Fic ini didedikasian untuk semua yang udah setia ama fic Yuki. Emm bwt Lady Gege yang udah jadi temen di akun fb Yuki. Setelah perjuangan yng cukup panjang, Yuki akhirnya bisa nge-add akun fbnya Lady Gege... lady Gege, review lagi dong.
O ya pesen ama Kujaku MeHyoozan , ficnya dah Yuki buka di Wattpad
trus bwt yng udah review chap 5 : KaZu fujoSHIper LoVe UzuChiha , kaito mine, Uchy-san, ChaaChulie247, Black Ice, DheKyu , , Kujaku MeHyoozan
ama yang ngafav hohoho
Ah ya... bwt Silent Reader and annonim reader... Yuki sangat berharap banyak bisa dapet review-an yang lebih banyak hehehe. Ini demua demi perbaikan dalam penulisan Yuki,,,,
Soo, para reader and senpai... please donk... Baca dan review..
Fic kali ini banyakan flashback... fic ini pengen Yuki kelarin sebelum terjadi pembanyakan chapter xixixi
.
Enjoy reading
.
.
.
Flashback
.
Setelah Ino memberi data ke Shikamaru melalui flashdisk, malamnya pemuda Nara langsung membuka data yang dimaksud.
.
.
Riwayat Hidup
Nama : Namikaze Naruto
Alamat terbaru : Konohagakure
Shikamaru lagi-lagi menatap tak percaya data yang da dihadapannya. Bagamana seorang sensei bisa menyerahkan data yang tak lengkap seperti ini kepada negara?
Tempat, tanggal lahir : Konohagakure, 10 Oktober 19xx
Berarti ia lebih tua beberapa hari, pikir Shikamaru sambil mengingat hari lahirnya yang ada pada tanggal 22 september pada tahun yang sama.
Riwayat pendidikan
Formal
Sekolah Dasar: Konoha Elementary Private School (lima tahun)
Sekolah Menengah Pertama : Suna Young AuBerge Wohnlich (dua tahun)
Sekolah Menengah Atas : Ame Briliant (dua tahun)
University of Konoha Excelent (tiga tahun) : Strata satu
University of Konoha Excelent (sedang berjalan) : Strata dua
.
.
"Dia, seseorang yang tiba-tiba terlintas dalam kepalaku. Klu-nya kata 'percepatan'."
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Writed by Hoshi Yukinua
Rate : T
Pair : Namikaze Naruto dan Uchiha Sasuke
Gendre : Romance, fantasy, adventure
Chapter 6
" Reason"
.
.
Shikamaru mengambil selembar foto diatas kasurnya yang terlihat aut-autan karena penuh dengan tumpukan kertas dimana-mana. Terlihat puluhan remaja berpakaian seragam SMA berjajar membentuk pola setengah lingkaran. Seperti sebuah foto pesta perpisahan kelulusan. Shikamaru menatap satu-persatu wajah-wajah yang ada disana dan kemudian matanya tertumpu pada siswa dengan rambut berwarna kuning cerah. Berbeda dari yang lain, ia terlihat lebih muda. Duduk tepat ditengah menandakan ia menempati rangking tertinggi diangkatannya. Ada yang berbeda dari yang sekarang, pemuda itu menggunakan kacamata dengan dandanan rambut shaggy dengan potongan pendek.
"Style rambut yang sangat berbeda. Umm, dia terlihat lebih muda dari pada yang lainnya."
Mata kuaci itu melanjutkan pembacaan datanya.
Informal
Kursus bahasa Inggris
"Berarti dia bisa bahasa Inggris. Bagus!"
Kursus bahasa Jerman
"Dua bahasa? Ich li be dic?"
Kursus bahasa Korea
"Dia itu tergila-gila dengan bahasa ya?"
Kursus modern dance
"Dan dia ingin jadi penari juga. Ah mungkin ini cara dia berolahraga!" Shikamaru tersungut-sungut .
