Luhan X Baekhyun
.
.
Do not copy-paste or repost because this story is from my own imagination. I just add names for fill the casts, EXO is belong to their own self.
Close the tab if you don't like it.
Warning! This is YAOI, and some sexual contents for some chapters.
Hope you like it~
.
.
Chapter 5
Selama perjalanan pulang, yang bisa Baekhyun lakukan hanyalah membungkam mulutnya sendiri. Dirinya tidak bisa berhenti menunduk, dengan ragu-ragu—sejak tadi perasaannya memang seperti itu, Baekhyun mengalungkan kedua tangannya pada leher Luhan. Kepala ia sandarkan di dada yang lebih kokoh darinya, sesekali ia pejamkan kedua kelopak matanya yang terasa berat. Baekhyun merasa lelah dan mengantuk, sedikit nyeri masih terasa di kakinya yang terluka—tetapi itu bukanlah pokok permasalahannya. Bokongnya masih sakit!
Baekhyun tidak ingin memulai perbincangan, di samping rasa canggungnya Baekhyun tidak mau membuat Luhan yang tengah mengangkat tubuhnya menuju rumah itu menjadi terengah-engah. Anggap saja Baekhyun aneh, tetapi ia merasa tubuhnya yang kecil ini cukup berat. Begitulah.
Sepanjang perjalanan ini, Luhan lah yang paling banyak menampakkan senyuman aneh. Ia menunduk sesekali, Baekhyun juga bisa merasakan itu. Hanya saja, ia terlalu malu untuk mendongak ke arah Luhan—bisa saja itu hanya perasaannya saja, kan?
Luhan sesekali menghirup dalam-dalam nafasnya di atas rambut Baekhyun, mencium wewangian khas milik lelaki yang lebih mungil. Desa sudah tampak beberapa meter lagi di bawah bukit.
"Baek?"
Luhan bertanya, kakinya berusaha melangkah dengan hati-hati untu turun. Baekhyun mengeratkan pegangannya pada leher Luhan, ini sedikit menyeramkan. Pasalnya jalan setapak untuk turun sedikit curam.
"Ya?" Baekhyun menjawab seadanya, dengan suara sangat kecil. Namun, karena Luhan bukan manusia—menyadari cara anehnya berubah menjadi serigala, Luhan memiliki indera pendengaran yang jauh lebih tajam.
"Soal yang tadi..."
Baekhyun semakin menunduk, berusaha menyembunyikan kedua bola matanya yang sudah melebar sempurna lantaran terkejut. Ia tahu kemana pembicaraan ini akan mengarah, dan Baekhyun hanya diam saja. Ia biarkan saja Luhan meneruskan ucapannya.
"Aku... Aku kelepasan."
Mereka tiba di desa, Luhan mencari jalan yang lebih sepi. Ia memilih melewati jalan menuju belakang rumah Baekhyun agar sedikit orang saja yang menyadari posisi mereka yang sedang seperti ini sekarang.
Baekhyun merasakan panas itu lagi, berpusat di seluruh wajahnya lalu berjalan ke arah dua pipi—ia merona merah. Baekhyun hanya diam saja, sampai mereka tiba di belakang rumahnya. Luhan tahu, pasti Baekhyun mungkin sedikit tersinggung dengan topik yang ia pilih.
Luhan menendang sedikit pintunya, lalu menutup kembali setelah berhasil membuat mereka masuk ke dalam rumah. Dirinya membawa Baekhyun ke kamar.
Ia baringkan tubuh kecil Baekhyun dengan hati-hati ke atas ranjang. Tanpa sengaja dua pasang netra itu bertemu, Baekhyun menatap dalam mata Luhan yang juga tengah menatapnya sama. Mereka terdiam dalam posisi seperti itu, Baekhyun masih mengalungkan tangannya di leher Luhan sedangkan Luhan sendiri masih menunduk—belum melepaskan Baekhyun sampai sepenuhnya berbaring.
"Luhan..."
