Chapter 6 –Snail and The Freak Exam-

Disclaimer ; Udah pada tau dong? Anime Naruto itu © Masashi Kishimoto.

Chapter 6 ini mungkin rada sedikit gaje *bukan rada, tapi emang

Abal-abal, aneh, bener-bener gaje deeh.

Genre : Adventure/Romance :D

Pairing : ShikaTema Forever :D

R.E.V.I.E.W Don't forget ! Ya-Ha !

Don't Like Don't Read!

Review nya pemirsaaaahhhh


"Apa si yang adik-adikmu pikirkan?", tanya Shikamaru sambil mengangkat sebelah alisnya. Temari masih bengong. Mereka berdua sama-sama bingung stadium akhir melihat gulungan petunjuk yang kankurou beri.

Gadis itu masih bengong, melihat ada beberapa hurf kanji di dalamnya.

Melongo, tanpa berkedip.

"Hfff. Ini, kau saja yang pakai. Aku belum bisa!", pekik Shikamaru sambil melemparkan gulungan jumbo itu dengan malasnya.

Namun Temari masih bengong #sadar mbaaa.. udah lagi jadi artis niih# *artis di fic gaje? Siapa juga yang niat*

"Mendokusai~ sampai kapan kau mau bengong? Ayo cepat!", celetuk Shikamaru—kini sambil menggoyang-goyangkan pundak kekasihnya.

"Aah, sumimasen, Shika. Iya, iya. Akan aku lakukan," Temari kembali dari lamunannya dan langsung melakukan apa yang kekasihnya minta.

Sebenarnya apa si, yang Shika minta? Kok kayaknya maksa banget? Duit ya #bugh, abaikan kalimat itu..

Temari lalu melakukan beberapa segel. Ia juga menggigit jempolnya sampai cairan merah kental keluar dari permukaan jarinya. Ia kemudian mengoleskan darahnya ke gulungan itu.

"Kuchiyose no jutsu," nama jurus yang Temari akan demonstrasikan di depan pangerannya yang ternyata 'belum' menguasai teknik kuchiyose.

Wuzzz..

Wuzzz

Sessssshhhhhh….

Ngiiik..

Ngoook…

Sreeeeettt…

Berbagai bunyi nyaring menghiasi suasana hutan itu. Seenggok makhluk aneh ukuran XXXL nampang di depan mereka berdua.

"Aaa..Apa itu?", kata Temari kaget.

"Kau yang memanggil masa kau tidak tahu. Itu tuh Keong. Tapi kok raksasa, ya?", celetuk Shikamaru masih dengan nada malas plus bingung pastinya.

"Konichiwa, Shikamaru-kun, Temari-dono. sedang santai ya?", kata makhluk itu santun.

"Santai apanya? Jelas-jelas kami ini sedang bingung dan gelisah!", omel Shikamaru.

"Ttuu..nggu.. Baa..bagaimana anda tahu na..nama kk..kkammii?", Tanya Temari menirukan logat Hinata.

"Hooho, Gaara-sama yang memberitahuku semua tentang kalian," ulas makhluk berwujud keong itu dengan halusnya.

"Yoos, apa yang harus kami lakukan?", kini giliran Shikamaru yang bertanya—tidak, malasnya agak berkurang kok.

"Hmm..Hmm, aku kaan belum kenalan. Masa harus secepat itu si," celoteh keong itu dengan nada genit. #author kasih tahu ya, keong itu tuh besar, warnanya pink—ungu, lipstikan, dan ada motif mirip bunga di cangkangnya. Yah, mirip kaya Snaily nya Squidward waktu di Eps balapan keong di animasi Spongebob Squarepants laah.. Ya-Ha, padahal author benci banget sama keong# *back to the story*

"Ya, ya ya, siapa namamu, keong merepotkan?", ucap Shikamaru kesal dengan nada yang..errr.. mirip sama logatnya Hiruma, hanya saja embel-embel Hiruma yang berupa "sialan" di ganti jadi "merepotkan".

"Pemuda yang kasar. Hmm, bagaimana bisa gadis secantik Temari-dono jadi pacarmu?", ledek keong itu. "Rrrrw, baiklah. Hajimemashite. Watashiwa Kasatsumura (plesetan dari katatsumuri=keong)-desu. Gaara-sama menyuruhku untuk menyampaikan ujian terakhir untuk kalian berdua," lanjut keong itu.

