A/N : Ciaossu Milady! Maaf membuat menunggu begitu lamanya m(_ _)m (SSIAPA JUGA YANG NUNGGUIN?) Entah, belakangan ini saya stuck lanjutinnya oTL;; Karena ngga ada waktu, giliran ada malas ngetiknya.

Dan makasih sebanyak banyaknya buat Ren sama Lui atau Kamikaze-Rein sama LuiseMeyrink yang bantuin ide ;;u;;b Ai lap yu pull #apasih

Oke, pokoknya chapter ini kita mulai serius ya. Kadar humor bakal dikurangi tentunya, ngga segila chapter kemarin 8D; Soalnya udah masuk inti cerita kayaknya (lha)

Disclaimer : sayangnya KHR punya Amano Akira ;A; kalo punya saya, saya bakal bikin pairing ini canon

Pairing : TYL!Mukuro/Hibari, Dino/Hibari (dikit), Mukuro/*sensor* (upcoming?)

Setting : Namimori, diceritakan Mukuro adalah guru kesehatan, dan Dino adalah teman lama Hibari.

Warning! Shounen-ai, situasi M-Preg yang ga jelas kebenarannya, danOOC?


Chapter 6 - He is My Patient


Namimori-chuu. Sekolah menengah pertama yang terlampau damai dan sedikit pelanggar karena kebuasan sang ketua Komite Kedisiplinan. Namun belakangan ini sedikit berbeda. Para murid terlihat sedang membisikkan sesuatu. Satu ke yang lainnya, dan sebuah gosip pun menyebar. Kabar burung yang mengatakan sang Prefek..

Hamil.

Dan hari ini, gosip itu pun bertambah. Menurut seorang saksi mata, ia mendengar suara yang aneh dari arah ruang sang Ketua. Masih tidak ada kepastian, karena tidak satupun murid yang berani melewat ke depan ruangannya. Itu sih sama saja datang ke kandang singa, benar? Dan kalau begitu mari kita pastikan saja ada apa disana..

"Nghh.. Ky.. Kyouya.."

"Ukh. Tenanglah sedikit.."

.

.

EEH?

"Nghh.. Ggahhh.. K..Kyou.. Ahh!"

"Diamlah sebentar!"

"A..Ahh.. Ngg.. B-Berhenti hhh.."

.

.

"Tsk. Kau sendiri yang meminta dipijit dengan koin seratus yen begini."

...

Memutar matanya, Hibari langsung beranjak dari tempatnya duduk dan melempar koin seratus yen itu ke lantai sehingga menimbulkan bunyi 'cling' pelan. Ia melirik pada Mukuro dari ujung matanya yang tengah membetulkan ikatan rambut panjangnya. Sejenak berpikir, ia belum pernah melihat lelaki itu tanpa mengikat rambut. Mungkin akan terurai panjang seperti wanita, selain itu rambutnya memang lembut, sih. Hibari sempat menyentuh helaian rambut biru tua itu beberapa kali. Dan memanghalus.

"Ukhh.. Tapi kau kasar sekali, Kyouya.." lelaki berambut biru itu memutar kepalanya, berusaha melihat keadaan punggungnya yang sangatperih. "Oya.. Lihat apa yang kau lakukan, sampai berdarah seperti ini."

Tersenyum miris, "Oh? Kurasa aku melakukannya dengan pelan, hn.."

Ngek, mbahmu Spade pelan. Dilihat darimana juga bekas gesekan koin seratus yen dipunggung Mukuro itu seperti korban BDSM yang dicambuk-cambuk dengan rapi. Makanya tidak heran Mukuro tadi malah mengeluarkan suara-suara aneh seperti seseorang yang sedang diohokraepohok. Ada kemungkinan dia malah menikmatinya, eh? EEH? Memangnya Mukuro masokis?

"Kufufufu.. Kurasa kau akan mengagumkan jika di atas.."

Menyeringai mesum.

"Oh? Mau coba?"

COUGHCOUGHCOUGHCOUGH

"..Tapi bohong."

Krik.

A ha ha. Hibari ngajak bercanda tuh niatnya. Mukuro tersenyum sinis, mengernyitkan alisnya sambil ber-tsk tsk ria. Mau sampai Mukuro jadi jelek juga Hibari tidak akan dia biarkan jadi yang diatas. Dan karena Mukuro tidak akan jadi jelek, jadinya Hibari akan selalu dibawah. "Kufufufufufu.. Lagipula siapa juga yang mengizinkan~"

Hening. Tidak membalas argumen Mukuro adalah pilihan yang tepat. Dan omong-omong memang Hibari tidak bisa membalas lagi, karena ia sama sekali tidak ada minat menjadi yang diatas atau dibawah atau apapunlah yang dimaksud Mukuro itu, kalian pasti tau apa maksudnya, hm?

