Sex Dreams
Chapter 6
Author : Lady Ze
Tittle : Sex Dreams
Main Cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Warning : Genderswitch for Uke, NC – 18
Summary :
Kim Jaejoong berharap dia tidak bercinta dengan Yunho hanya dimimpi liarnya saja.
"Oh...Jaejoong." Erangan Yunho membuatku bergairah. Membuatku semakin cepat menggerakkan mulutku, menyelimuti kejantanannya yang besar dengan hawa hangat rongga mulutku.
"Emm..." Aku menikmati setiap perbuatanku, mataku tertutup merasakan kejantanannya. Senyumanku mengembang ketika Yunho mengerang keras, bersama dengan kejantanannya yang berkedut-kedut di dalam mulutku.
"Jaejoong...! Aah...!"
Dan, berkat mulutku yang ahli ini, Yunho mencapai puncaknya. Tanpa ragu aku menelan cairan yang keluar di dalam mulutku. Dan sesekali lidahku menjilat kejantanannya, membersihkan sisa-sisa orgasmenya dengan lidahku.
"Cukup, Jae..." katanya dengan nafas yang terengah-engah. Ia menarikku yang berlutut di depannya hingga kami berhadapan. Lalu dia mengangkat tubuhku ke atas meja kerjanya. Memandangku dengan pandangan penuh gairah.
"Emm..."
Yunho menciumku sedikit kasar dan aku tidak peduli. Aku melampiaskan gairahku dengan mengacak rambutnya, menariknya lebih erat ke tubuhku hingga kakiku melingkar dipinggangnya.
Dia menghisap bibirku, melumat bibir atas dan bawahku hingga menggigit kecil. Dan ciuman panas kami terus berlanjut ketika lidahnya memasuki mulutku, melilit lidahku dengan lidahnya.
Aku sudah tidak kaku dan pasif lagi menciumnya, bahkan aku berani mengacak rambut coklatnya. "Ah...Yunho..."
Yunho tidak sabar sekali, ia membuka kemejaku dengan kasar. Aku rasa beberapa kancing kemejaku ada yang lepas. "Jaejoong..."
Telapak tangannya yang besar meremas dengan kuat kedua payudaraku dari luar bra yang kupakai. Diikuti dengan bibirnya yang kini berpindah dan mencium leherku.
Aku tidak tinggal diam, tanganku kembali meremas kejantanannya yang masih keluar dari lubang resleting celananya. Ah, kejantanannya kembali mengeras.
"Akh! Yunho!"
DEG
Sial! Aku terbangun dari tidurku. Mengusap wajahku dengan kasar. Selalu saja berakhir seperti ini.
Damn! You were in my sex dreams, Yunho!"
Serius? Bahkan celana dalamku sudah basah.
"Yeoja tidak baik merokok, huh!" Junsu merampas rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahku lalu mematikannya di sebuah piring kecil yang kujadikan asbak.
"Ha—ah, Suie!" Aku mengerang frustasi.
"Ada apa, eoh? Tumben sekali kau bangun jam segini." cibirnya.
"Bagaimana kalau aku katakan aku tidak bisa tidur, hum? Kamu sendiri kenapa bangun, eoh?"
"Tentu saja. Aku selalu bangun jam empat pagi, kok. Kau saja yang tidak tahu, Joongie."
"Hum. Terserah." Aku tidak tertarik untuk mengobrol dengannya saat ini. Aku kembali menonton tv.
"Hei, kamu tidak bisa tidur apa karena besok hari terakhirmu menjadi sekretaris Yunho?"
Terakhir, ya? Aku sampai lupa kalau besok genap dua minggu aku menjadi sekretarisnya. Heechul eonnie sudah masuk kerja lagi dan aku akan kembali menjadi staff HRD.
Aku menghembuskan nafasku yang terasa berat. "Tidak, Suie. Dia itu tunangannya Kyuhyun."
"Apa?!"
"Ck." Aku mendecak sebal, terlalu pagi bagiku mendengar lengkingan Junsu.
"Aku juga baru tahu di pesta pernikahan Heechul eonnie. Dasar! Mereka terlihat menutupinya."
"Eh? Mungkin mereka dijodohkan dan mereka tidak saling mencintai." celetuk Junsu.
