T/N : OH! HAAIIII !
Senang bertemu kalian di T/N, Taufan Note...
ah, kalain pasti bertanya kenapa aku yang memberikan note kali ini?
SALAH KAN AUTHOR PEMALAS ITU ! LIHAT SUDAH BERAPA LAMA IA MENELANTAR KAN FF INI? AKHHHH _
aku begitu maraahhh, jika ia bukanlah orang yang memberikan aku pekerjaan, mungkin ia akan aku siksa dengan gerudi Taufan ku. cih, alasan nya saja tugas sekolah. padahal kerjanya hanya sibuk Fangirl karena Boyband kesukaan nya baru saja mengeluarkan album baru.
DASAR AUTHOR TAK GUNA!
okeh, SELAMAT MEMBACA
CHAPTER 5
HAPPY READING
.
.
.
.
.
Sifat alami manusia terkadang adalah selalu tidak bisa bisa menyimpan sesuatu terlalu lama, ketika mereka mendengar sebuah berita mereka pasti akan menyebarkan nya ke orang lain dan orang itu juga akan menyebarkan nya ke orang lain juga, begitu seterusnya hingga semua orang mengetahui berita tersebut. Seperti itulah siklus nya hingga bagaimana sebuah berita bisa dengan begitu cepat di ketahui orang banyak.
Seperti itu juga yang tengah terjadi di SMP Pulau Rintis, berita tentang Halilintar yang mencuri sebuah Handphone tersebar luas, hampir semua orang mengetahui nya dan itu terjadi hanya dalam semalam.
Saat Yaya memasuki perkarang sekolah, gadis itu sudah bisa mendengar beberapa orang mulai membicarakan tentang Halilintar dan tuduhan yang ia terima.
Yaya yang mendengar itu hanya berusaha untuk tidak mendengar apapun dan tetap berjalan kedepan.
Ketika memasuki gedung sekolah, pemandangan yang ia liat juga sama, beberapa orang membentuk kelompok kecil dan mulai bercerita mengenai kejadian yang sedang gemparnya di SMP Pulau Rintis. Tentang Halilintar si murid bermasalah yang dituduh mencuri Handphone teman sekelas nya sendiri.
Yaya menutup kedua telinga nya agar tidak dapat mendengar segala percakapan itu. Yaya lalu mulai berlari agar cepat-cepat masuk ke dalam kelas nya dan tidak bisa lagi mendengar tuduhan-tuduhan tentang Halilintar yang di bicarakan orang-orang.
Namu, keadaan semakin memburuk bagi Yaya. Ketika ia sampai dikelas nya pun, Yaya tetap bisa mendengar gunjingan itu, seharus nya dari awal ia menyadari jika yang paling parah pastilah dari kelas nya sendiri mengingat mereka bisa saja menyebarkan itu ke teman-teman mereka yang lain.
Yaya memejamkan matanya dan berusaha untuk tetap kuat, mendengar Halilintar dibicarakan seperti itu membuat hatinya sakit. Halilintar sama sekali tidak bersalah. Namun, orang-orang itu malah menuduhnya sembarangan dan makin mencap nya sebagai murid bermasalah.
Yaya berharap, ketika ia membuka mata semua yang terjadi hanyalah mimpi, ketika ia membuka mata yang ia ingin lihat adalah teman-teman nya yang mengobrol seperti biasa tanpa adanya nama-nama Halilintar disebut.
Namun Yaya tau jika harapan nya itu pasti akan sia-sia karena itu tidak mungkin terjadi, sekarang adalah kenyataan dan Yaya harus bisa menerima itu.
Satu hal yang tidak di harapkan Yaya ketika ia membuka mata, pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah sosok seorang Halilintar yang baru saja memasuki kelas.
Tidak sengaja mata mereka bertemu, namun Halilintar dengan cepat langsung mengalihkan pandangan nya.
Yaya melihat kesekeliling, menyadari jika semua orang tengah menatap Halilintar dan sesekali berbisik sambil menunjuk laki-laki itu. Yaya kembali menatap Halilintar dan mendapati laki-laki itu telah duduk diam di kursinya tanpa mengatakan apapun atau melakukan apapun.
'Kenapa?' adalah pertanyaan yang ingin diajukan Yaya kepada Halilintar.