"Hoi. Lalu bagaimana demam sialanmu itu?"

"Oya?"

"...Bukannya kau yang bilang tidak enak badan dan meminta untuk dipijat menggunakan koin seperti yang dilakukan orang orang di asia tenggara sana, hm."

Flashback —

Dan radar ghei Hibari pun menyala, menyerukan tanda bahaya. Oh sial. Tubuh diatasnya ini terlalu berat untuk ia dorong. Sekarang ia benar-benar menyesal melakukan progam diet agar tubuhnya ramping. Setelah lepas dari ini ia bersumpah akan menaikkan berat badannya lagi.

"Oi menyingkir dari sini!"

Tidak ada jawaban.

"Menyingkir, nanas mesum!"

Walaupun kali ini suaranya lebih keras, tapi tetap tidak ada respon. Hibari sudah kehabisan kesabaran. Belum lagi kekhawatiran kalau ada yang mendadak masuk ke ruangannya menemukan posisi mereka seperti ini. I-Itu akan menjadi aib terbesar baginya. Ia mendengus kesal.

Tidak ada cara lain selain mendorong makhluk ini dari tubuhnya. Dan dengan Kekuatan Bulaneh, dengan sekuat tenaga Hibari mendorong pundak lebar Mukuro menjauhi dirinya. Langsung membantingnya(?) sehingga yang bersangkutan berada di posisi bawah. Dan Hibari sedikit terkejut mendapati wajah Mukuro yang memerah dengan nafas tidak teratur.

"Ia sakit?"

Menghela nafas, Hibari memutuskan untuk mengabaikannya. Guru aneh itu memang sudah sakit sejak awal. Lebih baik dibiarkan saja, daripada ujungnya ia malah dibegini-begitukan lagi. Hibari baru saja akan beranjak dari sofa sampai ia merasakan tangannya ditari.

"Jangan pergi..Kyouya-kun.."

Suaranya terdengar lemah dan ia terbatuk. Hibari mengerutkan alisnya. Mukuro itu pintar menipu, Hibari tidak yakin apa ia benar sakit atau berbohong. Dengan ragu, ia menyentuh dahi Mukuro. Dan sedikit kaget mengetahui suhu makhluk itu lumayan tinggi. Hibari kembali mendengus kesal.

"Baiklah. Apa maumu?"

Itung-itung sebagai balasan.

"Ng? Tolong..."

Dengan setengah mata terbuka, ia menyodorkan sebuah koin seratus yen pada Hibari yang memandang dengan bingung.

End of Flashback —

Mukuro tersenyum datar. Barusan adalah kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari Hibari. Danoh, iya juga. Beberapa menit yang lalu ia merasa suhu badannya lebih tinggi dari sebelumnya. Mukuro kira itu karena ia sedang berada diatas Hibari, tapi ternyata suhu tubuhnya memang naik karenademam?

Dan omong-omong, sekarang sudah tidak terlalu terasa. Ia malah keenakan ketika punggungnya 'dielus' dengan koin seratus yen itu. Apalagi oleh Kyouya tercinta, rasa tidak enak di badannya jadi tidak terasa lagi. Mukuro berkedip nista sambil mengelus dagunya.

"O-Oya.. Masih tidak enak, Kyouya.. Uhh~ D-Dingin.." keluh Mukuro bohong, dengan ekspresi sakit yang dipalsukan, seakan berkata 'ayo peluk aku'. Meletakkan punggung tangan kanannya diatas dahi dan tangan yang satunya didepan dada, ia sangat hiperbolis, kepala nanas itu.

Hibari hanya mengernyit geli melihat lelaki yang berkelakuan labil tidak sesuai umurnya itu. G-Gatal ingin membenturkan kepala nanas itu ke tembok dan memotong rambut nanasnya untuk dijadikan hiasan diatas kuburannya. Tapi nanti dinding Namimori-chuu tercinta ini rusak, sayang kan? "Terserah. Yang penting aku tidak ada hutang lagi denganmu. Hn."