Benar juga apa yang Junsu katakan. Tapi, malam itu Yunho menyuruh Kyuhyun ke kamar hotelnya. Tidak mungkin mereka tidak saling mencintai. Berduaan di kamar hotel, kalian tahulah apa yang akan mereka lakukan.
"Aku rasa tidak, Suie."
"Yakin sekali. Ah, pasti hatimu sakit sekali ya. Oh, Joongie sayang, malang sekali nasibmu." ujarnya yang membuatnya terlihat seperti ibu-ibu penggemar telenovela.
"Hei, aku lupa memberitahumu. Aku berpacaran dengan Changmin."
"Apa?!"
"Ya! Tidak usah berteriak Suie!"
"Bagaimana bisa? Hei, kamu tidak menjadikannya pelampiasan, kan? Changmin itu sepertinya namja baik. Dia akan sakit hati bila kau hanya mempermainkan perasaannya."
Ugh, Junsu menikamku dengan ucapannya. "Ti—dak. Aku mencintainya seperti dia mencintaiku." Aku menyangkal ucapannya dengan kebohongan.
"Jinja? Kau bisa melupakan Yunho semudah itu? Yunho yang selalu membuatmu masturbasi dan Yunho yang sudah menjamah tubuhmu. Apa benar kau sudah melupakannya dan mencintai Changmin? Aku pikir terlalu cepat."
"Ya! Dasar bebek cerewet!"
Aku langsung lari menuju kamarku. Hanya sebuah alibi untuk menghindari pertanyaanya yang tidak mampu kujawab.
Hati kecilku selalu berkata bahwa aku meinginkan Yunho, aku mencintai Yunho sejak pertama kali melihatnya hingga sekarang aku masih mencintai Yunho. Benar Changmin hanya pelampiasan rasa sakit hatiku ini. Bodoh! Aku sadar aku menyakiti perasaan seseorang disini. Mianhe...
"Hei, kau sudah tahu? Kim Jaejoong berpacaran dengan Tuan Shim."
"Direktur muda itu?"
"Iya, beruntung sekali dia."
Aku hanya bisa menghembuskan nafas sepanjang-panjangnya. Baru saja aku sampai di lobi hotel, mereka sudah bergosip tentangku. Benar-benar cepat sekali tersebar rumor tentangku dengan Changmin.
"Jaejoong, kau beruntung sekali. Aku sangat iri kepadamu." kata teman satu bagianku. Aku beruntung? Andai saja aku seberuntung itu.
"Ya, terima kasih." jawabku mencoba memberikan senyuman kepadanya. Demi menghindari karyawan-karyawan lainnya yang sepertinya akan memanggilku, aku langsung berjalan dengan cepat menuju lift yang akan mengantarku ke lantai tiga puluh.
"Jaejoong, bisa ke ruanganku sebentar?" tanya Kyuhyun yang baru saja keluar dari ruangan Yunho.
"Ya, Kyuhyun." Aku tersenyum kepadanya walaupun hati kecilku menolak untuk mengikuti yeoja ini.
Dentingan sendok beradu dengan cangkir teh yang dibuat Kyuhyun. Gayanya yang begitu elegan mengaduk teh terlihat menyebalkan bagiku.
"Ini untukmu, Jaejoong." Dia menaruh cangkir putih berisi teh yang masih mengeluarkan asap di meja.
"Gomawo, Kyu. Terus ada keperluan apa memanggilku?" tanyaku. Seperti yang kubilang, dia terlihat menyebalkan bagiku. Bisa dibilang aku cemburu kepadanya. Sejak tadi kutahan ekspresi wajahku agar tidak terlihat buruk.
"Ini masalah pekerjaanmu, Jaejoong. Mulai hari ini kamu bisa kembali ke jabatan lamamu. Tuan Jung menyuruhku untuk memberitahu kepadamu."
Aku mendecih dalam hati, dia menyilangkan kakinya di sofa, melakukannya seperti hari ini masih era Victoria.
"Oh, hari ini? Aku kira besok." tanyaku kaget. Kupikir Yunho seperti berusaha menghindariku.
"Aku juga tidak tahu. Tuan Jung yang memerintah dan aku hanya menjalankan saja."
Hei Kyuhyun, bagaimana bila aku mencakar wajahmu yang sok polos itu, huh?