Baekhyun menyerukan nama itu tanpa sadar, seketika ia mengatupkan bibirnya hingga menutup rapat. Apa-apaan tadi? Kenapa ia memanggil Luhan seperti itu?
Baekhyun mengalihkan tatapannya, "Ya?"
Luhan menatap bingung ke arah Baekhyun, "Ada apa?" ia mencoba memancing Baekhyun.
Anak itu tetap memalingkan wajahnya, membuat Luhan menjadi gemas. Luhan memutuskan mengulurkan jemarinya, lalu menarik dagu Baekhyun sehingga wajah cantik itu memandang ke arah dirinya lagi.
Baekhyun menggigit bibirnya, "Aku...A-aku—"
"Ya?"
Baekhyun dapat merasakan dengan jelas, nafas Luhan yang terasa semakin hangat menerpa permukaan wajahnya sendiri. Sungguh, posisi seperti ini sangat tidak membantu. Belum sempat Baekhyun membuka mulutnya lagi, Luhan sudah mendekat, memutuskan jarak di antara mereka dan mencium bibir Baekhyun lembut. Sangat lembut.
Baekhyun tidak mengerti, alasan di balik semua yang Luhan lakukan. Dari cara mereka saling mencium, cara pemuda itu menyentuh dirinya sampai sangat intim seperti saat di hutan tadi. Baekhyun tidak mengerti, apakah hal seperti ini pantas di lakukan sementara mereka berdua baru mengenal beberapa hari yang lalu? Tetapi kenapa dirinya sendiri tidak bisa menolak? Itu yang membuat Baekhyun berputar-putar dengan otaknya.
Dirinya membiarkan semua ini, membiarkan Luhan terus melumat kecil bibirnya sambil semakin erat merengkuh tubuhnya yang separuh berbaring itu.
"Mmpphh—"
Baekhyun meremas pundak itu, menyalurkan getaran menyenangkan ini. Segalanya membuat seluruh tubuhnya lemas, syaraf-syaraf dan juga detak jantung yang tidak bekerja dengan baik.
Luhan melepaskan seketika ciuman itu, Baekhyun memejamkan matanya dengan dada yang naik turun. Anak itu berusaha mengendalikan kerja paru-paru miliknya.
Luhan menatap dalam dengan dua iris merahnya itu, memandang dia mata lain yang berwarna biru yang sudah membuka kelopaknya. Luhan mengusap pelan wajah Baekhyun.
"K-kenapa kau lakukan ini?"
Baekhyun bertanya dengan sungguh-sungguh, walaupun nafas dengan nada bicaranya jauh dari kata terkontrol. Luhan tersenyum. "Aku tidak tahu—" Luhan mengelus bibir Baekhyun dengan jarinya.
"—tapi aku menyukai ini. Biarkan tetap seperti ini."
Luhan meraup bibir Baekhyun lagi. Kali ini dengan sedikit kasar.
.
.
Immortal Beast
.
.
"AAHH!"
Baekhyun berteriak kencang, mengeratkan pelukannya pada leher pemuda yang lebih kuat. Seluruh pandangannya memutih, dan rasa lega yang luar biasa. Ini luar biasa. Baekhyun menyukainya. Ia tidak sanggup bangkit dari pangkuan Luhan, dan setelahnya Baekhyun hanya bisa menyandarkan kepalanya yang sudah lelah bergerak gusar sejak tadi di atas pundak Luhan.
Rasa lengket mulai memenuhi analnya, rasanya hangat dan basah. Tetapi Baekhyun menyukainya. Ia tidak peduli dengan bau aneh yang akan di keluarkan cairan sperma mereka besok pagi, intinya... oh yang benar saja Baekhyun menginginkannya lagi!
Luhan mengusapi punggung Baekhyun, mengecup kecil-kecil pundak kurus pemuda itu.
"Nghh... Luhan,"
"Kau lelah?"
Baekhyun mendongak dengan susah payah, ia tersenyum saat jemari kuat itu membelai wajahnya yang berkeringat hebat. Baekhyun menggeleng. "Belum."
Luhan terkekeh, "Aku juga."