"Hah? Last Exam? Really? Uyeaaah~," Shikamaru joget-joget gaje *pliss, abaikan kalimat ini. Kalimat serius nya adalah:

"Hm, ujian terakhir? Aku tak menyangka ujian Gaara akan berakhir secepat ini," celoteh Shikamaru.

"Secepat apa kau bilang?" Temari menggerutu dengan pernyataan kekasihnya itu. Sudah jelas-jelas mereka hampir sekarat karena lamanya ujian itu. Dasar pemuda aneh.

Temari membuang pandangan dari Shikamaru dan berbalik untuk menatap keong raksasa itu.

"Hn, Nona Kasatsumura, boleh kami tahu, apa tantangan selanjutnya?", Tanya Temari jauh lebih sopan dari nada bertanya Shikamaru.

"Temari-dono dan Shikamaru-kun harus mencarikan ku cangkang baru dengan motif lambang Konoha di sebelah kanan dan Suna di sebelah kiri," jelas Raden Ajeng Ndoro Wati Nona Keong Kasatsumura *plak, abaikan.

"Itu sih gampang, cari saja di toko hewan," ucap Shikamaru menyepelekan ujian itu.

"Memang ada yang ukurannya sebesar ini?", celoteh Temari di sertai fakta bahwa Nona Kasatsumura tingginya lebih dari 5 meter.

"Kau benar," ucap Shikamaru malas lagi.

"Ada lagi tantangan dalam ujian ini, Temari-dono," ujar Nona Kasatsumura horror.

"Eh?"

"Kalian harus membawaku mencari cangkang itu. Tapi, tidak ada orang yang boleh melihatku kecuali kalian berdua," ucap Kasatsumura.

"Mudah, segel saja dia di gulungan ini," lagi, Shikamaru menyepelekan ujian itu.

"Baka, Shikamaru-kun. Aku kan minta aku ikut dan aku juga harus melihat kalian membuat cangkangnya," celetuk Keong itu keras.

"Mem..bu..at?", ucap sejoli itu bebarengan.

"Iya, dan ingat. Bahan dasarnya pasir dan daun! Mengerti?", permintaan yang konyol. Yah, tapi itulah yang harus mereka berdua lakukan. Ganbatte! *plak*

"Aaa..apa? anda tidak salah, Kasatsumura-sama? Tapi, bagaimana caranya?", kata Temari gugup.

"Cara apa? Kalau untuk membawaku, ini, aku punya gulungan lagi. Pelajari jutsunya kurang dari 10 menit. Awas saja kalau lebih," ucap keong itu sembari memberikan gulungan berkuran "M" itu kepada ShikaTema. Untung saja mereka cerdas—kelewatan malah. Jadi, tidak masalah kan 10 menit?

"Eh, segelnya susah," gerutu Temari.

"Baka no hime! Begini saja tidak bisa. Sudah, aku saja yang belajar. Mendokusai,"Shikamaru balas menggerutu.

"Beruang, anjing, tikus, kuda *maaf, segelnya ngawur.. hehehe*" Shikamaru terus menghafal segelnya dan menaati apa yang tertulis pada gulungan itu.

"Kakusu no jutsu *jurus ciptaan saya plak*,"Shikamaru menempelkan telapan tangannya ke tanah. Berhasil. Kasatsumura-sama menghilang, namun suaranya masih terdengar.

"Hebat, kau anak muda! Hahaha, sekarang, hanya kalian berdua saja yang bisa mendengar suaraku. Dan sebentar lagi, aku hanya dapat terlihat oleh kalian berdua. Cepat keluar dari hutan ini dan cari bahan baku nya. Aku akan terbang. Kalian jalan kaki saja ya," kata keong itu. ShikaTema sweatdrop dengan indahnya -?- mendengar pernyataan langsung dari sang tersangka bahwa 'Keong bisa terbang'.

"Lalu, bagaimana membuat cangkang merepotkan itu? Dimana kita mendapatkan bahan bakunya?" Tanya Shikamaru degan menggerutu.