Pelatihan pemprograman
Pelatihan kepribadian
Poor Shikamaru. Ia mengumpulkan beberapa foto yang berhubungan dengan kegiatan sang sensei. Semakin ia perhatikan, ia semakin bingung.
"Dia seperti banyak kepribadian dalam satu tubuh," gumam pemuda Nara itu frustasi. "Manakah dia yang sebenarnya?"
Pengalaman kerja :
Freelance translator : tahun 20xx sampai sekrang
Asisten peneliti : tahun 20xx- 20xx : 4 tahun di Univeersity of Konoha
Guru SMA : mata pelajaran Matematika
Nama Orang Tua/Wali :
Bapak: Namikaze Minato
Ibu : Uzumaki Kushina
Anak ke : 2 dari 2 orang bersaudara
Nama saudara : Namikaze Kyuubi
Status : belum menikah
"Huahh benar-benar memusingkan!" Shikamaru berteriak frustasi dikamarnya. "Mendokusai...mendokusai...mendokusai...!
Tangan Shikamaru beralih mengambil telepon genggam yang teronggok bisu diantara tumpukan kertas-kertas data mengenai sensei bermata sapphire.
'Bermata shappire?' pemuda bermata kuaci itu memicingkan matanya.
'Agghh! Sejak kapan aku mulai memperhatikan hal-hal kecil tentangnya?'
Nada tunggu terdengar dari speaker telepon genggam.
"Ya," suara berat terdengar dari seberang sana. Sesaat kemudian terdengar bunyi bib tanda telepon dimatikan.
Shikmaru mendesah pelan kemudian melepas ikatan rambutnya, membiarkan rambutnya tergerai bebas. Jari telunjuknya mengetuk-getuk meja belajarnya, sedangkan tangan kanannya membelai rambutnya perlahan. Tak lama telepon genggamnya berdering kembali .
"Bicaralah,"
"Data-data tentangnya sedikit dan tidak jelas. Foto-fotonya mengindikasikan dia orang yang tertutup. Tak pernah berdekatan atau mempunyai teman yang benar-benar dekat. Ia selalu menyendiri."
"Begitu?"
"Begitu? Cuma itu reaksimu?"
"Hn."
'Apa-apan dia? Sampai kapan dia menjadi oarang yang irit bicara seperti ini,' keluh Shikamaru.
"Selain itu, dia seperti orang yang memiliki banyak kepribadian."
"Berkepribadian ganda, kah?"
"Uchiha! berhenti bertingkah polos! Kau tahu yang kumaksud! Ugghh sebentar telingaku panas."
Shikamaru menarik rambutnya frustasi dengan tangan kanannya. Kemudian ia berdiri dan berjalan kearah lemari. Tangannya mencari-cari sesuatu. Sebentar kemudian ia menemukan headsetnya.
"Bukan hanya berkepribadian ganda, tapi banyak. Ia bisa berubah-ubah sifat pada banyak orang," ucap pemuda Nara setelah memasang headsetnya.
.
.
End of flashback
.
.
.
.
Sensei, onegai...
.
.
.
Flashback
.
.
Sebelum kedatangan Shikamaru dan Sasuke
.
.
"Namikaze-sama," panggil Iruka pelan.
Naruto melirik sebentar kemudian menatap kembali peta yang ada dihadapannya. Mulutnya merapalkan mantra-mantra yang biasa ia gunakan. Berharap angin musim semi bisa berhembus pelan dan merata di wilayah Konoha Pusat sehingga kelopak sakura tak habis berguguran sebelum waktunya.
"Namikaze-sama. Tolong dengarkan saya," panggil Iruka dengan nada memohon.
"Aku mendengarkan, Umino-san," jawab Naruto begitu ia selesai merapalkan mantranya.
"Apakah kau tahu mengapa Hiruzen-sama mempercayakan perebutan warisan kerajaan yang telah dicuri itu kepadamu bersama pemuda Nara dan Uchiha?"
