Chapter 6:

Sasuke mau datang.

Aku langsung masuk ke kamar setelah menutup telepon darinya. Lalu menuju kamar mandi dan cuci muka. Aku tidak memberitahu teman-temanku jika Sasuke akan datang. Jika mereka lihat aku ganti baju ya karena memang ingin ganti baju, jika mereka lihat aku nampak segar ya karena aku memang ingin cuci muka.

Setelah beres, aku kembali ke ruang tamu.

Setelah menunggu lama, dari dalam, sayup-sayup, aku dengar ada dialog di luar. Tidak lama setelahnya, Neji yang ada di luar masuk membawa bungkusan kecil dan memberikannya padaku.

"Ini apa?"

"Tidak tahu, dari satpam kompleks." Sepupu Hinata yang memang dasarnya cuek itu lalu kembali keluar. Aku membukanya, bukan bungkusan kecil ternyata. Ukurannya agak besar, dibungkus dengan kertas coklat pekat polos, ada bunyi berisik seperti isinya bertubrukan saat aku goyangkan.

Astagaaaa...

'Aku belum memberimu ini tiga hari, nanti kau kelaparan.'

Aku langsung tahu siapa yang mengirim, dari isinya, dari tulisannya, dari kertas memo kecilnya.

Sasuke.

"Hahaha..."

Ino merebut bungkusan coklat yang sudah ku buka dan ikut melihat apa isinya. "Huwaaaa, aku mau satuuuu!" Ujarnya histeris. Hinata hanya tersenyum disampingku, dia sepertinya mengintip bacaan yang ada di memo.

Mau tahu apa isinya? Coklat!

9 batang!

Hahaha...

Aku membiarkan Ino mengambilnya satu, tidak apa-apa, isinya banyak. Aku senang, sumpah aku senang. Rasanya ingin berteriak pada dokter:

"Aku tidak butuh obatmu, aku sudah sembuh!" hahaha...

"Dari Sasuke ya? Dia perhatian sekali." Ino mulai menggodaku sambil melahap gigitan coklat pertamanya.

"Padahal tadi aku lihat dia lewat." Neji kembali lagi, dia berdiri di ambang pintu menyedekapkan tangannya di depan dada.

"Eh? Benar?" tanyaku meyakinkan, kenapa tidak langsung kesini?

"Haaaah dasaaaar." Kata pertama yang keluar dari mulut Shikamaru setelah setengah jam berada di disini, tidur disini, di ruang tamu. Neji pindah tempat, dia duduk di sebelah Shikamaru yang sudah membetulkan posisinya. Gara-gara coklat ini, teman-temanku jadi mengobrol soal Sasuke. Mereka menceritakan kiprah Sasuke yang belum pernah kudenger sebelumnya, karena terjadi sebelum aku pindah ke Kyoto.

Aku senang mendengarnya. Serius! Aku bahkan tidak keberatan jika harus membahasnya sampai malam.

Sedangkan Kiba, kulihat, seperti tidak tertarik untuk ikut membahasnya. Dia asyik berbicara dengan Lee yang duduk di sampingnya, entah apa itu.

Aku ingin mereka tidak pulang. Atau menginap disini sekalian. Aku ingin mereka terus bersamaku asal terus menceritakan tentang Sasuke.

"... iya, dia pernah dimarahi Izumi-sensei."

Izumi-sensei wali kelas 2 Fisika 1.

"kenapa?" tanyaku.

"Katanya saat Kimimaro tidak sekolah—" Lee mulai bercerita. "—Sasuke membuat surat izin untuk guru yang isinya: hari ini Kimimaro tidak sekolah karena lupa."

Kimimaro itu anak Izumi-sensei.

"Hah? Hahaha..." Ino memandang setengah tak percaya Lee yang sedang menahan tawa. Yang dipandang hanya mengangguk, sementara yang lain sudah tergelak. Begitu pun aku.

"Iya. Izumi-sensei marah." Jawab Lee lagi.

"Seperti mencari perhatian." Tiba-tiba Kiba ikut bicara.

