Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : T+
Warning : AU, OOC, OC, Typo, Kata-kata kasar, Not BASHING, dll.
Character→ Sasuke, Sai, Naruto, Kiba: 25th
Neji: 26th
Shikamaru: 27th
Gaara: 23th
Hinata, Sakura, Tenten, Ino: 24th
Temari: 25th
Other Chara: -menyesuaikan-
If you don't like? So don't read! Happy reading all, please RnR.
Sugar Princess71 Present
.
.
.
"Maaf nona, anda tidak bisa masuk begitu saja, di dalam rapat sedang berlangsung." Ino tidak mengindahkan kata-kata wanita itu, ia terus berjalan menuju ruangan 'suaminya'. Sekretaris suaminya berusaha menghalangi jalannya dengan memegang pergelangan tangan kanan Ino. Ino menghela nafas, sejujurnya dia tidak ingin seperti seorang buronan yang begitu sulit hanya untuk bertemu calon mantan suaminya. Padahal beberapa waktu yang lalu, dirinya dengan mudahnya masuk ke ruangan Sai, tetapi kenapa sekarang begitu sulit?
"Nona, aku harus menemui suamiku sekarang, jadi aku mohon lepaskan tanganmu." Ino berusaha sabar, yang entah kenapa belakangan ini, dirinya kerap emosian hanya dengan sebuah kata benda; Sai.
"Aku mengerti anda istrinya Sai-sama, tetapi maaf anda tidak bisa masuk saat ini karena Sai-sama sedang rapat. Kuharap nona bisa sabar menunggu." Ino ingin membantah namun ia memilih menurut karena sudah lelah berdebat dengan wanita yang dari perawakannya terlihat lebih tua darinya.
Ino menyender ke tembok yang terletak tidak jauh dari meja sekretaris, matanya memandang langit-langit dengan tatapan kosong, sesekali ia menghela nafas. Kurenai —sekretaris Sai— merasa tidak enak melihat istri bosnya berdiri sementara ia duduk. "Nona, duduklah kau pasti lelah. Oh ya anda mau minum apa?" Ino tersenyum, ia menggeleng.
Kurenai berdiri, ditariknya kursi dorongnya ke arah Ino. "Anda jangan segan nona, anda pasti sangat lelah, duduklah. Sebentar ya aku ambilkan minum." Ino menahan tangan Temari sebelum wanita itu melangkah lebih jauh lagi.
"Aku tidak segan, justru kau yang canggung terhadapku. Tidak usah formal begitu nona…."
"Kurenai." Ino memperlebar senyumnya, ia menjabat tangan Kurenai, "Salam kenal Kurenai, panggil saja aku Ino. Jangan khawatirkan aku, lebih baik kau lanjutkan saja pekerjaanmu."
"Ah mana mungkin, anda adalah istri bos saya, tentu saya tidak mungkin bersikap kurang ngajar kepada anda…."
Perkataan Kurenai terputus oleh suara pintu yang terbuka dan menampakan beberapa orang dari ruangan tersebut. "Kurenai, laporan…." Sai terkejut melihat Ino namun ia menutupinya dengan senyum palsunya.
Tanpa basa-basi sedikitpun Sai dan Ino memasuki ruangan, bahkan Sai tidak melanjutkan perikataannya terhadap Kurenai. Kurenai memutuskan untuk membuatkan minum, ia pergi menuju pantry.
"Aku tidak menyangka kau akan kemari Ino-chan, silakan duduk di ruangan sederhana ini." Ino langsung duduk di sofa berwarna abu-abu dari bahan beludru, diamatinya ruangan luas yang penuh dengan lukisan —lukisan hasil karya Sai.
"Ruangan ini tidak berubah ya, sejak kau dirikan empat tahun yang lalu. Galerimu pasti semakin maju." Mata Ino tidak henti-hentinya teralihkan dari sebuah lukisan bergambar wanita. Ino berdiri dari duduknya, ia menuju lukisan wanita tersebut. Ditatapnya lukisan yang memperlihatkan wanita cantik berambut hitam tengah tersenyum, dirabanya lukisan itu.
