"Untuk berada disampingnya, akan ku lakukan apapun. Apapun. Sekalipun harus menjadi egois dan pemeran antagonis. Karena 'Cinta itu buta' bukan?" – Zhoumi
…
Kali ini Tao sudah masuk kuliah. Kyungsoo menyapanya dengan begitu histeris. Bahagia dan sedih disaat yang bersamaan. Ia meminta maaf sekaligus berterima kasih, Krystal masih dengan drama queen-nya yang membuat mereka berakhir di meja kantin.
Fyi, tadi ia berangkat bersama Baekhyun dan Minseok karena mereka punya jadwal yang sama. Lebih tepatnya dipaksa untuk disamakan. Jam pertama Tao adalah pukul sepuluh pagi sedangkan Minseok mulai mengajar pukul tujuh pagi dan jam pertama Baekhyun jam delapan pagi. Baekhyun sudah mengeluarkan ultimatum bahwa Tao tidak boleh berangkat dan pergi kuliah sendiri lagi.
Dan sayangnya paman dan hyungnya juga setuju serta aegyo kurang ampuh tadi pagi.
Tao pun terpaksa mengiyakan.
"Oh ya Tao. Sudah ambil formulir klub belum?" tanya Kyungsoo begitu duduk dan Krystal yang tengah kabur memesan makanan.
"Formulir klub?" tanya Tao bingung. Kyungsoo pun meringis karena betapa bodohnya dia lalu menyerahkan selembar kertas formulir.
Kyungsoo pun menjelaskan bahwa murid disini wajib mengikuti aktivitias diluar pembelajaran yaitu klub atau bahasa anak SMA dulu ekskul. Minimal mengambil dua ekskul. Satu ekskul wajib dan satu ekskul bebas. Yang dimaksud ekskul/klub wajib ialah Klub yang dinaungi oleh Fakultasnya masing – masing, dan klub bebas diluar naungan fakultasnya. Berhubung fakultas yang dipilih oleh Tao adalah Art & Culture, maka klub yang bernaung didalamnya adalah paduan suara, band, traditional music, teater, komunitas penulis, tari, dance, fashion gallery, dan art & painting gallery. Tao diwajibkan memilih salah satu dari antara klub tersebut lalu memilih satu klub diluar naungan fakultas yang ia masuki.
Tao hanya baru menulis biodata pribadinya dan belum menceklis apapun dalam kolom pemilihan klub. Disaat dirinya tengah bingung. Krystal datang sambil membawa pancake, burger, dan salad. Minuman mereka pun jus alpukat, strawberi, dan tomat. Krystal langsung mengambil alih salad dan tomat dengan alasan dalam program diet rutin. Kedua pemuda itu menghela nafas dan Tao memilih untuk meminum jus alpukat dahulu sambil memotong kecil – kecil pancake miliknya.
Hari ini mereka mendapat jadwal mata kuliah yang hampir sama. Jam pertama tentang Literature Avans, Jam kedua tentang music lalu istirahat. Jam ketiga tentang pendalaman jurusan literature (sedangkan Kyungsoo masuk di pendalaman music dan Krystal yang mendapat mata kuliah umum musik tradisional), jam keempat Kyungsoo dan Tao satu kelas lagi di mata kuliah seni teatrikal sedangkan Krystal masuk di mata kuliahnya yaitu pendalaman akting setelah itu istirahat terakhir, lalu selanjutnya mata kuliah terakhir yaitu hiburan tradisional pada masa dinasti Joseon dan Goryeo. Dan jadwal ini berlaku sampai seminggu.
"Jadi, kau sudah memutuskan mau masuk klub mana?" ujar Krystal setelah menghabiskan saladnya tersebut.
"Mungkin Chrome Opera(Teater) menjadi pilihanku atau Handwriting Community(Komunitas penulis). Aku tidak punya bakat dalam seni suara atau musik" ujar Tao sambil tengah santai memakan pancake tiga lapis yang disirami saus madu.
Ah, enaknya.
"Ah kalau begitu kau masuk Chrome Opera saja. Biar bareng Krystal" ujar Kyungsoo menyerukan idenya. Burger berukuran medium itu sudah berpindah ke perutnya sekarang.