"Bukan cari perhatian, dia memang begitu. Di rumah juga begitu." Timpal Hinata, entah kenapa kali ini dia berani mengeluarkan suara.

"Begitu bagaimana?" tanyaku.

"Saat Madara jii-san datang ke rumahnya, dia tempel tulisan 'rumah ini dijual' di depan pagar. Jadi Madara jii-san kelimpungan setengah jam diluar padahal Sasuke di dalam."

Aku tertawa, semua tertawa. Saat kulirik, Kiba tidak tertawa. Biar saja, hahaha...

"Hahahaha jahat."

"Tidak sopan, hahaha..."

"Kenapa jadi membicarakan Sasuke begini?" tanya Kiba yang kembali bicara lagi.

"Tidak apa." Kataku dengan nada sedikit agak kesal. "Seru."

"Nanti dosa lhooo." Ucap Kiba. "Kita mau ke sekolah lagi, atau langsung pulang saja?" tanya Kiba.

"Aku langsung pulang saja." Lee orang pertama yang menjawab disusul dengan anggukan yang lainnya.

"Kalau begitu, ayo." Kiba berdiri dari tempat duduknya.

Yaaah, cerita tentang Sasuke selesai sampai disini.

Bersamaan dengan itu, terdengan suara motor yang memasuki halaman rumahku. Aku tersenyum tipis, yang lain tidak ada yang tahu.

Yaaa, itu Sasuke. Sasuke datang ke rumahku. Dia datang menembus gerimis. Dan jantungku berdegup kencang. Aku heran kenapa mendadak aku jadi gugup begini.

Sasuke memandang sekeliling orang-orang yang ada di dalam. Mungkin kaget karena di ruang tamu banyak teman-temanku, mataya lalu bergulir ke arahku. "Sakura." Ucapnya.

Semua orang diam dengan mulut yang senyum ditahan. Aku yakin, mereka menahan tawa setelah membicarakan Sasuke barusan. Hahaha...

Aku berdiri dari tempat dudukku dan tersenyum kearahnya. "Terimakasih sudah mengantar cokelat untukku."

"Sama-sama. Sudah lebih baik?"

Aku mengangguk, "Ya, lumayan."

"Kami semua sudah mau pulang, Sasuke." Kiba tiba-tiba bicara.

"Eh? Kenapa?" tanya Sasuke.

"Sudah sedari tadi." Jawab Shikamaru yang sedang memakai sepatu di dekat pintu.

"Oh, ya sudah. Aku mau menemani sakura dulu." Ucap Sasuke.

"Kami pulang dulu, ya!" Seru Ino, "Sasuke, kami duluan."

"Hn."

Kulihat Kiba seperti orang murung atau apalah itu semacamnya. Mungkin dia berpikir jika berkata begitu, Sasuke juga akan ikut pulang. Nyatanya tidak. Sasuke malah diam disini menemaniku. Aku bermaksud mau mengantar mereka sampai pintu pagar, tapi tanganku ditahan Sasuke.

"Tidak usah." Katanya. "Di luar gerimis."

"Tidak apa."

"Mau buat aku senang?" tanya Sasuke, berbisik di telingaku. "Apa?"

"Duduk dan jangan ikut keluar." Aku tersenyum dan mengangguk lalu bergerak mundur untuk duduk sesuai perintahnya.

Entah apakah percakapanku dengannya terdengar oleh teman-temanku atau tidak, aku tidak tahu. Aku kembali duduk di kursi dan melihat teman-temanku yang sedang sibuk memakai sepatu.

"Terimakasih, semuanya." Ucapku pada mereka dengan sedikit berseru.

"Iya, cepat sembuh Sakura."

"Hm." Aku menganggukkan kepalaku semangat.

"Kami pulang, jaa."

"Jaa."

Mereka keluar diantar Sasuke sampai sejauh pagar. Gerimisnya tidak besar, hanya seerti arsiran kecil. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari sini. Aku juga bisa melihat Sasuke yang sedikit mengobrol dengan Shikamaru dan Hinata, entah tentang apa, tapi hal itu membuat Ino yang jauh disana sedikit tertawa.

