Tangan kirinya memegang kuas, meski terlihat kaku namun ia tetap berusaha untuk mencelupkan serabutan bulu tersebut untuk mengambil warna. Percobaan pertama ia gagal, kuas terjatuh mengotori lantai dengan warna orange, bukan cacian atau keputusasaan yang dilontarkan, melainkan tangan kirinya kembali mencoba memegang kuas, memulai dari awal hingga bisa menorehkan warna di atas kanvas.
Ini semua demi seseorang, bukan hanya untuk dirinya ataupun demi pujian semata. Ayah dan ibu, itulah tema lukisan yang sudah Natsu persiapkan sejak dahulu. Meski sekarang mereka berdua sedang konser keliling Eropa, tidak ada alasan baginya untuk melupakan wajah orangtuanya sendiri. Natsu menghela nafas, menenangkan diri dan mulai berusaha menggoreskan warna. Begitu terlihat kaku dan dipaksakan, namun ia tetap melukis, tekadnya sudah bulat sekarang, tak boleh ada kata menyerah yang terlontar dari mulutnya.
Kriingg…kriing…
Telepon berdering terus-menerus, membuat kegaduhan di sekitar ruang tamu. Akan tetapi Natsu tetap fokus melukis, paling hanya Lucy ataupun orang iseng, begitulah pikirnya. Kalaupun memang itu Lucy, ia hanya perlu berkata yang sejujurnya tentang keinginan untuk melukis kembali, karena Lucy juga mengambil andil cukup besar dalam upaya membuatnya kembali melukis.
"Mungkin aku harus mengucapkan terima kasih setelah lukisan ini selesai"
Selesai ya…mungkin tidak akan secepat dan sebagus dengan menggunakan tangan kanan, tetapi "bisa karena biasa" sudah menjadi prinsipnya. Setelah selesai, setelah ayah dan ibunya pulang dari Eropa, Natsu akan menyambut mereka dengan senyum tanpa kesedihan sedikitpun. Soal tangan kanan itu? Mungkin akan dirahasiakan beberapa saat, kalau bisa selama-lamanya malah.
"Aku tidak tau apa lukisan ini akan terlihat bagus atau tidak, tetapi selain terlihat bagus, niat dari sang pekukis juga harus bisa dirasakan oleh para penikmatnya, baik secara langsung maupun tidak"
Merasa tangan kirinya agak sedikit sakit, Natsu memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil meneguk teh hangat. Tidak ada lagi Juvia yang menemaninya ketika sedang santai, tidak ada lagi senyum dari orang yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri. Sendirian di ruangan putih itu cukup membuatnya bosan sesaat, padahal biasanya rasa bosan ataupun lapar bisa diperangi dengan begitu mudah.
Ting…tong..
Siapa sih yang menekan bel pada jam segini? Hari sudah mulai larut, tidak ada lagi aktivitas dari para tetangga sekitar. Selama menuruni tangga Natsu menerka-nerka siapa yang menekan bel tersebut, palingan Lucy atau mungkin ayah dan ibunya? Semoga saja jatuh pada pilihan kedua…pintanya dalam hati memohon sebanyak mungkin.
CKLEK!
"Yo Natsu" sapa Lucy terdengar akrab, membuat Natsu tersenyum sesaat, senyuman kekecewaan
"Lucy rupanya, ada apa?" sekarang Natsu tidak lagi menjawab dengan cuek ataupun terkesan membenci, ia menjadi lebih lembut dan menampilkan sorot mata bersahabat
"Aku ingin memberikan ini padamu, terimalah!" ucapnya menyodorkan kotak dengan bungkusan kain bermotif garis-garis
"O-oh, terima kasih" Natsu menerimanya ragu-ragu, baru kali ini ada yang memberinya hadiah? Bukan seperti itu mungkin, bingkisan, sebut saja begitu
"Tangan kirimu terlihat aneh, ada apa?"