"Oke, tidak masalah." ucapku mengangkat pundakku, lalu mengambil cangkir teh dan meminumnya dengan gaya yang sengaja kubuat seangkuh mungkin.
"Ngomong-ngomong, selamat atas pertunangannya, ya. Aku tidak menyangka kalau kau bertunangan dengan Yunho oppa."
"Eungh…ya. Aku dengar kau berpacaran dengan Tuan Shim, selamat ya."
"Ya, terima kasih, Kyuhyun. Aku tidak menyangka dia memintaku untuk menjadi kekasihnya." kataku diakhiri dengan tawa kecil. Dan apa baru saja dia terlihat sedih?
"Terima kasih untuk tehnya, Kyu. Mungkin aku langsung turun ke ruang kerja lamaku. Bye!"
Aku langsung keluar dari ruangannya bersama dengan mataku yang terasa panas. Terlalu besar cemburu yang kusimpan ini, hingga menatap wajah Kyuhyun saja membuatku kesal, jengkel, sebah, pokoknya…ugh!
Tanpa menoleh ke kanan kiri atau ke belakang, aku berjalan lurus ke depan, tujuanku yaitu menuju lift turun ke lantai dua puluh delapan, ruangan kerjaku.
"Hei, Jaejoong! Kau tidak berpamitan denganku, hum?"
Jari telunjukku yang hampir saja menekan tombol untuk membuka lift langsung terasa lemas. Kumohon jangan menggangguku lagi, sialan! Cukup di mimpi-mimpiku saja kau menggangguku dan selalu membuatku berakhir dengan masturbasi.
"Hei, Jaejoong! Bahkan kau tidak mau membalikkan tubuhmu."
"Apa?" tanyaku ketus bersamaan dengan badanku yang membalik dan menghadap kepadanya yang berdiri di depan pintu ruangan kerjanya.
"Ah, apa begitu kau menjawab atasanmu? Kau bisa saja dipecat karena ucapanmu yang tidak sopan. Ke ruanganku sekarang!"
"Ha—ah." Aku hanya mampu menghela napas ketika sifat suka memerintahnya keluar.
"Jadi, aku harus berpamitan seperti apa, Tuan Jung? Hum?" tanyaku kepadanya ketika kami sudah berada di ruangannya.
"Kau mau tahu?"
"Yeah, cepatlah katakan."
"Wow, kau sudah tidak sabar rupanya." Dia berjalan mendekatiku yang masih berdiri di dekat pintu. Dia mendekatkan wajahnya kepadaku, kalau dulu aku sangat senang karena kedekatan kami, tidak dengan sekarang. Karena itu aku mundur satu langkah ke belakang hingga punggungku menyentuh pintu.
Dia tersenyum tipis melihat sikapku yang menolaknya.
"Akh!" Hingga aku terpekik karena dia mencengkeram bahuku.
"Kau hanya perlu membuka pakaianmu, Jae…" ucapnya disertai seringaian. Hembusan nafasnya begitu terasa diwajahku hingga tanpa sadar aku menutup mata menikmatinya, apalagi ditambah aroma parfumnya yang sangat kusukai.
"Ti—tidak akan." lirihku. Walaupun lagi-lagi hati kecilku ingin mengikuti kemauannya, tapi pikiranku masih normal. Aku hanya terlihat seperti yeoja murahan saja bila aku telanjang di depan seorang namja yang sudah memiliki tunangan.
"Kau menolakku? Bukankah kau menginginkan aku, Jae?"
CUP
Dia mengecup bibirku dengan cepat, aku langsung membuang muka, tapi telat. Yunho menahan daguku hingga wajahku benar-benar berada di depan wajahnya.
"Itu dulu sebelum aku mengetahui kalau kau bertunangan dengan Kyuhyun, Tuan Jung."
"Ah, sekarang kau memanggilku Tuan Jung, huh?"
"Lepaskan aku!"
"Tidak akan!"
Lagi, dia mencium bibirku, menekan bibirku terlalu dalam. Percuma saja aku berontak karena tidak akan berhasil. Aku hanya pasrah ketika dia melumat bibirku yang diam tidak membalas bibirnya. Hingga akhirnya dia menghentikan ciumannya.
