Naruto ©Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Chapter 6

.

.

"Sakura..." ucap Sasuke dengan senyum manis penuh percaya diri.

Sakura masuk dan menggeret Sarada meninggalkan Sasuke yang ternganga. Sakura mengabaikannya untuk ke dua kalinya? Sungguh menakjubkan. Apa dia sangat tidak menarik di mata wanita pink itu. Ugh jadi janda beranak saja sikapnya menyebalkan begitu, apalagi jika seorang gadis. Sasuke tak mampu membayangkan betapa menjengkelkannya Sakura jika seorang gadis. Ibu dan anak sama-sama menjengkelkan.

"Bukankah mama sudah bilang jangan memasukan orang asing ke dalam apartemen?" Sakura berkacak pinggang. Sarada memutar bola matanya malas. Dan tanpa mereka berdua ketahui Sasuke juga memutar bola matanya malas mendengar kekhawatiran Sakura. Memangnya tampangnya seperti penjahat sampai wanita itu tak perlu menanyakan siapa dia dan justru langsung memarahi Sarada.

"Aku mengenal mereka ma."

"Mereka orang asing Sarada-chan. Kenal sehari dua hari tak membuatmu mengenal mereka dengan baik."

"Mereka akan main di sini sampai hari selasa." Sakura melotot lalu menoleh pada Sasuke dan Kenichi yang menonton dibelakangnya. Sakura beralih berkacak pinggang di hadapan Sasuke dan Kenichi.

"Apa yang kau inginkan dengan mendekati Sarada-chan?" Ketus Sakura. Dia mengabaikan protes batinnya yang berkali-kali menjeritkan betapa tampannya pria ini. Sakura mengerang dalam hati, batinnya seperti sudah meneteskan air liur melihat betapa menawannya Sasuke. Dia merasa familiar dengan perasaan ini. Ah benar, dia pria bertampang playboy yang menyapanya kemarin. Hanya itu? Sakura masih merasa tak puas dengan kesimpulannya. Lupakan. Sakura menguatkan hatinya, kebaikan Sarada lebih penting dari apapun.

"Aku mau Sarada-nee jadi onee-chanku." Sahut Kenichi lantang. Dahi Sakura berkerut melihat Kenichi. Sedangkan Sasuke melengos, tidak mungkinkan dia bilang mendekati Sarada agar bisa memiliki ibunya.

"Dengar ya anak kecil... Aku tak pernah berniat menikah dengan tou-sanmu jadi Sarada-chan tak akan pernah jadi nee-chanmu. Pulanglah." Sakura melambai-lambaikan tangannya mengusir dua pria itu dari apartemennya.

Sasuke nyaris tertawa mengetahui Sakura salah sangka tentang hubungannya dengan Kenichi. Dan bagaimana mungkin Sakura bisa menyimpulkan Kenichi menginginkan ayahnya menikahi Sakura. Terlebih lagi jika Konan mendengar ucapan Sakura, pasti akan terjadi perang dunia shinobi ke lima.

Saat Sasuke akan menyahuti ucapan Sakura ponselnya berbunyi. Rentetan pesan dari ayah, ibu, kakak dan kakak iparnya masuk bersamaan. Sangat mengejutkan. Apa mereka merencanakan penganiayaan pada psikis Sasuke bersama? Terserah. Yang jelas sekarang yang harus mereka lakukan adalah pulang.

"Ah maaf, tapi kami harus pulang." Sasuke tersenyum manis. Dia akan memikirkan ini lagi nanti. Tapi Sakura butuh shock terapi untuk kesalahannya karna melupakan Sasuke. Tanpa di duga siapapun Sasuke mengecup ringan pipi Sakura membuat tubuh wanita pink itu membeku. "Dah Sakura." Ucap Sasuke lalu menggeret Kenichi pergi dari situ sebelum Sakura sadar dan mengamuk. Melihat Sarada dan bagaimana Sakura memarahi gadis kecil itu cukup memberi petunjuk pada Sasuke sedikit tentang sifat Sakura. Tapi yang paling mengejutkan adalah dia masih sangat menginginkan Sakura, mungkin dengan Saradanya sekaligus tidak akan menjadi hal buruk. Sasuke tersenyum tipis.

