oOo

Main Cast : Luhan, Sehun.

Rate : M

Gendre : Hurt, Drama, Romance.

Length : Chapter

PS : FF ini adalah GS untuk para UKE dan seperti sebelumnya, main cast lain akan muncul dengan bertambahnya Chapter. FF ini hasil inspirasiku sendiri. Jadi aku mohon dukungan reviewnya^^ menerima saran ataupun keritikan tapi menolak bash! Happy reading^^

.

.

.

.

.

"Kau menginginkan 300 juta won bukan ?. Bersikaplah seperti jalang dan kau akan mendapatkannya Luhan!"

Luhan mengalihkan tatapannya pada arah lain. Matanya terasa mulai memanas setelah mendengar semua ucapan Sehun yang sangat terdengar menyakitkan untuknya. Sehun seolah menggores luka yang sudah ia torehkan di hati Luhan menjadi semakin lebar dan dalam. Luhan menghapus kasar airmatanya yang menetes. Seberapa kuatpun Luhan menahan pada akhirnya pertahanan itu runtuh di hadapan Sehun. Sehun mendecih saat melihat Luhan menangis.

"Jangan mencoba mengiba padaku dengan airmatamu Luhan!"

Luhan mendelik penuh dengan sorot kebencian pada Sehun. Andai bumi bisa ia kendalikan dan hidup bisa ia atur. Luhan tidak akan sudi untuk memohon pada Sehun tapi pada kenyatannya itu semua tidak bisa ia lakukan dan ia hanya selalu berakhir menyedihkan di manapun tempat yang ia pijak. Luhan menghapus jejak airmatanya dan menguatkan dirinya untuk tetap bertahan. Chris tengah menggantungkan nyawa pada dirinya dan jika ia menyerah di sini ia tidak akan mampu untuk menyelamatkan nyawa putra semata wayangnya. Luhan berdiri dan mengepalkan tangannya erat. Mencoba menahan rasa sakit, kesal, malu dan menjijikan yang ia rasakan untuk dirinya sendiri.

"Berjanjilah kau akan memberikanku Tiga ratus juta won!"

Sehun terkekeh dengan pandangan mengejek. Apa Luhan fikir ia bermain main ?. Sehun berjalan menuju berangkas yang berada di sudut kamarnya, memasukan password dan mengambil beberapa gepok uang. Sehun menaruh kasar uang yang ia ambil di atas meja. Memperlakukan uang yang sangat bernilai berharga bagi Luhan seperti sampah yang mudah ia temukan di pinggir jalan.

"Kau puas ?"

Luhan melirik pada uang bertumpuk tumpuk yang berada di atas meja. Ingin rasanya Luhan cepat berlari dengan membawa uang itu dan memberikannya pada Suho agar Suho bisa segera mengurus persyaratan operasi Chris tapi Luhan tahu itu tidak akan semudah seperti yang ada di dalam bayangannya. Di depannya berdiri sesosok Sehun yang tengah menanti kepuasan darinya sebagai seorang pelacur dengan pembelinya dan agar Luhan bisa cepat lolos dari dalam rumah ini adalah dengan segera menyelesaikan urusannya dengan Sehun. Luhan mendongakkan wajahnya. Menyembunyikan segala rasa jijiknya di balik tatapan tajamnya.

Perlahan Luhan membuka kancing piyama milik Sehun yang ia kenakan. Sehun terus memperhatikan semua gerakan jari Luhan yang sudah membuka dua kancing piyamanya. Mata Sehun menatap lekat pada bagian tubuh atas Luhan yang hanya menyisakan bra setengah basah berwarna merah muda. Tanpa sadar Sehun menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang mulai mengering. Sehun tidak pernah merasa sepanas ini ketika melihat seorang wanita yang akan ia tiduri berdiri di hadapannya. Sehun merasa kalau Luhan bisa dengan cepat membakar gairahnya tanpa sentuhan ataupun tindakan dan itu benar benar membuat Sehun gila.

Dengan cepat. Sehun menarik Luhan dan mencium bibir Luhan yang selama ini selalu ia dambakan. Sehun merapatkan tubuh Luhan dalam dekapannya, membuat tubuh Luhan sedikit membusung kebelakang karna payudaranya yang Sehun himpit menggunakan dadanya. Sehun melumat kasar bibir bawah Luhan, menyesap bibir yang terasa manis dan menggiurkan untuknya. Sehun menggigit kesal bibir Luhan saat Luhan tidak kunjung membalas ciumannya. Sehun melepaskan pagutannya dan menatap mata Luhan yang masih terlihat penuh sorot kebencian.

"Balas ciumanku Luhan! Kau adalah jalangku malam ini" Sehun kembali mencium bibir Luhan. Luhan memejamkan matanya. 'Kau adalah jalangku malam ini'. Perkatan Sehun kembali mengiang ngiang di telinganya hingga mampu membuat airmata Luhan menetes. Luhan tidak tahu bagaimana Chris akan menatapnya jika ia tahu Ibunya pernah menjual tubuhnya pada seorang pria. Luhan tidak tahu bagaimana ia akan mengubur rasa malu dan menjijikan ini jika ia melihat wajah putra kecilnya nanti. Luhan hanya berharap. Setelah malam ini berlalu Chris akan selalu bersamanya. Tidak perduli Chris akan menatapnya seperti apa jika kelak ia tahu hal ini.

