Notes : Terima kasih untuk para readers yang masih membaca cerita saya! Maaf jika masih ada kata-kata yang aneh dan kurang jelas atau kesalahan dalam mengetik! Selamat membaca!

Created by : Angelalfiction

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : action, school-life, basketball-life, romance.

Pair : SasuxSaku, SasoxSaku, NaruxHina, SaixIno

.

.

.

.

Chapter 6 : Before Tournament 2

"Hahaha…aku senang sekali hari ini!" teriak Naruto dengan badan yang penuh dengan keringat.

"Karena menemukan sesuatu yang baru?" Tanya Takashi sambil mengelap keringat yang bercucuran di dahi-nya.

"Bukan menemukan, lebih tepatnya aku baru bisa menggunakan teknik dunk lane-up dan alley-oop!" kata Naruto sambil mengambil bola basket dan memutar bolanya di jari telunjuk.

"Ayo kita main lagi ttebayo!"teriak Naruto yang men-dribble bola-nya dan langsung melakukan slam dunk.

"Cape, ah!"teriak Takeda dan semua yang ada di situ meng'iya'kan perkataan Takeda.

"Aah! Kenapa kalian nggak ada seru-serunya sih?!"kata Naruto sambil men-shoot bola dari garis free throw.

"Lagipula besok kita akan bertanding. Jangan terlalu memaksakan diri, Naruto."kata Shikamaru.

"HAAAH! Kenapa tidak ada yang sependapat denganku ttebayo!" Teriak Naruto kesal sambil kembali bergabung dengan teman-temannya di bawah sebuah pohon yang rindang.

"Ehm, semuanya…memangnya kita akan bertanding? kemarin apa yang di bicarakan Kooga-senpai?"Tanya Takeda.

"Eh…Takeda, kau tidak ikut latihan kemarin?"Tanya Takashi.

"Aku sedang tidak enak badan, jadi kemarin aku tidak bisa ikut latihan. Oh iya, ngomong-ngomong kok nii-san nggak tau aku latihan apa enggak sih?"kata Takeda.

"Ohh…kemarin aku sibuk membantu Aiko-senpai mendata kalian. Jadi aku tidak melihat kau latihan apa nggak"kata Takashi

"Kemarin Kooga-senpai berkata bahwa besok kita akan melawan Seikyuu High School."kata Garra.

"Wah…Seikyuu High?Bukannya Juugo-senpai dan Suigetsu-senpai sekolah di Seikyuu, Nii-san?"Tanya Takeda kepada Takashi.

"Benar juga…"kata Takashi sambil kembali mengingat-ingat masa lalu.

"Memangnya mereka siapa?"Tanya Sai.

"Mereka adalah Ace dan Kapten di SMP kami dulu"kata Takashi.

"Apakah mereka semua hebat?"Tanya Kiba penasaran.

"Tentu saja…waktu mereka masih Berjaya di SMP kami dulu, aku saja di jadikan pemain cadangan."kata Takashi yang membuat semuanya menjadi Shock. Bahkan Sasuke yang awalnya tidak peduli sama sekali, ikut-ikutan shock mendengar yang Takashi katakan.

'Takashi 'kan jago…'kata semuanya dalam hati.

"Masa, sih? Aku tidak takut sama sekali tuh…"kata Naruto dengan santai tanpa memperdulikan tatapan-tatapan aneh dari teman-temannya.

"Bakayaro!"PLAK…tiba-tiba saja Naruto mendapat jitakan dari Takashi.

"I-I-ITTAIII!"teriak Naruto sambil mengusap kepalanya.

"Jangan meremehkan mereka berdua…apalagi mereka masuk ke sekolah yang sama…"kata Takashi.

JTAK…tiba-tiba saja Naruto menjitak balik Takashi.

"APP-…"

"Berhenti merendahkan timmu yang sekarang!"kata Naruto sambil menatap Takashi dengan tajam.

Semua anak basket yang ada di taman sebelah lapangan basket itu kaget dengan kejadian yang baru saja mereka lihat. Karena, Naruto sedang mengeluarkan ekspresi serius…tidak seperti biasanya.

"Tapi kau juga meremehkan mereka!"kata Takashi yang mengeluarkan tatapan yang tidak kalah tajam dengan Naruto.

"Tidak…"jawab Naruto santai.

"A-apa?"

"Aku tidak meremehkan mereka sama sekali. Aku hanya ingin membuat timku yang sekarang tidak takut dengan senpai-mu." Kata Naruto yang membuat semuanya kagum. Termasuk Takashi yang kaget dengan arah pemikiran Naruto.