"Dia cantik sekali ya." Ino melontarkan pernyataan retoris seraya memandang suaminya. Sai mengalihkan pandangannya, senyumnya pudar tergantikan wajah yang begitu kaku.
"Ada apa kau kemari, tidak usah berbasa-basi." Keramahan Sai lenyap begitu saja, Ino makin memperlebar senyumnya. Ia merasa hal ini akan begitu menarik.
Suasana begitu menegangkan, membuat Kurenai yang hendak mengantarkan minuman terseret ke dalamnya. Dengan canggung, Kurenai meletakan minuman untuk sepasang suami istri tersebut, kemudian pamit undur diri setelah dipersilahkan. Jeda yang diberikan Kurenai tidak membuat suasana membaik, malahan Ino dan Sai saling melancarkan pandangan menyudutkan.
Ino menghela nafas sejenak, senyum kembali terbingkai di wajah ayunya sementara Sai memasang wajah masam. Semuanya terasa berbalik. "Aku hanya ingin berkunjung ke tempat suamiku tercinta, apa tidak boleh?"
"Berhentilah berbasa-basi, ini sungguh memuakan." Ino merasa menang, ia berhasil memancing amarah suaminya. Diminumnya teh hangat yang disajikan Kurenai, ia berani bersumpah bahwa teh yang baru saja ia minum sangat nikmat rasanya.
"Hem, sekarang kau emosian sekali ya Sai-kun." Sai menghela nafas, senyum palsunya kembali muncul, membuat Ino muak melihatnya.
"Kau perhatian sekali ya sayang." Ino sedikit gugup, apalagi Sai mengatakannya dengan pandangan yang begitu lembut. Sai dapat melihat kegugupan istrinya, apalagi jika dilihat kebiasaan istrinya saat gugup; menarik nafas, menundukan kepala sebentar, kemudian menggelengkannya dengan tujuan menghilangkan semburat merah. "Kena kau," pikir Sai.
Ino melemparkan sebuah map kepada Sai, "Ah kau bisa saja sayang, ayo dibaca pasti kau akan senang mendengar kabar yang aku sampaikan di map tersebut." Ino tersenyum misterius, tanpa banyak kata Sai membuka map itu. Dahi Sai berkerut saat mengetahui isi map tersebut, namun ia dapat mengendalikan dirinya.
"Kau tanda tangani saja surat itu dan semuanya akan beres, lagipula aku masih berbaik hati dan tidak menuntut apapun."
Sai tampak menimang-nimang dan kemudian menyeringai, ia berjalan ke arah jendela dan membukanya, semilir angin menerpanya dan membuat helaian rambutnya berterbangan. Ino bingung melihat hal aneh yang dilakukan Sai, ruangan ini terdapat air conditioner namun kenapa Sai harus membuka jendela selebar itu. "Ino-chan apa kau yakin dengan ini? Aku tau kau masih labil sayang, sebaiknya pikirkan baik-baik—" map yang Ino berikan kepada Sai terlempar keluar, Ino terkejut, ia berusaha menggapainya namun tidak teraih. Map tersebut meluncur dengan cepat dari lantai tiga dan terjatuh di sebuah parit di lantai bawah yang mengakibatkan map tersebut basah. "— ups maaf, aku tidak sengaja menjatuhkannya."
Ino menggeram, ia kesal dengan perbuatan Sai, "Apa yang kau lakukan?! Susah payah aku mengajukan surat itu dan dengan mudahnya kau ceburkan ke parit!" Sai memasang tampang polos, seolah sesuatu yang baru saja ia lakukan adalah ketidaksengajaan belaka.
"Maaf tanganku licin sayang." Sai menghampiri Ino, dipegangnya helaian rambut Ino kemudian diciumnya, Ino menyingkirkan tangan Sai dengan kasar.
