Rujukan cerita: Selft-harm documentary | Psikopat documentary | CSI Series | Fifty shade of grey
Peringatan: AU. Mature content.
Criminal Mind
Park Jimin X Min Yoongi
Slight! Kim Taehyung X Jeon Jungkook
Kim Namjoon X Kim Seokjin
Other cast
Panasnya api yang menyala dalam tubuhnya—teredam karena kedatangan sang malaikat penyelamat, bagai siraman air dari surga.
Min Yoongi kini sedang duduk di sofa ruangan tamu seseorang yang menjadi tetangganya selama ini, Lee Minjae.
"Kau tidak bekerja Yoongi?" Tanyanya sambil menyimpan satu gelas teh hangat.
"Ah—aku bekerja di jam siang."
"Hm begitu, ayo silahkan di minum tehnya." Ucapnya sambil tersenyum.
"Ne, terima kasih paman." Pun ia menyesap tehnya, ia tersenyum pada lawan bicaranya.
"Tak biasanya kau berkunjung kemari sepagi ini, ada apa?"
"Hm—aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu." Pria tua itu menganggukan kepalanya tanda iya.
"Begini paman, Sejung itu apa sebenarnya anakmu?"
"Dia bukan anakku, aku hanya membawanya kemari karena aku menyukainya."
Yoongi terdiam, mengerjapkan maniknya bingung. "Aku sangat suka anak kecil, aku suka rasa mereka." Jawabnya sambil tersenyum.
"Hm—jadi dia bukan anakmu?—kau yang menyiksanya paman Lee?!" Ucap Yoongi dengan emosi, pria yang duduk di sofa itu tertawa keras.
"Yah—memang aku yang melakukannya, itu rasanya menyenangkan kau tahu—saat mereka berteriak, aku suka."
Yoongi membelalakan matanya, namun seketika tubuhnya terasa lemas bahkan kepalanya berdenyut nyeri. Ia menutup maniknya dan memijit kepalanya, pengelihatannya samar.
"Anak sialan itu kabur dariku, saat aku mengejarnya anak itu telah di temukan oleh dua pria. Aku yakin ia adalah temanmukan?" Pria itu menyesap kopi hitamnya dalam cangkir.
Tubuh Yoongi seketika terjatuh pada lantai, kakinya mati rasa; seluruh tubuhnya tak bisa di gerakan. Ia memperhatikan pria tua yang tengah berdiri sambil tersenyum padanya, pengelihatannya berubah buram.
"Kau manis, aku pikir rasamu akan sama dengan anak-anak yang aku culik—Yoongi. Selamat datang di duniaku."
Yoongi melemah, pengelihatannya mulai menggelap perlahan. Ia tak sadar jika dalam minum tehnya, pria tua telah memasukan obat bius di dalamnya.
...
"Hiks—eung—"
"Kau tahu nak—kau terlalu banyak tahu, itu tidak baik."
Sebuah pisau daging di genggam oleh pria tua di hadapannya, ia semakin bergetar hebat. Mulutnya tersumpal kain, ia semakin menangis.
"Tidak akan ada yang menolongmu—Yoongi."
Minjae menekan leher Yoongi dengan erat, ia tercekak. Tubuh dirinya kini telah lebam di beberapa bagian, dengan sekuat tenaganya yang tersisa ia menendang pria tua itu tepat pada kejantanannya.
"Akh—sialan!" Yoongi menggerakan kedua kakinya untuk berjalan perlahan, sambil melihat ke belakang. Pria itu terjatuh di lantai; ia kesakitan.
Ia bersembunyi di balik lemari yang sudah usang, penciumannya mencium bau busuk yang cukup menyengat dalam ruangan ini. Ia membelalakan matanya, di hadapannya terdapat satu mayat anak kecil tergeletak, dengan tubuh yang mengenaskan; sudah terbelah dua.
Ia mulai menangis, suara isaknya ia tahan.
"Jadi kau mau bermain petak umpat manis? Baiklah aku hitung yah." Tubuh Yoongi semakin menegang, ia mengigit bibirnya hingga berdarah.
"Satu—"
Kedua maniknya semakin mengeluarkan cairan bening, ia memanggil nama Jimin berharap ia datang untuk menolongnya. Bahkan ia terus berdoa agar dapat keluar dari sana, suara pria yang masih menghitung terus terdengar. Ia menutup matanya ketakutan.
Dalam hitungan kelima, tubuh Yoongi seketika tertarik oleh Minjae. Ia mendorong kepalanya pada lantai cukup keras, membuat cairan merah pekat keluar dari kepalanya.