-Maaf kan Ibu Chris..- Luhan berucap dalam hatinya dan mulai membalas lumatan Sehun. Sehun tersenyum puas dan semakin dalam menyesap bibir ranum Luhan. Luhan melingkarkan tangannya pada leher Sehun, mengusak rambut Sehun hingga mampu membuat erangan tertahan Sehun keluar dari cela ciuman yang mulai memanas. Sehun memasukkan lidahnya kedalam goa hangat mulut Luhan dan menelusuri seluruh isi mulut Luhan menggunakan lidahnya. Saliva mengalir dari sudut bibir Luhan dan menetes membasahi dagu Luhan.

Tangan Sehun dengan trampil membuka kait bra milik Luhan. Sehun melepaskan ciumannya saat mendengar nafas Luhan yang mulai terdengar memberat dan ciuman Sehun beralih pada leher jenjang Luhan. Luhan menggigit bibirnya kuat saat merasakan Sehun mencumbui seluruh area kulit leher dan dadanya. Sentuhan Sehun terasa seperti sengatan listrik yang mampu membuat tubuh Luhan melemas dengan cepat.

"Sehun Aaaaaaaahhhhhhh…" Luhan mendesah saat Sehun menghisap puttingnya dan meremas payudaranya dengan lembut. Luhan menjambak rambut Sehun membuat hisapan Sehun terlepas. Luhan tidak akan mampu bertahan dalam kondisi seperi ini. Sehun menegakkan tubuhnya membuat Luhanpun berdiri sepenuhnya. Tatapan Sehun yang beberapa saat lalu di penuhi dengan kabut emosi kini terlihat di penuhi oleh kabut gairah.

Sehun berlutut di hadapan Luhan dan menarik celana yang Luhan kenakan. Luhan dengan sigap merapatkan kakinya untuk menutupi area kewanitaanya. Seberapapun Luhan merasa jijik pada dirinya sendiri tapi tetap Luhan merasa sedikit salah tingkah saat melihat Sehun menatap lekat pada area kewanitaannya. Ini adalah pertama kalinya untuk Luhan dan Luhan tidak menyangka ia akan berakhir di bawah pria seperti Sehun dengan iming iming uang Tiga ratus juta won.

Sehun melebarkan kaki Luhan membuat Luhan reflek menumpukan tangannya pada bahu Sehun saat keseimbangannya hampir hilang. Sehun mendekatkan wajahnya pada area kewanitaan Luhan dan mengecupi vulva milik Luhan yang berada tepat di hadapnnya. Luhan mati matian menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan yang meronta untuk di keluarkan. Luhan menancapkan kukunya pada kulit telanjang Sehun saat Sehun menghisap kuat klitoris miliknya. Luhan adalah type wanita yang sangat sensitive saat klitorisnya di jamah dan Sehun sungguh membuatnya kualahan untuk menahan diri.

Sehun mejilat lubang vagina Luhan yang mulai lembab dan menghirup aroma kewanitaan Luhan yang sangat tercium harum di hidungnya. Luhan sungguh seperti vodka yang bisa membuatnya mabuk dalam sekali teguk.

"Eeeeeeeuugggghhhttttt.. Aaaaahhhhhhhhh…" Luhan mencoba menjauhkan dirinya dari Sehun saat lengguhan dan desahannya lolos tanpa bisa lagi ia cegah tapi Sehun dengan sigap menahan Luhan dengan memegang dua pantat sintal Luhan. Sehun meremas pantat Luhan hingga mampu membuat Luhan hanyut dalam kobaran api gairah yang Sehun buat.

Sehun mendongak. Menatap mata Luhan yang sudah mulai terlihat sayu dan Luhan bisa melihat bongkahan nafsu besar di dalam sorot tatapan kelam Sehun.

"Aku menyukai vaginamu Luhan.." Suara serak Sehun terdengar dengan semirik kecil yang terulas. Sehun mendorong Luhan untuk duduk di sofa dan mulai membuka celana yang ia kenakan. Luhan menoleh pada arah lain namun dengan cepat Sehun menarik dagu Luhan membuat tatapan Luhan hanya terarah padanya.

"Memalingkan wajah adalah salah satu yang tidak aku sukai!"

Luhan terdiam tanpa berniat melirik area bawah Sehun. Senyum tipis Sehun tersungging saat melihat Luhan yang masih bertahan dengan keangkuhannya. Luhan benar benar wanita yang tidak mudah untuk di taklukan. Wanita yang sering Sehun tiduri akan menatap menggoda saat Sehun mengeluarkan kejantanannya tapi Luhan hanya menatap datar pada penis Sehun yang sudah berada di depan bibirnya.

"Hisaplah.. dia menginginkan sentuhanmu Luhan.." Sehun tersenyum sinis dan menjambak rambut panjang Luhan membuat Luhan mendongak dengan mata berkilat emosi. Sehun melesakkan paksa penisnya ke dalam mulut Luhan dan menggerakkan pinggunglnya hingga mampu membuat airmata Luhan menetes karna tenggorokkannya yang terasa tersumbat.

"Shiitt! Bahkan mulutmu terasa nikmat Luhan, Ssssssssttt.. Aaahhhhhh.. Yah terus Luhan, puaskan penis besarkuh.." Sehun tertawa senang saat Luhan mulai memanjakan penisnya. Luhan hanya tidak ingin mati karna tidak bisa bernafas dan iapun memilih untuk menuruti perintah Sehun. Luhan melumat, menjilat penis Sehun dengan mulutnya. Tangan Luhan tidak jarang menjamah buah zakar Sehun membuat Sehun selalu mengeluarkan desisan dan lengguhan nikmat. Mata Sehun terpejam erat dan terbuka saat merasakan tidak bisa lagi untuk menunggu lama.

