Sakura mengeratkan lengannya yang mengamit pada Sasuke. Ia menatap takut ke arah orang-orang yang berada di dalam satu ruangan besar tempat dia dan Sasuke berpijak. Telapak tangannya memunculkan keringat dingin dan kedua kakinya rasanya tidak memiliki kemampuan untuk menopang tubuhnya. Kenapa dia bisa segugup ini hanya karna pesta? Memangnya apa yang membuatnya malu?
Seharusnya Sakura bisa menegakkan dagunya, berbangga diri karena pria yang berdiri di sampingnya adalah salah satu dari the most wanted di seluruh wilayah Los Angeles. Juga gaun pesta yang sangat membentuk tubuhnya dengan baik, make up yang natural, tatanan rambut yang pas untuknya.
Seharusnya dia bangga.
Tapi nyatanya dia tidak bangga ataupun senang. Karna ia sadar akan siapa dirinya dan kedudukannya.
Semua orang tahu kalau Sasuke tidak memiliki kekasih sejak lama. Akan timbul banyak pertanyaan padanya ketika melihat Sakura yang berdiri sambil mengamit lengan pria sombong itu.
"Kau datang akhirnya,"
Sasuke mengalihkan matanya pada pria yang berjalan di depannya ini. Itu Sai.
"Hai Nona Haruno. Senang bertemu denganmu," Sapanya pada Sakura. Wanita itu hanya diam tidak menjawab, ia terlalu gugup untuk sekedar menebar senyumnya disini. Sasuke dan Sai berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya pria itu memilih untuk menyapa tamu yang lain. Sasuke dan Sakura tetap berdiri di tempatnya dan tidak berpindah kemanapun.
"Aku akan memberimu hukuman jika kau berniat untuk pergi di tempat seramai ini, Sakura,"
Sakura menegak ludah dengan susah payah. Ancaman macam apa itu? Apakah dirinya anak kecil sehingga harus diberi hukuman? Dalam hati Sakura mendesah. Memang sekarang nyalinya sudah hilang begitu saja. Niatnya untuk kabur dan pergi menjauh sudah menguap. Disini ramai dan menyesakkan. Dipenuhi oleh orang-orang kaya dan pasangan mereka.
Tentunya bukanlah hal yang bagus untuk pergi begitu saja.
"Aku lelah berdiri," Lapornya pada Sasuke. Jujur saja, mereka hanya berdiri dan tidak melakukan apapun seperti patung. Oh tidak juga, Sasuke sesekali membalas sapaan dari beberapa tamu yang mengenal dirinya. Sedangkan Sakura, hanya mengangguk jika disapa. Tampaknya juga Sasuke tidak ragu memperkenalkan Sakura sebagai pasangannya malam ini. Tidak tahu apa yang pria ini pikirkan.
"Baiklah, kita cari tempat duduk. Kelihatannya kau memang lelah," Balasnya dengan lembut. Apa? Lembut?
Jantung Sakura mendadak terpacu mendengar balasan Sasuke. Biasanya Sasuke selalu berkata dengan angkuh dan penuh nada ancaman tapi yang tadi berbeda. Apa dia hanya tidak sengaja?
Sakura menjatuhkan bokongnya dengan lega ke atas kursi yang lumayan empuk disini. Sepatu yang sialan tinggi ini menyiksa tumitnya. Dia mengelus pergelangan kakinya pelan, berharap rasa sakit itu agak hilang.
Sasuke duduk di depannya. Pria itu mengeluarkan ponsel dan memainkannya. Tapi matanya sesekali melirik Sakura yang tampak kesakitan pada kakinya. Pria itu mendesah, ia menaruh ponselnya ke meja dan fokusnya kini hanya pada Sakura yang masih merasakan sakit pada tumit kakinya.
"Apakah sesakit itu?"
Sakura menoleh pada Sasuke. Ia mengangguk dan kembali mengusap kakinya yang perih. Ketika ia lihat, mata kakinya memerah. Ini benar-benar sakit. Sasuke berdiri lalu berhenti tepat di depan Sakura.
Pria itu jongkok dan melepas stiletto pada kaki kirinya dan mengoleskan semacam gel pada kakinya. Sakura bergeming. Ia tidak bisa menggerakkan apapun lagi ketika Sasuke bertindak semacam ini.