Dengan sigap, Luhan membalik posisi mereka. Ia baringkan dengan cepat tubuh Baekhyun di bawahnya, Baekhyun melenguh keras merasakan kejantanan Luhan yang masih bersarang pada lubangnya.
"Akh!"
"Maaf, Baek. Aku terlalu bersemangat."
Baekhyun memukul sebal pundak Luhan, lalu membiarkan lelaki itu bergerak lagi.
Baekhyun membuka lebar-lebar pahanya, membuat Luhan bisa bergerak dengan leluasa.
"Ahh..."
Luhan memulai dorongan yang pertama, menghentak walaupun sekali. Itu membuat Baekhyun memejamkan matanya merasakan kenikmatan ini.
Dan selanjutnya seperti ini, Luhan bergerak sangat cepat. Baekhyun terhentak-hentak kencang berkali-kali di kasur, ranjangnya juga berderit mengikuti pergerakan mereka.
"Ahh.. ahh.. ah! Luhan! Oh... j-jangan terlalu ugh kencang... AHH!"
Luhan menulikan telinganya, ia terus bergerak seperti itu. Baekhyun meremas-remas spreinya sesekali menjambak rambut lelaki di atasnya yang hanya mempedulikan orgasme yang akan segera datang. Sungguh, ia bisa gila. Baekhyun ingin mencabik-cabik rusa di hutan rasanya.
"L-luhan! Luhan sudah jangan terlalu akh ken—ngh—cang! Ahhh... ah.. ah.."
Kejantanan Luhan terasa membesar di dalam lubang analnya, seluruh wajah Baekhyun memerah lagi karena hasrat yang akan segera tumpah itu. Miliknya sendiri sudah akan keluar dan oh sungguh apakah Luhan akan mengijinkannya keluar duluan lagi?
"Ahh... ahh.. ahh oh nghh..."
Baekhyun terhentak semakin kencang, Luhan menghajar prostatnya telak tanpa ampun. Di sisi lain ini menyenangkan, membuatnya menjerit nikmat dan tersiksa secara bersamaan. Dan setelah itu, cairannya menyemprot terlebih dahulu membasahi perut mereka berdua.
"AKH!"
Baekhyun memeluk erat Luhan yang berada di atasnya, Luhan masih bergerak kencang. Membuat Baekhyun tidak sanggup lagi. "Nghh.. Luhan ah cepat!"
Dan, Luhan membasahi seluruh lubangnya. Menjadikannya hangat untuk kesekian kalinya, membuat Baekhyun merasakan kelegaan luar biasa saat mereka datang.
Luhan membiarkan Baekhyun yang masih setia memeluk setengah mencakar punggungnya, setelah itu—saat Baekhyun melepaskannya dan berbaring, Luhan mengusap dahi berpeluh tersebut. Lalu mengecup dahi Baekhyun sayang.
"Tidurlah..."
Setelahnya ia membiarkan Baekhyun yang masih sibuk mengontrol nafas, dirinya membaringkan tubuh di samping Baekhyun kemudian merengkuhnya dalam dekapan hangat.
.
.
.
Chanyeol menggigit apelnya dengan santai, ia duduk di atas pohon yang tidak terlalu tinggi. Hal itu membuat tatapan malas dari Sehun maupun Jongin. "Yang benar saja, Chanyeol! Kau gagak gila! Dimana Luhan?!"
Jongin berseru sebal, seluruh rahangnya mengeras lantaran kesal dengan kelakuan Chanyeol yang terlampau santai juga kekanakan. Sehun tidak berhenti mengusap pundak Jongin itu berkali-kali, berusaha menahan amarah sang kekasih.
Chanyeol memutar bola matanya, lalu bersiul. Itu terlihat puluhan ribu lipat lebih menyebalkan di mata Jongin. "Chanyeol!"
"Kau mau tahu, kan? Lihat saja, beberapa saat lagi anak itu akan datang dengan kekasihnya. Kau tahu, bahkan aku hampir menangis karena melihat mereka bercinta di sungai kemarin! Menyebalkan sekali!"
