Wahahahaha...aku paling ingin buat NaruSasu menderita XD *) dikeroyok NaruSasu fans
Untuk chapter ini akan masuk pokok utama, ditambah secuil kalimat yang berhubungan dengan masa lalu Naruto dan Menma. ^^
Wokeh kita lanjutkan!
.
.
.
Coppia
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu
Genre : Romance & Drama
Warning : BL, Shounen ai, Yaoi, Supernatural, Lemon, OOC, AU, dll
.
.
Don't Like don't read
Happy Reading!
.
.
'mind'
"talk"
.
.
.
.
.
Matahari pagi tampak di ufuk timur. Menerangi belahan bumi di mana Kota semi modern Konoha berada. Langit mulai membiru dengan kapas-kapas putih yang melayang menemaninya. Kicauan burung-burung menambah maraknya suasana pagi. Sungguh pagi yang cerah dan tentram. Tapi tidak bagi seorang pemuda yang berada di kamar dalam kediaman Uchiha. Pemuda berambut pirang jabrik itu menyambut pagi dengan hati mendung. Dia berdiri bersandar di bingkai jendela kamar yang terbuka lebar sambil bersidekap. Membiarkan angin sepoi menyapa tubuhnya yang terjaga semalaman. Wajahnya lesu, Shappirenya menerawang jauh menatap kosong ke luar. Mengabaikan pemandangan alam asri yang tersaji di hadapannya.
Ya, Naruto masih berada di kamar Sasuke. Menunggu sang terkasih bangun dari tidurnya. Sebelum Tsunade kembali ke rumahnya tadi malam, dia berpesan agar segera menghubunginya bila Sasuke sadar nanti. Lelah memandang keluar, Naruto menolehkan kepalanya ke tempat tidur. Melihat Sasuke yang masih terbaring lelap. Dia berbalik berjalan berlahan mendekati ranjang, duduk di tepiannya. Tangan tan Naruto terulur menyingkirkan poni rambut raven Sasuke, sebelum merendahkan badannya untuk mengecup kening pucat pemuda itu lama. Lembut dan penuh kasih. Dia menempelkan dahinya ke kening Sasuke selepas ciumannya. Mencoba merasakan kehangatan dari tubuh yang lebih kecil darinya.
"...Suke, sampai kapan kau mau tidur?" tanya Naruto berbisik lirih.
Hening. Tidak ada sahutan dari Sasuke. Hanya terdengar helaan nafas yang berhembus teratur.
Membuat tangan Naruto terkepal di sisi kepala pemuda raven.
"...Aku merindukanmu,"
Saat pintu kamar terketuk dari luar, Naruto kembali menegakkan badannya. Dia tidak beranjak dari duduknya. Hanya menolehkan kepala pirangnya memandang pintu yang mulai terbuka, diikuti masuknya pria berparas mirip Sasuke dan kakaknya.
"Ohayou Naruto," sapa Itachi tersenyum simpul. Naruto mengangguk singkat, dia tahu jika Itachi memaksakan diri untuk tersenyum.
Itachi berjalan mendekati ranjang dimana adik kesayangannya terlelap. Dia duduk di tepi ranjang yang berlawanan dengan Naruto. Mengusapkan tangannya ke pipi halus Sasuke yang tidur tenang.
"...Masih belum bangun, ya. Kau kesiangan lho, ototou," kata Itachi tersenyum tipis.
Naruto menundukkan wajahnnya. Tidak ingin melihat ekspresi sedih dan berusaha tegar yang terlukis di wajah Itachi. Dirinya merasa tidak bisa meringankan beban calon kakak iparnya. Kyuubi yang awalnya terdiam bergerak mendekati Itachi. Menepuk bahu kekasihnya pelan sambil tersenyum saat Itachi melihatnya. Pria berambut hitam panjang itu membalasnya tersenyum tipis.
"Naruto, Kau tidak tidur semalam?" tanya Itachi berbalik memandang Naruto.
Naruto mengangkat wajahnya, "...Tidak, aku ingin menunggui Sasuke hingga dia bangun nanti,"
Itachi menghela nafas, "Harusnya kau istirahat juga. Sasuke pasti marah melihatmu kusut begitu nanti,"
"Itachi-san juga, dia pasti tidak akan suka melihat kantung hitam di bawah matamu," balas Naruto tersenyum.
Mata Onyx Itachi melebar sedikit, "Apa ada Kyuubi?" tolehnya pada Kyuubi yang berdiri di sampingnya memastikan.
Kyuubi mendesah, "Mau kuambilkan cermin? Aku sudah bilang padamu sebelum datang kemari,"
"Haha...baiklah aku percaya," kekeh Itachi. "Aku hanya cemas karena Sasuke masih belum membuka matanya," lanjutnya membelai surai raven Sasuke lembut.
Naruto mengerti perasaan Itachi, sama seperti dirinya yang menginginkan Sasuke segera sadar.
"...Akan kusiapkan sarapan," ujar Kyuubi seraya berbalik menuju pintu kamar. "Aku akan memanggil kalian setelah selesai," lanjutnya memandang Itachi dan Naruto saat membuka pintu. Begitu Itachi mengangguk membalas, Kyuubi keluar meninggalkan mereka.
"...Hari ini seperti rencanamu semalam, Kyuubi akan membawaku ke rumahmu," ujar Itachi pada Naruto. "Sebenarnya Sasuke juga harus ikut. Tapi karena keadaannya tidak mungkin, aku akan ke sana bersamanya saja. Dia bilang ingin menjelaskan pada saudara kalian tentang hubungan Uchiha dengan kelompok yang kalian buru, lalu membicarakan apa yang dia temukan di Suna," terangnya.
"Oh ya, apa yang ditemukan Nii-san?"
"Dia tidak mengatakannya karena belum yakin, masih kemungkinan,"
Naruto menautkan alis tanya. Tapi dari gestur yang dilontarkan Itachi padanya, sepertinya Kyuubi memang belum cerita apa-apa.
"...Aku sudah mendengar dari Kyuubi tentang masa lalu kalian, khususnya kau dan Menma," ucap Itachi tiba-tiba.
Mendengarnya, mata Naruto membulat lebar. Tubuhnya menegang tanpa sadar.
Itachi tersenyum kecil melihat reaksi pemuda di hadapannya, "Sepertinya kau belum cerita pada Sasuke soal masa lalumu, ya,"
Naruto menggerlingkan Shappirenya ke samping, mengalihkan perhatian.
"...lebih baik kau ceritakan secepatnya padanya," kata Itachi berdiri dari duduknya. "Karena sekarang adikku sudah terlibat terlalu jauh,"
"...Aku tahu..." lirih Naruto menundukkan wajahnya.
