Disclamer:
Naruto: Masashi Kshimoti
HighSchool DxD: Ichiei Ishibumi

Naruto and High School DxD: Demon Dragon Romance

Genre: Action, Adventure, Demon, Fantasy, Friendship, Romance, Mystery, Supernatural

Raiting: M

Pairing: [Naruto x Rias x Akeno x MiniHarem]

Warning: Gaje, Abal, Typo, AnimeCharLain, OOC, StrongNaru!

.

Summary: Dia tidak tau masa lalu-nya, dan hanya mengangap diri-nya sebagai manusia, hingga dia dibangkit-kan kembali menjadi Iblis Clan Gremory ketika dia mati. Tapi tidak yang tau, termasuk diri-nya sendiri, kalau dia mempunyai kemampuan yang lebih dari kata Special.

.

Chapter 6: Kemenangan dan Pergerakan

.

"Apa kalian sudah mengerti?" Naruto menatap satu persatu Perage Rias yang tersisa, dan mereka semua mengangguk yakin, kecuali Buchou-nya, yang hanya diam saja. "Buhou apa kau mengerti?" Rias tersentak kaget dengan pertanyaan Naruto yang diberikan padanya.

"Eh? Rias menutup matanya sesaat. "Aku paham." Rias menatap Naruto tajam. "Tapi kalau ini sampai gagal, aku akan membuang mu dari Perage ku, Naruto." Ujar Rias tajam. Dia sangat yakin rencana mereka kali ini sangat beresiko, tapi Rias akan mencoba untuk percaya pada Naruto kali ini.

"Kemungkinan berhasil 99%." Rias, Issei, Akeno, dan Asia tersentak kaget mendengar jumlah persentansi kemungkinan mereka akan berhasil. "Tapi..." Naruto menatap Raiser tenang. "...jika sampai salah satu dari kita membuat kesalahan, Checkmate lah kita." Lanjut Naruto.

"Berarti ini 50:50 bukan?" Rias menatap Naruto tidak mengerti, kenapa rencana mereka kali ini bisa dibilang 99% padahal kalau mereka sampai salah mereka akan kalah.

Naruto menetap Buchounya dengan senyum tipis. "Inilah yang membuat mu tidak pernah bisa mengalahkan Kichou dalam adu strategi Buchou." Naruto kembali menatap Raiser, yang menatap mereka waspada. "Kita mempunyai keuntung lebih banyak dari dia. Jumlah, dan kekuatan, lalu kita hanya tinggal membuat Raiser beregenarasi dengan lambat, maka dia akan Checkmate dan itu hanya membutuhkan beberapa menit kalau diantara kita tidak membuat kesalahan, tapi jika rencana kita berhasil bukan berarti kita langsung Checkmate, paling tidak dia membutuhkan waktu untuk mengalahkan kita satu persatu, yang penting, Buchou, kau harus bersama Akeno, dan Asia-san." Jelas Naruto tenang.

"Aku mengerti."

"Kalau begitu jalan-kan rencananya."

OoOoOoO

"Bagian akhir sebagai penetuan, kira-kira apa rencana Taichou ya?" Hime menatap penasaran TV slim didepannya, sedangkan Kaneki, yang duduk disampingnya, menatap bosan.

"Akhir dari pertandingan ini sudah terlihat." Kaneki menggambil satu potongan daging. "Aku hanya ingin melihat bagaimana ekpresi kekalahan salah satu dari mereka." Ujar Kaneki datar.

"Heh jadi kau sudah tau ya." Ultear menatap Kaneki dengan mata menyipit. "Bagaimana kau tau Kaneki?" tanya Ultear dengan aura mengerikan keluar dari dalam tubuhnya. Dia merasa ada yang ganjal dengan yang dia dengar, Kaneki sudah mengetahui akhir pertandingan ini, Ultear mulai berfikir, apa Kaneki sudah bertemu Taichou mereka, karena yang Ultear tau, Kaneki dapat dengan mudah membaca rencana orang lain hanya dengan melihat ekpresi orang tersebut.

"Itu karena Kaneki sudah bertemu Taichou. Bahkan Kaneki hampir membunuh Taichou, bukan begitu, Kaneki?" Hime menatap Kaneki dengan senyum penuh kemengan. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalas Kaneki yang sering berpelikau seenaknya.

"Bu-bukan begitu." Kaneki mulai panik. Kaeringat mulai mengalir dipelipisnya. "A-aku hanya..."

"Hanya apa?"

"E-eto..." Kaneki menggaruk pipinya. "Aku ingin mengathui kemampuan Taichou yang sekarang." Jawab Kaneki pelan, tapi masih dapat didengar oleh Ultear.