Nafasku menjadi terengah-engah, mata musangnya menatap tajam mataku. "Seharusnya kau membalas ciumanku, Jaejoong."
"Ugh!"
Aku mendorong dadanya cukup kuat hingga akhirnya aku terlepas dari cengkeramannya.
"Kau tidak seperti Jaejoong yang kukenal. Aku pikir kita akan berakhir dengan bercinta di sofa itu." katanya dengan tenang.
"Sayangnya itu dulu! Aku memang menginginkannya, tapi itu dulu! Sebelum aku mengetahui kau sudah memiliki tunangan, Yunho oppa." erangku frustasi.
"Hahaha…kamu benar-benar lucu sekali, Jaejoong."
"Huh! Menyebalkan! Selamat tinggal!" ucapku dengan ketus dan aku berbalik menuju pintu keluar.
"Hei, tunggu!"
"Ada apa lagi?" tanyaku masih dengan nada ketus.
"Besok kau harus bersiap-siap. Kamu harus menemaniku ke Jepang."
"Eh? Kenapa harus aku?!" pekikku.
"Ya, karena memang harus kamu, Jaejoong."
"Kenapa tidak Heechul eonnie? Dia bukannya sudah masuk kerja, eoh?"
"Benar, tapi apa mungkin aku membawa istri orang, eoh?"
"Kyuhyun? Kau bisa mengajaknya." ucapku berkelit lagi.
"Ah, sayangnya itu bukan bagian dari pekerjaannya."
"Itu juga bukan bagian dari pekerjaanku." ucapku lagi.
"Tapi, kau pernah menggantikan posisi Heechul. Karena itu aku memerintahkan kepadamu untuk menemaniku ke Jepang besok."
"Ta—pi…"
"Tidak ada protes lagi, Jaejoong. Ini perintah." Dia tersenyum puas melihatku yang diam tidak mampu membalas ucapannya.
"Selamat tinggal!"
"Seharusnya kau mengucapkan sampai jumpa, Jaejoong."
"Ck, terserah!"
Dasar manusia aneh. Apa dia membuatku seperti sebuah layangan eoh? Menarik ulur benang hingga membuatku terambung tinggi kemudian jatuh tiba-tiba ke tanah. Menyebalkan!
"Joongie, kenapa? Kau tidak makan?"
Aku menggeleng-gelengkan kepala sebagai jawabannya.
"Kenapa, eoh?"
"Yunho menyebalkan." gumamku.
"Oh, ternyata Yunho lagi. Dia mempermainkanmu lagi?"
"Ya, begitulah. Tadi dia mencuri ciuman dibibirku. Selalu begitu, seenaknya saja. Huh!"
"Ah, kamu itu pura-pura marah. Padahal kamu senang juga, kan?" ujar Junsu menatapku dengan genit bahkan ia mengedipkan sebelah matanya.
"Ya, mungkin aku senang kalau saja dia tidak memiliki tunangan."
"Mereka masih bertunangan, Joongie. Sebelum janji sehidup semati terucap, mereka masih bisa terpisahkan. Euu kyang kyang…"
Mulai deh keluar ketawa khas ala Junsu si duck butt. Eh? Tapi benar juga kata-katanya. "Oh! Aku baru ingat. Tadi ketika Kyuhyun tahu kalau aku sekarang berpacaran dengan Changmin, dia terlihat sedih. Entah aku salah lihat atau apa, tapi aku yakin dia terlihat sedih. Ah, apa dia menyukai Changmin, hum?"
"Omo? Kau yakin? Ah, atau jangan-jangan hanya perasaanmu karena terlalu cemburu?"
"Pabo! Aku sangat yakin, Suie." ujarku gemas dengan Junsu yang terlalu banyak pertimbangan.
"Hehehe…jadi benar, ya? Mereka hanya dijodohkan. Kasihan sekali di era modern seperti ini masih ada yang dijodoh-jodohkan."
"Apa menurutmu aku masih punya kesempatan?" tanyaku kepada Junsu. Bola matanya mendelik tidak suka kepadaku.
"Lalu, bagaimana dengan Changmin? Kau mau membuatnya sakit hati?"
"I—iya, sih." Aku menggaruk kepalaku. "Ha—ah, Changmin." Entah sudah berapa kali aku menghela napas hari ini.
