Jaebum terkesiap ketika merasakan angin dingin tiba-tiba menusuk dadanya, mata pemuda dengan iris cokelat itu membelalak dan menemukan sepasang mata balas menatapnya di antara gelap malam. Terakhir yang Jaebum ingat adalah tertidur di sofa ruang utama rumah Mark, jam berapa ini? Jaebum menoleh ke arah jam digital di meja depan sofa—pukul tiga pagi.
Pemuda itu berusaha bangkit dari tidurnya, tapi orang itu menahannya dengan mendudukinya. Mata Jaebum mengernyit, mencoba membiasakan pandangannya dengan kondisi gelap di sekitarnya, setelah beberapa lama, Jaebum dapat melihat siapa pemilik mata itu—Jinyoung.
Oke, siapa lagi kalau bukan Jinyoung.
"Kamu ngapain?" tanya Jaebum selagi meraih lengan Jinyoung yang berada di pinggir torso Jaebum dan memeganginya, hangat menelusup dari lengan itu.
Jinyoung tidak mengatakan apapun selain menurunkan matanya yang sayu—mata itu, mata yang sama yang selama ini Jaebum temukan pada sahabatnya sedari kecil, Jaebum takkan pernah bisa melupakan mata itu.
"Jinyoungie?" Jaebum bertanya lagi sebelum melarikan tangan kirinya menuju pipi Jinyoung. Entah apa yang ada dalam kepala Jaebum saat itu, ia hanya ingin menyentuh wajah Jinyoung.
Tanpa aba-aba, Jinyoung yang saat itu posisinya menduduki abdomen Jaebum dengan gesit menurunkan kepalanya dan mempertemukan bibirnya dengan bibir Jaebum. Ledakan sontak meletup dalam kepala Jaebum, matanya membelalak, tangannya kaku, dan seluruh sistem sarafnya seolah mati seketika.
Jaebum berusaha menahan dirinya, tangannya meraih helai rambut Jinyoung yang panjang, ia perlahan mengelusnya halus, mencoba mencari celah untuk mengelak di antara kecupan yang mendarat dari Jinyoung.
"Jinyo—"
Jinyoung menciuminya sekali, dua kali, empat kali, tujuh.
"Fuck," Jaebum masih berusaha menahan dirinya, ia tidak bisa kalah semudah itu.
"Hentikan, Jinyoung—"
"Hyung?" Suara itu keluar tiba-tiba, di antara napas hangat yang berembus dari bibir Jinyoung. Jaebum memusatkan mata pada wajah itu, "kau tidak menyukaiku, Hyung?" suara Jinyoung agak parau, terdengar kecewa, alis matanya turun.
Sialan.
Jaebum menarik turun Jinyoung agar bibirnya kembali menyentuh bibirnya. Suara-suara tak biasa keluar dari bibir Jinyoung. Suhu udara di ruangan itu dingin, tapi suhu badan mereka meningkat drastis, degup jantung berpacu seolah hendak meledak, dan peluh berjalan perlahan di atas kulit mereka.
"Ah,"
Mendengar suara itu, Jaebum seperti mati rasa.
"Hyung," Jinyoung menghentikan ciuman mereka, menatap Jaebum dari atas, masih mendudukinya.
Jaebum sudah pasrah. Ia mengalah pada amigdala di otaknya. Jaebum merasakan sesuatu seperti berdiri di bawah sana.
"Kau menyukaiku, kan?" Jinyoung menanyakannya seolah Jaebum dapat menjawab pada saat itu juga, "aku menyukaimu.. Hyung... suka..."
Detik dengan detak, keduanya seperti berhenti pada saat yang bersamaan. Jaebum tiba-tiba bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia suka pada Jinyoung? Apakah perubahan yang selama ini ia rasakan terhadap Jinyoung adalah perasaan suka? Jika itu benar suka, apakah ini hanya akan bertahan selama Jinyoung masih berada dalam tubuh perempuan?
"Aku gak tau," Jaebum meneguk ludah, hanya itu yang dapat ia pikirkan sekarang.
Jinyoung memindahkan jemarinya ke arah kemeja tidurnya yang kebesaran, "Kalau begitu," Jinyoung membuka satu persatu kancing kemejanya. Mata Jaebum membelalak, Jinyoung menundukkan wajahnya, malu, tapi tetap melepaskan kancingnya, "aku akan membuatmu suka padaku."
Sial. Sial. Sial. Sial. Bagaimana caranya menahan diri kalau seperti ini?
Jaebum masih tak habis pikir, apa yang sedang terjadi sekarang. Jinyoung tanpa atasan apapun, rambut panjangnya jatuh mengenai bahunya, pinggangnya tampak jauh lebih ramping dibanding saat masih memiliki badan laki-laki, dan—oh Tuhan—dadanya.
