Naruto © Masashi Kishimoto
Saskayfr, 12114102
Inspired by otome game 'TMGS 3rd', Korean drama 'The Heirs', and some comics.
Warning: AU, OOC, Mainstream Drama, Accidentally Typo(s).
Proudly Present
Classical
Chapter 6
...
"Jadilah kekasihku dan terus berada di sampingku hingga aku pergi."
Permintaan Sasuke yang begitu mengejutkan telah membuat si gadis pirang tersebut menatapnya dengan sedih, tapi ia menampilkan senyum termanisnya sekejap setelah tatapannya itu, kepada pemuda yang tengah menatapnya datar tetapi penuh harap.
"Baiklah, jika itu bisa membuatmu senang."
Dan setelah Naruto mengucapkan hal itu, mereka hanya terdiam sambil menatap langit yang cerah bersamaan. Angin lembut yang membelai wajah keduanya menjadi saksi dari kisah cinta mereka yang menyedihkan.
…
Sekolah telah usai. Jam tangan yang bertengger di lengan si gadis Namikaze menunjukan pukul 3.40. Dia menunggu seseorang yang hari ini resmi menjadi kekasihnya di depan gedung sekolah. Oh, dia paling benci menunggu, apalagi sudah hampir 20 menit dia berdiri disini sambil melihat orang-orang yang bergegas untuk pulang. Dia juga ingin pulang!
"Menunggu lama, Dobe?" Sebuah suara baritone dari belakang mengejutkannya, dan dia tahu persis pemilik suara itu. Langsung saja ia memutar badannya ke belakang sambil mengerucutkan bibirnya –tanda bahwa ia sedang kesal.
"Kau menyebalkan, Teme! Kau bilang tadi hanya sebentar. Teme pembohong!" Gerutunya pada orang yang sudah ditunggu-tunggu. Sasuke hanya diam, berlalu begitu saja meninggalkan Naruto yang masih mengerucutkan bibirnya.
"Kalau mau menggerutu terus, aku duluan saja."
"Ish, Teme jelek! Tunngu aku!"
"Kita mau kemana, Teme?"
Mereka sekarang sudah di jalan entah kemana di dalam mobil sport biru milik Sasuke. Sasuke tak menjawab pertanyaan Naruto, ia hanya terus memperhatikan jalanan dengan wajah datar andalannya. Naruto berpikir kalau Sasuke tidak mau diganggu, jadi dia tidak menanyakan hal itu lagi dan tetap diam dalam keheningan yang tercipta di dalam kendaraan tersebut.
"Sudah sampai. Ayo turun." Sasuke akhirnya mengeluarkan suaranya setelah berdiam diri selama perjalanan. Naruto turun dari mobil, ia tidak mengenali daerah tempat yang ia datangi bersama Sasuke saat ini. Beberapa langkah mengikuti Sasuke, akhirnya Naruto menemukan jawabannya. Ternyata Sasuke mengajaknya ke sebuah pemakaman di pinggir kota yang sedikit sepi.
'Pemakaman? Mau apa si Teme membawaku kemari? Jangan-jangan dia mau membunuhku lalu langsung menguburku disini?! Iiiihhh itu tidak mungkin.' Pikir Naruto ngawur. Si pemuda berambut gelap itu terus saja diam dan memimpinnya di jalan setapak pemakaman tersebut.
Tiba-tiba Sasuke berhenti di depan salah satu pemakaman hampir di ujung lahan pemakaman. Tertulis di batu nisan itu nama seorang wanita 'Uchiha Mikoto'.
"Aku mengajakmu kesini untuk aku perkenalkan kepada ibuku." Lirihnya sambil sedikit tersenyum sedih. Sasuke mulai berlutut di hadapan batu nisan tersebut, lalu menyimpan bunga yang sedari tadi ia bawa. Naruto hanya terdiam, sedikit terkejut karena baru mengetahui bahwa ibunya sudah tiada. Dia mengikutinya berlutut di hadapan batu nisan lalu terdiam, melihat Sasuke akan mulai berbicara.
"Ibuku meninggal karena dibunuh oleh ibu dari kakakku. Dia begitu membenci ibuku karena ibuku adalah istri kedua dari Uchiha Fugaku, suaminya, ayahku. Waktu itu ibuku membelaku agar tidak diusir dari keluarga Uchiha dan tetap hidup dalam kemewahan yang sekarang aku nikmati. Tapi nyawa ibuku sebagai gantinya. Ternyata wanita itu telah merencanakan semuanya, dan sekarang disinilah ibuku berada." Sasuke menunduk menatap tempat peristirahatan terakhir sang ibunda, matanya mulai berkaca-kaca. Dia pun melanjutkan ceritanya.