Sementara itu Sarada mengerang kesal melihat mamanya telah menghancurkan beberapa barang di apartemen mereka. Terutama kardus-karsus bekas makanan yang di bawa kenichi dan juga sebagian besar mainan yang di tinggalkan bocah itu. Sarada sama sekali tak pernah habis pikir apa yang ada di kepala raven Sasuke. Bukankah mereka baru kenal tapi berani sekali pria itu mencium mamanya. Benar-benar prilaku buruk yang seharusnya tak dilakukan di depan anak kecil. Biar bagaimanapun dia dan Kenichi seharusnya belum boleh melihat hal seperti itu.

"Aaaah apa yang tadi dia lakukan?" Sarada memutar bola matanya bosan melihat Sakura memegang ke dua pipinya yang memerah malu-malu. Dalam kurun waktu satu menit satu detik mamanya bisa berubah dari monster mengerikan menjadi gadis kemayu. Sarada semakin malas melihat mamanya duduk di sofa dan bergerak-gerak tak jelas dengan senyum aneh yang belum pernah Sarada lihat sebelumnya. Mungkin mamanya tiba-tiba menjadi gila. Gadis itu lebih memilih membereskan kekacauan yang di buat Sakura.

Di mulai dari sore itu hampir semua yang Sakura lakukan tidak ada yang benar. Saat Membantu Sarada mengumpulkan pecahan barang yang Sakura banting tiba-tiba Sakura terdiam. Wajahnya berubah merah dengan cepat. Wanita pink itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dua tangannya menangkup pipinya. Dan berakhir dengan pecahan barang yang sudah di kumpulkan berceceran kembali.

"Mama..." protes Sarada yang akhirnya memilih membersihkan itu sendirian.

Saat membuat makan malam entah kenapa Sakura mengomel dan menyebut 'tidak baik bagi Sarada' dan 'playboy tampan' dan 'tidak menyukai anak kecil' dan 'sepertinya ayah dan anak merepotkan'. Sarada mengalihkan tatapannya dari hikayat Genji pada mamanya yang lebih cocok di bilang mengamuk daripada memasak.

"Mama..." tegur Sarada yang hanya di jawab dengan cengiran oleh Sakura.

Dan saat mereka tidur berkali-kali Sakura terkikik geli. Dan berkali-kali Sakura mendengus kasar dan menggerutu tak jelas. Sarada hanya menghela nafas malas membiarkan Sakura bergerak-gerak tak jelas di ranjang. Sebenarnya sangat mengganggunya.

"Mama menyukainya?" akhirnya Sarada menyerah membiarkan Sakura bertingkah tak jelas. Gadis kecil itu berguling menghadap Sakura.

"Ah Sarada-chan bicara apa sih? Itu tak mungkin." Sarada menghela nafas mendengar ucapan Sakura yang terkesan sok meyakinkan. Gadis kecil itu meragukan posisinya sebagai anak karna saat ini Sakura jauh lebih pantas menjadi anaknya.

"Aku tak keberatan jika mama menyukainya. Mama seperti lebih membutuhkan suami daripada aku yang membutuhkan papa." Sarada tersenyum meyakinkan Sakura melakukan apapun yang dia inginkan. Sudah cukup Sakura selalu mengatakan demi kebaikannya. Mamanya perlu memikirkan apa yang di butuhkannya tanpa menjadikan Sarada sebagai penghalang.

"Sarada-chan... Kau yang terpenting bagi mama. Mama tak akan menempatkanmu di posisi sulit." Sakura mengusap lembut wajah putrinya. Memangnya mamanya tak berpikir, melihat mamanya bertingkah tak jelas juga termasuk posisi sulit.

"Aku akan bilang jika aku kesulitan. Lakukan apapun yang mama sukai sampai aku protes." Sakura terkekeh mendengar ucapan putrinya. Dia sangat tahu Sarada selalu di luar ekspektasinya. Dia tak akan bisa bertingkah bagai pahlawan di depan putrinya.

"Kau manis sekali Sarada-chan." Sakura menarik Sarada ke pelukanya.