"Pasir hanya bisa di dapatkan dari padang pasir Suna, pasir yang paling halus! Dan daunnya adalah daun tanaman medis yang sangat sering dipakai di Konoha!"

"Kalau begitu, kita harus bolak-balik Suna-Konoha?", Temari kehilangan semangatnya.

"Itu benar-benar merepotkan,"ucap Shikamaru sambil menguap lebar.

"Ya, itu sih kalau kalian mau menyelesaikan ujian TERAKHIR ini," kata kata nona keong dengan menekankan volume nya pada kata "TERAKHIR" yang berhasil menyadarkan Shikamaru dan kemalasannya. Ia benar-benar semangat lagi untuk menyelesaikannya.

"Hm, baiklah. Ayo, aku tak mau buang-buang waktu di sini, Shika," Kata Temari sambil menarik tangan Shikamaru dan melompat—atau lari?

"Ahh, iya Temari. umm, bisa tidak, kau terus menggandengku seperti ini?", celoteh Shikamaru seperti anak kecil.

"Hah, dasar. Baiklah," Temari berlari sambil menggandeng pangerannya itu. Mereka berdua sangat mudah menemukan jalan keluar dari hutan itu, karena hutannya sudah ludes beberapa hektar karena sabetan kipas Temari beberapa jam lalu.

TEMARI POV

Aku senang menggandeng Shikamaru seperti ini. Tangannya hangat. Hangat sekali. Aku ingin menggandengnya terus. Shikamaru benar-benar telah mengubah hidupku! Kau pangeranku Shikamaru.

Aah, wajahnya benar-benar indah. Walaupun malas, tapi tetap saja aku mencintainya. Kepribadiannya unik. Daisuki yo, Shikamaru..

Aku benar-benar akan tenang jika tantangan terakhir ini terselesaikan. Aku harus semangat. Ganbatte Temari! Kau pasti bisa. Jangan bikin Shikamaru kecewa dong. Semangat!

Yeaaah~ semangat ku bangkit.. Lihat, senyum indah yang selalu disukai Shikamaru sekarang melekat terus di wajahku.. Uyeaaah!

END TEMARI POV

NORMAL POV

Mereka berdua berjalan—atau melompat? Berusaha mengejar Kasatsumura-sama yang sedang terbang dengan asiknya di langit (mereka sudah bisa melihat Kasatsumura—ingat, hanya ShikaTema yang bisa liat!). Mereka berdua terus bergandengan tangan sepanjang jalan yang mereka lalui (enggak si, ada beberapa menit mereka melepas tangan, karena jarinya gatel *plak*)

Perjalanan pertama mereka adalah perjalanan menuju Konoha. Karena, begitu mereka mendapat daunnya, mereka akan menuju Suna, mencari pasir, membuatnya, dan langsung melapor pada Gaara.

Selama perjalanan, mereka berdua diam dua bahasa (seribu bahasa mah kebanyakan -_-) entah karena canggung, malu, atau apa, author pun masih bingung. Jiahahaha~. Akhirnya, setelah beberapa hari, mereka sampai di pintu gerbang Konoha. Kebiasaan rutin, mungkin, Izumo dan Kotetsu, sang gatekeeper pasti akan meledek Shikamaru habis-habisan kalau melihat dia bersama Temari.

"Ohayou, Shikamaru-kun, Temari-san.. Kencan lagi ya?"

"Semakin hari, semakin mesra saja. Jadi iri ..", ledek Izumo dan Kotetsu. Biasa, Shikamaru takkan pernah menggubrisnya. Mereka punya misi penting sekarang. Mereka harus mencari daun yang paling sering di gunakan untuk keperluan medis di Konoha. Sepertinya, Shikamaru sudah 100% tahu, kepada siapa dia harus bertanya. Yah, siapa lagi kalau bukan si soft pink hair, Sakura Haruno, kunoichi berbakat yang juga sahabat Shikamaru. Pemuda itu pun menuju ke sebuah apartemen, err.. rumah, maksud author yang di duga sebagai tempat tinggal Sakura *gausah pake di duga segala kali*

"Ini rumah siapa?", Tanya Kasatsumura—yang tentu Cuma bisa didengar Shikamaru dan Temari.