Sehun mengeluarkan penisnya yang masih berdiri tegak dari dalam mulut Luhan dan membaringkan Luhan di atas sofa. Sehun merangkak di atas tubuh Luhan dan melesakkan kepalanya pada perpotongan payudara Luhan. mengecupi kulit putih mulus Luhan yang kini sudah di hiasai beberapa bercak kemerahan dan meremas payudara Luhan yang masih terasa sangat kencang. Sehun menyukainya ia menyukai tubuh Luhan. Tubuh Luhan terasa begitu menggairahkan di banding tubuh wanita manapun yang pernah ia tiduri. Tubuh Luhan seperti belum pernah terjamah oleh seorang pria walaupun pada kenyataannya Luhan sudah memiliki seorang anak. Sehun mendongakkan wajahnya dengan tangan yang masih meremas payudara Luhan dan Sehun bisa melihat pelipis Luhan yang sudah mulai di aliri keringat. Sehun tersenyum puas, dia tahu Luhanpun menikmati kegitan mereka.

"Tiga ratus juta wonku sebanding dengan tubuhmu Luhan.." Sehun menghapus keringat Luhan dan menghayutkan Luhan dalam tatapan kelamnya. Luhan hanya terdiam dan terus mengamati wajah Sehun dari jarak dekat. Luhan memalingkan wajahnya saat airmatanya tiba tiba melesak ingin menetes. Kesedihan dan kesulitan seolah tidak akan bisa lepas dari hidupnya. Belum ia terlepas dari beban hidup yang ia miliki dan kini ia sudah di hadapankan dengan hal lain. Yaitu perasaannya sendiri pada Sehun yang sialnya masih bersarang di dalam hatinya. Seberapa besarpun Luhan memungkiri itu dengan kebenciannya pada Sehun tapi Luhan tidak akan sanggup menahan debaran hatinya yang menggila saat ia berada di dekat Sehun. Luhan memejamkan matanya membuat satu aliran airmata menetes. Kenapa setelah empat tahun menyendiri hatinya justru memilih pria seperti Sehun untuk di cintai ?.

Mata sipit Sehun menatap lekat pada satu tetes airmata yang mengalir di pipi Luhan. Perasaannya tiba tiba berdenyut saat dapat melihat kesedihan di wajah Luhan. Apa Luhan menangis karnanya ?. Sehun menggeleng mencoba menampik pemikiran benaknya sendiri. Tidak pernah ada wanita yang menangis saat di setubuhinya dan Luhan bukan menangis karnamu Sehun!.

"Aku bilang berhenti mengiba dengan airmatamu Luhan!"

"Selesaikan ini dengan cepat.." Luhan mengabaikkan ucapan Sehun. Dia hanya ingin malam ini cepat berlalu agar ia bisa kembali memeluk tubuh putra kecilnya. Sehun terkekeh lucu.

"Kau memerintahku ?. Aku tidak akan puas jika hanya satu permainan!" Sehun dengan telak memasukkan penisnya ke dalam vagina Luhan. Luhan tersentak dan sontak menggigit kuat bibirnya hingga memucat untuk menaha rasa perih pada vaginanya. Geraman tertahan Sehun terdengar saat merasakan vagina Luhan menghisap dan meremas kuat penisnya. Bukan hanya payudara Luhan tapi lubang vagina Luhanpun masihlah sangat terasa kencang dan sempit.

"Kau yakin kalau Chris adalah anakmu ?. Aaaaahhhhhhh.. Vaginamu sungguh berengsek Luhan!" Sehun membenamkan wajahnya pada ceruk leher Luhan. menghirup aroma tubuh Luhan yang menguarkan wangi mawar. Luhan memeluk tubuh Sehun dan mencium rambut Sehun. Biarkan saat ini ia sedikit melepaskan perasaannya pada Sehun agar ia bisa kembali menutupinya esok hari.

"Bergeraklah.." Luhan berbisik dan Sehun dengan senang menyabut perkataan Luhan. Sehun dengan cepat menghujam vagina Luhan. mencari letak kenikmatan Luhan yang tersembunyi di dalam sana dan saat ia menemukannya, Sehun menyentuh dengan gila titik G-spot milik Luhan. Luhan mengerang dengan mata setengah terpejam dan mulut sedikit terbuka. Sungguh pemandangan indah untuk Sehun. Sehun meraup bibir Luhan, meremas payudara Luhan dan mempercepat tempo penisnya. Tiga sentuhan yang mampu membuat Luhan merasa melayang.

"Sehun.. Aaaaaahhhh..Euuunnggghhhhttt pelan phelan" Luhan meremas rambut Sehun membuat rambut Sehun sedikit terlihat acak acakkan. Sehun tidak memperdulikan permintaan Luhan. Kepuasaannya akan segera sampai dan ia tidak akan sanggup untuk menundanya. Luhan terlalu nikmat hingga mampu membuat klimaksnya mendekat dengan cepat.

Luhan melirik Sehun gelisa saat merasakan penis Sehun semakin membesar di dalam vaginanya.

"Jangan keluarkan di dalam Sehun Aaaaaahhhhh.. Se mmmmmpphhhhttttt.."

Sehun membungkam bibir Luhan dengan ciumannya membuat perkataan Luhan kembali tertelan bersama salivanya. Luhan mendorong kuat dada Sehun agar melepaskan ciumannya dan mencengkram lengan Sehun yang semakin bergerak gila di bawah sana.

"Sehun jangan keluarkan di dalam!" Luhan berseru saat merasakan kehangatan menjalar pada rahimnya dengan segera Luhan menendang Sehun membuat Sehun terjatuh dari sofa. Sehun mendelik menatap dengan pandangan tidak terima atas apa yang sudah Luhan lakukan.

"Apa yang kau lakukan bodoh!"

"AKU BILANG JANGAN KELUARKAN DI DALAM!"