"Tentu saja kau tidak merasa sakit, aku telah menyuntikkan obat penghilang rasa sakit pada tubuhmu." Ia terkekeh, Yoongi mulai kehilangan kesadarannya kembali pun maniknya beberapa kali mengerjap.
"Kau sangat beruntung Yoongi—sshi, aku hanya ingin bermain denganmu saja."
Pria tua itu menendang bagian perutnya cukup keras, membuat Yoongi memuntahkan sedikit darah. "Kau memang lemah, sama seperti anak kecil. Tapi rasamu sama dengan anak yang lain, manis."
Pria itu berjalan ke arah meja yang berbahan besi, di sana terdapat beberapa alat untuk operasi. "Tapi semua anak manis harus di hukum jika nakal."
Di luar sana, Jimin segera berlari dan masuk ke dalam rumah. Ia kembali menatap gambar pada secarik kertas itu, pun segera berjalan semakin masuk. Ia akhirnya menemukan pintu yang sama persis, Jimin membukanya dengan kasar.
Atensi Lee Minjae mengarah padanya, cahaya dari luar membuat ruangan ini semakin jelas; kumuh dan gelap. Namun pria yang tergeletak tak sadarkan diri membuat ia mengepalkan tangannya hingga memutih, genangan darah mengelilingi tubuh manis itu.
"Wah Yoongi—pangeran berkudamu datang!" Ucapnya dengan senyum yang lebar, Yoongi telah tak sadarkan diri.
Jimin tersenyum remeh, ia menggerakan kepalanya ke kanan dan kiri pun suara tulangnya terdengar. "Jadi sudah puas paman Lee?"
"Tentu saja belum, ini baru hidangan pembuka." Kekehnya.
"Paman—kau mau pergi ke tempat yang menyenangkan tidak? Aku yakin kau menyukainya." Ucap Jimin sambil tersenyum.
Pria tua itu memainkan pisau daging miliknya lalu terkekeh. "Kau baik sekali, memangnya kemana?"
"Aku akan mengantarkanmu bertemu dengan anak-anak manismu, aku tahu kau pasti merindukan mereka bukan?—" Jimin perlahan berjalan masuk ke dalam.
"Aku akan mengantarkanmu—ke nereka."Ucap Jimin dengan setiap kata penuh penekanan, maniknya berubah menjadi gelap; satu retina matanya berubah menjadi warna merah darah.
Pria tua itu melayangkan tangan dengan pisau daging pada Jimin namun meleset, membuat lawannya terkekeh. "Kau bukan tandinganku paman—sangat fatal jika kau melawanku."
Minjae menggeram, dengan cepat ia mengarahkan satu kakinya pada perut lawannya namun sayang ia kalah cepat. Jimin telah menarik kakinya sambil tersenyum, dengan keras ia memutarnya membuat tulang pria tua itu patah.
"Akh—ah—"
Jimin terkekeh. "Ini baru hidangan pembuka paman." Ia terduduk di lantai sambil melihat pria tua yang sedang kesakitan di hadapannya, ia melihat ke arah palu kecil yang tergeletak di sana dan mengambilnya.
"Aku belum pernah bermain dengan palu—aku harus coba kalau begitu." Pria itu membelalakan matanya, saat satu tangannya di tarik paksa oleh pria muda di sampingnya itu.
"Brengsek!—akh." Jimin memukul palu itu pada jari tengahnya dengan sangat keras, membuat kukunya hampir mengelupas pun ia memukulnya kembali pada jari manis.
"Wah—sepertinya kau senang bermain denganku paman? Ayo kita bermain." Jimin tersenyum manis padanya.
Kilatan pisau daging membuat netranya berbalik menatapnya, pun ia mengambilnya. "Apa pisau ini sudah di asah? Hm— aku rasa pisau ini tumpul, aku harus memastikannya."
Jimin mengangkatnya ke atas. "Nak kumohon—akh!"
Pisau daging menusuk perut pria tua itu; tidak terlalu dalam memang. "Oh astaga paman maaf, aku melukaimu yah? Aigoo mianhae~"
Jimin menyeringai, wangi darah segar tercium; manis. "Jadi bagaimana rasanya menjadi posisi seperti mereka?"
Ia mulai mencekik leher jenjang pria tua itu dengan kuat. "Breng—sek!" Minjae melayangkan tinjunya pada wajah tampan Jimin, ia terjatuh.