Kenapa dengan pria itu? Apakah kepalanya terbentur sesuatu? Atau jangan-jangan dia memiliki dua pribadi? Sakura membatin. Setelah pria itu selesai mengolesi sesuatu pada tumit kakinya, Sasuke kembali memasang stiletto itu pada kakinya. Ia kembali berdiri dan duduk di tempatnya semula.
Sakura mengikuti semua gerakan Sasuke hingga pria itu duduk dan fokus pada ponselnya. Dia masih bingung dengan kelakuan baik yang baru saja ia terima dari Sasuke. Ini sesuatu yang langka.
"Berhenti menatap padaku Sakura. Jangan salah paham, akan aneh jika kau berjalan pincang karna kakimu sakit," Sakura memutus pandangannya dan merutuki kebodohan yang ia lakukan. Bagaimana mungkin dia berharap banyak pada Sasuke yang jelas-jelas berhati beku seperti gunung es. Kata-kata Sasuke menjawab semuanya.
Cukup lama mereka terduduk dan saling diam satu sama lain. Sakura yang sedari tadi menikmati pesta dari posisinya dan mengamati beberapa pria yang tertawa bahagia bersama pasangannya. Mereka semua tampak sangat senang dengan keadaan ini. Entah kenapa Sakura tidak menemukan satu pun orang dengan wajah suram seperti Sasuke di depannya.
"Sakura,"
Kepalanya menoleh pada Sasuke. Pria itu sudah tidak memainkan ponselnya lagi dan kini mata Hitamnya menatap Sakura dingin. "Ada apa?" Tanyanya. Sebenarnya ia malas menanggapi ucapan Sasuke tapi entah kenapa bibirnya menolak untuk itu.
"Ceritakan padaku," Alis Sakura mengkerut. Ia tidak mengerti dengan apa yang ingin diutarakan oleh Sasuke,"Ck, ceritakan padaku tentang dirimu!" Lanjutnya kini dengan penekanan. Sakura terdiam sejenak.
"Cerita tentang diriku? Kau sungguh mau mendengar nya?" Ucapnya parau. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi suram. Bayangan masa lalu yang begitu tidak mengenakkan di hatinya terasa seperti duri yang menusuknya dalam dan meninggalkan luka yang pedih. Ribuan kata-kata hina yang sering kali ia dengar dari bibir tajam ibunya dan pukulan yang membuat tubuhnya membiru semakin jelas dalam ingatannya.
Untuk beberapa saat Sakura melamun. Kepalanya terasa pening karna memikirkan banyak kenangan pahit dalam hidupnya. Dan ketika bibirnya hendak berkata, dirasanya telapak tangannya diraih dan diremas pelan.
"Sasuke.."
Pria bermata kelam seperti malam itu memandang tajam pada Sakura. Ia rasa dirinya sudah tidak bisa melakukan hal ini lebih lama. Walau dalam hatinya ia begitu menginginkan Sakura berada dekat dengannya dan mencium bau harum yang menguar dari tubuh wanita itu sebanyak yang ia mau. Tapi nyatanya wanita dengan iris hijau ini begitu bersikap defensif padanya. Berani melayangkan hal kotor dan menangis ketika disentuh. Dalam beberapa hari, Sakura mampu membuat seorang Sasuke Uchiha yang dikenal memiliki sifat bak es di kutub menjadi tidak tenang dan bergairah.
"Apa kau setakut itu padaku?" Tanyanya dengan serak. Sakura terdiam dan memutus kontak mata antara mereka dengan memandang para tamu yang separuhnya berdansa dan berciuman panas.
"Apa aku begitu membuatmu merasa seperti pelacur?" Tanyanya lagi kini mengintimidasi nya. Sakura menatap mata tajam itu sekali lagi, mencoba mencari sesuatu dalam matanya yang ia inginkan tapi dia hanya menemukan kekosongan saja. Tidak ada apapun yang ia dapat dari netra Hitam itu selain kehampaan. Sasuke tidak lebih dari pria hancur dimatanya.
"Sasuke... Aku-"
"Katakan padaku," Titahnya membuat Sakura kembali kehilangan banyak kata-kata. Dalam hatinya ia tidak munafik pada dirinya sendiri, walau ia benci mengakui itu tapi ya, dia menyukai sentuhan Sasuke. Walau air matanya mengalir dan hatinya terasa tercubit tapi tak dapat dipungkiri kalau tubuhnya merespon dengan baik.