"Dasar! Ikuti saja permainan Yunho kalau begitu. Kalau dia menyuruhmu telanjang maka kamu harus telanjang, Joongie. Euu kyang kyang."
"Tadi di ruangannya dia sudah menyuruhku telanjang." gumamku.
"APA?!" Karyawan-karyawan yang berada di kantin langsung menoleh ke arah kami. Junsu benar-benar tidak bisa mengontrol suaranya. Apa harus kubelikan peredam suara?
"Suie! Sadar dong kalau suaramu itu nyaring!"
"Hehehe…mianhe. Aku kaget, Joongie."
"Oh ya? Ngomong-ngomong besok aku akan ke Jepang bersama Yunho."
"Apa?" kali ini walaupun Junsu terkejut tapi ia berhasil mengontrol suaranya.
"Iya, padahal aku bukan sekretarisnya lagi. Tapi dia memaksaku."
"Wah, pasti ada maunya si Yunho itu. Nah, seperti yang aku bilang, kamu ikutin saja permainannya."
Dengan tidak berperasaan aku mencubit lengan Junsu. Bisa-bisanya dia menyuruhku begitu.
"Ya! Dasar bodoh! Dia itu sudah punya tunangan, Suei."
"Hei, kamu bilang sepertinya Kyuhyun menyukai Changmin, kan? Nah, jadi tidak masalah bila kau kembali mendekati Yunho."
"Kau membuatku terlihat seperti yeoja murahan, Suie."
"Terkadang untuk mendapatkan seseorang, kau perlu pengorbanan yang besar. Kau harus tahu itu." kata Junsu. Anak ini benar-benar pintar dalam urusan percintaan.
"Jadi?" tanyaku.
"Jadi, apa?"
"Aku mengikuti permainan Yunho sementara itu aku melupakan Changmin yang menjadi kekasihku, huh? Aku terdengar seperti yeoja jahat. Nanti aku terkena karma gimana?"
"Ya Tuhan! Kau terlalu banyak yang dipikirkan. Pikirkan saja bagaimana caranya agar kamu bisa bercinta dengan Yunho." ujarnya seraya mencolek daguku.
"Tapi, aku tidak mau hanya seperti one night stand. Aku menginginkannya lebih. Aku ingin dia membalas cintaku. Ha—ah."
"Perlahan, Joongie. Kau pasti bisa."
"Bagaimana dengan Changmin?"
"Kau harus berpura-pura mencintainya. Kalau Yunho membalas cintamu, maka putuskan Changmin. Selesai."
"Itu tidak semudah yang kau ucapkan, Suie. Aku tidak bisa menyakiti Changmin. Dia sangat baik kepadaku. Aku rasa aku tidak bisa mengikuti ide gilamu. Aku tidak mau menjadi yeoja yang jahat hanya demi mengejar cinta seorang namja yang sudah memiliki tunangan. Aku masih memiliki harga diri."
"Ucapanmu dewasa sekali. Baiklah, terserah saja, Joongie. Ayo kita kembali kerja."
Junsu sudah berjalan duluan meninggalkan meja makan kami, sedangkan aku masih duduk termenung. Tepatnya memikirkan segala ucapan gilanya tadi. Apa aku harus begitu?
Ponselku yang bergetar di atas meja membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum melihat nama pemanggilnya. Dia tidak pernah absen meneleponku di waktu istirahat siang.
"Hai, Changmin."
"Hai, noona. Aku merindukanmu." ujarnya merengek.
"Kita baru saja bertemu, Changmin."
"Kapan? Terakhir kali bertemu cuma di pesta Heechul noona."
"Dalam mimpiku." jawabku menggodanya. Tentu saja bohong. Karena aku selalu bermain dengan mimpi liarku bersama Yunho.
"Benarkah? Kau memimpikanku, noona?"
"Ya, hehehe…Kau sudah istirahat?"
"Sudah. Aku istirahat di kantor saja. Aku menyuruh chef hotel mengantar makanan ke ruanganku."
"Dasar, food monster." Ejekku kepadanya.
"Hehehe…"
"Oh ya, Changmin. Besok aku harus menemani Yunho oppa ke Jepang." kataku dengan suara kubuat sesedih mungkin.
"Hah? Jinja?"
"Iya, aku sudah menolaknya. Tapi dia bersikeras menyuruhku ikut."