'Kenapa kau tidak berdiri dan membela dirimu?' Yaya menggigit bibir bawah nya berusaha agar air matanya tidak keluar. Ia benci semua ini, ia benci kepada teman-teman nya, ia benci kepada orang-orang dan ia benci kepada dirinya sendiri.
Ia membenci dirinya sendiri karena tidak dapat melakukan apa-apa.
88
Selama mendapatkan tuduhan sebagai tersangka pencuri Handphone, Halilintar jarang keluar kelas hanya untuk sekedar pergi makan ke kantin. Ketika jam istirahat, laki-laki itu hanya duduk diam di bangkunya sambil menatap pemandangan diluar jendela.
Yaya pun begitu, gadis itu memutuskan untuk tetap di kelas dan menemani Halilintar. Walaupun laki-laki itu tidak menyadari nya, namun Yaya ingin tetap menamani Halilintar.
Yaya menatap bekal makanan yang ia bawa dari rumah lalu mengehembuskan nafas pasrah, ia menatap Halilintar yang berada di belakang dengan pandangan ragu. Ia ingin memberika bekal makanan ini kepada Halilintar, setidaknya laki-laki itu bisa mengisi perut nya walaupun cuma sedikit.
Ketika Yaya ingin beranjak untuk menghampiri Halilintar, gadis itu terpaksa membantal kan niat nya karena Lala –gadis yang hp nya dicuri- terlebih dahulu mendatangi meja Halilintar bersama seorang teman nya.
Yaya diam di bangkunya dan berusaha mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Sudah, Mengaku saja kenapa?" Yaya dapat mendengar Lala berbicara kepada Halilintar namun tidak ada balasan sama sekali dari laki-laki itu.
"Aku tahu, Kamu yang mengambil Handphone ku, iya kan?"
"Oh ya?" akhirnya Yaya bisa mendengar pembelaan dari Halilintar walaupun Cuma dua kata.
"Iya, kemarin aku sudah pergi ke cenayang..."
Yaya menaikkan satu alis nya.
Cenayang?
Ia tidak menyangka Lala sebegitu desperate nya sampai-sampai bertanya kepada seorang cenayang? Hei, ini adalah zaman modern tidak mungkin kita bisa begitu saja percaya kepada seorang cenayang. Yaya hanya menggelengkan kepalanya dan kembali memasang telinga mendengar kembali percakapan absurd di belakang nya itu.
"Iya, cenayang itu menyebutkan ciri-ciri yang persis sama kamu" oh kali ini yang berbicara adalah teman Lala tadi, tapi tunggu dulu. Apa yang ia bilang tadi? Ciri-ciri yang sama persis?
Heol
Yaya sweatdrop mendengar itu, Ya ampun. Apa mereka lupa jika Halilintar itu masih memiliki 2 orang yang persis seperti dirinya? Dunia sudah mulai gila. Batin Yaya.
"Memang ciri-ciri apa?" Yaya mendengar Halilintar bertanya, sepertinya laki-laki itu juga berfikiran sama seperti dirinya.
"Oh itu tidak penting, yang pasti, kita tahu kalau kamu yang mencuri Handphone Lala." Teman Lala itu berbicara dengan nada yang begitu angkuh membuat Yaya ingin sekali menampar wajah gadis itu.
"Awas saja! Disini tidaka ada yang mau berteman dengan pencuri seperti kamu!" Lanjut nya.
Oke, perkataan teman Lala tadi membuat tekanan darah Yaya naik, dia kesal, benar-benar kesal. Mengapa teman kelas nya itu begitu keterlaluan hingga bisa-bisa mengatakan hal seperti itu kepada Halilintar. Dia tidak bersalah sama sekali dan seharusnya tidak diperlakukan seperti itu.
Yaya mengepalkan tangan nya kuat-kuat untuk menahan amarah nya, gadis itu mengambil nafas dalam lalu menghembuskan nya pelan, berharap emosi nya bisa mereda.
Yaya hanya tersenyum paksa ketika melihat kedua gadis tadi berjalan melewati bangkunya, andai Yaya bukanlah orang yang baik hati, mungkin kedua gadis itu sudah habis. Setelah mereka pergi keluar kelas, senyum Yaya runtuh digantikan dengan wajah murung, Yaya memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali.
Hahhh..
Ia berharap kasus bodoh ini segera selesai.