"Jika sekarang kau merasa dirimu hebat, buktikan kepada kami semua jika kau memang hebat" kata Naruto yang segera pergi dari taman itu meninggalkan teman-temannya.

"Bijak sekali…apa benar yang tadi itu Naruto? Naruto yang ku kenal selalu ceroboh dan bodoh…"kata Kiba masih terkagum-kagum dengan Naruto.

Di kelas G-X…

Hinata POV

Apa yang harus kulakukan? Kenapa nilai kimiaku jelek? Pa-padahal aku sudah berjuang dengan keras mempelajarinya semalam.

"Haloo semua!"tiba-tiba saja aku mendengar suara-nya. Suara yang selalu membuatku melupakan semuanya.

Eh, aku baru saja mengatakan 'melupakan semuanya'? apakah 'dia' yang membuat nilaiku jelek?

"Hinata-chan!"

"KYAAA!"teriakku kaget. Benar-benar sangat kaget. Rasanya seperti tertangkap basah karena sedang memikirkannya.

"Tenang Hinata-chan…ini aku Naruto. Hehehe…maaf membuatmu kaget"kata Naruto dengan cengiran khasnya yang bisa membuat wajahku memerah. Kenapa aku menjadi pemalu begini jika ditatap dia? Mungkin sekarang wajahku sudah memerah.

"Kau sedang memikirkan apa Hinata-chan? Eh, itu nilai kimia yang tadi yah? Kau memfoto-nya? Wah…aku lihat yah hinata-chan?" Tanya Naruto bertubi-tubi kepadaku. Aku tidak mendengar apa yang dia katakan sama sekali. Aku terlalu fokus memperhatikan dia yang selalu periang setiap saat.

"Hinata-chan? Kau mendengarkanku?" Tanya Naruto sambil mendekatkan wajahnya kepadaku. A-aku tidak tahan lagi melihat wajah penasarannya yang terus mendekati wajahku. Bisa pingsan aku disini!

"I-iya, gomen Naruto-kun…apa yang tadi ingin kau lihat?"

"Foto itu Hinata-chan…"kata Naruto sambil menunjuk handphone yang sedang ku pegang.

"Ini"

"Wah, arigatou Hinata-chan! Ne?! nilaiku dibawah rata-rata? Bagaimana bisa? Kenapa Shikamaru yang seluruh jawabannya ku contek tetap mendapat nilai yang bagus?" dia terus mengomel-ngomel melihat foto itu. Entah kenapa aku tidak bisa mengalihkan perhatianku darinya. Dia selalu bersinar bagiku.

"Yamato-sensei ,Kuso!"teriak Naruto dikelas.

"Hihihi…"aku hanya bisa terkikik melihat gelagatnya yang menyalahkan Yamato-sensei.

"…Nggak di lapangan basket, nggak di kelas, semuanya membuatku kesal ttebayo!"

" Hinata-chan!"

"Eh, ada apa Naruto-kun?" tanyaku tak mengerti dengan panggilannya yang tiba-tiba.

"Te-temani aku makan ramen di kantin!" kata Naruto sambil mengalihkan wajahnya yang memerah. Na-na-nani? Memerah? Apa aku tidak salah lihat?

"Baiklah, tapi - ….Kyaa!"tiba-tiba saja Naruto menarikku berdiri dan menggandeng tanganku.

Di perjalanan menuju kantin, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa memikirkan tangan-ku yang digandeng olehnya.

"Naruto!" teriak Sakura yang baru saja tiba di depan kami.

"Sakura-chan!"tiba-tiba saja Naruto melepas gandengannya di tanganku dan melambaikan tangannya ke Sakura.

Aku sebenarnya agak cemburu dengan hal ini. Tapi, memangnya apa yang bisa kulakukan? Sekarang aku bukan pacarnya. Tapi aku merasa sangat kesal melihat dia yang lebih memilih melepas tangannya untuk menyapa Sakura. Apakah aku terlalu egois? Kenapa semakin aku menunggu malah semakin menjauh?

"Hinata-chan? Hoi!"tiba-tiba saja aku melihat wajah Naruto yang sangat dekat dengan wajahku.

"Eh?!" tersentak, aku langsung menjauhkan wajahku dengannya.

"Sa-sakura-chan dimana?!"aku sekarang lebih kaget lagi. Apa tadi hanya halusinasiku saja?

"Dia sudah pergi."kata Naruto yang membuatku lega. Naruto kembali menggandengku dan kami melanjutkan perjalanan menuju kantin.