Suara tawa remeh Jimin membuat ia dengan kasar mencekik lehernya. "Paman—pantas saja istrimu menceraikanmu, kau terlalu lemah." Tanpa Minjae sadari Jimin masih memiliki pisau dagingnya, pun pisau itu kembali menusuknya.
"Bocah brengsek!—argh!" Ia terkapar, Jimin menarik kembali pisaunya. Ia tersenyum dan ia mulai mengangkat pisau itu cukup tinggi namun dalam hitungan ketiga...
"Ji—min..." Suara pelan yang serak terdengar, membuat ia terdiam.
"Jimin—Jimin—" Pria yang merasa terpanggil, menjatuhkan pisau dagingnya. Pria tua itu sudah tak sadarkan diri, Jimin mengusap kasar surai ash brownnya.
"—Jiminie." Perlahan retina matanya kembali normal, suara lirih pria di belakangnya membuat ia berbalik menatapnya.
"Yoongi—" Ia merengkuh tubuhnya, membawa ia dalam dekapnya. "Kau aman sekarang, aku di sini."
Yoongi menatapnya sayu, pengelihatannya masih buram namun ia sangat yakin jika wajah Jiminnya kini menjadi khawatir. Kepalanya berdenyut hebat, ia mengerang sakit.
"—oh tidak, Yoongi!" Jimin menepuk wajahnya agar tersadar namun nihil, ia mulai ketakutan.
Akhirnya ia sadar akan satu hal; Yoongi membuat sang iblis dalam dirinya tertidur, namun ia juga ketakutan; karena bisa saja sang iblis marah pada malaikat manisnya.
...
Taehyung kini berlari dengan terburu-buru, netranya melihat ke arah lurus pada seorang pria yang sedang dalam kepanikan. Darah pada bajunya membuat ia pun panik, sesuatu terjadi pikirnya.
"Jimin, bagaimana keadaan Yoongi-Hyung?!"
"Dokter belum keluar—dia terluka cukup parah Tae aku—" Tubuhnya semakin bergetar.
"Yoongi-Hyung itu kuat—jangan pikir macam-macam!"
Seokjin bersama dengan Jungkook kini tengah berlari ke arahnya, dengan manik Jin yang telah berkaca-kaca ia melemparkan tas bersama dengan coatnya pada lantai. Ia seketika terduduk di samping Jimin dan mengusap bahunya.
"Aku terlambat menolongnya, aku bodoh."
"Kau tidak terlambat Jimin, kau berhasil menyelamatkannya." Ucap Jin sambil menghembuskan nafasnya pelan.
Jungkook hanya terdiam dengan wajahnya yang khawatir, membuat Taehyung menatapnya. "Jungkook, kau tak apa?"
"Aku—hanya khawatir Hyung, paman tua itu sangat gila." Tae pun merangkul bahunya, menepuknya pelan membuat pria di sampingnya agar tenang.
"Jim, kau harus di obati dulu. Kau juga terlukakan?"
"Tidak sebelum Yoongi selesai di dalam sana." Ucapnya membuat Jin menggelengkan kepalanya.
Seorang pria yang menggunakan pakaian khusus operasi keluar, ia membuka maskernya.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Jimin.
"Dia mengalami luka benturan pada kepala yang cukup parah, ia juga kekurangan darah yang lumayan membuat krisis. Tapi tenang saja—waktu krisisnya sudah terlewati, kami menyuntikannya obat bius. Kalian bisa bertemu dengannya setelah ia siuman." Ucap sang dokter.
"Oh syukurlah." Jin kembali terduduk pada salah satu kursi ruang tunggu kembali, Taehyung dan Jungkook pun merasa lega setelah mendengarnya.
Namun tidak dengan Jimin, ia masih terdiam. "Jim, kau harus mengobati lukamu segera."
"Tidak apa Hyung, aku akan pulang sebentar. Oyah Tae, apa tersangka sudah di tangkap?"
"Shownu-Hyung telah menyelesaikannya di sana, kau jangan khawatir." Pun Jimin menganggukan tanda iya.
...
Dengan kemeja bagian tangan yang tergulung, ia membawa palu dan pisau daging ke dalam kamar mandinya. Seorang pria tua yang menjadi mangsanya, kini telah terkapar di lantai yang basah dan dingin.
"Kau tahu—aku benci jika ada seseorang yang melukai anak kecil tanpa alasan." Ucapnya sambil terduduk pada kursi besi, yang menghadap langsung pada mangsanya.
"Maksudmu—apa? Demi tuhan aku tidak mengerti! Lepaskan aku—kumohon."