"Seandainya aku tahu jawabannya..," suara Naruto tercekat. Sensei bermata sapphire itu menutup matanya perlahan, menghela nafas panjang dan mulai mengambil gulungan peta yang lain "Namun aku yakin anda lebih mengetahuinya, Umino-san."
"Karena tak ada yang mampu selain anda. Walaupun gagal dan semua temanmu diisolasi tetap saja anda telah berhasil menghancurkan pertahanan musuh. Walaupun tidak membawa warisan kerajaan kembali namun itu... itu sebuah kemenangan besar!"
Umino Iruka, salah satu guardian dari kerajaan atas. Sifatnya selalu lembut dan jujur terhadap siapa saja. Namun kadang ia tak bisa membedakan kapan ia harus bersikap lembut dan terlalu jujur seperti sekarang ini.
"Dan itu akhir dari segalanya. Mereka berdua menghilang dariku." Suara yang amat datar, tanpa emosi dan terlalu pelan untuk didengar oleh telinga manusia biasa.
Naruto membalikkan badannya. "Apa anda tak bisa membantuku menyelesaikan ini, Imuno-san!" sebuah senyuman terpampang diwajahnya.
Iruka tertegun. 'Dia membelokkan pembicaraan.'
Sang guardian menggelengkan kepalanya pelan. "Itu tugas anda, Namikaze-sama. Saya tidak bisa membantu. Lagipula saya akan mengacaukan pekerjaan anda bila saya ikut campur tangan. Ini bukan spesialisasi saya."
"Kalian, makluk atas memang suka seenaknya. Apa anda tahu, Imuno-san? Aku masih punya banyak lembar jawaban yang harus diperiksa. Menjadi seorang sensei itu susah-susah gampang. Benar-benar menguras waktu luangku di puncak musim semi ini."
"Cobalah lebih ikhlas. Dengan ikhlas pekerjaan sulit terasa mudah."
"Berbicara lebih mudah dari pada prakteknya."
"Anda pintar berpetuah, Namikaze-sama."
"Arrgggg?"
"Semangat!"
"Coba beri aku satu alasan, kenapa seorang elf seperti aku yang harus melakukan hal seperti ini, Umino-san?" tanya Naruto seraya menghela nafas panjang. "Apa dunia atas kekurangan peri angin hingga aku harus mengurus wilayah Konoha Pusat?"
...
End of flashback
.
.
.
Sensei, onegai...
.
.
'Ugghh, aku terjepit," batin Naruto. Tanpa ia sadari, sebutir keringat bergerak menyusuri pelipis kirinya.
Suasana hening menghiasi ruangan perpustakaan itu. Didak ada satupun dari mereka yang bersuara.
"Sensei, anda membuat saya menunggu," bisik Sasuke di telinga kiri Naruto. Hal ini sukses membuat Naruto melunjak kaget walau cuma dalam hati.
'Di-dia masih seperti yang dulu,' batin Naruto. 'Aku senang dia tak berubah."
Naruto berdiri, bergerak menjauhi Shikamaru dan Sasuke. Setelah tiga langkah, ia berhenti dan membalikkan tubuhnya. Ia menatap Shikamaru dan Sasuke selembut yang ia bisa. Mencoba menyalurkan beribu-ribu perasaan yang tak mungkin ia sampaikan dalam satu kata. Perasaan yang tak mungkin ia ungkap saat ini. Masa hukuman ini belum habis dan ia tak mau menambah masa hukuman. Selain itu masih banyak misi tertunda yang harus ia lakukan. Tapi tanpa mereka berdua ia bingung apakah ia bisa melakukannya atau tidak.
Sedang Sasuke yang ditatap begitu lembut langsung menyentuh dadanya yang seperti penuh akan sesuatu. Ada sesuatu yang entah apa mengisi rongga dadanya yang membuat dadanya serasa sesak.
