Cause, I Love You
Rated : M
Pairing : YoonMin, VKook, NamJin. Slight ! VMin
Warning: Rated M untuk adegan kekerasan, bahasa yang kasar, dan konten yang menjerumus hal dewasa lainnya.
.
.
.
.
Enjoy it, guys ~
.
.
.
.
"Damn it !" Desis Yoongi mencoba mengangkat kepalanya yang terasa amat berat. Detak jantungnya berpacu cepat karena adrenalin mengerikan yang baru saja ia alami. Bau anyir langsung tercium kala pria itu mencoba menarik nafas panjangnya. Tangannya mencoba menyentuh sensasi basah dikepalanya saat ini dan menemukan darah segar ditelapak tangannya ketika dia menurunkan tangan.
Manik hitamnya mengedar, menatap jalanan sepi penduduk ini. Dia tidak sadar jika dia sudah berada disini. Butuh sekitar satu jam lagi sampai akhirnya dia bisa mencapai markas Changbin dan dapat menolong Jimin dengan segera. Sedikit lagi. Tapi sayang, para bajingan yang sepertinya adalah anak buah Changbin itu menghadangnya tiba - tiba dan membuatnya seperti ini. Sial sekali nasib Yoongi.
Pria berambut silver itu mencoba untuk membuka pintu disampingnya. Berdecak sebal ketika dirasakannya pintu itu macet. Yoongi menghela nafas, sebelum mengangkat kakinya dan melayangkan tendangan keras pada pintu mobil miliknya. Butuh beberapa kali tendangan. Dan tidak butuh waktu lama sampai pintu mobilnya benar - benar terlepas dari tempatnya.
"Suka dengan kejutan kami, Min Yoongi ?" Suara tersebut menyambut Yoongi yang baru keluar dari dalam mobil yang kini sudah berbentuk tak karuan.
Yoongi tidak menghiraukannya. Kepalanya terasa sangat pusing saat ini. Kelopak matanya mengerjap perlahan untuk menghilangkan kabur dalam pandangannya. Beberapa detik kemudian pandangannya menjadi normal dan dia bisa melihat beberapa orang yang berdiri tidak jauh darinya. Salah satu dari mereka tersenyum miring dengan salah satu terangkat disebelah kepalanya. "Hai, Min fucking Yoongi." Sapanya dengan seringai licik diwajahnya.
"Ah, ya. Hai." Balas Yoongi dengan santai. Pandangannya ia usahakan terlihat datar dan dingin seperti biasanya. Menyembunyikan amarahnya pada bajingan - bajingan didepan sana karena sudah menghambat aksi Yoongi untuk menyelamatkan Jimin. Tangannya ia letakkan disaku jaketnya, lalu menyandarkan tubuhnya pada body mobil rengseknya. "Aku senang dengan 'kejutan' tidak terdugamu ini, Hyunjin. Apa Changbin yang menyuruhmu untuk melakukan ini ? Karena ini sungguh menakjubkan." Lanjutnya dengan wajah datar. Mengabaikan rasa sakit yang terus mendera kepalanya.
Hyunjin terkekeh sebagai balasannya. Pria itu terlihat memiringkan kepalanya beberapa derajat. Melemparkan tatapan mengejeknya pada pria bersurai silver itu. "Aku anggap itu sebagai pujian." Cibirnya dengan seringai dibibirnya.
Pria itu seolah menelanjanginya dengan tatapan mengejeknya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seringai menyebalkan itu terus saja melebar disetiap detiknya. Yoongi hanya bisa berdoa, semoga mulut pria itu benar - benar robek. Atau jika diizinkan, Yoongi bersedia membantu merobeknya sendiri. "Jadi Min Yoongi.." Sebelah alis Yoongi terangkat menunggu kelanjutan ucapan pria itu. "12 lawan 1. Lawan atau menyerah ?" Tawar Hyunjin dengan senyum liciknya.
Yoongi terkekeh kecil mendengarnya, merasa lucu dengan ucapan Hyunjin seolah itu adalah lelucon paling lucu sedunia. Dia menggelengkan kepalanya miris, sebelum melemparkan senyum miringnya pada Hyunjin. "Aku bukan tipe orang yang akan kabur begitu saja ketika melihat kecoak seperti kalian." Dia menyeringai melihat wajah Hyunjin dan anak buahnya yang terlihat geram. Dia tertawa sekali lagi. "Aku akan maju." Tantangnya dengan kedua tangan terlipat didada.
"Kau yakin ?" Hyunjin bertanya dengan menyunggingkan seringai untuk menutupi wajah menahan emosinya. Dia ingin menunjukan pada pria itu bahwa Yoongi telah salah memilih lawannya saat ini.
"Aku tidak akan menarik ucapanku." Balas Yoongi dingin. Terlihat sekali jika ia sedang meremehkan mereka.
