Mine: Lost
Disclaimer: semua Charater yang ada di sini punya-nya Mom Jo, kecuali Draco and Harry#dicincang
Warning : Typo, Gaje, amat sangat OOC dan author masih amatir, yang tidak berkenan silahkan klik back, yang berkenan silahkan di baca dan kasih reviewnya yah.
"Karena pada akhirnya, aku tak akan pernah membiarkan apapun yang ku miliki hilang untuk kedua kalinya, tak akan ku biarkan malaikat kecilku merasakan kepedihan seperti yang pernah ku rasakan."
Hermione POV
Aku terbangun dengan mata membengkak hasil dari menangis semalaman. Aku menatap jendela kamar ku yang sudah terbuka, dalam hati aku bertanya siapa yang membukanya? Aku bangun dari tempat tidur ku dan mendapatkan sebuah surat ada di atas meja belajarku, dan sebuah album foto, aku membuka surat itu dan mendapati tulisan yang sangat ku kenal. Tulisan Dad.
"Dear My Little Princes, Hermione…
Aku tahu ini melanggar kesepakatan kita kemarin dan aku tahu ini melanggar permintaan mu. Jangan takut, My Little Princes, ini terakhir kalinya aku akan memanggil putri kecilku seperti itu. Sesuai dengan semua permintaan yang kau inginkan, aku tak akan membuat Helena menderita lebih lama lagi, dan aku juga tak akan berada di dekatmu, berbicara dengan mu, dan memberikan perhatian pada mu lagi, tak ada lagi mengirimu surat, dan buku-buku ke Hogwarts. Well, aku akan sangat kehilangan putri kesayangan ku. aku tahu ini semua berawal dari kesalahan ku, dan aku tahu aku harus membayarnya. Kau boleh membenciku, seperti yang ku katakan semalam, tapi kau juga harus tahu aku akan selalu menyayangi mu.
Aku tahu kau membenciku, dan mungkin pintu maaf sudah tertutup untukku, kau tahu setidaknya keputusanku untuk mengakhiri semuanya dengan Helena membuatku merasa sedikit lega, lega karena aku tak harus membentak Helena lagi, dan menyiksanya semakin lama lagi, Lega karena aku tak harus mendengar putriku menangis setiap tengah malam, dan mengintip pertengkaran kami, bahkan aku tak perlu pura-pura tak perduli, dan menghindari kalian lagi. Aku tak tahu apa yang di katakan Helena, tapi aku yakin dia berfikiran kalau aku memiliki wanita lain, apa aku benar? Mione, semua hal menjadi jauh lebih rumit sejak dua tahun yang lalu. Semuanya berantakan, sejak kami tinggal di Australia, seorang wanita bernama Caroline, selalu berusaha menghancurkan hubungan rumah tangga kami, dan bahkan mengancam ku, kalau aku tak meninggalkan Helena dan membuat nya membenciku, dia akan menyakiti kalian bahkan tak akan segan-segan membunuhmu. Apa kau faham sekarang? aku bersama Caroline saat ini, tapi aku tak akan pernah merasa bahagia, kebahagiaan ku ada saat aku bersama kalian, meninggalkan kalian sama dengan meninggalkan separuh hidupku.
Jangan katakan hal ini kepada Helena, biarkan saja dia membenci ku. aku pantas mendapatkan itu karena sudah melukainya dan melanggar janjiku pada kakekmu. Aku tak bisa menjaganya lagi, dan aku tak bisa menjaga mu, Maafkan aku. maukah kau berjanji satuhal padaku? Kau tak perlu memaafkan ku, aku hanya ingin kau menjaga Helena dan menghapus airmatanya, dan membuat senyumnya kembali mengembang, aku tahu kau bisa melakukannya karena kau putri kami yang sangat luar biasa. Setelah membaca surat ini, jangan pernah mencariku lagi, aku hanya tak ingin kau terluka karena ulah Caroline. Aku mencintai Kalian, selamanya. Dan maafkan aku untuk segala hal yang aku lakukan selama ini, dan karena aku telah membuat kalian berdua menderita, maafkan aku.
William Greanger
Np: aku tak keberatan kalau kau ingin mengganti nama belakang mu, aku tahu kau mungkin membenci ku. dan maaf karena aku tak akan pernah bisa mengantar mu dan mendampingi mu saat hari pernikahan mu dengan pendamping mu suatu saat nanti. Aku menyayangi mu, dan Helena. Selamanya."