"Hyung," Jinyoung meraih tangan kanan Jaebum, menuntun tangan itu untuk menyentuh dadanya.
Brengsekbrengsekbrengsek.
"Ah..."
"JINYOUNG!"
Jaebum membangkitkan tubuhnya, membuka matanya lebar-lebar.
Dan ia menyadari bahwa semua itu hanya bayangannya belaka.
Mimpi basah.
"Anjing tanah," gerutu lelaki itu ketika melihat jam yang ada di atas meja, pukul tiga pagi, bedanya tidak ada Jinyoung dimanapun ia melihat ruangan itu. Semuanya hanya mimpi. Imajinasinya menjalar liar, bisa-bisanya ia membayangkan meremas dada itu dan membayangkan suara erangan dari bibir Jinyoung—
Dia baru saja membayangkannya lagi.
"Sialan..." Jaebum menggeleng-geleng dan mengacak-acak rambutnya. Kemudian menyadari masih ada urusan di balik celananya yang belum selesai. Masih dengan nada gerutu yang sama, Jaebum bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah kamar mandi. Ini harus cepat ia selesaikan sebelum Jinyoung melihatnya.
.
.
.
.
symphonia — chapter six
warning: incosistency bc lack of writing for this past year, unbetaed!
catatan: sorry if there are any medical terms i accidentally put here lmao
.
.
.
.
Jinyoung melangkah keluar kamar, menemukan Jaebum dengan empat gelas kopi yang sudah kosong, menghadap televisi yang berisikan wanita yang membacakan berita kriminal seminggu terakhir. Jinyoung mendekati lelaki itu dan duduk di sebelahnya, "Hei, ini semua kamu yang minum?"
Jaebum terkesiap, ia mengedipkan matanya, mencoba tidak mempertemukan matanya dengan Jinyoung.
"Mmhm, iya,"
Jinyoung memiringkan kepalanya, "Jangan kebanyakan minum kopi," ujarnya singkat. Keduanya terdiam setelahnya, canggung memanjang di antara mereka.
Tak lama, Jinyoung teringat sesuatu, "Ngomong-ngomong, Mark Hyung dan yang lainnya akan pulang siang ini!"
Jaebum mengangguk-angguk, "Ah, baguslah, ngapain aja sih mereka emang," gerutu Jaebum kesal, rasanya begitu banyak yang terjadi di antara Jinyoung dan Jaebum belakangan ini.
"Gak tau, kuharap mereka juga nemu jawaban tentang tubuhku ini," celetuk Jinyoung, matanya memandang kosong ke arah televisi, tapi kepalanya berkelana entah kemana. Jaebum merasakan bersalah menggerogotinya, semua ini salahnya.
"Kita cari jalan keluarnya bareng," Jaebum mengelus kepala Jinyoung lembut. Jinyoung membalas dengan lemparan senyuman termanis yang pernah Jaebum lihat.
Mimpi itu berkelebat lagi di kepala Jaebum.
"Aku mau mandi dulu ya," Jinyoung menepuk-nepuk bahu Jaebum. Bahkan sentuhan seringan itu menjalarkan impuls listrik ke seluruh tubuh Jaebum, seperti memberikan efek kejut yang dahsyat, pipi pemuda itu bersemu merah, untung Jinyoung sudah pergi dan tak melihatnya menutup wajahnya yang berlukiskan semburat merah.
"Dia suka padaku, aku juga suka padanya, tapi kenapa rasanya rumit banget ya," celetuk Jaebum pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
"Earth to Jinyoung and Jaebum!" Suara teriakan membahana mengisi rumah Mark. Suara itu khas, Jinyoung dan Jaebum yang mendengar langsung berpandangan—pikiran mereka sama: Jackson!
Jinyoung berlari ke ruang tamu dan menemukan Jackson dengan kemeja bunga-bunga dan celana selutut, seperti habis berlibur dari pulau tropis.
"Kamu habis dari mana?" Jinyoung mengangkat topi bundar jerami yang Jackson kenakan.
"Dari tadi!"
Jinyoung dan Jaebum menampar Jackson bersamaan.
Dari belakang Jackson, Mark datang dengan pakaian biasa.
"Mark Hyung," Jinyoung sumringah ketika melihat Mark. Ia menghampiri pemuda dengan tubuh ramping itu dan melingkarkan lengannya padanya.
Jaebum mengernyitkan dahinya melihat itu.
"Duh, kamu tinggal panggil aku oppa aja nih, serasa punya adik cewek," Mark berceletuk, tidak menyadari Jaebum yang memandanginya dengan gerutu di bawah napasnya.
