Ciuman itu mengajarkanku bahwa bersatunya bibir-bibir di dalam cinta mengungkap rahasia surgawi yang tidak bisa diutarakan oleh lidah!
-Kahlil Gibran-
Naruto berbaring di kasur, memikirkan apa yang akan dia lakukan saat acara nanti. Sejujurnya, Naruto belum siap untuk semuanya. Acara hari ini akan menjadi malam yang penuh kejutan. Siapa yang akan berpikir kalau Naruto adalah cucu dari Tsunade yang merupakan pemilik perusahaan Namikaze? Semuanya pasti akan membicarakannya.
Di saat seperti ini, Naruto berharap dapat bertemu dengan Sasuke, dan menceritakan masalahnya. Naruto ingin Sasuke memberikan saran padanya. Tiba-tiba saja jantung Naruto berpacu pada pemikiran tentang menghabiskan lebih banyak waktu dengan Sasuke dan menceritakan permasalahan yang sedang menimpanya. Bertemu dengan Sasuke adalah sesuatu yang sangat Naruto inginkan.
Berulang kali Naruto menolak tetapi jawaban yang diberikan Tsunade selalu sama. Naruto akan menjadi penerus perusahaan Namikaze dan tidak akan ada yang mengubah akan hal itu. Benar-benar, Tsunade dapat mengubah hal yang terlihat mustahil menjadi masuk akal. Tsunade akan melaksanakan acara ini walaupun Naruto tidak menyetujuinya. Tsunade yang memegang kendali. Selain itu, Tsunade telah mempersiapkan semuanya. Naruto juga tidak ingin mengecewakan Tsunade.
Sebuah ketukan terdengar di pintu. "Naruto,"
Naruto mendesah, Tsunade berada di luar sana. Naruto terdiam sebentar, ia tidak langsung menjawab panggilan dari neneknya. Tsunade terus mengetuk pintu kamarnya. Naruto berteriak agar Tsuande bersabar di luar sana. Naruto memperhatikan dirinya sendiri yang tertangkap di cermin. Terlihat warna kehitaman di bawah kedua matanya. Ia terlihat berada diambang kegilaan. Naruto menghela napas pelan. Semuanya berubah hanya dalam satu hari, begitu yang dipikirkan oleh Naruto. Setelah selesai, Naruto bergegas membuka pintu kamar dan mendapati Tsunade yang tersenyum padanya.
Naruto memandangi Tsunade, neneknya sangat berbeda. Dengan balutan dress hitam, Tsunade terlihat sangat cantik malam ini. Terlihat seperti wanita berusia empat puluh tahun. Padahal umurnya sudah menginjak lima puluh sembilan tahun..
"Bagaimana? Kau sudah siap?" Tsunade bertanya pada Naruto.
"Ya. Aku sudah siap." Ucap Naruto dari tempatnya berdiri. Tidak mungkin ia mengatakan kalau dirinya tidak siap. Itu akan membuat Tsunade menjadi sedih.
Tsunade melingkarkan lengannya pada lengan Naruto. Mereka melangkah beriringan dengan Kakashi yang berada di belakang Naruto dan Tsunade.
"Kau baik-baik saja? Apa yang ada dalam pikiranmu?" tanya Tsunade pada Naruto. Ia tahu ada sesuatu yang menganggu cucunya.
Tidak, aku tidak baik-baik saja. Tetapi yang keluar dari mulut Naruto berbeda. "Tentu saja. aku baik-baik saja. Aku hanya takut mereka tidak menyukaiku." Naruto berusaha tersenyum untuk menutupi kegelisan pada dirinya.
"Kau harus siap dengan semuanya. Nenek akan selalu bersamamu. Jangan takut karena jabatan ini. Nenek tidak sepenuhnya melepaskanmu. Nenek dan Kakashi akan selalu membantumu." Ucapan Tsunade membuat Naruto menoleh pada neneknya.
Naruto hanya memberikan senyum simpul pada Tsunade. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Tsunade. Diam adalah emas, pepatah yang tepat menggambarkan Naruto sekarang. Naruto tidak ingin banyak berbicara.
"Nenek sudah lama menantikan saat seperti ini." Tsunade melanjutkan kalimatnya. Nada suaranya terdengar pelan.
Naruto mengigit bibirnya. Dia gelisah. Hatinya tak karuan. "Nek, bagaimana kalau aku bukan pilihan yang tepat untuk menjadi penerus? Masih banyak orang-orang di tempat nenek yang dapat mengantikan tempat nenek." Pada akhirnya, Naruto mengungkapkan yang mengganjal di pikiran dan hatinya.
Tsunade menghentikan langkahnya, dia menatap Naruto. "Lihat nenek!" Tsunade memegang pundak Naruto. "Tidak mungkin ada penerus dalam perusahaan Namikaze jika bukan keturunan dari Namikaze itu sendiri. Itu adalah hukum tak tertulis yang perlu kau ketahui, Naruto. Kau hanya perlu tahu bahwa kau adalah penerus perusahaan Namikaze. Ribuan kali kau menolak posisi ini maka ribuan kali pula nenek akan memaksamu." Tsunade tersenyum penuh arti dan kembali mengapit lengan Naruto.
"Tetapi, nek?"
"Naruto, kau harus percaya dengan nenek."
Jika Tsunade sudah berkata seperti itu maka Naruto tidak dapat membantahnya. Setiap kali Naruto mengajukan rasa tidak sukanya dengan posisi barunya maka Tsunade akan menolak mentah-mentah dan berakhir Naruto yang menjadi manusia pasrah, tidak dapat menolak permintaan dari Tsunade—ibu dari ayahnya.
Naruto tidak ingin mengecewakan Tsunade tetapi ia masih terlalu dini untuk turun langsung pada perusahaan. Tsunade telah menjanjikan pada Naruto kalau Tsunade bersama Kakashi akan membantunya. Kemungkinan terbesar, Naruto akan terbantu oleh keduanya. Naruto akan mencoba untuk menyenangkan Tsunade dan membuat dirinya menjadi orang yang berguna bagi keluarganya.
"Baiklah."
Tsunade tersenyum mendengar ucapan Naruto. Bergegaslah mereka pergi dengan Kakashi yang dengan setia mendampingi Tsunade dan Naruto.
.
Di tempat lain, Pein menyiapkan semuanya dengan teliti. Ia tidak ingin mengecewakan Tsunade yang telah berjasa bagi dirinya. Pein memasukkan senjata yang sebelumnya telah dipersiapkan oleh Kakashi—tangan kanan Tsunade. Pandangan Pein mengarah pada pintu masuk dan mendapati Kakashi sedang berdiri di sana.
"Jangan sampai kalian mengecewakan Tsunade-sama karena jika kalian berbuat kesalahan dan mengecewakannya maka kalian akan merasakan rasa sakit yang tidak pernah kalian bayangkan. Dengan kata lain, Tsunade-sama akan turun tangan jika kalian gagal." Ucap Kakashi dengan wajah datar. Peringatan Kakashi bukan main-main. Bahkan hukuman itu akan menjadi kenyataan jika mereka gagal. Pein dapat memastikan itu semua.
"Tentu saja, kami tidak akan mengecewakan Tsunade-sama yang telah berjasa pada kami." Pein tersenyum. Ucapan Kakashi tidak bisa anggap sebagai angin lalu.
"Hn," jawab Kakashi singkat. "Sebelum pergi, kalian harus mengenakan pakaian yang sudah disiapkan." Kakashi menyerahkan tas yang berisikan jas formal untuk acara resmi. "Baju itu sesuai dengan ukuran badan kalian."
"Kakuzu, ambil tasnya.' Perintah Pein pada Kakuzu.