"Jawaban pertanyaan pertama." Suara Naruto membuat Sasuke tersadar dan menurunkan tangan dari dadanya. "Shikamaru-kun terlihat sangat tak sabar, ya?"
"Ckk, mendokusai." Shikamaru mendengus. Merasa ditatap dengan lembut ia langsung merasa risih.
"Aku tak hanya bekerja disini saja. Untuk menjaga identitasku, semua data-data tentangku dirahasiakan oleh emm, bisa dikatakan sebuah organisasi mungkin," jelas Naruto singkat. Dalam hati Naruto merasa geli, dunia atas ia ibaratkan dengan sebuah organisasi. "Aku rasa kalian berdua cukup paham maksudku."
Shikamaru menyipitkan matanya tanda ia berfikir. 'Apa dia agen khusus? FBI begitu? TIDAK MUNGKIN!'
"Shikamaru-kun, kamu punya banyak waktu senggang ya? Kenapa kamu ingin mencari-cari data pribadiku, Shikamaru-kun?"
Shikamaru menelan ludah, bingung. Sejujurnya ia juga tak tahu mengapa ia jadi seperti ini. Ikut campur urusan orang lain. Bukankah kegiatannya ini sama saja dengan men-stalker. Sial, ini semua gara-gara mimpi buruk itu.
"Ketua kelas dua-A, apakah kamu memiliki masalah denganku?"
Keadaan berbalik. Shikamaru yang tadinya ingin menyudutkan sensei yang imut ini malah berganti ia yang tersudut.
Naruto tersenyum melihat ekspresi wajah Shikamaru. Tegang. Dalam hati Naruto bernafas lega. Namun masih terselip sedikit rasa ingin tahu. Apakah mereka sudah mulai mengingat tentangku? Apa ini berarti masa hukuman hampir berakhir? Mengapa Gaara tak memberi tahuku? Gaara, apa yang kau sembunyikan dariku?
"Jawaban pertanyaan kedua, kami hanya berbincang-bincang di perpustakaan. Apa aku melakukan suatu kesalahan? Ah, jangan katakan dia adalah kekasihmu? Hmm, berarti lain kali aku harus minta izin padamu, begitu? Apa perlu aku menceritakan apa yang aku bicarakan dengan Hyuuga, ketua?"
"Ckk, tidak perlu sensei. Sepertinya saya terlalu berlebihan."Akhirnya Shikamaru berbicara. Ia harus menyelamatkan diri dari situasi yan mulai tak terkendali ini. "Gomenasai, sensei. Saya merasa ada yang aneh dengan sikap Hyuuga Hinata-san akhir-akhir ini."
"Umm, begitu ya? Shikamaru-kun memang ketua kelas yang baik ya? Perhatian terhadap teman-temannya." Naruto tersenyum sambil melirik Sasuke. "Trus apa pertanyaan ketiganya Shikamaru-kun?"
Shikamaru melirik Sasuke. Sasuke menggelengkan kepalanya.
"Saya rasa pertanyaan ketiga disimpan untuk nanti-nanti. Kalau begitu, kami pamit dulu Namikaze- sensei," ucap Shikamaru kemudian membungkukkan sedikit punggungnya.
"Konbanwa, mata ashita," ucap Shikamaru kemudian berjalan meninggalkan perpustakaan. Sedang Sasuke menatap dalam sensei berambut kuning itu sejenak dan kemudian mengikuti langkah Shikamaru.
"Mata ne," jawab Naruto melambaikan tangan kanannya.
Naruto menghembuskan nafas lega. Sedikit banyak ia berhasil tidak merusak properti perpustakaan seperti kejadian bersama Hinata atau dikantor saat ia tak mampu mengendalikan amarahnya.
.
.
Sensei, onegai...
.
.
Mata sapphire itu menatap langit-langit kamarnya. Setelah beberapa kali membolak balik badan mengganti posisi tidur, namun tetap saja matanya belum mau terpejam. Apa lagi ini? Semakin membuat kepalanya pusing. Wajah Sasuke dan Shikamaru silih berganti di kepalanya bagaikan sebuah gulungan film yang diputar perlahan, membuat ia teringat masa-masa saat dunia atas masih aman.
