Peliharaan Merepotkan
Chapter 6. Python
.
.
.
Solar dan Ice memberanikan diri mendekati kumpulan aquarium-aquarium yang terletak di tengah- tengah kamar ketiga kakak mereka yang tertua. Satu persatu, Solar menyibakkan kain-kain penutup aquarium itu satu-persatu.
"Oke... Kecuali kobra yang tadi, semua ular ini aman. Tidak berbisa." Komentar Ice sembari memperhatikan isi dari aquarium-aquarium itu.
Perhatian Solar kini tertuju pada beberapa ekor kalajengking di aquarium terakhir. Dimasukkan tangannya ke dalam aquarium itu dan diambilnya seekor kalajengking dengan hati-hati pada ekornya.
"SOLAR!" Bentak Halilintar yang sudah menempelkan diri setipis mungkin pada tembok kamarnya.
Yang dipanggil cuek saja. Malah kalajengking itu diletakkan bebas diatas telapak tangannya. Tentu saja kalajengking itu terlihat gusar, ekornya berkedut-kedut.
"Solar! Kalau mau cari mati jangan disini!" Sahut Taufan yang sama saja paniknya dengan Halilintar.
"Alaah... Binatang comel begini takut?" Ledek si adik terkecil yang membiarkan kalajengking itu merayap di tangannya.
"Comel palamu!" Gantian Blaze membentak. "Rumah sakit jauh!"
"Nih, aku kasih tahu..." Solar memindahkan si kalajengking ke telapak tangan sebelahnya. "Lihat sepitnya. Besar kan, badannya juga besar... Itu tandanya bisa kalajengking ini tidak terlalu berbahaya. Kalau kecil, langsing... Yah, siapin tanah satu kali dua meter deh." Jelas sang ilmuwan dadakan itu sebelum mengembalikan si kalajengking ke rumahnya.
Napas lega dikeluarkan serempak oleh Halilintar, Taufan, Blaze, dan Thorn.
"Kau gila, Solar..." Dengus Taufan yang masih menolak beranjak turun dari ranjang Gempa.
"Makanya, buka Youtube itu jangan buat nonton drama Korea saja." Tukas Ice sembari menghampiri aquarium yang lain.
"Drama Korea, Taufan?" Halilintar melirik ke arah Taufan. "Kalau Gempa yang nonton aku masih maklum... Tapi, kau?. Yang mengaku pemain skateboard nomer wahid Malaysia?".
Yang ditunding hanya diam saja dengan muka memerah.
"Kak Taufan kelamaan jomblo ya, makanya nonton begituan?" Blaze ikutan menyindir.
Seringai nakal melintas sekejap di bibir Ice dan Solar yang saling berpandangan penuh isyarat.
"Solar... Kau... Mau... Apa?" Desis Blaze ketika melihat Solar dengan santainya mengambil seekor ular dari dalam aquarium.
"Python yang cantik... Lihat, sisiknya perfect, ngga ada cacat." Gumam Solar sambil mengamati ular agak besar yang mulai meliliti tangannya.
"Kembalikan ke kandanganya atau kubuat cacat mukamu itu Solar!" Ketus Blaze yang merinding melhat ular besar itu meliuk-liuk di sepanjang tangan dan lengan Solar.
"Eh?" Solar mendadak meringis. "Ah, Ice, tarik... Ular ini membelit tanganku!" Pekiknya ketika merasakan belitan python itu semakin kencang.
"SOLAR!" Jerit Blaze dan Thorn yang melihat tangan Solar berubah warna menjadi kebiruan dan pembuluh darahnya bermunculan.
"Huah! Ice! Tarik ekornya!" Teriak Solar yang mulai panik ketika merasakan tangannya tergencet oleh lilitan python itu.
Sigap Ice mengurai belitan ular di tangan Solar...
Dan melemparkan ular itu ke atas ranjang Taufan, yang dihuni oleh Blaze dan Thorn.
"MAMA!" Jerit Blaze nyaring, yang langsung bersembunyi di belakang Thorn...
"BLAZE JAHAT!" Jerit Thorn yang dengan latahnya menyikut-nyikut saudara kembar laknatnya itu. Belum lagi python yang dilempar Ice tadi malah meliliti kakinya.
"BLAAAZE. TOOLOOONG!" Lanjut Thorn menjerit sejadi-jadinya melihat si ular yang menjulur-julurkan lidah cabang dua kecilnya. Kedua tangan dikibas-kibaskan karena paniknya.
Sayangnya Blaze yang diteraki namanya sudah tergeletak dengan mulut berbusa akibat sikutan dan tangan Thorn yang mengenai perut, kepala dan harta berharganya.
"Jangan makan Thorn... Thorn ngga enak... Thorn ngga manis..." Gumam Thorn kepada si ular sambil mendekapkan tangan seperti sedang berdoa. Apalagi ular itu kini menjalar mendekati pangkal pahanya. Memang ular bisa mengerti bahasa manusia?
"Ish kau ini Ice... Kasihan Thorn!" Ketus Solar yang langsung mencengkeram kepala python yang merambati Thorn.
"Ice jahat!" Dengus Thorn sambil menunjuk gemetaran pada adiknya. "Kalau Thorn mati dibelit gimana?" Polos tapi lebay...
"Kalau mau ngerjain orang tuh begini..." Tanpa menengok, Solar melemparkan ular itu ke ranjang Gempa, dimana Taufan bertengger.
"ULAAAR SOLAR KUTUKARPET!" Jerit Taufan latah. "KUTUKUPRET!" Koreksinya dan langsung meloncat ke ranjang Halilintar tanpa kakinya menyentuh lantai. Mungkin ilmu ringan tubuh sesuai dengan namanya?
Halilintar bengong ketika Taufan langsung naik ke pundaknya. "Tolong, Hali..." Lirih Taufan yang bertengger di atas pundak sang kakak.
"Turun..." Desis Halilintar.
"Ngga mau..." Taufan geleng kepala.
"Dua... Turun..."
Ngga..."
"Tiga... Turun atau..."
"NGGA MAU!"
"Okelah kalau begitu." Halilintar langsung memegang pergelangan tangan Taufan.
"Hali? Kau mau apa?" Taufan meneguk ludah begitu merasakan tangan Halilintar yang keras dan kencang mencengkeram pergelangan tangannya.
Halilintar tidak menjawab dan Taufan tidak sempat berteriak ketika dirinya dibanting ke lantai oleh sang kakak tertua yang pasang tampang tanpa ekspresi.
"Kembalikan ular itu ke kandangnya sebelum kalian berdua kulempar dari jendela." Desis Halilintar sembari melempar deathglare pada Solar dan Ice...
Yang keduanya cengo melihat Taufan tergeletak pingsan dibanting Halilintar.
.
.
.
Bersambung.