"Ayame-san." Kupanggil dia.

"Ya?"

"Ambilkan handuk di lemari, ya!"

"Haik."

Ayame-san kembali lagi ke ruang tamu membawa handuk dan minuman hangat. Setelah itu, dia kembali lagi ke dapur. Kemudian, Sasuke masuk.

"Ini." Aku memberinya handuk. Bukan mengambilnya, Sasuke malah menundukkan kepalanya di depanku. Aku tersenyum sebelum menggosok pelan rambutnya yang sedikit basah.

Dia melirik ke arahku saat aku sudah selesai, tangannya ditempelkan di dahiku sedikit agak lama.

"Masih panas."

"Sudah baikan."

"Hn."

Kami kemudian terdiam, aku sendiri sih bingung mau bicara apa. Kalian harus tahu, itu pertama kalinya kami duduk berdua. Jadi jangan bilang aku berlebihan atau apapun saat aku katakan bahwa aku gugup saat itu. Aku yakin kalian juga pernah begitu.

"Ini, minum."

"Seharusanya kemarin aku ikut ke Tokyo."

"Untuk makan denganku dan Ino?" tanyaku, Sasuke menggelengkan kepalanya. Sebelum menjawab, dia menyeruput minuman hangat yang tadi di bawa Ayame-san.

"Untuk menjagamu."

Aku yakin, saat itu wajahku sudah memerah. Aku sangat yakin, seiring dengan rasa hangatnya yang merayap sampai ke ubun-ubun.

"Sasuke, aku—"

Tadinya, aku mau bicara tentang Utakata padanya. Bukan maksud mengadu padanya atau apa. Aku hanya ingin cerita, hanya ingin bebanku terangkat sepenuhnya. Tapi semuanya tidak kulakukan saat mendengar suara telepon rumah berdering. Au pamit sebentar pada Sasuke untuk mengangkat telepon.

Tahu tidak siapa yang meneleponku?

Sumpah, saat itu rasanya aku ingin lari saja. Kemanapun itu. Utakata, 5 menit lagi dia sampai dan dia baru menghubungiku sekarang. Dia datang untuk minta maaf. Aku langsung pusing memikirkan bagaimana jadinya ketika Utakata bertemu dengan Sasuke nanti.

Aku yakin Sasuke tidak semudah itu kalah darinya, tidak seperti Kiba yang tidak berani melakukan apa-apa. Tapi aku benar-benar sedang tidak ingin menyaksikan pertengkaran.

Aku kembali ke ruang tamu. Otakku berkecamuk, mengusir Sasuke secara halus adalah pilihan bagus saat ini, tapi percuma, tidak akan berhasil. Waktunya terlalu mepet.

"Sasu—"

Ucapanku terputus lagi seiring dengan deru mobil yang memasuki halaman rumahku. Aku makin gemetar, jantungku berdetak kencang tak nyaman. Aku dan Sasuke beranjak keluar, melihat siapa yang datang.

Benar dugaanku.

Utakata.

Sejak turun dari mobil hingga dia berada dihadapanku, mata Utakata terus memperhatikan Sasuke bagai dia adalah musuhnya. Sasuke yang dipandang begitu hanya membalas dengan pandangan yang menurutku tajam dan datar. Terkesan menanggapi pandangan Utakata padanya.

"Ini siapa?" tanya Utakata padaku, aku tidak menjawab. Dari ekor mataku, aku bisa tahu, Sasuke memandangku sejenak lalu kembali membalas tatapan Utakata.

"Kau siapa?" tanya Utakata lagi, langsung pada Sasuke.

"Kelihatannya?" kening Utakata berkerut memandang Sasuke.

"Aku manusia sama seperti Sakura." Dingin, nada yang dingin yang baru pertama kudengar. Sepertinya Sasuke sedang melakukan pemanasan sebelum menyerang.

"Hei, aku tanya kau baik-baik."

"Tapi tidak melakukannya dengan baik."

"Siapa kau berani menjawabku?—" suasana makin panas walaupun di luar, gerimis masih turun. Utakata beralih menatapku yang masih terdiam dan tertunduk. "Siapa dia, Sakura?"

