Disclaimer: Seventeen belongs to Pledis Ent.
Warnings: Boys Love, Shonen-ai, Yaoi, Vamp!Fict, Romance!Fail, AU, Typos, OOC, OC, etc.
Pairings: Soonhoon, Meanie, Verkwan, Jeongcheol …dkk.
.
.
.
A/N:
Chap Soonhoon akhirnya update. :*** muahh lol X)))
*kissu Soonhoon shipper satu-satu* selamat ya galss Soonhoon ship is sailing now.
O gawt!
Di Mokdong fansign mereka nge-cosu satu sama lain. Mayan~
Verkwan juga KYAAAA~! *kissu Verkwan shipper juga* :* muah lol
Tapi sayangnya engga buat Meanie.
Mingyu berulah lagi. Kali ini dia main gila bareng Jeonghan ARGHHHH!
S Coups-ssi bini lu minta di eksekusi. Yassss!
Saya banting ship nih! Mingyu-ssi! Meanie mulai retak ARGHH! ANDWEEE!
orz OTL hashtagSTRONGWONWOO hashtagWONWOOYANGKUAT hashtagMEANIEFIGHTING hashtagSTOPMINGYU semua-semua hashtag dahhh X'))))
Btw, saya punya wattpad tapi cuma sekedar punya. Engga dipake lol X)) LloydKagamine uname-nya
Thankyouu for ur attentions. Thankyou for waiting.
Love Yaaaasssss! :***
.
.
.
Usai bunyi tutt berulang-ulang dari handphone-nya berbunyi, Jihoon bangkit dari tempat tidurnya dan menuruni tangga menuju dapur, untuk mengambil segelas air. Tidak ada seorang pun di rumah kecuali dirinya sekarang.
Setelah berhasil memaksa Ibunya untuk tetap bekerja, dan adiknya yang belum pulang sampai nanti sore karena kegiatan ekstra di sekolah. Jihoon akhirnya menjadi penguasa rumah untuk hari ini. Dan dengan kata lain, mau tak mau mengurusi diri sendiri.
Berbicara dengan Wonwoo sejam lamanya membuat tenggorokan kering. Masih tak habis pikir dengan yang sedang terjadi dan masih tak percaya dengan kenyataan yang ada. Jihoon sudah ada beberapa kali sejak kemarin mencubit pipi dan lengannya sendiri untuk meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya adalah nyata, bukan mimpi. Kini, dirinya percaya, tak percaya.
Dengan pelan sekali bak siput Jihoon menuruni tangga rumahnya ke lantai bawah. Suhu badannya masih lumayan tinggi saat dirinya berhasil mendatangi dapur dan berdiri di depan kulkas dengan nafas berat, kelelahan. Air mineral dingin menjadi pilihannya setelah pintu kulkasnya terbuka.
Baru tiga teguk air melewati kerongkongannya saat Jihoon mendengar bel rumahnya tiba-tiba berbunyi. Sempat berdecak sebal dulu sebelum akhirnya menghabiskan sisa airnya dan melangkah loyo menuju pintu depan. Sambil bertanya-tanya siapa gerangan yang bertamu di siang bolong begini.
Langkahnya terhenti sesaat. Jihoon melihati bayangan dirinya saat melewati lemari kaca di dapur, dilihatinya pantulan dirinya sendiri dari atas hingga bawah. Terlihat ada yang salah menurutnya. Pakaiannya. Pakaian yang dipakainya sama sekali tidak pantas digunakan untuk menyambut tamu.
Jihoon sedang mengenakan piyama tidur kebesaran hadiah ulang tahun dari Appa-nya. Kebesaran yang dalam artian benar-benar besar. Mungkin akan pas andai dia tumbuh lagi sedikit. Mungkin.
Jihoon memutuskan untuk melihat dulu siapa yang bertamu ke rumahnya sebelum naik ke kamar untuk mengganti baju, jika itu Jeonghan atau yang lainnya, tak masalah bagi Jihoon untuk tetap berpiyama seperti sekarang.
Dan Jihoon berakhir tak percaya dengan apa yang matanya lihat di depan sana. Secara tak terduga, sangat tak terduga. Seseorang yang bertamu di depan rumahnya sama sekali tidak pernah terprediksikan akan datang dan berdiri di luar sana.