"Pukul delapan malam, kalian harus siap diposisi kalian masing-masing." Setelah mengatakannya, Kakashi pergi dari sana.
"Bagaimana dengan persiapannya?" tanya Pein pada orang-orang yang bersamanya saat ini. "Kalian sudah dengar yang dikatakan oleh Kakashi. Kita gagal maka hukuman menanti kita."
Mereka mengangguk mengerti. Bagi mereka Kakashi adalah orang yang tidak mungkin mereka kalahkan. Bahkan Pein mengakui itu. Sifat darah dingin Kakashi yang membuat Pein tidak ingin berurusan dengan tangan kanan Tsunade itu.
"Bagaimana dengan Itachi dan Sasori?" tanya Kisame pada Pein.
"Mereka akan menyusul kita dan akan menempati posisi yang sudah aku beritahu pada mereka." Jawab Pein. "Jika kalian sudah selesai, kalian segera melaksanakan apa yang harus kalian lakukan."
Semua mengangguk mengerti. Setelah itu, mereka segera memakai pakaian yang telah Kakashi bawakan untuk mereka. hidan mengeluarkan darah dari hidung ketika melihat Konan dalam balutan dress hitam. Konan terlihat cantik dari biasanya dengan rambut yang tergerai indah.
Semua yang melihat sikap Hidan segera tertawa.
"Aku tidak mengira kalau kau akan tergoda dengan Konan." Ejek Zetsu dan diikuti tawa dari teman-temannya.
Sedangkan di tempatnya berdiri, Konan berusaha untuk tidak terlihat merona. Ia melirik dari sudut matanya, Hidan tidak berhenti memperhatikannya.
"Jika kau terus menatapnya maka matamu akan terlepas."
"Kalian berisik!" Hidan membuang mukanya agar tidak terlihat oleh teman-temannya.
Di tempat itu bergema tawa yang menertawakan sikap malu-malu Hidan karena terpesona dengan Konan. Ketika yang lainnya tertawa, Pein menyuruh Deidara mendekatinya dan membisikan sesuatu pada pria berwajah cantik itu. Pein merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Itachi dan Sasori.
Be The Light
Last Chapter - All About Us
Sasuke x Naruto
Naruto © Masashi Kishimoto
Warnings : AU, mengandung unsur MxM, 16+
Tidak ada keuntungan yang diambil dalam membuat cerita ini. Semua yang ditulis hanyalah imajinasi belaka dari penulis yang dituangkan dalam bentuk tulisan ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Itachi duduk bersama dengan dua tamunya, Shisui dan Sasori bergabung di meja makan dan menikmati makan malam bersama. Sedangkan Sasuke sudah berada di tempat acara Namikaze.
"Bagaimana keadaanmu, Shisui? Apakah lenganmu masih sakit? Tanya Itachi. nadanya terdengar penuh perhatian.
Shisui menatap Itachi dan tersenyum. "Aku baik-baik saja walaupun aku benci luka yang ada di wajahku."
Itachi menanggapi perkataan Shisui dan tersenyum. "Kau akan baik-baik saja. Setelah luka itu mengering, wajahmu akan seperti semula. Setidaknya wajahmu terlihat lebih baik dari sebelumnya."
"Ternyata obat yang kau berikan manjur." Shisui terkekeh. "Itachi, aku sangat berteima kasih padamu karena kau sudah mengirim Sasori untuk menyelamatkanku." Shisui menoleh ke arah Sasori yang sedang asyik dengan makanannya.
"Kau sama pentingnya seperti adikku." Itachi mengacak rambuk Shisui. "Selain itu, kita ini sahabat sejak lama."
"Aku bilang jangan seperti ini." Shisui segera menyingkirkan tangan Itachi dari kepalanya. "Aku sebal saat kau melakukan hal seperti tadi."
"Kau saja yang memasang wajah manis seperti itu." Itachi menanggapinya dengan asal.
Wajah Shisui memerah. Sasori berdehem, membuat Itachi menoleh pada Sasori. Suasana menjadi berubah, sedikit canggung. Tetapi tidak lama suara bel yang terdengar dari luar.
"Aku rasa kalian bisa membukakan pintunya." Kata Itachi.
Itachi menunggu tetapi tidak ada orang lain di meja yang bergerak untuk membukakan pintu dan melihat orang yang bertamu di malam ini.
"Kurasa itu berarti aku yang membukakan pintunya." Itachi bangkit dari kursi.
Itachi beranjak ke pintu dan melihat tamu yang berkunjung. Itachi tertegun dengan seseorang yang berdiri di hadapannya. Dia menatap lelaki yang berada dihadapannya, dan matanya melebar. Setelah itu, Itachi dapat mengendalikan dirinya untuk tidak membunuh di tempat lelaki yang berada di ambang pintu rumahnya.
"Itachi." Lelaki berambut putih itu tersenyum. Ada makna tersembunyi dibalik senyuman itu. Sesuatu yang jahat.
Itachi membalas senyuman lelaki itu. "Sudah lama sekali tidak bertemu denganmu, Kimimaro."
"Ya, sudah lama sekali." Kimimaro menyetujui ucapan Itachi.
"Ada yang bisa aku bantu, Kimimaro?" Itachi berusaha tersenyum pada orang yang sangat tidak dia temui.
"Tentu saja, kau bisa membantuku." Kata Kimimaro. Lagi-lagi Kimimaro tersenyum penuh arti pada Itachi. Sebuah senyuman mematikan.
"Apa ini berkaitan dengan manusia ular itu?" Itachi memamerkan gigi putihnya. "Sejak kapan kau menjadi anjing bagi dirinya?"
"Ternyata kau masih punya bahan candaan di saat seperti ini." Kimimaro mengenggam pistol di tangan. Rupanya Kimimaro telah mempersiapkan semuanya. Peredam telah terpasang di moncong pistol dan diarahkan kepada Itachi.
"Itachi, siapa tamunya?" teriak Shisui dari ruang makan menginterupsi Kimimaro untuk melihat ke arah lain.
Itachi menggerakkan tangannya ke atas. "Bukan siapa-siapa." Itachi balas berteriak.
"Ah, rupanya ada orang lain bersamamu." Kimimaro tersenyum penuh kemenangan." Setelah aku membunuhmu. Aku pastikan teman yang bersamamu akan menyusulmu."
Itachi tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum penuh kemenangan. "Tidak semudah itu kau dapat membunuhku."
Tiba-tiba Kimimaro menurunkan pistolnya dari hadapan Itachi. Sebuah pistol Mac-10 berada di belakang kepala Kimimaro.
"Deidara." Itachi meregangkan badannya yang sempat menegang tadi. "Pein yang menyuruhmu?"
Deidara mengangguk. "Pein menyuruhku untuk ke tempatmu. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres denganmu. Firasatnya memang selalu benar." Deidara mendorong kimimaro untuk masuk dan menyingkirkan senjata dari tangannya. "Kau baik-baik saja."
"Ya, aku baik-baik saja. Bawa manusia ini ke dalam. Kita akan bermain dengannya." Itachi menyuruh Deidara ke dalam bersama tangan kanan dari manusia ular itu.
"Dei, Ki-kimimaro." Ucap Sasori penuh kebingungan ketika ia ingin memastikan keadaan Itachi. "Kenapa ada Kimimaro di sini?"
Itachi berjalan melewati Sasori. "Dia ingin membunuhku."
"Oh, jadi apa yang akan kita lakukan padanya?" tanya Sasori penuh semangat. Sudah lama ia menaruh dendam pada manusia uban itu.
Itachi menyeringai. "Kita akan bermain sebentar dengannya."