"Apa-apaan kau, jangan main-main denganku Uchiha. Apa sih maumu sebenarnya, bukankah pernikahan kita sudah tidak layak untuk dipertahankan, tetapi mengapa kau malah menghalanginya. Padahal aku sudah berbaik hati tidak mengajukan tuntutan apapun terhadapmu." Kesabaran Ino habis, menghadapi suaminya memang sangat menguras pikirannya karena sikap Sai yang tidak bisa diprediksi.
"Simpel saja, kau tidak punya alasan kuat untuk menceraikanku sayang. Aku sih tidak masalah kalau kau minta cerai, tapi Mikoto-baasan akan sangat cerewet jika kita bercerai tanpa alasan yang jelas. Kurasa kau juga tahu, betapa memusingkannya mengahadapi kecerewetan baasan. Maka dari itu kusarankan, kau membuat essai mengenai sebab kita bercerai. Kalau kau sudah buat, aku tinggal tanda tangan deh." Sumpah demi segalanya, detik itu juga Ino ingin mencabik-cabik kulit pucat Sai. Hanya saja Ino mikir dua kali untuk itu, ia tidak mau tangannya yang baru saja melaksanakan perawatan terkotori.
"Jika itu yang kau minta, aku tinggal bilang secara lisan kepada bibi alasan kenapa aku ingin bercerai denganmu. Alasannya, kau menikahiku hanya karena status dan untuk membuat nona Yakumo cemburu. Suapaya ia menceraikan suaminya lalu berpaling padamu, atau dengan kata lain pernikahan ini adalah sebuah kamuflase." Ino berkata dengan kalem sambil memandang lukisan wanita yang sedari tadi dilihatnya —lukisan Yakumo.
Akibat perkataannya, sukses membuat Sai diam seribu bahasa. Perkataan Ino memang bukan tanpa alasan, ia tahu sejak dulu Sai sangat mengagumi Yakumo, guru privatnya yang notabene berusia sepuluh tahun di atasnya. Ino sangat ingat, ketika pemuda ini selalu bersamanya atau bahasa gaulnya "pdkt", Sai selalu membicarakan Yakumo. Saat itu Ino tidak berpikir macam-macam, ia hanya berpikir Sai menganggap Yakumo sebagai kakak kandungnya. Maka dari itu ia tidak cemburu kalau Sai sangat perhatian terhadap wanita itu, namun ternyata perkiraannya itu keliru. Sayangnya kekeliruan itu baru diketahui ketika ia melaksanakan rituan malam pertama, yang mana pada ritual itu, Sai selalu memanggilnya Yakumo! Padahal Ino tidak pernah tumpengan dulu sebelum melaksanakan ikrar pernikahan. Betapa sakit hatinya kala itu, tetapi Ino berusaha bersikap biasa saja karena cintanya yang begitu besar terhadap pemuda pucat ini. Kalau sekarang sih, rasa cinta itu mulai memudar karena penghianatan. Aneh ya, kenapa baru sekarang merasa demikian, dari dulu ke mana aja No! Sudahlah kita tutup saja luka lama itu dan sekarang kita selesaikan luka baru ini….
"Kok diam sih, yasudahlah sampai jumpa besok, aku bakal datang dengan surat yang baru. Saat itu langsung tanda tangan ya, kalau enggak, kamu bakal dapat hadiah menarik dari baasan, hahahaha." Ino tertawa dengan begitu lepas, ia dapat melihat kepanikan luar biasa dari wajah Sai dan kebingungan pemuda itu untuk menyembunyikan lukisan Yakumo. Walau dalam hatinya begitu sakit, ia kurang apa coba? Usia lebih muda, wajah gak kalah cantik, body bikin iri, tetapi kenapa Sai lebih menyukai wanita yang sudah punya dua anak itu! Gak apa-apa deh yang penting ia terhibur dengan Uchiha yang turun pamor kejeniusannya. Habis lucu banget sih, ngeliat Uchiha yang selalu berekpresi —sok— bahagia, kelimpungan sampai-sampai naik tempat sampah biar mudah mengambil lukisan itu. Kita tahukan tempat sampah plastik, tidak mungkin kuat menahan berat tubuh Sai, akibatnya ia terjatuh dengan tidak elit. Ino semakin terbahak-bahak melihat kekonyolan Sai.