Jimin menyeringai, ia memainkan palu pada tangan kanannya sambil bersiul. "Jangan pura-pura, kau yang melakukannya! Kau menyiksa mereka hingga terbelah dua brengsek!"
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Lirihnya.
Jimin menarik dengan kasar kedua tangan pria tua itu, dengan segera menaika palunya ke atas. "Kau harus merasakan menjadi seperti bocah tak berdosa itu."
Jimin memukul kelima jari pria tua itu dengan kasar berkali-kali, membuat ia berteriak kesakitan. Ia tersenyum puas, kini melihat kelima jari dengan kuku yang mengelupas.
"Kau bahkan menyakiti Yoongiku paman! Berurusan denganku sangat berbahaya, kau tahu?" Dengan emosinya yang memuncak ia memukul kepala pria itu dengan palunya, pada bagian belakang kepalanya.
Pisau daging yang baru ia beli tadi pun segera ia coba gunakan, Jimin terkekeh. Bau amis darah membuat dirinya semakin bersemangat, ia menghirup aroma manis itu dalam-dalam. Satu retina matanya, telah berubah menjadi semerah darah.
"Aigoo~ apa sakit paman? Apa? Tidak? Baiklah kita coba lagi."
"Argh—bocah sialan!" Dengan bertubi-tubi ia terus memukul tempurung kepala pria itu, beberapa detik kemudian. Ia membalikan tubuhnya, mencekiknya dengan kasar.
"Aku akan mengantarkanmu ke neraka paman." Ucapnya sambil terkekeh, dengan kasar ia menusukan pisau daging pada perutnya, berkali-kali dengan kekuatan penuh.
Pria tua itu terkulai tak bernyawa, seorang mangsa pria tua yang bahkan bukan paman Lee. Darah mengalir pada rahangnya, wangi manis tercium oleh inderanya.
Kemeja putih yang ia pakai, kini telah kotor berlumuran darah segar. Pisau daging ia jilati, ia sesap cairan pekat kental itu. Hasratnya telah terpenuhi; sekaligus balas dendam akan perlakuan paman pada Yoongi.
"Pria tua sialan! Kau telah menyakiti—Yoongi." Maniknya berubah sendu, lalu ia tersenyum.
...
Netranya mengerjap perlahan, denyutan pada kepalanya semakin terasa. Cahaya lampu kamarnya, membuat ia berkali-kali mengerjap karena teralu menusuk indera pengelihatannya.
Rengkuhan hangat pada tangan kanannya, membuat ia melihat sosok pria yang sedang tidur dengan posisi yang tak nyaman di sampingnya. Tangannya ia gerakan, sekaligus untuk membangunkan pria itu.
"Ji—min—" Pria yang merasa terpanggil pun terbangun.
"Yoongi?" Lirihnya sambil menggenggam hangat tangannya. "Apa yang kau rasakan sekarang? Katakan jika, kau masih merasa sakit?"
"Aku—hanya merasa sedikit pusing."
"Aku panggilkan dokter oke?" Yoogi mengangguk tanda iya, Jimin pun menekan tombol pada samping bangsalnya.
Manik caramel Yoongi, menatap dengan lekat pada pria yang duduk di sampingnya. "Jimin." Ucapnya dengan suara serak.
"Hm?"
"Maafkan aku."
Jimin tersenyum, ia mengusap surai hitam acaknya. "Jangan mengulanginya lagi, kumohon—kau membuatku khawatir."
Ia terdiam, Jimin mengkhawatirkannya? Mungkin karena ia teman kerja pikir Yoongi. Bahkan wajahnya masih terlihat tampan, padahal di sana terdapat beberapa luka lebam dan iris.
"Bagaimana dengan Sejung?"
"Dia masih berada di rumah sakit, berita baiknya—seseorang pihak rumah yatim piatu, yang ia tinggali datang dan ia bertanggung jawab penuh padanya. Mereka mengatakan jika memang mencari Sejung selama ini."
"Lalu paman Lee? Dia—"
"Dia sudah masuk ke tempat seharusnya, ia mengidap gangguan mental setelah di periksa. Jangan khawatir Hyung semuanya sudah selesai sekarang."
Yoongi menghembuskan nafasnya pelan. "Jim—terima kasih." Ucapnya membuat pria di sampingnya tersenyum lebar, sambil mengusap punggung tangannya.
...
Dengan perlahan ia mengikuti pria bergigi kelinci, yang sedang berjalan di seberang sana. Ia tersenyum, saat melihat pria itu pun tertawa sambil menyesap banana milk. Taehyung memasukan kedua tangannya pada saku jaketnya, sambil tersenyum.