"Aku pasti akan sangat merindukanmu, noona. Bagaimana kalau malam ini kita bertemu?"
"Eh? Dimana?" tanyaku.
"Noona mau dimana?"
"Terserahmu saja, Changmin."
"Emm…noona mau ke apartementku? Kita bisa menghabiskan waktu berdua disana."
"Hei, dasar mesum!" godaku lagi.
"Mwo? Itu pikiran noona saja."
"Hahaha…baiklah, nanti aku kesana. Yunho oppa tidak ada, kan?" tanyaku kepadanya. Asal kalian tahu, sepertinya Yunho belum mengetahui hubunganku dengan Changmin.
"Hyung mungkin tidak ada. Dia akan makan malam di rumah Nona Cho."
"Oh, begitu. Baiklah, sampai bertemu nanti malam, sayang!"
"Hehehe…kau membuatku malu, noona. Sampai jumpa. Aku mencintaimu."
"Ne, Changmin." ucapku tanpa membalas pernyataan cintanya. Maafkan aku, Changmin. Hatiku mendadak panas ketika kau mengatakan Yunho akan ke rumah Kyuhyun.
Tidak kusangka pekerjaanku bertambah banyak setelah kutinggalkan selama dua minggu. Sakit sekali rasanya pinggangku. Sudah jam setengah delapan, ya. Apa aku langsung saja ya ke apartement Changmin?
Aku langsung memakai mantel berbuluku, tentu saja bulu palsu. Tidak mungkin aku mampu membeli mantel bulu asli seperti milik istri-istri pejabat.
Aku menuju tempat parkir mobilku dan langsung menuju apartement Changmin. Tidak mungkin kalau pulang ke apartementku lagi, bolak-balik namanya. Kuharap aku tidak bertemu Yunho di apartemennya.
"Na ~ na ~ na ~" Aku bersenandung berjalan di lorong apartement Changmin, membawa sekotak pizza ukuran besar.
TING TONG
Aku menekan bel apartement satu kali.
TING TONG
Aku menekan lagi untuk kedua kalinya. Menunggu sebentar, hingga kurasa agak lama aku menekan bel lagi
TING TONG
Untuk ketiga kalinya, aku merasa agak bosan. Apa Changmin belum pulang? Aku mencoba untuk menghubungi ponselnya.
CKLEK
Pintu apartementnya terbuka dan aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas.
"Siapa?"
Ya ampun. Suara berat itu lagi yang menyapaku. Aku ingin berlari dari depan pintu apartementnya, tapi kurasa telat karena dia sudah membuka pintu apartementnya dan melihatku bersama pizzaku berdiri di depan pintu.
"Apa Changmin ada?" tanyaku langsung.
"Dia belum pulang. Ada apa mencarinya?" Dia balik bertanya kepadaku.
"Apa aku boleh masuk? Di luar sini dingin sekali."
"Masuklah." Dia menggeser sedikit badannya memberi ruang kosong untuk kulewati. Aku langsung masuk dan menaruh pizza di meja ruang tamunya.
"Aku kira kamu mencariku, Jae."
"Tidak, aku tidak ada urusan denganmu." kataku dengan cuek.
"Oh, ada yang marah rupanya." ucapnya dengan seringaian. Dia suka sekali menyeringai. Membuatnya terlihat pervert.
"Yunho oppa, kalau kamu mau pergi, pergi saja. Aku tidak apa-apa sendirian di apartementmu. Nanti kamu telat acara makan malamnya." kataku mengalihkan pembicaraanya, mungkin sekaligus mengingatkannya. Dia sudah berpakaian rapi dan sekarang sudah jam delapan kurang sepuluh menit.
"Mengalihkan pembicaraan, eoh? Sepertinya aku tidak jadi pergi."
"Apa maksudmu, huh?"
"Ada hal menarik yang datang ke apartementku. Apa aku akan melewatkannya begitu saja, eoh?" ucapnya masih dengan seringaian bodohnya.
Jangan bilang dia akan menelanjangiku disini lagi lalu meninggalkanku begitu saja. Kali ini aku tidak bisa dibodohi.
"Sebaiknya aku menelepon Changmin dan menyuruhnya cepat pulang." gumamku.