"Aku hanya tidak tahu tentang apa yang aku rasakan. Ketika kau datang malam itu, membawaku pergi dan menyentuhku... Aku seperti merasa hancur,"
"Tapi... Aku tidak mau munafik dan membohongi diriku sendiri,"
Sasuke menatapnya dengan satu alis yang terangkat penuh. Dia tahu kemana arah pembicaraan ini. Dilepasnya genggaman itu dan memilih untuk hanya menatap wajah suram Sakura.
"Jadi kau juga menyukainya?"
Sakura mendongak. Pipinya terasa panas ketika sadar dengan apa yang baru saja ia sampaikan. Bodohnya, kenapa di saat seperti ini dia harus terpancing oleh ucapan Sasuke?
"Kita butuh ranjang sekarang juga," Sakura membulatkan matanya.
"Kau gila! Aku tidak suka dengan kata-kata mu yang seperti itu!"
Sasuke menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap tepat pada mata hijau Sakura yang membola,"Kau terlalu berbelit Sakura. Katakan saja apa yang ada dalam hatimu dan jangan mengelak,"
"Kau pikir aku memang suka hah? Jika memang aku menyukai dengan apa yang kau lakukan lalu kenapa aku selalu benci saat melihatmu!? Apa kau buta? Kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan padaku? Kau memperkosaku, kau tidak membiarkan aku-"
"Hentikan omong kosong mu Sakura. Kita perlu tempat untuk berbicara berdua. Dan tentunya itu dirumah. Lebih baik kita pulang," Sasuke lekas berdiri dari tempatnya, berjalan ke arah Sakura dan menarik tangan wanita itu dengan sedikit paksaan karna Sakura menahannya. Mereka berdua berjalan menembus kerumunan orang-orang yang berada di dalam tempat ini sampai akhirnya berhasil keluar dan pergi begitu saja tanpa pamit lagi.
Moegi membukakan mereka pintu dan segera membungkuk hormat. Sasuke masih memegang pergelangan tangan Sakura sembari berjalan menaiki undakan tangga,"Sasuke berhenti! Ini sakit," Sakura mengaduh. Bukan hanya tangannya tapi kakinya yang terluka juga semakin terasa menyakitkan. Ditambah dia masih mengenakan sepatu dengan hak tinggi yang sialannya makin merusak kulit kakinya.
Sasuke melepas tangannya. Mereka berhenti tepat di depan pintu kamar pria itu,"Sebenarnya apa yang kau lakukan?! Sedari tadi kau hanya menyakitiku. Setidaknya beri aku alasan!" Sakura hampir berteriak. Dia memang kesal dengan sikap Sasuke yang semena-mena padanya. Apa pria itu memang tidak punya hati?
"Aku mau bertanya padamu,"
Sakura menaikkan sebelah alisnya dan berhenti menggosok pergelangannya yang sakit,"Apa?"
"Apa kau mencintaiku?"
Sakura tersentak mendengar itu. Apa-apaan? Belum juga satu bulan mereka bersama ditambah sikap Sasuke yang menjijikkan membuat Sakura tidak punya alasan untuk jatuh cinta padanya.
Sakura menggeleng mantap,"Aku tidak mencintai kau atau siapapun," Jawabnya. Ia berkata jujur karena itulah yang memang dia rasakan.
Sasuke mengeraskan rahangnya. Ia merasa bahwa ini sebuah penolakan karna sebelumnya tidak ada yang berani menolak pesonanya sejauh ini. Bahkan para jalang diluaran sana rela melebarkan kaki mereka hanya untuk mendapat kan Sasuke dan hartanya. Atau memang hanya hartanya.
Tapi Sakura memilih sebaliknya. Dia secara terang-terangan mengatakan kalau dia tidak jatuh cinta pada Sasuke dan entah kenapa hal itu membuatnya benar-benar kesal. Dengan kesal dia membuka pintu itu dan menarik Sakura masuk ke dalamnya.
Ia mendorong pintu itu kembali dengan kakinya dengan keras dan berjalan mendahului Sakura.