"Mungkin awalnya ibu berpikir aku akan bahagia jika aku dibesarkan di keluarga Uchiha dan tumbuh dengan kemewahan yang akan membuat masa depanku cerah. Tapi kenyataannya jauh dari itu. Ayahku tidak menganggapku, kakakku juga mengasingkanku bahkan tidak ingin mengakuiku sebagai adiknya dan tidak ingin melihatku sedikit pun. Hidupku hancur secara perlahan, mimpiku begitu sulit kuraih karena aku harus meneruskan perusahaan ayahku."
Naruto hanya terdiam, terus terdiam mendengarkan cerita pilu dari orang yang dia sayangi. Dia baru tahu bahwa hidup seorang Uchiha Sasuke tidak se indah yang ia bayangkan. Ternyata ia menyimpan cerita yang amat sangat menyayat hatinya dibalik wajah yang selalu tanpa ekspresi.
"Aku menceritakan hal ini padamu, karena aku percaya kalau kau memang orang yang akan mengubah hari-hariku yang kelam menjadi lebih cerah, walaupun hatimu belum mempercayai hal itu." Katanya pada Naruto dengan tatapan yang begitu serius. Lalu dia kembali menatap nisan ibunya, "untuk itu aku mengajakmu kesini, untuk memperkenalkanmu, sebagai penyemangat hariku, sebagai penerang malamku, sebagai pengisi kesepianku, agar aku memiliki alasan untuk terus hidup." Lanjutnya dengan lirih dan dalam.
Naruto yang mendengar pengakuan tersebut menitikkan air mata, terharu dan senang akan perasaan Sasuke yang tidak ia sangka akan sedalam itu. Naruto pun memegang tangan Sasuke yang mulai menitikkan air mata dan menyandarkan kepalanya ke pundak milik si pemuda yang sedang dalam keadaan hati yang sedih.
...
Mobil yang dikemudikan oleh si pemuda beriris oniks itu berjalan di jalanan kota yang sedikit lengang. Sang pengemudi maupun penumpang sibuk dengan pikirannya masing-masing, atau mungkin hanya sang penumpang yang sedang dalam keadaan perang batin karena sang pengemudi terlihat berkonsentrasi memperhatikan jalanan.
Naruto tak habis pikir, Sasuke menyimpan semua cerita kelamnya dari semua orang dan menanggung bebannya seorang diri tanpa ada yang mengetahui penderitaannya. Si gadis pirang merasa sedih sekaligus senang. Sedih karena ternyata Sasuke memiliki hidup yang sulit, dan juga senang karena Sasuke mau menceritakan dan membagi kesedihannya kepada Naruto. Tetapi, ia jadi bingung harus bicara apa setelah mendengar kisah Sasuke tadi.
"Apa yang kau pikirkan, dobe?"
Suara baritone Sasuke membangunkannya dari lamunan. Dia tetap diam, menatap ke arah Sasuke dan melihatnya dengan wajah yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Sasuke yang melihat dari ekor matanya hanya mendengus sedikit lalu mulai membuka suara kembali.
"Jarang sekali melihatmu terdiam begini. Senang rasanya bisa berhenti mendengar suaramu yang berisik itu sejenak." Katanya sambil memperhatikan jalanan dengan wajah datarnya.
Naruto terkejut. Ayolah, dia sedang memikirkan Sasuke dan orang yang ia pikirkan malah mengejeknya dengan wajah yang tidak dapat dibaca lagi. Ini penghinaan! 'Sia-sia aku iba padanya,' pikirnya. Naruto hanya mendengus sebal dan mengerucutkan bibirnya, lalu melihat keluar jendela. Sasuke yang memperhatikan Naruto mulai tersenyum, senyum yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.
"Berhentilah melakukan hal seperti itu, Naruto. Kalau tidak-"
"Apa? Biarkan saja, kau menyebalkan! Apa yang berani kau lakukan, hah?" Naruto memotong perkataan Sasuke dan langsung menjawabnya dengan nada kesal seperti anak kecil. Naruto menatap Sasuke dengan tatapan tidak suka dengan pipinya yang digembungkan. 'Lucunya dia, ya tuhan!' Pikir Sasuke. Dia menghentikan laju mobilnya di sebuah persimpangan. Lalu ia melanjutkan perkataannya.
"Kalau tidak, aku akan melakukan ini."