"LALU UNTUK APA AKU MEMBELIMU JIKA AKU HARUS MENGELUARKANNYA DI LUAR!" Sehun berteriak dengan keras hingga urat lehernya sedikit terlihat menonjol. Nafas Sehun menderu dengan tatapan berkilat penuh emosi.

"Tapi aku bisa saja hamil Sehun.." Tubuh Luhan bergetar dengan mata yang mulai berkaca kaca. Perasaan Luhan terasa gelisah karna dia yakin seperma Sehun sudah memasuki rahimnya. Dia takut kalau seperma Sehun akan membuahi rahimnya. Tidak itu tidak boleh terjadi. Luhan menggeleng dan merapatkan tubuhnya. Ini tidak boleh kembali terjadi.

"Hamil ?. Apa kau tidak meminum obat pengaman ?"

Luhan menggeleng kecil. Dia tidak merencanakan untuk melakukan ini, semuanya terjadi begitu saja tanpa rencana. Bahkan Luhan tidak pernah berfikir ia akan berada di dalam kamar Sehun yang ada di benak Luhan hanya tiga ratus juta won untuk menyembuhkan putranya.

"Shit!. Kau kemanakan otakmu Luhan ?. Harusnya kau memberitahuku sejak awal" Sehun menatap kesal pada Luhan. Dengan cepat Sehun mengambil obat dari botol kecil yang selalu tersedia di dalam kamarnya.

"Minumlah.." Sehun memberikan satu butir pil berwarna biru muda untuk Luhan. Luhan tahu kalau itu adalah pil pencegah kehamilan. Dengan cepat Luhan menelan pil pemberian Sehun tanpa tegukan air sekalipun. Dia tidak boleh mengandung anak Sehun. Dia tidak boleh memiliki anak dari Sehun.

Sehun tersenyum puas karna hasratnya bisa kembali ia bakar dalam gairah membara bersama Luhan. Sehun membopong tubuh Luhan dan meletakan Luhan di atas ranjang King size miliknya.

"Bersiaplah untuk kembali terbang bersama ku Luhan.." Sehun menyatukan kembali belah bibirnya dengan bibir Luhan. Tidak ada yang bisa Luhan lakukan selain mengikuti Sehun yang terus menjerumuskannya pada kenikmatan.

.

.

Jam berdetik dengan lembut. Hujan dan petir yang sempat terdengar mencekam kini sudah tidak terdengar lagi dan hanya menyisakan angin dengan tetesan air yang jatuh dari setiap kelopak bunga yang ada di hamparan taman kecil kediaman Sehun. Jam sudah menunjukan pukul empat pagi. Lima jam dari sejak Sehun dan Luhan mengawali malam panas mereka.

Sehun berguling dari atas tubuh Luhan yang sudah terkulai lemas. Sehun merasa puas karna keinginannya untuk membuat Luhan mengerang di bawahnya telah terlaksana dan Sehun tidak menyesali uangnya yang melayang karna Luhan benar benar membuatnya merasakan kepuasan yang tidak pernah ia dapatkan dari wanita manapun. Sehun bahkan rela mengeluarkan uangnya untuk bisa kembali menjamah tubuh Luhan karna tubuh Luhan sungguh menakjubkan untuknya.

Luhan memiringkan tubuhnya. Membelakangi Sehun yang terlentang di sampingnya. Luhan bisa merasakan Sehun yang memakaikan selimut untuk menutupi tubuh polosnya yang sudah sangat menjijikan. Airmata yang sudah beberapa saat ia tahan kembali mengalir tanpa isakan. Luhan mencengkram kuat selimut putih milik Sehun untuk membantunya meredam isakan yang meronta meminta untuk di keluarkan. Luhan merasa jijik pada tubuh dan dirinya sendiri. Perasaan ini. Perasaan yang sudah lama ia kubur kembali muncul di atas permukaan hatinya.

oooooooooooooooooooo

FLASH BACK.. 09 – Feb – 2011. 08 : 09 AM CST.

Sorot matahari terlihat menembus jendela jendela kecil ruangan kosong yang berisikan tumpukan kardus dan barang barang bekas lainnya. Menyinari setengah ruangan yang tidak terlalu besar dan sudah tidak lagi tidak terawat. Ruangan ini sunyi andai saja tidak ada isakan yang terdengar dari balik tumpukan kardus di sisi kiri.

Sosok itu meringkuk dengan keadaan kacau. Tubuhnya bergetar dengan wajah yang di tenggelamkan pada sela lutut yang ia peluk. Luhan meremas dress pendeknya yang sudah terkoyak. Beberapa robekan terlihat merusak dress bergambar bunga cantik berwarna kuning yang ia kenakan. Tangisan Luhan semakin terdengar memilukan saat mengingat apa yang menimpanya semalam. Luhan tidak menyangka ini akan terjadi pada dirinya. Harusnya ia menuruti ucapan Baekhyun. Harusnya ia mendengar apa yang Baekhyun minta. Luhan menyesal dan sekarang ia tidak tahu harus kemana dengan keadaan seperti ini.

Luhan menjambak rambutnya yang sudah sangat kusut. Mata Luhan terlihat bengkak dan merah dengan sedikit luka kecil di sudut bibirnya. Tapi bukan itu yang membuat Luhan menangis. Luka besar yang Luhan rasakan berada di dalam hatinya. Luka seorang wanita saat kehormatannya di renggut seorang pria dengan paksa.

Luhan menoleh dengan isakan yang tercekat di tenggorokannya saat mendengar ponselnya yang berada sedikit jauh darinya berbunyi. Dengan cepat Luhan merangkak dan segera menerima telfon dari Baekhyun.