"Ya. Itu juga ide yang bagus" ujar Krystal menimpali sambil menyeruput jus tomatnya.
"Hyung sendiri bagaimaina?" ujar Tao sambil menghabiskan pancake terakhirnya.
"Aku ikut Avenue Choir(Paduan Suara) dan Ambassador Journalism(Jurnalis)" ujar Kyungsoo tengah menghabiskan jus strawberi miliknya.
"Mungkin aku juga ikut Ambassador Journalism juga" ujar Tao lalu mencetang kolom Chrome Opera dan Ambassador Journalism sebagai pilihannya. Nantinya mereka akan memberikan formulirnya pada Anggota Senat yang mengurus masalah pengorganisasian. Krystal sendiri memilih Woods Club(Pecinta Alam) sebagai klub bebasnya. Krystal berkata karena itu klub bebas yang sama dengan kakaknya, dan lagi disana banyak cowok – cowok good looking yang bisa dia incar dan juga katanya ingin menaikkan popularitas Jung Sisters sebagai queen di Sekolah. Baik Kyungsoo dan Tao hanya geleng – geleng kepala dan memilih sibuk sendiri.
"Yak! Kalian tidak mendengarkan aku eoh!?" ujar Krystal cemberut. Baik Kyungsoo dan Tao hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Oh ya. Kudengar di Fakultas Biologi ada dosen baru loh" ujar Krystal.
Kalian tidak usah kaget. Krystal memangnya biang gossip.
"Lalu? Dosen tersebut mau kau gebet juga?" dengus Kyungsoo.
"Katanya dosen muda dan lumayan tampan sih. Tapi daripada tampan dia lebih ke cute, namanya Kim Min Seok. Kudengar dahulu dia adalah salah satu asisten professor yang unknown" ujar Krystal.
Tao membisu. Seingatnya ayahnya lumayan terkenal dahulu dan sangat tidak mungkin untuk dikategorikan sebagai 'unknown'
Apalagi untuk seorang yang telah berjasa menyembuhkan lima ribu orang lebih dan hanya bisa tenggelam dalam kurun waktu dua tahun.
Sangat mustahil.
"Mana ada professor yang unknown pabbo, setidaknya pasti ada segelintir berita tentangnya" ujar Kyungsoo
"Tapi begitulah kenyataannya. Mungkin hanya segelintir orang yang tahu seperti keluarganya atau orang – orang terdekatnya. Nyatanya dalam sekejap Proffesor tersebut seakan hilang dari peradaban atau sengaja dihilangkan mungkin? Toh buktinya banyak yang ingin merekrut Kim Min Seok itu karena pernah bekerja dengan professor tersebut"
Tao termenung.
Memang benar kematian ayahnya tidak dapat di prediksi dan berita tentang dirinya juga tidak ada.
"Bagaimana dengan anaknya?" tanya Tao pada Krystal.
"Aku juga tidak tahu. Namun dulu sewaktu eonni masih di New York headline berita waktu itu menceritakan kondisi anaknya yang dirahasiakan. Hanya itu" ujar Krystal.
"Mungkin ada intrik politik didalamnya" ujar Kyungsoo asal.
Tao menimbang – nimbang sambil mengingat – ingat.
"Baba! Baba!" ujar Tao yang berteriak sambil menggedor – gedor pintu. Dia menangis ketakutan rumahnya menjadi serba merah hingga sebuah ledakan yang membuat Tao terlempar jauh kedalam membuatnya pingsan.
Tao menghela nafas. Krystal dan Kyungsoo memandang Tao aneh.
"Kurasa aku harus pergi sebentar" ujar Tao.
"Yak mau kemana?" teriak Krystal namun dianggap angina lalu.
…
Dan disinilah dia sekarang. Di perpustakaan besar Universitas Seoul. Bukan tanpa alasan. Ia kemari untuk mencari sesuatu. Di perpustakaan universitas disediakan beberapa unit computer untuk memfasilitasi mahasiswa dalam mencari riset – riset atau tesis buatan mahasiswa atau dosen terdahulu juga digunakan sebagai database universitas.
Tao ingat dulu bahwa ayahnya pernah mengajar disini. Dan ia yakin pasti arsip ayahnya ada yang tertinggal disini.