"Souka." Kaneki mengalihkan pandangannya pada Akame yang mulai mengeluarkan suaranya. "Walaupun begitu kau hampir membunuh Tachou kan? Dengan kata lain, bersiaplah untuk hukuman mu, Kaneki." Akame menatap Kaneki tajam, begitu juga Ultear, sedangkan Hime, tersenyum penuh kemengan.

"Huh..." Kaneki mengehela nafas pasrah. "Aku mengerti, tapi setelah ini, aku ingin melihat bagian akhir dari pertarungan ini." Ujar Kaneki lemas, karena dia sendiri sudah tidak dapat mengelek dari Ultear maupun Akame. Mengalihkan pandangannya, Kaneki menatap Hime yang juga menatapnya dengan senyum penuh kemengan. "Akan aku balas kau nanti." Batin Kaneki.

OoOoOoO

"Sial kemampuannya sangat meningkat ketika dia memakai Balance Breaker." Batin Raiser yang dalam kesulitan untuk menahan setiap tinju Issei, yang kini tubuhnya tengah dilapisi oleh Armor Naga merah.

[5]

Issei melompat kebelakang Raiser. Raiser yang ingin menyerang balik dikejutkan dengan Naruto, yang muncul dari depannya, dengan tombak yang siap dia hantamkan padanya. "Kecepatannya sungguh luar biasa." Batin Raiser, yang terus menahan dan mengelak dari setiap ayunan tombak Naruto.

"Raiser, bersiaplah." Naruto menjatuhkan tubuhnya yang diudara ketanah, dengan tombak yang dihantamkan kepada Raiser dengan kuat.

Duuaarr!

Hanya satu kali hantaman tombak, sebuah kawah kecil tercipta, dengan Raiser ditengahnya yang terbaing. "Serangan seperti itu tidak akan melukai ku." Raiser kembali berdiri dengan koboran api disekujur tubuhnya.

[4]

"Siapa bilang itu serengan utama?" Naruto menatap Raiser dengan seringai dibibirnya. "Apa kau tidak lihat disini kurag satu Raiser." Ujar Naruto santai.

"Ada yang kurang?" Raiser melihat seluruh Perage Rias yang tersisa. Mata Raiser yang awalnya sedikit tidak peduli terbelak kaget, ketika benar apa yang dikatakan pemuda didepannya. "Siapa yang kurang?" Raiser bertanya-tanya. "Sekiryuutei, dia tidak ada disini?"

[3]

"Kau mencari ku." Raiser mengalihkan pandangannya kebelakang, dan melihat Issei, telah menyiapkan teknik Sihirnya yang paling mematikan, Dragon Shoot, yangmengarah pada Raiser. "Terima ini, Raiser." Issei dengan cepat menembakan bola hitam padat ditengannya menjadi laser panjang.

[Dragon Shoot]

Duuaarr!

Dengan telak Raiser menerima serangan Issei, yang masih berdiri dibelakangnya dengan tangan yang masih mengacung kedepan. "Waktunya lebih dari cukup." Guman Issei, yang merasa waktu 10 detik sudah lebih dari cukup untuk menahan Regenarsi dari Raiser.

[Reset]

Armor Naga yang melapisi tubuh Issei selama beberapa detik yang lalu hilang begitu saja seperti serpihan cahaya, setelah dia melepas mode Balance Breaker-nya.

Raiser dengan koboran api disekujur tubuhnya kembali berdiri, dengan tatapan tidak terima karena diserang oleh Issei. "Kalian akan membayar ini." Raiser menciptakan sebuah bola api ditangannya, dengan cepat dia melemparnya, tapi...

Duuaarrr!

...Raiser terkena sebuah sambaran petir terlebih dahulu sebelum melempar. Akeno, yang telah melancarkan serengan petir tersebut menatap sadis Raiser. "Kau masih dapat bangun. Ufufufu." Akeno terus menghantamkan Sihirnya yang tersisa pada Raiser.

"Regenarasinya semakin melambat." Batin Rias yang ternyata benar apa yang dikatakan Naruto sebelumnya pada mereka, kalau Regenari Raiser akan semakin melambat ketika diserang terus menerus. "Rencana Naruto berhasil dengan sempurna." Tambah batin Rias.

.

Flashback

Naruto menatap Issei tenang. "Pertama Issei kau gunakan mode Balance Breaker mu, aku akan mengalihkan perhatiaannya, setelah selesai, kau serang Raiser dengan mode Balance Breaker, lalu usahakan sebisa mungkin kau meloncat kebelakang Raiser, agar aku dapat kembali melancarkan serengan kejutan, sementara kau siapkan Dragon Shoot mu, setelah aku menyerangnya cukup telak, kau segera tembakan Dragon Shoot mu." Mengalihkan pandangannya, Naruto menatap Rias dan Akeno secara bersamaan.