"Ngomong-ngomong," Youngjae yang baru saja datang dari balik pintu langsung menarik perhatian semuanya, "kayaknya kita tahu harus gimana buat ngembaliin Jinyoung Hyung ke semula."
.
.
.
.
"Apaan sih, emang kenapa sampe gak bisa ngasih tahu sekarang?" Jinyoung menggerutu, ia berguling-guling di atas sofa. Tidak puas dengan jawaban Mark yang tak masuk akal, pasalnya lelaki itu malah mengajak Jaebum diskusi dan meninggalkan Jinyoung dengan Youngjae di ruang utama, Youngjae hanya memandangi Jinyoung dengan wajah penuh empati.
"Ya gak apa-apa Hyung, Mark Hyung pasti udah mikirin ini baik-baik, kan," Youngjae mengangguk-anggukan kepalanya, "Oh iya, Hyung udah lihat webtoon romance baru minggu ini?"
Jinyoung menghela napas sebelum mendekati Youngjae, "Belum, webtoon apa?"
Sementara itu, di balik tembok, Jaebum duduk di atas kursi belajar, Mark duduk di kusen jendela, dan Jackson duduk di lantai, matanya berkutat dengan ponsel.
"Jadi? Gimana?" Jaebum memulai pembicaraan.
"Yoo Youngjae," timpal Mark, "temanmu yang katamu ngasih botol itu. Kita udah ngobrol sama dia kemarin," pemuda itu tersenyum, "dan yeah, kurasa kita ngerti yang dia maksud."
"Intinya," Jaebum mulai tak sabaran, kepalanya masih teringat gambaran ketika Jinyoung melingkarkan lengannya di pinggang Mark.
"Tenang, heh," Jackson meninggalkan perhatiannya dari ponselnya, "hmm, gimana ya, pokoknya itu harus menyelesaikan masalah, kan?" Jaebum mengangguk, mendengarkan Jackson dengan seksama, "Dan masalah Jinyoung pada saat ini, adalah kamu. Jaebum."
Jaebum menunjuk dirinya sendiri, "Aku? Jadi Jinyoung harus... menyelesaikan aku?"
Mark menggeleng, "Bukan, bukan, maksudnya menyelesaikan masalahnya sama kamu."
"Hah?" Jaebum berpikir keras, kembali pada saat mereka belum berpesta kemarin, "masalah? Masalah apa? Dari sebelum Jinyoung berubah, aku dan dia gak ada masalah apa-apa! Kita akrab, seakrab-akrabnya teman! Apa masalahku sama dia?" Jaebum seperti tersulut, ia memang mudah naik pitam, apalagi kalau sudah menyangkut Jinyoung.
Mark dan Jackson saling berpandangan.
"Ya, itu lah masalahnya," Jackson menaruh ponselnya di lantai dan menyandarkan punggungnya pada kasur.
Mark memberikan senyuman getir, "Kalian terlalu akrab, sampai nggak menyadari kalian sudah saling menyukai satu sama lain."
Seperti dibius, Jaebum terdiam tanpa kata-kata. Matanya hanya menatap Jackson dan Mark bergantian, apakah itu begitu kentara? Terlihat sekali, kah? Jaebum saja baru saja menyadari bahwa ia menyukai Jinyoung tadi pagi, itupun ia masih dipenuhi kelebat kegundahan, sementara itu Mark dan Jackson di depannya dengan mantap mengatakan mereka saling menyukai?
"Uh..," Jaebum menggeleng-gelengkan kepalanya sejenak sebelum meneguk ludah, lalu mulai bicara lagi, "oke, katakanlah, aku dan Jinyoung.. memang saling.. menyukai. Jadi, apa yang harus kulakukan?"
Jackson menghela napas, "Ya, menurutmu apa sih, ngaku lah, kalo kalian sama-sama suka!"
Mark mengangguk, "Aku yakin Jinyoung mau ngungkapin suka sama kamupun, dia takut, jadi harus kamu yang mulai duluan."
"Lalu? Jinyoung bakal balik lagi gitu aja ke semula? Bak sihir?" Jaebum mengangkat kedua tangannya, semuanya sulit dilogikakan meski dia sendirilah yang mendengar penjelasan Youngjae.
Mark mengangkat bahunya, sama-sama tak tahu, "Yaa, daripada nggak ada progress sama sekali?"
Jackson mengangkat jempol, "Sekalian dong! Get laid!" Sebelum Mark meninju kraniumnya.
Jaebum menatap pintu yang memisahkannya dengan Jinyoung, apa dia harus menyatakan perasaannya, seperti yang Jackson bilang?