.
.
Flashback
.
.
Dunia atas. Dunia yang penuh dengan warna. Dunia yang penuh dengan energi positif. Dunia tempat segala kebaikan berlimpah ruah. Tiada pembedaan diantara makhluk atas, semua di rangking berdasarkan kemampuan. Disanalah pemuda berambut kuning emas dan bermata sapphire dilahirkan. Namun benarkah dunia dan segala persaingannya sebaik itu?
"Temee..., temee...!" teriakan itu menggema diseluruh lapangan disebuah sekolah yang hanya ada satu di dunia atas menyebabkam orang-orang yang berada disekitarnya langsung menatap tajam, atau entahlah seperti suatu kebencian. Seorang remaja laki-laki berusia empat belas tahun berlari-lari mengejar pemuda berambut emo yang ada beberapa meter didepannya.
"Dobe, kau berisik!" jawab Pemuda berambut emo dengan wajah yang datar. Ia menghentikan langkah kaki dan memutar tubuhnya untuk melihat pemuda yang berlari dibelakangnya. Matanya menyipit meremehkan namun sekilas senyum tipis terukir diwajahnya.
"Kau sudah lihat pengumuman nilai hari ini, Teme? Aku yakin bisa mengalahkan kau dan Shika-kun!" ucap pemuda yang dipanggil Dobe itu. Ia kini berada disamping pemuda berambut emo dan mengiringi langkah sahabtnya. Rambutnya yang kuning terang, berkilau diterpa cahaya mentari pagi bergerak lembut mengikuti angin seakan segumpal kapas. Deru nafas terdengar keras menandakan ia telah berlari jauh.
"Kau terlihat yakin, Dobe. Seingatku kau selalu dibawahku dan Shikamaru," ujar pemuda berambut emo. Iris matanya memancarkan kepercayaan diri yang kuat.
" Lebih dari sekedar yakin, Teme. Aku bukan seperti kau, anak ayam yang sok keren dan rusa pemalas yang selalu tidur dikelas itu. Menyebalkan. Kalian itu makan apa ha?"
"Aapa? Anak ayam...!" suara remaja berambut emo terporong suara yang terdengar dibelakangnya.
"Sepertinya aku mendengar suara yang tak menyenangkan di pagi hari, Naruto? Seperti wanita-wania yang suka bergosip," suara berat menimpali dibelakang pemuda berambut jabrik.
"He..he.., Shika-kun? Kapan datang.?" Suara Naruto sedikit bergetar. Keringat membanjiri pelipisnya. Sial sekali, pagi-pagi ketahuan menjelek-jelekkan pemuda berambut pony tail itu. Naruto segera mengambil ancang-ancang berlari.
"Hem, sepertinya kau lupa akibat menjelek-jelekkan temanmu, rubah." Mata kuaci melirik pemuda berambut emo, yang langsung dijawab dengan anggukan.
Shikamaru menggapai leher Naruto sebelum pemuda itu sempat melarikan diri. Tangan kanannya menjitak pelan kepala si rambut durian itu. Disambut gelak tawa dari sang korban.
"Dan ini hukuman dariku."
Jtak. Sebuah jari telunjuk mendorong pelan dahi Naruto.
"Gyyahh, Kalian bersekongkol!"
Semua mata mengarah pada ketiga pemuda yang bersinar itu. Seakan tidak ada ruang pemisah diantara mereka dan remaja tanggung itu. Seakan, ya? Entahlah.
.
.
.
"Peringkat 3? Lagi-lagi elf itu mengalahkan kita!"
"Padahal dia hanya makhluk campuran, mengapa ia bisa?"
"Hah, kau lihat kan, dia bermain dengan keluarga Uchiha dan Nara. Wajar lah. Mungkin saja dia mempergunakan mereka."
