, mengenai hidung anak berambut afro itu hingga mengeluarkan setetes darah membuat Lambo terjembab ke belakang dan tidak sengaja mengenai Naomi.
"Haaaaaaa..."
•°
•°Out of Nowhere°•
•°
Setelah sarapan pagi, Elisabeth dengan baik hati mengantarnya mengitari Vongola HQ dan memperlihatkan ruangan-ruangan yang ada di dalamnya serta memperkenalkannya pada pekerja yang ada di Vongola HQ. Begitu mereka berdua sampai pada destinasi terakhir, yaitu taman belakang Vongola HQ, Tsuna memutuskan untuk menghabiskan waktunya di tempat itu. Dia melihat sebuah kolam ikan mas di sisi kiri taman. Sebelum beranjak menuju kolam ikan, Elisabeth memberinya sebuah roti kecil–yang entah didapatnya darimana sebelum pergi meninggalkan Tsuna. Tsuna kemudian berjongkok di depan kolam dan matanya membulat lebar–kagum–melihat betapa banyak jenis ikan yang ada di kolam itu. Tangan kecil Tsuna kemudian mengambil sedikit dari roti yang dipegangnya dan meremasnya sebelum melemparkannya pada ikan–ikan di kolam yang kini muncul ke permukaan memperebutakan remah–remah roti.
"Tsu-kun !"
Tsuna menoleh ke arah suara yang sangat familiar di telinganya. Dia tersenyum lebar begitu melihat siapa yang berada di depan Elisabeth.
"Lyra-chan !"
Lyra menghampiri Tsuna dan ikut berjongkok di sebelahnya. Tsuna membagi setengah dari roti yang dipegangnya pada Lyra.
"Bagaimana keadaanmu ?" tanya Lyra pelan.
Tsuna tersenyum sambil melempar remah-remah roti, "Aku baik-baik saja, Lyra-chan. Giotto-san dan yang lainnya sangat ramah, walaupun awalnya ada sedikit kesalahpahaman, sih."
Lyra memiringkan kepalanya, "Salah paham ?"
"Uh-um. G-san dan yang lainnya mengira aku adalah anak Giotto-san." Lyra kemudian berbalik menghadap Tsuna.
"Lalu ?"
"Lalu apa ?" tanya Tsuna tidak mengerti.
"Lalu, apa kau ternyata anak Giotto-san ?"
Tsuna mengerucutkan bibirnya sebelum menggeleng. Mengingat-ingat percakapan kemarin.
Flashback
"Kau memang bilang kalau Tsuna bukanlah anakmu, Giotto. Tapi, apa kau punya bukti." sahut G sambil melipat kedua tangannya.
"Aku tidak..."
"Nah! Kau tidak tau bukan berarti dia bukan anakmu. Bisa saja wanita yang kau ha–"
"Aku masih virgin, G ! Jadi tidak mungkin... " suara Giotto memudar di akhir kalimatnya.
G membelalakkan matanya sebelum menatap Giotto kasihan, "A-ah, begitu."
Flashback End
"Giotto-san bilang pada G-san kalau dia masih vi-vigin atau apa namanya itu, jadi tidak mungkin kalau aku adalah anaknya."
"Virgin, Tsu-kun. Virgin."
Tsuna memiringkan kepalanya, "Apa itu virgin, Lyra ?"
Pipi gadis kecil itu sedikit memerah sebelum memalingkan wajahnya dari Tsuna, "Itu urusan orang dewasa, Tsu-kun. Kita tidak perlu tau."
Tsuna hanya mengangguk.
"Jadi, apa kau ingat sesuatu tentang mereka ?" tanya Lyran dengan suara kecil.
"Vongola ?"
Lyra mengangguk, "Ah, cincin dan box milikmu masih aman padaku. Tenang saja." Tambahnya.
Tsuna menggeleng, "Tidak ingat apa-apa. Tapi, wajah mereka terasa familiar."
Lyra bergeser mendekati Tsuna, "Wajah siapa yang familiar ?" penasaran Lyra.
"Hmm, Giotto-san, G-san, Asari-san, Knuckle-san, Alaude-san dan Lampo-san. Semuanya familiar."
"Tapi, kau tidak ingat apa-apa." Lyra menghela nafas.
Tsuna mengangguk sebelum teringat sesuatu, "Ah, iya."
"Apa ?"
"Aku bermimpi aneh tadi pagi."
"Mimpi ?" Tsuna mengangguk. "Mimpi apa ?"
Kepala Tsuna menunduk sedih, "Aku tidak ingat mimpi apa, tapi yang kuingat ada suara seseorang yang familiar memanggilku 'Juudaime'."
"Apa itu Juudaime ?"
"Itu bahasa Jepang yang artinya ke-sepuluh. Tenth."
"Ke-sepuluh ?" Tsuna mengangguk lagi, "Aneh." Tsuna hanya mengangkat bahunya sebelum intuisinya mengatakan bila ada seseorang yang mengawasi mereka berdua sedari tadi.
Namun, saat dia menoleh ke belakang, Tsuna tidak melihat siapapun.
'Aneh.'
•°
•°Out of Nowhere°•
•°
Serentak ruangan itu menjadi hening, tidak ada satu orang pun yang berani bersuara. Semua mata mengarah pada gadis blondie itu. Perlahan Naomi membuka matanya. Pengelihatannya masih belum fokus karena memutuskan hubungan dengan tiba-tiba. Beberapa detik kemudian fertigo berat menyerang gadis itu, membuatnya ingin berbaring, tidak peduli dimanapun itu.
Reborn menyadari apa yang terjadi, membantu Naomi berbaring di lantai sebelum menyuruh pada Irie untuk mengambil painkiller.
"Kau baik-baik saja, Naomi ?"
"Ah, Reborn-san... maaf merepotkan..." ucap Naomi sambil memijat pelipis kepalanya.
Reborn menghela nafas. "Chrome, sebaiknya kau kembali, maman pasti khawatir." Mengerti arti dibalik kata-kata Reborn, Chrome mengangguk dan pamit pada Naomi sebelum membawa Lambo kembali ke kediaman Sawada.
Tidak lama kemudian Irie datang bersama Yamamoto dan Gokudera.
"Kuso onna/Naomi."
Irie memberikan satu biji painkiller dan segelas air putih pada Naomi. Setelah meminumnya, Naomi bisa duduk dan menatap mereka satu persatu.
"Aku menemukan, Tsuna."
•°
•°Out of Nowhere°•
•°
Frère : brother in french
Sœur : sister in french
.
.
.
Thanks for reading ^^
~Follow, Review and Fav always appreciated~