"Hn." Ucapan Sarada menjadi kata terakhir malam itu. Mereka tidur dengan berpelukan dan senyum di bibir masing-masing. Sarada menyadari ketertarikan mamanya pada Sasuke karna mamanya tak pernah bertingkah aneh seperti ini jika itu bukan Sasuke yang melakukan. Sakura pernah di peluk Sasori, tak sengaja berciuman dengan Deidara, merangkul pemilik pet shop, tak sengaja di rangkul Menma saat terpeleset dan tak ada yang berubah dari sikap mamanya. Dalam kasus Kiba dan Menma justru dua orang itu yang salah tingkah. Sarada tersenyum tipis sebelum akhirnya terlelap.

Sakura mengerjapkan matanya merasakan nafas Sarada sudah teratur. Gadis kecilnya sudah terlelap. Sakura menekuri wajah mungil kesayangannya. Dia tak bisa menahan segala tingkah anehnya hari ini. Dan putrinya begitu menakjubkan dengan memberinya kesempatan melakukan apa yang dia inginkan. Sakura tak mungkin bisa bilang jika ada perasaan familiar saat melihat Sasuke dan perasaan melambung saat di cium pria itu. Sakura tak bisa bilang jika pria itu sangat mengingatkannya pada bayangan buram pria yang bercinta dengannya. Bahkan surai raven dan onix itu membuatnya seperti melihat Saradanya. Sakura tersenyum tipis. Dia tak akan berharap banyak untuk dirinya, baginya Sarada adalah yang terbaik darinya dan sumber kebahagiaannya. Dia akan melakukan seperti yang Sarada mau.

.

.

.

.

Sasuke mengencangkan dasinya. Dia menghela nafas lelah saat mendengar suara langkah menghentak-hentak menuju kamarnya. Apa tak puas wanita ini mengganggunya sejak semalam? Telinga dan otaknya bisa stres jika harus mendengar ocehan panjang tak jelas.

"Kenichi-kun." ah suara lembut tapi menyebalkan ini harusnya bisa mempertimbangkan terlalu pagi untuk mengacau kamarnya. Ini kamarnya, kenapa wanita itu bertingkah seolah ini kamar bocah tengil yang masih mimpi indah di ranjangnya. "Kenichi-kun bangun. Ojii-san sudah menunggumu di meja makan." Konan menggoyang pelan tubuh Kenichi.

"Kaa-san." Kenichi mengucek lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Tiba-tiba bocah itu terduduk cepat membuat Konan Sangat terkejut. "Ji-saaan!" jerit Kenichi mengejutkan Konan dan juga Sasuke yang berniat membuka pintu.

"Ji-saaaan aku tak mau di tinggal." Kenichi berlari dan memeluk kaki Sasuke. Sasuke mendongak dan mendengus kesal melihat tingkah Kenichi. Sejak dia menjanjikan akan membawa bocah itu ke tempat Sarada lagi kemarin, Kenichi sama sekali tak mau berpisah darinya. Bocah itu sangat takut Sasuke meninggalkannya.

"Kenichi-kun, kita mandi dulu ya." bujuk Konan. Wanita ini sejak semalam uring-uringan karna Kenichi benar-benar mengacaukannya. Siapa suruh terlalu sibuk bekerja hingga sering menitipkan Kenichi padanya.

"Aku mau mandi dengan ji-san." rengek Kenichi.

"Tidak. Kau tidak lihat penampilanku? tidak mungkin aku memandikanmu." ketus Sasuke. Yang benar saja. Bocah ini sangat merepotkannya sejak tadi malam, dia bahkan tak punya waktu memikirkan Sakura dan Sarada karna Kenichi benar-benar tak mau lepas darinya. Anak ini terus memegangi baju atau celananya.

"Kau. Jaga nada bicaramu. Kenichi masih kecil, tak pantas mendengar ucapan pedasmu." ketus Konan memasang wajah sangar.

"Dia sama sekali tidak seperti anak kecil. Terlalu menyebalkan."

"Beraninya kau bilang dia menyebalkan! Kau pikir kau siapa? Kenichi seorang Uchiha." Memangnya aku bukan uchiha?. "Kenichi adalah cucu dari Fugaku yang merajai dunia bisnis." Aku anak raja bisnis itu. "Kau harusnya memperlakukan Kenichi dengan baik." Kau juga harusnya memperlakukanku dengan baik. Dan Sasuke hanya bisa menyahuti segala ucapan Kenichi begini dan begitu Konan dalam hati.