"Sudahlah, hewan mendokusai. Menurut saja," celetuk Shikamaru kesal.

"Yang sopan Shikamaru! Huuuuh," Temari begitu geram dengan tingkah pacarnya itu.

"Ya sudah. Ketuk pintunya!", perintah keong itu.

Tok..

Tok..

Tokk

Tokk..

Sreeeetttt..

Terdengar pintu di buka pelan.

"Eh.. Shikamaru-kun. Ada apa ya? Tumben sekali loh kau ke sini. Oh iya. Siapa gadis itu?", kata seorang ibu-ibu dari balik pintu.

"Eh. Obasaan, Sakura ada?", Tanya Shikamaru sambil menggaruk belakang kepalanya yang ga gatel sama sekali.

"Kau kan belum menjawab pertanyaanku. Siapa gadis itu? Pacarmu ya?", goda ibu Sakura sambil mengedipkan sebelah mata.

"Um.. Ini Temari.. Dia..Dia..Ummm", penjelasan Shikamaru terhenti ketika ada seorang gadis berambut softpink keluar dari dalam rumah. Selamat…Shikamaru tak perlu menjelaskan panjang lebar kepada ibu sahabatnya itu tentang dia dan Temari. Yaah. Sama kaya anaknya, kalau Shikamaru bilang satu kata saja, dia akan di kejar mati-matian dengan pertanyaan yang aneh-aneh. Ibu-ibu kan cerewet. Mendokusai~

"Hei, Shikamaru. Temari-san. Konnichiwa. Ada perlu apa? Tumben mampir?", sapa Sakura sambil berjalan ke arah pintu. Ya, Sakura kan sudah tahu kalau Shikamaru dan Temari itu pacaran.

"Engg…Ano…Sa..Sakura…Kami kan di beri…", Shikamaru berkata gagap sambil sekali-kali melirik ke arah kekasihnya yang juga sedang bingung.

"Ujian Gaara? Kita bicara di taman saja," ajak Sakura. Hloo.. Sakura udah tau toh soal ujian itu?

"Eh darimana kau…."

"Aku ceritakan nanti. Ibu, aku pergi sebentar.. Daah," kata Sakura dan langsung pergi dari rumahnya.

-Sesampainya di taman….-

"Apa yang bisa aku lakukan untuk kalian?", Tanya Sakura memulai pembicaraan.

"Tunggu. Sebelum itu, dari mana kau tahu tentang…"

"Ujian Gaara?", Sakura kembali memotong perkataan Shikamaru. Temari yang dari tadi diam sekarang ikut nimbrung *woy, bahasanya aneh tau*

"Tsunade-sama yang memberi tahumu?", Tanya Temari sambil mendekat ke Sakura.

Sakura mengangguk mantap.

"Sebenarnya Konoha itu….", sebelum Sakura menyelesaikan omongannya, ia teringat suatu hal. Yah, hal rahasia tentunya. Dia buru-buru menghentikan omongannya dengan menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan mulusnya itu.

"A..apa? Konoha kenapa?", Tanya Shikamaru penasaran. Pasti ada yang disembunyikan. Pasti!

"Ada apa ya? Ahh, aku lupa mau bilang apa tadi," Sakura memasang muka innocent sambil garuk-garuk pelipis nya yang sedikit gatel.

"Kau bohong, Sakura," celetuk Temari kesal.

"Benar kok.. Ah, bukan apa-apa. Masa kalian tidak percaya. Ah sudahlah. Memang kalian mau tanya apa si?" kata Sakura mengalihkan topic—yang mungkin sebenarnya kembali ke topic.

"Eh iya. Begini Sakura. Kau kan ninja medis yang hebat. Kau itu sudah banyak membuat obat-obat herbal buat orang sakit. Nah, kami mau Tanya. Tanaman apa yang paling sering dipakai untuk membuat obat? Kami butuh tanaman itu," kata Shikamaru menjelaskan, eh bertanya.

"Aku jarang sekali melihatmu semangat seperti ini. Ini tidak membuatmu mengatakan "Mendokusai" hah Shikamaru?", ledek Sakura sambil menjulurkan lidahnya.

"Kau itu yang mendokusai. Cepat, bilang saja. Apa susahnya?", celetuk Shikamaru kesal.