"Ino, kau tega sih sama aku, bantu aku dong… pantatku sakit nih." Ino melirik Sai dengan pandangan "siapa lo", Sai tambah mengerucut bibirnya.
Ino langsung pergi meningglkan Sai dengan senyum puas. Sesampainya di luar ruangan dengan bahagianya dia menghampiri Kurenai, "Jika kau butuh hiburan, ke ruangan bosmu deh, dijamin happy." Kurenai bingung dengan maksud Ino, ia memilih tersenyum lembut.
.
.
.
"Hai Tenten-nee…." Tenten tersenyum begitu sumringah melihat Hinata menghampirinya. Tenten langsung berlari memeluk Hinata.
"Kau tahu dari mana aku bekerja di sini? Oh ya kau ke sini dengan siapa?"
"Kau jahat Onee, kenapa tidak menjemputku saat aku keluar dari rumah sakit. Emm aku ke sini sendiri, aku tahu tempat ini dari Ino-chan." Hinata memandang tempat kerja Tenten dengan begitu antusias, Hinata sangat menyukai anak-anak dan ia menyukai tempat kerja Tenten yang merupakan tempat penitipan anak.
Hinata langsung berlari menghampiri seorang anak kecil berusia antara tiga atau empat tahun, Hinata kagum melihat anak laki-laki tersebut pandai menyusun puzzle dan yang paling istimewa anak itu memiliki ciri-ciri yang mirip dengan kakak sepupunya.
"Hinata, kau tidak bercanda kan? Kau ke mari sendiri…."
"Okaa-san belisik, Halu kan gak kongsentelasi." Tenten jadi bête dengar kata-kata anaknya yang begitu menusuk. Dia geleng-geleng kepala, kenapa anaknya persis banget kaya ayahnya.
"Aih kawaii, kau mirip sekali dengan Neji-nii." Hinata mencubit pipi Haru, membuat Haru merona dan membuat Hinata semakin gemas.
"Aku kan anaknya baa-san, makanya milip." Hinata kaget mendengar perkataan bocah tersebut, ia melirik Tenten. Dengan ogah-ogahan Tenten mengangguk menyetujui meski dalam hati rada gak ikhlas, dia pengennya bilang Haru anaknya Kim So Hyun!
Hinata membiarkan Haru kembali bermain, dia menghampiri Tenten dengan rasa ingin tahu tinggi. Tenten yang sadar akan hal itu jadi gamang sendiri, mengingat sulitnya menjelaskan keadaan yang ia alami kepada orang yang tengah mengalami kehilangan memori.
"Aku memang sudah menikah dengan Neji, kau datang kok saat kami menikah." Hinata memandang kagum Tenten, ia tidak menyangka Tenten jago meramal. Ibunya Haru tersebut langsung mencubit pipi tembam Hinata karena lucunya ekspresi yang ditawarkan Hinata.
"Emm enak ya mempunyai anak selucu itu, aku juga ingin, bikin iri saja… andai… ahh apa sih yang aku pikirkan." Tenten terkejut dengan perkataan Hinata, ia bertanya-tanya dalam hati, apa Hinata telah sembuh dari kehilangan memori parsialnya.
"Ahh tapi mana mungkin, aku kan belum menikah, punya pacar saja tidak. Kamu curang nih ngeduluin aku." Tenten menghela nafas, dugaannya salah, Hinata belum sadar atas semua ingatannya.
"Pernikahan tidak selalu menyenangkan…." Tenten meninggalkan Hinata yang tengah loading akibat kata-katanya, Tenten kembali ke pekerjaannya.
"Maksudnya apa Tenten-nee?"
.
.
.