"Ini ya…aku kembali melukis" berita Natsu tersenyum sambil memandangi tangan kirinya yang agak lecet, merasa senang bisa memberiatukan hal ini pada idolanya
"Benarkah? Kamu tidak main-main bukan?" tanya Lucy memastikan sekali lagi
"Mana mungkin aku main-main tentang melukis!"
"Natsu, kumohon berjanjilah satu hal padaku" ekspresi Lucy yang awalnya kaget bercampur senang kini menjadi serius
"Berjanji apa?"
"Apapun yang terjadi, tetaplah melukis. Kalaupun ada badai menerjang, kau harus bisa bangkit berdiri dan terus melangkah maju. Jikalau tanganmu tak mampu, ingatlah kembali akan mimpi-mimpimu. Jangan pernah melupakan segala usahamu selama ini, orang-orang terdekatmu juga hal-hal yang kamu cintai"
Gaya bahasanya sedikit berlebihan memang, tetapi Lucy tidaklah bermain-main. Kedua bola mata itu mengekspresikan semuanya, harapan, semangat, semua terpancar jelas.
"Baiklah, aku akan membuat janji itu terkabul" ucap Natsu mantap
"Kalau lukisanmu sudah selesai, beritau aku ya"
"Mungkin agak jelek atau malah sangat jelek, saat melihatnya jangan tertawa ataupun mengejek ya"
"Tenang saja tenang, aku percaya padamu Natsu"
Gaun hitam yang kala itu dikenakan oleh Lucy membuat perasaannya tidak karuan, dag-dig-dug, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa. Rona merah menyemburat di kedua pipinya, membuat pemuda bersurai salam itu memalingkan wajah sesaat dari padangan mematikan Lucy.
"Pakaianmu hari ini terlihat bagus, mau pergi?" tanya Natsu mencoba mencarikan suasana tegang
"Ya, hari ini saudara jauhku akan menikah, jadi sudah dulu ya"
"Bye"
Lucy melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam legam tersebut, pergi dengan kecepatan penuh menuju suatu tempat di luar kompleks. Natsu segera masuk karena angin bertambah kencang, di atas meja makan ia membuka bingkisan dari Lucy, membaca sebuah kartu dengan pita berwarna pink di tengahnya.
Setelah memakan ini kamu pasti akan semangat, berjuanglah Natsu!
-Lucy-
Selain ucapan semangat yang Lucy tuliskan di atas kartu, gambarnya dalam versi chibi sambil memegang kuas cukup menarik perhatian Natsu. Begitu detail dengan goresan terkesan lembut, membuatnya nampak lucu namun masih terlihat tampan. Daripada dibuang lebih baik disimpan, anggap saja ia mendapat hadiah dari sang idola, Natsu memasukannya ke dalam kantong baju, memutuskan jika semangatnya turun akan melihat kartu tersebut sebagai pemicu semangat.
"Terima kasih Lucy…aku tidak lagi merasa sendiri sekarang"
Keesokan harinya…
Kriingg…kriing…
Kriingg...kriing…
Kriingg…kriing…
Pagi-pagi begini sudah berisik, apalagi telepon terus berdering tanpa henti. Natsu yang saat itu masih dalam keadaan setengah sadar terpaksa mengangkat ponselnya, menerima telepon dan mendengarkan seseorang tengah berbicara, selang beberapa menit Natsu menjatuhkan ponsel, mengganti pakaian dengan jas hitam dan berlari keluar rumah. Nafasnya tersengal-sengal, air mata hampir berada di ujung pelupuk dan akhirnya Natsu benar-benar menangis, tanpa suara, tanpa seorangpun yang tau.
Sesampainya di suatu tempat…
"Natsu, kamu lama sekali" ucap seorang wanita setengah baya berlari kecil menghampiri Natsu, nampak khawatir dan juga sedih
"Ini…ini bohongkan…"
"Yang tabah ya nak, tante tau ini sulit bagimu, tetapi kenyataan tetap harus dihadapi"
"Tidak, tidak!"