Chanyeol mendengus, merengut di buat-buat sambil melipat kedua tangannya di dada. Sehun membulatkan matanya, "Kekasihnya? Memangnya Luhan punya kekasih?"
Chanyeol memutuskan merubah wujudnya menjadi gagak, lalu terbang turun. Ia berubah lagi menjadi manusia lagi saat tiba di hadapan Sehun maupun Jongin yang sudah lelah menunggunya menghabiskan seonggok apel sejak tadi. Itu hanya membuang-buang waktu.
Jongin mengerutkan keningnya, "Kau bilang dia terluka, tetapi kenapa sekarang kau bilang Luhan punya kekasih?"
Chanyeol meniup-niup poninya yang jatuh di atas dahi, "Kau tahu, awalnya memang ya si sialan itu terluka dan memintaku untuk mencari bantuan ke tempat kita. Makanya, aku menunggu di sini untuk berjaga-jaga barangkali kalian sudah tiba. Dan, hebatnya yang aku dapati malah Luhan enak-enakan menyodok keras—"
"YA! Ya ! Hentikan ucapan menjijikkanmu itu!"
Sehun menutup telinganya geli, iris merahnya menatap jijik ke arah Chanyeol.
Chanyeol mendengus lagi untuk kesekian kalinya, "Kau berlebihan sekali, memangnya kau tidak pernah melakukannya dengan Jong—"
"Whoa! Sudah, jangan sebut-sebut namaku!" Jongin melotot, sedangkan kekasihnya itu menunduk dengan wajah memerah padam karena malu.
Chanyeol tertawa keras melihat itu, "Dan kau tahu apa? Anak itu menyetubuhi manusia."
"APA?!"
Chanyeol refleks mengangkat kedua telapaknya, menutup lubang telinganya. "Jangan berteriak!"
"Kau serius, Chanyeol?"
"Tentu saja."
Dan Chanyeol merasakan sesuatu, ia mendengar suara langkah kaki dari kejauhan. Menyadari itu, kedua bola matanya membulat sempurna. Dengan segera, ia menepuk-nepuk lengan dua temannya dengan tergesa.
"Apa yang kau lakukan?" Sehun dan Jongin berseru sebal.
"Bodoh! Itu Luhan! Cepat-cepat kalian harus sembunyi!"
Dengan sedikit gelagapan, Sehun dan Jongin merubah wujud mereka seperti semula dan mencari semak-semak berlumpur. Berharap Luhan tidak bisa mencium aroma mereka dari radius dekat. Ya, bau basah lumpur bisa mengelabui apapun. Sedangkan Chanyeol memilih bertengger pada dahan yang lebih tinggi lagi di pohon pinus itu.
Dan benar, yang mereka dapati di situ adalah sosok Luhan—dengan wujud manusia, ia berjalan bergandengan tangan dengan manusia lainnya. Pemuda dengan tubuh yang lebih kecil, menggunakan jubah merah tebal. Kalau mereka menyebut dua orang itu sebagai sepasang kekasih, tidak dapat di pungkiri lagi—mereka memang terlihat seperti itu.
"Baek?"
Baekhyun menoleh, setengah mendongak untuk menatap Luhan yang lebih tinggi. "Ya?"
"Apa kau lapar? Aku bisa carikan hewan buruan untuk—"
"Tidak!" Baekhyun memotong ucapan Luhan, "—aku tidak lapar, Luhan." Anak itu tersenyum, membuat Luhan juga ikut tersenyum melihat itu.
Baekhyun tidak pernah menduga, Luhan akan menampakkan ekspresi seperti itu untuk kesekian kalinya pada dirinya. Padahal, Baekhyun kira Luhan akan terus diam. Ya, diam—tidak sejak kejadian kemarin maupun semalam. Mereka bahkan sudah bersetubuh, yang benar saja!
"Kau mau menemaniku mandi?"
"Ti-dak! Aku mau, euhm—"
Baekhyun mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada kening, membuat dahi Luhan mengerut melihat hal itu. "Kau mau apa?"