Pemuda itu beranjak dari tempatnya, keluar ruangan meninggalkan Mukuro yang masih berpose tidak layak dilihat itu. Sial, ia benar-benar tidak suka hari ini. Mengetahui Dino masih mengincarnya dan Mukuro yang semakin menempel padanya. Tapisedikit lega juga ia tidak punya hutang dengan Mukuro lagi. Dengan terpaksa memijatnya tadi berarti ia sudah membalas Mukuro yang kemarin merawatnya. Jadi tidak ada alasan lagi ia harus berbaik hati pada guru kesehatan itu.

Hibari melangkah pelan menuju rumahnya yang tak terlalu jauh. Kalau sesuai jam sih, hari belum terlalu gelap. Tapi langitnya tampak mendung dan dipenuhi awan gelap. Ditambah dengan jalanan yang sepi, rasanya seperti sudah malam saja. Ia mendengus pelan, dan pandangannya menyipit ketika mendapati sosok dihadapannya.

"Dino.."

Lelaki pirang itu hanya tersenyum sambil bersandar di tiang listrik. "Yo, Kyouya."

Sedetik setelah mendengar namannya disebut, Hibari merasakan benturan pada tengkuknya. Ia terbatuk keras dan pandangannya pun perlahan memudar, mengganti sosok Dino dihadapannya dengan kegelapan. Dan setelahnya, ia tidak merasakan apapun.

.

.

.

Gelap.

Tercium aroma teh hijau.

Dan serentak matanya terbuka lebar. Mendapati pemandangan yang sangat asing baginya. Ruangan mewah yang luas. Ini sudah jelas bukan kamarnya. Sejenak ia merasa kepalanya sedikit lagi, tapi bukan apa-apa dibandingkan tubuhnya yang mendadak sulit untuk bangun.

"Ukh.. Dino!"

Memanggil nama sang pemilik rumah. Tentu, ia kenal jelas siapa yang memiliki rumah seperti ini. Tidak lama kemudian sang tuan rumah datang, melangkah pelan sambil tersenyum ke arah Hibari, dan duduk di ujung kasur. "Ah, kau sudah bangun Kyouya."

Menatap tajam, "Apa-apaan ini."

Sang Cavallone hanya membalas dengan cengiran diwajahnya. "Membawamu ke rumahku." dilanjutkan dengan tawa kecil darinya.

Hibari menggeram, "Bukan itu. Tubuhku, kau apakan?"

"EEH? Aku belum melakukan apa-apa kok! Sumpah aku belum menyentuhmu Kyouya!"

...

Demi apa Dino disini sangat lambat. "Bukan itu bodoh. Kenapa tidak bisa digerakkan begini?"

Hening sejenak, dan setelah itu Dino tampak tersenyum. "Aah iya, aku memberimu obat, Kyouya. Agar kau tidak kabur."

Dan sang skylark pun memberikan death glarenya pada Dino. "Apa maumu?"

"Apa mauku? Hmm.. Aku mau.." ia menarik tangan Hibari ke genggamannya. "Aku mau kau jadi pengantinku, Kyouya."

...

"Hah?"

Halo, apa ada yang sudah memberitahu Dino bahwa Hibari Kyouya adalah lelaki? Oh bukan, bukan. Demi sesepuh berambut putih di alam sana. Ia sudah berkali-kali menolak sang Cavallone ini, bahkan sampai melibatkan Mukuro sebagai suaminya. Tapi kenapa makhluk pirang ini tetap gigih sih? Apa dia hilang ingatan setiap chapternya seakan Hibari yang menolaknya dengan berbagai cara itu pun dilupakan?

"Dengar, Cavallone"

"Kyouya."

Jah dipotong.

"Apa kau lupa janji kita dulu?"

Hening. Tidak ada balasan dari Hibari. Dan ia memang tidak mengerti apa maksud janji itu. Seingatnya ia tidak bernah membuat janji dengan siapapun. Terus maksud si Cavallone ini apa coba? Melirik, ia merasakan tangannya sudah tidak disentuh lagi.

"Haah.. Memang tidak ingat, ya?" dari wajahnya Dino terlihat berusaha tersenyum. Sementara Hibari memandang heran. Beberapa detik ruangan diselimuti kesunyian, suara handphone memecah keheningan. Dino terlihat mengangkat ponselnya, dan beranjak dari kasur.

"Ah, aku harus pergi sebentar ya Kyouya." ia pun melangkah keluar, kembali menutup ruangan. Meninggalkan Hibari yang sedang mengutuki lelaki yang memberinya obat pelumpuh itu.