"I-itachi," dengan gugup Shisui memangil nama Itachi.
Itachi menoleh dan mendapati Shisui sudah berpakaian rapi. "Kau mau kemana?"
Shisui menggaruk kepalanya. "Aku mendapatkan undangan untuk menghadiri acara yang akan diadakan oleh perusahaan Namikaze. Tadi saat makan malam, karyawan Namikaze memberitahuku bahwa hari ini ada acara penting."
"Baiklah, kau aku akan menyusulmu setelah aku mengurusi teman lamaku ini." Itachi tersenyum manis pada Shisui.
"Ba-baiklah. Aku meminjam jasmu. Tidak apa-apa kan?"
"Ya. Apa saja untukmu."
"Baiklah. Aku akan pergi. Sampai ketemu nanti." Ucap Shisui yang terburu-buru keluar dari tempat Itachi. Ia tidak mungkin melihat seseorang yang akan kehilangan nyawanya walaupun orang itu pantas mendapatkannya.
Itachi mengeluarkan sesuatu dari tasnya ketika Deidara mengikat Kimimaro di kursi. Sasori dengan senang hati memukul wajah Kimimaro ketika dia berusaha melepaskan diri dari jeratan tali.
"Jadi, apa yang diinginkan ular busuk itu?" Itachi memandang remeh Kimimaro.
Kimimaro memberikan tatapan tajam pada Itachi. "Ia punya nama. Ular busuk itu adalah Kabuto dan ia adalah tuanku."
"Kami tidak sudi menyebutkan namanya. Dia sudah melanggar kode etik yang telah ditetapkan oleh Akatsuki." Sasori berucap sambil melayangkan pukulan ke perut Kimimaro. "Dan kau masih saja menjadi pengikut dari Kabuto yang riwayatnya akan segera kami habisi."
Kimimaro mengeluarkan darah dari mulutnya dan dengan sengaja meludahkannya pada Itachi.
"Jadi apa yang diinginkan ular busuk itu dariku?" Itachi memainkan pisaunya di paha Kimimaro.
Kimimaro terdiam, wajahnya terlihat sangat datar. Napasnya memburu. "Kabuto menginginkan kalian mati. Terutama padamu, Itachi." Kimimaro meludahi Itachi sekali lagi. itachi berusaha untuk tidak menghindar. "Selain kau, ia akan menghancurkan Namikaze."
Itachi mengusap ludah Kimimaro dari wajahnya. "Sebelum dia berhasil membunuhku. Aku akan membunuh dia terlebih dahulu." Dengan cepat Itachi menusuk paha Kimimaro dengan pisau yang berada di tangannya.
Deidara dan Sasori hanya memperhatikan ketika Itachi menyiksa Kimimaro. Mereka tidak berniat membantu Itachi untuk menghabisi nyawa Kimimaro.
"Arrrrggghhhhhhhhhhh. Kalian akan matiiiiiiii." Kimimaro berteriak dengan keras ketika Itachi kembali menusuk paha Kimimaro dengan sekali tusukan.
"Itachi, kau jangan terlalu lama bermain. Pein menyuruhmu untuk segera berada di posisi." Deidara menginterupsi kegiatan Itachi yang sepertinya akan membutuhkan waktu lama.
Itachi menoleh pada Deidara. "Sebentar, aku akan menyelesaikannya dengan cepat." Itachi kembali menatap wajah Kimimaro. "Ada permintaan terakhir? kau terlihat gegabah kali ini, Kimimaro. Kau bukan dirimu saja."
Kimimaro memberikan tatapan menusuk pada Itachi tetapi tidak memperdulikannya.
"Kau beritahu padamu, Itachi. Waktu kalian untuk menyelamatkan acara Namikaze ini tidak akan berhasil. Tanpa kalian sadari, Kabuto berhasil masuk ke dalam tempat acara dan memasang bom di sana. Ia akan menculik dan menghabisi penerus Namikaze. Dengan begitu, Kabuto telah berhasil menghabisi kalian." Ada sebuah senyuman di wajah datar itu.
Deidara ingin memukulnya tetapi Itachi menahannya.
"Dan kau tidak mungkin menghentikan sesuatu yang tidak mungkin kalian hentikan. Waktu terus berputar. Kalian sangat bodoh. Tik-tok, tik-tok, tik-tok, tik-tok." Kimimaro tersenyum manis. Ia tersenyum untuk terakhir kalinya.
Itachi menyadari ada sesuatu yang aneh pada diri Kimimaro.
"Kita mundur sekarang." Itachi bergerak. Ia tidak menyadari hal itu sedari tadi. "Cepat Dei, kau hubungi Pein untuk segera mencari bom itu. Dan kita harus pergi dari sini. Kimimaro mengumpankan dirinya untuk membunuh kita. Dia adalah bom waktu." Ucap Itachi ketika ia menyadari ucapan Kimimaro.
Kimimaro tertawa terbahak-bahak. "Waktu kalian sudah habis."
Itachi, Deidara dan Sasori segera pergi dari sana. Ketika mereka sampai di ambang pintu. Ledakan terjadi begitu saja. Mereka terlempar. Tubuh Kimimaro meledak begitu saja, tanpa tersisa. Sedangkan Itachi, Deidara, dan Sasori terlempar dan terbaring dengan darah yang mengalir dari kepala akibat benturan keras dengan tembok.
.
.
Tamu mulai berdatangan, banyak orang terkenal yang menghadiri acara Namikaze ini. Naruto tidak menyangka kalau Tsunade telah menyiapkan acara besar seperti ini. Tsunade tidak menjawab ketika banyak orang yang menanyakan Naruto. Tsunade bahkan berusaha mengalihkannya. Dalam pikiran Naruto, sepertinya Tsunade ingin merahasiakannya dan akan memberikan kejutan pada acara puncak nanti. Naruto mencoba tersneyum pada orang-orang yang menyalaminya. Bahkan ada seorang wanita yang mencubit pipinya karena menurut wanita itu, Naruto terlihat Imut. Sedangkan Tsunade hanya tertawa ketika wanita itu mencubit Naruto.
Naruto merasa tidak nyaman berada di antara orang-orang yang tidak ia kenal. Naruto mendengar segala celotehan dari orang-orang yang bersikap baik dan manis pada Tsunade. Bahkan terkadang Naruto berusaha disingkirkan dari samping Tsunade oleh orang-orang bermuka dua itu. Naruto mengucapkan terima kasih pada Kakashi yang seperti selalu siap membantu Naruto ketika dirinya hampir tersingkir. Sepertinya dunia seperti ini tidak cocok.
"Kakashi, aku ingin mencari udara segar." Naruto mengucapnya dengan nada yang begitu lirih.
"Aku harus minta izin terlebih dahulu pada Tsunade-sama." Balas Kakashi.
Naruto mengangguk. "Baiklah."
Kakashi segera menghampiri Tsunade, semua orang segera menyingkir ketika Kakashi mendekati Tsunade. Kakashi membisikkan permintaan Naruto pada Tsunade kemudian Naruto melihat Tsunade tersenyum dan mengangguk. Naruto membungkukkan badannya sebagai rasa terima kasih telah memperbolehkannya untuk mencari udara segar.
Kakashi berada di belakang Naruto. Tsunade menyuruh Kakashi untuk mendampingi Naruto. Tsunade tidak ingin cucunya terluka. Ketika Naruto ingin pergi ke taman belakang, ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Sosok itu sedang dikelilingi oleh para wanita cantik berbusana minim.
"Sasuke," gumam Naruto pelan. Naruto merindukan Sasuke.
Naruto menoleh ke Kakashi.
"Kakashi," Panggil Naruto. Dengan segera Kakashi mendekat pada tuan mudanya.