Wajah Hyunjin kian mengeras. Tangannya terkepal disisi badan. Seringai diwajahnya semakin melebar. Akan kutunjukan bahwa kau salah karena meremehkan ku dan Changbin, batin Hyunjin geram.
"Tangkap dia." Desis Hyunjin memberi perintah.
Senyum dingin Yoongi kembali tersungging saat bawahan Hyunjin mulai berlari kearahnya. Berbagai senjata berada ditangan mereka. Benda tajam maupun tumpul. Namun begitu, Yoongi sama sekali tidak merasa takut. Manik hitamnya malah terlihat berkilat senang karenanya. Rasa pusing dikelapanya telah ia lupakan.
Pria bersurai silver itu segera berkelit ketika salah satu mereka mencoba memukulnya dengan balok kayu. Tangan Yoongi langsung menangkap lengan pria itu. Melayangkan tendangannya keperut pria tersebut. Begitu keras sampai pria itu jatuh terduduk dengan memegangi perutnya. Balok ditangan pria itu telah menghilang dari genggamannya. Tak menyiakan kesempatan, Yoongi kembali melayangkan tendangannya kearah pelipis pria itu. Hanya sekali tendangan, pria itu langsung pingsan dengan kepala berdarah.
Anak buah Hyunjin yang lain terlihat ragu untuk kembali menyerang. Mereka terlihat bergedik ngeri melihat rekan mereka yang langsung pingsan hanya dengan dua kali tendangan. Padahal rekan mereka memiliki tubuh lebih tinggi dan besar dari pria bersurai silver itu. Sepertinya rumor tentang kekuatan Yoongi yang mengerikan itu memang benar adanya.
Yoongi mengambil balok kayu yang tergeletak dibawah kakinya. Pria itu berdecih melihat pria yang baru saja dia hajar itu benar - benar pingsan dibawah kakinya. Manik Yoongi kembali menatap orang - orang dihadapannya. Melayangkan pandangan dingin dengan wajah datar khas dirinya. "Ini saja ? Tidak seru." Ejeknya dengan senyum dingin. Balok kayu dalam genggamannya ia sampirkan dibahunya. Lalu, memukulkan kecil balok kayu itu pada bahunya. "Jadi bagaimana ? Aku benar - benar harus cepat saat ini. Ada seseorang yang harus kuselamatkan." Lanjutnya dengan nada malas.
Melihatnya, Hyunjin hanya bisa menggeram sebal. "Apa yang kalian lakukan !? Cepat hajar dia !" Bawahan Hyunjin terlihat tersentak kaget mendengar bentakan bosnya. Mereka nampak menelan ludah berat ketika manik hitam Yoongi memandang tajam mereka. Setelah memantapkan hati, mereka pun mulai kembali menyerang Yoongi bersamaan.
"Ck !" Yoongi berdecak sebal ketika serangan bertubi - tubi anak buah Hyunjin terus saja berdatangan. Berkali - kali Yoongi hanya menangkis ataupun mengelak dari serangan mereka. Mereka cukup pintar membuat Yoongi terus sibuk menghindar dibanding melayangkan serangan balik. Cukup membuat Yoongi menggeram sebal. Dia paling tidak suka jika disudutkan seperti ini.
Saat ada sedikit celah, Yoongi mulai melayangkan serangan balik. Walau hanya beberapa kali dia mencoba menyerang, namun serangan Yoongi bisa sedikit melumpuhkan beberapa dari mereka. Balok ditangannya sudah mulai berubah warna. Merah yang mencolok dengan bau anyir dari beberapa anak buah Hyunjin yang ia lumpuhkan.
Dor !
"Arrghh.." Yoongi langsung mengambil langkah mundur sembari memegang tangan kirinya. Pria itu berdecih saat merasakan benda panas yang baru saja memaksa masuk kedalam lengannya. Sukses membuat darah segar mengucur deras dari luka tembakan tersebut. Manik dinginnya teralih pada Hyunjin yang tengah menyeringai kearahnya. Sebuah pistol dengan moncong yang berasap berada dalam genggaman pria itu. Pria itulah pelaku penembakan dirinya.
Belum cukup sampai disitu, sebuah pukulan benda tumpul terasa dibelakang kepalanya. Sangat keras membuatnya jatuh terduduk seketika. Pusing yang tadi sempat menghilang kembali melandanya. Pandangannya mulai kabur. Rasanya dia bisa saja pingsan seketika saat ini. Namun sebisa mungkin Yoongi menahannya.
Cukup lama Yoongi berada dalam posisi itu, Hyunjin mulai berjalan menghampirinya. Melayangkan tatapan remehnya pada Yoongi yang terduduk dihadapannya. Kepala bersurai silver itu terus tertunduk dalam. "Menyerahlah, Min Yoongi." Cibir Hyunjin seraya melayangkan tendangannya pada perut Yoongi. Seringainya kian melebar ketika pria itu kini terbaring diatas aspal. Suasana yang cukup gelap tidak menghalangi Hyunjin melihat tatapan kesakitan dibalik wajah pria bersurai silver tersebut. "Kau terlihat sangat menyedihkan, Min." Kaki Hyunjin menekan dada Yoongi dengan kuat, cukup membuat pria itu kesusahan mengambil nafas.