Itachi membisu sejenak, "...Aku turun dulu membantu Kyuubi, biar kuantar sarapanmu kemari," tuturnya berbalik melangkah ke arah pintu.
"...Itachi-san,"
Mendengar panggilan dari pemuda pirang, Itachi berhenti menoleh padanya.
"...Aku...akan menyelamatkan Sasuke," ungkap Naruto menatap Itachi tajam serius.
Itachi terpaku, padahal dia belum menyatakan keinginannya pada Naruto agar segera menjadikan Sasuke Coppia untuk menyelamatkan hidupnya. Namun, tampaknya pemuda itu sudah bertekad duluan.
Dengan melebarkan senyumnya, Onyx Itachi menatap Naruto dalam, "Kuserahkan adikku padamu sepenuhnya, Naruto,"
.
.
.
Coppia
Story by Ivy Bluebell
.
.
.
Di tengah hutan pinggiran Konoha terdapat rumah semi minimalis yang berhiaskan kaca bening. Rumah mewah yang terbuka dengan taman terawat serta dikelilingi pepohonan lebat. Rumah dimana kelompok Tvar yang dinaungi Naruto tinggal. Gaara, pemuda berambut merah bata terlihat berjalan ke paviliun kecil yang berada di tengah taman itu. Dia hendak berkumpul dengan ketiga saudaranya yang sudah duduk santai sambil menikmati teh di sana. Neji, Shikamaru dan Kiba.
"Ada kontak dari Kyuubi-san, dia akan datang kemari sebentar lagi," kata Gaara begitu memasuki paviliun.
"Bersama Naruto?" tanya pemuda berambut coklat gelap panjang bernama Neji yang bersandar di pagar paviliun.
"Tidak, Naruto masih ingin di rumah Sasuke," jawab Gaara mendudukan diri di samping Kiba.
"Hee? Kenapa?" tanya pemuda bertato segitiga merah terbalik di pipinya. Kiba mengunyah cup cake coklatnya memandang Gaara.
Gaara mengangkat bahu, "Entah, sebagai gantinya Kyuubi-san akan mengajak Coppia-nya kemari,"
"Aku baru tahu dia punya Coppia," timpal Shikamaru yang berbaring di kursi panjang depan mereka sambil menaikkan sebelah alis.
"Jelas saja, dia sudah lama tinggal di Suna, mungkin dia menemukan Coppianya di sana tanpa memberitahu kita," ujar Neji mendudukan diri di kursi single.
"Ngomong-ngomong, apa ada perkembangan dari tubuh mati Kagami?" kata Kiba serambi menelan habis cup cake-nya.
"Hanya tato 3 magatama hitam saja yang kutemukan, tidak ada yang lain," jawab Gaara selepas menyesap tehnya.
"Tapi itu sudah jadi bukti kalau Menma dan kelompoknya sudah bergerak," Shikamaru bangun dari tidurnya, berganti duduk bersandar di kursi, "Lalu adakah tanda-tanda tentang korban dari murid sekolah kita, Neji?" liriknya pada Neji.
Neji mendesah pendek, "Tidak, waktu kita masuk sekolah kemarin aku tidak menemukan apapun. Tidak ada desas-desus jika murid di sekolah kita jadi korban binatang buas,"
"Tapi kau merasakan hal ganjil, 'kan?" tanya Gaara.
"Ya,"
"Apa itu?" tanya Kiba penasaran.
"...Aura Tvar dan Coppia," balas Neji menatap tajam ketiga saudaranya.
"Tunggu! Jadi selama ini di sekolah ada Tvar dan Coppia selain kita?!" pekik Kiba kaget.
"Entah, aku tidak tahu kapan mereka ada. Yang pasti aku merasakannya," kata Neji yakin.
"Ya, aku juga merasakannya walau samar," dukung Shikamaru.
Gaara menduga, "Kalau begitu, ada kemungkinan kalau murid sekolah kita akan menjadi mangsa mereka, 'kan?"
"Memang, kita harus mencari tahu hal ini secepatnya. Karena jika benar ada Tvar dan Coppia selain kita, bisa jadi mereka adalah anak buah Menma," tekan Shikamaru.
"Baiklah, mulai besok kita akan menyelidikinya," tungkas Kiba.
Tepat dengan selesainya pembicaraan mereka, suara halus mobil terdengar memasuki halaman. Dari paviliun kecil itu, mereka berempat melihat sebuah mobil sport merah berhenti di halaman depan rumah. Disusul keluarnya dua pria yang berbeda fisik dan tinggi. Pria berambut hitam panjang yang memakai mantel hitam keluar dari mobil bagian kemudi. Namun belum sempat menutup pintu, dia bertemu pandang dengan keempat pemuda itu. Membuat Neji, Gaara, Shikamaru, dan Kiba terkejut melihat parasnya.
"Siapa dia? Kenapa mirip Sasuke?" tanya Kiba masih terkejut.
"...Jangan-jangan dia kakak Sasuke?" duga Gaara ragu.
"Ha?"
"Aku juga pernah dengar kalau Sasuke punya kakak yang mirip dengannya," timbrung Neji.
Kiba menoleh pada Neji kaget, "Jadi, maksudmu dia benar kakaknya Sasuke?"
"Hanya dugaan saja, puppy," Shikamaru menggaruk belakang kepala.
"Apaa?!"
"Hahaha—dugaan kalian itu benar, lho," kekeh suara baritone asing bagi mereka berempat.
Pria bermata Onyx yang kita kenal sebagai Uchiha Itachi, berjalan berdampingan dengan pria berambut merah jabrik yang datang bersamanya, Uzumaki Kyuubi. Mereka menghampiri keempat pemuda yang menyambut kedatangannya dengan tatapan heran dan tanya.
Itachi berhenti di depan mereka, "Namaku Uchiha Itachi, yoroshiku," ucapnya tersenyum mengenalkan diri.
Kiba diam terbengong. Neji dan Shikamaru menautkan alisnya memandang selidik.
Gaara menatap Kyuubi, "Okaeri, Kyuubi-san. Dia..."
"Ah, Tadaima. Dia kakak Sasuke, Coppia-ku," jawab Kyuubi bersemu tipis.
Neji, Gaara, Shikamaru, dan Kiba tercengang.
"Heeh?! Kok bisa?" teriak Kiba tidak percaya.
Kyuubi mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Itu—bagaimana bisa kau berhubungan dengan kakak Sasuke selagi Naruto pacaran sama Sasuke?" jelas Kiba.
"Ah, memang Naruto pacaran dengan adikku. Lalu apa masalahnya?" tanya Itachi.
"Maksudnya, bagaimana kalian bisa saling kenal?" tambah Shikamaru sambil mengusap puncak kepala Kiba agar diam sebentar.
Kyuubi mendengus, "Tidak sopa sekali, apa begitu cara kalian menyambut tamu tanpa menyilahkannya duduk dulu?"
