.

.

.

Title:

Genre: Friendship/Family

Rating: T

Summary: 18 tahun sama sekali bukan waktu yang singkat untuk mereka. Ada pertemuan, pendekatan, konflik, koalisi, persahabatan, dan... romansa.

Warnings: Mungkin menurut Anda OOC, menurut saya nggak. Mungkin ada typo yang nyelip. Mungkin...

Disclaimer: Saint Seiya © Kurumada Masami, Saint Seiya: the Lost Canvas © Teshirogi Shiori

.

.

.

VI. A - 16

.

.

.

Sepanjang 16 tahun hidupnya, belum pernah ia menangis sehisteris itu.

Menjerit hingga tenggorokannya sakit. Membiarkan bendungan air matanya dijebol keras, mengucur membasahi pipinya, membersihkan noda darah yang menciprat ke sana. Terus menerus, hingga sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya yang belum berhenti berguncang. Kontan ia menoleh dan langsung bertatapan dengan sepasang mata beriris hijau laut yang menatapnya hangat.

Kyoukou Sage.

Entah sejak kapan beliau sudah berada di taman mawar itu. Sebegitu tenggelamnya Albafica dalam kesedihannya sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan sang pejabat tertinggi Sanctuary bersama para Gold Saint lainnya.

"Albafica," suara Sage yang berwibawa secara efektif menghentikan tremor tubuhnya, "mari kita berikan penghormatan yang pantas untuk gurumu."

Lama Albafica menunduk, menatap jasad gurunya yang telah berubah kaku, lalu mengangguk pelan. Segera setelah ia mengangguk, dirasakannya kekuatan tak kasat mata mengangkat tubuh besar Lugonis. Sage, dengan kekuatan psikokinesisnya, membawa tubuh dingin tersebut keluar dari area mawar beracun, menyerahkannya pada Aspros yang segera melangkah meninggalkan kuil Pisces bersama Sisyphus.

Meski sedikit limbung, Albafica berusaha berdiri dan berjalan. Ia ingin mengikuti kedua Gold Saint tadi, membantu mereka mengurusi proses penyucian dan pemakaman gurunya. Namun, baru dua langkah ia keluar dari taman mawar tersebut dan keseimbangannya oleng. Beruntung seseorang menangkapnya, namun sebelum sempat ia melihat wajah penolongnya, pandangannya mengabur dengan cepat lalu semuanya menjadi gelap.

.

.

.

Begitu ia terbangun, ia sudah berbaring di ranjangnya dan bau masakan lezat menyerang indera penciumannya. Albafica, meskipun merasa sedikit pusing, perlahan bangkit dari posisi berbaring, lalu, setelah yakin bahwa ia akan baik-baik saja jika menapaki tanah, berjalan keluar kamar. Yang menyambutnya berikutnya adalah sosok El Cid dan Manigoldo yang bergerak ke sana kemari di ruang makan kuil. Yang tertua sedang meletakkan sepiring roti bawang sementara yang lebih muda menuangkan sup ke mangkuk-mangkuk saat mereka menyadari keberadaannya.

"Selamat pagi, Putri Tidur," sapa Manigoldo sambil nyengir jahil. "Nyenyak, tidurnya? Ngomong-ngomong, tidak seperti penampilanmu—kau itu berat."

"A… apa yang kalian lakukan di sini?" Albafica mengajukan satu pertanyaan bodoh.

"Jelas, 'kan? Membuatkanmu sarapan. Sekaligus sarapan di sini."

El Cid mengangguk, lalu menimpali ucapan Manigoldo, "Makanlah. Setelah itu, kau bisa mandi dan kita akan ke Makam Saint bersama-sama."

Mendengar kata 'Makam Saint' yang menyelip di dalam jawaban El Cid, Albafica langsung teringat tentang apa yang terjadi sebelum ia mendadak tak sadarkan diri. Ekspresinya yang awalnya menegang karena kaget berubah muram. Bisa dirasakannya tubuhnya kembali bergetar, dan untuk mencegah pertanyaan semacam "kau baik-baik saja?" meluncur keluar dari mulut dua Gold Saint senior di depannya itu, Albafica berbalik dan berjalan pelan ke arah kamar mandi.

"Pergilah duluan. Aku… mau langsung mandi saja."

.

.

.

Alasannya menghindari sarapan bersama dengan El Cid dan Manigoldo cukup jelas—ia tidak ingin berada di dekat mereka untuk sementara ini. Atau di dekat siapapun. Ia teringat kondisi tubuhnya dan, meniru teladan gurunya, ia tidak ingin berteman dekat dengan siapapun karena takut membahayakan nyawa mereka.

Albafica menggerakan tangan kanannya hingga ia bisa melihat jari-jarinya. Jari-jari yang, perlu ia akui, sama sekali tidak mulus karena terlalu sering bersentuhan dengan duri-duri mawar. Banyak luka gores di sana-sini, namun yang ia perhatikan hanya satu titik: luka yang paling baru, yang tertoreh tiga hari yang lalu.

Luka tempat darahnya dan darah gurunya bertukar.

Ritual Ikatan Merah, gurunya memberi nama. Ritual yang jika dilakukan secara rutin maka lama kelamaan darahnya akan semakin beracun, membuatnya semakin kebal terhadap segala macam racun di dunia ini. Ritual yang penting dilaksanakan jika ia mengharapkan dapat menggantikan gurunya sebagai Saint Pisces. Ritual yang rela ia jalani demi memahami dan menemani gurunya yang telah lama mengisolasi diri sendiri dari dunia pergaulan karena kondisi tubuh beliau yang dapat membahayakan nyawa orang lain.