"Aku mau ke kamarku," Cicitnya. Sasuke menoleh ke belakang dan menyeringai,"Ikut aku ke dalam kamar mandi,"
Sakura kembali mengangakan bibirnya. Dalam hatinya dia ingin mencekik pria itu dan meninggalkan mayatnya membeku di bawah pancuran air shower. Well, itu mengerikan.
Sempat ada keraguan dalam matanya namun dengan menarik napas ia berjalan menyusul pria itu ke dalam kamar mandi dan mengesampingkan semua hal negatif yang mungkin akan terjadi jika dia menuruti ego pria bermata hitam itu.
Cklek!
Pintu terbuka dan kembali tertutup. Sakura terlonjak saat melihat Sasuke yang hampir telanjang. Pria itu benar-benar tidak tahu malu, disaat seperti ini dia malah membuka hampir seluruh pakaiannya.
"A-aku akan keluar jika kau-"
"Buka saja gaun sialanmu itu," Potongnya cepat. Dia menyelesaikan kegiatannya lalu masuk ke dalam bathup yang cukup untuk menampung mereka berdua. Sasuke menoleh pada Sakura yang masih diam membeku di tempatnya seperti patung dan mengayunkan sebelah tangannya,"Ayo. Tunggu apa lagi? Kita bisa bercerita juga kalau kau ingin. Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam," Katanya. Sakura mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba menghalau apapun yang sekarang ini dia lihat.
Sasuke Uchiha terlalu menakjubkan untuk dia lewati. Mulai dari rambut hitamnya yang acak-acakan itu, matanya yang sekelam malam, bibirnya yang sexy. Jangan lupakan tubuh berototnya yang membuat wanita manapun menjadi takluk saat melihatnya.
"Aku akan menunggumu disini. Ka-kau bisa mandi,"
Sasuke berdecak kesal,"Kemari atau aku yang menyeretmu paksa?" Ancamnya tidak main-main. Sakura berusaha untuk bernapas dan menepis semua ketakutannya. Dengan tangan yang bergetar, ia mulai menarik ke bawah gaun yang dia pakai. Untung saja gaun ini memiliki resleting yang berada di depan, jadi Sakura tidak perlu meminta tolong Sasuke untuk melepasnya.
Dia sedikit ragu ketika akan membebaskan dirinya dari gaun itu, matanya menatap waspada pada Sasuke yang tengah memejamkan mata mungkin menikmati kelembutan busa-busa itu.
Gaun itu sudah lepas dari tubuhnya, menyisakan bra dan celana dalam berwarna hitam dengan sedikit motif di permukaannya. Ia mendekati Sasuke dan melangkahkan kakinya perlahan ke dalam Bathup itu. Tampaknya Sasuke tidak terganggu dengannya. Pria itu tetap saja menutup mata dan diam.
Sakura duduk membelakangi Sasuke. Deru napasnya kian tercekat. Walau dia tidak sepenuhnya telanjang tapi tetap saja, tubuhnya terekspos. Wanita itu kembali takut dan mungkin ia mengalami trauma. Apapun yang ia lakukan saat ini membuatnya dibayangi oleh saat-saat dimana Sasuke menghujamkan kejantanannya tanpa aba-aba pada dirinya. Dan itu membuat Sakura meringis sakit.
"Kau kenapa?"
Sakura tersentak. Ia tidak sadar kalau sedari tadi dia melamunkan hal yang sudah lewat. "A-aku hanya diam," Jawabnya dan ia merasa bodoh karna jawaban tidak masuk akal itu. Tentu saja Sasuke tahu kalau dia hanya diam. Memangnya pria itu buta?
Sasuke terkekeh,"Tidak. Maksudku, kenapa kau mandi dengan pakaian dalam di tubuhmu?"
Sakura kembali tersentak. Ia menoleh pada Sasuke dan menyipit padanya,"Memangnya salah jika aku melindungi diriku sendiri?" Tanyanya dengan sarkastik. Sasuke hanya mengendikkan bahunya saja,"Aku akui itu tidak sepenuhnya benar. Dengan penampilan seperti itu, kau malah terlihat seperti sedang menggodaku. Jika kau mau tahu,"
Sakura bergerak sedikit menjauhi Sasuke dengan menyudutkan dirinya sendiri di dalam bathup. Dia menyilangkan kedua tangannya ke atas tubuh dan menatap penuh peringatan pada Sasuke yang masih menyeringai melihat kelakuannya.