Tawa kecil diantara rasa sesak yang dirasakan Yoongi membuat Hyunjin mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Apa yang lucu disini ? "Menyerah ? Jangan bercanda." Ucapan yang sedikit tersendat itu terdengar dari bibir Yoongi. Pria berambut silver itu menyunggingkan senyum miringnya. "Kau pikir bisa mengalahkan dengan mudah, Hwang Hyunjin ?"
Suara tembakan peluru terdengar setelah Yoongi mengucapkan hal tersebut. Disusul dengan suara derungan mesin dan juga lampu kendaraan yang menyorot terang dari arah depan mereka. Cukup banyak, 5 motor besar dan 3 mobil melaju dengan kecapatan tinggi. Seketika mereka terserang panik melihat kendaran yang berjumlah tidak sedikit itu terus melaju kearah mereka. Ditambah serangan peluru yang beruntun.
"B-bos ?" Salah satu bawahan Hyunjin memanggil dengan nada panik. Matanya membelalak ngeri melihat satu persatu rekannya mati dihadapannya. Dia memberikan tatapan memohon pada Hyunjin untuk menyuruh mereka yang tersisa untuk pergi dari sana.
Hyunjin menggeram marah. Min Yoongi sialan itu sungguh membuatnya marah sekarang. "Segera pergi dari sini ! Kita mun-"
Dor !
Crat !
Ucapan Hyunjin langsung terhenti saat anak buahnya yang tadi memohon padanya kini telah mati dengan lubang menganga dikepalanya. Pria berbibir tebal itu terpaku ditempatnya dengan pandangan shock. Wajahnya yang tampan terlihat bernodakan darah. Tidak menyangka dengan kejadian yang terjadi dihadapannya barusan. Pria itu baru tersadar saat Yoongi sudah berdiri dihadapannya. Menodongkan pistol yang ia gunakan tadi untuk menembak Yoongi dikepalanya. Dia terus terdiam bahkan ketika Yoongi menyunggingkan seringai menyeramkan miliknya.
"Kau telah salah memilih lawan, Hwang-Hyun-jin." Desisnya berbahaya. Yoongi melebarkan seringainya dan bersiap menekan pelatuk pistol ditangannya.
"Selamat tinggal, Hwang."
.
.
.
.
"Shhh.. Bisakah kau pelan - pelan saja, brengsek ? Kau semakin menyakitiku." Ringis Yoongi ketika kapas beralkohol itu menyentuh luka ditangannya. Tatapannya begitu tajam menatap sang pelaku pembawa kapas beralkohol tersebut.
"Tidak." Jawaban singkat itu terdengar datar dan dingin, lalu disusul dengan sentuhan kapas itu pada lengannya. Terasa lebih kasar dan ditekan dengan keras pada luka dilengan Yoongi.
"Ya ! Kau mau membunuhku ?!" Protes Yoongi dengan tangannya yang mencengkram erat pemilik tangan pemegang kapas tersebut.
"Jika aku bisa, aku sudah membunuhmu setelah kutahu kau sudah menodai dan menyakiti adikku, Min Yoongi." Desis Seokjin sembari menghempaskan tangan Yoongi yang mencengkramnya. Pria itu segera membuang kapas ditangannya kedalam plastik sampah yang ia bawa. Tangannya lalu sibuk menggeledah tas hitam besar yang sempat ia bawa. "Tapi sayang, Namjoon melarangku unruk melakukan hal itu padamu." Manik hitam Seokjin melirik kearah kekasihnya yang tengah sibuk menyetir dikursi depan.
Sayangnya yang ditatap sama sekali tidak menyahut dari tempatnya. Pria itu nampak disibukan dengan jalan penuh belokan yang mereka lalui untuk sampai ketempat tujuan mereka saat ini. Kecepatan mobilnya berada diatas rata - rata untuk medan penuh belokan yang berbahaya ini.
"Seperti dugaanmu, hyung. Park Jimin memang dibawa kemarkas Changbin saat ini." Hoseok dibangku depan berbicara dengan laptop yang menampilkan titik merah redup-menyala dalam pangkuannya. Titik merah itu berhenti pada koordinat suatu tempat dinegara ini. Dan letaknya sudah cukup dekat dengan tempat mereka. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu ingin menolongnya, hyung. Kita jauh - jauh dari Seoul menuju markas Changbin di Gapyeong hanya untuk menyelamatkan orang yang pernah membuat masalah denganmu. Jika hanya untuk menyelamatkan adik Seokjin hyung, kupikir sampai menurunkan pasukan sebanyak ini.. benar - benar bukan dirimu." Lanjut Hoseok yang sukses membuat Yoongi terdiam.