'Morning Lu..' Baekhyun berseru ceria. Ini adalah hal biasa yang sering mereka lakukan, menyapa saat pagi hari menjelang.

Luhan terdiam dengan tubuh yang masih bergetar dan isakan yang sedikit keluar hingga membuat Baekhyun menyeringit di seberang sana.

'Luhan, Apa kau menangis ?'

"Baek.. Tolong aku" Luhan mencengkram kuat ponsel yang ada di genggamannya. Isakan yang sempat Luhan tahan kini kembali pecah menyapa telinga Baekhyun.

Baekhyun membeku. Reflek Baekhyun menjatuhkan ponselnya dan segera berlari keluar dari rumahnya dengan tergesa.

(Seseorang memperkosaku di gudang dekat rumahmu Baek..)

oooooooooooooooooooo

Luhan memejamkan matanya hingga membuat sedikit isakan lolos dari belah bibir Luhan. Kenapa ini kembali terjadi pada dirinya ?. Di setubuhi olah seoang pria yang bahkan tidak memiliki ikatan apapun dengan dirinya. Luhan merasa lebih malu dan jijik pada dirinya sendiri karna saat ini ia sendiri yang menjual tubuhnya pada seorang pria dan akan sampai mana lagi penderitannya berlanjut ?. Rasa lelah menyergapi hati Luhan. Membuat ketegaran Luhan runtuh memilukkan di samping Sehun. Sehun menoleh. Tangisan Luhan sangat terdengar jelas di telinga Sehun. Sehun mendekati tubuh bergetar Luhan.

"Kau menangis ?" Suara Sehun melunak. Perlahan, Sehun menarik dagu Luhan agar menatap wajahnya dan Sehun bisa melihat mata Luhan yang sudah membengkak dengan guratan urat merah di sekitarnya. Sehun terteguh saat tiba tiba merasakan sesak menyergap relung hati terdalamnya yang tidak pernah terjamah oleh siapapun ketika melihat airmata Luhan menetes. Rasa benci pada airmata yang sudah menodai pipi putih Luhan muncul menyelinap tanpa Sehun ketahui penyebabnya. Sehun bukan sosok pria yang akan merasa iba pada tangisan wanita tapi entah kenapa tengisan Luhan seakan membuatnya ikut terjerembab dalam kesedihannya, membuat Sehun tidak kuasa untuk tidak merengkuh Luhan dalam dekapannya.

Tangisan Luhan semakin pecah dalam pelukkan Sehun. Dalam dekapan pria yang ia cintai dan ia benci dalam waktu bersamaan. Sehun tidak tahu apa yang membuat Luhan menangis. Sehunpun tidak mengerti kenapa Luhan menangis. Sehun hanya mengelus pelan lengan Luhan untuk sedikit memberi ketenangan. Perlahan isakan Luhan mereda dan tubuh Luhan sudah tidak lagi bergetar. Sehun menjauhkan dirinya dan menghapus jejak airmata Luhan.

"Kau menyesal karna melakukan ini ?"

Luhan terdiam. Andai Luhan mampu menjawab Luhan akan dengan pasti menjawab 'Iya'. Tapi tidak ada yang bisa ia sesali jika itu bisa menyelamatkan anaknya. Jalan ini adalah jalan yang ia pilih dan menyesali tidak akan membuat anaknya sembuh. Luhan beranjak dari ranjang Sehun. Ia tidak boleh terlalu larut pada kesedihan yang ia rasakan karna Chris tengah menunggunya kembali dengan membawa harapan yang sudah ia dapatkan. Luhan mengambil pakaian dalamnya dan berjalan menuju kamar mandi Sehun dengan sedikit meringis karna rasa perih pada vaginanya. Sehun menyenderkan tubuhnya pada sandaran ranjang dan sedikit mengusak wajahnya. Dia tidak tahu hal gila apa yang terjadi pada dirinya yang Sehun tahu hanyalah Luhan sebagai penyebabnya.

Hampir sepuluh menit menunggu. Luhan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyamanya sendiri yang masih sedikit basah. Sehun menatap tidak suka pada Luhan.

"Kau akan pergi dengan menggunakan itu ?"

Luhan melihat Sehun sekilas dan menatap piyama coklatnya sendiri. Tidak ada yang salah menurut Luhan. Luhan mengangguk. Dengusan kesal Sehun terdengar. Sehun beranjak dari ranjangnya, menggunakan jubah tidurnya dan berdiri di hadapan Luhan.

"Buka bajumu.." Suara Sehun terdengar tegas. Luhan mendelik dan menggeleng dengan cepat.

"Tidak! Aku tidak mau.."

"Kenapa kau selalu membantah setiap ucapanku ?!"

"Aku bukan lagi asistenmu Sehun!"

Sehun menatap kesal pada Luhan yang terus membantah ucapannya.

"Jangan terlihat lebih menyedihkan di depanku Luhan atau pertahananku akan benar benar hancur!"

Luhan terdiam. Luhan sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Sehun. Sehun berjalan menuju lemarinya, mengambil beberapa pakaian dan meletakannya di kursi. Sehun menarik baju piyama Luhan ke atas mencoba untuk melepaskannya, namun segera di tahan oleh Luhan.

"Apa yang kau lakukan Sehun!"

"KAU AKAN SAKIT JIKA MENGGUNAKAN BAJU INI!"

Luhan menampik tangan Sehun. Mengabaikan bentakan Sehun untuknya dan berjalan menuju uang yang sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Sehun mengambil jaket dan memakaikannya di bahu Luhan.