"Ikut aku!", perintah Sakura singkat. Shikamaru dan Temari mengangguk dan langsung mengikuti arah gadis itu berjalan.

Di jalan, Shikamaru dan Temari tak henti-hentinya berkeringat. Takut kalau tidak menemukan apa yang mereka cari. Kasatsumura sama sekali tidak memperdulikan mereka. Keong itu tetap berjalan dengan muka innocent dan sesekali terbang untuk memakan burung yang lewat *hloooo*.

"Sudah sampai," kata Sakura singkat. Sekarang mereka berada di sebuah rumah kaca yang lumayan besar.

"Ayo, masuk," ajak Sakura.

"Jadi, mana yang paling sering kau gunakan?"

"Ayolah. Tanaman herbal di sini banyak sekali. Kau kalau mau minta yang jelas dong. Kami itu sering sekali memakai tanaman-tanaman ini," gumam Sakura sedikit kesal.

"Sakura, yang paling sering! Pasti ada kan?", Tanya Temari hampir putus asa. Dia melirik kea rah kasatsumura yang ada di luar *keliatan kan, orang rumah kaca*, namun keong itu masih sibuk dengan aktifitas diam—cuek nya.

"Yang paling sering, ya? Ummm. Ini," celoteh Sakura sambil memberikan setangkai bunga berwarna ungu. Baunya memang menyengat, tidak seperti bau bunga pada umumnya.

"Ini bunga apa sih, Sakura? Baunya kok memuakkan sekali!", keluh Temari.

"Ya memang begitu baunya," tambah Sakura sedikit kesal.

"Kalau begitu kami minta daunnya. 10 lembar," kata Shikamaru yang sudah diberi tahu oleh Kasatsumura untuk meminta 10 lembar.

"Hie? Daun? Tanaman ini tak berdaun!", ucap Sakura sambil berkacak pinggang.

"Nani?"

"Iya, lihat! Tanaman ini hanya punya batang dan bunga!", seru Sakura kesal.

"Tapi kami butuh tanaman yang DAUNnya menjadi bahan yang paling sering digunakan untuk membuat obat," protes Temari sambil menekankan kata-kata DAUN.

"Kenapa tidak bilang? Ummm.. ah.. Ini!", seru Sakura sambil menunjuk salah satu tanaman lebat.

"Merepotkan. Ambilkan 10 lembar," perintah Shikamaru sambil menguap.

"Anoo..Shikamaru, hanya ada 8 lembar," jelas Sakura sambil was-was.

"Apa? Bagaimana ini, Shikamaru? Bagaimana?", Tanya Temari khawatir.

Kasatsumura yang sedari tadi sedang ber-ngh-ria kini melemparkan pandangannya ke 2 pemuda—pemudi yang sedang dirundung kebingungan itu.

Keong raksasa itu mengangkat sebelah alisnya *kebayang alis keong kayak apa?* dan akhirnya hanya mengucapkan satu kalimat

"No Problem, baby," kalimat itu lantas membuat Temari dan Shikamaru menjadi sangat plong sekaligus sweatdrop karena dipanggil 'Baby'. H h h h h..

"Jadi bagaimana?", Tanya Sakura sambil memegang lembaran daun yang bertulang menyirip itu.

"Kami ambil," kata Shikamaru layaknya pembeli yang sedari tadi menawar harga barang yang akan ia beli.

"Deal," tegas Sakura sok jadi Tantowi Yahya muaaah *digebug readers*

"Arigatou Gozaimasu, Sakura. Bagaimana kami membalasnya?", celetoh Temari. Ditanya begitu, Sakura langsung menyeringai.

"Shikamaru. Kalau ujiannya sudah selesai, segera lamar Temari-san. Oke?", goda Sakura sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Mendokusai," hanya kata itu yang keluar dari mulut Shikamaru. Pemuda itu membuang mukanya. Ia blushing. Apalagi Temari. ia sedang tertular virus blushing berat.

"Ano..Kami pergi saja dulu Sakura..Arigatou. Jaa nne," ucap Temari sambil menarik dan disambi menggandeng Shikamaru juga mengajaknya meninggalkan rumah kaca itu.

Mereka keluar, berjalan menuju tempat yang sepi, dan….