"Aku ingin mengobrol dengan pria itu." Naruto menunjuk pada pria yang berusaha melepaskan tangan para wanita darinya.
"Serahkan saja padaku."
Jawaban Kakashi membuat Naruto menoleh pada tangan kanan Tsunade itu.
"Benarkah?" Naruto benar-benar tidak percaya.
Kakashi mengangguk. Entah apa yang akan dilakukan oleh Kakashi tetapi satu hal yang membuat Naruto menjadikan sosok yang ia kagumi. Kakashi berhasil mengusir para wanita yang mengelilingi Sasuke. Dengan langkah cepat, Naruto menghampiri Sasuke dan pura-pura kaget melihat keberadaan Sasuke di tempat seperti ini.
"Sasuke," Naruto tertegun ketika melihat Sasuke berbalut jas hitam. Ia terlihat tampan, warna merah terlihat jelas di wajah Naruto. "Aku sangat senang bisa bertemu dengamu!" Naruto menukas, pipinya bercahaya kemerah-merahan.
"Naruto, apa yang kau lakukan di sini?" Sasuke terlihat bingung dengan keberadaan Naruto yang berada di tempat acara perusahaan Namikaze.
"Errr, ano, aku juga bingung untuk menjelaskannya." Naruto terkekeh sambil mengelus tengkuknya. "K-kau sendiri sedang apa di sini?"
"Tentu saja menghadiri undangan dari perusahaan Namikaze. Perusahaan Uchiha sudah lama menjalin hubungan dengan perusahaan Namikaze." Sasuke menjawab pertanyaan Naruto.
"Begitu." Naruto hanya mengangguk kepalanya. Berarti Naruto akan bertemu dengan Sasuke.
"Apa kau sedang menemani seseorang di sini?" tanya Sasuke.
"Tentu saja tidak." Buru-buru Naruto menjawabnya. Ia tidak ingin Sasuke salah sangka padanya.
"Senangnya kau tidak bersama dengan orang lain. Kau ingin mengobrol di sana?" Sasuke bertanya sambil menunjuk bangku yang berada di taman.
Naruto mengangguk dengan cepat. Sasuke tersenyum. Sasuke membimbing Naruto menuju bangku yang berada di taman, di mana mereka bisa bicara tanpa terlihat.
"Jika kau tak bersama orang lain, lalu apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku sedang bekerja di sini. Aku mendapatkan pekerjaan menjadi pelayan." Naruto berusaha untuk tidak memberitahukan jati dirinya pada Sasuke. Ia merasa belum siap.
"Dengan pakaian seperti ini?" Sasuke menunjuk jas yang dikenakan Naruto.
"Be-begitulah." Jawab Naruto gugup.
Suasana mendadak hening dan kaku. Sasuke tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Naruto. Naruto terliht lebih manis dari sebelumnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasuke, membuka percakapan di antara mereka ketika mereka hanya diam saja.
"Aku baik-baik saja walaupun banyak sekali kejutan di minggu ini." Naruto tersenyum lebar." Kau sendiri?"
"Sama denganmu. Kejutan? Apa karena aku membatalkan rencana kita untuk pergi?"
Naruto menggelengkan kepalanya, "Tidak. Bukan seperti itu. Maaf, sudah membuatmu berpikir seperti itu."
Sasuke mengacak rambut Naruto, "Aku hanya bercanda." Sasuke tersenyum. "Jadi, apa aku masih punya peluang untuk mengajakmu pergi?"
"Hm, tentu saja. Aku senang jika kau mengajakku pergi."
"Naruto, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa itu, Sas?" jantung Naruto berdebar sangat kencang. "Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu juga." Mungkin ini saatnya Naruto berbicara jujur pada Sasuke tentang dirinya.
"Kalau begitu, kau saja dulu."
Naruto menggeleng-geleng. "Kau saja. Pasti punyamu lebih penting."
Sasuke tersenyum. "Baiklah. Naruto, aku menci—" ucapan Sasuke terputus ketika Kakashi menginterupsinya.
Kakashi kini sudah berada di samping Naruto dan membisikkan sesuatu yang membuat Naruto harus meninggalkan Sasuke. Ia belum tahu apa yang akan dikatakan Sasuke padanya. Andai saja, Kakashi tidak datang untuk menginterupsi mereka maka saat ini Naruto tidak akan penasaran seperti ini.
"Maaf, Sasuke. Aku harus pergi." Naruto membungkukkan badanya, memohon undur diri dari sana dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Tunggu," Sasuke menggapai tangan Naruto. "Kita akan bertemu setelah acara ini?"
Naruto mengangguk. "Tentu saja. kita bertemu nanti."
Sasuke mengacak rambut Naruto. "Kalau begitu sampai bertemu nanti." Setelah itu, Sasuke melepaskan tangannya dari tangan Naruto.
.
.
Itachi terbatuk ketika ia tersadar dari pingsannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Ia memperhatikan semuanya hancur berantakan. Ia melihat Deidara berusaha bangkit dan menolong Sasori yang tertimbun runtuhan batu akibat ledakan tadi. Beruntung mereka masih selamat dari ledakan tadi.
"Dei, kita pergi dari sini. Kita harus segera menuju tempat acara. Kita tidak punya waktu lagi." Itachi segera keluar dari tempat terkutuk itu. Diikuti Deidara yang sedang membopong Sasori yang terlihat masih pingsan.
Mereka berkendara menuju tempat acara. Itachi tidak pernah menyangka kalau Kabuto akan berbuat jauh seperti ini. kabuto adalah mantan anggota yang mereka berhentikan karena kegilaan dirinya yang sudah di luar batas. Kabuto sudah menjadi orang gila yang melakukan perbuataan yang membuat Akatsuki hampir dibekukan oleh Tsunade, tuan mereka.
Kabuto telah mengirimkan Kimimaro dan membuat hancur ruma Itachi.
"Dei, apa ponselmu masih berguna?" tanya Itachi ketika ia melihat ponselnya sudah tidak dapat digunakan lagi.
Deidara merogoh kantungnya dan menyerahkan ponselnya pada Itachi. Beruntung ponsel Deidara masih berguna. Itachi menghubungi Pein dan tak lama terdengar suara Pein.
"Kita tak punya waktu lagi. Kabuto memasang bom di tempat acara. Kimimaro datang dan ia meledakkan dirinya sendiri. kau harus mencari bom itu. Kami akan sampai sebentar lagi." setelah memberitahukan itu, Itachi segera mematikan sambungan itu dan berusaha mencapai tempat acara sebelum bom itu meledak.
.
.
Tsunade maju ke atas panggung kecil. Tak lama kemudian, Naruto muncul di sampingnya. Tsunade berdehem melalui mikrofon dan semuanya segera menuju ke arah Tsunade yang terlihat sedang tersenyum.
"Selamat malam semua." Tsunade mengangkat gelas wine, pertanda mengucapkan salam pada semua tamunya. "Di malam ini, aku akan memberitahukan kalian bahwa aku sudah menentukan pewaris dari perusahaan Namikaze."
Para tamu berbisik-bisik. Bahkan mereka percaya kalau di antara mereka akan terpilih sebagai pewaris perusahaan yang menguasai jepang dan kawasan benua Eropa itu.
"Aku tidak akan banyak bicara lagi. Aku akan memperkenalkan cucuku yang selama ini aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Kita panggil Namikaze Naruto." Tsunade bertepuk tangan, diikuti dengan gerakan tepuk tangan yang terdengar kaku.