"Pakailah.. udara di luar sangat dingin"

Luhan mengambil jaket milik Sehun yang terpasang di bahunya, meletakannya di atas meja untuk ia gunakan sebagai pembungkus uangnya. Sehun terkekeh pelan dengan tatapan mengejek pada Luhan. Luhan terlihat seperti gelandangan yang tidak ingin kehilanagn uang hasil dari mengemisnya.

"Kau benar benar terlihat menyedihkan Luhan.."

Luhan terdiam sejenak dan menoleh pada Sehun dengan tatapan yang sangat sulit Sehun pahami. Luhan mengepalkan tanganya erat dan membungkuk pada Sehun.

"Terimkasih atas bantuanmu.." Luhan berucap pelan dan segera keluar dari kamar Sehun. Meninggalkan Sehun dengan erangan kesalnya yang memenuhi kamar luasnya. Sehun melempar cangkir tah yang masih terletak di atas meja dengan nafas memburu. Sehun hanya tengah merasa frustasi pada dirinya sendiri yang hampir di buat gila oleh Luhan.

"Brengsek kau Luhan!"

.

.

Luhan berjalan dengan terus memeluk erat jaket berisikan tiga ratus juta won miliknya. Udara pagi dini hari benar benar terasa menusuk tubuh Luhan yang hanya di balut piyama tipis setengah basah miliknya. Bibir Luhan mulai memucat dan bergetar. Selain karna udara dingin kondisi Luhanpun sudah benar benar dalam keadaan lemah. Beberapa kali Luhan hampir terjatuh karna rasa pening yang tiba tiba menderanya namun Luhan menguatkan dirinya untuk tidak jatuh pingsan dan terus berjalan. Putranya dalam keadaan yang jauh lebih buruk darinya dan Luhan tidak boleh berhenti hanya karna ini. Uang yang ia butuhkan sudah berada di dalam pelukannya. Sedikit lagi, sedikit lagi putranya akan sembuh. Senyum tipis Luhan terukir di bibir pucatnya. Luhan berharap apa yang sudah ia korbankan tidak akan menjadi sia sia. Chris harus tetap hidup dalam kondisi apapun putranya harus tetap bernafas.

.

.

Minseok baru keluar dari dalam kamar yang di sediakan untuk para perawat beristirahat. Minseok sedikit merapihkan dirinya untuk memulai kembali pekerjaannya di hari ini.

"Minseok.."

Minseok menoleh dan sontak mendelik saat melihat Luhan yang menghilang sejak beberapa jam lalu kini berada tak jauh di depannya. Dengan cepat Minseok menghampiri Luhan dan menatap hawatir pada Luhan yang datang dengan keadaan memperihatinkan.

"Aku mendapatkan uangnya" Luhan tersenyum dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya. Minseok segera mencek suhu tubuh Luhan dan mendapati Luhan dalam keadaan demam tinggi.

"Kau dari mana saja Lu ?. Keadaanmu masih lemah dan kenapa kau pergi ?. Lihat sekarang kau demam"

Luhan mengbaikan segala pertanyaan Minseok dan segera memberikan jaket berisikan uang tiga ratus juta won pada Minseok. Minseok menatap heran pada jaket yang Luhan berikan.

"Apa ini ?"

"Itu uang untuk mengoprasi Chris, Min"

Minseok menatap terkejut pada Luhan.

"Benarkah ?"

Luhan mengangguk dengan senyum yang tidak lepas dari bibir pucatnya.

"Baiklah.. Ayo kita temui doctor Suho" Minseok berjalan dengan rasa tidak sabar. Ia tidak boleh membuang waktu karna satu menit yang Chris miliki sangatlah berharga melebihi bongkahan emas sekalipun. Minseok terus memasang senyuman di setiap langkah yang ia tapaki sampai ia sadar kalau tidak ada suara langkah Luhan yang mengikutinya. Minseok berbalik dan mendapati Luhan pingsan di belakangnya.

"Luhan!" Minseok segera menghampiri Luhan yang tergeletak di lantai dengan keadaan lemah.

.

.

Minseok mengambil piyama pasien untuk ia kenakan pada Luhan. Luhan sudah mendapat penangan dari Suho dan uang yang Luhan berikan sudah Minseok serahkan sepenuhnya pada Suho. Beberapa jam lagi Chris akan menjalani operasi karna semua persyaratan sudah terpenuhi dan Minseok berharap Luhan akan segera sadar agar ia bisa menemui Chris lebih dulu. Bagaimanapun tidak ada yang tahu dengan hasil operasi Chris. Setidaknya jika itu buruk Luhan sudah lebih dulu melihat Chris dalam keadaan hidup untuk terakhir kalinya tapi tentu bukan itu yang Minseok harapkan. Minseok berharap operasi itu akan berjalan lancar dan Chris bisa sembuh seperti sediakala.

Minseok mulai melepas piyama yang Luhan kenakan dan Minseok tercengang saat melihat begitu banyak jejak kemerahan di atas kulit putih Luhan. Minseok memundurkan langkahnya dengan mata yang mulai berkaca kaca. Minseok tidak bodoh untuk memahami apa yang terjadi sekarang. Luhan menjual tubuhnya demi tiga ratus juta won yang ia serahkan padanya beberapa saat lalu.

Tangisan Minseok pecah walaupun Minseok dengan sekuat tenaga menahan isakannya. Apa dunia ini terlalu kejam untuk Luhan hingga Luhan memilih jalan pintas ?. Minseok tidak menatap jijik pada Luhan ataupun menganggap rendah wanita sekuat Luhan yang ia kagumi karna Minseok tahu Luhanpun memilih jalan itu dengan terpaksa. Luhan adalah wanita baik, wanita yang memiliki etika, kesopanan, ramah dan moral yang tinggi. Luhan tidak akan melakukan hal hal memalukan jika bukan dalam keadaan seperti sekarang. Minseok yakin itu karna selama ia mengurus Chris, Minseok bisa melihat uang yang Luhan hasilkan adalah dari kerja kerasnya dari pagi sampai malam. Bekerja menjadi pelayan restoran ataupun cleaning service di berbagai tempat. Yang Minseok tidak mengerti adalah pria berhati binatang mana yang tega mengambil keuntungan di balik penderitaan Luhan.