Aku menghapus airmataku yang kembali mengalir setelah membaca surat ini, dan mengambil album foto yang ada di atas meja ku, isinya semua foto-foto ku saat masih kecil, dan Dad memberikan sebuah komentar di setiap fotonya, aku tahu setelah semua ini berakhir, aku tak akan bisa merasakan kasih sayangnya lagi. Aku sangat mencintai Daddy, seandainya aku sempat mengatakan Hal itu sebelum ia pergi, bukan mengucapkannya tanpa ia dengar seperti ini. Maafkan aku Dad, dan ku mohon, jangan pernah maafkan aku, karena sudah berani meminta hal sekejam itu dan membuatmu pergi dari kehidupan kami, Bagaimanapun juga, itu ternyata bukan salahmu, kau tak pernah menginginkannya, tapi kenapa kau juga tak pernah menceritakan tentang Wanita sialan itu padaku atau jujur mengatakan semuanya kepada Mom? Kalian mungkin tak harus berpisah seperti ini, dan sampai aku mati Nama ku tak akan pernah ku ubah, kecuali kalau aku sudah menikah, itu sebuah pengecualian.
Aku mencuci mukaku dan menggosok gigiku, setelah itu aku mengganti piamaku, dan turun ke lantai satu, aku menuruni tangga dan berjalan keruang tamu, ada yang berbeda di sini, Foto kami bertiga sudah tak terpajang lagi di sana, aku langsung berlari ke dapur dan mendapati Mom duduk dimeja makan sambil meminum secangkir kopi yang biasa di minum Dad, matanya memandang lurus kedepan dan sesekali air matanya mengalir.
"Mom?" Panggilku, Mom menoleh kearah ku dan memaksakan senyumnya.
"kau sudah bangun, Sweetheart?" Katanya, aku mengangguk dan duduk di hadapannya sambil meminum susu yang sudah tersedia di sana, dan memakan sepotong roti bakar dengan selai kacang favorite ku, dulu aku memakannya sangat lahap dan Dad sering mentertawaiku, tapi sekarang aku sama sekali tak bersemangat memakan Roti ini.
"Mom, kemana semua foto-foto kita di ruang tamu?" Tanya ku
"aku mencopotnya dan ku simpan di gudang, ada apa, Dear?" jawabnya
"tapi kenapa?" Tanyaku
"Aku… harus bisa terbiasa hidup tanpa ayahmu mulai saat ini, kan?" Ujarnya, aku kembalu menelan kepahitan yang kurasakan, kenyataan kalau kedua orangtuaku telah berpisah kembali menyiksaku.
"apa… Dad sudah pergi?" Tanyaku lagi
"ya, tadi pagi-pagi sekali, aku lega karena hal itu…" ujarnya dibuat semeyakinkan mungkin, tapi aku tahu kalau sinar matanya redup dan dia berbohong.
"kau bohong, Mom, kau tidak lega sama sekali, tapi beban mu bertambah, kau… tidak bisa berpisah dari, Dad, apa aku benar?" kataku, Mom hanya diam dan kembali meminum kopinya.
"tidak biasanya Mom minum kopi seperti ini, tumben sekali." Kataku
"hanya ingin minum saja, aku bosan dengan Camomail tea." Ujarnya, aku hanya mengangguk, aku tahu sebenarnya Mom minum kopi itu pasti karena Mom merindukan Dad. Aku menghela nafasku, Bahkan di saat seperti ini Ron tak peduli padaku, apa dia masih mencintaiku? Atau aku dan dia akan berakhir juga? aku mendesah pasrah, dia tak pernah memiliki waktu untukku, setiap kali aku ingin menceritakan hal ini padanya ataupun menangis di pundaknya, selalu banyak alasan yang dia berikan untuk menghindar, dan akhirnya, Harry yang selalu ada di saat aku benar-benar membutuhkannya. Harry, apa yang dia lakukan pagi ini? Aku benar-benar ingin segera bertemu dengannya dan membicarakan hal ini dengannya, aku ingin beban ini segera terlepas dari ku.
"kau harus siap-siap Mione, sekarang sudah jam delapan, satu jam lagi kita berangkat ke Kings Cross. Aku yang akan mengantar mu." Ujarnya, aku menangguk, dan setelah menghabiskan sarapanku, aku langsung ke atas untuk bersiap-siap.
Kings Cross masih terlihat sangat Lenggang, saat menginjakkan kaki di stasiun ini, bahkan saat berangkat dari rumah aku merasa seseorang membuntuti kami, dan ternyata benar, sekilas, aku melihat Dad mengikuti kami secara sembunyi-sembunyi. Mungkin ini karena permintaan kejam ku semalam padanya? Dad, aku sangat ingin tahu dimana kau tinggal bersama wanita sialan itu sekarang. aku menghela nafasku, dan menghentikan langkahku di Peron 9 ¾
"Mom, kau cukup mengantarku sampai disni, Mom boleh kembali kerumah sakit, kok! Aku yakin pasien Mom sudah menunggu sekarang." jawabku, dan sesekali menoleh ketempat Ayahku berdiri tadi dan dia masih di sana, memperhatikan kami, dan tersenyum padaku. Dad, aku rindu senyum itu.