TUH KAN PIKIRANNYA NEGATIF!

Mereka itu mau ngomong sama Kasatsumura..

"Keong merepotkan. Ini, daunnya. Sekarang apalagi?", ketus Shikamaru malas, ohh tentu.

"Ke Suna. Pasir paling halus, ingat? Bawanya pake bungkusan dari daun yang sering jadi bahan masakan orang-orang Konoha," jelas keong itu santai.

"Aku mau pulang dulu," kata Shikamaru sambil pergi meninggalkan mereka berdua.

"Shika, kau mau pergi dan meninggalkan ujian ini?", Temari muali khawatir dan cemas.

"Baka, aku mau tanya ke ibuku, daun apa yang sering digunakan untuk memasak oleh orang-orang Konoha. Mau ikut tidak? Atau kau mau kutinggal di sini, dan kencan dengan keong itu?", ceteluk Shikamaru agak jengkel. Temari menggembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya. Shikamaru nyengir senang melihat wajah pacarnya yang manis waktu marah.

Shikamaru mendekat ke Temari dan menggendongnya di punggungnya.

"Hei, apa-apaan kau?", bentak Temari kesal.

"Ikut saja. Kau juga senang kan?", goda Shikamaru. Ia berjalan menuju ke rumahnya. Yah, di perjalanan, tentu saja orang-orang Konoha yang tau betul sifat Shikamaru menjadi terheran-heran setengah mati.

"Oi, Shikamaru. Kau gagah sekali kalau sedang menggendong pacarmu itu," goda Chouji yang kebetulan lewat—tentu sambil makan kripik kentang favoritnya.

"Hh," hanya itu dengusan yang keluar dari mulut Shikamaru.

Mereka berdua sampai di kediaman Nara dan disambut sangat hangat oleh Yoshino.

"Shikamaru! Kau kemana saja. Eh, Temari. daijoubu desuka? Kenapa sampai digendong Shikamaru? Kau sakit? Mananya yang sakit, biar bibi obati," kata Yoshino baik—sekali malah.

"Ibu, kami diberi ujian oleh Gaara. Aku tak bsia menceritakan panjang lebar sekarang ini. Yang jelas, aku mau tanya. Daun yang biasa ibu gunakan untuk memasak itu daun apa saja, bu?", tanya Shikamaru to-the-point.

"Humm, banyak. Kau mau yang mana?", jawab Yoshino.

"Paling sering, bu," ketus Shikamaru.

"Ah, ada. Ambil di kulkas. Daun yang hijau lebar menyirip sebesar piring!" jelas Yoshino. Tanpa basa-basi, Shikamaru bergegas ke dapur dan mengambil daun yang Yoshino maksud. Yah, Cuma ada satu lembar. Tak apalah.

"Ini kan bu?", kata Shikamaru setelah mengambil daun itu. Yoshino hanya mengangguk.

"Arigatou Obaa-san. Kami pergi dulu," kata Temari undur diri.

"Loh kok cepat sekali? Mau kemana lagi?", tanya Yoshino khawatir.

"Banyak hal merepotkan yang harus kami lakukan. Ja nee, kaa-san," kata Shikamaru dan langsung menggandeng Temari keluar rumah.

"Shikamaru, tunggu!", suara seorang lelaki menghentikan langkah mereka.

"Ayah?", pekik Shikamaru singkat.

"Kau sudah mendengarnya?"

"Mendengar apa?"

Wajah Shikaku berubah menjadi horror.

"Kau..Temari..Hanya..Hanya.."

"Hanya apa, ayah?", SHikamaru penasaran namun tetap santai.

"Hanya….."


Apakah yang akan Shikaku katakan? Hal bagus atau buruk?

Hal mengejutkan yang akan jadi surprise di chapter selanjutnya..

Bocoran : Chapter selanjutnya adalah Last Chapter ..

Oke .. Oke.

Gomen, update nya loama beud'z (alay kumat) soalnya lagi belajar adaptasi sm lingkungan baru niih hehehe

R.E.V.I.E.W nya dong..Onegaishimasu…

Review sebanyak2nyaa….

Arigatou


-Ai No Gaiden © Annisya'NaraYoichi'Gakarian-