"Kau berkorban terlalu jauh Luhan.. Semoga Tuhan melihat segala pengorbananmu untuk Chris" Minseok berucap doa dan segera memakaikan piyama rumah sakit untuk Luhan dengan airmata yang masih sedikit membasahi pipinya. Minseok mengusap peluh di pelipis Luhan dan keluar dari kamar rawat Luhan untuk membiarkan Luhan beristirahat.

Luhan terlelap dalam tidurnya. Nafas Luhan terdengar teratur dan tubuh lelah Luhan terbaring nyaman dengan selang infuse yang kembali terpasang di nadinya. Mata Luhan terpejam tenang tanpa gangguan sedikitpun. Tuhan seolah memberi Luhan dunianya sendiri di dalam mimpinya sendiri.

.

.

Luhan memasuki kamar kecilnya dan melihat sosok Chris sedang bermain dengan Iron man pemberiannya. Luhan duduk di tepi ranjang dan mengusap sayang puncak kepala Chris yang terenyum padanya.

"Ibu datang..?"

Luhan mengangguk dan merengkuh Chris dalam pelukannya.

"Ibu merindukan Chris.." Luhan mengecupi puncak kepala Chris bertubi tubi, membuat Chris tersenyum dengan gembira.

"Chrispun merindukan Ibu" Chris memeluk erat leher Luhan.

"Chris tidak akan meninggalkan Ibu kan ?"

Chris mengangguk dan juga menggeleng.

"Chris menyayangi Ibu.." Chris mencium pipi Luhan dan turun dari ranjang. Luhan menatap bingung pada Chris yang hanya tersenyum di depannya. Senyuman Chris terlihat begitu cerah dan bibir itu, bibir Chris terlihat segar tidak pucat seperti biasanya. Tapi entah kenapa, melihat Chris yang seperti ini justru membuat airmata Luhan menetes. Harusnya ia lega dan senang bukan ?.

"Chris.."

Chris tersenyum lebar dan berlari keluar dari ruangan yang tiba tiba berubah menjadi ruangan kosong bercat putih. Luhan menatap nanar pada sosok Chris yang menjauh dari jangkauannya.

"Chris!" Luhan mengejar langkah kecil Chris tapi Chris menghilang dari pandangannya. Luhan terduduk dengan isakan dan airmata yang menjadi temannya.

"Chris.. Kau tidak boleh meninggalkan Ibu"

.

.

Sehun berdiri di dalam bar kecil yang tersedia di rumahnya. meneguk kasar wine dari dalam botol tanpa menuangnya pada gelas untuk menghilangkan perasaan gelisah yang tengah ia rasakan. Sejak Luhan pergi dua jam lalu perasaannya di selimuti dengan kehawatiran, kecemasan dan perasaan perasaan menganggu lainnya yang tidak pernah ia rasakan pada siapapun. Wajah Luhan terus menempel di pelupuk matanya seperti sebuah bayangan yang tidak bisa ia hapus.

Sehun melempar botol wine yang ia pegang pada dinding rumahnya. Membuat aroma khas alcohol menguar memenuhi ruangan bar milik Sehun. Sehun mengusak dan menjambak rambutnya saat perasaan yang ia rasakan tidak kunjung hilang dari hatinya. Dengan segera Sehun meninggalkan ruangan yang di set menyerupai bar sedemikan rupa untuk meredam dirinya dengan cara lain. Dia tidak ingin menjadi pria bodoh yang terhanyut dalam fikiran kalut yang datang tanpa alasan.

Alasan itu ada hanya kau yang tidak mampu melihatnya Oh Sehun. Lunakan hatimu dan kau akan bisa melihat pancaran seorang bidadari dengan hati selembut sutra berada di depanmu. Menunggumu dalam kepedihan dan keterdiaman.

.

.

.

.

.

To be continue..

Ketemu di Chap ENAM^^ NC dan FLASHBACK dalam satu chap, jadi jadi gimana, cukup ga ? Maaf ya kalo NCnya ga HOT, aku kalo nulis FF itu bagian tersulit. Jujur, ya itu bagian NC jadi maklumin kalo datar ga ada rasanya lmao. Soal pil pengaman yang Sehun bilang itu kalo di indo macam minipil ya, minipil kalo di minum dalam keadaan kaya gitu bisa mengurangi resiko kehamilan. Buat Info aja si^^ dan aku ngakak baca review kalian semua hahaha banyak yang mewek ya sama Chap lima, ada yang tanya juga, gimana perasanku pas nulis chap kemarin. Aku juga nangis ko (-_-) aku nulis ni FF nangisnya di chap 3 dan 5. Kan eek ya, nulis sendiri nangis sendiri pula.