Berteriak dan kemudian menangis, Natsu sudah seperti anak berumur lima tahun tengah merengek-rengek minta dibelikan mainan, tetapi ia lebih sedih dibandingkan itu. Natsu berjalan sambil menundukkan kepala, menatapi foto kedua orangtuanya yang sudah berpulang pada Tuhan. Ternyata telepon yang kemarin berdering ingin menyampaikan bahwa ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan pesawat, Natsu menyalahi diri sendiri terus-menerus, kenapa dia tidak menerima telepon itu, kenapa hal ini harus terjadi?!
"Kenapa, kenapa kalian meninggalkanku?"
"Padahal aku selalu menunggu kalian pulang dari Eropa, membawakanku oleh-oleh, bertanya tentang bagaimana keadaanku, sekolahku, aku, aku benar-benar mengharapkan itu semua!"
"Dan juga, aku sebagai putra semata wayang merasa menyesal, tidak sempat meminta maaf atas kesalahan yang pernah kuperbuat di masa lalu. Ayah, ibu, apapun kesalahanku kumohon maafkanlah, dengan begitu tidak ada lagi penyesal dalam diriku. Berkumpullan di surga dengan tenang, bersama Juvia-san juga kakek dan nenek"
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Natsu katakan, hanya saja sudah cukup untuk sekarang. Seorang wanita bersurai pirang tengah berada di belakang punggung Natsu, merasa iba dan turut berduka cita atas kematian kedua orangtuanya yang tidak di sengaja.
"Natsu…" panggil Lucy terdengar sedih, membuat Natsu menengok ke arah belakang
"Yo Lucy" sapa Natsu terdengar lemas
"Aku turut berduka cita atas kematian ayah dan ibumu, percayalah mereka sudah memaafkan kesalahnmu di masa lampau"
"Terima kasih atas semangatnya, untuk bingkisan itu dan juga kartu ucapannya" mengucapkannya sambil terpaksa tersenyum, membuat hati Lucy seakan diiris pisau
"Kamu akan tetap menepati janjimu bukan?"
"Ya, tenang saja. Lelaki sejati tidak akan mundur karena hal kecil"
Hal kecil? Kau terlalu memaksakan diri Natsu…gumam Lucy dalam hatinya, memandangi sang pemuda pergi dari tempat pemakaman.
"Apapun yang terjadi, tetaplah melukis. Kalaupun ada badai menerjang, kau harus bisa bangkit berdiri dan terus melangkah maju. Jikalau tanganmu tak mampu, ingatlah akan mimpi-mimpimu. Jangan pernah melupakan segala usahamu selama ini, orang-orang terdekatmu juga hal-hal yang kamu cintai"
Kalau dipikir-pikir perkataan tersebut memiliki makna tersendiri, Lucy pasti sudah tau terlebih dahulu tentang kematian kedua orangtuanya, hanya saja ia menyembunyikan hal itu, membiarkan Natsu mengetahuinya sendiri.
Ia sudah sampai di sebuah rumah besar dengan halaman di belakang rumah, pagar putih yang membatasi kediamannya dengan keluarga Heartfilia dipandangi lekat-lekat, teringat kembali akan pertemuannya pertama kali dengan Lucy. Natsu masuk ke ruangan putih tersebut, menyingkirkan kain putih yang menutupi lukisannya. Lukisan kedua orang tuanya tengah tersenyum, terasa hidup seakan memang memberikan senyuman langsung kepada sang anak tercinta.
"Mungkin ini adalah kado terakhir yang bisa kuberikan pada kalian, meskipun haslinya jelek ayah dan ibu pasti menyukainya bukan?" tanya Natsu berbicara sendiri, menerawang jauh ke atas langit-langit ruangan
Tetapi tetap saja, ia belum bisa menerima kenyataan tentang berita duka dadakan ini. Diam-diam di dalam ruangan tersebut, Natsu menangis seorang diri, meringkuk di pojokan, membenamkan mukanya pada kedua kaki. Setelah ini harus bagaimana?