"Ah, maaf, silahkan," kata Neji mengintruksikan saudaranya untuk memberi jalan kedua pria itu.
Kedua pria itu memasuki paviliun dan duduk bersisian di kursi panjang depan Neji dan Gaara. Sedang Shikamaru dan Kiba duduk di kursi single sisi meja yang lain.
"Begini lebih baik," ujar pria bermata Crimson merah serambi melepas jaketnya.
Itachi menyesap tehnya setelah dihidangkan oleh Gaara. Haus setelah melakukan perjalanan setengah jam yang menembus kota panas tadi.
"Nah, bisa dijelaskan?" tanya Shikamaru agak menuntut.
"Aku dan Itachi bertemu setahun lalu saat aku menyelamatkannya dari serangan Tvar. Setelah itu, kami jadi dekat lewat tempat kerja yang kebetulan sama, hingga akhirnya dia menjadi Coppia-ku,"jelas Kyuubi singkat.
"Naruto dan Sasuke tahu?" Neji bertanya.
"Baru semalam setelah aku mengenalkan Kyuubi pada mereka secara langsung," jawab Itachi tersenyum.
"Itachi-san..." panggil Shikamaru tiba-tiba sambil mencondongkan badannya ke arah Itachi.
Itachi menaikkan alis tanya. Keempat orang lainnya memandang heran ke arah Shikamaru yang bersuara berbeda.
"Kau yang di'atas' atau 'bawah'?"
Kyuubi, Gaara, dan Kiba blushing seketika.
"KENAPA HARUS BERTANYA HAL ITU, BRENGSEK?!" teriak Kiba galak sambil berdiri dengan wajah bersemu merah.
"Berisik puppy, pelankan suaramu," kata Shikamaru enteng mengorek telinganya dengan jari kelingking.
Kiba mendecak sebal, "Itu karena kau, Shika baka!" tunjuknya tajam ke arah Shikamaru.
"Hahaha—pertanyaanmu sama dengan Naruto," gelak tawa Itachi muncul.
"Diamlah Itachi baka!" maki Kyuubi pelan masih blushing.
Gaara terkekeh kecil dengan Neji yang memandang takjub Kyuubi yang berwajah merah padam.
.
.
.
.
.
"...Jadi, kenapa Naruto dan Sasuke tidak ikut kemari?"
Setelah selesai melayani pertanyaan dari keempat pemuda tentang Itachi yang di'atas' atau 'bawah' dan berbuah hasil jika Kyuubi adalah Uke, mereka mengganti topik sambil menikmati sandwich cream yang disiapkan Gaara tadi.
Itachi menaikkan sebelah alisnya heran ketika mendengar pertanyaan Neji, "...kalian belum tahu?" tanyanya menatap keempat pemuda di hadapannya bergatian.
Neji menyerngit tidak paham, "Maksudnya?"
"Berarti Naruto dan Sasuke belum cerita, ya?" tambah Kyuubi.
"Tunggu, cerita apa?" timbrung Kiba tidak mengerti.
Itachi terdiam sejenak, "...Sasuke mengidap kanker otak, dan semalam penyakitnya kambuh,"
Mendengar kabar tadi, keempat pemuda berbeda fisik itu membulatkan mata tercengang kaget.
"...Sakit?" kata Gaara ragu.
"Ya, sekarang dia masih belum bangun dan Naruto menjaganya di rumah," Kyuubi mengangguk.
Shikamaru menyandarkan punggungnya di sandaran kursi berlahan, "Pantas saja aku mencium bau darah saat melihat Sasuke yang pucat seminggu lalu,"
"Jadi, itu sebabnya..." lirih Gaara.
"Naruto tidak mengatakan apapun soal itu, makanya kami tidak tahu," jelas Neji memandang Itachi.
Itachi menduga, "Ah, aku mengerti. Mungkin anak itu tidak mau cerita selain pada Naruto,"
"Tapi Sasuke baik-baik saja, 'kan?" tanya Kiba cemas.
"Tidak apa, dia sudah baikkan. Hanya belum sadar," Itachi tersenyum menjawabnya, "Kalian bisa datang ke rumah kami kapan saja untuk menjenguknya,"
"Namun, setelah kita selesai dengan urusan ini," kata Kyuubi menengahi.
Itachi menoleh menatap Kyuubi sudah yang berwajah serius. Neji, Gaara, dan Kiba menyimak. Shikamaru membenarkan posisinya siap mendengarkan.
"...apakah ini tentang apa yang kau temukan di Suna?" tanya Neji.
Kyuubi mengangguk, "Ya, juga tentang Uchiha dari kelompok Menma,"
Neji beralih pada Itachi, "Jadi Uchiha dari mereka memang ada hubungannya dengan keluargamu, Itachi-san?"
"Mereka adalah Uchiha yang mewarisi darah Tvar dari keluarga utama. Dan keluargaku adalah keluarga luar yang mewarisi darah Humaine," jelas Itachi singkat.
Shikamaru memincingkan mata, "Kenapa Humaine bisa masuk dalam keluarga Uchiha yang Tvar?"
"Ayah dari kakek buyutku yang Tvar tertarik dengan gadis cantik Humaine dan mengangkatnya sebagai anak. Tapi karena anggota keluarga lain menentang, mereka membunuh dan memangsa keturunan Humaine untuk membersihkan nama Uchiha yang dianggap tercemar," terang Itachi.
"Begitukah? Jadi kau dan Sasuke adalah yang tersisa dan berhasil kabur dari kejaran mereka?" tanya Neji yang dibalas anggukan Itachi.
"Tapi kau akan melibatkan diri dalam pertarungan kami melawan mereka," Gaara menambahi.
Itachi tersenyum tipis, "Aku sudah memutuskannya, dan berniat untuk membalaskan kematian Tou-san dan Kaa-san 7 tahun lalu," katanya yakin.
"Apakah kasus kecelakaan beruntun yang sempat menggemparkan Konoha itu?" tanya Kiba menduga.
"Benar,"
"Karena itu, aku membawa Itachi kemari untuk membicarakan hal ini," sela Kyuubi sebelum beralih pada Shikamaru. "Apa yang kau dapat setelah melakukan pengintaian di kota?"
"Kami berhasil melenyapkan Shisui dan Kagami, juga Tvar gila yang berniat memangsa penduduk. Tapi setelah seminggu ini, tidak ada hal yang mencurigakan," jawab Shikamaru.
"Salah,"
Keempat pemuda itu tercengang dan memandang pria bermata Crimson tanya.
"Mereka bergerak dengan membaur dalam Humaine,"
Jawaban itu sontak membuat mereka melebarkan mata terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Gaara meminta kejelasan.