Dia memang tidak mengerti kenapa dia harus berbuat begini hanya untuk seseorang yang baru saja dikenalnya. Bahkan orang itu mempunyai masalah dengannya -walau hanya masalah kecil. Yoongi bukanlah orang yang peduli dengan keadaan sekitar. Dia termasuk orang yang cuek kepada siapapun. Kau jatuh dihadapannya saja, Yoongi hanya akan terus berjalan meninggalkan dirimu. Rasa tidak peka dan tidak pedulinya sudah mendarah daging dalam dirinya. Ditambah dengan sikap egois, keras kepala, dingin, dan gila. Membuat Yoongi menjadi pribadi yang mengerikan.
Tapi.. Ini Jimin ? Kenapa dia bisa berubah sebegitu drastisnya hanya karena pria manis bersurai blonde itu ? Kenapa dalam hatinya ada perasaan khawatir ketika tahu jika Jimin sedang tidak baik - baik saja saat ini ? Siapa Jimin ? Semua bahkan bertanya - tanya akan perubahan sikapnya. Bahkan Yoongi pun terus bertanya - tanya pada dirinya sendiri.
"Aku tidak peduli dengan alasan Yoongi menurunkan pasukannya sendiri untuk menyelamatkan Jimin ! Yang pasti ini memang tanggung jawabnya !" Ucapan Seokjin membuatnya tersadar. Pria bersurai silver itu meringis kesakitan saat Seokjin membebatkan perban kelengannya dengan kasar. Ini sakit, jika ingin tahu. Untung saja sudah selesai.
"Kau !" Jari telunjuk Seokjin mengarah tepat didahi Yoongi yang sudah ia perban sebelumnya. Begitu berani tanpa ada rasa takut dimanik hitam itu. Bahkan Hoseok dan Namjoon -yang melirik dari kaca spion- menelan ludah mereka ngeri. Berharap tidak ada pertumpahan darah didalam mobil ini. "Aku tidak peduli kau itu atasanku ataupun anak dari seseorang yang pernah menolong ayahku. Aku bahkan tidak peduli jika kau itu ketua genk mafia terbesar dinegara ini ! Aku hanya ingin kau tau satu hal !" Yoongi tetap terdiam ditempatnya.
"Jika terjadi sesuatu pada Jimin. Aku akan benar - benar membunuhmu dengan tanganku sendiri !" Ancam Seokjin berapi - api.
Beberapa detik Seokjin mulai terdiam. Manik hitamnya menatap raut wajah Yoongi yang terlihat kosong entah kenapa. Pria bersurai honey brown itu mulai berdecak sebal dan menjauhkan jari telunjuknya dari dahi pria tersebut. "Astaga, Jiminku yang malang. Bagaimana bisa dia mendapatkan nasib buruk seperti ini. Pertama pria brengsek ini yang menyakitinya, kedua karena pria brengsek ini juga Jimin sampai diculik seperti ini." Gerutu Seokjin sembari melirik tajam kearah Yoongi yang masih terdiam. Rasanya Seokjin ingin sekali meninju wajah pria itu.
"Jin-a, hentikan." Tegur Namjoon dari balik kemudi.
"Kenapa ? Aku benarkan !? Ini semua gara - gara brengsek ini !" Kembali jari Seokjin menunjuk kearah Yoongi.
"Tapi kau tidak bisa menuduhnya juga tentang penculikan ini."
"Memang kenapa !? Kau ingin melindunginya lagi, Joon !?"
"Jin-a ! Sadarkan dirimu !"
"Aku sudah seratus persen sadar jika kau ingin tahu, Kim Namjoon."
"Diam." Kedua pria itu langsung saja diam mendengar nada dingin dari bibir Yoongi. Aura intimidasi mulai keluar dari pria tersebut. Wajahnya begitu dingin dengan manik hitam sekelam malam yang begitu tajam memandang pemandangan diluar mobil. Keadaan yang semula ribut berubah menjadi sangat mencengkam. Membuat Hoseok yang tadinya ingin menghentikan pertengkaran Namjoon dan Seokjin memilih untuk menutup kembali mulutnya yang sempat terbuka. Pria itu memilih sibuk kembali dengan laptopnya dan membiarkan suasana hening menyeramkan ini melingkupi dirinya.
'Tuhan, tolong aku.' batin Hoseok sengsara.
Seokjin berdecih sebal. Dengan cepat pria itu memberesi semua peralatan kedokterannya kembali kedalam tas. Dia duduk semakin mepet pada jendela dikirinya, berusaha menjauh dari Yoongi disisi kanannya. Sementara Namjoon, pria itu hanya dapat melirikkan matanya menatap kedua pria dijok belakang dengan pandangan datar. Pria itu menghela nafas, kembali fokus pada jalan didepannya.