Soonyoung, berdiri di depan pintu dan dengan setia menunggu agar pintu segera terbuka untuknya.
"aku tau kau di dalam. Buka kan pintunya Jihoonie." Kelakuannya lebih mirip yang punya rumah ketimbang tamu. Soonyoung bisa dikatakan berteriak di luar sana. Belum lagi Jihoon dapat melihat kalau Soonyoung tersenyum miring saat dirinya mengintip dari lubang pintu.
Jihoon sempat berpikir sebentar sebelum membuka pintu rumahnya sebatas celah. Mengeluarkan kepalanya saja untuk menghadapi Soonyoung. "ada perlu apa?" tanyanya tak bersahabat. Kesan buruk yang ditunjukkan agar Soonyoung cepat-cepat pergi dari rumahnya.
"apa begini caramu memperlakukan tamu?"
"tidak juga, aku membuat pengecualian untuk orang asing. Terlebih untukmu."
Tidak pernah kepikiran sama sekali bahwa Soonyoung akan mampir bertamu ke rumahnya seperti sekarang ini. Dengan alasan menjenguk, Jihoon lebih yakin bahwa alasan Soonyoung kerumahnya adalah untuk membungkam mulutnya atas identitas Soonyoung dan saudara-saudaranya yang sudah diketahui Jihoon.
"apa kita benar-benar akan berbicara sambil berdiri begini?" Soonyoung bertanya. Jihoon padahal sudah berniat menutup pintunya.
"apa keperluanmu ke sini benar-benar penting?" Jihoon bertanya balik. Soonyoung memberikan tatapan memelas dengan wajah 'oh ayolah' pada Jihoon. Dia serius menjenguk dan Jihoon bahkan tak membiarkannya masuk.
Setelah menimbang-nimbang, Jihoon akhirnya mempersilahkan Soonyoung untuk masuk kemudian. Ada sedikit penyesalan pasca masuknya Soonyoung. Jihoon baru menyadari kalau dirinya saat itu sedang sendiri dan Soonyoung hadir sebagai tamunya yang bukan asli manusia.
Soonyoung langsung mengambil tempat di salah satu sofa dan duduk bersantai bak pemilik rumah. Sementara Jihoon duduk di sofa yang bersebrangan dengannya, memastikan terdapat jarak dan penghalang di antara mereka, meja. Untuk saat ini, itu cukup.
"jadi, apa yang membawamu kemari?" Jihoon melipat tangan di depan dadanya. Dan jangan salahkan Soonyoung kalau dia harus meneguk ludah akibat leher sampai dengan bahu putih mulus Jihoon yang terekspos live di depan matanya.
Jihoon menyadari postur tubuhnya salah posisi. Pasca melipat tangan, Jihoon dengan segera memperbaiki posisi bajunya yang melorot dengan sendirinya. Setelah menarik naik kembali bajunya, Soonyoung di hadapkan pada cobaan kedua karena baju Jihoon kini membentuk v neck rendah yang memamerkan dada mulusnya.
!
Dengan panik berkelanjutan Jihoon memegangi bajunya dan berusaha menutupi apa pun itu yang terbuka dari tubuhnya, sementara Soonyoung harus mengakui dia cukup kenyang atas aksi yang dilakukan Jihoon. Bibirnya tertarik membentuk senyuman. Dia bahagia.
"tutup matamu! Soonyoung!" Jihoon berteriak. Saat bangkit berdiri dan berniat kembali ke kamar, celana tidurnya melorot sebatas pinggul hampir hampir lebih ke bawah. Tangannya menahan, namun membuat yang lain kembali terbuka.
"kenapa?" Soonyoung dengan sok polosnya bertanya. Jangankan menutup, berkedip saja tak ada. Baginya, setiap detik pada saat ini sangat berharga untuk ditinggal pejam.
Jihoon kembali duduk dan menutupi tubuhnya dengan bantalan sofa. Meng-glare Soonyoung seolah-olah ingin membunuh pemuda yang berada di seberangnya itu dengan tatapan matanya.
