catatan: saya minta maaf pake OC. tapi ini aja ide yang menyeruak dari pikiran saya. OOC YA HAAHA. keluarga jerman tersiratnya Indonesia orz lirik dikutip dari lagu iron & wine berjudul each coming night – basically my inspiration for this chapter.


family — alternate universe: modern setting


Will you say to me when I'm gone away:
"Your father's body was judgement day.
We both dove and rose to the riverside."

Will you say to me when I'm gone:
"Your face has faded but lingers on.
Because light strikes a deal with each coming night.
"


Ayahku meninggal dunia saat kulkas di rumahnya telah berumur dua puluh tahun.

Ibu pergi mengambilkan jus jeruk favorit ayah. Ia mengeluh padaku, bahwa ayah seharusnya tidak boleh minum minuman dingin karena dokter menyuruhnya begitu, berkata bahwa minuman dingin akan berdampak pada kesehatan ayah. Tapi toh, ayah bersikeras, meminta ibu untuk memberinya jus jeruk. Seperempat gelas saja sudah cukup. Ibu mendesah panjang sebelum memberi ciuman lembut di atas bibir kering. Aku menyaksikan semua itu dari ambang pintu kamar, ketika aku mau pergi ke dapur. Jam makan siang sudah tiba.

Ketika ibu keluar dari kamar, aku bilang, "Tak usah ke bawah, bu. Nanti saya saja yang ambil minuman ayah."

Ibu hanya menggeleng pelan. Senyumnya mengembang, menambah kerut di wajahnya yang telah berkeriput. "Biarkan saja. Ayahmu itu punya rencana yang ia tak mau aku lihat. Kamu bikin saja makan siang. Buat bubur untuk ayahmu."

Aku mengangguk, lalu memegang erat tangan ibu, menuntunnya berjalan menuruni tangga. Kayu berderik menahan beban kami. Debu-debu kerap menari di antara spasi cahaya seraya kami sampai mencapai dataran lantai satu. Ibu mengumpul bagian bawah gaun tidurnya dengan kedua tangannya, lalu berjalan lebih dulu. Langkahnya kecil-kecil, seperti melompat di atas batu yang dihantam oleh arus sungai.

Ia menyentuh pintu kulkas tua, membukanya, lalu membungkuk, mencari-cari boks jus jeruk yang ternyata berada di sisi lain pintu kulkas. Ia mengambilnya, lalu menuangkannya di gelas. Oranye mengisi setengah kebeningan gelas. Aku mengerjapkan mata, mengingatkan diriku bahwa ibu adalah orang yang terlalu baik.

Ia pun akhirnya mengambil langkah lagi, berjalan menaiki tangga. Kali ini tanpa bantuanku. Ia hanya akan bergantung pada dinding dan teralis kayu. Ia wanita yang kuat.

Aku pun memasak bubur untuk ayah, serta nasi kari untuk aku, ibu, dan anakku. Aku menyelesaikan semua itu setengah jam kemudian. Aku meletakkan mangkuk besar berisikan kari di atas meja, di sampingnya ada mangkuk nasi. Air kusiapkan di dalam botol besar, bersiap untuk dituang ke dalam gelas-gelas kecil yang telah ditaruh di samping tiga piring. Kemudian, aku membawa sepiring bubur dengan ayam yang sudah kusuir-suir dengan kedua tanganku, menaiki tangga dengan pelan, kemudian berjalan sampai di ambang pintu kamar kedua orang tuaku.

Aku hendak menyahut pada ayah, bahwa buburnya sudah siap untuk disantap, tapi aku mendapati jus jeruk untuk ayah masih mengisi setengah gelas yang diam di atas laci. Ibu membungkuk, membayangi tubuh ayah. Mencumbu kening, alis, hidung, pipi, ujung bibir, lalu meniupkan permohonan maaf dan pernyataan cinta dan salam keberuntungan pada kulit ayah.

Pada saat itu, aku tahu jiwa ayah sudah menghilang. Malaikat maut menggendong jiwanya ketika kami hilang dari pandangan ayah, mengambilnya pergi di saat-saat paling biasa dalam hidup kami. Tak ada yang menyaksikan kematiannya. Aku merasa ibu menyesali keputusannya untuk menuruti permintaan ayah.