Manik hitam Yoongi menatap tajam pemandangan pepohonan disisi jalan. Pemandangan indah tersebut sama sekali tidak bisa mengurangi rasa tak enak dalam hatinya. Yoongi menutup matanya sejenak. Berusaha menikmati keheningan canggung yang ia ciptakan.
"Kita sudah sampai." Ucap Namjoon sembari menghentikan mobil yang dikendarainya. Kendaraan lainnya yang sedari tadi mengekor ikut berhenti dibelakang.
Ketika ketukan disampingnya terdengar, Namjoon segera membuka jendela mobil disebelahnya, menatap seorang pria yang sudah berdiri disamping mobil. "Bagaimana ?" Tanyanya ambigu pada pria itu.
"Bawahanku sudah mengepung tempat itu. Mereka tinggal menunggu perintah saja." Jawab Jeonghan seolah mengerti dengan pertanyaan ambigu tersebut. Manik pria itu melirik kedalam mobil. Sedikit bingung dengan suasana mencengkam didalam sana. Tapi dia membiarkannya. "Hai, Hobi." Sapanya pada Hoseok yang masih terdiam ditempatnya.
"O-oh. Hai, Jeonghan." Balas Hoseok kaku. Cengiran canggung terpatri dibibirnya. Nampaknya dia masih terbawa suasana mencengkam disekitarnya.
Suara pintu mobil yang terbuka membuat mereka mengalihkan pandangan. Yoongi dengan santainya keluar dari dalam mobil, berjalan menghampiri Jeonghan yang mengernyitkan dahinya bingung. Keadaan ketuanya itu cukup mengenaskan. Tangan dan kepala pria itu diperban. Seingatnya pria itu masih baik - baik saja semalam ketika mereka mengadakan rapat dimarkas. Apa yang terjadi ?
"Seungcheol bersamamu ?" Pertanyaan dingin itu membuat Jeonghan sedikit tersentak kaget. Dia menganggukkan kepalanya dengan pandangan yang tak teralihkan dari pria tersebut. "Ya, dia sedang bersama dengan Hansol dibagian timur. Aku menyuruhnya untuk mengepung dibagian sana." Jelas Jeonghan.
"Tarik dia. Aku ingin dia membantuku untuk menerobos bagian depan. Suruh juga Jungkook untuk membantu." Perintah Yoongi tiba - tiba, menghasilkan wajah kaget dari mereka semua. Ketiga orang yang berada didalam mobil langsung keluar dan berjalan menghampiri Yoongi. Namun Seokjin lebih cepat. Pria itu sudah berdiri dihadapan Yoongi dan tengah menarik kerah jaket pria itu.
"Kau bodoh !" Tatapan Seokjin menajam menatap manik hitam lainnya. "Kau ingin mati, hah !? Kau pikir kau bisa dengan mudah menerobos begitu saja lewat pintu depan !? Dimana otakmu !? Pastinya Changbin telah mengantisipasi ini dan memperkuat penjagaan dimarkasnya ! Jika lewat depan kau sama saja bunuh diri, bodoh !" Bentak Seokjin emosi. Cengkraman tangannya pada kerah jaket Yoongi kian mengerat.
"Memangnya kenapa ? Aku sendiri yang ingin menyelamatkan Jimin, kenapa kau malah marah dengan keputusanku ini ?" Ujar Yoongi santai seolah tidak terpengaruh dengan bentakan Seokjin padanya. Sedikit kesal juga karena pria bersurai honey brown itu malah membentaknya tepat didepan wajahnya.
"Dan membuatmu dalam bahaya !?" Seokjin berdecak sebal. Dia semakin menarik Yoongi mendekat kearahnya agar dia bisa menghunus langsung manik hitam itu dengan tatapannya. "Dengar, Min Yoongi ! Kau memang bajingan yang telah menodai adikku ! Aku bahkan benci padamu ! Tapi dengan mengorbankan dirimu sendiri seperti itu bukanlah hal yang kuinginkan !" Yoongi tertegun melihat manik hitam itu yang tengah menatap tajam padanya. Ada kilat khawatir terpampang jelas dimanik itu. Dan itu ditujukan padanya.
Pria bersurai honey brown itu menyentak tangannya dari keras Yoongi. Dia berjalan menjauh dari mereka, dengan air mata yang berusaha ia sembunyikan. Dalam hati ia mengutuk segala kebodohan yang Yoongi lakukan. Dia bahkan mengutuk dirinya sendiri yang merasa khawatir dengan tindakan bodoh Yoongi nanti. Ini seperti bukan Seokjin saja.
"Yoon, lupakan apa yang dikatakan Seokjin. Dia sedang khawatir dengan keadaan Jimin saat ini." Hibur Namjoon yang sedari tadi terdiam menyaksikan aksi Seokjin terhadap Yoongi. Dalam hati ia berdoa, semoga Yoongi tidak pergi menyusul Seokjin dan membalas perbuatan Seokjin lebih buruk lagi. Namun dia langsung lega, saat Yoongi membalikkan badannya berlawanan dari Seokjin, lalu berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
.