"apa?" Soonyoung menatap balik Jihoon seolah tak terjadi apa-apa.
Kesabaran milik Jihoon terbatas adanya. "keluar-dari-rumahku-sekarang!" penuh penekanan disetiap kata. Benar firasatnya. Seharusnya dia tak membiarkan Soonyoung menginjakan kaki di rumahnya.
Soonyoung menatap Jihoon dengan kening berkerut. Apa salahnya sampai dia harus pergi sekarang? Berbicara saja belum. Soonyoung bertahan dan duduk dengan mengangkat kaki sekarang.
"kau! Apa maumu?" Jihoon berseru tertahan. Hampir melempar Soonyoung dengan bantalan sofa namun urung mengingat hanya itu tamengnya.
"aku ingin kita bicara." Gurat kemarahan di wajah Jihoon berubah ke mode heran sebelum berdecih pelan. Benarkan dugaannya, Soonyoung datang dengan tujuan lebih dari sekedar jenguk.
"bicara apa?"
Soonyoung membuat jeda sejenak. Tau sekali harus langsung ke intinya. Kesempatan sekali seumur hidup. "aku ingin memintamu untuk menjadi sumberku." Katanya kemudian.
Hening …
Sunyi …
Senyap …
Hah?!
Jihoon menatap Soonyoung dengan wajah yang tak terjelaskan emosinya. Sumber katanya tadi? Kalau dirinya tidak salah, jika Soonyoung yang bicara masalah sumber, itu berarti dia meminta Jihoon untuk memberinya makan begitu? Dalam artian Jihoon memberikan darahnya untuk Soonyoung. Benar begitu?
"kau memintaku—" Jihoon tak dapat melanjutkan yang selanjutnya. Soonyoung memang memintanya secara baik-baik, tetapi entah kenapa malah lebih terasa menyeramkan dari pada diterkam langsung.
"kau berhak menolak. Aku tidak memaksa sama sekali." Soonyoung membuyarkan Jihoon yang sempat asik sendiri dengan lamunannya. "aku memintamu karena kau sudah tau. Dan sumber, itu artinya aku hanya akan makan darimu. Tidak lagi ada perburuan random. Tidak ada lagi kantong darah."
Itu penjelasan. Soonyoung menjelaskan karena dia ingin Jihoon mengerti alasannya. Tak ada maksud lain walaupun sebenarnya ada. Tapi itu nanti. Untuk sekarang ini dulu. Sebagai langkah awal.
Jihoon menatap Soonyoung dan jujur bingung harus menjawab apa. Kepalanya masih berputar menelaah perkataan Soonyoung barusan. Baru kemarin dirinya dipaksa percaya bahwa vampire itu ada, lalu hari ini seorang vampire datang dan meminta darahnya.
Tidak semudah itu memberikan darah kepada orang lain terlebih kepada vampire. Donor darah saja ada proseduralnya, terkait keselamatan penerima darah juga pemberinya. Lalu bagaimana dengan kasus sumber untuk vampire?
"aku menunggu." Soonyoung memecah keheningan yang sempat melanda keduanya.
"kenapa aku?"
"seperti yang ku bilang tadi, karena kau tau."
"Wonwoo juga tau, Seungkwan juga, Jeonghan hyung juga." Jihoon mengabsen siapa-siapa yang juga mengetahui identitas Soonyoung.
"aku hanya mau kau."
Hening kembali. Wajah Jihoon berkerut di beberapa titik saking bingungnya. Dia heran. Keheranan.
"Jihoonie, aku butuh jawabanmu sekarang. Aku memang belum lapar, tapi entah mengapa aku sangat ingin makan sekarang." Soonyoung berdiri dari bangkunya dan mendekat ke arah Jihoon.
Jihoon memandang dengan wajah horornya. Dia belum bilang apa-apa dan Soonyoung sudah berani mendatanginya. "jangan mendekat!" tangannya terangkat perlambang stop yang malah ditangkap Soonyoung. "aku menolak! Soonyoung, aku menolak!" serunya panik.
Jihoon berdiri dan berusaha menarik lepas pegangan Soonyoung pada tangannya. Persetan dengan piyamanya. Step pertama, dan yang paling menentukan segalanya adalah lepas dari Soonyoung terlebih dulu.