Baekhyun tersenyum misterius, setelah itu mengecup kilat sebelah pipinya dan lalu...
"Coba tangkap aku kalau kau bisa!" ia berlari. Memancing lelaki yang lain untuk mengejarnya. Sedangkan Luhan masih membeku pada posisinya. Hey, apa-apaan tadi? Baekhyun berniat mengajaknya untuk bermain tangkap-tangkapan, begitu? Luhan baru menyadari posisi Baekhyun yang sudah sedikit jauh darinya. Baekhyun sendiri berlari melewati semak, tak sengaja tersangkut duri pada jubah tudung besarnya.
Luhan, yang memang bisa berlari puluhan kali lipat lebih cepat dari manusia—mencoba mengejar Baekhyun. Dengan sigap, ia sudah sampai di belakang anak itu lalu...
GREP—
Luhan tertawa, sedangkan Baekhyun—anak itu mengangkat kepalanya. "Aku menangkapmu." Baekhyun tertawa. Anak itu membiarkan Luhan memeluknya dari belakang barang sejenak saja, lalu ia menengadah. Yang lebih tinggi mengecup bibirnya. "Aku—"
"Ayo kita main lagi! Kejar aku!" ia terkikik, meninggalkan lelaki itu terdiam di tempat.
Luhan tersenyum, lalu ia mencoba mengejar Baekhyun lagi.
Baekhyun mencari persembunyian lain, maksudnya pelarian yang lebih bagus. Ia bolak-balik, berpindah tempat dari pohon pinus satu ke yang lainnya dengan menempel erat pada batang besar pohon. Luhan tertawa, sampai akhirnya ia bisa menangkap Baekhyun.
"Kena kau!"
"Luhan!" Baekhyun terkikik geli. Ia membiarkan dadanya yang naik turun lantaran lelah berlari, kemudian punggung yang bersandar pasrah dengan Luhan yang ada tepat di hadapannya. Luhan menempelkan dahinya pada milik Baekhyun. Sesekali, ia mengusapi dahi Baekhyun.
Luhan mengecup cepat bibir itu.
Oh, jangan lagi...
Baekhyun berteriak keras dalam hati. Jika Luhan sudah melakukan ini, mau tidak mau tubuhnya juga akan merespon lebih jauh. Walaupun di sisi lain, Baekhyun juga menginginkan ini semua. Tetapi, apakah bagus jika melakukan itu terlalu sering? Baekhyun yakin, ini tidak akan menjadi sekedar ciuman singkat saja. Pasti akan lebih dari itu. Sangat jauh.
"Lu—"
Baekhyun belum bisa meneruskan ucapannya, Luhan sudah meraup seluruh bibirnya. Lelaki itu mengambil alih seluruh rongga mulutnya, mengecapi tiap-tiap gigi juga mengajak lidah Baekhyun untuk bertarung. Walaupun pada akhirnya Baekhyun akan tetap pasrah dan kalah karena kehabisan nafas.
"Hmmphh..!"
Baekhyun melenguh keras, Luhan sudah melepaskan jubahnya sampai jatuh ke tanah. Luhan mendesak tubuh Baekhyun yang lebih kecil itu untuk lebih merapat pada pohon.
Rengkuhan lengan kokoh Luhan semakin kuat, membuat Baekhyun tidak bisa bergerak. Setelahnya, ciuman mereka terputus. Akan tetapi, semuanya tidak berhenti sampai di situ. Luhan memang memutuskan ciuman mereka dengan sepihak, begitu juga cara lelaki itu memulainya. Akan tetapi, Luhan malah melepaskan pakaiannya sendiri dengan cepat. Setelah tanggal seluruhnya, ia mulai meluncuti seluruh pakaian yang di kenakan Baekhyun sampai tampak tubuh putih mulus tanpa cacat itu dengan jelas. Dua iris biru anak itu menatap lelah pada Luhan.