.
.
.
Hal pertama yang dilihat Jimin adalah gelap. Ada sesuatu yang menghalangi pemandangannya saat ini. Keheningan yang terjadi disekitarnya membuat Jimin merasa bingung. Tidak ada siapapun disini. Dalam hati dia bertanya, dimanakah ia sekarang ? Dia mencoba melepaskan sesuatu yang menghalangi pandangannya, sebelum ia sadar jika tangannya tengah terikat erat. Jimin panik, dia mencoba melepaskan jeratan sesuatu ditangannya. Suara gemerincing besi selalu terdengar apabila dia mencoba menggerakkan tangannya. Tidak hanya tangannya, kakinya pun terikat dengan benda yang sama.
Dia mencoba berteriak. Namun gumaman aneh yang keluar. Jimin akhirnya berhenti. Em, Baik. Dia terikat oleh rantai -sepertinya. Mulut dan matanya tertutupi. Tubuhnya didudukkan pada sebuah kursi kayu. Dia tidak tahu dimana dia berada saat ini. Dan apa yang terjadi dengan dirinya sampai - sampai membuatnya seperti ini.
Ah, tunggu.
Ingatan Jimin langsung berputar pada kejadian sebelum dia berakhir disini. Dia sedang bersama dengan Yoongi tadi. Berjalan berdua di mall besar sambil bersenang - senang. Setelah keluar dari bisokop, Yoongi memintanya untuk mengantar pria itu untuk mencari hadiah untuk.. kekasihnya, mungkin ? Karena pria itu berucap jika hadiah itu untuk seorang-wanita-cantik. Dan Jimin merasa sakit dihatinya mendengar ucapan pria itu. Sial sekali, karena sekarang pun dia kembali merasa sakit ketika mengingatnya kembali.
Jimin ingin menangis. Jimin merasa, nasibnya sungguh buruk saat ini. Dia baru beberapa hari di korea. Namun hidupnya langsung berantakan hanya dengan sekali kedipan mata. Jimin merasa jika tuhan tengah membencinya saat ini. Apakah ada dosa dimasa lalu yang membuatnya menjadi seperti ini ? Jika begini siapa yang akan disalahkan ? Menyalahkan tuhan ? Dirinya sendiri ? Orang tuanya ? Atau... Yoongi ?
'Yoongi...' Batin Jimin memanggil nama seseorang yang telah menghancurkan dirinya. Mengambil semuanya dari diri Jimin. Seorang pria yang telah mengklaimnya sebagai milik Yoongi. Orang yang merebut hati Jimin dengan sekali tindakan. Orang yang membuatnya berfikir jika dia mencintai dan juga membenci Yoongi diwaktu yang bersamaan.
Jimin mengakuinya. Mengakui rasa cinta yang dia miliki pada Yoongi. Ini tidak masuk akal. Mencintai seseorang yang telah merengut tubuhnya dengan paksa bukanlah hal yang wajar. Sebelumnya dia berfikir ini hanyalah rasa ketertarikan biasa kepada pria itu. Hal itu wajar bagi seseorang yang merasa tertarik setelah melihat wajah Yoongi yang cukup rupawan. Sebelum akhirnya bayang - bayang Yoongi selalu muncul dalam benaknya. Hanya dengan membayangkan, dia merasa jantungnya berdetak cepat.
Tidak seharusnya dia menyimpan rasa ini dalam dirinya. Seharusnya rasa benci lah yang mendominan sekarang. Tapi, tidak. Bahkan ketika Yoongi datang untuk menghancurkannya kala itu, dia sudah jatuh cinta pada pria bersurai silver tersebut. Semua sikap dinginnya. Semua tindakan kejamnya. Sifat manis dan juga hangat yang pernah ditunjukannya. Hal itulah yang membuat Jimin jatuh cinta.
Namun, apa yang dia bisa ? Bahkan Yoongi secara tidak langsung telah menolaknya sebelum dia mencoba memberikan rasanya pada pria itu. Pengakuan singkat penuh misteri dari Yoongi membuatnya berfikir harus berhenti saat itu juga. Yoongi, pria itu.. telah memiliki seseorang yang dia cintai.
Takdir kejam seolah mengejeknya. Jimin bahkan tidak berani berfikir, apakah Yoongi mau datang untuk menyelamatkannya sekarang ? Apakah pria itu akan masa bodoh pada miliknya yang tengah tersekap ditempat entah dimana ini ? Membiarkannya membusuk disini ? Jimin tidak bisa membayangkannya. Tanpa sadar, pria blonde itu menangis dalam keheningan.