Sebelum Utakata berhasil meraihku dengan tangannya, dia sudah tersungkur dihadapanku karna pukulan pemuda di sampingku. Sasuke memukul pipi Utakata hingga dia tersungkur, aku bisa lihat tanda kemerahan di pipi kanannya. Aku membekap mulut dengan tanganku sendiri karena kaget.

"Siapa kau berani membentaknya?" Baru pertama kali aku mendengar nada tinggi keluar dari mulut Sasuke. Baru pertama kali aku melihatnya berkelahi di depanku. Aku takut, tapi aku juga merasa berharga dan dilindungi.

"Kau—" Utakata berdiri, "Bicara denganku Sakura, kau jelaskan semuanya." Sekali lagi, Sasuke berhasil membuat Utakata tersungkur malu di depanku. Belum sempat Utakata membalasnya, Sasuke sudah lebih dulu menyerangnya lagi.

"Pergi dari Sakura, atau aku yang akan membuatmu menghilang karena terus mengganggunya."

"Kau tidak berhak mengusirku, kau pikir kau siapa?"

"Dan kau tidak berhak membentaknya, kau pikir kau siapa?"

"Kau—"

"Pergi." Akhirnya mulutku bersuara, akhirnya aku berani bicara, dan aku akhirnya berani menegakkan kepalaku dan memandang Utakata.

"Kau pulang saja."

Aku sudah tidak mau melihatmu lagi. Jangan ganggu aku lagi.

Utakata tersenyum meremehkan di depanku dan Sasuke sebelum dia pergi. "Kau akan menyesal." Adalah ucapan terakhirnya sebelum dia masuk kedalam mobil dan pergi dari hadapanku.

Justru aku yang akan menyesal jika tidak menyudahi kejadian barusan.

Aku masih mengatur napasku naik turun hingga teratur, Sasuke di sampingku masih diam. Dia mengalihkan pandangan ke arahku saat aku menatapnya. Dia menunduk, seperti takut melihatku.

"Maaf."

Pertama kalinya aku mendengar kata maaf darinya untuk sesuatu yang menurutku bukan kesalahannya. Astaga, dia tadi habis melindungiku, sekarang dia yang minta maaf.

"Maaf, jika yang tadi membuatmu takut."

Aku menggeleng, air mataku tidak bisa ditahan lagi. Aku senang, aku terlalu senang karena ada orang yang peduli padaku selain keluargaku, ada orang yang bisa membuatku merasa terlindungi selain Sasori-nii.

"Terimakasih."

Aku tidak tahu apa yang membuatku tergerak untuk memeluknya. Tubuhku seperti bergerak sendiri. Rasanya aku malu jika mengingat kejadian itu, hehehe...

oooo

Malamnya hujan mengguyur kota Kyoto dengan rata. Aku hanya bertiga di rumah tanpa Sasori-nii dan Tou-san, aku belum cerita, kakakku itu pertukaran pelajar ke Amerika. Sudah tiga hari berlalu tanpa Sasori-nii, dia tidak tahu aku sakit, dia juga tidak tahu apa yang terjadi padaku tiga hari lalu. Di rumah, tidak ada yang tahu kejadian itu. Biar saja, aku ingin melupakannya.

"Kaa-san, tadi siang Sasuke datang lho!" kataku sambil menerima semangkuk penuh nasi dari Ayame-san.

"Oh, ya? Sasuke yang memberimu teka-teki silang itu?"

"Uhm." Aku mengangguk.

"Dia memberimu teka-teki silang lagi?"

"Hahaha.. tidak, dia memberiku cokelat. Itu yang ada di kulkas."

"Yang mana?" kening Kaa-san berkerut seperti orang bingung.

"Itu yang ada di kantung berwarna coklat."

"Oh, yang besar itu?, dasar ada-ada saja."

"Hehehe... iya memang ada-ada."

"Jadi ingin tahu, seperti apa sih Sasuke itu?"

Aku tersenyum sambil melahap makan malamku. Ayame-san juga terlihat tersenyum sambil menuangkan teh hangat di gelas Kaa-san. Coba saja ada Tou-san dan Nii-san, pasti akan semakin seru.