Dalam sekejap mata, seperti mimpi di siang bolong. Sasuke mengecup bibir Naruto sekilas. Setelah kejadian tersebut, pipi Naruto memerah, menutup bibirnya dengan telapak tangannya, juga membulatkan matanya kaget.
"Ih, Teme mesum! Itu ciuman pertamaku, tahu!" Teriak Naruto langsung memalingkan wajahnya lagi keluar, menahan rasa malunya yang memuncak, membuat telinganya juga memerah.
Sasuke hanya tertawa melihat tingkah Naruto, lalu mulai menjalankan mobilnya kembali dengan perasaan yang ia sendiri tak dapat mengerti.
...
Tiga minggu telah berlalu sejak kejadian di pemakaman itu. Hubungan mereka berjalan baik layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Pergi bersama, istirahat di atap sekolah, mengantar Naruto pulang, kencan disaat ada waktu luang, atau hal-hal sederhana lainnya yang umumnya dilakukan oleh sepasang kekasih. Orang tua Naruto pun sudah mengetahui status hubungan mereka sekarang dan begitu menyetujui hal tersebut, bahkan orang tuanya sering mengajak Sasuke makan bersama jika sudah mengantar Naruto pulang.
Hari ini hari minggu, Sasuke mengajak Naruto pergi. Tidak seperti biasanya, kali ini Sasuke tidak memberi tahu kemana tujuan mereka. Naruto berpikir mungkin Sasuke ingin memberi kejutan untuknya, tapi kejutan apa yang akan diberikannya, kalau begitu?
Tiinn! Tiiinnn! Suara mobil di depan rumah Naruto membuatnya langsung bergegas keluar rumah dengan pakaian yang rapi dan wajah cerah. Sasuke –yang membawa mobil tersebut- pun keluar dari mobilnya dan berdiri di sebelah pintu mobil untuk penumpang –tempat untuk Naruto duduk.
"Hey, Dobe. Tumben sekali kau berpakaian begitu," adalah kalimat pertama yang dikeluarkan oleh lelaki berkulit putih pucat tersebut sambil bermuka –tetap- datar.
"Kau ini bagaimana sih. Memang kau tidak mau melihatku seperti wanta cantik kebanyakan? Kalau begitu aku ganti pakaian saja deh." Jawab Naruto sembari pura-pura bersikap biasa saja dengan tampangnya yang konyol, kaget, lalu berbalik menuju ke rumahnya, tapi Sasuke menahan lengannya hingga dia berbalik lagi ke hadapan si lelaki.
"Percuma saja, Dobe. Mau pakai pakaian apapun kau tetap jelek, sih. Jadi begini juga tidak apa." Sasuke membalikan kata-kata kekasihnya itu, memasang muka pura-pura meremehkan –yang dimana tetap terlihat datar- dan sukses membuat si gadis Namikaze itu mengerucutkan bibirnya sambil memukul pelan lengan Sasuke.
"Haha. Sudahlah. Cepat masuk mobil, kita berangkat sekarang."
'Teme ini mau bawa aku kemana sih? Jauh sekali. Masa' sudah tiga puluh menit belum sampai juga sih.' Naruto mulai berpikir lagi. Masalahnya, lelaki yang mengemudi ini tidak memberitahukannya tempat tujuan mereka dan tidak berkata apapun selama perjalanan. Hal ini membuat Naruto jengkel, kalaupun dia memulai percakapan, pasti hanya dijawab 'hn' andalannya atau bahkan tidak dijawab sama sekali oleh Sasuke.
'Mungkin dia mau membawaku ke tempat yang romantis! Oh, atau mungkin membawaku ke restoran mewah dekat pantai yang sudah dipesannya?!' Lamunan gadis itu mulai menggila. Sedangkan si pengemudi yang melirik dari ekor matanya hanya tersenyum saat melihat si penumpang melamun sambil tertawa sendiri.
"Kau kenapa, Dobe?" Ucapnya berbanding terbalik dengan perasaannya, dingin dan datar, seperti biasa.
Sontak si gadis yang dipanggil 'Dobe' pun menatapnya dengan sedikit terkejut. Berusaha menyembunyikan senyumannya tadi. "Tidak apa-apa. Dasar kepo!" Katanya pura-pura dingin. "Ngomong-ngomong, kita mau kemana sih? Jauh sekali." Tanyanya yang mulai bosan melihat jalan tidak ada habisnya.
Mobil sport tersebut berhenti di depan sebuah mansion megah ala-ala istana dalam dongeng, dengan gerbang menjulang tinggi yang menutup sebagian besar dalam mansion. Tak lama kemudian, gerbang tersebut terbuka, penjaga mansion tersebut mempersilahkan mobil Sasuke masuk sembari menunduk hormat.