Dan tidak lama kemudian, seorang bapak-bapak(?) tampak memasuki ruangan. Hibari memandang dengan tatapan 'mau apa kau' pada lelaki berkumis yang ia kenal sebagai Romario itu. "Ada yang ingin saya katakan."

Hibari menjawab dengan mengangkat alisnya.

Berdeham pelan, Romario membuka mulutnya, "Sebenarnya.. Hidup bos tidak lama lagi.."

JENG JENG JENG JENG! (masukkan efek suara ala sinetron disini)

"..Bos terkena kanker otak. Dan ia divonis hidup satu bulan lagi.."

JENG JENG JENG!

Hibari hanya mengernyitkan alisnya. Entah, tapi adegan tadi baginya terlihat terlalu dramatis. Dan mengetahui penyakit Dino itu, ia sedikit kaget. Dan heran juga kenapa Romario ini mengatakan hal itu padanya. Kalau hidupnya sebulan lagi ya sudah, bukan urusannya ini. "Ya terus?"

"Saya.. Saya harap anda menerima lamaran Bos!"

JENG JENG JENG JENG!

Romario pun langsung membungkukkan tubuhnya dalam-dalam dihadapan Hibari yang ber-facepalm ria mengetahui maksud Romario mengatakan itu. "Tidak."

"Saya tidak akan berdiri sebelum ada setuju."

IIDIH PEMAKSAAN.

Hibari mengacak-acak rambutnya frustasi. Demi sesepuh berambut semangka di alam sana, kalau mau membungkuk sampai kiamat juga sebenarnya ia tidak peduli sih. Tapi masalahnya ya, ia tidak bisa beranjak dari kasur dan tidak enak melihat pemandangan bapak-bapak ini membungkuk dihadapannya. Lebih lagi, entah kenapa ia sedikit iba mengetahui nasib(?) Dino. Sedikit loh ya, sedikit.

"Tsk. Akan kupikirkan."

Dan dalam satu kedipan mata, Romario langsung berdiri tegak. Tampak tersenyum dan meyodorkan sebuah kotak kecil pada Hibari. "TTerimakasih! Saya harap anda memakai ini saat bos kembali." setelah itu, ia pun keluar ruangan.

Hibari membuka kotaknya, dan mendapati cincin didalamnya. Ia memandang nista cincin dengan berlian itu. Sebenarnya ingin langsung dilemparkan ke tembok saja sih. Tapi entah kenapa sayang rasanya, ini barang mahal lho, nanti sebulan lagi setelah Dino mati ia berencana untuk menjualnya. Eh, tapi kalau begitu ia harus menerima Cavallone itu dulu, kan?

Ia mendengus kesal. Menaruh kotak tersebut di meja sebelah kasur. Tadi dia memang bilang akan memikirkannya dulu, tapi sebenarnya ia malas memikirkannya. Yang jelas ia seratus persen lelaki dan bukan homoseksual atau semacamnya. Tapi mengingat nasib Dino yang hidupnya tinggal sebentar lagi seperti tokoh di sinetron ibu-ibu, ia memutuskan untuk menerimanya saja. Toh tinggal sebulan lagi, kan? Sekarang ia tidak ada kerjaan dan tubuhnya dilumpuhkan. Hibari memejamkan matanya, berusaha untuk tidur.

Kufufufu..

Serentak Hibari langsung membuka matanya lebar ketika bayangan Mukuro yang muncul saat memejamkan mata. Ia menghela nafas kesal. Sejenak hatinya tidak tenang. Entahlah. Padahal ia sudah tidak punya hutang lagi pada Mukuro. Seharusnya urusannya sudah selesai ditambah ia yang memutuskan menerima lamaran Dino tidak akan bermain sebagai istri Mukuro lagi, kan?

Lalu kenapa?


Sebuah cahaya memaksa masuk ke celah kelopak matanya. Hibari Kyouya terbangun dari tidurnya. Sumpahnya, tadi malam benar-benar mimpi yang sangat tidak ia suka. Dimana Dino membawanya kerumahnya dan Romario yang mengatakan bahwa hidup Dino tinggal satu bulan. Oh, yang lebih parahnya, di mimpi itu ia mau menerima lamaran Dino. Hibari mengelus-elus rambutnya yang berantakan. Matanya masih setengah terbuka, dan memandangi langit langit.

"Oh, kau sudah bangun Kyouya."

Kuda pincang makan beling.