88
Sore itu hujan tiba-tiba saja turun mengguyur bumi, langit menjadi begitu gelap menghalangi sinar matahari. siswa – siswi SMP Pulau Rintis terpaksa harus pulang terlambat menunggu hujan reda. Sebagian dari mereka memilih untuk tetap dikelas, ada yang pergi kekantin, ada yang lebih memilih menunggu hujan reda di teras gedung sekolah, bahkan ada yang sudah pulang terlebih dulu karena di jemput atau memilih menerobos hujan yang begitu lebat.
Yaya sendiri memilih untuk tetap di kelas, berada dikeramaian entah kenapa membuat nya tidak nyaman, banyak orang berarti dia akan mendengar gosip-gosip aneh lagi tentang Halilintar, bahkan sekarang Taufan juga ikut jadi bahan gosip. Kejadian lampau yang menimpa kembaran kedua Halilintar itu kembali diungkit. Yaya lega setidak nya Gempa tidak atau belum menjadi bahan gosip.
Duduk di bangku yang di tempati oleh Halilintar membuat Yaya sedikit merasa nyaman, bangku laki-laki itu berada paling belakang di pojokan kelas dekat dengan jendela, membuat Yaya dapat melihat keadaan di luar dan menatap hujan yang turun.
Yaya beruntung karena hanya dirinya saja yang berada di kelas, teman-teman nya yang lain memutuskan untuk pergi kekantin atau menunggu hujan reda di lorong lantai dasar gedung sekolah. Yaya kali ini lebih menyukai kesendirian karena itu membuatnya tenang dan damai.
Ah, sepertinya dia bisa sedikit mengerti kenapa Halilintar tidak suka dengan keramaian. Ya, semua itu hanya membuat mu pusing dan merasa tidak nyaman.
Lama Yaya tetap berada di kelas dan memandang tetesan air hujan. Berpangku dengan sebelah tangan nya, Yaya memandang keluar jendela dengan pandang kosong, dia terus menatap hujan, mendengar gemircik suaranya seakan itu adalah sebuah nyanyian dan menghirup udara yang lembab.
Semu itu membuat Yaya menjadi nyaman, perlahan mata nya mulai memberat, memberat dan akhirnya mata itu terpejam.
Namu sebelum ia sempat tertidur, Yaya kembali tersadar ketika mendengar suara pintu yang terbuka, Yaya menegakkan kepalanya lalu mengucek-ucek matanya agar melihat dengan jelas siapa yang datang masuk ke dalam kelas.
Yaya terkesiap begitu mengetahui ternyata orang itu adalah Halilintar, Yaya tidak tau harus berbuat apa di kondisi seperti ini, ketika dirinya dan Halilintar hanya berdua saja di dalam kelas dengan hanya ditemani suara hujan.
"Kau belum pulang?"
Disaat Yaya tengah berfikir keras untuk bagaimana memulai sebuah pembicaraan dengan Halilintar, ia tidak menyangka justru laki-laki itu yang terlebih dahulu memulainya.
Yaya gelagapan, mencoba menetralkan detak jantung nya yang berdetak kencang. Yaya akhirnya menjawab pertanyaan Halilintar "Ya,Kau tau diluar sedang hujan dan yahhh aku tidak membawa payung jadi, kau tau bagaimana kelanjutan nya." Yaya mengumpat di dalam hati karena kalimat yang ia keluarkan terdengar begitu ribet dan berbelit-belit.
"Oh.."Hanya satu kata yang terdengar begitu acuh keluar dari mulut Halilintar, laki-laki itu lalu mulai berjalan mendekat kearah Yaya membuat gadis itu menjadi sedikit tegang. Kemudian setelah Halilintar berdiri di samping nya membuat Yaya gugup, ia lalu menengadah menatap laki-laki itu. Halilintar tidak berbicara sama sekali, laki-laki itu malah mebungkukkan badan nya bersandarlebih dekat kearah Yaya.
Yaya sendiri membulatkan matanya, terkejut akan semua ini. Badan nya semakin ia rapatkan dengan dinding agar menjaga jarak dengan Halilintar, namu laki-laki itu malah mendekat, mendekat dan semakin mendekat membuat Yaya memejamkan matanya rapat-rapat.
'Hei, tidak mungkinkan Halilintar akan...'