"Ke mansion-ku." Jawabnya cepat dan –lagi-lagi- datar.
Naruto tercengang, kaget setengah mati! Dia kaget karena belum pernah dia melihat mansion keluarga Sasuke yang jelas katanya orang berpengaruh di negaranya. 'Baru melihat luar mansion-nya saja sudah membuatku kaget. Apa sih Teme ini hobi sekali membuatku terkejut!' batinnya menggerutu sendiri sembari tidak mengedipkan matanya dari mansion milik keluarga Uchiha tersebut.
Dan lagi-lagi, Sasuke hanya tersenyum melihat hal itu.
Mobil pun berhenti tepat di depan sebuah bangunan seperti rumah –atau bisa dibilang istana karena ukurannya yang super-duper megah sekali.
"Ini tempat tinggalmu, Teme?!" Naruto bertanya dengan wajah yang masih terkaget-kaget. Pasalnya, Naruto mengira Sasuke tidak se-kaya itu. Tidak dengan kebiasaannya yang biasa saja dan tidak menghambur-hamburkan uang, seperti orang kaya kebanyakan.
"Ini hanya mansion keluargaku, kadang aku tinggal di apartemen. Tinggal disini sangat membosankan." Jawab Sasuke santai.
'Dia bilang 'hanya'?! Oh tuhan!' dan pemikiran-pemikiran lain di dalam otak Naruto yang tidak bisa lagi dijabarkan lewat kata-kata saking kagetnya.
"Aku membawamu kesini, untuk ku perkenalkan pada keluargaku. Kebetulan kakakku sedang di Jepang, ayahku juga sedang berada disini." Selesai mengatakan hal tersebut, Naruto memukul lengan Sasuke dengan agak keras. Hal itu membuat Sasuke terkejut dan langsung memalingkan wajahnya menatap si empunya tangan yang baru saja memukulnya itu.
"Kau ini terus saja mengagetkanku! Kenapa tidak bilang dulu sih! Aku jadi deg-degan setengah mati, kau tahu!" Naruto menggembungkan pipinya, mengerucutkan bibirnya yang baru saja menggerutu, matanya pun berkaca-kaca menahan tangis. Ia berpikir, apa yang akan dilakukan keluarga Sasuke padanya. Dia sendiri tak ingin membayangkan hal itu.
Sasuke yang merasa tidak enak pun akhirnya hanya bisa diam, mencoba mencari kata-kata yang bisa menenangkan si Dobe kesayangannya. Ini memang kali pertama Sasuke membawa seorang gadis ke keluarganya, tapi dia sudah memantapkan hati untuk memperkenalkan Naruto. Direstui maupun tidak, itu urusan belakangan.
"Aku kan sudah bilang, aku serius padamu. Maaf jika hal ini mengagetkanmu, membuatmu shock. Aku akan pastikan keluargaku, ayah dan kakakku, tidak akan berbuat macam-macam padamu. Ibu tiriku pun tidak tinggal disini. Jadi, tenanglah. Aku akan melindungimu." Sasuke mengatakannya dengan mantap, tidak ada keraguan di matanya. Naruto pun hanya terdiam dan mengangguk, lalu mereka keluar dari mobil dan menuju ke mansion tersebut.
Baru saja satu langkah memasuki mansion, mereka langsung dihampiri oleh salah satu pelayan yang ada di dalamnya. Naruto yang berada di belakang Sasuke pun hanya mendengarkan sambil melihat sekeliling ruangan.
"Selamat datang, tuan. Apa tuan butuh sesuatu?"
"Hn. Antarkan jus tomat dan jus jeruk ke kamarku."
"Tomat irisnya juga, tuan?"
"Hn."
"Baik, tuan. Nanti akan saya antarkan ke kamar tuan Sasuke."
Setelah percakapan singkat tersebut, si pelayan pun pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanan tuannya.
"Hey, teme. Kau suka sekali makan tomat ya? Lalu kau tau darimana kalau aku suka jeruk?" Tanyanya setelah mendengar pesanan Sasuke. Sasuke berbalik menatap si gadis Namikaze dengan wajah datarnya dan mulai menjawab.
"Memangnya aku pesan jus jeruk untukmu? Percaya diri sekali."
Naruto yang mendengar jawaban itu pun seketika malu dan mengerucutkan bibirnya. Memangnya dia tidak akan disuguhi apapun, begitu? Kan tidak mungkin.
"Yah, memangnya kau selalu minum dua jenis minuman dalam satu waktu? Atau memang kau tidak memiliki etika bertamu? Kan tamu itu harus disuguhi minuman dan semacamnya!" Jawabnya sambil memalingkan pandangan ke sembarang arah.