Pembicaraan itu berhenti ketika sebuah pandangan menusuk mengintimidasi gerombolan yang berdiri di depan papan pengumuman.
"Kalian saja yang terlalu sombong dengan darah kalian," desis Uchiha bungsu. Matanya menatap dengan pandangan merendahkan. "Peri-peri pecundang."
Ucapan Sasuke kontan membuat suasana semakin hening. Setelah melihat papan perngumuman sekilas ia meninggalkan gerombolan peri, meninggalkan Shikamaru dan Naruto.
"Sasuke!" teriak Naruto langsung mengejar sahabatnya yang sedang emosi. Padahal ialah seharusnya marah. Lah kenapa si emo itu yang sewot?
Naruto menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. "Teman-teman, maafin teme ya! Dia tak bermaksud kasar kok. Hehehe," ucapnya disertai cengiran khas lima jarinya. Setelah itu ia kembali mengejar Sasuke yang tekal menghilang dibelokan tangga.
Gerombolan itu menarik nafas lega setelah kepergian Sasuke dan Naruto.
"Kalian seharusnya berpikir sebelum mengatakan hal itu," ucap Shikamaru pelan. "Selalu ada tempat untuk orang yang memiliki kemampuan dan begitu pula sebaliknya."
Ucapan itu menohok langsung pada mereka. Memang mereka sering memperolok kaum elf. Keturunan peri dan manusia. Memang termasuk kasus angka namun populasi elf meningkat dari tahun ke tahun walau tidak signifikan.
Elf adalah makluk yang bisa disebut separuh peri separuh manusia. Semua elf tak memiliki sayap dan tidak berumur sepanjang peri. Tapi mereka memiliki tubuh maupun wajah yang indah (atau sangat indah ?), telinga yang lonjong dan kadang kala memiliki kekuatan kaum peri. Kadang kala? Yah, sering kali keturunan peri-manusia hanya menghasilkan anak yang 'cantik' namun tak memiliki kekuatan seperti manusia. Mau tak mau mereka tidak diperkenankan tinggal di dunia atas. Sedang beberapa yang beruntung masuk ke akademi dunia atas untuk digembleng, setidaknya untuk menjadi prajurit dunia peri.
Uzumaki Naruto, elf yng lahir dari pasangan Namikaze Minato seorang direktur perusahaan Namikaze Group dan Uzumaki kushina, peri angin yang kini telah mengundurkan diri dari dunia peri dan memilih untuk tinggal bersama Minato di dunia manusia, dengan segala konsekuensi. Ah, elf yang tinggal di dunia atas tidak diperbolehkan menggunakan nama keluarga sang ayah.
"Sasuke, kau disini?" suara remaja Uzumaki menggema di lantai teratas gedung sekolah.
Tidak ada jawaban. Mata sapphire langsung menyapu area atap itu. Disudut gedung terlihat pemuda berkulit pucat berbaring.
"Suke," panggil Naruto pelan. Perlahan-lahan ia mendekati pemuda emo itu dan merebahkan tubuhnya disebelah tubuh yang pucat itu. "Masih marah?"
"Hn." Sasuke menutup kelopak matanya.
"Kenapa marah?" tanya pemuda berkulit tan itu sambil memiringkan tubuhnya agar ia bisa lebih leluasa menatap bungsu Uchiha itu.
"Hn." Kali ini Sasuke membuka matanya.
"Sudah berkali-kali aku katakan, 'suke. Kau tak usah memarahi mereka. Kau hanya akan menghabiskan energimu saja."
"Hn." Pemuda emo menolehkan wajahnya, menatap dengan pandangan tak suka. "Dobe, diamlah." Sebuah kalimat yang cukup menusuk. Namun tak berefek apapun terhadap pemuda yang pada disampingnya.