Suara pintu terbuka disusul dengan langkah panjang terdengar menggema didalam ruangan. Jimin berusaha menahan isakannya dan berpura -pura belum sadar. Namun sayang, ketika sesuatu dimatanya terlepas dengan paksa, Jimin tidak bisa menahan matanya untuk terbuka lebar. Walau masih kabur, dia mengetahui bahwa ada seseorang dihadapannya saat ini.
"Hai, manis." Kepala Jimin yang sedari tadi menunduk mulai terangkat. Dalam cahaya remang ini, dia melihat Changbin tengah berdiri dihadapannya. Memberikan senyuman dingin pada Jimin. "Sudah sadar, hm ?" Tangan kasar Changbin terangkat menyentuh sebelah mata Jimin yang tengah menatap nyalang pada pria itu. Jimin sebisa mungkin menjauhkan tangan itu dari wajahnya. Tapi sayang tangan itu terus saja berusaha menggapainya.
"Emmm mmm emmm !"
Changbin terkekeh kecil mendengar gumaman itu. Tangannya teru saja mengelus sisi wajah Jimin. Sebelum tangannya menarik kasar lakban yang menutupi mulut pria tersebut. Membuat bekas pipi dan mulutnya berubah merah.
"Apa yang kau inginkan !?" Jimin bertanya dengan nada takut. Manik matanya bergetar saat memandang Changbin.
"Kau jelas mengerti keinginanku, manis." Jawab Changbin santai. Badannya membungkuk, membuat wajahnya berhadapan dengan wajah Jimin. Changbin sedikit tertegun ketika indra penciumannya menghirup aroma vanilla yang menguar dari tubuh Jimin. Dia semakin memajukan wajahnya. "Untuk balas dendam kepada Yoongi tentu saja." Bisiknya pada telinga Jimin. Dia menyeringai kecil saat melihat tanda kemerahan dileher Jimin. Walau sudah agak pudar dia jelas tau apa itu.
Manik dark brown Jimin membulat mendengarnya. Tidak ! Jangan sampai pria brengsek ini menyakiti Yoongi !
"Bukankah kau kekasih Taehyung ? Kenapa kau bisa bersama dengan Yoongi, hm ?" Bisiknya kembali. Ia kembali menghirup aroma vanilla yang memabukkan tersebut. "Apakah... Kau hanyalah seorang jalang yang kebetulan bisa bermain dengan kakak adik tiri itu ?" Changbin terkekeh ketika dia meniup tengkuk Jimin yang mengakibatkan pria itu langsung menegang karena perbuatannya.
Bulu kuduk Jimin meremang ketika nafas Changbin menerpa tengkuknya. Terasa semakin dekat sampai akhirnya sebuah benda kenyal ikut menyentuh kulit lehernya. Mata Jimin memejam erat, merasakan benda kenyal itu mulai bertindak kurang ajar. Bibirnya ia gigit erat mengabaikan fakta jika bisa saja dia melukai bibirnya nanti. Dia ingin sekali menjauhkan pria itu dari hadapannya. Atau jika bisa dia ingin membunuhnya sekalian. Betapa kurang ajarnya bajingan dihadapannya ini. Seenaknya saja dia berbuat seperti ini terhadapnya.
Giginya semakin erat menggigit bibirnya dan darah mulai mengalir dari sudut bibirnya tanpa bisa ia tahan. Dia merasakannya. Tangan Changbin yang mulai bergeliya kemana - mana. Masuk kedalam sweater softpink miliknya dan menyentuh titik senstivenya.
"Ennhhh." Jimin tidak dapat menahannya. Lenguhan itu keluar tanpa bisa ia tahan. Dan Jimin merasa dia tidak ada bedanya dengan jalang diluar sana. Menjijikan.
'Yoongi.. Tolong aku...' Air mata Jimin mengalir kian deras. Dia benar - benar berharap saat ini. Dia ingin Yoongi datang dan menolongnya. Menjauhkan pria kurang ajar ini dari hadapannya sejauh mungkin. Jimin takut. Dia butuh Yoongi saat ini.
.
.
.
.
Kletak !
"Arrghh !"
Yoongi berdecih melihat pria yang ia patahkan tulang tangannya tengah menggelepar menahan sakit akibat tindakannya. Kakinya mulai melayangkan tendangan pada perut pria itu, membuat pria yang menjabat sebagai anak buah Changbin tersebut menuntahkan darah sangat banyak. Sepertinya tendangan Yoongi membuat organ terluka parah.
"Bos !" Teriakan itu membuat Yoongi melirikkan matanya pada salah satu bawahannya tak jauh darinya. Bawahannya itu baru saja menembak kepala salah seorang anak buah Changbin lainnya. "Lebih baik kau langsung pergi bersama Seokjin hyung menyelamatkan Park Jimin ! Biar aku dan Jungkook yang mengurus ini !" Ucap pria itu masih fokus menyerang anak buah Changbin yang tidak ada habisnya. Yoongi terdiam dan melirikkan matanya pada Jungkook yang tengah memenggal kepala salah satu anak buah Changbin dengan katananya. Pria yang lebih muda darinya itu mengangguk kecil tanda setuju dengan ucapan pria tadi.