"Maaf, apakah saya bisa menggunakan salah satu unit computer disini?" ujar Tao pada penjaga perpustakaan.
"Ah, tentu saja berikan namamu beserta fakultas dan jurusannya"
"Huang Zi Tao. Fakultas Art & Culture jurusan Literature" lalu orang tersebut mengetikkan namanya.
Access denied
Sang penjaga perpustakaan tadi tercenung dan Tao yang kebingungan.
"Waeyo?" ujar Tao.
"Chakamman… Tao-shi" ujar perempuan itu lalu menelpon seseorang.
…
"Nde….nde… arraseo-yeo" ujar seorang perempuan tomboy menggunakan jas lalu mematikan sambungan teleponnya dan berjalan kearah sebuah pintu bertuliskan 'Chancellor Room' dan mengetuknya.
"Masuk" ujar seorang pemuda berwajah sedikit oriental yang tengah berdiri didekat jendela sambil membaca bukunya.
"Tuan Hibiki. 'Anak ' itu telah berada disini" ujar perempuan tadi yang diperkirakan adalah sekretarisnya.
Sedangkan orang yang bernama Hibiki itu tadi menutup bukunya lalu duduk di depan meja kerjanya dan buku tadi ia letakkan diatas meja.
"Apa kau yakin dia adalah anak dari Prof. Huang Tae Jun"
"Menurut pengakuan penjaga perpustakaan anak itu bermarga Huang-"
"Huang tidak bisa dijadikan sebagai alasan, Amber-ya"
"Namanya Huang Zi Tao. Laki – laki" ujar perempuan bernama Amber tadi.
Hibiki tersenyum.
"Bawa dia kemari. Kita harus memberikan 'greeting' yang baik bukan?" ujar laki – laki bernama Hibiki itu tadi dan menatap sampul buku yang ia baca tadi.
'Hipotesis Fungsi & Penawar MCM-01'
'Ditulis oleh : Prof. Huang Tae Jun'
…
"Nde? Ke ruang rektor?" ujar Tao kaget.
"Iya anda di panggil ke ruang rektor sebentar, tidak apa kan?"
Tao merasa ada yang ganjil.
Dia kesini hanya meminjam satu unit computer namun berujung panggilan dirinya ke ruang rektor. Apa dia melakukan sebuah kejahatan?
Ia pun tak tahu namun disinilah dirinya sekarang. Di depan pintu ruang rektor dan disambut oleh seorang laki – laki atau mungkin perempuan berjas.
"Mari masuk Tuan Huang. Prof. Hibiki sudah menunggu anda"
Tao pun masuk kedalam ruangan megah penuh buku tersebut dan duduk di sofa tamu. Tak lamakemudian rak buku itu terbelah dua dan memunculkan seseorang.
Mungkin itu ruang rahasianya.
Dihadapannya seorang laki – laki berwajah sedikit oriental atau mungkin tidak. Dari yang Tao dengar dari perempuan berjas tadi, bahwa nama orang ini Hibiki. Kalau Tao tidak salah tebak ia pasti orang Jepang.
Namun siapapun orang ini, Tao tidak merasa nyaman.
"Annyeong Haseyo. Chounen Huang Zi Tao imnida. Bangeupsemnida Hibiki-saem" ujar Tao berdiri lalu memberi salam serta membungkuk hormat.
"Aigoo…aigoo… gweanchana…gweanchana…cha(ayo) anja(duduk)" ujar Prof. Hibiki lalu Tao pun kembali duduk di sofa tamu tersebut dan Hibiki duduk berhadapan dengannya.
Entah mengapa Tao tidak menyukai atmosfir ini.
"Maaf saem. Kalau boleh tahu maksud dan tujuan saem membawa saya kemari itu apa?" ujar Tao bertanya dengan sopan sementara yang ditanya hanya tertawa renyah.
Jenis tawa yang tidak bersahabat.
"Aigoo~ Amber-ya, lihat. Dia mirip sekali dengan appanya. Sopan, murah senyum, dan to the point serta tidak bertele – tele… aigoo~ aigoo~" ujar Prof. Hibiki meminta pendapat dari perempuan yang ternyata bernama Amber tadi.