Orang-orang yang mengharapkan jabatan tertinggi di perusahaan Namikaze memandang tak percaya dengan apa yang diucapkan Tsunade barusan. Mereka tidak pernah melihat Naruto sebelumnya dan Tsunade mengatakan bahwa lelaki yang berdiri di sebelah Tsunade adalah cucunya. Dengan kata lain, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menguasai jabatan dan pewaris perusahaan Namikaze. Semua yang lakukan selama ini sia-sia hanya karena Tsunade memberitahukan bahwa cucunya yang akan mengantikannya. Bukan orang lain.
Para tamu masih memandang tak percaya dengan apa yang dikatakan Tsunade. Bahkan para tamu tidak senang saat Tsunade memperkenalkan Naruto kepada mereka. Bahkan dari tempatnya berdiri, Naruto melihat semua orang memberikan tatapan tajam padanya. Sepertinya perjalanan Naruto ke depannya akan semakin sulit. Naruto berusaha mencari keberadaan Sasuke dan ia melihat Sasuke memandang Naruto tak percaya. Sasuke membutuhkan penjelasan dengan apa yang terjadi di sini. Naruto menggelengkan kepalanya pada Sasuke. Ia tidak bermaksud untuk membohongi Sasuke. Naruto hanya belum tahu bagaimana caranya mengucapkannya pada Sasuke. Tetapi semuanya sudah terlanjur, Sasuke sudah mengetahuinya dan begitu pula dengan semuanya. Kini Naruto hanya membutuhkan kepercayaan Sasuke padanya. Naruto akan menjelaskan sejelas-jelasnya pada Sasuke setelah ini.
"Baiklah Naruto, aku ingin kau mengucapkan sesuatu untuk para tamu yang berbahagia atas terpilihnya dirimu sebagai penerus perusahaan Namikaze."
Mereka tidak berbahagia. Mereka membenciku. Kalimat itu yang terus menganjal dalam pikiran Naruto.
Naruto maju selangkah. "Selamat malam semuanya." Naruto berusaha tersenyum. "Mo-mohon kerja sama dari kalian semua." Setelah itu, Naruto membungkukkan badannya dan mundur ke tempat semula. Naruto tidak tahu harus berbicara apa lagi. Ditambah dengan tatapan meremehkan dari para tamu membuat Naruto ingin segera pergi dari sana.
Tsunade segera mengambil alih. Tsunade dapat merasakan bahwa kehadiran Naruto bersamanya membuat para tamu tak percaya kalau Tsunade memilih cucunya daripada orang lain yang sudah lama bekerja padanya. Tsunade dapat melihatnya dari wajah para tamu ketika ia mengumumkan Naruto menjadi penerusnya. Sedangkan saat Tsunade melihat wajah Naruto, ada sesuatu yang mengganjal pikiran cucunya itu. Tsunade memperkirakan tatapan intimidasi para tamu yang membuat wajah Naruto mendadak berubah.
"Dan kalian silahkan menikmati hidangan yang telah Namikaze sediakan." Ucap Tsunade dengan senyuman di wajah cantiknya sedangkan Naruto pergi dari sana, mencari Sasuke lebih tepatnya.
Dengan isyarat, Tsunade memerintahkan Kakashi untuk mengikuti dan menjaga Naruto. Kakashi segera menuruti perintah Tsunade dan berjalan di belakang Naruto.
Saat Naruto melangkah ke arah taman untuk mencari udara segar ia measakan sebuah lengan yang mencegahnya untuk pergi.
"Sasuke!"
"Aku ingin berbicara denganmu." Kata Sasuke, membimbing Naruto ke tempat yang di mana mereka bisa bicara tanpa terlihat.
"Sas," kata Naruto dengan pelan tetapi jelas.
"Kenapa kau tidak memberitahuku siapa kau sebenarnya?" tanya Sasuke yang meminta penjelasaan pada Naruto.
Naruto menurunkan pandangan matanya. "Aku ingin memberitahumu tentang kebenarannya, sungguh. Aku hampir memberitahumu tadi apa kau ingat? Tapi kau tahu sekarang, dan itulah yang terpenting, benar kan? Aku minta maaf."
Sasuke benar-benar mengerti, walaupun ia masih berharap kalau Naruto bercerita kepadanya secara pribadi bukan seperti tadi saat ia menemukan kebenaran tentang Naruto dari Tsunade.
Sasuke mengeleng-geleng. "Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Aku mengerti."
Naruto tersenyum. "Terima kasih, Sasuke."
Baru Sasuke dan Naruto akan melepaskan rindu karena sudah lama tidak bertemu dan berbicara. Tiba-tiba mereka mendengar teriakan dari para tamu yang menggema di ruangan, membuat Sasuke dan Naruto tersentak kaget. Naruto segera memerintahkan Kakashi untuk melihat keadaan neneknya.
"Aku akan baik-baik saja. Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi dengan nenek. Cepat lindungi nenek jika ada yang terjadi padanya."
Kakashi segera pergi dari sana dan mempercayakan Naruto pada Sasuke. Saat Kakashi sudah melesat menuju ke dalam. Sasuke dan Naruto segera ke dalam dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dapat Naruto lihat para tamu ketakutan. Di depan sana ia melihat Tsunade bersama dengan orang lain yang tidak Naruto kenal. Sedangkan Sasuke sedang menghubungi Itachi.
Naruto hanya sanggup berkata, dengan suara sarat kengerian yang tak terungkapkan. "Nenek! Nenek!"
"Diam!" teriakan dari seorang lelaki sangat keras membuat para tamu dan Naruto terdiam.
Dari tempatnya berdiri, Naruto melihat bahwa elelaki itu tidak main-main. Ia membawa pistol dan kapan saja bisa menyakiti Tsunade. Sedangkan Tsunade nampak tenang, di tempatnya ia memberi sebuah kode pada Kakashi untuk menunggu. Tsunade sedang merencanakan sesuatu. Naruto melihat dengan pandangan yang berbeda, walaupun Tsunade terlihat tenang Naruto yakin bahwa neneknya dalam keadaan ketakutan dan Naruto ingin sekali menyelamatkan keluarganya yang tersisa. Neruto berusaha mendekat ke arah Tsunade tetapi Sasuke mencegahnya.
"Jangan ke sana." Cegah Sasuke.
"Tidak, Sas. Aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi." ucap Naruto sambil melepaskan tangan Sasuke.
Sasuke berusaha untuk mengejar Naruto untuk mencegahnya. Tetapi Sasuke tidak berhasil karena Naruto sudah berteriak lantang pada lelaki yang menyandera Tsunade.
"Kau! Cepat lepaskan nenekku." Dengan berani, Naruto berteriak pada lelaki itu.
Balasan Lelaki itu hanya tertawa meremehkan. Ia memandang Naruto dengan tatapan yang mengerikan.
"Apa maumu?" Tanya Naruto. "Dan kau siapa sebenarnya?"
Lelaki itu kembali tertawa sambil meletakkan pistol di kepala Tsunade.
"Aku Kabuto." Ucap Kabuto sambil menyuruh Tsunade maju ke depan. "Aku menginginkan pembalasan."
"Lepaskan nenekku!"
Mengabaikan pertanyaan perintah, Kabuto melangkah ke depan dengan Tsunade.
"Kau bisa melepaskan nenekku dan mengantinya denganku." Ucap Naruto sambil maju ke arah Tsunade tanpa rasa takut.
"Tidak! Jangan Naruto!" Tsunade berusaha untuk mencegah Naruto untuk mengorbankannya.
"Tidak apa-apa nek." Naruto tersenyum pada Tsunade. "Cepat lepaskan nenekku. Aku akan mengantikan posisinya."