"Aku bercanda, Dobe. Dasar kau memang dobe." Sasuke berkata demikian sambil tersenyum tipis –yang pasti tidak terlihat oleh Naruto. "Ayo masuk. Ayahku ada di ruangannya."
Naruto mulai gugup lagi. Memikirkan bagaimana tampang ayahnya saja sudah membuatnya begitu deg-degan. Tapi Naruto memberanikan diri, berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi cahaya lampu kekuningan menuju ke ruang kerja milik ayah Sasuke.
Hanya beberapa langkah, mereka sudah berada di depan pintu. Jantungnya berdegup kencang, kakinya sudah gemetaran. Akan tetapi tangan Sasuke yang menggenggam tangannya membuatnya lebih kuat dan tenang, seakan memberi pesan bahwa semua akan baik-baik saja.
Sasuke mengetuk pintu tiga kali, dan terdengar suara 'masuk' dari dalam ruangan. Diputarlah kenop pintu tersebut, menampakan lelaki paruh baya yang sedang memakai kacamatanya, membaca berkas-berkas perusahaan dengan wajah yang terlihat sedikit lelah. Pria itu mengangkat kepalanya sedikit, melihat siapa yang mengetuk ruang kerjanya. Wajahnya tak kalah datar seperti Sasuke.
"Aku pulang, ayah."
"Hn. Lalu siapa itu?" Tanya sang ayah –Uchiha Fugaku- sambil melirik Naruto yang berada di sebelah anaknya.
Naruto pun mulai membuka mulutnya dan memperkenalkan diri. "Nama saya Namikaze Naruto. Saya teman dari Sasuke. Senang bertemu dengan anda, Fugaku-san." Ucapnya dengan lembut sambil membungkukan badannya.
Fugaku terdiam, hingga tak lama kemudian Sasuke berbicara.
"Dia calonku, ayah."
Naruto yang mendengar hal tersebut langsung menatap Sasuke dengan kaget. Dia tak bisa berkata apa-apa. Sejak kapan dia resmi akan menikah dengan si senpai pantat ayam? Pacaran saja terpaksa –walaupun dia sendiri juga senang dengan hal itu.
Ayahnya hanya menatap mereka sejenak. Menatap Sasuke, lalu Naruto, lalu kembali menatap Sasuke sejenak dan beralih lagi ke berkas-berkasnya yang sempat didiamkan beberapa saat sambil berkata datar dan pelan. "Bawa dia ke kamarmu, dan jangan lupa minta Shizune untuk menjamu tamu kita."
"Baik, ayah." Jawab Sasuke bersemangat, walaupun tetap dengan tampangnya yang datar. Sasuke berpikir ayahnya menerima Naruto begitu saja. Setelah membungkuk hormat, mereka berdua pun keluar dari ruangan yang sunyi tersebut, menutup pintu kayunya perlahan. Dan diluar ruangan tersbut Naruto langsung menghembuskan nafasnya kencang, membuang sisa-sisa kegugupannya di dalam tadi.
"Hn. Kau kenapa, Dobe?" tanya Sasuke saat melihat Naruto membuang nafas seperti itu dengan wajah lega. Sasuke sendiri sebenarnya sedikit gugup untuk menemui ayahnya bersama Naruto, tapi ia coba untuk menyembunyikannya.
"Kau ini bagaimana sih! Ya aku gugup lah, baka Teme! Siapa yang tidak gugup coba bertemu ayah dari pacarmu yang tampangnya lebih datar dan seram seperti itu?" Naruto mendengus kesal sambil menggembungkan pipinya tanda dia sebal.
Sasuke terkejut. Dan menatap Naruto dengan senyum yang menyebalkan sambil berkata,
"Jadi, kau menganggapku pacarmu, ya?" godanya sambil menautkan alisnya.
Naruto yang merasa salah berbicara itu langsung menutup mulutnya. Pipinya bersemu merah, matanya tak mau bertemu dengan mata si senpai yang ada di depannya, menggodanya. "Ka-kau salah de-dengar mungkin." Katanya mengelak dengan gagap lalu menatap Sasuke dengan muka marahnya. "Aku bilang teman, kok. Bukan pa-pacar." Lanjutnya.
Sasuke hanya tersnyum menahan tawa, lalu berjalan keluar dari lorong tersebut sambil menarik tangan Naruto menuju ke kamarnya. "Ayo ke kamarku, aku ingin menunjukan sesuatu padamu.".
