The Bunny Maid
Me : hai hai~ apa kalian merindukan author kalian yang imut dan menyebalkan ini?!
Semua : tidak.
Me : (menangis di pojok ruangan) kalian jahat sekali padaku….
Nadeshiko : Habisnya mereka pikir kau akan segera menghapus fanfiction ini
Me : (gugup) Ti, tidak 'padahal aku memang ingin menghapus fanfiction ini'
Reader : Yaah kenapa?
Yaya : Yaya akan jawab ! pertama karena flash dishnya hilang (sorry kalau salah tulis). Kedua karema dia OTAKU!
Me: (menutup mulut Yaya) Yaya-chan, jangan bongkar-bongkar dong
Amu : Shugo Chara bukan milik Ikue-san. Beliau hanya membuat alur fanfiction ini. Dan selamat membaca~
Chapter 6 : kecelakaan atau disengaja?
Amu pov
Pelajaran olahraga… sama sekali bukan keahlianku. Aku duduk di pinggir memperhatikan sebagian Guardian –yang merupakan mantan sahabatku. Sepertinya mereka tak merasakan kesedihan karena kehilanganku. Justru yang kudapatkan hanya aroma kebahagiaan. Membuat hatiku terpecah belah.
"Amukenapa kau hanyaduduk disini? Yang lainnya sedang asyik berolahraga." Tegur seseorang di sampingku –Utau. Kugelengkan kepalaku pelan " Aku tak ingin bergabung dengan para pengkhianat itu" jawabku dengan nada dipaksakan seolah memendam pedih.
"Kau tahu? Mungkin mereka punya alasan. Mau ceritakan hal itu padaku?" kulihat Utau memasang senyumannya. Membuatku sedikit-banyak tenang dan lega. Tanpa pikir panjang kuanggukkan kepala dan membalas senyumannya.
Akhirnya aku selesai menceritakan semuanya pada Utau. Mulai dari kedatangannya, Ikuto dan Celina ke kelasku sampai aku yang keluar dari Anime Café –yang merupakan café milik keluarga Nadeshiko dan Nagihiko. Utau mengangguk-angguk mengerti. "saat ini yang terpikir di otakku untuk Celina adalah beberapa kata : aneh, misteri dan menarik" kata Utau datar. "Hey. Aku tak pernah memikirkan kata-kata itu untuk River-san" bantahku.
"begini. Maksudku aneh itu, kenapa ia memiliki Shugo Chara sebanyak itu? Memangnya keinginannya banyak? Atau orang yang benar-benar terpilih? Jawabannya adalah karena keinginannya yang sangat banyak. Karena semua keinginannya yang begitu kuat, ia memiliki semua Shugo Chara itu. Mungkin dia lemah, tak berbakat, kurang popular atau kurang cantik. Tapi lihat kini. Beliau berbakat dalam seni, kuat dalam karate, popular, ditaksir semua laki-laki di sekolah ini, dikirimi surat cinta terus, cantik,dan bisa fashion show.
Misteri dan menarik… itu yang membuatku heran, kenapa memikirkan kata-kata itu? Karena memang tampak dari gerak-gerik dan matanya. Kau tahu kan dia tidak memiliki teman sama sekali? Padahal dia sangat popular. Dan ia selalu menyendiri di pojok ruangan sambil membaca buku yang entah-apa-namanya-itu. Cukup menarik dan misteri…."
"Utau! Kita bukan ingin membahas River-san. Tapi membuatku te-" sebelum selesai menyelesaikan perkataanku, ada bola basket yang menimpa kepalaku. Rasanya sangat sakit. Dan yang terjadi kemudian semuanya menjadi gelap.
Utau POV
Amu tergeletak pingsan di sampingku. "Amu, Amu.." kataku sambil menggoncangkan tubuhnya. Tapi Amu tak sadar-sadar dari pingsannya. Semuanya langsung menghampiri kami.
"Permisi… biarkan aku lewat" seseorang mendekatiku dan Amu –Celina. Di wajahnya terdapat rasa bersalah. Jangan-jangan ada sesuatu dibalik semua ini.
"Maafkan kesalahanku. Karena aku lalai melempar bola, Hinamori-san jadi seperti ini. Sebagai gantinya biarkan aku yang membawanya ke UKS dan mengobatinya" katanya dengan nada bersalah.
Nii-san menghampiri Amu dan menggendongnya ke ruang UKS "Lebih baik kau mengobatinya saja" kata Nii-san dingin. Celina hanya terpaku melihat nii-san. Sedangkan aku mengikuti nii-san dari belakang.
Celina POV
Apa-apaan dia?! Menatapku dengan tatapan dingin. Seingatku aku tak pernah melakukan kesalahan padanya. Tapi biarkan saja. Setelah agak jauh, kuikuti dia .
Di runag UKS….
"Yak, selesai. Untungnya hanya luka ringan. Dibiarkan pasti sembuh. Tapi lebih baik lagi jika dilakukan seperti ini" kataku membereskan perban yang baru saja kugungakan. Hoshina-san berkacak pinggang di sampingku "Lumauan juga kau". "Terima kasih. Dulu aku pernah belajar pengobatan seperti ini di Palang Merah Remaja. Tak kusangka ilmu itu masih berguna hingga kini" jawabku yang kini mulai mengembangkan senyuman.
"Temui aku di luar. Sekarang" Dasar. Apa lelaki itu tak bisa membaca situasi saat ini?! Apa boleh buat, kuikuti saja dia –yang sepertinya amarahnya naik dan memandangku dengan tatapan dingin, kejam serta penuh dendam.