Terlihat Kabuto memikirkan perkataan Naruto. Tidak membutuhkan waktu lama hingga Kabuto mendorong Tsunade hingga terjatuh. Naruto tidak sempat membantunya karena Kabuto sudah menawannya dan membawa Naruto keluar dari gedung. Sebelum Kabuto meninggalkan tempat ini, Kabuto memperingatkan bahwa tempat ini akan meledak dalam waktu yang tidak akan lama. Kabuto memastikan bahwa gedung dan orang yang berada di dalamnya tidak akan tersisa. Kabuto tertawa senang dan segera membawa Naruto pergi. Sasuke berusaha untuk mengejarnya tetapi terhalang dengan kerumunan orang yang panik bahwa hidup mereka tidak lama lagi. Belum lagi, pintu keluar yang di jaga oleh anak buah Kabuto, membuat Sasuke harus mencari cara keluar dari sana.
Sasuke berusaha untuk keluar dari gedung itu dan mengejar Kabuto yang berarti ia harus melewati penjaga pintu keluar yang tidak akan segan-segan menembaknya. Sasuke melihat Kakashi sedang berbicara dengan Pein dan sepertinya ada perasaan lega dari wajah Kakashi dan Tsunade. Menurut Sasuke, Pein sudah menaklukan bom yang dimaksudkan oleh Kabuto tadi. Terlihat Tsunade memberikan perintah untuk Pein dan disambut anggukan dari Pein. Setelah itu, Pein menghilang begitu saja.
Sasuke segera mengejar Naruto namun tertahan oleh tangan dan ketika Sasuke menoleh, ia melihat Tsunade sudah berada di belakangnya. Tsunade tersenyum pada Sasuke.
"Aku serahkan padamu, anak muda." Tsunade menyerahkan sebuah ponsel. "Dengan ini, kau bisa mengejar Naruto. Aku akan mengeluarkanmu dari sini."
Sasuke mengangguk. Berbekal ponsel pemberian Tsunade, Sasuke segera mengejar mobil Kabuto. Ketika Sasuke mendekat ke arah penjaga, ada perintah bagi Sasuke untuk mundur atau penjaga itu akan menembak. Sasuke hanya tersenyum, dan kemudian penjaga itu jatuh di depannya. Terlihat darah yang keluar dari kepala penjaga itu. Sasuke menoleh ke arah Tsunade dan mengangguk mengerti.
Sasuke melihat ke arah ponsel, dan melihat pergerakan Kabuto menuju ke daerah pegunungan yang tidak jauh dari tempat acara. Sasuke terus mengikutinya hingga berhenti di tempat Kabuto berhenti. Sasuke mematikan mesin mobil, sebelumnya ia mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan mobilnya agar tidak diketahui oleh Kabuto.
Sasuke mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh Kabuto. Beruntung jejak itu masih terlihat jelas. Sasuke juga melihat ada jejak tangan, sepertinya beberapa kali Naruto terjatuh. Dapat diperkirakan, Kabuto mendorong Naruto dengan menodongkan pistol sambil mengeluarkan kata-kata mengancam. Hingga akhirnya, jejak itu berhenti di balik ilalang yang tinggi. Dengan perlahan, Sasuke mendekatinya. Ilalang yang tinggi membuatnya tidak dapat melihat ke depannya dengan jelas. Sasuke mengikuti jejak ilalang yang patah tanpa menurunkan tingkat kewaspadaannya.
Sasuke berhasil mencapai tempat Kabuto menawan Naruto. Terlihat Naruto terduduk dengan tangan yang terikat borgol. Kabuto memaksa Naruto untuk memasangkan borgol pada dirinya sendiri. Naruto menurutinya, tidak banyak bicara. Dari tempatnya, Sasuke mengarahkan ujung pistolnya tepat ke Kabuto. Ia sudah siap membidik Kabuto tetapi yang terjadi, terdengar suara tembakan yang mengarah padanya. Satu tembakan merobek lengan Sasuke dan satu tembakan lagi, berhasil menghantam dan membuat lubang pada bahu Sasuke. Dua tembakan yang mengarah padanya membuat Sasuke menjatuhkan senjata ke tanah. Sasuke berusaha untuk mengambilnya, menjulurkan tangannya meraih senjata dalam gelap. Tetapi Kabuto sudah berdiri di hadapannya dengan wajah penuh kemenangan. Seolah-olah ia sudah berada di dalam puncak kemenangan.
"Sasuke!" Teriak Naruto saat melihat Sasuke tertembak. Kabuto segera menghantam tekuk Naruto agar diam. Selanjutnya Naruto terdiam, jatuh pingsan.
Kabuto mendekati Sasuke, meninggalkan Naruto yang tertidur dalam pingsan.
"Kau jangan menganggapku bodoh, Uchiha. Aku membiarkanmu mengikutiku dan mengantarkan nyawa padaku. Bukan kah itu manis sekali? Kau akan berkumpul dengan kakakmu di neraka. Kau benar-benar bodoh seperti Itachi." Kabuto tertawa ketika ia berada di hadapan Sasuke. Betapa muaknya Kabuto dengan keluarga Uchiha. Kabuto membenci mereka hingga ia ingin memusnakan semuanya dari dunia ini. Tidak hanya itu, Kabuto juga ingin menghancurkan keluarga Namikaze yang telah membentuk Akatsuki dan membuangnya begitu saja.
Sasuke hanya diam di tempatnya. Ia masih berusaha untuk meraih senjatanya. Ia tidak peduli dengan pidato yang diberikan Kabuto padanya. Sasuke hanya ingin keluar dari tempat ini bersama Naruto dan melupakan kejadian ini. Tetapi Kabuto tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kabuto senang jika mempermainkan nyawa seseorang.
Kabuto segera menendang senjata Sasuke dan tersenyum sombong. Sasuke menyadari tangannya terasa kebas. Peluru telah menghantam sendi bahunya dan lengannya yang berdenyut-denyut menyebarkan rasa sakit dari luka tembakan itu sampai ke tangannya yang tidak bisa digerakkan olehnya. Sasuke merasakan cairan berwarna merah itu terasa hangat dan berlawanan dengan angin malam yang begitu dingin.
Sasuke tidak akan menyerah untuk menolong Naruto keluar dari sini karena ada hal yang belum Sasuke katakan pada Naruto bahwa ia sangat mencintai lelaki yang tengah jatuh pingsan. Naruto belum mengetahui perasaannya sehingga Sasuke tidak ingin mati begitu saja. Walaupun Sasuke menyadari dirinya mulai terengah-engah menghirup udara dan mencoba untuk mengatur udara yang masuk. Tidak ia pedulikan, Kabuto yang terus berbicara tentang betapa benci dan muak lelaki itu terhadap keluarganya dan dunia ini.
Sasuke tidak ingin menyerah tetapi dirinya terlalu lemah, lelah, dan tidak berdaya. Rasa sakit yang menyengat di lengannya semakin membara. Tangannya masih tidak berguna, dan ia menempalkan tangan kirinya di atas daging bahunya yang robek dan berlubang. Sasuke merasakan tubuhnya bergetar cukup hebat. Ia melihat ke arah Naruto yang masih tertidur. Sasuke ingin ke sana walaupun ia harus merangkak tetapi Kabuto tidak akan mengizinkannya. Sasuke tidak ingin seperti ini, ia ingin menolong Naruto tetapi Sasuke merasakan sebentar lagi ia pasti akan jatuh pingsan dan tidak bangun kembali. Naruto tidak pernah mengetahui apa yang ia rasakan pada lelaki itu. Naruto tidak akan pernah tahu perasannya. Sasuke mencoba untuk bangkit dan sedetik kemudian Kabuto menendang perut Sasuke dan dengan sengaja menekan luka tembak dengan kakinya. Sasuke berusaha untuk tidak berteriak.