"Ji-saaan." teriakan Kenichi terdengar ke seantero kediaman megah Uchiha saat Sasuke melangkah menyeret kakinya yang di gelayuti Kenichi.

"Kenichi-kun lepaskan dia." Konan berusaha melepaskan pegangan Kenichi pada Kaki Sasuke yang terus berusaha berjalan mengabaikan Kenichi yang merengek di kakinya.

"Aku merasa terluka melihat kalian seperti itu." Ucap Itachi yang berdiri di tangga. Sepertinya dia berniat menyusul mereka. Sasuke memutar bola matanya mendengar ucapan Kakaknya itu.

"Jangan bilang aku harus menjelaskan ini." Ketus Sasuke. Itachi hanya mengangkat bahunya yang entah apa artinya. Pria itu mendekati Kenichi yang masih menempel di kaki Sasuke seperti kotoran.

"Kenichi ayo sama tou-san." ucap Itachi lembut.

"Aku cuma mau sama ji-san. Tou-san sama kaa-san saja." Wajah Itachi memucat mendengar ucapan putra tunggalnya. Di dalam lubuk hati pria itu menyesal jarang meluangkan waktu bersama Kenichi. Sekarang bahkan putranya lebih memilih bersama pamannya di banding dirinya.

"Lihatkan. Dia sudah meracuni otak Kenichi-kun, sayang." tuduh Konan yang dari tadi kesal karna Kenichi tak mau lepas dari Sasuke. Pria raven itu cemberut mendengar tuduhan Konan. Memangnya siapa yang berinisiatif mencampurkan Kenichi dengannya setiap hari?

Setelah adegan saling umpat dan rengekan serta teriakan dan berakhir dengan ikut campurnya Mikoto, masalah selesai. Kenichi tak lagi menempel pada Sasuke tapi mengikuti kemanapun Sasuke pergi. Seperti anak itik yang berjalan di belakang induknya. Sangat menggemaskan untuk sebagian orang, namun sangat menjengkelkan untuk Sasuke.

Belum lagi kelakuan Mikoto yang bagai gadis labil banyak pertanyaan saat tahu kemarin Sasuke membawa Kenichi bertemu Sarada. Sasuke jadi penasaran sebenarnya pelet macam apa yang di gunakan anak itu sampai hampir tiap orang yang berurusan dengannya bagai anak anjing manis penjilat.

Dan fakta mengejutkan baru Sasuke ketahui saat dirinya memutuskan membaca berkas tentang Sakura secara keseluruhan. Wanita pink itu tak pernah menikah. Di usir dari keluarga besarnya. Dan pindah dari kotanya ke kota ini. Itulah alasannya selama ini Sasuke tak bernah bertemu secara kebetulan di kota tempat dia sekolah. Keluarga Sasuke baru pindah ke kota ini setelah pria itu lulus kuliah.

Sasuke mendesah. Tak ada hal spesifik yang menjelaskan bagaimana kehidupan Sakura setelah terusir dari rumah karna kehamilannya. Lagi pula Sasuke tak bisa memikirkan alasan Sakura tak menikah. Mungkinkah pria yang di jodohkan dengannya kabur setelah menghamilinya? Jika memang begitu seharusnya mudah saja bagi wanita itu mencari pasangan sementara untuk menutupi aibnya. Haruno Kizashi, ayahnya adalah rekan bisnis Uchiha. Itu berarti mereka tak perlu mengkhawatirkan masalah finansial. Jadi apa sebenarnya alasan wanita pink itu memilih terusir dari rumah?

Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Mungkin bisa jam makan siangnya di gunakan untuk mengantarkan Kenichi ke apartemen Sarada. Bocah itu benar-benar keras kepala. Dia bahkan menolak ajakan Mikoto yang mengunjungi panti asuhan milik yayasan keluarga mereka. Padahal biasanya Kenichi akan senang jika di ajak bertemu dengan teman-teman baru. Ternyata bocah itu begitu terhipnotis oleh pesona Sarada.

.

.

.

.

Sarada mengetuk-ngetukkan jarinya di pipinya. Dia melirik paman merah dan paman pirangnya yang sedang membuat sesuatu di dapur. Mereka bilang makan siang, tapi Sarada tak yakin karna baunya sangat jauh dari bayangan makan siang yang setidaknya layak.