"Jihoonie," panggilnya berat.
Jihoon masih dalam usaha melepaskan diri dari Soonyoung. "aku menolak! Kau sendiri yang bilang aku bebas memilih! Lepaskan!" nadanya berbahaya. Jihoon marah.
Soonyoung memang membebaskan Jihoon untuk memilih. Tapi siapa sangka instingnya terlanjur menginginkan Jihoon lebih dari apa pun sekarang. Salahkan saja piyama yang melekat enggan pada tubuh Jihoon. Leher putih mulus untuk ukuran seorang anak lelaki terlalu menggoda untuk ditinggal pergi begitu saja.
"Soonyoung-ssi?!" dengan tangannya yang lain Jihoon menahan dada Soonyoung agar tak mendekatinya lebih dari ini, yang sialnya membuat Jihoon sekarang terbaring di sofa tanpa bisa melawan lagi. Kedua tangannya yang kecil bukan perkara susah bagi Soonyoung untuk ditahannya menggunakan satu tangan, sementara tubuh Soonyoung sudah mengambil posisi di antara kedua kakinya.
"sedikit saja," Soonyoung berbisik rendah. Kepalanya perlahan turun menuju leher Jihoon dan mengendusnya. Jihoon berontak. Sekuat tenaga tubuh kecilnya miliki saat itu walaupun tidak seberapa.
Soonyoung mempersingkat semuanya. Merebut 'sedikit' yang dia butuhkan dari Jihoon. Sedikit baginya. Tapi tidak demikian yang akan dipikirkan Jihoon nantinya. Rasa sakit menyergap leher Jihoon ketika dua taring menancap di sana. Sakit, ngilu dan perih sekaligus. Kombinasi sempurna untuk membuat Jihoon memekik.
Satu hisapan dalam, tangan Jihoon dilepaskannya dan tak ada perlawanan lagi sekarang. Matanya kosong menatap langit-langit rumah. Dapat didengarnya aliran darah miliknya yang direbut keluar darinya.
Beda rasa dengan yang didapat Soonyoung. Memasuki tegukan kedua, rasa dingin mengaliri tenggorokan Soonyoung dan berefek sejuk pada seluruh tubuhnya. Darah Jihoon istimewa. Manis yang dia sendiri tak bisa ungkapkan rasanya. Sempurna.
Hisapan terakhir, setelah dirasa cukup baginya, barulah gigi taring itu kembali normal pada ukuran semula. Gigitan pada leher Jihoon lepas sudah dan mengirim Jihoon ke alam bawah sadarnya, dia tak sadarkan diri.
.
.
.
Jihoon tau dia sedang bermimpi. Dia hanya tau. Dia melihat dirinya sendiri yang berumur lima tahun itu buktinya. Bocah berambut hitam berkilau yang asik membangun istana pasir dengan tangan kecilnya. Jihoon yakin itu dia. Bocah penyendiri yang hanya punya Wonwoo sebagai temannya.
Dia menatap berkeliling, Wonwoo tak terlihat keberadaannya. Seharusnya Wonwoo ada di sini. Seingatnya Wonwoo ada di sini bersamanya. Selalu.
"Ji~hoo~nie," seseorang menubruk Jihoonie kecil dan memeluknya dari belakang. Setau Jihoon itu bukan Wonwoo. Mata Wonwoo tidak sesipit itu. Juga tak se-hyper aktif anak ini. Siapa anak seumuran mini dirinya ini yang bersikap sok akrab pada Jihoonie kecil.
Jihoon mendekat. Keyakinannya ini semua adalah mimpi semakin jelas. Kedua bocah dihadapannya tidak dapat melihatnya sama sekali. Jihoon berdiri dekat di hadapan keduanya. Melambaikan tangan di depan mata keduanya. Dan tidak terjadi apa-apa. Dia tidak kelihatan.
"awas, Youngie. Nanti istanaku rusak." Jihoonie mini menyikut bocah yang dia panggil 'Youngie' agar melepaskan pelukan pada lehernya. Hanya sikutnya yang bebas karena tangannya terlalu sibuk dengan istana pasir yang dibangunnya.