"Uhh…." Shikamaru menggeliat, dia berusaha menjernihkan penglihatannya. Kepalanya sangat pusing karena semalam terlalu banyak menenggak minuman beralkohol. Badannya pun terasa pegal karena posisi tidur yang kurang baik. Suara perut yang berbunyi nyaring, memaksa bapak tiga anak ini bangkit dari sofa —tempatnya semalam tidur.
Shikamaru berjalan dengan terhuyung menuju dapur, sesekali ia hampir terjatuh karena kesadaran yang belum sepenuhnya kembali. Dibukanya kulkas, ia hendak mengambil susu dingin untuk menyegarkan tubuhnya dari alkohol. Dahinya berkerut melihat kulkas yang kosong tanpa ada makanan apapun di dalamnya. Perutnya berbunyi makin nyaring dengan sedikit menggerutu, ia berjalan menuju meja makan. Dibukanya tudung saji berwarna biru, kerutan muncul di dahinya melihat meja makan kosong tanpa ada apapun yang bisa ia makan. Diliriknya tempat penyimpanan ramen instan dan hasilnya sama; nihil.
"TEMARI!" Shikamaru berteriak begitu histeris, seolah berlomba dengan suara perutnya.
-MARRIAGE CONFLICT-
"Ah Sasuke-kun, kau sudah bangun?" Karin langsung bermanja-manja dengan kekasihnya, Sasuke risih dengan sikap Karin yang begitu over. Bahkan Karin dengan santainya mencuri ciuman Sasuke. Mendapat perlakuan demikian, Sasuke bersikap acuh tak acuh, namun ketika ia mengingat kejadian di mana Hinata tertawa bersama Kiba, emosinya memuncak, ia pun membalas ciuman Karin. Cukup lama mereka melakukannya sampai di detik berikutnya ia sadar, dirinya semakin menyakiti istrinya akan penghianatannya.
Sasuke melepaskan diri dari kegiatannya dengan Karin dan bergegas ke kamar mandi. Kini hanya suara guyuran air dari shower yang terdengar. Setelah Sasuke menyelesaikan acara mandinya, Karin menyambutnya dengan gelayutan manja.
"Sasuke-kun, aku sudah menyiapkan pakaian yang akan kau kenakan hari ini. Aku yakin kau semakin terlihat tampan. Oh ya besok-besok jangan tidur di sofa ya, badanmu pasti pegal-pegal, tidur saja di ranjang. Jangan sungkan sayang, hanya karena aku sudah tidur, atau kalau kau mau aku menemanimu melewati malam, bangunkan saja aku." Karin mengedipkan sebelah matanya, Sasuke sih cuek saja, tangannya sibuk mengancingi kemeja berwarna biru tosca yang dipilihkan Karin.
Karin membantu Sasuke mengancingi bagian atas kemejanya dan memakaikan dasi. Sekilas Sasuke melihat Karin sebagai Hinata namun di detik berikutnya, ia sadar itu hanya ilusi. Sudah seminggu sejak dirinya melihat Kiba dan Hinata bercanda begitu riang dan setelah itu dirinya selalu dihantui dengan kecemburuan. Sasuke sadar, dirinya pantas mendapatkan ini semua namun di dasar hatinya, ia memiliki ego yang begitu kuat. Dia tidak pernah mau dikhianati, meski dirinya mengianati. Dan dari itu semua, Sasuke ingin Hinata tetap menjadi miliknya, meski dirinya juga tidak bisa meninggalkan Karin.
"Sasuke, kita makan di luar ya. Kau tahukan aku tidak bias masak." Suara Karin, membuyarkan Sasuke dari lamunannya tentang istrinya. Sasuke mengangguk, menyetujui permintaan Karin untuk makan di luar. Tetapi di sisi lain, dirinya jadi membandingkan Karin dengan Hinata. Sasuke menghela nafas, teringat ejekan Sai kepadanya. Sai benar, Hinata jauh lebih baik dari Karin. Hinata pandai memasak, perhatian, sederhana dan cantik —baik hati maupun fisik— serta masih banyak kelebihan lainnya. Sasuke akui, dirinya begitu bodoh yang gampang tergoda dengan perselingkuhan. Masalah anak, Sasuke sadar itu hanya alibi untuk membenarkan perselingkuhannya. Dirinya dan Hinata baru menikah sekitar dua tahun, tentu masih ada harapan untuk memiliki keturunan kalau berusaha dan senantiasa berdoa kepada Kami-sama. Lagipula baik dirinya maupun Hinata, tidak mendapat cap steril dari dokter kandungan kala pemeriksaan terakhir, hanya belum mendapat kesempatan dari Kami-sama, itulah yang diungkapkan dokter kandungan tersebut.