"Hei Sasori. Apa yang kau masukkan? Kenapa warnanya hitam begini?" oceh Deidara mengerutkan keningnya. Niatnya membuat nasi goreng tapi kenapa jadinya seperti... entahlah.

"Mana aku tahu. Aku hanya memasukkan kecap seperti yang kau bilang." elak Sasori. Mana mau dia menjadi pihak yang bersalah. Sarada menghela nafas mendengar perdebatan dua pamannya. Mereka memaksa menemani Sarada dengan alasan dunia sudah tak aman. Akan banyak penculik yang mengincar Sarada. Padahal mereka lebih menyeramkan dari pada penculiknya. Lagi pula mereka seperti pengangguran kelas kakap saja.

Putri tunggal Sakura itu menatap lama nasi goreng buatan Sasori dan Deidara yang di hidangkan di depannya. warnanya agak kehitaman. Potongan cabenya seperti ban mobil. Telur mata sapinya tak punya mata. Sebenarnya bagaimana cara ke dua pamannya membuat nasi goreng. Perlahan Sarada mendongak menatap dua pamannya yang menunggu reaksinya dengan cemas. Cengiran mereka nyaris menyerupai orang yang sedang sembelit.

"Paman?" Akhirnya Sarada mengeluarkan suaranya juga. Tapi justru itu yang semakin membuat Sasodei makin tak tenang. Mereka menggerutui jasa katering yang biasa mereka gunakan karna tak mengajari mereka memasak.

"Y... ya Sarada-chan..."

"Kalian menyamakan mulutku dengan tong sampah?" Sasodei menganga tak mengerti maksud ucapan gadis kecil mereka.

"A... apa maksudmu Sarada-chan?" Sarada menghela nafas kesal memandang dua pamannya. Dia sangat tahu betapa pamannya melakukan ini dengan sangat serius. Tapi sungguh, dia bukan lelucon yang harus memakan makanan yang jauh dari bentuk makanan yang layak.

"Sudahlah... Aku..." Ucapan Sarada terputus saat bunyi bel terdengar. Sarada akan beranjak namun Deidara cepat mendahuluinya.

"Aku yang akan membukanya Sarada-chan." Sarada mendudukkan kembali bokongnya di kursi. Dia menatap Sasori yang masih nyengir padanya.

"Paman benar-benar ingin aku memakan ini?" Tanya Sarada. Belum sempat Sasori menjawab, teriakan dan suara gaduh terdengar dari ruang depan. Sarada dan Sasori bergegas beranjak menuju ke sumber keributan.

.

.

.

.

Sasuke menekan bel apartemen Sakura. Dia mengantar Kenichi bertemu Sarada lagi. Gadis kecil itu yang mengatakan bisa menemani Kenichi sampai hari selasa nanti. Jadi seharusnya tidak masalah menyenangkan hati keponakannya kan? Sebenarnya dia juga butuh Sarada untuk mengoreksi informasi yang lebih pribadi tentang Sakura. Katakan dia sudah gila, tapi Sarada terlalu lebih dari cukup untuk mengerti apa yang akan mereka bicarakan, menurutnya.

"Ji-san kuning?!" ucap Kenichi terkejut saat melihat Deidara yang membuka pintu.

"Kau? Remora?" Ucap Deidara tak kalah terkejut. Otak Deidara langsung bekerja cepat saat melihat tuyul saingannya berkunjung ke rumah Sarada-chan. Dia tak akan membiarkan bocah ini bertemu dengan Saradanya. Sedangkan Sasuke mengangkat alisnya bingung melihat kilatan persaingan di mata pria pirang ini dan keponakannya.

"Jangan harap aku... waaaa heeeii!" Kenichi menerobos masuk tanpa mendengarkan ucapan Deidara. Dengan geram Deidara mengejar Kenichi. "Kembali kau remora!" Sasuke mengerutkan dahinya mendengar panggilan Deidara pada Kenichi. Biarpun dia tak menyukai Kenichi bukan berarti dia suka mendengar keponakannya itu di panggil dengan sebutan yang menyebalkan seperti itu.