Di luar UKS, tahu-tahu dia menamparku. "Apa yang kau lakukan pada Amu?! Kau merebut semua temannya, membuatnya sedih bahkan kini kau membuatnya terluka. Jelaskan. Jelaskan apa yang kau mau dari Amu?! Jelaskan padaku!" bentaknya. Ia melayangkan tinjunya ke arahku. Dengan sekuat tenaga, kutahan tinjunya dan menjatuhkan tangannya "Aku justru tudak tahu jika perbuatanku telah membuat luka yang dalam di hati Hinamori-san. Dan soal kecelakaan itu…. Itu murni kecelakaan, kau tahu?! Perlu kujelaskan kronologi kejadiannya?!" balasku emosi. "jelaskan" katanya singkat.
"OK. Saat itu, aku tengah bermain basket. Tiba-tiba shoot-ku ke ring meleset. Bolanya melambung menuju Hinamori-san dan Hoshina-san. Dan setelahnya bola itu mengenai kepala Hinamori-san. Sudah. Hanya itu kejadiannya" kataku sambil mengangkat bahu. Matanya masih memancarkan dendam padaku. Duh, sampai kapai sih aku harus membuatnya tak membenciku?!
"Nii-san, aku dengar semuanya dari dalam. Sudahlah, maafkanlah dia. Lagipula beliau sudah mengobati Amu sebagai balasan perbuatannya itu" Hoshina-san keluar ruang UKS. Lelaki ini hanya memasukkan tangannya ke kantung celana dan mengeluh "baiklah, kali ini kau kumaafkan. Tapi, kalau sampai menyakiti Amu lagi, kau akan mati di tanganku besok" katanya memasang wajah kesal. Setelahnya Hoshina-san dan lelaki itu masuk ke UKS. Aku langsung pergi ke atap sekolah untuk menenangkan diri.
Di atap sekolah…
Kusandarkan tubuhku pada pagar-pagar pembatas. Rasanya sangat menyenangkan menghabiskan waktu untuk rileks disini. Dekat dengan langit dan banyak udara segar yang kaudapat.
"ada masalah, Celina?" suara itu… pasti Momo-chan. Benar saja, begitu kutengok, dia mendekat kearahku. Rambutnya yang berwarna kuning keemasan terbang ditiup angin.
Yuuki Momo, hanya dialah yang mau berteman denganku. Semua anak perempuan menjauhiku karena beberapa alasan seperti mengeluh jika pacarnya kurebut atau ada yang menuduhku genit dan menggoda lelaki lain. Itu semua salah. Aku memang begini adanya. Tak ada yang dipalsukan. Saat aku terpuruk, datanglah Momo-chan yang mau berteman denganku tanpa syarat. Itu membuatku senang. Dan persahabatan kami masih terjaga hingga kini.
"ya, begitulah Momo-chan. Tadi secara tak sengaja bola basket yang kumainkan mengenai Hinamori-san. Singkatnya di UKS, kakak Hoshina-san malah kesal padaku dan menamparku" kataku sambil memegang pipi yang ditampar lelaki itu. "Tunggu dulu, Hoshina yang kau maksud Utau Hoshina?" tanyanya ragu. Tanpa ragu kuangguklan kepala. "Itu artinya kau ditampar Ikuto-san?! Baru pertama kalinya Ikuto-san menampar perempuan. Apa kau tudak apa-apa?" Momo-chan mengelus pipi yang tadi ditampar Ikuto. "Aku tak apa Momo-chan. Tenang saja. Aku bisa mengobati diriku sendiri. Kau ingat?" tanyaku setengah bercanda. Dia tertawa kecil dan mengangguk.
Pada akhirnya, kami membolos semua kelas sampai bel makan siang berbunyi.
"Ayo kita lomba lari ke kantin!" tantangku yang sudah berdiri. Momo-chan pun berdiri "Siapa takut?! Yang kalah traktir makan di Anime Café!" serunya semangat. Aku langsung mengerutkan dahi "Anime café? Dimana itu?" tanyaku. Dia menepuk dahinya " Masa kamu tidak tahu sih? Anime Café itu adalah Café milik keluarga Fujisaki. Nadeshiko-san dan Nagihiko-san" jelasnya. Aku hanya ber-oh-ria. Kemudian langsung lari ke kantin.
Singkatnya dalam lomba itu aku kalah dari Momo-chan. Dan akhirnya aku yang kena mentraktirnya eskrim. Tapi tak apalah. Toh disana nanti aku juga bisa makan es krim. Apalagi aku penasaran dengan Café milik keluarga Fujisaki itu.
Me : Bagaimana?
Amu : Kepalaku…. (memegang kepala dengan kedua tangannya)
Ikuto : (mengelus kepala Amu) Dasar. Jika Celina River itu sungguhan, aku pasti akan menghukumnya
Me : (menelan ludah) Anu.. Sebenarnya Celina River itu nyata. Dan itu adalah aku.
Ikuto : Hooo jadi kau ya si Celina itu…. Akan kuberikan kau pelajaran yang setimpal…. (membawaku ke rumah yang berisi banyak anjing)
Me : KUKAI! TOLONG AKU
Ikuto : Jangan tolong dia.
Kukai : Sip bro.
Yaya : Tunggu Chapter selanjutnya yaaa! See you in next chapter! Oh jangan lupa R&R!