Nasi sudah menjadi bubur, semuanya telah terjadi. Sasuke kini hanya bisa berharap, Kami-sama masih memberinya kesempatan untuk kembali membina rumah tangga dengan Hinata. Memikirkan Hinata, membuat rasa rindu di hatinya semakin menggebu, Sasuke ingin mengunjungi Hinata namun ia tidak tahu sekarang Hinata tinggal di mana.
.
.
.
Ino kaget saat sampai ke apartemennya dan apartemennya dalam keadaan sepi, dia baru ingat kalau Hinata tinggal bersamanya. Ino langsung berlari ke kamar mandi, siapa tahu Hinata ada di sana namun hasilnya nihil. Bayang-bayang tidak menyenangkan menghantuinya, dirinya teringat perkataan dokter Tsunade yang mengatakan kalau Hinata bisa berbuat nekat, jika suatu keadaan dan tekanan mengganggunya dikarenakan trauma yang dialaminya. Ino panik, ia hendak berlari keluar ke bagian informasi untuk menanyakan perihal keberadaan Hinata.
Rencananya terinterupsi dengan suara dering di ponselnya, Ino nyaris saja bersikap masa bodoh dengan ponselnya namun niat itu ia urungkan ketika mengetahui siapa yang meneleponnya. Ino menekan dial dan terdengar kata; moshi-moshi….
"Sakura tidak usaha berbasa-basi. Ini gawat, Hinata tidak ada di apartemenku, kita harus mencarinya. Gomen, seandainya aku tidak meninggalkannya, ahh bagaimana ini…." Ino begitu panik bahkan ruangan terasa panas untuknya meski ada air conditioner di ruangan tersebut.
"Jangan sepanik itu, kau tenang saja Hinata ada di tempatku…." Sakura belum selesai menjelaskan namun Ino telah memotongnya.
"APA? Kenapa tidak kau katakan padaku, aku kan cemas bukan main. Kau tahukan keadaan Hinata yang sekarang tapi kau malah…."
"Hei, kalau ada orang bicara dengarkan dulu! Suara panikmu membuat telingaku sakit, aku sudah memberitahumu sejak tadi namun kau tidak membalas pesannya, Tenten juga membantuku menghubungimu bahkan ia dengan sengaja ke apartemenmu, tapi kau tidak ada di sana." Sakura sedikit emosi menghadapi sahabatnya, sebenarnya ia tidak bermaksud demikian, tetapi kalau tidak diberhentikan dengan cara seperti ini, kepanikan Ino tidak akan pernah berakhir.
"Oh begitu, yokatta, hahaha. Tunggu aku ya, nanti aku akan ke sana." Ino pun langsung mematikan ponselnya dan bergegas mandi. Sakura yang menelepon Ino hanya menghela nafas.
.
.
.
Suasana di Suna selalu sama, tetapi entah mengapa Temari selalu rindu dengan tempatnya dibesarkan. Ibu tiga anak ini, begitu puas hanya denan melihat hamparan pasir dan beberapa tanaman gurun. Gaara menepuk bahu kakaknya yang asyik dengan dunianya sendiri, kemudian duduk di sebelah Temari.
"Ada masalah apa?" Temari bingung dengan perkataan Gaara, adiknya ini memang suka sekali to the point.