Hibari langsung terduduk dan menatap horor lelaki yang tengah berdiri di ambang pintu. Mengetahui hal hal yang terjadi kemarin adalah kenyataan membuat ia sedikit bergidik. Juga mengingat dirinya yang harus menerima lamaran Dino. Tapi bagusnya, tampaknya tubuhnya sudah bisa digerakkan dan ia masih mengenakan seragamnya, berarti ia tidak di begini-begitukan. Dari sudut matanya ia dapat melihat Dino yang berjalan mendekat ke arahnya, dan duduk di ujung kasur. Entah kenapa terasa dejavu

"Jadi, Kyouya.." lelaki pirang itu tampak mengambil kotak kecil dari atas meja sebelah kasur, membukanya. Ia mengambil cincin di dalamnya, dan meraih tangan Hibari. "..Apa kau mau.."

BRAAAAKK!

Menoleh, "Suara apa itu?"

Dino langsung beranjak dan melihat ke luar ruangan. Tidak ada yang aneh. Ia lalu kembali duduk ke kasur sambil mengangkat bahunya. "Entah, mungkin kucing."

...

Nenek nenek juga tau suara yang seperti traktor tabrakan itu tidak mungkin ulah kucing. Hibari tidak habis pikir kenapa jalan pikiran Dino disini sesederhana itu. "Coba kau cek. Tidak mungkin itu kucing."

Dino tampak mengambil ponselnya dari saku dan menghubungi Romario. "Halo?"

Hening sejenak sampai ekpresi wajah sang Cavallone itu terlihat berbeda. "Hah pohon? Apa? Pagarnya juga? Kenapa? Hah? Haaaaaa? Halo? Romario?"

"Oi. Ada apa?"

Dino menggeleng pelan dengan senyum dipaksakan. "Tidak apa-apa, ah, aku harus keluar seben"

"Oya oya~"

.

.

"Keluarga Cavallone memang kaya ya. Pagar hancur dan taman rusak juga bukan masalah besar. Kufufufufu.."

...

Dan serentak kedua orang yang berada di kamar langsung menoleh ke sumber suara, makhluk dengan jas dokter yang tengah berdiri di jendela kamar yang besar yang entah sejak kapan terbuka. Hibari melebarkan matanya. Entah, tapiia sedikit lega Mukuro datang.

"OORANG YANG WAKTU ITU?"

Yang dimaksud oleh Dino hanya ber-tsk tsk ria dan menggoyangkan telunjuknya. "Kau benar-benar tidak sopan, tuan Cavallone." ia meloncat turun, dan masuk ke tengah ruangan, berdiri tepat dihadapan Dino.

"Apa maumu?"

Mukuro mengangkat alisnya samar, "Apa mauku, hm? Aku mau mengambil pasien yang kabur. Kufufu.." ia pun langsung melangkah mendekati Hibari, meraih tangan pemuda itu. "Ayo pulang, Kyouya-kun."

Tapi Hibari menarik tangannya dari Mukuro. Urusannya dengan Mukuro sudah selesai. Dan ia tidak perlu Mukuro untuk menghindari Dino lagi, karena setelah ia menerima lamaran Dino dan sebulan berlalu, masalah ini juga akan selesai. "Tidak."

"Eh?"

"Kau tidak dengar? Ia tidak mau." Dino yang sedari tadi di belakang, kini ikut bicara. Ia menarik bahu Mukuro menghadap padanya. "Dia adalah calon pengantinku!"

"Begitukah?" Mukuro menyeringai menghadapi Cavallone itu, melipat kedua tangan didepan dada. "Kau tau, Cavallone, aku memiliki ini."

Ia menarik sebuah amplop coklat dari balik jas putihnya. "Dokumen catatan kesehatanmu, benar?"

Dan mata Dino tampak melebar melihat arsip itu ada di tangan Mukuro. "D..Dari mana kau.. Kembalikan!" ia mencoba mengambil amplop itu, tapi tentunya Mukuro menjauhkannya dari tangan Dino.

"Kesalahanmu adalah selalu memeriksakan kesehatan di Rumah Sakit Namimori.." ia tertawa kecil. "Tapi sayangnya kau pasien yang sehat ya, tuan Cavallone." lelaki berambut biru itu menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kecewa yang dipalsukan. Ia membuka amplopnya, mengambil beberapa kertas dari dalamnya.

"Hmm.. Mari kita lihat. Flu, demam, flu.. Patah tulang.. Oya? Aku tidak melihat kanker otak disini?"

Mata Dino tampak melebar, ia kembali berusaha mengambil kertas di tangan Mukuro. "Kemarikan!"