Yang kena sikut akhirnya mundur. Dengan bibir maju sekian mili senti bocah Youngie duduk dipinggiran kotak pasir membelakangi Jihoonie mini, melipat tangannya di depan dada. Dia ngambek.
Jihoon mendekati Youngie dan berlutut dihadapannya. Memperhatikan baik-baik wajah bocah sipit yang tidak pernah dia ingat sebelumnya. Jihoon tidak menyangka kalau dirinya dahulu punya teman selain Wonwoo. Lagi pula bocah ini tidak mirip sama sekali dengan Jeonghan maupun Seungkwan. Jadi pasti bukan mereka.
Jihoonie kecil kelihatan sudah selesai dengan istana pasirnya. Setelah mengelapkan tangannya ke belakang celananya ganti dia yang menubruk Youngie dan memeluknya. Membebankan beratnya pada Youngie.
"Soonyoungie, coba lihat istanaku."
Jihoon beku seketika. Dia mendengarnya dengan jelas. Sangat jelas sekali. Dia berada tepat di depan keduanya. Tak mungkin dia tak mendengar. Jihoonie mini memanggil Youngie dengan Soon di depannya. Soonyoungie. Soonyoung.
Matanya membulat agak tak percaya. Kebetulan macam apa lagi yang mengikutinya sampai ke alam mimpi segala. Jihoon berdiri. Dalam hati terus menenangkan diri sendiri. Pasti bukan Soonyoung yang diketahuinya sekarang, mungkin Soonyoung yang lain. Ya, yang lain.
"Jihoonie!"
Jihoon menoleh, begitu juga mini dirinya dengan bocah bernama Soonyoung. Dua orang bocah lagi mendekat ke arah mereka. Wonwoo, Jihoon mengenalnya dan satu lagi, dia tak kenal. Lebih kecil dari Wonwoo dan memeluknya dari belakang rapat dan erat.
"Wonwoo! Lihat-lihat, aku membangun istana pasir!" Jihoon melepaskan diri dari Soonyoung dan melambai semangat pada Wonwoo.
"mana-mana?" Wonwoo berlari perlahan karena bocah di belakangnya sama sekali tak ada niat melepaskan diri. "Mingyu-ie kita sudah selesai main kereta-keretaannya. Sekarang lepaskan." Tak tahan sudah terbebani, Wonwoo kecil menepuk tautan tangan bocah yang memeluknya.
Jihoon tak tau kebetulan semacam takdirkah atau kutukan yang menimpanya. Kali ini nama Mingyu yang tersebut di sana. Bagaimana bisa?
Tiba-tiba semuanya menjadi buram. Dalam pandangannya Jihoon melihat kabut tiba-tiba muncul dan menyapu bersih mini dirinya, Wonwoo juga yang lain. Setting tempatnya kini berganti, dia berada di sebuah kamar dengan mini dirinya yang tertidur bersebelahan dengan bocah bernama Soonyoung.
Selain mereka, Jihoon juga melihat Jeonghan yang berusia sekitar 7-8 tahun, masih berambut pendek dan seseorang lagi yang seusia dirinya yang asli, mungkin. Dia hanya menang tinggi. Mereka sedang berbicara yang Jihoon tak bisa dengar apa. Dan untuk itulah dia mendekat.
"Seungcheol?" Jihoon menggumamkan namanya. Satu lagi kebetulan. Sudah triple kebetulan yang didapatnya hari ini.
Seungcheol yang tadinya berbicara dengan Jeonghan seketika menoleh. "Jihoonie," Seungcheol berlutut dan merentangkan tangannya. Saat itulah baru Jihoon sadar bukan Jihoon dirinya yang dipanggil Seungcheol.
"hyung!" Jihoonie mini melompat dari tempat tidur dan berlari kepelukan Seungcheol. Memeluk lehernya erat dan Seungcheol mengangkatnya naik dalam gendongan.
Dirinya sama sekali tak ingat kalau dia pernah seakrab ini dengan Seungcheol. Dari wajahnya dia yakin itu Seungcheol. Tidak salah lagi. Tapi bukankah seharusnya dia berumur sama dengan Jeonghan? Kenapa Seungcheol terlihat seperti Seungcheol yang sama di dunia nyata?