Kyuubi menghela nafas sebelum memulai, "Waktu aku di Suna, aku dan temanku menemukan puri tua yang dibangun di tengah hutan pinggir kota,"
"Temanmu itu pria yang berambut perak jabrik?" Itachi menoleh pada Kyuubi.
"Ya, namanya Hatake Kakashi,"
Kiba bertanya, "Lalu apa hubungannya?"
"Mungkin itu adalah markas dimana Menma dan kelompoknya berada," tekan Kyuubi.
"Markas? Tempat persembunyian mereka?!" kata Kiba kaget.
"Kenapa kau begitu yakin?" timpal Shikamaru.
"Kami kebetulan melihat Rin, seorang Humaine yang menjadi Coppia Obito masuk ke puri tua itu,"
Neji menautkan alis, "Tapi selama ini mereka bergerak di Konoha, bagaimana mungkin markasnya bertempat jauh dari kota ini?"
"Kalian 'kan Tvar? jarak 500 kilo itu kecil tahu," dengus Kyuubi.
"Lalu tentang mereka berbaur di antara manusia?" tanya Gaara.
"Aku belum yakin, tapi dilihat dari rentang waktu mereka yang memangsa penduduk sependek itu, jelas mereka berbaur di antara manusia," tungkas Kyuubi.
Shikamaru berpikir, "Memang, aku, Naruto, dan Neji selalu memergoki para Tvar gila memangsa Humaine sebelum kami bunuh. Dan lagi anak buah Menma ada di sana,"
"Maksudmu mereka ada hubungannya dengan Tvar gila lainnya?" tanya Kiba menoleh pada Shikamaru.
"Lebih tepatnya dikendalikan,"
Keempat pemuda itu menoleh ke asal suara.
"Aku berpendapat, jika Tvar lain menjadi gila memangsa karena dipengaruhi oleh kelompok Menma. Sebab sebelum kejadian ini muncul, Konoha tidak pernah diganggu oleh Tvar," Itachi menatap mereka tajam.
Kyuubi mengangguk mendukung. "Ya, awal kejadian pembunuhan Humaine oleh Tvar hanya berselang 2 tahun setelah Menma meninggalkan kita,"
Dan kalimat itu menjadi pemicu kemarahan bagi keempat pemuda yang masih duduk di bangku tahun kedua Konoha High School.
"Kita harus segera bergerak memburu mereka secepatnya sebelum orang-orang dan murid sekolah kami jadi korban," tekan Shikamaru menahan geraman seraya mengepal tangannya erat.
"Aku setuju, aku tidak mau para Humaine dijadikan santapan seenaknya oleh mereka," dukung Kiba.
Wajah Neji mengeras, "Tak akan kubiarkan Menma bertindak bebas kali ini,"
"Aku akan membalas perbuatannya pada kami dulu," jejal Gaara, mata Jadenya berkilat marah.
Itachi menatap keempat orang yang lebih muda darinya heran sekaligus kagum. Pemuda seperti mereka begitu tegar menghadapi semua ini, pastilah karena mereka sudah lama menanggung luka.
"Kalau begitu, kita susun rencana. Aku juga akan memanggil Kakashi dan Coppia-nya untuk membantu kita," tambah Kyuubi menyetujui.
Kelima orang yang mendengarnya mengangguk bersamaan, menyetujui usul Kyuubi.
.
.
.
.
.
Sore datang kembali menyelimuti Konoha. Pemuda berambut pirang jabrik itu melihat datar langit berwarna jingga keunguan yang menjadi tanda jika sang surya kembali ke peraduan. Dia berdiri di belakang jendela kamar yang terbuka lebar, membuat angin bebas memasuki ruangan tempat dimana seorang lagi masih terbaring lelap.
Pemuda bersurai raven itu belum membuka matanya seharian ini. Tetap tidur mengarungi mimpi yang tidak akan diketahui siapapun, bahkan oleh Naruto. Naruto membalikkan badannya dan berjalan mendekati ranjang tempat kekasihnya terbaring. Dia mendudukan diri di tepi ranjang menghadap ke Sasuke yang terbalut selimut hangat. Tangan tan Naruto yang bercincin terulur menyentuh sisi wajah pucat Sasuke. Mengusapnya lembut. Sepasang iris Shappirenya menatap Sasuke intens. Datar tapi berkilat kecemasan yang tidak cocok dengan wajah berkumis kucing stoicnya.
"...Suke,"
Suara parau Naruto memecah keheningan dalam kamar sunyi ini. Dia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dalam helai poni pirangnya yang agak panjang.
"...Bangunlah..."
Dan bagai sihir, kalimat itu memberikan efek keajaiban. Jemari tangan berkulit putih Sasuke yang terlentang di sisi tubuhnya bergerak kecil. Nafasnya berhembus pelan. Diikuti terbukanya kelopak mata berlahan yang menampakkan sepasang Onyx hitam malam. Sasuke mengerjapkan matanya lamat-lamat, menyesuaikan cahaya di sekitarnya hingga dia bisa melihat dengan sempurna. Ketika jelas, hal pertama yang dilihatnya adalah Naruto, kekasihnya.
"...Naru,"
Suara serak lirih yang sampai di telinga Naruto membuat matanya membola. Jantungnya serasa berhenti di tempat. Dia mengangkat wajahnya berlahan memastikan. Hingga hal itu, membuatnya menatap pemuda raven tidak percaya. Sasuke telah terbangun. Pemuda berparas cantik di mata Naruto itu tersenyum tipis. Balas menatapnya lembut.
"...Suke," lirih Naruto memanggil Sasuke memastikan.
Sasuke masih terdiam, hanya menatap Naruto lekat. Dia bisa melihat wajah datar Naruto yang berlahan luntur. Mata Shappire sebiru langit itu memandangnya redup dan khawatir. Membuat Sasuke menggerakkan tangannya menyentuh tangan Naruto yang berada di sisinya.
"...Maaf, membuatmu cemas," ujar Sasuke tersenyum menenangkan. "Aku sudah tidak apa,"
Naruto mengerutkan alisnya. Dia mengigit bibir bawah bagian dalamnya. Berusaha menyingkirkan rasa sesak di dadanya agar berubah mereda dan menghangat. Sambil menautkan jemarinya di jari kurus Sasuke, Naruto merendahkan badannya. Memangut bibir ranum pemuda yang masih terbaring di bawahnya lembut. Menyalurkan perasaannya yang begitu merindukan kehadirannya. Sasuke menutup matanya membalas ciuman Naruto. Mengerti akan perasaan si pemuda pirang.
"...Kau lama sekali tidurnya," bisik Naruto selepas ciumannya. Dia belum ingin menjauhkan wajahnya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajah Sasuke. "...Aku merindukanmu, Suke," lanjutnya.