Sore menjelang malam…
Merasa suntuk, Natsu memutuskan untuk keluar dan mencari angin segar, meski ia hanya sebatas pergi ke halaman depan rumah. Siapa sangka Lucy juga berada di halaman depan rumahnya, menunggu matahari terbenam di ufuk barat.
"Akhirnya kamu keluar juga dari rumahmu"
"Hanya ingin berganti suasana, sedang menunggu matahari terbenam?" tanya Natsu sekedar basa-basi
"Ya begitulah, matahari terbenam dari sini sangat indah, kau harus menyaksikannya!"
Duduk bersebelahan dibatasi pagar berwarna putih, di atas rerumputan hijau yang diterpa sinar mentari sore, bersama dengan sang idola juga temannya, Lucy Heartfilia. Kejadian pertama kali dalam hidup, begitu berharga dan tidak boleh dilewatkan, Natsu sempat tersenyum tipis, merasakan kehangatan meski jarak mereka berdua agak berjauhan.
"Hey…aku selalu berpikir tentang seperti apa dirimu"
"Maksudmu?" tanya Natsu tak mengerti
"Bagiku kamu terlihat seperti bunga matahari, begitu terang dengan impian berwarna kuning, cerah dengan semangat membara. Tetapi kamu nyaris layu karena kekurangan sinar matahari, juga kasih sayang. Aku ingin kamu menjadi bunga matahari yang mekar dengan sempurna…"
"Lucy…"
"Hadapilah matahari dengan tegar, tataplah langit biru dengan semangat berkobar di kedua bola mata, rentangkan kedua tanganmu berani, tantanglah dunia ini dengan kuas di tangan kirimu, buatlah impianmu menjadi berwarna kuning, karena bagiku…"
"Kamu seperti bunga matahari, bunga favoritku sampai kapanpun…"
Lucy mengatakan semua itu bertepatan dengan matahari terbenam, membuat Natsu membatu seketika tanpa bisa mengatakan apapun. Daripada disebut mangaka Lucy lebih cocok menjadi seorang pujangga, kata-katanya terdengar indah, memiliki makna mendalam dan puitis. Pada hari itu, Natsu menemukan sisi lain dari seorang Lucy Heartfilia, membuatnya semakin mengagumi sang mangaka.
"Aku tidak tau apa bisa menjadi bunga matahari seperti perkataanmu barusan, tetapi jika mencoba tidak ada salahnya bukan?"
"Kamu ini…jangan membuatku menangis…"
"E-eh, tapi kenapa?"
Di bawah sinar bulan, mereka berdua masih duduk bersebelahan di batasi pagar pembatas. Lucy menangis penuh haru memecah keheningan malam, sedangkan Natsu merasa bingung harus berbuat apa. Mulai dari sinilah karier Natsu akan dimulai kembali, dan mulai dari sini juga akan datang lebih banyak kejutan dari Tuhan.
Bersambung…
Balasan riview buat chap 4 dan 5 (maaf banget baru dirivew skrg, bukanny cek riview ak lngsng publish chap baru!)
Anonim (chapter 4) : bisa diblg memang Lucy pny kekurangan, ya namany juga manusia hehehe...thx ya udh riview, saya senang sekali hehehe, maaf juga kalau baru dibales skrg, lupa cek riview (pikun mode on)
Anonim (chapter 5) : Bener tuh, Natsu tangan kiri Lucy tangan kanan, saling bahu membahu :D Thx ya udh riview lagi, tgg chap 6nya oke?
Kaoru Dragneel (chapter 5) : Syukurlah kalo bagus dan kamu suka hehehe :D Iya boleh kok panggil Merlin-san, oke dehh kamu pasti bisa, ganbatte juga ya!