Atau mungkin tidak. Sebenarnya aku tak begitu tahu isi pikiran kedua orang tuaku.

Pelan-pelan aku menutup pintu, berusaha untuk tidak menimbulkan suara derit pintu yang melengking, menginterupsi hening cipta ibu yang didedikasikan pada ayah. Kuletakkan bubur yang takkan dimakan oleh ayah di atas meja belajarku ketika aku masih menjadi murid SMA. Sayup-sayup terdengar sesenggukan dari dalam kamar. Aku juga ikut menangis dalam diam.


Sudah enam bulan sejak kematian ayah.

Hari ini aku menemani ibuku pergi ke makam ayah. Ia mengenakan topi jerami dan menguraikan rambutnya. Ada uban yang memenuhi pangkal surai, tapi pada ujungnya, masih ada sisa cokelat yang mengingatkanku pada warna cat lemariku. Ibu menyandang keranjang piknik. Di dalamnya ada roti dan jus jeruk yang disimpan di dalam botol bekas air mineral. Makanan favorit ayah dan ibu.

("Dia datang padaku saat aku sok tahu mengimitasi pistol dan suaranya, lalu memberikanku roti yang ukurannya terlalu panjang," ayahku memulai kisahnya ketika aku berumur lima belas tahun dan menanyakan pertemuan pertama mereka, karena pada saat itu, aku sedang menyukai seseorang dan yakin bahwa aku akan menikahinya. Dugaanku salah. "Aku menolaknya, bahkan mengejeknya, tapi dia tetap tinggal. Katanya, ibunya menyuruhnya untuk mencari teman bermain, dan pada saat itu, hanya aku yang ada di situ.

"Aku sudah berumur empat belas tahun. Dia juga. Dan ia masih mencari teman bermain. Kupikir aku akan meninggalkannya waktu itu untuk mendengarkan pidato Hitler di radio milik temanku, Marco – ia mati pas Perang Dunia II; nanti kuajak kau ke makamnya – tapi kulihat ada siluet yang mengerikan, mengawasiku lekat-lekat dari ujung jalan. Jadi aku pun membiarkan ibumu tinggal di sampingku, menanti dia memakan rotinya. Ia malah memberikan setengah rotinya padaku. Aku terpaksa menelannya."

Ayah menggaruk-garuk kepalanya. Sebatang rokok menyala di atas asbak. Ayah melinting rokok tersebut, lalu menghisap sensasi batang mungil itu sebelum meniupkan asap beraroma busuk ke taplak meja.

"Bukankah saat perang bergejolak, makanan sulit didapatkan?" tanyaku, tak mengenali kronologis waktu yang tersirat di cerita ayah sampai ia menggelengkan kepalanya.

"Aku sudah bertemu dengannya sebelum Perang Dunia II. Ia selalu membawa roti," kata ayah. "Mungkin itu alasan aku masih berada di dunia ini: untuk makan roti bersama ibumu dan juga kau. Mungkin ketika akhirnya aku punya cucu."

"Aku masih berumur lima belas tahun," kataku.

"Oh, aku hanya berharap aku masih hidup sampai aku melihat saat di mana kau menggendong anakmu dan mengasihinya."

Aku mengerjapkan mata. "Aku tak menyangka ayah dapat mengatakan hal semuluk itu."

Ayah hanya menyeringai. "You have no idea," balasnya padaku.

Beberapa tahun kemudian, ketika Harriet telah menginjak umur tiga bulan, aku bertanya lagi pada ayah mengenai jus jeruk yang selalu diminum ayah sejak anakku lahir. Ia hanya tersenyum dan mengacak-acak rambutku, mengabaikan fakta bahwa aku sudah dewasa dan mempunyai anak.

"Aku membeli jus jeruk di hari lahir Harriet. Itu saja," jawab ayah.

Semuanya sesederhana itu.)

Ibu meletakkan keranjang piknik, lalu berjongkok di samping batu nisan ayah. Ia mengecup permukaan halus itu dengan tangan menggenggam bagian atas batu dengan erat, bibir menyentuh lembut ujung huruf J yang diukir begitu elegan.