"Tenang saja Sakura. Aku tidak akan menyentuhmu," Ujar Sasuke dengan santai. Dia menyugar rambutnya dan memainkan busa-busa yang menempel di pergelangan tangannya.
"Jadi... Kau mau bercerita?"
"Cukup Sasuke. Kau memintaku untuk bercerita tapi pada akhirnya aku yang mendengar kau bercerita. Jadi disini sebenarnya siapa yang ingin bercerita?" Tanya Sakura dengan kesal.
Sasuke hanya melipat bibirnya dan menunjukkan satu senyuman nyaris tidak terlihat yang menjadi andalannya,"Baiklah. Kau bisa cerita dari awal. Tentang bagaimana kau bisa berakhir dengan menjual dirimu di Club malam itu,"
Sakura terdiam sejenak. Dia menundukkan kepalanya, kembali memutar beberapa memori masa lalu yang menjadi penyebab dia dijual oleh wanita yang sudah melahirkannya.
"Ibu membenciku. Itu alasan utamanya,"
Sasuke menyatukan alisnya dan mulai menyukai arah pembicaraan ini. "Kemarilah, kau bisa bersandar padaku sembari bercerita,"
Sasuke menarik tangan Sakura dan membiarkan tubuh wanita itu menyandar pada dadanya yang bidang. Ia merasakan punggung rapuh Sakura menempel padanya. Dan ia tahu kalau wanita itu tengah bersedih.
Sakura tidak menolak. Dia malah mencari posisi nyaman lalu bersandar. "Kemudian apa yang terjadi?"
Sakura menoleh pada Sasuke,"Ya itu yang terjadi. Setelah membuatku terluka ia menjual ku. Awalnya, seorang pria yang usianya tidak jauh darimu sempat ingin membeliku dengan harga mahal. Dia bilang dia mencintaiku saat melihatku untuk yang pertama kalinya. Tapi dia tidak-"
Sasuke hanya menggumam sedikit. Sebenarnya dia menahan suatu hasrat yang sedari tadi dia pendam ketika tubuh Sakura bersentuhan dengannya ditambah aroma tubuh dari wanita ini yang serasa meruntuhkan semua pertahanan nya.
"Kenapa dengan pria itu?" Tanya Sasuke sangat terdengar lirih. Sakura memainkan busa-busa yang mulai menghilang itu dan menghela napas berat.
"Dia memiliki kelainan. Pria itu suka menyiksa wanita hingga-"
"Aku tahu apa maksudmu. Jadi kau memilih untuk melarikan diri tapi sayang ibumu lebih dulu menangkapmu. Oleh karena itu kau berada dalam Club malam itu kan?"
Sakura mengiyakan dalam hatinya. Ternyata dugaannya benar kalau Sasuke adalah seorang penebak yang baik. "Sekarang kau tahu kan kalau aku memang murahan?"
Sasuke menyatukan alisnya. "Apa maksudnya? Kau ini membuat semuanya menjadi rumit. Sebentar-sebentar kau mengatakan kalau kau benci dengan sikapku yang memperlakukan kau seperti wanita panggilan. Tapi sekarang kau malah menyebut dirimu sendiri seperti itu. Apa maumu sebenarnya?"
Sakura menggeleng,"Entahlah. Aku merasa kalau aku bukan pelacur tapi nyatanya kau memang mendapatkan ku dari tempat itu. Jadi aku pikir aku-"
"Kau tahu kan aku tidak suka sebuah omong kosong?" Itu terdengar nyata seperti sebuah fakta dan bukanlah pertanyaan.
Sakura terdiam. Dia berhenti menggerakkan tangannya pada sisa busa di atas permukaan air itu karna dia merasakan sepasang lengan yang mendekap hangat tubuhnya dari belakang. Ya tentu saja, dalam posisi seperti ini Sasuke bisa kapan saja melakukan hal tak terduga.
Jemari Sakura bergerak, berusaha melepas tangan besar pria itu yang semakin mengerat,"Sasuke. Kumohon... Aku tidak mau,"
"Sebentar saja Sakura. Aku tidak akan menyakitimu,"
Sakura tetap menggeleng. Sekelebat bayangan tentang orang-orang yang membencinya, tatapan ibunya yang seperti ingin membunuh dan perlakuan Sasuke padanya membuatnya ketakutan setengah mati. Ia masih bersikeras untuk melepaskan tangan itu tapi pelukan Sasuke mengencang,"Sasuke... Lepaskan aku..." Kini dia mulai terisak.