"Waaaa... Ji-saaan... nee-chaaan..." Kenichi berteriak dan berusaha memberontak saat Deidara menarik kerah bajunya dari belakang.

"Jangan coba-coba..."

"Kau yang jangan coba-coba menyakitinya pirang." Sasuke menarik rambut panjang Deidara yang langsung panik mengkhawatirkan rambut indahnya yang baru saja di sembuhkan dari penderitaan karna serangan Sakura kemarin. Sementara tangan kirinya tak melepaskan Kenichi yang sibuk memberontak tangan kanannya berusaha melepaskan rambutnya dari genggaman Sasuke. Tak lupa mulutnya yang berteriak mengimbangi teriakan Kenichi. Sasuke yang melihat kepanikan Deidara hanya memutar bola matanya malas. Pria itu terlihat tak rela rambutnya di tarik dan tak rela melepaskan Kenichi. Tapi Sasuke tak akan melepaskan rambut pirang di genggamannya sebelum pria itu melepaskan Kenichi. Biar bagaimanapun dia harus melindungi Kenichi dari mara bahaya. Luka Kenichi sama dengan kesialan baginya. Bayangkan saja empat ekor macan Uchiha yang sedang sibuk dengan urusanya masing-masing nun jauh di sana.

"Apartemen ini seperti taman kanak-kanak." Desis Sarada seraya bersidekap saat melihat kelakuan tiga orang itu. Seharusnya dia sudah bisa menduga keributan macam apa yang akan terjadi di apartemennya jika mereka semua berkumpul. Sedangkan Sasori menatap waspada pada dua pendatang baru. Sarada mendesah malas melihat reaksi Sasori. Tak adakah yang bisa bersikap normal di sini?

"Hei. Hentikan si pirang yang menyerang Kenichi ini." Ucap Sasuke dengan nada datar yang lebih terdengar sebagai perintah saat tak sengaja dia melihat sosok yang menjadi obsesi semua orang. Mana mungkin seorang Sasuke meminta tolong dan memohon pada seorang gadis kecil.

"Kau. Jangan bertingkah sebagai pewaris di sini. Tak ada satupun yang boleh memerintah Sarada." Sarada mendengus melihat paman merahnya berkacak pinggang menantang Sasuke. Gadis Kecil itu merutuki ketenangan hidup yang hampir tak pernah menghampirinya. Anggapan ibunya tentang skorsingnya sebagai liburan salah besar. Ini lebih membuat stres di banding pelajaran sekolah.

"Dia akan menurutiku." ucap Sasuke dengan nada meremehkan. Sasori melotot tak terima. Begitu juga Deidara. Belum sempat dua orang itu memprotes suara Sarada lebih dulu menyapa indera pendengaran mereka.

"Aku akan mengusir kalian tanpa kecuali jika membuat keributan di sini." Ancam Sarada.

"Sarada-chan..."

"Nee-chan." Sarada justru membuka pintu dan menatap empat orang di depannya. Gadis cilik itu mengangkat bahunya sembari melirik ke arah luar.

"Ah aku melepaskannya. Jangan usir aku." Deidara melepaskan tangannya dari kerah Kenichi membuat bocah itu tersungkur dan mengaduh. "Lepas." Deidara menarik rambutnya hingga terlepas dari cengkeraman Sasuke. Pria pirang itu mengusap rambutnya yang sedikit kusut dengan sayang. Dia tak peduli rasa sakit di kepalanya akibat tarikan Sasuke, yang penting rambutnya sehat.

Sasuke hanya mengangkat alisnya tak acuh. Dalam hati dia sangat penasaran dengan pengaruh Sarada pada semua orang. Bahkan ibunya menaruh perhatian lebih pada gadis cilik ini. Sasuke tak mau mengakui ini, tapi dia juga menaruh perhatian lebih pada Sarada. Yah meskipun itu karena dia putri dari Sakura. Mungkin lain kali Sarada harusnya mencalonkan diri menjadi presiden.

Akhirnya kondisi bisa tenang karna masing-masing tak mau membuat Sarada marah. Deidara dan Sasori menahan diri saat Sasuke mengatakan masakan mereka lebih cocok masuk ke tempat sampah dari pada ke mulut. Sarada tersenyum sinis mendengar pemikiran Sasuke yang entah kenapa mirip dengannya.