Buat yanga tanya aku ARMY atau bukan aku jawab BUKAN^^ aku EXO-L dan ELF. Ada juga yanga tanya akun sosmedku yang selain BBM. Aku Cuma punya TW (Ekykiki93), FB, BB. Ada yang belum inpite BB ku ya. Ni pinnya "57E6B559" Inpite ya^^

Soal adegan Luhan yang hujan hujanan di depan rumah Sehun, banyak yang bilang itu mirip adegan FF HunHan yang dapet remake novel Ka santi, emang aga mirip, aku juga baca ko FF itu –Yang Luhannya cari uang buat Kai / Kris (Aku lupa) tunangan dia yang kecelakaan- sejujurnya aku bahkan udah lupa sama FF itu kan udah lama ya, adegan kena hujan itu biar kesannya dramatis aja jadi biar makin negenes gitu. Ga ada yang bilang aku jiplak karna kalian semua baik /cium satu satu/ cuma mau bilang aja, kalo ada kemiripan sama FF, Drama atau lain lainnya itu semata cuma kebetulan^^

Yang tanya orang tua Sehun orang tua Luhan, semuanya akan ke jawab seiring bertambahnya chapter ya. Dan makasih atas semua Do'a kalian, caperku berhasi ya /Goyang dumang/ tapi aku minta maaf ya karna update aga lama huhuuhuu kemarin ada masalah jaringan di daerahku –SINYAL ILANG- dan itu ga Cuma satu atau dua hari tapi BERHARI HARI. Jadi efeknya aku ga bisa update FF /Bom INDOSAT/

Yang minta Yipan di munculin hohoho rahasia. Munculin ga yaaaaaa? Nah jadi gimana. Ada ilham yang di dapet ga setelah baca Chap ini ? Dan chap ini udah lebih panjang loh dari chap sebelumnya ha ha ha jadi semoga review kalian panjang dan jumblahnya juga nambah panjang ya^^

Buat Vee. Ga usah minta maaf ga tersinggung ko^^ malah mau bilang makasih. Makasih ya, terus baca dan review FF ini ya^^

Ada yang bahas KaiSoo dan ChanBaek. Maaf ya, aku masih focus ke HunHannya. Nanti kalo ada moment pas aku munculin cahyonya tapi ga bisa juga kalo terlalu ke mereka karna nanti FF ini bakal makin panjang jadi dua couple itu hanya bisa nyempil nyempil aja /Bow ke CBHS dan KSHS/

Ok cuap cupanya sampai di sini, kalau masih ada pertanyaan yang belum aku jawab. PM atau chat aja ke BB, aku lupa soalnya ha ha ha dan maaf lagi kalau masih ada typo. Typo itu sebagian dari iman(?) /abaikan/ akan lebih aku teliti lagi.

Thanks to :

Vee | hunnieluludeer | cho min ah | nik4nik | LittleJasmine2 | kimaerinuna502 | | satanSEKAI | dayahbyun | Vianna Cho | Cactus93 | babybabyun | BabyByunie | Xxian | Just AngEl | Reechan07 | noVi | Oh Grace | xoos94 | deerhanhuniie | sanmayy88 | Sherli898 | Kim YeHyun | xilu | | Juan Oh | Kim124 | Light-B | Seravin509 | JYHYunho | Eghaa Jung | zoldyk | tzqyaz | anisaberliana94 | choikim1310 | wuhanjong | Baby niz 137 | Angel Deer | danactebh | Han214 | dyodomyeon | mandwa | fishyelfxoxo | xieluharn | ohandeer | ZzzHan | Strlu | karniaaalysia2047 | khalidasalsa | LisnaOhLu120 | Selenia Oh | oh ana7 | Ludeer | fikarj94 | niasw3ty | Jung vhyii | nutnutnut | luharawr | ChagiLu | yiboo | DBSJYJ | ElisYe Het | ruixi1 | odultluluexo | Arifahohse | tiehanhun9094 | laabaikands | hyunhee1104 | rikha-chan | asdfghjkyu | hunexohan | DEERHHUN794 | kartikaandri15 | Oh Titan | HunHanCherry1220 | vietrona chan | | yellowfishh14 | chooco | Noni | joohyunkies | BB137 | Okta HunHan | Rikailu | park28sooyah | daebaektaeluv | Sanshaini Hikari | SehunHan04 | xobechan56 | Misslah | Richjoomoney | Rosy Phantomhive | MissPark92 | Anisa16 | ohandeer | luluhunhun | Oh Stella | igineeer | kawaiinunung | NopwillineKaiSoo | IndahOliedLee | HunLu520 | para Guest | - The secret past chap 5.

Ini ada yang kelewat ga ? kalo ada maaf dan tetep mau bilang. TERIMAKASIH ATAS SEMUA. SEMUA YANG UDAH KALIAN UCAPIN LEWAT TULISAN DAN JADI KATA KATA PENYEMANGAT BUATKU^^ I LOVE YOU, I LOVE YOU, I LOVE YOU UNTUK KALIAN SEMUA!

Aku tunggu review kalian buat Chap ini dan untuk yang fav dan foll FF ini juga terimakasih. Kalo masih ada yang belum Review, review ya^^ Aku tunggu review kalian ^o^

Dan aku BAHAGIAAAAAAAAAAAAAAAAA! Kalian tau dong ya, yang Luhan melike foto HunHan di Weibo dan kalian tahu juga ga kalau ada fans yang ngasih Luhan photocard Sehun sebelum Luhan melike foto foto itu di weibo saat tanggal 31 kemarin, aduh aku rasanya mau guling kalau inget itu TT seneng, bahagia, hebring juga baper jadi campur aduk! Luhan itu kangen SEHUN! Kyaaaaaa please, ayo dong kita do'a berjama'ah. Minta HunHan dapet moment buat bisa saling ketemu, asal ketemu muka aja aku ga papa asli. Duh panjang ini mah, bisa bisa ga selesai sampai 6K lol

Kita jangan doa yang terbaik untuk mereka tapi doa buat mereka ketemu. Ok!

See you lah di next chap. Takut di tendang jadi aku kabur duluan aja ^o^ bye, bye. Jump! Jump! Jump! Jump! We are HHS^^