Ia benar-benar menyesal karna telah menurut pada kata-kata pria dengan mata Hitam ini.
Tapi tubuhnya meremang kala merasakan ciuman lembut yang mendarat pada pundak kanannya. Kecupan-kecupan halus itu terus merambat hingga mengenai tengkuk dan daun telinganya,"Aku tidak akan menyakitimu. Turuti saja apa yang aku lakukan Sakura. Aku tidak akan membuatmu ketakutan," Ucapnya. Ia mencium kembali pundak wanita yang tengah berada dalam pelukannya dan memberikan tanda kemerahan pada pundaknya,"Ingat selalu Sakura. Kau milikku. Apapun yang ada padamu adalah milikku. Kau milikku," Ia mengucapkan itu beberapa kali sembari mencium. Sakura menoleh padanya dan menatap mata Hitam itu dengan sendu,"Apa itu tadi?"
Sasuke menunjukkan senyum menawan yang dia miliki dan mencium bibir Sakura,"Itu adalah ketulusanku. Kurasa tidak ada salahnya jika aku menyukai keberadaanmu disini Sakura,"
Lagi, Sasuke memagut bibir Sakura. Membuatnya mau tak mau berbalik penuh ke arah Sasuke dan membiarkan pria itu mencium bibirnya dengan lembut tanpa paksaan. Sakura mendesah dalam ciumannya. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia tidak menolak ciuman itu. Jika dikatakan cinta, Sakura belum merasakannya. Dia tidak terlalu berdebar ketika Sasuke menatapnya atau mungkin memeluknya. Tapi kenapa dia menyukai sentuhan lembut pria ini? Aku memang jalang, batinnya.
Dia mengingat sesuatu di kepalanya, sontak membuat tubuhnya menjauh dari Sasuke,"Ini salah," Gumamnya. Ia menutup telinganya dan memejamkan mata. Semua yang dia lakukan beberapa detik yang lalu adalah kesalahan. Jika saja dia terlena, mungkin semuanya akan berakhir di atas ranjang. Tidak, Sakura mencoba untuk melawan hal itu.
"Aku tidak bisa," Ucapnya lagi. Ia memeluk lututnya dan matanya memandang kosong pada riak air yang tidak lagi ditutupi banyak busa. "Kau takut padaku?" Tanya pria itu. Suaranya terdengar begitu tertekan, dan Sakura tahu bahwa Sasuke menahan sesuatu dalam dirinya.
"Aku mau pulang,"
"Aku ingin bertemu Ayah," Lanjutnya. Tanpa terasa air matanya menetes. Bibirnya juga memucat dan bergetar. Isakan tangisnya mulai terdengar, padahal detik sebelumnya mereka sempat sangat mesra.
Sasuke mendesah kecil. Dia meraih handuk yang tersampir di sampingnya lalu berdiri dari sana. Melilit pinggangnya dengan handuk itu dan membiarkan setengah tubuhnya terpampang dengan sangat indah. Dia menyugar rambutnya, menatap Sakura yang masih memeluk tubuhnya sendiri sebelum memutuskan untuk menggendong wanita itu dalam pelukannya. Sakura terlonjak, dengan insting yang dia punya, tangannya melingkar erat di sekitar leher pria yang bertindak semena-mena itu.
"Turunkan! Aku bisa berdiri sendiri," Ucapnya sedikit panik. Sasuke mendudukkan Sakura di atas kloset dan memberikan jubah mandi padanya. "Keringkan tubuhmu," Ucapnya datar. Setelah itu dia pergi meninggalkan Sakura sendiri di dalam kamar mandi dengan semua pemikirannya.
"Maaf Tuan Sasuke. Tapi tadi Nona Sakura masih tertidur,"
Sasuke memberhentikan gerakan tangannya yang tengah melahap sarapan di atas piring. Matanya melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul delapan kurang lima belas. Dan Sakura masih belum bangun. Apa wanita itu sakit? Apa karna mereka berendam semalam membuatnya sakit?
"Apa dia sakit?"