"Percuma saja. Dia tidak bilang kepadamu kalau malam ini dia ada pertemuan penting di Jeju?"
"A—pa?"
Sial! Aku harus segera keluar dari apartement ini. Kenapa Changmin tidak memberitahuku, huh!
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Selamat ting...akh!"
Sakit...tubuhku terlempar begitu saja di sofa hitamnya. Sofa yang pernah kubayangkan. Mungkinkah?
GLEK
Tanpa sadar aku menelan ludahku. Dia sudah berada tepat di atas tubuhku saat ini.
"Jaejoong..." Tatapannya begitu lembut memandangku. Membuatku luluh seketika.
"Ka...kalau kau hanya mempermainkanku saja seperti malam waktu itu, aku tidak mau!"
Dasar mulutku! Dia berkhianat kepadaku. Bisa-bisanya aku berkata seperti itu.
"Hm? Baiklah, Jaejoong."
"Mmm..."
Bibir hati milik Yunho mencium bibirku. Tanganku melingkar di lehernya dan sedikit menariknya, menekan tengkuk lehernya agar aku bisa merasakan lebih dari bibir hatinya.
Sengaja aku membuka bibirku agar lidahnya masuk ke dalam rongga mulutku, bermain dengan indah bersama lidahku. Membiarkan saliva kami saling bercampur, meleleh di pinggir bibir.
"Aku suka denganmu yang aktif seperti ini, Jae..."
"Cium aku lagi..." ucapku terengah-engah.
Ya Tuhan, appa, umma, Changmin, Kyuhyun, maafkan aku...
Yunho kembali menciumku, ia menghisap bibirku seolah menghisap permen. Kembali lidahku dengan lidahnya bermain bersama.
Aku mengarahkan tangan kanannya ke payudara kananku, menyuruhnya untuk meremas payudaraku.
"Ah...oppa..."
Yunho berpindah ke leherku, membuat kissmark sesuka hatinya. Dengan tangan kanannya yang masih meremas payudaraku dan tangan kirinya yang berjalan dari lututku hingga paha dalamku. Sentuhannya seperti sebuah narkoba yang membuatku melayang. Aku menyukainya, tidak mungkin aku menolaknya. Walaupun aku tahu, perbuatanku ini tidak ada bedanya seperti seorang pelacur yang disewa.
Entah siapa yang memulai duluan, kami berdua sudah dalam keadaan telanjang dengan aku yang berlutut diantara kedua pahanya di depan kejantanannya yang...oh my god! So big! So brown!
Untuk pertama kalinya secara nyata, kejantanan besarnya yang seperti ada dimimpiku berada di dalam mulutku. Aku menelan kejantanannya hingga beberapa kali aku tersedak. Yunho mengerang ketika gigiku menggesek kulit kejantanannya.
Aku tersenyum senang ketika dia meremas rambutku, memaju mundurkan kepalaku dengan cepat. Artinya ia sangat menikmati dengan yang kulakukan saat ini.
"Ah...cukup..." suaranya yang berat bercampur dengan nafasnya yang terengah-engah.
Dengan perasaan tidak rela, aku mengeluarkan kejantanannya dari dalam mulutku. "Wae? Kau belum keluar, oppa." Ucapku dengan nada menggoda.
Dia menormalkan nafasnya kembali. Jangan bilang dia akan menyuruhku memakai pakaianku kembali. Akan kukebiri kalau dia berani melakukannya!
"Ugh!"
Dia menarikku dan menidurkanku di sofa hitam. Melebarkan kakiku hingga terlihat jelas kewanitaanku yang sudah basah.
"Oh...Jae...aku suka kau basah untukku."
"Ah..."
Lidah hangatnya menyentuh kewanitaanku, menyentuh klitorisku, menghisap dan menggigitnya. Jari telunjuknya masuk ke dalam pusat diriku, aku meringis karena terasa sakit. Tapi rasa sakit itu hanya sebentar, karena rasa nikmat begitu mendominasi.
"Oppa...ah..."
Aku melengkungkan punggungku, menuntun jari telunjuknya agar lebih masuk menyentuh diriku.
"Oppa..." rengekku ketika dia menghentikan kegiatannya.
"It's show time, Jaejoong."
Yunho kembali membuka pahaku semakin lebar. Kejantanannya yang mengeras diarahkan tepat di depan kewanitaanku.