Sasuke membalasnya tersenyum tipis. "...Aku hanya tidur sebentar Naru,"
"Aku tahu," Naruto mengeratkan tautan jemari mereka. "Tapi aku tidak mau, melihatmu tertidur sebelum aku bisa memastikan kau baik-baik saja,"
Sasuke terdiam. Dia melepaskan tangannya yang bertautan dengan jari Naruto. Berganti melingkarkan kedua lengannya di pundak lebar pemuda di atasnya. Sasuke mendorong kepala pirang Naruto ke arahnya, memeluknya.
"...Hn," ucap Sasuke di telinga Naruto. "Aku juga merindukanmu..."
Naruto memejamkan matanya. Menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher putih itu. Dia balas merengkuh tubuh kurus pemuda raven di bawahnya erat.
"...Don't leave me alone, Suke,"
Sasuke merasakan nafas Naruto di lehernya. Mengirimkan sentuhan hangat yang merayap ke kulitnya. Dia mengeratkan pelukannya, membalas Naruto mengangguk.
Setelah beberapa lama melepas rindu yang membuncah di hati kepada sang terkasih, Naruto merenggangkan pelukannya. Mendekatkan bibirnya untuk mengecup kening Sasuke lembut.
"...Bagaimana keadaanmu?" tanya Naruto selepas ciumannya dan menatap Sasuke dalam.
"Sudah baikkan," jawab Sasuke tersenyum.
Naruto menegakkan kembali badannya, "Mau minum?"
Sasuke terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan. Naruto membantu Sasuke duduk bersandar di kepala ranjang dengan bantal yang menjadi alas punggungnya, lalu bergerak mengambil segelas air dari atas meja kecil samping ranjang. Sasuke menerimanya dan meneguknya berlahan.
"...Sunyi sekali, kemana Nii-san dan Kyuubi-san?" tanya Sasuke memberikan gelas separuh kosong pada Naruto.
"Mereka pergi ke rumahku tadi pagi, dan sampai sekarang belum kembali,"
Sasuke melirik ke jendela yang membiaskan cahaya jingga. Sudah sore rupanya. Berarti sudah seharian dia tertidur di ranjang kamarnya. "Membicarakan yang kemarin dengan saudaramu?"
Naruto mengangguk seraya meletakkan gelas di tempatnya kembali.
Sasuke memperhatikan wajah tan yang agak kusut di hadapannya. Rambut pirang jabriknya tampak lebih berantakan dari biasanya. "...Kau tidak tidur semalaman?"
Naruto menoleh, "Bisakah aku tidur sementara kekasihku sakit?" bibirnya menampilkan senyum pahit.
Sasuke menyentuhkan tangannya ke wajah Naruto. Naruto menyerngit ketika sentuhan dingin itu mampir di pipinya.
"...aku tidak mau kau ikut tumbang," lirih Sasuke.
Naruto menggenggam tangan kurus Sasuke di pipinya, "Kau lupa aku siapa? Aku bisa tidak tidur selama seminggu,"
Pemuda raven di hadapan Naruto mendengus, mejauhkan tangannya dari pipi tan tanpa melepas gengaman tangan pemuda pirang, "Tapi akhirnya juga kau bakal tumbang kelelahan 'kan, Dobe?"
Naruto terkekeh, "Sampai di mana sih pengetahuanmu tentang Tvar, Teme?"
"Sampai ritual menjadikan Humaine sebagai Coppia Tvar," jawab Sasuke enteng.
"Hee? Jadi kau sudah tahu hal itu?" Naruto tersentak kaget.
"Hn," Sasuke menundukkan kepalanya sedikit. Tangannya yang bebas meremas pelan selimut yang membalut kakinya. "...Dan aku ingin kau melakukannya padaku..."
Naruto tertegun mendengar ungkapan Sasuke. Padahal dia sudah menyiapkan diri untuk mengutarakannya pada Sasuke ketika keadaannya sudah lebih membaik nantinya. Tapi, pemuda raven itu malah sudah lebih dulu menyatakan keinginannya.
Sasuke menenangkan batinnya, "Aku ingin kau menjadikanku sebagai Coppia-mu segera..."
"...Keadaanmu belum membaik Sasuke," jawab Naruto.
"...Aku tidak bisa menunggu lagi," Sasuke mengangkat wajahnya menatap Naruto. "Kau tahu kondisiku 'kan? Jika terlambat kita mungkin akan berpisah," tangannya kembali meremas selimutnya kuat, "Dan aku tidak akan punya kesempatan untuk membalas semua perbuatan mereka pada keluargaku..."
Naruto balas menatap Sasuke sengit, "Apakah itu yang justru kau inginkan?"
Sasuke menggeleng, "Tidak Naru," dia membalas menggenggam tangan Naruto erat, "Yang kuinginkan agar aku bisa hidup bersamamu, selamanya. Aku ingin berguna untukmu. Aku ingin menjadi orang yang tepat untuk bersanding di sisimu," Onyxnya menatap Naruto getir, "Tapi aku pun ingin membalas mereka dengan tanganku sendiri."
Naruto menghela nafas. Dia sudah menduga jawaban ini akan terucap oleh bibir kekasihnya. Naruto juga tidak ingin terpisah dari Sasuke. Namun, dia tidak mau mengotori tangan putih itu dengan darah mahkluk gila seperti dirinya. Melihat iris Onyx hitam malam yang menatapnya dalam dan yakin, dia tidak bisa berbuat apapun selain menerimanya. Karena hatinya juga tidak mampu menolak keinginannya sendiri.
Naruto menyentuh leher putih pemuda raven, merasakan nadi yang berdenyut pelan di sana. "...Aku pun tidak bisa menolak karena aku juga menginginkannya," dia mendekatkan diri pada Sasuke. "...Raga dan jiwamu, aku menginginkan semua seutuhnya,"
Sasuke tersenyum, "Maka, aku akan memberikannya. Karena aku juga menginginkanmu seutuhnya,"
Naruto menghela nafas dalam, "Agak sakit, tapi aku akan berusaha untuk tidak menyakitimu,"
Sasuke mengangguk. Mengatur detak jantungnya agar tenang.
.
.
.
.
.
Naruto menyingkirkan selimut yang menyelimuti Sasuke, menjatuhkannya begitu saja ke lantai. Tangan besarnya merayap ke wajah pucat Sasuke. Kembali dia mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Sasuke dengan bibirnya. Lembut dan penuh kasih. Sasuke mengeratkan genggaman tangannya di kaus hijau tua yang dipakai Naruto. Membalas ciuman yang berlahan menjadi antusias. Ketika benda kenyal itu menyapu bibirnya, dia membuka sedikit mulutnya dan membiarkan lidah Naruto masuk untuk menjelajah ke seluruh isi mulutnya. Mengabsen giginya, menjilat langit-langit mulutnya, dan mengajak lidahnya bermain. Hingga akhirnya Sasuke mengerang kalah karena didominasi Naruto dan memilih menikmatinya.