"Regenarasi dari Raiser akan semakin melambat ketika diserang terus menerus. Maka setelah Issei selesai melakukan Dragon Shoot, setelah itu kau Akeno, serang Raiser dengan Holy Thunder mu. Ketika Akeno telah selesai, Buchou, kau akan menyarang Raiser dengan Power of Destruction." Naruto melirikan matanya pada Asia.

"Asia kemampuan penyembuhan mu juga dapat menggambalikan energy Sihir yang hilang bukan?" tanya Naruto.

Asia mengangguk kecil. "Ya, tapi tergantung dari seberapa besar aku menyembuhkannya, karena aku tidak mungkin menggambalikan energy Sihir seluruhnya, jadi paling tidak 50% aku bisa menggambilkan energy Sihir yang hilang." Jawab Asia.

"Itu sudah lebih dari cukup." Naruto menutup matanya sesaat. "Asia setelah Aku menyerang Raiser nanti, kau akan menggamblikan energy Sihir ku, dan aku yang akan melakukan serengan penutupan." Rias, Akeno, Issei, dan Asia terkejut, dengan rencana akhir Naruto.

"Ta-tapi..."

"Percayalah pada ku, aku yakin kita menang kalau kita saling mempercayai satu sama lain." Naruto menatap Asia dengan senyum kecil, dan dibalas anggukan mengerti oleh Asia.

Flashback End

.

"Buchou!" Rias tersentak ketika, Naruto memanggilnya begitu keras. "Apa yang kau lakukan, cepat serang Raiser, serangan Akeno baru saja berakhir." Ujar Naruto sedikit keras, karena sudah 3x dia memanggil Buchounya tapi tidak dibalas satupun, entah apa yang sedang Rias pikirkan, Naruto menjadi penasaran, karena membuatnya Buchounya sampai melamun ditengah pertarungan yang menentukan nasibnya.

"Hn." Rias menciptakan Power of Destruction ditangan kanannya, yang dia angkat keatas. Rias harus berhail, Power of Destruction dia kali ini adalah energy Sihir terakhirnya yang tersisa, semoga saja tidak meleset, itu saja yang Rias harapkan.

"Aku sudah muak de-"

Duuaaarrr!

Kalimat Raiser yang belum selesai dipotong begitu saja oleh Rias yang menembakan Power of Destruction-nya pada Raiser yang kembali berdiri. "Aku tidak akan membiarkan mu bangkit, Raiser." Ujar Rias datar.

"Asia sudah cukup." Naruto melepaskan tangan Asia yang menempel dipundaknya. "Tolong sedikit menjauh Asia." Sesuai perintah Naruto, Asia berjalan menjauh dari Naruto.

Rias, Akeno, Issei, dan Asia terkejut bukan main, ketika lingkaran Sihir Clan Gremory muncul dibawah kaki Naruto berwarna emas dengan koboran api emas mengitari pinggiran lingkaran Sihir tersebut dengan lambat.

"Na-Naruto dapat menggunakan Sihir?"

"A-aku tidak percaya ini, Na-Naruto-kun dapat menggunakan Sihir?"

"I-ini bukan mimpi kan, Naruto?"

"Jadi yang tadi aku lihat ternyata benar ya?"

Naruto mengacungkan tangannya kedepan, dan koboran api emas yang mengitari lingkaran Sihir tersebut dengan agak cepat membentuk sebuah bola api padat ditangan Naruto yang mengacung.

Raiser kembali berdiri, dengan luka yang sudah sangat parah. "A...ku tidak terima di per-"

"Bersiaplah Raiser." Tidak mau menunggu lama, Naruto menembakan bola api tersebut pada Raiser yang menatapnya terkejut, karena yang Raiser tau, Naruto tidak dapat menggunakan Sihir apapun.

[Golden Fire Destruction]

Duuaarrr

Kawah dengan ukuran tidak terlalu besar tercipta didepan Naruto, dengan Riaser terbaring pingsan ditengahnya. "Re-rencana ku berhasil." Batin Naruto dengan mengatur nafasnya yang kelelahan. "Bu-Buchou..." Naruto menatap Rias dengan senyum kecil. "K-kau tidak akan bertungan dengan dia bukan?" Kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya, matanya mulai berkunang-kunang, dan pikirannya mulai merasa kehilangan kesadaran.

Bruk!

"Naruto!"

"Naruto-kun!"

"Naruto!"

"Naruto-san!"

Rias, Akeno, Issei, dan Asia, segera berlari dengan terburu-buru ketempat Naruto yang terjatuh ditanah, dengan senyum kecil terukir diwajahnya. Dengan cepat, Rias yang berada paling dekat dengan Naruto, meletakan kepala Naruto dipahanya.