"Jika Kaa-san kenal orang seperti dia, suka tidak?"

"Tergantung." Aku menghentikan makanku mendengar jawaban Kaa-san yang menggantung, penasaran jawaban selanjutnya. "Tergantung?"

"Ya, dia seperti apa dulu? Jika baik karena ingin mendapatkan kita tapi di belakang tingkah lakunya jelek, Kaa-san tidak akan suka. Jika suka marah-marah dan galak apalagi."

Aku diam, kelakuan Sasuke memang tidak baik, tapi tidak bisa juga di bilang buruk. Dia nakal bukan jahat, setahuku dari cerita-cerita yang selama ini ku dengar, dia tidak pernah berulah jika tidak ada alasannya. Berbanding terbalik dengan Utakata yang selalu bertindak sesukanya, memperlakukanku seakan aku ini adalah bonekanya. Mengaturku seenaknya, padahal aku tidak suka dan sudah berkali-kali protes. Dia juga kasar, suka marah-marah, ingat kejadian beberapa hari lalu saat dia membentakku dengan kalimat kasar? Atau teriakannya tadi siang saat ada Sasuke.

"Iya." Akhirnya, hanya itu kata yang keluar dari mulutku.

Tadi, setelah selesai makan malam, aku langsung masuk kamar. Bukan untuk tidur, tapi untuk berpikir. Aku harus tegas, selama ini aku membiarkan Utakata bertingkah seenaknya bukan karena aku takut, tapi karena aku tidak peduli. Tapi sejak saat ini aku harus peduli, bukan padanya, tapi pada diriku sendiri.

Handphone ku berdering kencang, memecahkan pikiranku. Saat kusambar, yang kulihat disana adalah nama Utakata.

Awalnya aku tidak ingin angkat, tapi jika terus menghindar, masalahku akan terus bertambah panjang dan makin parah.

"Halo."

'Hei.'

"Ya?"

'Kau masih marah?'

"..."

'Aku tadi siang datang untuk minta maaf.'

"Ya."

'Maafkan aku.'

"Aku sudah memaafkanmu." Ya, aku memang sudah memaafkannya, tidak percaya? Percaya saja, aku jujur kok.

"Aku juga mau minta maaf." Lanjutku kemudian.

'Apa itu?'

"Maaf, setelah ini berhenti menghubungiku."

'Kenapa? Kau sudah memaafkanku.'

"Memang."

'Apa karena laki-laki itu?'

"Laki-laki mana?"

'Yang makan denganmu di Tokyo.'

Aku memutar bola mataku, dia bertingkah seperti ini lagi. Menyebalkan.

"Bukan, sudah ku katakan dia temanku."

'Oh, kalau begitu laki-laki yang tadi siang?'

"..."

'Aku benar kan?'

"Lalu jika kau benar?"

'Sakura, kau jangan berani macam-macam.'

Lihat?

"Berhenti mengaturku seharusnya kau tahu diri, kau itu siapa dan harus menempatkan diri dimana. Kita tidak punya hubungan apa-apa. Jadi jangan pernah mengancamku, berhenti mengatur-atur hidupku lagi."

'Brengsek.'

"Jangan bicara dengan orang brengsek kalau begitu."

'Setan.'

"Oh, jangan bicara lagi dengan setan."

Sekali tekan, aku langsung memutuskan sambungan telepon, sekaligus mematikan handphone, aku malas menanggapi ocehannya lagi. Air mataku berkumpul semua di pelupuk, tapi tidak jatuh. Bukan karena aku ingin menangis, aku hanya merasa lega dan senang saat aku bisa melawan.

Setelah sepuluh menit terdiam, aku akhirnya beranjak dari tempat tidur. Tengorokkan ku kering ingin sekali minum. Sayup-sayup aku mendengar dialog saat sudah berada di luar kamar. Ayame-san sedang menerima telepon.