Sasuke mengerang dalam hati saat Deidara dan Sasori menghalangi niatnya mengobrol dengan Sarada. Padahal dia sangat ingin mencari tahu informasi pribadi Sakura. Dan yang paling berisik Kenichi. Berkali-kali bocah itu berteriak kesal saat Sasori dan Deidara bekerja sama menghalanginya yang berusaha menarik perhatian Sarada.

Sasuke menghela nafas bingung saat jam makan siang akan berakhir. Kenichi pasti tak akan mau kembali ke kantor bersamanya. Bocah itu menghabiskan sehari semalam menempel padanya untuk bertemu dengan Sarada. Sasuke tak akan meninggalkan Kenichi di sini. Ada dua monster yang akan menyiksanya dengan leluasa. Sebagai paman yang baik dia tak akan tega meninggalkan Kenichi bersama bahaya yang sudah pasti. Sasuke melirik Sasori dan Deidara yang membereskan dapur karna perintah Sarada. Yah itu memang pantas mereka dapatkan karna mengacak-acak dapur Sakura.

"Kenichi." Panggil Sasuke. "Kita akan menculik Sarada..." Sasuke langsung membekap mulut Kenichi saat bocah itu akan mengeluarkan kata-kata. "Kau ingin leluasa bermain berdua kan dengan nee-chanmu?" Kenichi mengangguk. "Karna itu kau harus siap berlari kuat dan bawa ini." Sasuke menyodorkan setoples kelereng milik Kenichi yang di tinggal di sini oleh bocah itu kemarin.

Sasuke membekap Sarada yang duduk tenang mendengarkan dua pamannya berceloteh saat mencuci piring. Sebelum dua pria jadi-jadian itu menyadari, Sasuke membawa Sarada keluar apartemen. Sarada memutar matanya mengetahui kenyataan konyol yang di lakukan Sasuke dan Kenichi. Gadis kecil itu hanya diam saja di dekapan Sasuke yang masih membekapnya. Sarada tak tahu alasannya, dia hanya ingin diam seperti ini. Dekapan Sasuke terasa hangat dan nyaman baginya. Onixnya bergulir melirik wajah Sasuke, dan senyum tipis tersungging di bibirnya yang di bekap Sasuke. Kilat ambisi sekilas terlihat di matanya sebelum kembali datar saat mendengar teriakan dua pamannya yang di kelabui Sasuke tadi.

"Sarada-chan!" Sasuke dan Kenichi mempercepat langkahnya saat mendengar teriakan panik Sasori dan Deidara.

"Brengsek. Kembalikan Sarada-chan!" Sasuke menoleh ke belakang dan ikut panik saat melihat Sasori dan Deidara mengejar mereka. Sialan. Sejak kapan dia hobby main kejar-kejaran. Sasuke akan membuat Kenichi menurut padanya setelah ini.

"Kenichi sekarang!" perintah Sasuke. Dengan susah payah Kenichi membuka toples kelereng dan menaburkannya.

"Waaaa waaaa." jeritan terkejut di susul teriakan kesakitan dua orang yang mengejar mereka membuat Kenichi dan Sasuke saling lirik dan tersenyum puas.

"Polisi! Polisi! ada penculik!"

"Kembalikan Sarada-chan, pantat ayam brengsek!" Jeritan Sasori dan Deidara mereka abaikan. Kecuali bagian pantat ayamnya, Sasuke menggerutu bertanya-tanya siapa yang mereka sebut pantat ayam.

Sasuke akhirnya bisa mengerjakan pekerjaannya dengan tenang. Kenichi sangat tenang bila bersama Sarada. Sasuke sampai ingin menanyakan trik jitu Sarada membuat Kenichi begitu memurut padanya. Sasuke sedikit tertegun menyadari ada yang berbeda pada pola pikirnya. Jika dulu dia akan sangat keberatan dan melakukan banyak cara agar ruang kerjanya tak menjadi tempat penitipan anak. Tapi coba lihat sekarang, ruangannya seperti menjadi taman bermain dadakan dan Sasuke merasa tak keberatan. Ada yang salah dengan otaknya.