"Dia sungguh menis ketika seperti ini." Batin Rias tersenyum dengan menatap wajah Naruto yang tersenyum saat kehilangan kesadaran. Dirinya sungguh tidak menyaka orang yang selama ini dia anggap remeh adalah orang yang telah menyelamatkannya, dan Rias tidak menyaka perkataan dari Issei ternyata benar, kalau dirinya mencintai Naruto.

Dirinya memang tidak peka terhadap diri sendiri, dan sekarang dia tau kenapa dia selalu melarang Naruto ikut berburu Iblis liar? Kenapa tidak boleh ikut Rating Game melawan Raiser? Atau kenapa dia tidak membuang Naruto padahal Naruto adalah Iblis tidak berguna? Itu semua karena dia tidak mau kehilangan Naruto.

Rias tersenyum miris mengingat kejadihan-kejadian pahit yang dia lalui bersama Naruto diwaktu yang lalu, dan sekarang Rias ingin membuka lembaran baru untuk kehidupannya dengan Naruto.

Rias perlahan-lahan menutup matanya, untuk menikmati kemengan yang sudah diberikan sang Pawn berjumlah 1 serta orang yang sangat dicintai.

.

Minspace Naruto

Rias membuka matanya perlahan, matanya terkejut, ketika melihat hal disekitarnya berbeda, mengalihkan pandangannya, dia juga melihat Akeno, yang berdiri disampingnya. "Akeno kau tau tempat apa ini?" tanya Rias dengan pandangan mata masih terkejut.

Akeno menggeleng kecil. "Aku tidak tau." balas Akeno yang sama terkejutnya dengan Rias. Apa mereka dikirim kedimensi yang lain oleh Maou Lucifer? Entah Akeno tidak tau, tapi firasatnya mengatakan kalau ini bukan perbuatan Onii-sama dari Buchounya itu.

"Selamat datang, Rengkarnasi, Sara, Hinata. Atau aku harus menyebut kalian, Rias, Akeno." Rias berserta Akeno mengalihkan pandangan mereka, dan mereka melihat, Menma tengah berdiri, dengan pandangan mata datar. "Aku yakin kalain mempunyai banyak pertanyaan bukan?"

"Siapa kau? Aura mu sama seperti Naruto?" Rias menatap wasapda pemuda didepannya. Dia sangat yakin orang didepannya sangat berbahaya, dan dia yakin, pasti dirinya akan kalah walaupun bersama dengan Akeno.

"Benar tuan. Siapa kau?" Akeno menatap tajam Menma, yang hanya tersenyum kecil.

"Siapa aku? Soal itu kalian akan tau suatu saat nanti. Aku hanya akan memberitahu kalian, kalian adalah Rengkarnasi dari Sara dan Hinata, mereka adalah pasangan hidup Naruto dikehidupan sebelumnya dan aku berharap kalian bisa menjaga Naruto. Kalau begitu Jaa ne."

Dengan cepat cahaya yang sangat silau mengahalingi pandangan Rias dan Akeno. Dan dengan spontan mereka menutup mata mereka.

Minspace Naruto End

.

Rias dan Akeno kembali membuka mata mereka, dan mereka kembali melihat ketepat mereka sebelum bertemu dengan Menma.

Akeno yang berdiri saping Rias, membungkukan badannya. "Rias apa tau tadi itu apa?" tanya Akeno dengan berbisik. Dia tidak mau Issei, atau Asia mendengar tentang kejadian sebelumnya mungkin hanya perasaan Akeno saja, kalau hal ini harus dirahasikan dari yang lain termasuk Naruto.

Rias menggeleng kecil. "Aku tidak tau, tapi yang jelas kita harus merahasiakan ini, termasuk Naruto." Akeno mengangguk mengerti dengan kalimat bisikan Rias.

"Rating Game anatara, Rias Gremory-sama, melawan Raiser Phenex-sma, dimenangkan oleh Rias Gremory-sama."

OoOoOoO

"Seperti dugaan ku." Kaneki menatap layar dengan bosan. Dia sudah mengira Taichounya akan melakukan hal tersebut, mungkin tidak dari awal dia mengira itu, tapi setidaknya tebaknya benar 100%.

Ultear menatap Kaneki. "Apa maksud mu dengan 'sesuai dugaan ku'? tanya Ultear penasaran. Apa Kaneki sudah tau apa yang akan terjadi? Memang benar Kaneki bisa membaca rencana orang lain, tapi tidak mungkinkan dia bisa sampai tau kalau Tachou mereka juga akan pingsan.