"Ne, Hinata-chan…kulihat dari tadi kau selalu merenung. Apa yang sedang kau pikirkan?" Apa dia bisa membaca wajahku?

"Bukan apa-apa." Seharusnya aku berani mengucapkan padanya kalau ini semua karenanya. Dia yang membuatku cemburu, dia yang membuatku membuang segalanya demi memikirkannya, dia yang membuat peringkatku jelek di tahun pertamaku, di Konoha High School.

"Hinata…"

Naruto POV

Kenapa dia tidak merespon? Kenapa lagi lagi dia merenung?

"Naruto, ramennya sudah siap!" kata paman Teuchi.

"Terima kasih paman!" teriakku pada paman Teuchi yang kembali memasak.

Aku kembali memperhatikan Hinata yang masih terdiam di depanku. Apa yang sedang di pikirkannya dan…apa maksud dari perkataan Sakura-chan tadi?

Flashback…

"Ada apa Sakura-chan?" tanyaku saat Sakura menghampiriku. Tiba-tiba saja Sakura menarikku dan berbisik padaku.

"Sekarang kau sedang mengajak Hinata kencan?" A-apa maksud perkataannya?

"Ma-maksudmu?"

"Sudahlah, jangan mengelak kalau kau sedang berkencan…kulihat dia sudah menunggumu untuk mengatakannya…"kata Sakura yang segera pergi meninggalkanku dalam kebingungan.

Flashback off…

"Maksudnya Sakura-chan…"

"Naruto-kun?" ka-kapan Hinata sadar?

"Iya?"

"A-aku sudah tidak tahan lagi…" apa maksudnya semua ini?

"A-a-aku…aku...sebenarnya aku tidak ingin kata-kataku se-dramatis drama-drama yang sering kita tonton bersama, tapi Naruto-kun…'Aishiteru '…" Nani? Jadi maksud perkataan Sakura-chan adalah ini? Ternyata Hinata sudah mencintaiku sejak lama?

"A-a-aku pergi…" eh? Kenapa pergi?

"Hinata-chan!" segera kutinggalkan ramenku tercinta demi mengejarnya, karena ada hal yang lebih kusukai sekarang…melebihi cintaku pada ramen, yaitu Hinata.

Hinata POV

Kenapa aku lari darinya? Kenapa perasaan takut di tolak ini menguasaiku? Kenapa kakiku terus berlari?

"Hinata!" kudengar Naruto mengejarku. Aku semakin takut dan menambah kecepatan lariku.

GREP…"hh?"aku tersentak kaget saat ada seseorang yang memelukku dari belakang.

"kenapa kau menghindariku, Hinata-chan?" aku sudah tidak kuat lagi, lalu aku menangis dalam diam. Takut dengan apa yang ingin dikatakan Naruto selanjutnya.

"Asal kau tahu Hinata-chan...'Ashiteru mo'…"

Normal POV

"Aishiteru, Hinata-chan! Kumohon jangan lari lagi…"kata Naruto yang mulai membalikan badan Hinata agar mereka saling bertatapan. Melihat air mata yang mengalir di kedua mata Hinata, membuat Naruto ingin bergerak menghapusnya.

"Na-naruto-kun…"

"Hm?"

"Gomen"

"Maaf? Harusnya aku yang minta maaf padamu karena aku nggak peka sama sama kamu selama ini."kata Naruto. Sesaat mereka saling terdiam, memikirkan kata-kata yang cocok untuk dikatakan.

"Be-berjanjilah padaku Hinata!"kata Naruto dengan wajah merona.

"Berjanji? Untuk apa?"

"ehm…nanti saja deh…hehehe…"

"Naruto-kun mau ngomong apaan sih?"

"hehehe…lupakan saja! Yang jelas sekarang kau adalah milikku!" kata Naruto yang membelai wajah Hinata. Beberapa detik kemudian Hinata pingsan, membuat Naruto panic.

"HI-HINATA! Bangun! Kamu kenapa?" panik Naruto. Dengan tergesa-gesa, Naruto mengangkat tubuh Hinata dan membawanya ke UKS.

Di atap sekolah…

"Disini sangat tenang…tidak ada semuanya…bahkan tidak ada Sasori no baka…"kata Sakura yang sedang bersender pada pagar pembatas.

"Siapa yang tidak ada?"

"KYAA! Siapa kau?!" teriak Sakura spontan.

"Siapa lagi? Disini yang bermuka tampan sepertiku hanya aku…"kata Sasori yang sudah berada di sebelah Sakura.