"Masih saja kau sombong seperti Itachi. Kesombonganmu akan kau bawa sampai ke neraka." Kabuto meremehkan Sasuke.
Sebuah senyuman sombong menghiasi wajah Kabuto. Ia mengarahkan ujung senjatanya ke wajah Sasuke tanpa ada keraguan. Kabuto sudah mengeraskan hatinya dalam mencabut nyawa seseorang. Kabuto harus mencapai tujuannya. Yang bisa dilakukan Sasuke hanyalah mengamati lawannya dan sesekali melihat ke arah Naruto.
Kabuto memegang pistol itu dengan kedua tangannya dan melebarkan kakinya selebar bahu. Kabuto hampir menyelesaikan tujuannya. Sasuke dan Naruto mati maka semuanya akan berakhir dengan sempurna.
"Aku sudah kehabisan waktu, dan begitu pula denganmu, Uchiha bodoh."
Pada saat itu, Sasuke menutup kedua matanya. Ia membersihkan pikirannya kembali. Mengulang kenangan saat pertemuan pertamanya dengan Naruto. Sedemikian hangat, bagaikan sebuah selimut. Sasuke terhanyut dalam pikirannya yang penuh akan Naruto. Hingga ia mendengar dua buah letusan. Sasuke membuka matanya dan melihat Kabuto terjatuh. Kabuto tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun juga. Sasuke yakin, tenggorokan Kabuto tercekik rasa sakit luar biasa ketika dua peluru menebus jantung dan perutnya. Kabuto menatap Sasuke dengan pandangan yang terkejut. Kabuto tidak menyangka bahwa ia akan mati sebelum tujuannya tercapainya. Menyedihkan.
Dalam keadaan setengah sadar, terdengar ketergesa-gesaan dari langkah kaki yang didengar oleh Sasuke. Cepat, bagaikan kilat yang membelah langit. Sasuke merasakan langkah kaki itu mendekati dirinya dalam kegelapan. Sasuke tidak yakin tetapi ia merasa ada perubahan di wajah dan mata Naruto sebelum dirinya jatuh ke alam mimpi.
.
.
"Bagaimana?" tanya Tsunade pada Pein.
"Kabuto berhasil ditangani. Naruto menembak Kabuto tanpa keraguan. Peluru berhasil mengenai organ vital."
"Lalu bagaimana dengan Naruto?"
"Naruto membawa Sasuke ke tempat lamanya." Jawab Pein setelah mendapatkan laporan dari Zetsu yang mengikuti Sasuke dan Kabuto.
Ada rasa bangga di wajah Tsunade. " Naruto memang cucuku. Aku tidak meragukannya untuk memimpin perusahaan ini. Walaupun rencana yang aku susun sempat berantakan tetapi kita berhasil membunuh hama. Aku peringatkan kalian untuk tetap waspada karena hama-hama lain bermunculan untuk menghancurkan Namikaze dan kalian. Ditambah Naruto yang kupilih menjadi pemimpin di perusahaan." Tsunade memperingati Akatsuki untuk tidak menurunkan kewaspadaan.
Semua anggota Akatsuki mengangguk paham dengan apa yang dikatakan Tsunade barusan.
"Sekarang kalian bereskan kekacauan ini. bawa Itachi, Deidara, dan Sasori ke rumah sakit keluarga Namikaze. Mereka akan dirawat dengan baik." Perintah Tsunade.
"Baik." Ucap Pein.
"Sekarang, kalian pergi dari sini. Aku ada urusan dengan yang lainnya." Ucap Tsunade.
Setelah itu semuanya pergi dari sana. Menyisakan Kakashi dan Tsunade.
"Kakashi, kau bisa beristirahat sekarang." Ucap Tsunade sambil melewati Kakashi dan tersenyum. "Kerja bagus."
"Tetapi bagaimana dengan anda?"
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin pergi ke suatu tempat."
Kakashi tidak dapat membantah ucapan Tsunade, kemudian Kakashi mengangguk mengerti. Saat ini Tsunade hanya ingin sendiri.
.
.
Sasuke berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ketika sinar terang menyapa kedua matanya. Tiba-tiba Sasuke menyadari rasa sakit yang luar biasa di bahunya, berdenyut-denyut dari siku sampai lehernya. Badannya tidak luput dari rasa sakit. Ia merasakan sesuatu yang nyeri saat memegang perutnya.
Sasuke menoleh ketika seseorang menepuk tangan kirinya dengan hati-hati. Ternyata Naruto.
"Kau pingsan. Mengigau." Ucap Naruto sambil menggeser kursi agar mendekat pada ranjang, tempat Sasuke berbaring. "Aku sangat mencemaskanmu." Terdengar kesedihan dalam ucapan Naruto.
Sasuke hanya menatap Naruto. Sasuke cukup sulit memusatkan perhatian kepada kata-kata yang diucapakan Naruto. Pingsan? Mengigau? Apa yang Naruto dengar selama Sasuke mengigau? Kenapa ia bisa di tempat Naruto? Sasuke masih belum dapat mencernanya. Saat itu, Sasuke menyadari dirinya berada bukan berada di kamarnya, dan mulai melihat sekelilingnya. Sasuke melihat ikatan di dada dan pinggangnya. Sasuke masih tidak berbicara. Sasuke tidak yakin apakah sudah bisa berbicara. Sasuke masih merasa bagaikan melayang di udara.
Kerongkongan Sasuke terasa kering dan pecah saat akhirnya mencoba untuk berbicara. Terdengar sedikit lemah tetapi tidak apa-apa. Naruto menuangkan air untuknya dari teko di atas meja samping tempat tidurnya dan menyerahkannya kepada Sasuke. Kemudian Sasuke duduk untuk meminumnya, dan meraskaan mual langsung menyerang dirinya.
"Pelan-pelan saja." segera Naruto mengusap punggung Sasuke.
Sasuke tersenyum lemah. "Terima kasih."
"Kenapa kau sampai berbuat nekat seperti itu?" Naruto meraba luka Sasuke di tangan yang sudah dia perban.
Beruntung Naruto pernah mengikuti latihan menjahit luka sewaktu sekolah dulu. Andai saja Naruto tidak bisa maka dia akan mendapati Sasuke terbujur kaku karena kehabisan darah.
"Aku baik-baik saja. Aku tidak ingin melihatmu menderita." Tangan Sasuke menyentuh pipi Naruto dan membelainya.
"Karena aku kau terluka. Seharusnya kau biarkan aku menderita daripada aku harus melihatmu seperti ini." Ucap Naruto bergetar. Naruto ketakutan akan kehilangan orang yang di sayang. Sasuke sudah menjadi bagian dari salah satu orang yang sangat Naruto sayangi.
"Aku tidak peduli jika aku harus terluka demi dirimu."
"Aku peduli. Aku tidak menyukainya, aku akan membenci diriku jika kau mati demiku. Sudah terlalu banyak yang berkorban untukku. Kedua orang tuaku mati karena menyelamatkanku, nenekku hampir mati karena diriku, dan kau membuatku takut saat kau jatuh pingsan. Aku takut kau meninggalkanku." Setitik cairan bening terlihat di sudut mata Naruto.
Buru-buru Sasuke menghapusnya dari sana, mengecup lembut mata Naruto. Sasuke berusaha menenangkan Naruto yang nampaknya dalam keadaan tertekan. Sebuah desiran hangat terasa di dada Naruto. Kecupan Sasuke telah menenangkannya walaupun Naruto masih ketakutan
"Aku mencintaimu." Ucap Sasuke tanpa keraguan sedikit pun. "Sebelum aku pingsan, aku mengatakan bahwa aku mencintaimu dan kau membalas ucapanku. Apa yang kau ucapkan saat itu?" tanya Sasuke, ia tidak sempat mendengarnya.