Naruto hanya terdiam sambil mengikuti langkah Sasuke yang berada di depannya. Tiba-tiba langkah mereka terhenti, dan Naruto pun seketika melepaskan tangannya karena melihat seseorang di hadapan Sasuke.
"Selamat siang, Sasuke-sama. Anda sudah di rumah?" tanya seseorang berpenampilan seperti butler atau sebagainya kepada Sasuke. "Apakah anda sudahh bertemu ayah anda?" lanjutnya.
"Hn."
"Kalau begitu saya permisi. Saya dipanggil oleh ayah anda ke ruangannya." Kata orang tersebut tersenyum dan membungkukan badannya. "Selamat datang di Mansion Uchiha, nona." Tambahnya sambil membungkukan badannya juga kepada Naruto.
"A-ah! Terima kasih." Jawab Naruto sambil membalas membungkukan badannya. Orang itu pun berjalan kembali melewati mereka berdua. Mereka pun kembali berjalan menuju kamar Sasuke yang berada di lantai atas.
Sasuke bersama Naruto berjalan keluar menuju ke tengah mansion. Mansion tersebut memiliki kolam renang tepat ditengah-tengah, dikelilingi oleh seluruh bangunan mansion yang berbentuk segi empat. Mereka pun berjalan melewati kolam renang, menuju ke gedung sebrang dari tempat mereka keluar. Baru saja beberapa langkah memasuki bangunan, mereka langsung menaiki tangga yang sedikit memutar untuk menuju kamar Sasuke. Tangga tersebut dibuat dari keramik berwarna putih mutiara dan pegangannya yang mewah berwarna silver metalik. Sampai di lantai dua mereka disambut lorong panjang ke kiri dan kanan, mereka melewati dua pintu dari tangga ke sebelah kiri, dan Sasuke mulai membuka pintu yang berwarna putih gading dengan kenop pintu yang diputar berwarna silver.
Naruto kembali dikejutkan dengan isi dari kamar si Tuan-Muda-Pantat-Ayam ini. Kamar tersebut dilapisi dengan tembok berwrna biru sedikit gelap. Saat memasuki kamar, mereka sudah disambut oleh grand piano berwarna hitam yang terlihat sangat mahal. Di sebelah kiri piano itu terdapat tiang-tiang penyangga yang terlihat membatasi antara sofa minimalis dan meja pendek berwarna hitam yang ada di depan sofa berwarna biru navy dan bantal biru muda tersebut. Disebelah sofa dan meja juga terdapat tungku perapian yang di cat dengan warna merah bata.
Masuk ke ruangan yang dihubungkan tanpa pintu yang berada di sebelah kanan piano, terdapat ranjang berjenis platform bed king size di sebelah kiri, dipoles dengan warna hitam dengan dibalut bed cover biru yang mirip dengan sofanya, ditambah meja kecil di pinggir ranjang dan lampu tepat di atas kepala ranjang, serta di sebelah kanannya terdapat pintu menuju kamar mandi dan tempat berpakaian. Tak hanya itu, di dekat pintu menuju kamar mandi banyak sekali buku yang di simpan di rak di sebelah televisi flat 28 inch berwarna hitam metalik yang pasti terlihat mahal.
Naruto hanya terpaku, menatap sekeliling kamar Sasuke yang bisa disebut kamar impian. 'Memang benar-benar tuan muda,' ucapnya dalam hati.
Sasuke yang sudah lebih dulu masuk ke kamarnya langsung duduk di depan pianonya sambil menatap Naruto yang masih terdiam di depan pintu masuk sambil menatap kamarnya penuh dengan kekaguman dan mulut yang menganga.
"Kau mau diam disitu saja, Dobe? Ayo cepat duduk."
Seakan ditarik kembali ke dunia nyata, Naruto langsung tersadar lalu berjalan menuju sofa biru dekat dengan tempat Piano itu berada. "Tidak usah memanggilku Dobe, Teme." Jawabnya ketus. Sasuke hanya tersenyum sedikit melihat tingkah si Dobenya yang menggemaskan.
"Hey, Teme. Kau sering main piano di rumah?" Tanya Naruto. Sasuke hanya menatap Naruto lama, terlihat tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut. "Kenapa kau sering bermain piano di sekolah kalau di kamarmu saja ada piano yang lebih bagus dari pada piano di sekolah?" Lanjutnya.
Sasuke memutar duduknya, menghadap ke depan tuts piano yang berjejer berwarna putih dan hitam.
"Aku jarang bermain piano di rumah, terlalu membosankan. Lagi pula, aku sudah lama tidak mengikuti lomba atau kejuaraan piano apapun itu." Jawabnya sembari memencet satu tuts dan suaranya menggema di kamar tersebut.