"Tentu saja." Kaneki menyesap kopinya sedikit. "Rencana itu adalah rencana yang paling efektif untuk melawan seorang Phenex. Tapi menurut ku rencana itu terlalu lambat, kenapa Taichou tidak menggunakan Golden Fire Destruction dari awal, padahal itu teknik yang cukup mematikan yang dia punya." Jelas Kaneki tenang. Dia tidak habis pikir dengan Taichounya kenapa tidak menggunakan salah satu teknik mematikannya dari awal? Apa dia sengaja merahasiakannya dari teman-temannya, atau Menma tidak memberitahunya? Entah Kaneki tidak tau tenang itu.

"Kau mengatahui itu teknik mematikan Taichou? Aku tidak pernah berfikir seperti itu." Hime sama sekali tidak tau, Golden Fire Destruction adalah teknik mematikan Taichou mereka, padahal dia sudah sering melihat teknik itu.

"Tentu saja." Kaneki meletakan cangkir kopinya yang telah kosong. "Golden Fire Destruction salah satu teknik unik ciptaan Taichou. Teknik itu tidak seperti teknik kebanyakan yang akan membuang energy Sihir ketika energy Sihir sudah mencapai batas maksimal. Golden Fire Destruction, semakin banyak energy Sihir yang dikeluarkan semakin besar daya hancurya, dengan kata lain tidak ada kata maksimal dalam teknik itu, tapi teknik itu akan membakar tangan pengguna jika digunakan secara berlebihan dan terus menerus." Kaneki menjelaskan dengan tenang, dan memberitahu semua yang dia tau, dan mungkin masih ada beberapa yang kurang dari efek samping teknik itu yang Kaneki tidak tau.

"Aku tidak menyaka Golden Fire Destruction memiliki daya hancur yang dasyat, dengan efek yang dasyat juga." Komentar Akame, yang mulai berdiri dari duduknya. "Tapi selama ada Sayumi itu tidak masalah bukan?" tanya Akame dengan menatap Kaneki.

"Tidak. Walaupun dengan teknik Sayumi sekalipun, efek samping dari Golden Fire Destruction tidak akan bisa dihilangkan, karena tangan Taichou tetap ada, tapi tidak ada." Balas Kaneki tenang, dengan menatap wajah Akame yang bingung, ya dia yakin Akame dan yang lainnya bingung. "huh..." Kaneki mengehela nafas pelan. "Singkatnya seperti tidak terlihat, tapi tidak bisa digunakan."

"Souka. Sebaiknya kau gunakan kata-kata yang membuat kami mengerti. Jangan mentang-mentang kau pintar, kau meledek kami dengan bahasa yang sulit dimengerti seperti, Ghoul miskin." Cibir Hime kesal dengan Kaneki, karena selalu menggunakan kata-kata yang membuatnya pusing dalam penjelasan.

"Itu semua memang karena kau bodoh."

Sebuah lingkaran Sihir dengan pola tali grafi berwarna hitam muncul diruang tengah mereka. Kaneki beserta yang lainnya mengalihkan pandangan mereka, dan melihat Minato Namikaze.

Pemuda berambut blonde spike panjang, bermata dingin, yang memakai jaket hitam bertudung lengen pendek, dengan dalaman kaus putih ketat berkarh tinggi berlengan pajang, dengan bawahan celana jeans panjang hitam pekat, serta sepatu bots hitam setinggi setengah lutut.

"Aada apa kau datang kemari, Minato?" Akame menatap pemuda tersebut dengan pandangan menyipit, karena tidak biasanya pimpinan dari Pandora Hearts, organisasi yang bergerak sebagai bawahan Seven Star, menghap mereka ditengah malam seperti ini.

Minato menyerahkan sebuah laporan yang sudah diselidiki oleh Pandora Hearts pada Akame. "Ini dapat laporan tentang organisasi yang bergerak bebas dan mungkin akan mengancam ketenangan saat ini, serta beberapa data orang yang mengincar Naruto-sama." Jawab Minato dengan nada penuh rasa hormat.

Akame menggambil kertas itu. "Oracion Seis, Grimoire Heart, Akatsuki, Khaos Bridge, dan Tartarus. Ini nama organisasi yang mengancam, sekarang ini. Aku tidak berfikir untuk berurusan dengan mereka lagi." Akame membalik-balik kertas laporan dari Minato. "Tapi kenapa Khaos Bridge, Akatsuki, dan Tartarus, dama sekali tidak ada data yang lain selain namanya?" tanya Akame dengan menatap Minato.