Lalu, dari celah bibirnya, ia mengeluarkan silabel-silabel yang merangkai kalimat yang membangun kisah-kisah sederhana seperti Harriet yang telah masuk TK dan menyanyikan lagu ABC dengan sempurna, meski lidahnya masih enggan mengucapkan huruf R dengan semestinya, atau ketika aku mendengarkan kisah asal-usul namaku, Sara, dari ibu saat tubuh ayah telah bersatu dengan Bumi.

Ayah menamakanku Sara karena rasa bersalah yang menggerogoti hatinya. Ketika ia menjadi seorang tentara yang membunuh anak kecil Yahudi bernama Sara, yang dulu sering ia jaga ketika kedua orang tuanya pergi berdagang, dengan berantakan. Pidato Hitler terngiang di kepala ayah sampai suara peluru membuka jalan masuk ke dalam tengkorak Sara membangunkannya. Sara mati dengan mata terbuka. Tujuh tahun dan matanya bersedih dengan ketidakadilan dunia. Jadi, ketika aku lahir ke dunia ini, ia menamakanku Sara untuk menggantikan kasih sayang orang tua yang ia renggut dengan kematian.

Ia menamakanku Sara untuk menyayangiku lebih dari yang seharusnya.

Aku merasa bahwa aku menjadi substitusi hantu yang sudah lama pudar dari dunia. Tapi, kuingat wajah ayahku yang masih membayangi aku dan ibu. Kuingat cara ayah menggenggam tanganku agar aku tidak tersesat sementara kami mencari tempat terbaik untuk melihat parade, telapak tangannya kasar. Kuingat cara ayah mengecup rambutku ketika aku lulus sebagai siswa kelima terbaik di sekolah. Kuingat cara ayah diam-diam mengusap matanya saat aku memamerkan cincin pertunanganku. Kuingat cara ayah menyesap jus jeruknya sebelum menggendong Harriet dengan kedua tangannya yang gemetar, seakan Harriet adalah boneka yang tak pernah ia belikan untukku.

Semua itu nyata. Ia menyayangiku.

Ibu menyelesaikan kisahnya. Ia memiringkan topi jeraminya sebelum memposisikannya lagi dengan benar, lalu membuka kain bermotif kotak-kotak yang menutupi roti dan botol air mineral tersebut. Ia berdoa lagi kepada Tuhan, agar ayah dilimpahi oleh keberuntungan saat bertemu komradenya di alam baka; agar Sara tak mengatainya Saukerl ketika ia bertemu dengan ia lagi di sana.

Ibu pun berusaha berdiri dengan kekuatannya sendiri, tapi ia tak cukup kuat. Aku pun mengulurkan tanganku ke arahnya dan ia menyambut uluran tanganku. Ia pun akhirnya berhasil berdiri. Aku menghitung berapa kali ia mengambil napas, berdoa tak ada malaikat datang mencabut nyawa ibu. Aku belum siap.

"Aku harus membeli sesuatu," kata ibu saat kami mulai berjalan menjauhi makam ayah, meninggalkan keranjang piknik di sana. "Bahan makanan di rumah sudah mau habis."

"Apa ibu mencintai ayah ketika ibu memberikan roti pada ayah?" tanyaku. Pertanyaan yang begitu naif untuk diucapkan oleh seorang wanita yang berada di pertengahan umur dua puluhan. Tapi, semua hal yang menyangkut cinta, boleh dikatakan tergolong naif.

"You have no idea," kata ibu sambil tersenyum. "Ia terlihat keren saat mendapatiku mencuri kentang karena aku begitu bosan dengan roti, dan kentang rebus, pada saat itu, sangat menggiurkan. Pada akhirnya, aku tak berhasil makan kentang karena dia."

"Jadi, ibu mau beli apa?" tanyaku lagi.

"Kurasa aku ingin beli kentang," kata ibu, terlihat untuk mencoba memetakan ujung dunia dengan kedua matanya. "Toh ia tak lagi mengawasiku."

Aku menelan ludah, merasakan pahit terlontar dari kalimat tersebut. Ibu masih rindu padanya. Setiap detik. Setiap detak jantung. Setiap hembusan napas. Setiap doa yang dilayangkan ibu ke langit cerah.

Aku membalas, "Baiklah. Kalau begitu, kita beli kentang saja."