Aku bertanya siapa yang menelepon pada Ayame-san dengan isyarat, dan langsung semangat ketika dia bilang itu dari Sasuke. Dia pasti menghubungi telepon rumahku karena tadi handphone ku sibuk. Tapi aku heran, kenapa teleponnya tidak diberikan padaku?

"Ini, ada Sakura-sama disini. Mau bicara dengannya kan?"

Aku makin semangat, tapi seketika luntur saat Ayame-san tersenyum kikuk. Aku tahu apa yang Sasuke katakan, pasti tidak,dasar menyebalkan.

"Ya sudah, aku sudah mau tidur kok." Teriakku.

Ayame-san menempelkan gagang telepon di telingaku saat aku melewatinya.

'Mau kemana?' suara itu keluar dari dalam sana, aku tersenyum dan menyambar gagang telepon dengan cepat, Ayame-san tersenyum lalu berlalu ke belakang.

"Katanya tidak ingin bicara denganku?"

'Bukan tidak ingin, tapi belum ingin.'

"Sekarang?"

'Sudah bicara.'

"hehehe..."

'Kenapa belum tidur?'

"Sedang menerima telepon darimu."

'Kau pintar bicara.'

"Kau yang mengajarkan."

'heh? Dasar.'

"Tadi bicara apa dengan Ayame-san?"

'Tanya saja sendiri.' Dia menyuruhku heh?

"Nanti kutanyakan."

'Aku tadi menghubungi handphone mu.'

"Tadi Utakata menghubungiku."

'Hn.'

"Dia minta maaf padaku."

'Asal tidak membentakmu, aku tidak akan membuatnya menghilang.'

"Hehehe... iya."

'Aku sudah bilang, orang yang menyakitimu akan hilang besoknya. Aku juga akan menghilang jika aku berani menyakitimu.'

Sasuke... bahkan kata-kata yang keluar dari suara itu masih terngiang jelas di benakku.

.

.

.

To be continue

Hai, hehehe...

Malu, lama banget gak update. Maaf sebelumnya, fict ini lama banget updatenya, sebenernya uas udah selesai dari tanggal berapa ya lupa, sebenernya udah dibikin lama Cuma gak aku update2 maafiiiiiin u,u

Maaf kalau chapter ini bikin kecewa, setelah chapter ini aku targetin update, 2 atau 3 hari sekali aku update ini, makasih yang udah nunggu (emang ada ya?) maaf bikin kalian kesel, selamat berpuasaaaaaaa muah hehehe

Banyak yang nanya, Sasuke itu karakternya gimana, aku udah bilang dari awal, dia itu aneeeeeeeh hahaha pokonya gitu lah wkwkw...

Balasan Review:

Kumada Chiyu: makasih hehehe, ini udah dipanjangin (sedikit) muahaha

Poetri-chan: Ya Gaara gitu lah disini wkwk, ini udah dilanjut maaf bikin nunggu lama yaa

Tafis: dateng-dateeeeeng haha

White's: ini udah dilanjut hehehe makasih yaa

Azriel: hahaha seru gak novelnya? Di bandung susahloh dapet dilan wkwk

Uchiharuka: maaf yang kal ini updatenya lama yaa

Resa: hehehe sengajaa, iya makasih yaa udah disemangatin ;) ini udah aku update maaf bikin nunggu lamaa

HappoZaey: hehe maaf ya bikin kecewa karna lama update, jadi gaenak u,u ini udah aku lanjut semoga suka dan gak kecewa yaa

Guest: hehe ini udah update maaf lama yaa

Farah: hehe ini udah update maaf lama, untuk nyampe chap berapanya belum tau hehe

Ifaharra sasusaku: hehehe iya ih dia gak rela wkwk ini udah dilanjut, makasih yaa maaf kecewa karna lama

Prince cherry: makasih, ini udah dilanjut

Vionyxya: ini udah dilanjut, maaf lama yaa

: hehehe makasih, ini udah dilanjut, kamu bingung? Aku juga bingung wkwk, pokonya aku udah bilang kalo dia itu aneh hahaha

: hehehe makasihhh, ini udah di update maaf lama yaa

Makasih semuanyaaaa sampai ketemu di chapter depan yaa