"kau yakin? Pasien ku bisa menunggu, Kok!" Ujar Mom, aku buru-buru menggeleng.
"aku serius, Mom…" Ujarku
"kalau begitu setelah kau masuk ke Peron itu, aku akan langung ke rumah sakit." Ujarnya.
"baiklah…" kataku, aku langsung menembus Peron 9 ¾ dan saat aku sudah ada di dalam peron itu aku hanya berdiam diri selama sepuluh menit lalu setelah itu keluar lagi, mencari-cari Ayahku, tapi aku sudah tak menemukannya, aku menatap lesu tempat dimana terakhir kali aku melihatnya. Well, Daddy, kau memang tak mengantarku, tapi kau membuntuti ku, itu sama saja dengan melanggar perjanjian kan? aku baru saja akan berbalik saat mendengar Harry memanggilku, dan aku menoleh.
"Mione!" Panggilnya, aku menoleh kearahnya dan melambai.
"Mereka tak mengantar mu?" Tanya Harry, aku hanya tersenyum kecut medengar pertanyaan sahabatku yang satu itu, lalu menggeleng.
"Hanya Mom, yang mengantar dan Dad membuntuti kami." Ujarku, Harry menaikkan sebelah alisnya dan bertanya padaku.
"Maksudmu?" Tanyanya
"akan ku jelaskan nanti, Ngomong-ngomong aku punya kejutan…" Ujarku
"Aku juga punya kejutan untukmu, tapi kau duluan saja…" Ujarnya, aku mengangguk dan menunjukkan lencana ketua murid milikku.
"Mione jadi kau, ketua murid perempuan Tahun ini?" ujarnya
"Ya, dan apa kejutan mu?" Tanyaku
"TADA!" Ujarnya sambil menunjukkan lencana ketua murid, tunggu, lencana ketua murid? Itu berarti dia…
"Kau ketua murid laki-laki tahun ini? Demi Merlin! Harry!" aku langsung memeluknya dan melepaskan pelukan kami saat medengar dehaman seseorang, aku dan Harry menoleh bersamaan dan mendapati Ron sudah berdiri di samping kami.
"Jadi, apa aku ketinggalan sesuatu?" Tanyanya
"Hai, Darl!" Ron menyapaku, dan mencium ku sekilas.
"Hai.." Balasku singkat.
"Jadi apa yang terjadi di sini?" Tanya Ron lagi
"kami berdua ketua murid!" Kataku dan Harry bersamaan, Ron hanya diam
"Hei, Mate?" Panggil Harry, Ron tersentak dari lamunannya dan menatap kami bergantian.
"ku kira si Malfoy itu yang akan menjadi ketua murid laki-laki, tapi aku beruntung kau yang terpilih, setidaknya kau orang yang bisa ku percaya tak akan macam-macam pada Hermione, apa lagi kau merebutnya." Ujarnya, membuatku dan Harry Tertawa mendengar penjelasannya
"Aku akan merebut Mione, saat kau sudah putus dengannya atau kau menyakitinya." Ujar Harry sambil terkekeh dan Ron membalas cengirannya. Sementara aku mempertanyakan apa maksud kalimatnya.
"Jadi, kalian tak akan satu kopartement denganku? Aku akan sangat terlihat menyedihkan tahu!" Gerutu Ron
"Jangan berlebihan, Ronald! Masih ada Luna dan Nevile kan?" kataku
"ah, dan Ginny tentunya!" ujar ku lagi, tapi langsung berhenti saat melihat perubahan airmuka Harry.
"Well, Mate, aku tak akan membela Ginny karena masalah kalian putus, itu salahnya, jadi aku tak akan membela adikku untuk kali ini." Katanya, Harry hanya tersenyum kecut dan tak menanggapi nya.
"Harry, kita harus ke kopartement sekarang, sebelum banyak anak kelas satu dan yang lainnya datang. Ayo!" Ujarku, lalu menarik tangan Harry dan Ron masuk kedalam peron 9 ¾ .
Kereta sudah mulai berjalan sementara aku, dan Harry duduk di Kopartement ketua murid, kami menghabiskan waktu dengan membicarakan masalah keluargaku, aku bahkan sudah menceritakan tentang rencana perceraian mereka dan alasan Dad melakukan itu. Harry tiba-tiba berdiri dan mengambil baju seragamnya, aku menaikkan alisku dan memandangnya dengan pandangan bertanya.