Namun, setelah menunggu beberapa detik. Yaya kembali membuka matanya dan hanya bisa melongo ketika melihat Halilintar seperti mencari-cari sesuatu di dalam meja yang berada di depan Yaya, setelah itu mengeluarkan tangan nya dan mendapati benda yang ia cari ternyata adalah sebuah buku.
Yaya facepalm dalam hati.
'Apa yang baru saja aku pikirkan, dia hanya membungkuk untuk mengambil sesuatu di dalam laci mejanya?'
Wajah Yaya memerah, merasa malu akan apa yang telah ia pikirkan tentang kejadian tadi. Gadis itu dengan sedikt ragu menatap Halilintar yang saat ini tengah memasukkan buku nya kedalam Tas.
"A-apa kau kemari untuk mengambil bukumu yang tertinggal?" tanya Yaya dengan nada terbata-bata dia awal kalimat.
"Ya." Hanya jawaban singkat yang di berikan oleh Halilintar. Setelah selesai dengan keperluan nya, laki-laki itu lalu berjalan pergi keluar kelas meninggalkan Yaya tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Yaya sendiri hanya merasa sedih, sedih karena sepertinya hubungan nya dengan Halilintar semakin memburuk. Laki-laki itu semakin dingin kepadanya, ia merasa perlakuan Halilintar kepadanya kali ini terasa begitu berbeda, seolah-olah laki-laki itu juga mulai membenci nya.
Yaya menggigit bibir bawah nya, menahan agar air matanya tidak jatuh, ia harus kuat menghadapi hali ini. Ketika Halilintar menjahuinya maka ia harus mendekati laki-laki itu.
Di luar, Hujan semakin deras hingga terjadi petir beberapa kali, Yaya menatap keluar jendala dan menyadari jika langit seperti ikut menangis bersama nya. tangan nya menekan kaca jendela. Dingin, dia merasa tidak jauh berbeda dengan suhu udara yang menggenggam ujung jemarinya. Dan perlahan, pandangan matanya mulai memimik keadaan langit sore ini.
88
Sudah 15 menit Yaya menunggu di dalam kelas, namun hujan masih belum reda. Menghembuskan nafas pasrah akhirnya Yaya menyandang tas nya dan mulai beranjak keluar kelas. Sepertinya ia harus menerobos hujan agar bisa pulang kerumah.
Keadaan sekolah sudah mulai terasa sepi, Yaya hanya berjalan sendirian di lorong sekolah.
Tap tap
Suara langkah nya menggema di lorong kelas membuat Yaya sedikit bergidik takut, suhu yang dingin dan keadaan sekitar yang mulai sepi membuat Yaya mempercepat langkah nya.
Ia menyesal memilih untuk berlama-lama di dalam kelas, sebaiknya dari awal ia menerima ajakan Ying untuk pulang bersama. Ah, penyesalan memang selalu datang terlambat.
Setelah sampai di lantai dasar membuat Yaya sedikit lega, gadis itu lalu berlari untuk mencapai pintu keluar. berdiri di lobi sekolah, Yaya hanya dapat mengerucutkan bibir nya menatap hujan yang tidak kunjung reda. Yaya pun mengangkat tas nya berharap bisa melindungi kepalanya dari air hujan. Dengan langkah ragu Yaya melangkah keluar bersiap menerobos hujan.
Namun sebelum sempat ia melangkah, terlebih dahulu seseorang menghalangi pandangan dengan payung yang ia bawa, mengangkat sedikit payung nya kahirnya nya Yaya dapat mengetahui siapa orang tersebut.
Yaya membulat kan matanya mendapati Halilintar berdiri dengan sebuah payung melindunginya dari siramana hujan. Laki-laki itu hanya menatap kearah Yaya dengan tatapan dingin lalu mengtakan "Ayo!"
Yaya mengerjabkan matanya lucu, tidak percaya dengan pemandangan yang ia lihat. Hei, bukankah seharusnya laki-laki itu sudah pulang terlebih dahulu 15 menit yang lalu? Kenapa ia masih berada disini? Batin Yaya.
"Apa kau mau tetap berdiam diri disitu hingga hujan reda?" perkataan dingin Halilintar membuat Yaya tersadar dan kembali mengerjabkan matanya.
Halilintar yang sudah mulai merasa jengah dengan tingkah gadis di hadapan nya ini lalu menarik tangan gadis itu agar segera berdiri disamping nya. Yaya sendiri bertambah terkejut dengan perlakuan Halilintar tadi dan menengadah menatap laki-laki yang jauh lebih tinggi dari dirinya itu.