"Mencari informasi tentang mereka sama saja mengatar nyawa pada Shinigami, Akame. Kita saja belum tentu bisa mengalahkan mereka tanpa bantuan Taichou, apa lagi mereka yang merupakan bawahan kita, tentu saja mereka tidak akan berani." Kaneki berdiri dari kursinya. "Dan juga aku yang menyuruh mereka agar tidak mencari informasi tentang ketiga oraganisasi tesebut, karena bagaimanapun, aku tidak mau, jumlah orang yang mengikuti Fraksi Destiny terbunuh." Tambah Kaneki.

"Aku tidak menyaka kau memikirkan itu Kaneki." Ultear tersenyum kecil. "Memang benar apa yang diketakan Kaneki, karena aku pun tidak setuju dengan mencari infomrasi mereka. 3 Oraginasi itu sangat berbahaya, bahkan sangat berbahaya, jika sampai seluruh anggota Pandora Hearts terbunuh, Fraksi Destiny sama sekali bukan Fraksi lagi." Ujar Untear, yang mengerti pemikiran Kaneki.

Kaneki menatap langit-langit. "Seven Star, Pandora Hearts, dan Death Magician, adalah 3 orgaisasi paling berbahaya selama Great War, dan mereka memutuskan untuk bersatu menjadi sebuah Fraksi, dengan Seven Star sebagai pimpinan Fraksi. Aku tidak menyka hal itu akan terjadi." Ujar Kaneki tenang.

"Yah walaupun begitu, kita belum tau bukan alasan Tachou membuat Fraksi ini?" Hime menatap Kaneki dengan senyum kecil.

"Ya, itu semua hanya Taichou yang tau." Kaneki mengalihkan pandangannya pada Minato. "Tumben sekali kau tidak bersama Sasuke? Kemana dia?" Kaneki sungguh penasaran karena Minato tidak bersama dengan Sasuke, karena biasanya, Minato selalu bersama dengan Sasuke, pmipinan dari organisasi Death Magician.

"Dia sedang mencari informasi tentang Grimoire Heart." Jawab Minato sopan. Dirinya sebagai bawahan dari Seven Star, sangat menghormati seluruh anggota Seven Star, baik itu Naruto, atau yang lainnya.

"Souka." Kaneki mengalihkan pandangannya. "Apa Sayumi, dan Sinon ada ditempat Pandora Hearts?" tanya Kaneki datar. Sejak masuk beberapa jam yang lalu, Kaneki sama sekali tidak melihat dua anggota Seven Star yang lainnya, entah dimana mereka, Kaneki ingin mengathui hal tersebut.

"Mereka sedang mencari informasi." Kaneki mengalihkan pandangannya pada Ultear. "Mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah menemukan tempat persembunyian Oracion Seis." Ujar Ultear tenang.

"Souka. Kalau begitu aku tidur dulu, hari ini sudah sangat malam. Minato sebaiknya kau kembali, dan tolong siapakan keperluan yang aku butuhkan untuk besok, kau sudah taukan apa yang aku butuhkan untuk besok?" Kaneki menatap Minato, dan hanya dibalas anggukan hormat oleh Minato. "Bagus." Kaneki melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rungan tamu.

"Jangan lupa hukuman mu, besok Kaneki?"

Bruk!

Kaneki jatuh dengan tidak elitnya dipintu kamarnya, ketika, Ultear dan Akame masih mengingat hukuman untuk dirinya. "Kenapa soal menyiksa orang mereka selalu ingat." Batin Kaneki seawdrop.

OoOoOoO

"Jadi kalian sudah disini?"

Rias berserta Pergaenya yang masih tersisa, mengalihkan pandangannya, kecuali Naruto yang masih pingsan, mereka melihat sosok Maou Lucifer, yang berdiri disamping sang Istri.

"Onii-sama, bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Rias kawatir, terhadap Kiba, dan Koneko, yang sudah dikalahkan duluan.

Sirzechs tersenyum kecil. "Tenang saja mereka baik-baik saja, saat ini mereka sedang beristirahat dikamar yang sudah kami sediakan, Rias." Sirzechs tidak berfikir rencananya untuk melihat pertarungan Issei melawan Raiser hancur total, tapi dia juga bersyukur, karena pertunangan itu dibatalkan, karena bagaimanapun, Sirzechs sebagai Onii-sama, yang baik, tidak akan menyerahkan gadis secantik, dan seseksi Rias.

"Yokata." Rias bernafas lega mendengar kalimat dari Onii-samanya. Dia sempat berfikir Koneko dan Kiba akan mendapatkan luka, walaupun tidak membuat mati, tapi tetap bisa membuat luka fatal, itulah Rating Game yang Rias tau. "Tapi ngomong-ngomong, kenapa kita dibawa kesini, Onii-sama, bukannya lebih baik jika kita dipindahkan ke Kuoh Gakuen?" tanya Rias penasaran, karena Rias sangat yakin, mereka berangkat Rating Game dari ruang Club, dan sekarang mereka kembali bukan ketempat semula, tapi malah di Underworld.