Pria dari seberang sana, tersenyum padanya lalu melambaikan tangannya. Lampu lalu lintas pun berubah menjadi warna merah, kedua kakinya mendekat ke arah Taehyung.
"Lama menunggu?"
"Tidak, aku baru sampai. Masuklah ke dalam mobilku." Ucap Taehyung, mereka berdua berjalan ke arah mobil sport berwarna merah.
Saat berada di dalam mobil, netra Jungkook fokus pada tangan kiri pria di sampingnya. Terlihat bekas luka yang memanjang, wajahnya berubah serius.
"Hyung?"
"Ya?"
"Hm itu—tanganmu, kau pernah kecelakaan atau—"
"Ah—ini, hanya tergores Jungkook." Ucap Taehyung sedikit gugup.
"Kau serius tak apa?"
"Hm, jangan khawatir. Ini hanya luka gores saja." Jawabnya sambil tersenyum
Luka gores pada tangannya bukan hanya satu, tapi cukup banyak dan membuat Jungkook mengernyit ngeri, sekaligus khawatir. Senyum pria bergigi kelinci di sampingnya ini, seperti ibunya; malaikat yang terbunuh karenanya.
Taehyung menggelengkan kepalanya, tidak seharusnya ia memikirkan hal itu sekarang.
...
Seokjin terdiam dalam ruang kerjanya, ia baru saja mendapat kabar jika Yoongi telah terbangun, namun ia tak bisa langsung pergi ke sana karena ada janji dengan pasiennya.
Kini ia masih terdiam, memikirkan kejadian beberapa tahun yang lalu; pertama kalinya ia bertemu dengan Namjoon.
Saat itu Namjoon bahkan masih menjadi polisi biasa, sahabatnya Yoongi mengenalkannya pada Namjoon. Saat itu juga, ia mengizinkan Namjoon menyentuh dirinya dengan alat-alat di ruang permainannya.
Jin berjalan perlahan mengitari seluruh ruangan yang di dominasi berwarna merah dan hitam. Ranjang, sofa berbulu, bahkan hingga karpetnya.
Bandage, tali berwarna merah dan hitam, penutup mata, butt plug dengan berbagai macam bentuk, borgol, semua alat untuk sex semua ia miliki.
"Kau sadistic?"
"Yah—lebih tepatnya aku dominan." Jin menatapnya serius, pun ia terduduk pada sofa berbulu. "Namjoon, aku sebenarnya—ini memang terdengar lucu mungkin bagimu. Selama ini aku tidak pernah melakukan itu."
Namjoon terkekeh. "Kau bercanda?Aku bodoh sekali membawa perjaka ke dalam ruang mainku—oh demi Tuhan."
"Apa salah jika aku seorang perjaka?Kita tak pernah membicarakannya selama ini." Ucapnya dengan nada cukup tinggi.
"Tidak, bukan begitu. Jinie—aku tidak ingin menyakitimu. Jika aku melakukannya sekarang, kau pasti tidak akan nyaman. Ini pengalaman pertamamu."
Seokjin menghembuskan nafasnya kasar. "Lakukanlah, aku ingin tahu bagaimana kau melakukannya."
"Jinie—"
"Aku mohon, ini demi kau—dan aku."
Akhirnya malam itu, menjadi malam di mana untuk pertama kalinya. Namjoon dan Seokjin bermain dalam ruangan mainnya, namun dengan syarat dari Jin untuk melakukannya secara perlahan.
Netranya melihat kedua pergelanga tangannya, bekas berwarna ungu masih membekas. Ia terdiam, kemudia maniknya mengeluarkan cairan bening.
"Bisakah semuanya menjadi baik? Aku harus bagaimana? Ini sakit—maaf karena aku menahannya. Ini demi kita." Lirihnya.
Ia terisak, entah sampai kapan ia menahan segalanya selama ini. Satu tahun? Dua bulan? Entah.
...
Uluran tangannya bahkan terasa hangat, aku tersenyum pada malaikat itu. Aku berdoa pada Tuhan, semoga saja ia menerimaku dengan iblis yang bersarang padaku. Semoga saja, sang iblis tak menyentuh malaikat manisku.
...
TBC
Update cepet nih hehe, semoga kalian ga bosen bacanya. Menurut kalian bacaannya berat banget ga sih? Aku harap engga wkkw, silahkan tinggalkan reviewnya see you soon bae^^