Tangan Naruto turun menyibak ujung kaus biru yang dikenakan Sasuke. Mengelus ringan kulit perut dari tubuh yang lebih kecil darinya. Sasuke mendesah tertahan di mulut yang masih terkunci oleh bibir Naruto karena merasa geli. Dia membawa tangannya memeluk leher pemuda tan dan meremas rambut pirangnya di sela-sela ciumannya. Tangan Naruto yang satunya menyusup ke belakang punggung Sasuke untuk menegakkan badan pemuda itu agar merapat ke arahnya. Masih dengan lidah yang menyapu seisi mulut Sasuke.
Merasakan kebutuhan nafas, akhirnya mereka berdua melepas ciumannya yang sudah beberapa menit itu. Sasuke terenggah serambi menatap Shappire Naruto yang telah berkabut tipis. Seperti Onyxnya. Wajah mereka yang berdekatan sama-sama bersemu merah.
Naruto menelan ludah sebelum berucap ragu, "...Suke, kau yakin—" karena tidak ingin menyakiti Sasuke yang baru baikkan dari kambuhnya.
Sasuke menempelkan jari telunjuk kanannya di bibir Naruto, bermaksud untuk tidak berkata lebih jauh lagi. "Kita sudah tahu jawabannya," katanya tersenyum manis.
Naruto mengangguk mengerti. Dia meraih tangan kanan Sasuke dan mengecup punggung tangannya. Memfokuskan dirinya pada keberadaan kekasih di hadapannya yang akan menjadi belahan jiwanya tanpa memikirkan apapun lagi.
Naruto membuka kaus Sasuke dibantu si pemuda raven yang mengangkat kedua tangannya untuk mempermudah Naruto melepaskannya. Setelah kaus biru itu terlewat dari kepala Sasuke, Naruto memandang tubuh ramping yang telanjang dada di hadapannya lekat. Dada bidang berkulit putih dengan bentuk otot khas remaja Sasuke terbias oleh cahaya jingga dari jendela kamar. Membuatnya tampak cantik dan seksi di matanya.
Naruto pun melepaskan kausnya sendiri dan membiarkannya teronggok di lantai bersama kaus Sasuke tadi. Dia bergerak menaiki ranjang, memposisikan tubuh kekarnya ke atas tubuh Sasuke yang sudah terbaring lebih dulu. Wajah Sasuke memanas ketika melihat bentuk tubuh tan Naruto yang sempurna dan maskulin. Entah kenapa dia agak sensi karena tubuh pemuda itu lebih kekar dan kuat darinya.
"Kenapa?" tanya Naruto melihat Sasuke di bawahnya yang berwajah ganjil.
Sasuke mendengus, "Aku iri padamu..."
"Hm?"
"Kenapa kau bisa punya tubuh seatletis ini, sih?" gerutu Sasuke yang membuat Naruto sedikit melebarkan mata.
"Haha...Aku Tvar, Teme. Aku berbeda dari manusia," kekeh Naruto geli.
"Berbeda tapi tetap saja orang lain melihatmu sebagai manusia. Rasanya aku mengerti kenapa kau jadi populer di kalangan murid,"
"Kau cemburu?"
Pemuda pirang itu menyeringai tipis, membawa tangannya untuk membelai rambut Sasuke sebelum merendahkan wajahnya mencium bibir ranum pemuda raven. Tangannya yang lain bertautan dengan tangan Sasuke di sisi tubuhnya.
"Aaahh—"
Puas dengan bibir Sasuke, Naruto turun ke daerah leher dan menciumnya. Menyesap aroma mint yang disukainya dari tubuh sang tercinta. Sasuke merasakan detak jantungnya yang berlahan berubah cepat. Dia meremas rambut pirang kekasihnya merespon gerakan Naruto. Mengikuti irama yang mulai bergejolak dalam tubuhnya.
"Hngg—!" Sasuke mendesah tertahan ketika Naruto menggigit perpotongan leher dan pundaknya. Menghisap dan menjilatnya hingga menciptakan bekas kemerahan sebagai tanda kepemilikan di sana. Tanda yang menjadi bukti bahwa mereka telah menyerahkan jiwa raganya sepenuhnya pada sang terkasih.
Tangan Naruto tidak tinggal diam. Masih menciumi leher Sasuke, dia melepaskan tautan tangannya dan meraba dada Sasuke mencari titik sensitif yang sudah menegang di sana. Lalu menekan dan memilin salah satu putingnya.
"Hakh! Naruu—" Sasuke tersentak merasa suhu tubuhnya yang mulai meningkat. Ditambah sebelah paha Naruto yang berada di belahan kakinya, mengesek kebanggaannya yang masih tertutup kain celana, membuatnya terangsang. Sasuke tidak mampu menahan desahan nikmat keluar dari bibirnya.
Naruto mengangkat kepalanya saat dirasa bagian bawah Sasuke sudah menegang, "Kita baru mulai..." ucapnya enteng sambil tersenyum menatap Sasuke.
"...Hn," Sasuke membuka setengah kelopak matanya yang entah sejak kapan tertutup. Dia terenggah menormalkan nafasnya. Wajar Sasuke tenggang karena ini baru pertama kalinya dia berhubungan intim. Apalagi dengan seorang lelaki yang bukan manusia.
Naruto mengerti perasaannya. Karena itu dia memilih bersabar dan tidak memaksa Sasuke. Dia ingin pemuda itu menikmati kegiatan mereka, hingga menjadi berharga nantinya.
"Perlahan saja. Aku janji, aku tidak akan menyakitimu," bisik Naruto di telinga Sasuke yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Dia harus bisa menekan nafsunya untuk tidak menerkam Sasuke karena aroma manis darah yang tercium dari tubuhnya.
Melihat Sasuke mengangguk yakin, Naruto mencium bibirnya singkat sebelum kembali turun ke lehernya. Tangan Naruto memeluk pinggang Sasuke agar merapat padanya. Dia mengecup tengkuk putih itu lembut sebelum membuka mulutnya. Memperlihatkan sepasang gigi taring yang panjang layaknya vampire. Naruto memiringkan kepala Sasuke ke samping sebelum menancapkan taringnya ke kulit leher putih itu. Menghisap darah manis dari Sasuke.
"HAKH!" Sasuke terkejut. Mengerang sakit seraya menutup mata erat. Tangannya mencengkram kuat bahu kekasihnya. Mencoba meredam rasa perih yang amat menyakitkan. Dia bisa merasakan darahnya berdesir terhisap keluar oleh Naruto. Tubuh Sasuke bergetar saat gigi itu menancap semakin dalam ke lehernya.