Efek dari melaksanakan ritual tersebut untuk pertama kalinya: ia langsung sakit parah. Sistem imunnya berjuang keras melawan invasi racun dari darah Lugonis yang masuk ke dalam tubuhnya. Albafica tidak ingat apa-apa saja yang pernah terjadi padanya tiap kali ia selesai melakukan ritual, namun sang guru bercerita bahwa ia kejang-kejang, menggeliat kesakitan, demam, hingga nyaris dibawa Kematian ke alam lain. Namun, entah karena tekadnya yang besar atau memang ia sudah ditakdirkan agar suatu saat dapat mengenakan Pisces Cloth, ia selalu berhasil melewati masa-masa sulit tersebut.

Dan memang terbukti bahwa seperti itulah takdirnya. Ialah Saint Pisces baru Sanctuary. Posisi tersebut berhasil diraihnya setelah ia membunuh gurunya dengan racun di dalam darahnya.

Membunuh.

Ia seorang pembunuh.

Lagi, bahunya berguncang.

Lagi, air matanya tumpah, menyatu dengan air hangat yang ia gunakan untuk membilas tubuhnya.

Lagi, rasa sedih melingkupinya, membuatnya merasa sesak tanpa tahu harus berbuat apa untuk melenyapkannya.

Albafica meringkuk di dalam bak mandi, memeluk dirinya sendiri. Mengutuk dirinya sendiri. Meraung keras dalam hati. Ia belum bisa melepaskan kepergian gurunya dengan ikhlas.

"Mau berendam sampai kapan?"

Albafica tidak perlu menoleh untuk mengenali siapa yang mengajaknya bicara itu.

"Itu urusanku, bukan? Pergilah duluan bersama El Cid ke Makam Saint."

Dalam hati, Albafica mengatai dirinya sendiri bodoh karena suaranya bergetar, membiarkan Manigoldo mendeteksi bahwa ia sedang menangis. Lagi. Ia mengira Manigoldo akan segera meledeknya cengeng atau apa, namun menit-menit berikutnya berlalu dalam keheningan.

Hingga akhirnya sebuah telapak tangan menyentuh lembut ubun-ubunnya, diikuti ceramah singkat,

"Bukankah ia berkata padamu kalau ia akan selalu ada di sisimu? Kau pikir dia akan senang berdiri di sampingmu sambil melihatmu menangis dan menyalahkan diri sendiri seperti ini?"

Albafica tersentak kaget dan langsung berbalik, menatap Manigoldo curiga. "Bagaimana kau…?"

"—tahu tentang apa yang dia katakan di detik-detik kematiannya?" Cancer muda itu tertawa mencemooh. "Haloo? Sebegitu fokusnya kau pada latihanmu sampai lupa kalau teman masa kecilmu yang satu ini adalah murid Kyoukou Sage dan sudah mendapat gelar Saint Cancer sekarang? Mengerti? Saint Cancer. Kekuatanku berkaitan dengan roh manusia—oke, sebenarnya tidak hanya manusia, tapi itu tidak perlu dihabas—jadi… kau paham, 'kan?"

Kawannya terlihat melongo bingung selama beberapa detik, sebelum pemahaman akhirnya merasukinya dan ia langsung mengangguk. "Kau bertemu dengan roh guruku."

"Ya. Tanpa kukatakan pun sebenarnya kau tahu wejangan macam apa yang ingin disampaikannya padamu, 'kan?"

Ada jeda panjang di mana keduanya saling beradu pandang tanpa perubahan gerakan satu milimeter pun. Jeda tersebut dipecahkan oleh Albafica, yang kembali berbalik dan mendadak saja menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam bak mandi, yang jelas saja membuat Manigoldo terkejut. Pemuda yang lebih tua itu siap berteriak panik ketika Albafica kembali menarik diri hingga kepalanya muncul di permukaan air.

"Terima kasih, Manigoldo. Kau boleh pergi duluan—aku masih ingin membilas diri."

Sejenak, tidak ada reaksi dari Manigoldo sementara ia mengamati Albafica yang masih berada di dalam air. Begitu yakin bahwa pewaris Pisces Cloth itu berkata jujur, ia menyunggingkan senyum lega, menepuk kepala yang tertutup surai biru bak sutra tersebut, lalu beranjak meninggalkan kamar mandi untuk mengajak El Cid pergi bersamanya.

.

.

.

Bersambung...

.

.

.

... Apa Albafica jadi terlalu lenje? Kalau iya, bilang ya u.u

aicchan: Hush, yang sopan. Itu murid kesayangan Sage! XD Ooh maunya cepet-cepet... kabulin nggak, ya? Bagusnya dikabulin apa nggak, ya~ *dor*

Lizzy: KarGel, ya... hm, bagaimana kalau paksa tasyatazzu untuk mengupdate Years of Youth-nya? KarGel buatan dia asyik, lho *nyengir* Kalau dia membela diri dengan alasan skripsi, terus paksa! Bilang, mindahin naskah jadi ke doc FFN nggak bakal makan waktu lebih dari 15 menit! Selamat berjuang~! *eh*

Nah, akhir kata... review? :)