Naruto hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Dia pun berjalan menuju ke kursi piano yang sedang diduduki oleh Sasuke, menatap Sasuke yang memencet tuts piano itu satu per satu dengan jari telunjuknya tak beraturan.
"Lalu, kau suka memainkan lagu ber-genre apa?"
"Aku suka hampir semua genre lagu yang bisa aku mainkan lewat piano, tapi aku lebih suka bermain lagu ber-genre klasik. Lebih sulit dan menantang." Sasuke tetap menatap datar tuts-tuts yang ada di hadapannya. Sadar akan keberadaan Naruto yang berdiri di sebelahnya, dia pun menggeser duduknya dan membiarkan Naruto untuk duduk di sebelahnya. "Ku dengar kau bisa menyanyi?" Lanjut Sasuke kepada Naruto.
"Semua orang bisa menyanyi, Teme."
"Hn. Menyanyilah untukku." Katanya –memaksa-, lalu Sasuke mulai memainkan jari-jarinya diatas tuts itu sambil menatap Naruto selintas.
Naruto yang hapal dengan lagu tersebut langsung bernyanyi saat Sasuke menatapnya.
I will leave my heart at the door
I won't say a word
They've all been said before, you know
So why don't we just play pretend
Like we're not scared of what is coming next
Or scared of having nothing left
Sasuke hanya menatap sekilas wajah Naruto. Dia tahu, mereka berdua sama-sama menghayati lagu ini, meresap makna tiap kata dari lirik lagu tersebut. Mereka tahu, lagu ini menyuarakan semua isi hati mereka berdua.
Look, don't get me wrong
I know there is no tomorrow
All I ask is
If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?
Mereka saling menatap, menatap mata masing-masing, mencari tahu semua perasaan dibalik tatapan penuh makna tersebut. Mereka berpikir kembali, jika ini adalah hari terakhir mereka untuk bertemu, jika ini kali terakhir mereka bisa bersama, biarkan mereka merasakan perasaan cinta yang dapat mereka kenang, yang dapat mereka ingat hiingga nanti jika mereka terpisah.
Let this be our lesson in love
Let this be the way we remember us
I don't wanna be cruel or vicious
And I ain't asking for forgiveness
All I ask is
If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?
Sasuke dan Naruto hanya terdiam. Tak ada yang berniat untuk memecahkan keheningan yang tercipta di ruangan tersebut. Mereka larut dalam pikiran masing-masing, terbawa oleh suasana yang mereka ciptakan sendiri. Sampai akhirnya Naruto menitikan air mata -yang langsung diusapnya agar tidak terlihat oleh Sasuke.
"Tuan, jus tomat dan jeruk juga tomat irisnya sudah siap." Seseorang di luar pintu berbicara setelah mengetuk pintu. Setelah dijawab 'Hn' oleh yang empunya kamar, orang itu pun masuk dengan nampan berisi pesanan Sasuke tadi. Disimpannya isi dari nampan tersebut diatas meja, lalu orang itu pun membungkuk dan keluar dari kamar Sasuke.
Tanpa dipersilahkan, Naruto langsung mengambil jus jeruk tersebut dan meminumnya, berusaha meghilangkan kesedihannya tadi. Sasuke hanya melihatnya sambil mengambil jus tomat miliknya.
"Pelan-pelan, Dobe. Tidak bisakah kau anggun sedikit? Wajahnya saja yang cantik." Ucap Sasuke ketus sambil menyeruput jus tomatnya. Naruto yang sedang minum langsung berhenti dan menatap Sasuke tajam.
"Apa sih, Teme. Aku memang begini, bagaimana?! Kau sudah berapa lama kenal denganku sih?" Naruto yang tidak terima dikatakan begitu pun langsung kesal. Lalu dia berpikir sejenak, dan berbicara lagi kepada Sasuke.
"Tadi kau bilang apa? Aku cantik?"
Sasuke yang sedang minum jusnya tiba-tiba tersedak dan batuk-batuk saking kagetnya. Apa? Sasuke bilang Naruto cantik? Memang. Hahaha.
"Kau salah dengar, Dobe. Tadi aku bilang wajahmu saja yang imut."
"Apa? Aku imut? Kau baru sadar ya? Hahaha." Kata Naruto menggoda Sasuke yang terlihat salah tingkah. Pasalnya, Sasuke itu tidak pernah memuji Naruto sama sekali. Padahal dia selalu berpikir bahwa Naruto itu cantik dan imut di matanya.