Sementara Mukuro hanya menghindari Dino dengan santai, membolak balikkan beberapa kertas ditangannya. "Oya oya~ Kanker otak.. Kanker otak.. Mana ya?"

"Dino.. Kau.."

Dan sang Cavallone pun langsung berhenti mendengar Hibari berbicara. "Bukan, Kyouya! Itu pasti dokumen palsu!"

Mukuro tertawa kecil. "Oya? Kau pikir pemilik Rumah Sakit itu sendiri sedang membawa palsu?"

JENG JENG JENG JENG!

"Kau.. Pemiliknya?"

D-Demi apa orang mesum seperti Mukuro pemilik RS Namimori? Apakah ini tanda-tanda kiamat sudah dekat? "Itu tidak penting, Cavallone. Yang jelas.." ia menoleh ke arah Hibari. "..Kau tidak boleh membohongi pasienku yang lain seperti itu. Kufufufu."

"Bukan, Kyouya! Ini"

"Cukup Dino." sang Prefek pun beranjak dari kasur dan menghela nafas. "Kuharap kau benar-benar terkena penyakit itu."

Baru saja berdiri, mendadak ia merasakan kakinya tidak dapat menumpu tubuhnya. Dan keseimbangannya pun goyah, ia akan terjatuh kalau saja Mukuro tidak langsung menangkapnya dan menggendongnya seperti pengantin. "LLepaskan!"

"Kufufufu.. Benar-benar pasien yang keras kepala.." pemilik rambut biru itu lalu menoleh ke arah Dino. "Dan kau. Tolong jangan ganggu pasienku lagi. Kufufufu"

Tanpa menunggu balasan, Mukuro yang menggendong Hibari melewati Dino dan pergi dari ruangan itu lewat jendela, meninggalkan Dino yang merunduk memukuli lantai marmer. Oh iya, apa ada yang bilang kalau ini di lantai dua?

"Sial.."


"Turunkan aku!"

Hibari meronta dalam gendongan Mukuro, memukuli dada bidang lelaki yang nampak tersenyum dan bersenandung dengan riang itu. "Tidak Kyouya-kun, kau belum bisa berjalan sampai besok~"

"Tsk. Haneuma sialan..."

"Nah, sampai." Mukuro tersenyum lebar. Menatap papan nama 'Rokudou' di pagar rumah didepan ia berdiri. Sementara Hibari menatap horor papan nama itu.

"Rumahmu?"

Mukuro mengangguk riang, "Iya, Kyouya-kun. Rumahmu terlalu jauh dari sini, jadi lebih baik kau tinggal dulu~"

Sebenarnya Hibari tentu saja menolak. Berdua dengan Mukuro di ruangannya saja sudah berbahaya. Apalagi sekarang di rumah makhluk itu sendiri. Bisa-bisa ia pulang dengan kehilangan keperawananeh keperjakaannya. Bah. Tapi mau menolak dan berjalan sendiri ke rumahnya juga susah. Salahkan Cavallone sialan itu.

"Kau.. Tinggal sendiri?"

Mukuro yang tengah mendorong pintu dengan bahunya mengangkat satu alisnya, "Ah, tidak, sebenarnya ada"

"Oh, okaerinasai, Mukuro."

.

.

Pandangan Hibari pun tertuju pada sosok yang tengah memakai apron merah, membawa sendok sup ditangannya dan tersenyum ke arah mereka berdua, tapi raut wajah orang itu langsung berubah menyadari Hibari yang berada dalam gendongan Mukuro.

"HHiiiiiiiii! HHibari-san! K..Kok?"

"Oya, kau tidak perlu kaget begitu"

.

.

.

"Tsunayoshi."


To Be Continued


Seperti yang saya bilang, humor dikurangi, maaf ya ngga separah kemarin ;;A;;

Sekarang saya ngetik langsung ngga mikirin humor nya dulu, gomen m(_ _)m

Dan—Aih aih~ Sepertinya kini giliran Hibari yang punya saingan, eh? :"|

Entahlah siapa itu Tsunayoshi dan sedang apa dia disana~

Mufufufu kita tunggu saja chapter selanjutnya 8D *digampar*

O—Oya tenang saja, saya bukan fans 6927 8D Jadi kita lihat saja nanti gimana jadinya (lah)

Silahkan vote siapa itu Tsuna dan ngapain di rumah Muku (LAH)

Anyway, mind to review milady? *kedip kedip nista*

Biar langsung ngerjain chap 7 nya oTL;; Sampai nanti 8DDD *lambai-lambai sapu tangan*