"Apa kau pikir acara pertunangan mu sudah selsai?" tanya Sirzechs tersenyum, dengan menatap Rias, yang tampak shok.

Issei yang mendengar kalimat dari sang Maou Lucifer menjadi terkejut, bahkan sangat terkejut. "Ma-maksud mu kita akan bertanding lagi?" Issei yakin mereka akan kalah jika bertanding lagi.

"Kalau seperti itu, akan aku hancurkan mereka semua." Seluruhnya, termasuk Sirzechs mengalihkan pandangannya, pada Naruto yang mencoba berdiri dari tidurannya dipaha Rias. "Tapi aku yakin bukan untuk itu kita datang ke Underworld, bahkan sang Maou Lucifer sendiri yang mengundang kita." Naruto menatap Sirzechs. "Apa mau mu, Lucifer-san?" tanya Naruto tajam.

"Apa kah seperti itu kelakukan terhadapan seorang Maou, Naruto-kun?" Sirzechs menatap Naruto dengan senyum. Sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan panggilan Naruto terhadapnya, tapi dia hanya ingin melihat kpribadian Naruto yang sebenarnya.

Naruto menatap Sirzechs dingin. "Aku tidak terlalu peduli dengan Maou atau semacamnya. Aku menganggap Maou itu sama saja dengan kami, sebagai seorang Iblis. Aku hanya menghormati Buchou, sekalipun kau Onii-samanya, aku tidak akan menghormati mu, karena kau bukan yang melahirkan Buchou." Seluruh penghuni yang mendengar kalimat Naruto terkejut, kecuali Sirzechs, yang hanya menganggap hal sepele.

"Sikap seperti itu yang aku suka. Tidak membedakan satu sama lain, mau Iblis rendahan, atau tidak. Aku sungguh terkejut bisa melihat sikap seperti itu dari seseorang yang mencintai adaiku sendiri." Sirzechs tersenyum. "Aku memanggil kalian kesini bukan tanpa asalan, aku ingin, Naruto, kau menjadi tunangan Rias, bukan sebagai hadiah, tapi perintah, kalau kau membantah, kau akan dieksekusi." Ujar Sirzechs tenang.

"Untuk alasan apa aku harus mengikuti perintah mu, Lucifer-san?"

"Pertama, karena aku seorang Maou. Tapi alasan yang paling utama, Raiser pada awalnya harus menjadi tunangan Rias, tapi Rias menolak, tapi pertuangan Rias tidak bisa dibatalkan, karena kau peran, yang paling penting, serta Pahlawan Rias dalam pertunangan Rias dengan Raiser, kau harus menggantikan Raiser sebagai tunangan Rias." Jelas Sirzechs tenang. Sebenarnya itu hanya rencana Sirzechs saja agar lebih mudah untuk mengawasi Naruto seperti perintah Kaneki, demi perdamaian, Sirzchs akan melakukan apapun, sekalipun memakai cara licik.

"Souka? Kenapa tidak Issei?"

"Apa kau berfikir untuk menyerahkan gadis secantik adikku kepada orang mesum tingkat akut sepertinya. Kau jangan bercanda, yang ada Rias..."

"Tidak usah kau lanjutkan, aku sedikit jijik mendengar kalimat itu keluar dari laki-laki." Potong Naruto cepat. "Aku menerima perintah mu, tapi dengan satu syarat..." Naruto membalik badannya, dan menghadap Rias, dengan posisi layaknya seorang pangeran, yang siap melamar Cinderelanya. "...aku ingin melamat adik mu secara resmi, Lucifer-san." Lanjut Naruto tenang.

"Buchou, tidak maksud ku, Rias Gremory, aku Naruto Uzumaki, pelayan mu yang tidak berguna. Sangat mencintai apa adanya, tidak peduli sifat apa yang kau punya, tapi apa kau juga mencintai ku, Rias Gremory, Cinderela ku?"

"Jangan membuat ku mengulangi kata-kata yang memalukan." Rias mengalihkan wajahnya yang memerah. "Aku juga mencintai mu, apa adanya, Naruto Uzumaki."

OoOoOoO

Yahiko, pemuda berambut orange, yang memakai kau hitam dengan bawahan celana jeans hitam, serta jubah hitam yang membalut tubuhnya, menatap papan catur didepannya, yang sedang dia mainkan dengan Nagato, pemuda berambut merah dengan poni menutupi satu buah matanya, dan mempunyai mata berbentuk pola riak air.

"Checkmate." Yahiko tersenyum kecil, berhasil mengalahkan sahbatnya itu..