"Kau mau kemana?" tanya ku
"Ganti baju, kita harus patrolikan? Dan mengingatkan anak-anak untuk mengganti seragam mereka, belum lagi memeberi tugas kepada Para Prefect untuk membantu Patroli kita."jelasnya, aku menepuk dahiku dan langsung mengambil seragamku juga, kalau begitu, kita bareng.
"kau tidak bercanda kan? aku masih ingin hidup Mione!" aku tahu arah pembicaraan Harry
"ampun deh, bukan bareng dalam arti itu Harry, kitakan bisa gantian pakai kamar mandinya! Dasar Pevert!" Ujarku, Harry hanya tertawa dan berjalan keluar kopartement dan aku mengikutinya, tapi langkahku terhenti saat melihat sesuatu yang membuat ku nyaris jantungan.
"Ron…" Ujarku
"Mi… Mione…" Ujarnya gelagapan dan memisahkan dirinya dari Lavender.
"oh… Hallo Greanger…" kata Lavender santai.
"Jadi, ini semua penyebab hubungan kita merenggang?" Tanyaku, Ron diam tak menjawab
"ya, dia menghabiskan waktu dengan ku saat liburan." Ujar Lavender, Harry maju kedepan dan Menghajar Ron.
"Harry!" Aku langsung menghentikannya dan memisahkannya dari Ron
"KAU! KU KIRA KAU AKAN ADA BEDANYA DENGAN ADIKMU WEASLEY! TAPI TERNYATA! CIH! KALIAN BERDUA BENAR-BENAR BRENGSEK!" Ujar Harry,
"Harry, aku mohon berhenti!" Pintaku, aku berusaha menenangkannya saat sedang emosi seperti ini.
"JAGA MULUT MU POTTER!" kali ini Ron, yang membentak
"AKU MENGATAKAN SEBUAH FAKTA BUKAN?" Ujar Harry lagi, dan seketika kami suda di kerumuni semua murid Hogwarts, Tiba-tiba Ginny dan Draco muncul dari kerumunan anak-anak itu.
"APA YANG KAU LAKUKAN HARRY?" bentak Ginny saat melihat kondisi Ron yang hampir babak belur karena ulah Harry.
"Kenapa tidak tanya sendiri saja pada kakak mu?" mendadak nada suaranya menjadi sedingin Es, Ginny langsung mematung dan matanya kembali meredup.
"KITA PUTUS RONALD!" Ujarku, Ron terlihat tidak terima tapi, sebelum dia berbicara, aku menarik tangan Harry dan mengajaknya kembali ke kopartement ketua murid, Aku langsung duduk dan dia menyusul duduk di sebelahku, aku memeluknya dan Harry balas memelukku, jadilah, aku kembali menangis di dalam pelukkannya.
"Aku benci hidupku Harry, Dad baru saja membuat keputusan untuk meninggalkan Mom dan aku, dan sekarang Ron Juga? kenapa aku harus kehilangan semua hal yang aku sayangi Harry, kenapa?" Tanyaku, Harry memper-erat pelukkannya dan mengusap lembut kepalaku.
"semuanya pasti akan berakhir mione, semua masalah mu, semua rasa sakit yang kau rasakan, aku yakin Mione, pasti akan berakhir, tak lama lagi, dan saat itu terjadi kau akan kembali tertawa dan merasakan kebahagiaan." Aku melepaskan pelukkannya dna menatapnya, Manik Heazel ku bertemu dengan Manik Emerald nya, dan entah apa yang yang merasuki fikiranku dan juga dirinya, tapi yang aku tahu dia sudah mencium ku di kopartement ini. Ada sebuah getaran yang berbeda, sangat berbeda dengan saat Ron mencium ku, aku tak pernah merasakannya, ada apa denganku? apa mungkin aku menyukainya? Yang benar saja, aku baru kehilangan 2 hal yang paling berharga dariku, dan aku tak ingin kehilangan Harry dengan cara yang sama, maka dari itu, aku tak boleh mencintainya. Aku tak bisa memilikinya, karena jika itu terjadi, aku akan kehilangan satu lagi orang yang paling berharga dalam hidupku.
TBC.
Hua… kepanjangan ya? Tambah gak nyambung and OOC ya? Maaf deh, Flo Cuma author pemula yang bisa bikin pusing para Readers, karena itu Flo butuh banget Review nya, ayolah jangan pelit kasih Review, buat menghargai hasil kerja keras flo#halah, tangan Flo pegel nih, udh dulu ye, lanjutnya nanti lagi. See ya in the Next Chap…