"Kau kan selalu begitu, setiap melamun pasti sedang punya masalah. Tentang si kepala nanas itu kan? Sudah kubilang, aku tidak setuju kau menikah dengannya dan kau malah menikah dengannya. Aku tidak akan memberitahu ayah, tetapi ceritalah kepadaku."
Temari kaget dengan segala prediksi Gaara yang tepat, kemudian ia tersenyum menggoda ke arah adiknya yang hanya berselisih dua tahun di bawahnya. Temari hendak mencubit pipi Gaara namun Gaara menghindar.
"Kau tidak lucu ah, tidak bisa diajak bermain. Pantas Sora dan Seira lebih suka bermain dengan Kankurou-nii, ah aku kangen sekali dengan nii-san, sudah lama aku tidak bertemu dengannya."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, setahun yang lalu, Kanurou-nii kan mengunjungimu dengan istri dan kedua anaknya. Ceritakanlah, aku akan merahasiakan dari kaa-san dan terutama dari tou-san." Temari menghela nafas, ia tahu dari kecil hingga sekarang Gaara yang paling mengetahui dirinya.
"Jika aku cerita, kau akan melakukan apa pada Shikamaru?" Sejujurnya Temari masih bimbang untuk memberitahu Gaara tentang masalah ini, karena kedua sisi yang menanti tidak akan baik baginya; entah perceraian atau mencoba bertahan, semuanya membuat dirinya sakit.
"Katakan saja… apa yang aku lakukan terhadap kepala nanas, tidak akan berimbas kepadamu namun itu tergantung juga sih." Gaara tersenyum tipis ke arah Temari, Temari menghela nafas, sepertinya dirinya memang harus bercerita.
"Dia selingkuh Gaara dan konyolnya dia berselingkuh dengan sainganku, Tayuya. Sejujurnya aku bgeitu kesal dan benci atas apa yang dia lakukan terhadapku, aku ingin berpisah, mengakhiri semua ini. Hanya saja, ketika aku melihat anak-anak, aku jadi ragu untuk melakukannya. Kau tahukan semenjak aku nekat tidak melanjutkan kuliah dan memilih menikah, tou-san sangat murka terhadapku dan itu yang membuatku bingung. Kalau aku harus mengakhiri pernikahan ini, anak-anak harus makan dari mana, aku sudah mengorbankan harapan tou-san dan impianku, jadi aku tidak mungkin merepotkan tou-san. Aku bingung Gaara, bingung…."
Gaara terkejut dengan apa yang didengarnya, ia tidak menyangka si pemalas itu bakal sebegitu keterlaluan. Seharusnya dia bersyukur mendapatkan kakaknya yang baik dan pengertian, tetapi tega-teganya dia menduakan kakaknya.
"Mungkin ini terjadi karena aku membantah tou-san…. Kau bahkan tidak setuju dan menentang keras, kala tahu siapa calon kakak iparmu, namun aku begitu keras kepala dan akhirnya kaya gini deh…." Temari meneteskan airmata, dadanya benar-benar sesak. Gaara memeluk kakaknya, mencoba menenangkan.
"Itu semua bukan salahmu nee-chan, jangan selalu menumpukan kesalahan pada diri sendiri. Aku tidak menyangka, ada juga lelaki bodoh sepertinya yang tega menyakiti istrinya, padahal istrinya begitu baik. Jika kau ingin mengakhiri ini, aku akan membantumu dan kau tidak akan kerepotan untuk membiayai anakmu kecuali dirimu sendiri yang harus kau tanggung. Aku kan sarjana hukum, dengan senang hati, aku akan menjadi pengacaramu. Tetapi kau harus pikirkan baik-baik masalah ini, apa perceraian memang jalan yang terbaik. Pikirkanlah dengan kepala dingin jangan dengan emosi. Jika masalah tou-san yang mengganggumu, kurasa kau tidak usah terlalu khawatir, setidaknya ada aku dan Kankurou-nii yang mengurus perusahaan bersama Matsuri-nee. Lagipula biar bagaimanapun juga tou-san pasti ingin anaknya bahagia, juga cucunya. Jadi, apa keputusanmu?"