Nagato tersenyum kecil. "Kau memang hebat seperti biasanya, Yahiko." Nagato, sebagai seorang sahabat sangat menghormati Yahiko, walaupun dia mempunyai sifat yang sedikit bodoh, tapi Nagato akui Yahiko sedikit pintar, ya hanya sedikit, karena bagaimana pun, Nagato selalu mengalah pada Yahiko dalam permainan catur.

"Kau menang lagi, Yahiko." Yahiko, dan Nagato mengalihkan pandangan mereka, dan melihat Konan, gadis berambut biru, dengan bunga kertas terselip di kupingnya. "Tapi aku yakin, Nagato mengalah lagi." Konan duduk ditengah-tengah mereka, dengan membawa tiga cangkir teh.

Yahiko terbelak kaget, dan menatap tajam Nagato. "Jadi kau mengalah lagi?" Yahiko tidak terima dirinya seperti diremehkan oleh Nagato, karena setiap mereka bermain, Nagato pasti mengalah padanya.

"Gomen." Nagato tersenyum kecil, karena tidak tau mau membalas apa.

Sebuah pusaran vortex muncul dianatar mereka bertiga, dan menampilkan sosok Tobi. "Bagus kalian bertiga ada disini." Yahiko, Nagato, dan Konan mengalihkan pandangan mereka pada Tobi.

"Ada apa kau kemari Tobi? Apa ada pekerjaan lagi untuk kami?" tanya Yahiko tenang. Dirinya adalah bagian dari Akatsuki, atau bisa dibilang bawahan dari Tobi dalam Akatsuki, begitu juga dengan Nagato dan Konan. Mereka bertiga sebenarnya tidak begitu mempermasalahkan siapa atasan mereka, kalaupun mau menolak Tobi itu mustahil, karena Tobi sangat jauh lebih kuat dari mereka bertiga.

"Begitulah." Tobi menaruh Gunbainya. "Aku sebanarnya ingin menyuruh Hidan dan Kakuzu, tapi mereka belum pulang dari tugas yang ku berikan, jadi aku serahkan tugas ini pada kalian saja." Ujar Tobi tenang.

"Tugas? Tigas apa itu?"

"Tangkap Naruto Uzumaki, tapi jangan membuatnya mati."

.

To Be Continued

.

AuthorNote: Saya sungguh minta maaf kalau banyak yang tidak mengeti tentang fic ini karena terlalu banyak Char anime lain, tapi saya hanya memasukan 7 char dari anime lain, 6 anggota Seven Star, dan 1 Asuka. Dan aku yakin kalian pasti pusing dengan misteri yang aku buat dari fic ini, ya itu memang tujuan ku dari awal, membuat misteri yang sangat susah ditebak, alasannya, agar tidak ada yang mengcopy jalan cerita fic ku, mungkin kalian bisa mengikuti diawal, tapi aku yakin kedepannya akan sangat berbeda, aku sudah menyiapkan begitu banyak misteri tenang fic ini, jadi bagi yang mau mencoba meniru silakan, aku tidak masalah, tapi jangan salahkan aku jika fic kalian kandas ditengah jalan.

Kalian yang masih tidak mengeti tentang Chapter ini, akan aku daftar beberapa fakta yang terungap dichapter ini, serta Misteri yang ada dichapter ini.

1. Rias, adalah Rengkarnasi dari Sara, sedangkan Akeno dari Hinata, dan itu semua diberitau oleh Menma, tapi dibalik itu, apa tujuan Menma memberi tau mereka?
2. Fraksi Destiny gabungan dari 3 Oraginasi, Seven Star, Pandora Hearts, dan Death Magician. Dibalik itu, apa tujuan Naruto menciptakan Fraksi Destiny?
3. Pemimpin Fraksi Destiny Naruto, Pandora Hearts, Minato Naimakze, dan Death Magician, Sasuke Uchiha.
4. Nama Oraganisasi yang mengincar Naruto terungkap, Akatsuki, Oracion Seis, Grimoeri Heart, Tartarus, dan Khaos Bridge.

Lalu apa maksud Menma dengan kehidupan sebelumnya? Apa Naruto Rengkarnasi, apa perkataan Menma dan Akeno hanya kebohongan? kalian tebak saja.

Jika masih ada yang tidak mengerti bisa kalian tanyakan, asalkan tidak memboncorkan misteri yang terkandung dalam fic ini, akan aku jawab.

.

Char Profile:

Minato:

Nama: Minato Namikaze
Umur: 300-400 Tahun
Ras: Iblis
Keahlian: ?
Magic: [Thunder God Slayer]
Magic Teknik: ?

.

Mohon Review

.