"Mungkin sedikit sakit. Kau harus menahannya, Jaejoong."
Aku mengangguk gugup. Astaga! Akhirnya! Hati kecilku bersorak senang, kutepis dari tadi pikiran-pikiranku tentang Yunho sudah bertunangan, aku yang memiliki kekasih dan kemungkinan besar aku akan menyesal melakukan hal ini. Tapi, sisi jahatku selalu berbisik kepadaku agar aku tidak mundur.
"Akh...!" Aku berteriak ketika kepala kejantanannya menerobos masuk.
"Kau sempit, Jae...Bersiaplah..."
"Aaakhh...!"
Aku mengatur nafasku agar tubuhku tidak tegang. Kejantanannya telah tenggelam sempurna di dalam tubuhku. Sesuat mengalir di bawah sana, darah. Yah, kalian tahu darah apa itu.
"Jaejoong..."
Dia menciumku dengan lembut, meremas payudaraku, memainkan puting payudaraku, membuatku mengalihkan rasa sakit di bagian bawah tubuhku.
Perlahan dia bergerak, memaju mundurkan tubuhnya dengan gerakan pelan. Aku masih meringis menahan sakit. Hingga aku menciumnya dengan kasar, mengalihkan rasa sakit.
"Ah...lebih cepat...kumohon..." erangku. Dia menyentuh titik kenikmatanku. Aku menenggelamkan kepalanya di payudaraku. Membiarkan lidahnya memutar di putingku.
"Jae...oh..."
"Kumohon, oppa..."
Eranganku membuatnya bergerak sangat cepat, menyentuh titik kenikmatanku berkali-kali. Membuatku mengerang, mendesah, dan meremas rambutnya dengan kuat.
Dinding-dinding kewanitaanku berkedut, menjepit kejantanannya, dan ia menggertakkan giginya merasakan kenikmatan yang lagi-lagi kuberikan.
"Oppa...aku..."
Aku sudah hampir mencapai batas kenikmatanku. Dia bertambah cepat bergerak memaju mundurkan pinggulnya. "Tunggu aku, sayang..."
"Engh..." Hai, bumi. Aku bisa melihatmu dari Planet Mars. Yunho benar-benar membuatku melambung tinggi.
"Jaejoong...!"
"Oppa...!"
Kami bersama-sama diterpa oleh orgasme yang hebat. Spermanya memenuhi tubuhku, mengalir menuju rahimku. Dan aku tidak takut bila suatu saat salah satu dari spermanya membuahi ovumku.
"Kau hebat, Jaejoong." ucapnya dan mencium keningku. Aku masih memejamkan mataku, aku merasa sangat lelah.
"Akh!" Aku menggigit bibirku ketika ia menarik kejantanannya keluar. Masih terasa sangat sakit.
"Kau lelah?"
Aku mengangguk lemah. Aku sangat lelah seperti baru saja berlari mengelilingi kota Seoul.
Yunho mengusap keringat yang mengalir dari pelipisku. Aku tersenyum merasakan tangannya yang besar dan lembut.
"Bagaimana aku bisa melepaskan seseorang yang telah menjeratku terlalu dalam, Jaejoong?"
DEG
Apa itu pernyataan cintamu, Yunho?
To be continued.
Berniat untuk review ?
Big thanks to :
sungminlee, Nyonya Park, Rilianda Abelira, rieneka . sianturi, gwansimm84, Cherry Yunjae, yoon HyunWoon, ringo 1chigo, akiramia44, Hana – Kara, iche . cassiopeiajaejoong, Leeeunjae13, cindyshim07, joogmax, 3kjj, KittyBabyBoo Love Yunniebunny, FiAndYJ, Vic89, riska0122, lipminnie, YunHolic, IrNana, zhe, saltybear, Ayankdie . cintanya, heeli, watty . honeybee, rha . dark, simijewels, leeChunnie, nanajunsu, liankim10, ShinjiWoo920202, haruko2277, Rly . C . Jaekyu, jae sekundes, Elzha luv changminnie, hi-jj91, mei, Myyunyun, jaena, irengiovanny, Nony, De, yunjae, BooMilikBear, leebbunny, dzdubunny, AnathaUchihaUzumakie Favoriters, Followers and Guest.
-ZE-