"Baka! Apanya yang tampan?"kata Sakura kesal.

"Haaah…Sakura, kamu membosankan sekali tidak bisa di ajak bercanda…"kata Sasori dengan wajah cemberut.

"Kalau membosankan pergi sana!"

"Ish…galak banget…"

"Sasori…"

"Hmm?"

"Sebenarnya kau ini mata-mata rahasia milik keluarga Uchiha bukan? Kenapa turun jabatan menjadi anak buahku?"Tanya Sakura yang membuat Sasori agak kaget.

"Hahaha…kau sangat hebat dalam mencari informasi, Sakura! Sudah kubilang semua akan kulakukan untukmu. Agar aku bisa dekat denganmu."kata Sasori yang membuat Sakura tersentak karena sikap Sasori kepadanya sama dengan sikapnya kepada Sasuke. Melakukan segalanya untuk orang yang sangat dicintainya.

"Sasori"

"Hmm, apa lagi?"

"Apa kau bisa menolakku?"Tanya Sakura yang membuat hati Sasori sedikit tergores.

"Kenapa? Apa kau sudah sangat mencintai Uchiha kecil itu?"Tanya Sasori dengan menatap tajam Sakura.

"Sakura apa kau tahu rasanya - …"perkataan Sasori berhenti karena Sakura yang tiba-tiba memeluknya.

"Aku tahu rasanya dan…aku sudah pernah mengalaminya. Kau pasti tahu" kata Sakura yang membuat Sasori curiga kepadanya.

"Ka-kau tahu dari mana?"

"Dari Ino-chan…dia baru saja ngobrol denganku"kata Sakura.

'Ino sialan!"umpat inner Sasori.

Beberapa menit kemudian mereka saling melepas pelukan itu.

"Sakura-chan…"

"Iya?"

"Sudah kuputuskan agar aku berhenti mengejarmu. Tapi aku ingin kita masih berteman…"

"Aku sih terserah padamu Sasori…"

"Hmm…jika Sasuke benar-benar menolakku dan aku jadi mengharapkanmu, apa kau masih mau bersamaku?"Tanya Sakura bercanda.

"Tentu saja…bahkan aku punya bukti bahwa sebenarnya aku masih keberatan untuk melepasmu."kata Sasori.

"Hah? Apa it -…"tiba-tiba saja Sakura merasa ada sesuatu yang basah menempel pada pipinya.

'Di-di-dia…menciumku?'teriak inner Sakura.

"Sa-sasori…"gumam Sakura gagap.

"Maaf, aku masih punya banyak permintaan...apa kau mau melaksanakannya?"Tanya Sasori.

"Na-nani? Apa permintaanmu sama persis seperti yang tadi?"

"tentu saja tidak seperti yang tadi. Aku tidak mungkin melecehkan orang yang kucintai…"kata Sasori yang membuat Sakura agak ragu.

"Ba-baiklah jika tidak seperti yang tadi…"Jawab Sakura yang membuat Sasori agak sedikit lega walaupun rasa sakit dari penolakan itu masih terus ia rasakan, karena dia sudah kalah dari Sasuke.

"Aku ingin kau berkencan denganku sekali saja setelah pulang sekolah nanti. Ku tunggu kau di depan kelas!"kata Sasori yang langsung pergi meninggalkan Sakura sendirian di atap.

Tanpa Sakura dan Sasori sadari ada seseorang yang melihat kejadian Sasori mencium Sakura dan itu membuat dia sedikit kesal.

Di kelas G-X…

"Ino…"panggil Sai.

"Mau apa kau? Jangan menggangguku…"

"Ehm…aku ingin minta maaf atas kejadian tadi di taman"

"Trus?"

"Aku ingin memberikanmu ini. Aku menyesal karena sudah membuatmu merasa terganggu."kata Sai yang meletakkan sebuah Kanvas di atas meja Ino. Setelah melakukan itu dia langsung pergi meninggalkan Ino dengan banyak pertanyaan yang ingin Ino tanyakan.

"I-ini…aku? Apa aku secantik ini baginya?"gumam Ino senang. Beberapa detik berikutnya tiba-tiba Ino merasakan perasaan bersalah yang sangat mendalam kepada Sai.

"Apa tadi aku menolaknya dengan kasar di taman?" gumam Ino sambil terus memikirkan perasaan yang justru sangat mengganggunya sekarang di bandingkan dengan kehadiran Sai yang selalu memujanya.

"Kenapa aku jadi memikirkannya? Padahal kami baru bertemu tadi siang…" keluh Ino.