Semuanya seperti puzzle di kepala Jihoon. Sekarang dia tau ada yang tidak benar dengan ingatannya. Ada beberapa puzzle yang hilang, yang kemudian digantikan namun bukan dengan yang seharusnya.
Ingatannya tentang Soonyoung, Mingyu dan Seungcheol contohnya. Jihoon mengenal mereka sebelum hari ini. Jauh semenjak dirinya kecil hingga hari ini. Tapi kenapa? Dia tak bisa mengingatnya sama sekali.
.
.
.
"Jihoonie hyung? hyung kau tertidur seperti putri salju. Mau sampai kapan kau tertidur di sofa begitu?" Jihoon mengerjapkan kedua matanya sebentar dan berakhir melihat wajah adiknya tepat berada di atasnya.
"Chanie-ya." Jihoon mendorong wajah Chan menjauh dan mengganti posisi tidurnya menghadap sandaran sofa.
"sebelum dirimu tidur lagi alangkah baiknya kalau kau minta ijin dulu pada temanmu, hyung. Dia sudah menunggu mu lama sekali, asal kau tau saja."
Jihoon membalik posisi badannya berlawanan dari yang sebelumnya. Memincingkan mata pada 'teman' yang menungguinya tidur. Youngie? Bukan! Maksudnya Soonyoung!
"kau! Kenapa ada di sini?!" Jihoon bangkit berdiri. Kantuknya sirna seketika ketika melihat wajah Soonyoung yang memelas padanya.
Dengan sadar Jihoon menarik celana tidurnya sebatas perut dan memegangi bagian leher piyamanya agar tertutup. Nyeri! Lehernya sakit dan nyeri. Jihoon tau benar apa penyebab rasa sakitnya. Soonyoung sudah menggigitnya dan itu bukan mimpi.
"aku minta maaf—"
"sudah seharusnya begitu. Sekarang keluar dari rumahku!" dengan membebas tugaskan satu tangannya Jihoon menunjuk ke arah pintu keluar berada.
Chan melirik kiri dan kanan antara sang hyung dan teman hyungnya itu. Tak punya gambaran sama sekali tentang apa yang terjadi sebelumnya, hingga momen yang sekarang ini bisa terjadi. Hyung-nya malah terlihat marah besar pada temannya yang menungguinya tidur.
"hyung—"
"kau, diam di situ." Chan yang berniat pamit naik ke lantai atas karena tidak ingin menganggu, ditunjuk Jihoon untuk tetap tinggal. Alasannya? Jihoon mana berani ditinggal berhadapan dengan Soonyoung sendirian. Tidak setelah kejadian trauma-able yang menimpanya.
"dengar dulu—"
"yeah! Akan kudengar seperti tadi kau mendengarkanku. Sekarang keluar!" Soonyoung bertahan. "kubilang keluar!"
Soonyoung tak memiliki pilihan untuk menolak. Dia salah di sini dan Jihoon selalu benar. Berat hati dia berdiri. Langkahnya berat saat pergi. Tak sempat menjelaskan apa-apa karena Jihoon sudah pasti tak menerima penjelasan apa-apa darinya sekarang. Salahkan insting yang lebih bermain dari pada pikirannya. Andai Jihoon orang lain, tak sulit baginya untuk membuat Jihoon lupa.
Sambil menggandeng tangan Chan, Jihoon mengantar kepergian Soonyoung atau lebih tepatnya memastikan. Setelah melewati pintu Soonyoung menoleh untuk kesempatan kedua, yang sayangnya tertutup seperti pintu rumah Jihoon yang seketika tertutup di depan wajahnya.
"hyung—"
"apa pun yang terjadi, jangan biarkan orang itu masuk ke rumah kita lagi." Jihoon berbalik dan memeluk Chan dengan erat. Badan Jihoon masih hangat. Dan berteriak-teriak barusan cukup menguras sisa tenaganya. Chan yang kebingungan, membalas pelukan hyung yang lebih pendek darinya ini tak kalah erat. Jihoonie hyung-nya gemetaran.
.
.
.
[Chapter Six] Done!