Mereka pun saling melempar ejekan satu sama lain. Mengobrol seperti biasa, bercerita tentang sekolah dan rumah –walaupun kebanyakan didominasi oleh Naruto- juga tentang lagu-lagu dan sebagainya, mencoba melupakan pikiran-pikiran mereka tadi, hingga mereka lupa waktu dan seseorang mengetuk pintu kamar itu.
"Tuan, ini saya, Iruka. Boleh saya masuk?"
Sasuke menjawab dengan kata 'Hn' dan pintu pun terbuka, menampakan seseorang yang tadi bertemu dengan mereka saat keluar dari ruang kerja ayahnya.
"Maaf mengganggu anda, tuan. Tapi ayah anda menyuruh saya untuk meminta anda makan siang bersama, dengan nona juga tentu saja. Ayah anda sudah menunggu di ruang makan." Iruka menyampaikan pesannya kepada Sasuke, dan Naruto juga sebagai tamu. Sasuke pun hanya mengangguk kepada Iruka. "Kalau begitu saya permisi." Katanya sambil membungkuk lalu berjalan keluar kamar.
"Sasuke, kau bilang kalau kau tidak dekat dengan keluargamu kan? Itu ayahmu mengajak makan siang, seperti keluarga biasa kan?" Tanya Naruto sedikit heran. Sasuke pernah bercerita bahwa dia tidak pernah berkumpul dengan keluarganya, baik itu ayah mapun kakak dan ibu tirinya. Walaupun sekedar makan bersama.
"Hn. Tidak seperti biasanya." Sasuke hanya menjawab datar. Sebenarnya dia sendiri heran kenapa ayahnya tiba-tiba mengajaknya makan siang bersama. Seumur hidupnya, makan bersama di ruang makan itu bisa dihitung jari.
"Lalu, ada apa? Jangan-jangan karena ada aku, ayahmu jadi ingin makan bersama ya?" Naruto berdiri kegirangan. Dia berpikir, mungkin dengan adanya tamu, ayah Sasuke jadi ingin memperlihatkan kepada tamunya bahwa mereka seperti keluarga kebanyakan, yang makan di ruang makan bersama, menunggu semua anggota keluarga berkumpul sebelum memulai makan.
Naruto dan Sasuke pun berjalan keluar kamar, menyusuri lorong menuju tangga, ruang makan tersebut berada di bawah kamar Sasuke. Mereka pun mengobrol sambil berjalan menuju ruang makan.
"Tidak mungkin, Dobe. Ayah tidak peduli dengan tamu."
"Lalu, kenapa bisa?" tanya Naruto masih penasaran. Saat mereka sudah di depan pintu menuju ruang makan, Sasuke mendengar ada suara ayahnya, sedang mengobrol dengan seorang perempuan. Sasuke pun dengan penasaran, memutar kenop pintu di depannya, dan terkejut saat melihat seorang perempuan yang sedang mengobrol dengan ayahnya, seorang perempuan yang sangat ia kenal. Saat terdengar suara pintu terbuka, perempuan itu pun melihat kearah pintu. Sasuke hanya bisa menatap perempuan itu dan menyebut lirih namanya.
"Karin?"
-To be Continue-
MAAF SUNGGUH SUNGGUH MAAF ATAS SANGAT LAMA SEKALI UPDATE SAMPAI DUA TAHUN BARU SELESAI SATU CHAPTER! Tadinya Saski udah lupa banget sama fanfic ini, bahkan sampai engga pernah buka fanfic sama sekali selama hampir dua tahun. Maaf sekali lagi, Saski udah kuliah susah banget luangin waktu buat sekedar bikin fanfic ini, dan libur tahun kemarin pun benar-benar sibuk. Maaf sekaliiiii :(
Untuk chapter ini, Saski masukin lagu Adele – All I Ask biar kekinian hihi. Entah kenapa, tapi lagu itu kayanya cocok aja gitu sama cerita ini.
FYI aja, Saski pasti lama lagi buat update cerita ini, dan belum terpikir lagi lanjutannya, tapi diusahakan chapternya ga banyak, mungkin 2 atau 3 chapter lagi selesai. Maaf sekali yaaa. Untuk yang follow cerita ini, makasih banyak loh. Saski tidak muluk-muluk untuk terus pada ngikutin cerita ini, tapi untuk semua yang pernah baca, maupun yang masih menunggu cerita ini, Saski sangat berterima kasih. Selesai cerita ini, mungkin Saski bakal bikin cerita one shoot aja biar ga terbengkalai kaya cerita ini hehe. Selalu,
Mind to Review?