Halilintar balas menatap Yaya dengan tatapan dingin nya, lalu sedikit menyentil kening gadis itu agar ia sadar.
"Aww." Yaya memegang kening nya lalu mengusap-usap nya pelan kemudian memasang wajah cemberut kearah Halilintar.
"Kau terlalu berlebihan." Kata laki-laki itu singkat lalu mulai berjalan sehingga Yaya juga ikut berjalan di samping Halilintar.
88
Selama perjalanan tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka, keduanya terlalu sibuk dengan pemikiran-pemikiran mereka sendiri. Yaya dengan pemikiran kenapa Halilintar masih berada di sekolah dan malah mengantarnya pulang.
Dan Halilintar yang bingung mengapa ia melakukan hal seperti ini untuk seorang gadis seperti Yaya. Ya, ia bingung akan dirinya sendiri. Melihat gadis itu hanya duduk sendirian di kelas dengan pandangan kosong membuat laki-laki itu menggerakkan kaki nya untuk menghampiri gadis itu, namun dengan bodoh nya ia mengguankan alasan mengambil buku yang tertinggal. Tapi, yah bukunya memangg tertinggal dan itu salah satu alasan mengapa ia kembali ke kelas.
Tapi, mengeluarkan kalimat hanya untuk sekedar mengajak pulang bersama tidak bisa ia ucapkan. Ia malah bersikap dingin kepada gadis itu, gadis yang sudah terlalu baik kepadanya.
Dan entah mengapa juga, ia malah menunggu gadis itu. Menunggu nya agar ia tidak pulang sendirian ketika hari sudah beranjak malam, ditengah hujan deras.
Terlalu banyak kata 'mengapa' dalam benak Halilintar membuat laki-laki itu mengacak rambut nya kesal. Tingkah nya itu malah menarik perhatian gadis di sampingnya membuat Halilintar dengan cepat kembali memperbaiki posisi topinya dan berusaha bersikap seperti biasa.
"Kau tidak apa-apa Halilintar?" tanya Yaya kepada Halilintar dengan raut wajah khawatir. Halilintar berdehem sebentar menghilangkan rasa gugup nya dan hanya menganggukkan sedikit kepalanya.
Yaya menatap lama Halilintar merasa tidak yakin dengan jawaban yang diberikan laki-laki itu. Halilintar yang merasa risih lalu balas menatap gadis itu tajam.
"Berhentilah menatap ku." Katanya dingin dan sukses membuat Yaya mengalihkan pandangan nya dan kembali menatap jalan di depan.
Setelah itu, tidak ada lagi percakapan diatara mereka, semuanya kembali hening. Hanya ada suara hujan yang jatuh mengenai jalan dan suara beberapa kendaraan yang berlalu lalang.
88
Yaya menatap langit di atas, tangan nya ia keluarkan dari lindungan payung dan menampung air hujan yang jatuh ketangan nya.
Gadis itu lalu melirik kearah Halilintar yang berjalan di samping nya, saat ini di kepalanya begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan ia tanyakan kepada laki-laki di samping nya itu. Namun, ia terlalu takut, takut jika Halilintar marah kepadanya.
Yaya menundukkan kepalanya, tatapan nya beralih kearah bawah, menatap kaki-kakinya yang terus melangkah. Tatapan gadis itu begitu sarat akan kesedihan.
"Kita sudah sampai."
Yaya tersentak kaget mendengar suara dengan nada dingin itu, gadis itu mengangkat kepalanya menatap Halilintar.
"Hah?" hanya itu yang dapat dikeluarkan Yaya karena pikiran nya masih belum terlalu fokus.
"Ck, aku bilang kita sudah sampai bodoh." Halilintar menatap Yaya dengan geram. Euhh entah kenapa ia begitu gemas melihat kelemotan gadis itu.
Yaya mengerjabkan mata nya lalu memandang ke arah samping dan menyadari jika mereka sudah sampai di depan gerbang rumah nya.
"Eohh..ah ya, kalau begitu terima kasih atas tumpangan nya." Yaya dengan sedikit kikuk menatap Halilintar lalu berusaha sekeras mungkin mengeluarkan senyuman nya walaupun ia tau senyumnya akan terlihat aneh.
"Aku akan mengantar mu sampai pintu."
"Hah?"