"Jam berapa Sakura pulang kerja?" Tanya Sasuke saat jam pulang kantor. Sarada mengangkat wajahnya dari permainan lego yang akhirnya hanya di mainkannya sendiri karna Kenichi tertidur di sampingnya.

"Ji-san kenal mamaku?" Sasuke mengerutkan dahinya. Mungkin Sarada menyimpulkan begitu karna panggilanya pada Sakura yang terkesan akrab. Sasuke tersenyum dan mendudukkan dirinya di seberang Sarada.

"Aku menganggapnya takdirku." Sarada tersenyum mendengar ucapan Sasuke. Sasuke cukup terkejut melihatnya sangat terbuka dengan anak kecil. Ini akan masuk rekor teraneh yang di miliki Sasuke.

"Baguslah." Sasuke sedikit memiringkan kepalanya bingung mengartikan ucapan gadis kecil yang kembali memfokuskan perhatiannya pada lego. "Ku pikir akan bagus jika ji-san bersikap baik pada mama. Mama terlalu banyak berpikir, itu terkadang membuatku khawatir."

"Apa maksudmu?" Sasuke merasa sangat bodoh menanyakan hal ini. Tapi mulutnya terbuka begitu saja. Dia sungguh takut karna saat ini hatinya di penuhi harapan yang sepertinya sedikit sulit di wujudkan. Atau mungkin tidak juga.

"Aku hanya berpikir jika ji-san menyukai mama." Sasuke nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Sarada. Dia tak habis pikir bagaimana seorang gadis kecil begitu gamblang mengutarakan pemikirannya. Lagi pula pemikirannya kenapa terlalu begitu. Harusnya tidak masalah, tapi ini tentu saja masalah di saat anak kecil seperti menelanjangi perasaanmu.

"Kau hanya anak kecil, jangan asal bicara." Sasuke merasa terintimidasi oleh onix yang menatapnya tajam. Senyum meremehkan muncul di bibir gadis kecil itu dan terlihat sangat menjengkelkan bagi Sasuke.

"Aku ini orang nomer satu yang berpengaruh pada mamaku. Tak akan ada seorangpun yang tak ku inginkan bisa mendekati mamaku." Apa ini ancaman? Sebenarnya bagaimana cara berpikir gadis kecil ini? Sasuke merasa berhadapan dengan ayahnya saja. Tanpa di sadari Sasuke menelan ludah mendengar ucapan atau mungkin ancaman Sarada. Hal yang paling menyebalkan adalah Sarada benar.

"Hn. Aku menyukai mamamu. Jadi, apa aku mendapat dukunganmu?" Sasuke merasa kalah. Tapi tentu saja dia tak akan menunjukkannya.

"Kita mempunyai warna mata dan rambut yang sama, ku pikir bukan hal buruk menjadi ayah dan anak." lagi-lagi Sasuke nyaris tersedak ludahnya mendengar ucapan Sarada. Gadis kecil di hadapannya benar-benar di luar dugaannya. Sasuke sudah menyadari kesamaan mereka itu. Tapi itu sama sekali tak merubah apapun, dan Sarada mengatakan tak masalah karna persamaan itu. Haruskah Sasuke bersyukur?

"Kau hapal nomer ponsel mamamu?" Tanya Sasuke sembari mengeluarkan ponselnya yang di jawab dengan anggukkan Sarada. "Kita harus menghubungi mamamu agar menjemputmu." Lanjut Sasuke.

"Ji-san bisa membayar jasaku dengan dinner." Sasuke menatap Sarada tak mengerti. "Untuk nomor ponsel mama." Sasuke terkekeh mendengar lanjutan ucapan gadis cilik itu. Sesaat kemudian pria itu menatap Sarada heran. dinner?! Benarkah yang di hadapannya adalah anak kecil? Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya sedikit sebelum memilih mengabaikan keanehan Sarada.

Setelah Sarada mencatat nomor ponsel Sakura di ponsel Sasuke, pria itu langsung menghubungi Sakura. Jemarinya mengetuk-ngetuk lututnya menunggu jawaban dari wanita pink yang entah sedang apa di suatu tempat.

"HALO!" Sasuke nyaris terlonjak mendengar nada ketus dan kasar Sakura.

tbc~~

.

.

.

Keyikarus

3/9/2017