Pelayan itu segera menggeleng tanda bahwa dia tidak tahu. Sasuke melepas sendok dari tangannya lalu beranjak,"Bawakan aku bubur jagung ke dalam kamar dan jangan lupakan juga obat penurun panas," Titahnya sebelum pergi.
Sasuke menaiki tangga dan berharap kalau dugaannya salah. Ketika tangannya menyentuh gagang pintu, disitulah dia berhenti. Ia mendengar isak tangis dari dalam sana. Suara erangan menyedihkan yang menjadi enigma di dalam kepalanya.
Sasuke membukanya perlahan dan matanya menyipit melihat Sakura yang meringkuk di balik selimut tebal sedang tubuhnya dibasahi oleh keringatnya sendiri. Ia berjalan lebih cepat, menyibak selimut yang melilit di tubuh wanita itu dan menempelkan tangannya ke atas dahi. Memang panas. Dia terkena demam sepertinya.
"Tolong... Ayah... Tolong," Racaunya dengan suara yang kecil. Sasuke bergeming pada posisinya, dia menjauhkan telapak tangannya dari dahi Sakura dan memandang lekat pada wajah wanita itu yang penuh keringat.
"Sepertinya memang benar kalau tindakan ku cukup keterlaluan. Tapi aku menginginkanmu Sakura. Tepat saat aku pertama kali melihat matamu," Ucapnya telak.
Mata hijau wanita itu terbuka, menampilkan keindahan yang sempat tersembunyi. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali karna merasakan sensasi menyakitkan yang menekan kepalanya. Ditambah tubuhnya yang panas membuatnya benar-benar merasa lemah.
"Apa yang kau rasakan?"
Kepalanya menoleh, menatap penuh tanda tanya pada pria dengan mata hitam yang duduk di dekatnya. Dia berusaha untuk duduk tapi Sasuke menahannya agar tetap berbaring, karena kondisinya yang lemah, Sakura hanya mampu untuk menurut. Dia sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk berdebat.
Tak lama setelah berdiam di posisi itu, seorang pelayan suruhan Sasuke mengetuk pintu dan masuk sambil membawakan mangkuk berisi bubur jagung yang hangat, air putih dan obat penurun panas di atas nampan. Ia menaruhnya di atas meja dan segera pamit pergi.
Sasuke meraih mangkuk itu dan menyodorkannya tepat di depan wajah Sakura,"Makanlah setelah itu kau minum obat. Pastikan semuanya kau makan dan aku tidak ingin keberadaan mu malah merepotkan ku disini," Titahnya dengan suara yang tidak bisa Sakura tolak. Entah kenapa dia sedikit takut melihat tingkah Sasuke yang selalu berubah-ubah padanya.
Pria itu beranjak. Merapikan pakaiannya dan berjalan. Sebelum tangannya meraih pintu, dia menoleh ke belakang. Memperhatikan bagaimana lemahnya Sakura hanya sekedar mengangkat sendok. Wanita itu terlalu rapuh walau dia bertingkah jual mahal padanya.
Sasuke menghembuskan napasnya. Memang bukan sifatnya selalu bersikap baik. Ayahnya merupakan orang yang tegas dan terencana. Tidak pernah sekalipun dia membiarkan Sasuke maupun kakaknya hidup dalam kelembutan. Mungkin karena itulah Sasuke menjadi pribadi yang kasar dan diikuti aura mencekam.
Tapi kali ini, dia berusaha untuk sedikit lebih lembut. Setidaknya untuk saat ini.
"Sakura?"
Wanita itu menoleh, menatap bingung karena Sasuke masih berada disana dan berdiri kaku.
"Setelah ini aku akan mengantarmu pulang,"
A/n : Haii saya kembali setelah sebelumnya pergi entah kemana wkwk. Semoga ada yang ingat ya? Kalo tidak suka dengan cerita ini mohon untuk tidak melanjutkannya karna nantinya akan berdampak tidak baik juga buat kalian :v. terimakasih buat yang nyempetin review apapun itu. Kalo mau kasih flame, silahkan pm saya saja :) oh ya, kalian bisa follow ig saya : beebeep_san, disana mungkin saya bakal post informasi ttg fic yang saya buat. Saya follback itu pasti kok hehe sampai jumpa :)
Salam,
Beebeep