"Ayo !" Yoongi langsung menyeret lengan Seokjin yang berdiri disampingnya. Dia tidak habis pikir, kenapa juga pria itu harus ikut dengannya. Walau pria bersurai honey brown itu kuat, stamina pria itu tidak cukup bagus sehingga membuatnya jarang turun kelapangan. Dan lagi, bukankah pria ini baru saja ngambek dengannya ?
"Ta-tapi... Seungcheol dan Jungkook ?" Tanya Seokjin sembari menengokkan kepalanya kebelakang. Menatap bayangan kedua orang yang harusnya ikut bersama mereka menghilang dari balik belokan.
"Jangan khawatirkan mereka. Mereka lebih kuat dari yang kau bayangkan." Jawab Yoongi yang sukses membuat Seokjin bungkam.
Ketika dibelokan terakhir, mereka berdua menghentikan langkah mereka. Diujung lorong ini, terdapat pintu kayu mahoni yang menjadi satu - satunya pintu dilorong ini. Pintu itu tertutup rapat tanpa penjagaan. Mereka yakin jika Jimin berada disana. Tanpa dipikir dua kali, kedua orang tersebut langsung berlari menghampiri pintu tersebut.
"Terkunci." Gumam Seokjin ketika mencoba membuka pintu tersebut. Dia menolehkan kepalanya pada Yoongi yang terdiam dengan wajah datarnya. Tatapan Seokjin seolah tengah bertanya pada pria bersurai silver tersebut.
Yang ditatap hanya diam daja ditempatnya. Pandangannya sedikit kosong menatap pintu dihadapannya. Dia merasakan khawatir yang amat sangat saat ini. Ada ketakutan dalam dirinya jika sesuatu yang buruk pada Jimin dibalik pintu ini. Atau bagaimana jika Jimin sudah tidak ada lagi disini ? Dan sudah dibawa pergi sejak tadi. Ataukah semua ini hanya jebakan ? Semua akan terungkap jika Yoongi berhasil membuka pintu dihadapan mereka.
"Minggir."
Yoongi terlihat tengah bersiap melakukan sesuatu. Pria bersurai silver tersebut menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya menghembuskannya secara perlahan. Kaki pria itu terangkat dan langsung melesat cepat dengan kekuatan penuh membuka pintu tersebut.
Brak !
"Ahnn.. Emhh.."
Pemandangan didepan sana membuat kedua orang tersebut mematung ditempat mereka. Pandangan tidak percaya, geram, dan ingin membunuh terlihat dimata mereka.
Changbin melepaskan tautan bibirnya dengan Jimin ketika mendengar keributan dibelakangnya. Dia berbalik tanpa melepaskan tangannya dari rambut Jimin yang terlihat berantakan. "Kau datang rupanya." Ujar Changbin santai dengan seringai keji dibibirnya. Manik matanya menatap kedua orang diambang pintu dengan pandangan remehnya.
Yoongi sama sekali tidak menggubris ucapan dari Changbin. Matanya terlihat lebih fokus menatap Jimin yang duduk terikat dibelakang Changbin. Keadaannya sungguh tidak bisa dikatakan baik. Karena dia melihat bagaimana sweater softpink yang dipakai pria itu tadi kini telah robek dibagian depan, membuat dada dan perut mulus itu terlihat. Jika dilihat dari sobekannya, sepertinya disobek dengan gunting yang kini berada digenggaman Changbin pada tangan satunya.
Tatapannya semakin menggelap ketika melihat bekas merah baru terlihat didada dan leher Jimin. Hatinya semakin geram melihat bibir bengkak Jimin yang bergetar dengan darah disisi bibirnya.
"Yoon.. Yoongi..." Jimin merasa hatinya lega melihat Yoongi datang untuk menyelamatkannya. Namun rasa lega itu berubah menjadi perasaan takut ketika seringai menyeramkan tersungging dibibir pria bersurai silver tersebut. Bahkan ketika manik hitam itu semakin menggelap, mengingatkan Jimin pada seorang psikopat yang tengah menemukan mangsanya.
.
.
.
.
TBC
note :
Entah kenapa ff ini makin kesini makin absurd aja :v
Aku benar - benar gak tau apa yang aku tulis saat ini. Sungguh aneh :3
Well aku berharap kalian suka dengan chapter ini :D
Terima kasih kepada semua readers yang mampir kelapak ku ini dan bahkan nyempetin review :3
Tetap terus dukung aku biar aku semangat buat ngelanjutin ff gak guna-gak asik-gak jelas ini sampai tamat :D
Maaf dengan segala typo yang bertebaran disana - sini :'
Cukup untuk kali ini. Terima kasih ~
Review ?
Hihihihi :D
Semarang, 07 Mei 2018
©Minyoonsh510