Tanpa banyak bicara, Luhan langsung membalikkan tubuh Baekhyun pada pohon. Membuat anak itu membelakanginya. Luhan tidak sanggup menatap iris biru itu terlalu lama, itu hanya akan membuatnya jatuh sangat dalam. Entah kenapa, Luhan merasakan hal seperti itu untuk pertama kalinya. Baekhyun mencakari batang pohon pinus itu sesekali saat merasakan Luhan bergerak untuk menciumi leher, punggungnya, sampai turun ke belahan bokongnya.
"Ahh..."
Baekhyun memasrahkan seluruh tubuhnya pada Luhan, dan menjadikan pohon itu satu-satunya sandaran.
"Luhan!"
Luhan berdiri, memposisikan kejantanannya yang sudah sangat tegang pada lubang anal Baekhyun. Dan, memasukkannya sekali hentak.
"Akh!"
Baekhyun menjerit, mencakar-cakar pohon itu dengan gemas. Rasanya masih sama, panas dan sakit saat baru masuk. Dan, Luhan bergerak dengan cepat. Memeluk Baekhyun dengan posesif seolah-olah ini adalah hari terakhir mereka bertemu, seolah Luhan ingin selalu seperti ini dengannya. Sesekali, Luhan mengecupi belakang telinga Baekhyun. Membuat Baekhyun menggelinjang tak karuan.
"Ah... ahh... ah ah ah AH!"
Baekhyun membiarkan Luhan menghajar prostatnya sesuka lelaki itu, dirinya hanya ingin menikmati masa-masa datang yang melegakan ini. "Nghh..."
Baekhyun melenguh tat kala merasakan cairan itu penuh pada lubang analnya. Seperti kemarin maupun yang kemarin itu. Lagi-lagi mereka bersetubuh di hutan. Tetapi, masa bodoh dengan segala hal!
Luhan memeluk erat tubuh Baekhyun, ia sandarkan kepalanya pada pundak Baekhyun.
Nafas mereka saling berbalap-balapan.
"Aku ingin mandi..."
"Ngh... aku juga."
Luhan menarik kejantanannya keluar, lalu mengangkat tubuh Baekhyun dan membawanya ke arah sungai yang hanya beberapa langkah dari tempat mereka sekarang ini.
Di tempat lain, Sehun maupun Jongin tak henti-hentinya membulatkan mata, meringis perih, bahkan menganga. "Bodoh, bilang saja dia menyukai sesama jenis. Dasar Luhan sakit jiwa!" Jongin berseru kesal. Kesal karena Luhan selalu menghinanya menjijikkan karena sering ketahuan bercinta dengan Sehun.
Sehun sendiri tidak merespon apapun, ia hanya menelan ludah berkali-kali. Mendadak bayangan-bayangan dirinya yang sering melakukan itu bersama Jongin muncul dan menari-nari di pikirannya.
Apa yang aku pikirkan?!
Dan Chanyeol hanya bisa tertawa kencang, ia hampir saja terjatuh—karena merasakan getaran kegiatan Luhan dan kekasih manusianya itu. Tentu saja, bagaimana tidak? Pohon yang mereka sandari adalah pohon yang sama dimana tempat Chanyeol tengah bersembunyi.
.
.
.
To Be Continued—
.
.
.
Or End?
.
.
Sorry for late update. Eonni butuh niaaatt besaar sekali untuk melanjutkan semuanya. Huh, maaf juga pendek karena ini belum masuk konflik antara manusia dan bangsanya Luhan. Insyaallah sih, chapter depan wkwkwk. Nanti kalo kebanyakan adegan couple, bosen kan? Hehe.. langsung saja...
Thanks To:
[BaixianGurls] [Kang Seulla] [NoonaLu] [jasminejas] [baekyeonra] [dhantiee] [BongoBaster] [lustkai] [Guest] [indri kusumaningsih] [Nyssa HunHan] [HyuieYunnie] [luthfindasf] [bellasung21] [LoveHyunFamily] [KkamBaekFan] [Keepbeef Chiken Chubu] [Eun810] [rachel suliss]
Wanna give me some reviews again?