Yaya yang saat itu tengah bersiap untuk berlari menuju pintu rumah nya, kembali berhenti dan menatap Halilintar dengan tatapan bingung. Laki-laki itu begitu penuh dengan kejutan hari ini.
Halilintar tidak berkata apa-apa dan kembali berjalan membuat Yaya mengikuti nya.
Yaya kembali berfikir bahwa ia harus berani karena ini satu-satu nya kesempatan yang ia miliki untuk bisa berbicara dengan Halilintar. Menguatkan hatinya, Yaya menghirup nafas dalam lalu menghembuskan nya.
Gadis itu memegang sedikit jaket bagian belakang Halilintar, tanda bahwa ia sedang memanggil laki-laki itu. Halilintar berbalik lalu melihat Yaya yang saat ini tengah menundukkan kepalanya.
"Bisakah kita berbica sebentar?" tanya nya, kepalanya yang tadi ia tundukkan lalu terangkat untuk menatap Halilintar yang saat ini juga tengah menatap nya dengan tatapan datar.
Melihat jika Halilintar hanya diam, Yaya pun kembali melanjutkan perkataan nya.
"Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada mu, saking banyak nya membuat ku bingung apa yang harus aku tanyakan pertama kali." ada sedikit jeda, Yaya kembali menunggu reaksi Halilintar namun laki-laki itu hanya diam dan terus menatap nya.
"Mengapa kau tetap diam dan tidak membela dirimu? Mengapa kau tidak melawan seperti yang biasa kalu lakukan? Mengapa kau diam saja ketika orang-orang itu juga mulai membicarakan tentang saudaramu? Mengapa kau menjadi seperti ini?" Nafas Yaya tidak berarturan, emosi nya keluar begitu saja. Yaya menunggu jawaban Halilintar namun laki-laki itu tetap saja diam.
"Maaf." Kata Yaya lalu menundukkan kepalanya kemudian berjalan cepat melewati Halilintar.
.
.
"Aku Lelah."
.
.
Yaya berhenti ketika ia ingin membuka pintu rumah saat mendengar suara Halilintar, gadis itu dengan cepat berbalik lalu melihat Halilintar tengah menatap nya dengan raut wajah... sedih?
Halilintar lalu berjalan kearah Yaya dan berhenti di depan gadis itu.
Puk
Halilintar sedikit menepuk kepala Yaya lalu tersenyum, walaupun Yaya merasa jika itu adalah senyum dengan kesedihan tersirat di dalam nya. melihat itu membuat nafas Yaya tercekat dan hati nya menjadi sakit.
"Lintar." Panggilan itu keluar begitu saja ketika Yaya mengucapkannya pelan hampir seperti berbisik.
Tidak ada kalimat lagi keluar dari mulut Halilintar setelah itu, laki-laki itu berbalik berjalan meninggalkan rumah Yaya.
Yaya sendiri tidak mengerti dengan perkataan Halilintar barusan dan perlakuannya tadi, dan kenapa dengan raut wajah laki-laki itu? Mengapa raut wajah nya seperti itu?
Hujan semakin deras, suara mereka yang jatuh membasahi bumi menemani Yaya yang hanya bisa termenung di depan rumah nya, Halilintar sudah masuk kedalam rumah nya sendiri membuat Yaya tidak dapat bertanya tentang hal tadi.
Sekali lagi, Yaya menutup matanya lalu menghembuskan nafas nya.
.
.
Ia juga lelah.
TBC
A/N : AUTHOR TIDAK TAU HARUS GIMANAAAA...
Maafkan saya wahai pembaca sekalian~~~~ Maaf para tokoh-tokoh ku sekalian, terutama Taufan yang ngerengek terus karena nggak dikasih job. euhhh apalagi Halilintar yang terus ngancem author karena part nya di chapter sebelum nya cuma sedikit.
jujur, author benar-benar buntu ide mau buat gimana chapter ini. sebenarnya alurnya udah ada. tapi, ngerangkai kalimat nya itu loh~~ sama ngembangin nyaaa... yang paling susah itu buat narasi.
jadi maaf kalau chapter kali ini begitu aneh dan nggak panjang, daripada kalian harus nunggu lebih lama lagi?
SEKALI LAGI MAAFFFFFF
DON'T BE SILENT READER AND LEAVE YOUR COMENT !
SILENT READER GO OUT DARI FF INI