"Nde. Dari(Tuan), dia mirip dengan Prof. Huang Tae Jun" ujar Amber dn kini giliran Tao yang terkaget – kaget.
Dan Hibiki yan menyadari itu hanya tersenyum culas.
"Ayahmu adalah professor terbaik dan terhebat yang pernah ada. Tidak ada satupun yang pernah berhasil mengalahkan hipotesisnya ataupun teorinya. Masa depan Negara ini dan Dunia yang pernah 'dijamah' oleh tangannya. Dia adalah seorang ilmuwan yang luar biasa"
Tao mengiyakan dalam hati.
"Tapi ayahmu diduga menyalah gunakan kepintarannya. Ia membunuh orang untuk menciptakan MCM-01. Obat yang telah menyelematkan lima ribu orang lebih. Asosiasi Ilmuwan di dunia telah memberi perintah untuk penangkapan dirinya atas tuduhan penyelewengan hak dan kewajiban, namun sebelum ia ditangkap. Rumahmu telah menjadi abu dan ayahmu meninggal akibat kecelakaan lab yang membuat rumahmu terbakar"
Bohong.
Ayahnya bukanlah seorang penggila ilmu pengetahuan ataupun hamba uang. Ayahnya adalah ayah yang terbaik di dunia.
"Bagaimana mungkin? Baba bukanlah orang-" ucapan Tao terputus kala Prof. Hibiki meletakkan sebuah buku.
'Hipotesis Fungsi & Penawar MCM-01'
'Ditulis oleh : Prof. Huang Tae Jun'
"Ini…"
"Ya. Ini buku terakhir milik ayahmu yang sempat kami selamatkan. Didalamnya juga tidak bisa meringankan tuduhan atas ayahmu namun justru malah memberatkannya. Disini tertulis bahwa dibutuhkannya wadah untuk menampung darah tersebut agar bisa bertambah dan bekerja secara optimal. Wadah yang dimaksud adalah tubuh manusia"
Tao tercengang.
"Nde…?"
"Artinya, ayahmu juga telah mencelakai lima ribu orang lebih yang terkontaminasi oleh obat ini"
"Tapi saem, orang – orang tersebut semuanya dalam keadaan sehat"
"Dan untuk itu maka obat ini illegal Tao-ya. Ayahmu tidak memberikan asal usul yang jelas mengenai bahan dan komposisi obat ini. Tahu – tahu semua orang yang mendapatkan cairan tersebut seperti terlahir kembali. ini adalah bemtuk 'halus' dari cloning"
"Bagaimana bisa tindakan menyelamatkan nyawa dinamakan clo-"
"Dan atas segala pertimbangan. Melihat bahwa dirinya telah berjasa dan mempunyai satu anak tunggal, maka menuruut keputusan Dewan Asosiasi Ilmuwan didunia menyatakan bahwa Ayah-mu dihapuskan dari sejarah. Secara diam – diam para dewan Asosiasi Ilmuwan dari berbagai Negara pulang ke Negaranya masing – masing lalu secara tersembunyi menghapus semua berita,liputan, foto dan hal – hal lainnya termasuk saya"
"Anda melakukannya juga…?" ujar Tao bergetar.
"Benar. Namun karna saya adalah kawan lama dari ayahmu, maka file di universitas ini yang tidak saya hapus namun accessnya saya batasi. Untuk semua mahasiswa yang bermarga Huang harus diverifikasi apakah punya garis kekeluargaan dengan Prof. Huang Tae Jun. Dan melihatmu anak satu – satunya yang ternyata menempa Ilmu disini membuat saya akan memberikan file aslinya dan akan menghapus yang ada di database Universitas" ujar Prof. Hibiki memberi sinyal pada Amber untuk menaruh sebuah amplop coklat usang. Tao menyentuhnya dan dia masih bisa merasakan sentuhan tangan ayahnya.
Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya.
"Ini hak-mu sekarang Tao. Ambilah, pasti menyakitkan dirimu tidak punya kenangan sama sekali tentang ayahmu" ujar Hibiki beralih duduk disampingnya dan memberi tepukkan semangat.
Atau mungkin prihatin.