"Naruu—"
Mendengar suara parau yang diselingi deru nafas Sasuke di telinganya, Naruto bergerak melepas hisapannya. Menarik gigi taringnya keluar dari kulit pucat itu. Seketika muncul tato bergambar pusaran berwarna merah di leher Sasuke tempat Naruto menancapkan taringnya tadi. Tanda yang merupakan bukti jika Sasuke telah menjadi Coppia dari Tvar Kitsune, Uzumaki Naruto.
"Kau tidak apa, Sasuke?" tanya Naruto khawatir. Menatap Sasuke yang terenggah sambil mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"...Hn," gumam Sasuke di sela-sela mengontrol nafasnya, memegang lehernya yang tadi digigit Naruto. Namun, dia tidak menemukan luka di sana.
"Lukamu sudah tertutup, karena tubuhmu sudah menjadi Coppia," ucap Naruto menjawab gestur Sasuke. "...Kau masih kuat melanjutkan?"
Sasuke menatap Naruto dalam, "...Kenapa tidak?" dan itu menjadi pemicu Naruto untuk bergerak melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Turun menjelajah ke dada pemuda di bawahnya.
"Hngg—Aah—" Sasuke mendesah nikmat saat lidah basah Naruto menari di putingnya bergantian. Sesekali menghisap dan mengigitnya pelan. Lalu turun ke pusarnya menjilatnya sensual, meninggalkan saliva di sana.
Tangan Naruto kembali meraba tubuh Sasuke yang sudah lembab oleh keringat. Mengingat bentuk tubuh itu agar terpatri mati di benaknya. Lenguhan yang dikeluarkan Sasuke makin memarakkan suasana di kamar yang sudah bercahaya remang oleh sinar bulan. Sama sekali tidak ada niat untuk menyalakan lampu karena terlalu fokus pada kehangatan yang diberikan sang kekasih.
Puas meraba, Naruto menurunkan tangannya untuk meraih kancing celana pendek Sasuke, membukanya dan menurunkan kain itu berlahan bersama dalamannya. Sasuke terjengit merasakan dinginnya angin yang mengenai bagian bawah tubuhnya. Namun kembali hangat ketika tangan Naruto mengelus pahanya.
Sasuke menutup wajahnya dengan sebelah lengan. Malu membayangkan dirinya telanjang bulat di hadapan seseorang untuk pertama kalinya. Naruto tersenyum melihat reaksi kekasihnya.
"...Kita mulai Sasuke," bisik Naruto di telinga Sasuke setelah menyingkirkan tangan itu dari wajahnya. "Bicaralah jika kau merasakan sakit nanti,"
Sasuke mengangguk menjawab dalam diam.
Naruto meraih lutut Sasuke untuk membuka lebar kakinya. Dia membawa tangannya memijat batang kemaluan Sasuke yang menegak. Llu dia menurunkan kepalanya untuk menjilatnya dari ujung ke pangkal sebelum meraupnya utuh dalam mulutnya. Mengecap rasa nikmat yang akan dia dapatkan.
"Aahk! Angg—" Sasuke menyentakkan kepalanya di bantal ketika Naruto menghisap kesejatiannya. Bahkan menggigitnya pelan dengan tangan yang meremas pantatnya gemas. Tubuhnya menggeliat, bereaksi menerima kehangatan mulut Naruto yang mengulumnya. Mengirimkan sengatan nikmat yang berlahan menjalar memenuhi diriya.
Naruto menikmati santapannya serambi menahan kaki Sasuke agar tidak bergerak liar. Dia bisa merasakan getaran nikmat dari Sasuke yang meremat rambut pirangnya kuat.
Erangan yang mengalun dari bibir Sasuke ke telinganya makin membuat Naruto menggila. Dia menghisap kesejatian kekasihnya lebih dalam serambi memaju-mundurkan kepalanya bergerak cepat. Tubuh Sasuke mengejang dan nafasnya terasa menderu.
"Ngah—Aah—Na-Naruto!" Sasuke menyerah. Mengerang keras melepas apa yang sudah ditahannya sejak tadi di perutnya. Membiarkan tubuhnya terkulai lemas di ranjang kusut sambil terenggah. Sungguh Luar biasa. Sasuke tidak pernah menduga tubuhnya akan bereaksi sehebat ini.
Naruto melepaskannya setelah menelan habis cairan hangat Sasuke. Sama sekali tidak merasa jijik, karena itu adalah bagian dari milik pujaan hatinya. Naruto menegakkan badannya sambil mengusap bibirnya dengan sebelah tangan. Memandang Sasuke yang terbaring terenggah.
"...Sasuke,"
Panggilan itu membuat empunya membuka mata. Sasuke melihat Naruto seraya menormalkan nafasnya. Naruto mengelus sebelah paha bagian dalam Sasuke. Mengangkat lututnya untuk bertumpu di pundaknya. Sasuke mengangguk memberi jawaban setelah tahu maksudnya.
Naruto menjilat jemarinya sendiri sebelum bersiap memasuki lubang Sasuke yang menggodanya. Tubuh Sasuke sedikit menegang ketika sesuatu yang disadari adalah jari Naruto itu memasuki daerah terlarangnya. Rasanya aneh, tapi tidak begitu sakit. Namun saat Naruto menambahkan satu jarinya lagi, dia tersentak. Mulai menggeliat tidak nyaman. Sasuke mencengkram seprai kasurnya erat menahan rasa sakit.
"Ngehh—"
"Rileks, Suke..." Naruto menyadarinya. Dia mengerakkan jarinya zig-zag secara berlahan untuk melebarkan ruang di sana. Tidak ingin menyakiti kekasihnya dan membiarkan Sasuke menyesuaikan diri.
"AKH—!" Naruto segera menutup mulut Sasuke dengan bibirnya saat menambah jarinya lagi. Menciumnya dalam mencoba mengalihkan perhatian Sasuke dari rasa sakit di bawah sana. Dan itu berhasil.
Naruto mengerakkan ketiga jarinya maju mundur di dalam lubang Sasuke, mencari sesuatu dalam sana. Makin lama makin cepat. Membuat Sasuke kembali memeluk leher Naruto dan tanpa sadar dia menjambak rambut pirangnya kuat. Dia mengerang tertahan membalas ciuman Naruto saat sakit sekaligus nikmat menghampirinya.
"Aargh! Naruu—"
Sasuke mendongak kaget melepas ciumannya. Punggungnya melengkung ke atas. Mengerang nikmat merasakan sesuatu di dalam sana tertumbuk oleh ketiga jari Naruto. Sepertinya Naruto telah menemukan titik prostatnya. Dia memasukkan jemarinya lebih dalam untuk menyentuh tempat itu. Lagi dan lagi.