Naruto tidak dapat mengalihkan pandangannya ketika Sasuke memintannya untuk mengulang apa yang diucapkan sesaat sebelum Sasuke pingsan. Tatapan mata Naruto telah terkurung dalam sangkar mata Sasuke.
"Aku mengatakan aku juga mencintaimu." Naruto menundukkan kepalanya. "Aku tidak bisa menepis lagi perasaanku padamu. Aku benar-benar mencintaimu. Aku sangat takut saat kau terluka dan Kabuto menyiksamu." Suara Naruto tertahan, sebuah isakan tangis terdengar menyayat hati.
Melihat Naruto yang menangis membuat Sasuke melingkarkan lengannya di punggung Naruto. Sasuke membawa Naruto dalam dekapannya. Dengan satu lengan, Sasuke berusaha membuat Naruto nyaman. Tidak Sasuke pedulikan rasa nyeri ketika Naruto menekan dadanya. Sasuke hanya ingin membuat Naruto tidak membuang air matanya. Di dalam dekapan Sasuke, Naruto merasakan sebuah kehangatan saat Sasuke memeluknya. Kehangatan yang sudah lama ia cari dan pada akhirnya Sasuke yang dapat memberikan apa yang Naruto cari.
Sasuke melepaskan pelukannya, dia menatap Naruto. Begitu pula sebaliknya, Naruto menatap Sasuke sungguh-sungguh. Naruto bagai tersihir oleh pesona ketampanan Sasuke yang selama ini ia selalu kagumi dan impikan saat dirinya terbuai dalam tidur. Jujur Naruto belum pernah mengalami hal seperti ini. Baru kali ini, ia tidak dapat menepis pesona seorang lelaki yang menghanyutkan dirinya dalam petualangan cinta dirinya sendiri.
Tatapan keduanya mengisyaratkan bahwa mereka sama-sama menginginkan hal yang lebih. Sesuatu yang dapat menyatukan jiwa dan raga mereka dalam satu kesatuan yang tidak pernah mereka bayangkan. Sasuke tersenyum lembut sedangkan Naruto menundukkan kepalanya. Dia tidak kuat untuk melihat betapa tampannya Sasuke ketika dia tersenyum.
Sasuke membawa tangannya untuk menyentuh Naruto dengan lembut dan hati-hati. Sasuke memuja Naruto hingga ia tidak ingin menyakitinya. Perlahan tapi pasti tangan Sasuke bergerak, menelusuri pipi Naruto kemudian turun ke bibir dan mengusapnya penuh kelembutan. Satu kecupan ringan diberikan Sasuke pada bibir Naruto. Setelah itu, Sasuke tersenyum. Senyuman dan semua gerakan Sasuke menandakan bahwa Sasuke begitu mencintainya tanpa pamrih. Mencintai Naruto apa adanya.
Ketika tangan Sasuke kembali menelusuri tubuh Naruto, terlihat Naruto membiarkannya. Dengan hanya satu tangan, Sasuke membuka kancing Naruto perlahan dan memberikan sentuhan ringan dengan bibirnya, memberikan sebuah tanda kepemilikan bahwa Naruto adalah miliknya. Sasuke memberikan sebuah kenikmatan yang tak pernah Naruto rasakan. Sebuah kenikmatan yang hanya Sasuke berikan padanya. Kenikmatan saat Sasuke dan Naruto menyatu dalam heningnya malam.
Awalnya memang sangat sakit dan Naruto harus menahan perih yang tidak biasa. Tetapi perlahan Naruto merasakan sesuatu yang tidak bisa dia ungkapan dengan kata-kata. Suaranya tertahan dan tergantikan dengan nada-nada yang membuat Sasuke terus masuk ke dalam dirinya.
Sasuke tidak membawa kenikmatan ini secara kasar, dan sendirian. Sasuke membuat kenikmatan ini dapat dinikmati secara bersama. Sasuke memperlakukan Naruto dengan lembut dan ia selalu dengan sabar memastikan bahwa Naruto tidak akan menderita oleh langkah-langkah yang ia ambil. Perlakuan yang diberikan Sasuke padanya membuat Naruto yakin bahwa Sasuke akan menjadi pendamping yang tidak akan pernah menyakitinya. Pertama dan terakhir.
Dengan semua perlakuan Sasuke, Naruto dibawa melayang ke langit ke tujuh, ke nirwana yang tidak pernah ia bayangkan. Setiap gerakan Sasuke di dalam raga Naruto membuat Naruto tidak dapat membedakan di mana dirinya berada sekarang. Sasuke memeluk, mencium Naruto dengan sangat hati-hati. Tidak berniat untuk melukainya.
Semuanyaterhenti ketika keduanya sama-sama mencapai puncak kepuasan. Bagaikan pendaki yang mencapai puncak gunung. Ada rasa puas ketika Sasuke dan Naruto memuntahkan segalanya hingga napas mereka tersengal-sengal.
Sasuke dan Naruto saling pandang. Sasuke mengecup dahi Naruto yang penuh dengan peluh. Sasuke begitu mengagumi setiap lekuk tubuh Naruto. Terpahat begitu indah dan sempurna. Naruto menggeserkan tubuhnya lebih rapat pada tubuh Sasuke saat Sasuke berbaring di sebelahnya. Sasuke membelai rambut Naruto dan mengecup kepala Naruto.
"Sas, tanganmu?" tanya Naruto ketika teringat dengan perban yang membalut tubuh Sasuke.
Sasuke tersenyum. "Baik-baik saja. Berkat dirimu. Sepertinya kau harus menganti perbanku."
Naruto mengangguk. "Tentu saja. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Naruto."
"Lalu bagaimana kita akan menjelaskan hubungan kita pada nenek?" tanya Naruto ketika teringat Tsunade.
"Aku akan datang ke rumahmu dan meminta izin darinya." Sasuke berusaha membuat Naruto untuk tidak mecemaskannya. "Pasti Tsunade akan menyetujui hubungan ini."
Pada akhirnya, Sasuke dan Naruto menyatu setelah kejadian-kejadian yang membuat mereka saling menyadari tentang perasaan mereka masing-masing. Pertemuan pertama yang tidak sembarangan telah membuat sebuah ikatan benang merah pada keduanya. Semua rintangan dan ujian telah terlewati dan mereka bersama setelah semuanya.
THE END
Ini ending yang agak maksa setelah membiarkan cerita ini berbulan-bulan hehehe
Saya ngerasa kalau cerita ini kemana-mana jadi sebelum semuanya semakin ngawur maka sya putuskan untuk membuat ending seperti ini. Terima kasih kepada semua yang telah memberikan pendapat kalian, menyukai, bahkan mengikuti cerita ini. Saya ucapkan terima kasih banyak :D
Sya akan menjawab beberapa pertanyaan yg sempet ditanyakan.
Sya akan membahas judul sya, kenapa saya ambil judul be the light ? karena sya terinspirasi dari lagu OOR. Selain itu, Naruto adalah cahaya penerang bagi Sasuke hahaha
Penggemar OOR bukan? Maka sya menjawab ia, terlihat dari beberapa chapter sy mengambil dari judul lagu OOR hehehe XD
Kok lama updatenya? karena sya sempet bingung sama jalan cerita yg sya buat hahaha. Padahal niatnya mau yang romatis-romantis gitu, eh pas ngetik malah ke arah bunuh-bunuhan haha. Jauh dari kesan romantis.
Segitu aja sih hahaha. Intinya terima kasih yah sudah mau membaca ini~