Temari menangis semakin histeris, dicengkramnya kemeja bagian atas Gaara begitu kencang. Jangan lupakan, kemeja Gaara yang basah akan airmata Temari. Gaara menenangkan kakaknya dengan menepuk-nepuk punggung Temari. Suasana hati Temari bercampur aduk namun di dasar hatinya ada kehangatan yang menelusup, terlebih lagi tiupan hangat angin Suna yang sedari tadi menemani perbincangan mereka.
TBC
Hahhhhhhhhhhhhhhh, akhirnya aku bisa menyelesaikan chapter ini, setelah moodku hilang. Semoga kalian suka, aku tidak akan banyak berkata-kata, hanya mohon dukungannya lewat REVIEW!
Oh iya Su-chan mau balas review gak login dulu yah….
Suzu aizawa. Huahhh aku gak nyangka senpai baca fic ini, terharu aku! :D Makasih ya sudah mereview. ^^ Kalo masalah pembatas, sepertinya kemarin ada kesalahan teknis, hehehe.
Mamoka. Hehehe makasih sudah bersedia mereview. ^^ Emm etto, aku juga gak tahu, semoga setelah chapter ini, aku gak menelantarkan fic ini lagi. :D
Yuiyu. Bingung kenapa? :O Makasih ya udah review. ;)
Onie. Makasih ya udah review…. ^^ Oke gpp, aku senang kok dengan banyaknya pertanyaan yang kamu ajukan, berarti kamu respek dengan cerita ini. Masalah Hinata bisa hamil, masih belum pasti sih, tetapi seperti yang kuceritakan di chapter ini, semuanya masih ada kemungkinannya. ;) Karin ngandung anak siapa yee? Ada yang tahu? Hahaha. Iya, aku menyadari itu. Aku tengah berusaha menggambarkan feelnya dengan sebaik2nya, mohon masukannya ya….
Payung biru. Auw, auw, auw semoga kamu makin penasaran sama ceritanya. ;) Thanks for review. :D
Serenity. Suka, benarkah? Makasih ya Serenity-chan, maaf ya updatenya lama, semoga chapter selanjutnya gak lama. ;) #sokakrab
n. Owh makasih n-san, makin lope2 deh aku sama kamu (?). Iya kamu benar, kayanya ada yang nelan tuh spasi, padahal aku udah buat spasinya. Emm jangan panggil aku princess pake senpai pula, gak pantes! Panggil aja Su-chan, eh kok jadi kenal-kenalan kaya gini ya…. Btw aku manggil kamu siapa? #WTF
TheOnyxDevil. Emm tahu tuh kenapa mereka jadi jahat kaya gitu…. #shounen chara: Gara2 lo! Ups maaf gak bisa update kilat, malah update siput, maklum lagi musim siput. Makasih ya untk reviewnya. :D
Cherry19. Hehehe itu bukan flame kok, itu justru masukan yang membangun. ;) Makasih banget ya, semoga ke depannya cerita ini semakin baik. SasuKarin di apartemenny Karin, di situ gak ada Hinata…. ^^
Yeah. Aku juga jadi penasaran sama kamu (?), hahaha makasih ya reviewnya. :D
Neko-Ai-Nyan. Gapapa Say, kamu login atau enggak udah direview aja, aku makasih banget. ;) Ah benarkah kamu suka cerita ini? Kyaaaa senangnya! Sasuke nyesel gak ya? Semoga dia nyesel! Hehehe sama aku juga suka banget ngeliat mereka, kompak banget soalnya. :D FIVE STARS FOR YOU. 3
MomoAi. Makasih ya untuk kedua reviewmu di fanficku yang "Only You" dan "Sleeping Handsome"… ups gak maksud promosi kok. :D Ini aku update chapter selanjutnya, maaf ya lama banget, semoga kamu suka dengan chapter ini. Salam kenal juga. ;)
Sekali lagi terima kasih telah membaca fanfic ini
Dimohon reviewnya
Review
.
.
.