"Aah—Aang—" Sasuke mendesah merasakan kenikmatan yang menjalar ke tubuhnya. Kembali dia memeluk Naruto yang mencium tengkuk lehernya. Masih dengan tangan yang menginvasi lubangnya.
Tubuhnya bergetar, nafasnya pendek-pendek. Tidak tahan lagi, Sasuke sekali lagi takluk pada sentuhan Naruto. Membiarkan hasratnya terlepas kedua kalinya dan membasahi diri mereka berdua.
Naruto menarik keluar jarinya dari lubang Sasuke. Menegakkan tubuhnya untuk melepas celananya sendiri yang sejak tadi menghimpit miliknya. Wajah Sasuke padam melihat kesejatian Naruto yang sudah berdiri sempurna dengan cairan percum keluar di ujungnya. Meneguk ludah karena benda itu lebih besar dari miliknya.
Tangan tan Naruto meraih kedua lutut Sasuke. memposisikan dirinya tepat di depan tempat penyatuan mereka. Shappirenya menatap Onyx kekasihnya lekat. Meminta izin untuk menyatukan diri. Sasuke mengangguk membalasnya.
Berlahan Naruto mengarahkan kepala penisnya memasuki lubang panas itu. Memajukannya hingga tertanam sempurna. Dia menciumi wajah Sasuke saat kekasihnya meringis kesakitan sambil mencengkram kain seprai kuat. Naruto tidak bergerak dulu, membiarkan Sasuke menyesuaikan diri dengan keberadaannya di dalam sana.
Saat Sasuke berangsur tenang, dia mengangguk kecil memberi isyarat agar Naruto bergerak. Naruto menurut. Menarik pinggulnya berlahan, menyisakan ujung penisnya lalu menyentakkannya ke dalam. Sasuke tergelak, malesakkan kepalanya di bantal saat kepala penis Naruto langung menusuk pada titik manisnya.
"Ngaah—Naru—"
Rintihan Sasuke berubah menjadi mendesah nikmat. Mengiringi kegiatan Naruto yang berada dalam dirinya. Nafasnya menderu ketika gerakan Naruto menggila. Semakin tidak terkendali hingga melambungkan kesadarannya.
Naruto menggenggam milik Sasuke yang sempat terlupakan, mengocoknya seiring dengan gerakan pinggulnya. Bibirnya bermain di leher Sasuke yang memeluk dirinya erat. Tangan yang lainnya memeluk pinggang rampingnya. Membuat Sasuke untuk mengimbangi gerakannya. Sasuke terus menlenguh, matanya berkunang saat titik kenikmatannya ditumbuk berkali-kali.
"Naru—sebut—na-maku—" pinta Sasuke berbisik di telinga Naruto.
Naruto mengangkat wajahnya, menurut membisikkan nama kekasihnya di telinganya.
"Suke—"
Desah nafas hangat Naruto yang terhembus di telinganya, membuat Sasuke makin bergejolak. Dia mengeratkan pelukannya bergerak mengikuti irama Naruto.
"Suke—Aishiteru—"
Naruto terus membisikkan kaliamat itu berulang-ulang. Kalimat bahwa dia mencintai Sasuke selamanya. Tangannya tidak berhenti mengocok penis Sasuke yang kembali menegang. Sasuke terenggah, perutnya seakan tidak mampu lagi menampung apa yang ditahannya. Begitu pula Naruto yang merasakan kesejatiannya terjepit kuat di lubang Sasuke.
"HAKH! NARUTOO!"
"SASUKE!"
Dengan sekali dorongan mereka melepas hasratnya bersamaan, mencapai dunia putih dan menjelajahinya bersama. Tubuh Sasuke melemas merasakan sensasi penuh nikmat dalam tubuhnya. Menumpahkan sarinya di tangan Naruto dan perutnya sendiri. Naruto mengerang melepaskan benih yang tidak mampu dibendungnya ke dalam diri Sasuke. Menyerukan nama kekasih yang telah menjadi bagian jiwanya.
Naruto menggerakkan pinggulnya berlahan sebelum mengeluarkan dirinya dari Sasuke. Dia membaringkan tubuhnya di sisi pemuda raven. Sama-sama terenggah menormalkan nafas dan detak jantungnya setelah kegiatan panas mereka barusan.
"Sasuke, kau bai-baik saja?" tanya Naruto cemas menoleh pada Sasuke yang masih memejamkan mata.
Sasuke membuka matanya, menatap Shappire Naruto. "...Hn, aku baik," jawabnya tersenyum.
Naruto tersenyum membalasnya. Dia memiringkan tubuhnya menghadap Sasuke, menarik pinggang pemuda itu untuk merapat padanya. "...Terima kasih, kau bersedia menjadi Coppia-ku,"
Sasuke menyandarkan kepalanya di dada Naruto. Menghirup wangi citrus dari tubuh pemuda yang merengkuhnya. "Hn, aku juga. Kau menyelamatkan hidupku, Naru..." ucapnya ketika merasakan tubuhnya seperti meringan tanpa beban.
Naruto mencium surai rambut ravennya, "Ya, tapi kau harus diperiksa Gaara nanti. Aku ingin memastikan sendiri keadaaanmu bila kau memang sudah sembuh total,"
"Gaara dokter?" Sasuke mendongakkan wajahnya.
"Tidak juga, tapi dia memang ahli dalam otopsi dan pemerikasaan tubuh,"
Sasuke mengangguk, dia menguap kecil saat kantuk kembali menyerangnya. Wajar saja dia kelelahan, tidak seperti Naruto yang masih segar bugar.
"Tidurlah, aku akan tetap di sini menjagamu," katanya mengecup kening Sasuke lembut.
Sasuke menurut serambi menyamankan diri di pelukan Naruto. Mencoba tidur mengistirahatkan tubuhnya. Naruto menarik selimut yang tadi jatuh ke lantai untuk menutupi tubuh polos mereka berdua. Dia tidak mau Sasuke sakit lagi karena angin malam yang masuk ke dalam kamar dari jendela terbuka. Mendengar dengkuran halus dari Sasuke, Naruto tersenyum geli. Mengeratkan pelukannya pada Sasuke.
Dengan ini Naruto yakin. Bila dia pasti bisa menghadapi apa yang terjadi selanjutnya selama Sasuke ada di sisinya.
.
.
.
.
.
εΙεΙεΙεΙεΙTsudzukuΙзΙзΙзΙзΙз
.
.
.
GYAAAA! Mohon dimaafkan jika Lemonnya kurang memuaskan dan mengecewakan para reader semua T.T
Maklum ini Lemon pertama Ivy... hiks—hiks, tahu gak sih jika aku ngumet mikirin adegannya?!
Tapi untungnya sesuai harapanku...
Baiklah lajut ke chapter berikutnya! ^^V
Arigato yang sudah review 'n mampir ke fic ini...
Terus ikutin ya!