"Teme, kau mau membolos?" tanya Naruto lagi. Kali ini ia bangkit dri tidurnya. "Ya sudah, aku ke kelas dulu. Semakin bagus kan kalau kau membolos. Posisi pertama akan jatuh ketanganku, Teme," sebuah serengai terlihat dari bibir. Naruto menupuk-nepuk pakaiannnya dan melangkahkan kakinya.
Jtak. Seperti de ja fu. Sebuah jari telunjuk mendorong pelan dahi pemuda berambut kuning itu.
"Kau terlalu banyak berkhayal, dobe. Ku tunggu kau di kelas," suara berat terdengar lirih di telinga kiri Naruto disertai hembusan nafas yang membuat si empu telinga sedikit tergidik. Sebuah cahaya merah terbias sejenak dan kemudian menghilang. Meninggalkan Naruto sendiri di atap sekolah itu.
"Arigatou ne, Sasuke," bisik Naruto sangat-sangat lirih. Tangan kanannya menyentuh dahinya lembut. "Kau selalu ada."
.
.
End of flash back
.
.
Seketika tangan kiri sensei berkulit tan menyentuh daun telinga kiri. Merabanya pelan. Mata sapphire akhirnya tertutup sempurna oleh kelopak mata. Selanjutnya di ruangan itu hanya terdengar suara helaan nafas yang beraturan. Menghantar setiap penghuni perfektur konoha ke dalam alam mimpi.
.
.
Sensei, onegai...
.
.
"Ada yang aneh dengan jantungku," bisik pemuda berambut hitam itu. Mata onix-nya mengarahkan pandangan ke arah langit malam yang kelam pekat.
"Ini tak sepeerti biasa," ia menyentuh dadanya. Perasaan penuh apa itu? Perasaan apakah yang telah mengisi rongga dadanya yang membuat dadanya serasa sesak. Dan ia yakin ia pernah merasakan perasaan ini. Tapi entah dimana.
Kriiieeekkk, suara pintu mengejutkan pemuda bermata onyx itu tapi tak membuat wajahnya melepaskan ekspresi stoik yang seperti telah terpatri di wajahnya. Matanya segera mencari tahu siapa yang berani memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu. Namun pupil mata pemuda ini melebar mendapati sosok kakaknya yang berdiri didepan pintu kamarnya.
"Otouto, kau sibuk?" sapa pemuda yang terlihat lebih dewasa dari pada umurnya. Matanya memiliki sorot yang sama seperti Sasuke namun lebih tajam. Rambut pun berwarna sama hanya saja style rambut panjang a la preman namun lebih tertata.
"Ada apa aniki?" tanya Sasuke heran. Tak biasanya ia dipanggil oleh kakak laki-laki satu-satunya ini. Biasanya mereka hanya saling sekedar saling menyapa ringan ketika berpapasan atau di meja makan. Mereka seperti berada di dua dunia yang berbeda.
Itachi, nama kakak laki-laki Sasuke, tak menjawab. Ia tetap melangkah menuju keluar kamar Sasuke menuju kamarnya. Entah hanya perasaannya atau memang akan ada sesuatu akan terjadi, ia merasakan jantungnya berdetak cepat.
Ada apa? Kenapa kakak laki-lakinya yang biasanya tak menyadari keberadaannya, kini malah memanggilnya. Tak ada jawaban kecuali bunyi derap sepatu yang bergantian dan detak jam dinding kayu tua yang tertata rapi diruang tengah.
.
.
To Be Continue
.
.
Author note- A/N
Emm pendek ya? Mau gimana lagi T_T. BTW seperti fic chap 1, 2, 3, 4 dan 5 disini Yuki memohon review, saran, kritikan segala pihak. Yukii nggak meremehkan satu kritik dan saran pun, terutama EYD, penulisan, dan alur.
Tak segan-segan pula Yuki menerima flame dalam bentuk apapun. Karena flame pun adalah suatu bentuk apresiasi terhadap fic ini. ^_^
...
...
...
Arigatou Gozaimasu for read and review...