"Khamsahamnida telah membantu baba. Saya permisi dulu" ujar Tao membungkuk lalu membawa amplop coklat itu dan buku hipotesis ayahnya dan beranjak pergi dari ruangan rektor tersebut.
"Melihat dari reaksi-nya sepertinya ia tidak tahu apapun, Dari" ujar Amber masih menatap Tuannya yang masih melihat bekas tempat Tao duduki tadi.
"Yah… sepertinya benar apa yang dikatakan Shin saat pembelaan waktu itu bahwa pada saat kebakaran itu, Tao tengah tertidur dikamarnya jadi ia tak tahu apapun…" ujar Hibiki lalu berdiri dan menuju meja kerjanya lalu menyesap wine mahal miliknya.
"Jadi mesti saya 'bereskan' anak itu atau biarkan saja?" ujar Amber.
"Biarkan dia hidup. Saya punya feeling bahwa anak itu pasti kunci dari MCM-01" ujar Hibiki lalu meminum santai wine-nya.
"Tapi tidak apa memberikannya amplop dan buku tersebut?"
"Semua yang ada di bawanya telah menjadi tesis milikku, jadi untuk apa menyimpan 'aslinya' bukan?" ujar Hibiki lalu mengedipkan sebelah matanya pada Amber.
"Saya akan membereskan database universitas" ujar Amber lalu pergi ketika Tuannya telah duduk di kursi kerjanya dan menatap jalanan dari jendela kantornya.
"Maka dengan ini para dewan memutuskan hukuman yang setimpal atas perbuatan Prof. Huang Tae Jun adalah menghapus dirinya dari riwayat sejarah dan anaknya harus mengabdi pada Asosiasi Ilmuwan seumur hidupnya"
Junsu yang menjadi perwakilan atas Proffesornya tak bisa berkutik.
"Tolong ringankan hukuman itu Ketua. Bagaimanapun penghapusan riwayat sejarah sudah merupakan hukuman terberat tolong jangan limpahkan lagi pada anaknya" Hibiki mencoba membela.
Junsu hanya terdiam, dia belum mendapat kesempatan untuk berbicara.
Atau mungkin tidak.
Ia akan tahu kemana arah pembicaraan ini.
"Kalau begitu harus ada yang bertanggung jawab atas semua tesis dan penelitian Tae Jun. agar nama anaknya bersih"
"Saya bersedia bertanggung jawab atas semuanya Ketua. Semuanya" ujar Hibiki dengan muka yang tampak khawatir.
Atau mungkin dibuat – buat.
Hibiki.
Prof. Hibiki yang terhormat menjadi 'penyelamat' untuk putra sahabat karibnya.
Sekaligus sebagai 'Iblis berwujud malaikat' untuk kehidupan putra sahabatnya.
"Bagaimana Dr. Kim Shin?"
"Saat ini hak paten teori milik Prof. Tae Jun bukanlah hal yang penting lagi. Kami hanya bisa meminta belas kasihan untuk putranya yang masih kecil. Huang Zi Tao"
Senyum kemenangan terpatri diwajah Hibiki.
"Huang. Zi. Tao…" ujar Hibiki masih menatap kebawah kearah hilir mudik jalanan.
"Rambut selegam malam, mata sedalam jelaga, hidung semungil embun, dan bibir semerah buah ceri… menarik" ujar Hibiki tersenyum kembali lalu memandang kearah figura besar dimana dibawahnya tertulis.
Asosiasi Ilmuwan Tingkat Dunia periode 2010-2015
Dan salah satunya yang berdiri disamping Hibiki. Yang tersenyum sambil tangan kanannya dikepal dan disejajarkan setinggi wajah membentuk simbol 'semangat'
Dengan nametag 'Huang Tae Jun' di jas putihnya.
"Yunho-ya… anakmu tumbuh secantik ibunya… bagaimana ini? Aku bisa jatuh hati padanya?" ujar Hibiki berbicara sendiri sambil menatap figura tersebut lalu kembali tertawa renyah.
Jenis tawa yang mengerikan kali ini.
To Be Countinued
Woah semakin kesini beberapa teka - teki semakin terkuak wkwkwk
Ada yang bisa menebak teka tekinya? :v
